Boring

Jung Jaehyun X Lee Taeyong

NCT member

AU, Romance, Hurt

Chaptered: 3/-

NCT belongs to God, Their Parents and SM entertainment


"Markeee." Mark menolehkan kepalanya, untungnya, akhirnya hyungnya itu berbicara setelah lebih dari satu jam dia membenamkan wajahnya diatas meja, semoga saja muka tampan hyungnya itu masih dalam keadaan utuh.

"Kau sudah mau bercerita, hyung." Serunya sambil melepaskan salah satu earphone dari telinganya. "Apa masalahmu dengan Ten hyung belum selesai?" Jaehyun menghela napasnya dengan kasar, lalu dia mendongakkan kepalanya menatap Mark dengan intens.

"Kau tahu seperti apa itu cinta?" Mark menghela napasnya, dia menarik kembali earphone dari telinganya, ini pertanyaan sangat serius dan Jaehyun sepertinya juga sangat serius dengan pertanyaan ini, dengan kenyataan bahwa Jaehyun lebih tua darinya dan tentunya memiliki pengalaman yang lebih tentang cinta tetapi ketika kenyataannya bahwa Jaehyun bertanya padanya, bukankan berarti sesuatu darurat telah terjadi?

"Aku tak pernah merasakannya langsung tetapi hyung, dari semua lagu tentang cinta yang sering kudengar. Bukankah cinta seperti, ketika kita jauh dengannya, kita ingin berdekatan, ketika orang yang kita sayangi sedang bersedih, kita ingin selalu membuatnya tertawa dan ketika berdekataan dengannya jantung kita berdebar, bukankah seperti itu?"

Jaehyun menghela napasnya lalu kembali menegelamkan wajahnya keatas meja. Tak menjawab atau merespon setiap yang dilontarkan Mark, membuatnya dirinya berfikir apakah dia membuat kesalahan? Mark memasang kembali kedua earphonenya, jika dia salah bicara, Jaehyun pasti akan kembali baik lagi dalam beberapa saat.


"Taeyong." Taeyong bergumam perlahan menjawab panggilan Yuta, mata dan jari-jarinya masih sibuk berkonsentrasi di layar dan stick. Dia dan Yuta kini tengah bermain winning eleven di kamar Yuta, Mark dan Jaehyun.

"Aku punya teman." Taeyong sebenarnya tahu bahwa Yuta ingin mengutarakan sesuatu padanya tetapi kali ini dia tidak boleh kalah dari Yuta. "Da dari Jepang." Suara Yuta agak bergetar membuat Taeyong mem-pause-kan permainannya, berusaha memusatkan semua energi. "Di dia ."

"Mempunyai seorang pacar tetapi d dia menyukai orang lain." Taeyong membulatkan mata, entah mengapa darahnya sedikit berdesir, apa Yuta mengetahui yang terjadi. "Dia meneleponku tadi malam. Aku tentu tak tahu, baga bagaimana menurut Taeyong?"

"Ak aku juga tak tahu te tetapi bukankah mengikuti hati adalah satu-satunya cara." Yuta mengangguk perlahan sebelum akhirnya kembali sibuk dengan game didepannya, dengan sedikit memaksa Taeyong untuk menekan tombol start.

Tetapi sedetik kemudian, saat Yuta hampir berhasil memasukkan bola ke dalam gawang Taeyong. Leadernya itu malah menekan tombol pause dan membuat Yuta menggeram. "Taeyongggg."

"A aku tak enak badan. Kita lanjutkan saja besok bertandingannya." Ujarnya lalu segera bangkit dan sambil berlari meninggalkan Yuta yang menggeram kesal.

"Kuharap kau sadar." Gumamnya sebelum mematikan game konsol miliknya.


Taeyong menghela napasnya perlahan sebelum melayangkan tangannya menyentuh kenop pintu, lalu membukanya perlahan.

"Jaehyun." Serunya ketika dia mendongak mendapati adik kesayangannya itu kini tengah menatap botol minuman diatas nakas, Taeyong berlari dengan cepat, menyambar botol itu lalu menyembunyikannya dibalik nakas.

Jaehyun mendongak, dengan wajah tanpa senyum dia memandang Taeyong dengan intens. "Gelang seharusnya dipakai ditangan hyung, bukan di botol."

Taeyong menggigit bibir bawahnya, tanpa menjawab pertanyaan Jaehyun, dia berjalan perlahan menuju tempat tidur Donghyuck tetapi pergelangan tangannya ditarik oleh Jaehyun sehingga kini tubuhnya terduduk diatas tempat tidurnya tepat disebelah Jaehyun. Jaehyun membalikkan badannya, menatap Taeyong dengan intens. "Hyung, aku ingin memastikan sesuatu."

Taeyong sungguh terkejut dengan perlakuan Jaehyun, tubuh besar Jaehyun itu memeluknya dengan sangat erat. Dia terdiam, biarlah setidaknya satu menit saja, dia berdo'a dalam hati agar Jaehyun sama sekali tidak mendengar suara jantungnya.

"Sangat jelas." Taeyong membuka matanya dengan cepat, seolah baru tersadar dari sebuah mimpi indah, dia berusaha merenggangkan jarak antara mereka berdua tetapi Jaehyun malah makin menarik tubuh kecilnya.

"Jaehyun, lepaskan." Serunya, tangannya dengan sangat sibuk mendorong tubuh Jaehyun.

"Hyung, aku mendengar detak jantungmu. Apa ini sesuatu yang normal ketika seseorang memelukmu?" Jaehyun berbisik tepat ditelinganya, dia bahkan mengirimkan sebuah hembusan napas hangat miliknya, membuat Taeyong kegelian dibuatnya.

"Jaehyun." Dengan sekuat tenaga, Taeyong berhasil mendorong Jaehyun hingga bocah itu terjatuh diatas tempat tidur tetapi dengan cepat dia mendongak, lalu menegakkan badannya.

"Hyung." Taeyong yang ingin beranjak tetapi suara lembut itu berhasil memberhentikan langkahnya. "Aku mencintaimu."

"Jaehyun." Taeyong panik, dia mengulurkan tangannya, membekap mulut Jaehyun, berusaha menahan semua perkataan Jaehyun keluar. "Diam. Bagaimana kalau yang lain mendengar?"

"Mengapa kau panik begini, hyung? Kalaupun ada yang mendengar, hyung tenang saja, aku bisa menjawabnya dengan tanpa membuat masalah." Jaehyun menarik tubuh kecil Taeyong, membuat punggung hyungnya itu kini berada tepat didepan kepala ranjang.

"Aku hanya tak ingin membuat mereka salah paham." Serunya dengan gugup, dia mengangkat kedua kakinya, membuat sebuah tembok diantara dirinya dan Jaehyun.

"Sikapmu inilah yang membuat orang lain salah paham, hyung." Jaehyun mendekat perlahan, memutuskan jaraknya dengan Taeyong, matanya menatap intens, bola mata bulat nan indah itu, lalu ketika hidung mereka hampir bersentuhan, Jaehyun mengalihkan pandangannya, menatap bibir merah menggoda itu. Tangannya terangkat menyentuh dagu lancip Taeyong, membuat Taeyong mendongak, lalu menjadikan bibir Taeyong sebagai tempat bersinggahannya.

Walaupun namja berumur lebih tua dua tahun darinya tak membalas tetapi hyungnya itu membiarkan Jaehyun mengeksploitasi bibirnya. Jaehyun menjalankan tubuhnya hingga menyentuh leher Taeyong dan semakin memperdalam ciuman mereka.

Beberapa menit kemudian, ketika Taeyong menyadari bahwa dirinya kehabisan napas, Taeyong memukul perlahan dada Jaehyun, membuat Jaehyun melepas ciumannya dengan senyum dibibirnya.

"Benar, apa yang dikatakan Mark!" Jaehyun tidak melepas pandangannya dari mata Taeyong. Taeyong menggaruk tengkuknya, dia sungguh gugup jika ditatap Jaehyun seperti itu. Tangan Jaehyun terangkat mengusak lembut surai hitam milik Taeyong.

"Aku tidur disini yah, hyung." Bukan sebuah pertanyaan tetapi sebuah pernyataan.

"Dong Donghyuck bagaimana?" Taeyong memainkan jarinya dengan gugup, dia bukan anak kecil yang tidak mengetahui maksud tersembunyi dari Jaehyun.

"Dia bisa tidur di kamarku, hyung." Lalu membawa Taeyong kembali pada ciuman mereka dan kegiataan malam yang akan panjang.


Suara deringan ponsel pintarnya, menyambut pagi Taeyong, dengan gerakkan yang cukup lambat, ditambah dengan jiwanya yang belum sepenuh bersatu, Taeyong mengangkat tangannya, menyambar ponsel yang berada diatas nakas, lalu menarik tombol hijau, menjawab panggilan di pagi hari.

"Yoboseyo?" Jawabnya dengan suara yang terdengar samar-samar.

"Taeyongie." Taeyong sedikit menjauhkan ponselnya ketika suara itu menyapa telinganya. Jaehyun bergerak perlahan walau kembali menutup matanya. "Kau sepertinya belum bangun." Kalau sudah tahu, mengapa bertanya? Taeyong ingin mengumpat tetapi tidak sama sekali tidak ingin menganggu namja sensitif disampingnya ini.

"Ada apa menelepon sepagi ini, Mr. Seo?" Taeyong sempat mendongak dan melirik jam yang masih menunjukkan pukul setengah enam pagi, Johnny Seo dan kebiasaan kakek tuanya.

"Aku ada kabar bagus tetapi aku tidak ingin memberitahumu sekarang." Taeyong menegakkan tubuhnya lalu menyanderkan punggungnya perlahan dikepala ranjang.

"Apa itu?" Jaehyun bergerak disampingnya, bocah sensitif itu.

"Kau akan mendengar kabar bagus sebentar lagi." Taeyong mengerucutkan bibirnya, menyebalkan.

"Menyebalkan. Aku bangun sepagi ini dengan sia-sia." Serunya, yang membuat Johnny terkekeh di seberang sana.

"Kau bisa tidur lagi." Taeyong mendengus. "Selamat tidur kembali, Taeyongie." Taeyong tersenyum perlahan mendengar suara imut dari Johnny.

"Hyung." Taeyong menoleh ketika tangan Jaehyun menyentuh jarinya.

"Bye." Serunya dengan segera, meletakkan ponsel diatas nakas, lalu segera menatap Jaehyun yang bergerak untuk duduk. "Apa aku menganggu tidurmu?"

"Tidak. Bagaimana kalau kita pergi jogging?" Walaupun mendapat erangan dari Taeyong, Jaehyun berhasil menarik Taeyong dengan baju yang sesuai tentunya, membawanya untuk menjalani aktifitas yang cukup dibenci Taeyong itu.


"Jaehyunie capek." Jaehyun tersenyum, dia memberhentikan larinya yang tidak terlalu cepat, menoleh menatap Taeyong yang sudah terduduk diatas jalanan yang tadi dia lewati. Jarak mereka cukup jauh sehingga Jaehyun harus berlari menghampiri Taeyong.

"Kita baru lima menit berlari." Seru Jaehyun, dia lalu berjongkok menatap Taeyong yang terlihat sangat lelah, padahal dia tidak lelah melakukan dance selama 3 jam perhari.

"Tapi aku lelah." Jaehyun mengeringai, lalu entah mengapa bangkit, bersiap untuk kembali berlari, ini bukan hal diharapkan Taeyong.

"Hyung." Taeyong menggumam sambil menegakkan tubuhnya. "Saranghae." Tubuhnya menegang, Taeyong tak tahu apa yang akan dikatakan oleh bibirnya, apalagi dengan tatapan teduh dan senyum dimple.

"Nado saranghae." Jaehyun lalu membawa jari-jari Taeyong dalam sebuah genggaman yang hangat.


Tak biasanya, dihari libur mereka, NCT 127, mereka bertujuh dengan wajah kusut dan lelah mendatangi gedung SM. Tadi pagi tepat sebelum semua bangun, manajer mereka tiba-tiba datang dan membangunkan mereka semua. Dan disinilah mereka didalam sebuah lift, dengan pandangan bertanya yang ditujukan kepada sang leader yang tersenyum dengan terpaksa.

"Aku juga tidak tahu." Serunya sambil tangannya sibuk menekan tombol lift. "Manajer hyung bilang kita cuman disuruh datang ke lantai 7 tetapi aku tidak tahu masalah apa." Serunya yang membuat suasana kini menjadi sedikit tegang.

Siapa yang dari mereka bertujuh yang tidak tahu lantai 7, disana tiga bulan yang lalu, mereka sempat berkumpul dan berakhir dengan pemberitahuan akan debut. Ada apa gerangan? Semoga bukan hal yang buruk.

"Tenang saja. Aku yakin ini hal yang baik." Seru Taeyong sambil menatap seluruh teammatenya dengan penuh kenyakinan dan mata penuh semangat. Dia lalu berbalik ketika wajah murung teammatenya kini telah berubah, tangannya dengan cepat memutar kenop pintu.

"Taeyongie." Taeyong sungguh tak mempercayai apa yang sedang dilihat matanya tetapi ketika Mark meneriakkan nama kedua orang yang berada didalam ruangan itu, Taeyong sadar bahwa ada sesuatu yang mungkin akan terjadi di masa depan nanti dan dia yakin bahwa ini semua tidak akan berjalan baik.

"Johnny hyung, Dooyoung hyung. Kalian sedang apa disini?" Hanya diri Taeyong seorang yang tidak mendekati Johnny dan Dooyoung yang sudah duduk di ruang rapat, dia masih berdiri didepan pintu.

"Sini duduk disebelahku." Taeyong menoleh sebentar kearah Jaehyun yang kini tengah bercengkrama dengan Dooyoung lalu memutuskan untuk duduk disebelah Johnny. "Ini berita bagus yang ingin kukatakan kemarin lusa."


TBC


a/n:

apakah ini terlalu cepat alurnya? -_-

enjoy dan jangan lupa reviewnya