Title ; My Pretty Boy

Author : DandelionLeon

Cast : All of member EXO , Sungjae (Btob) dan masih banyak lagi.

Rate : T

Genre : Humor, Romance, School life, GS (For all uke)

.

.

Sebenarnya yang paling terlihat 'idiot' di antara band EXO itu adalah Kai- atau mungkin Chanyeol? Tetapi sebenarnya yang paling idiot itu adalah Kris. Sudah idiot, mesum pula. Bagaimana bisa ia mencium gadis yang baru saja dikenalinya hingga pingsan karena shock seperti itu? Itu. Sangat. Memalukan!

Memang Kris itu memalukan sih.

Oke, lupakan saja!

Lelaki pirang itu tampak biasa saja, bahkan ketika Baekhyun dan Lay berteriak di depannya. Ia hanya menguap tak peduli.

"salahkan sendiri wajahnya itu manis."

itu adalah kata yang paling sialan yang pernah Luhan dan teman-temannya dengar. Apalagi dengan ekspresi 'bodo amat' yang di buat Kris.

"Maafkan Kris, saraf otaknya memang sedikit konslet." Ucap Suho tanpa dosa yang pastinya dihadiahi deathglare dari si naga terbang.

"Aish! Dasar kalian perusak suasana!" Pekik Luhan secara tiba-tiba. Mata rusanya bertemu dengan mata Sehun yang menatapnya tajam.

"Apa lihat-lihat?!"

"Percaya diri sekali kau, aku tidak melihatmu!"

Lay sebagai yang paling bijaksana akhirnya menengahi pertengkaran Hunhan.

"Hey, sudahlah. Lebih baik kita pulang saja."

Dan segerombolan muda-mudi itu meninggalkan kedai ramen setelah sebelumnya membuat kegaduhan disana.

.

.

Luhan menguap beberapa kali. Hari ini begitu melelahkan, fikirnya. Dirinya terkaget saat sosok Sehyun masuk ke kamar dengan wajah tertekuk.

"Dari mana saja kau?" Tanya Luhan.

"Bukan urusanmu."

Wajah pucatnya bertambah pucat. Sehun merasa kepalanya begitu sakit. Mungkin ini efek kehujanan saat pulang kesini tadi. Tubuhnya memang rentan terhadap flu. Jadi, siswa yang kini menyamar itu asyik bersin-bersin.

"Kau sakit?" Tanya Luhan khawatir.

"Bukan urusanmu." Lagi-lagi hanya jawaban sama yang Luhan dapatkan. Gadis cantik itu mengerucutkan bibirnya kesal. Ia lantas berbaring di tempat tidurnya. Tak mempedulikan jika Sehun sakit atau tidak. Toh, ujung-ujungnya pasti ia hanya akan menerima perlakuan 'sialan' Sehun saja kan?

"Dasar kaset rusak! Apa mulutnya telah di program untuk mengatakan hal yang itu-itu saja?" cibir Luhan di balik selimutnya.

"Aku mendengarmu!"

Luhan mendesah pelan. Gadis itu berulang kali mendengar suara bersin Sehun. Ia jadi kesulitan tidur karena berisik.

"Hey, tadi aku bertemu oppamu." Ucap Luhan, mencoba mengajak Sehun berbicara.

"Lalu, apa hubungannya denganku?" Tanya Sehun acuh tak acuh.

"dasar tidak asyik! Dia sama saja sepertimu, menyebalkan!"

Sehun melongo menatap Luhan yang kembali tertidur membelakanginya. Anak itu kenapa? Fikirnya. Namun masa bodoh, Sehun kembali melanjutkan bersinnya yang tertunda.

.

.

Jam menunjukkan pukul satu dini hari. Sehun demam tinggi, keringat mengucur deras dari dahinya. Suara batuknya juga terdengar begitu nyaring. Luhan terbangun, gadis itu berjalan menuju saklar lampu lalu menghidupkannya.

"Sehyun-a, sebaiknya kita menemui Taeyeon seonsaengnim saja. Kau kesakitan." Ucap Luhan setengah mengantuk.

"Uhhukk... Uhhukk... J-jangan."

"Ck! Kau ini keras kepala sekali? Tubuhmu_Astaga! Panas sekali Sehyun!" Pekik Luhan saat tangannya menyentuh dahi Sehun yang begitu panas seperti bara api.

"Aku tidak peduli! Aku akan tetap memanggil seonsaengnim." Gadis itu beranjak, namun tangan Sehun menahannya.

"T-tidak perlu_ uuhhuukk..."

Luhan yang kesal langsung menyentak tangan Sehun. Itu berhasil karena kekuatan Sehun melemah akibat sakitnya. Namun, saat gadis China itu hampir menyentuh gagang pintu. Tubuh Sehun terjembab ke lantai. Lelaki itu berusaha mengejarnya namun tidak berhasil karena kepalanya begitu pening.

"Astaga! Sehyun-a, kau tidak apa-apa?"

Luhan berusaha memapah tubuh Sehun namun telapak tangannya secara tak sengaja menyentuh dada rata Sehun. Gadis itu mengernyit bingung. Matanya terbelalak saat keduanya telah terduduk di ranjang. Rambut panjang Sehyun kenapa menjadi rambut pendek berwarna pirang keputihan? Ini kan_

Luhan hendak berteriak, namun Sehun dengan sigap membekap mulutnya. Lelaki itu menatap wajah Luhan dari dekat.

"Jangan berteriak okay?"

Suara itu, astaga! sudah jelas jika itu adalah Oh Sehun. Berarti selama ini Luhan telah dibohongi?

Sehun menumpu kepalanya pada pundak sempit gadis itu. Perlahan ia melepaskan bekapannya.

"Kau bisa melapor ini jika kau mau. Tetapi untuk sekarang, diamlah. Tetap seperti ini."

Entah kemana kecerewetan Luhan pergi. Namun gadis itu hanya mengangguk patuh. Jantungnya berdentum keras. Apalagi saat merasakan kepala sehun di pundaknya. Sial!

"K-kau hutang penjelasan padaku." Bisiknya.

.

.

Luhan berjalan gusar didepan kamar mandi. Ingatan semalam kembali menari-nari diotaknya. disatu sisi ia kesal, karena telah dibodohi oleh Oh Sehun si banci nyasar. Disisi lainnya, ia merasa malu bukan main karena... Karena ternyata selama ini dia sudah tidur satu kamar dengan laki-laki. Ingatan Luhan kembali saat dimana Sehun memegang dadanya_

"Siaaaal! Kenapa aku bodoh sekali?! Hiks..." Gadis itu menutup wajahnya dengan telapak tangan. Ia meloncat-loncat tidak keren. Bersamaan dengan itu, Sehun keluar dari kamar mandi. Kali ini ia tak bersusah payah lagi untuk mengenakan wig atau dada palsu. Lelaki itu mengusak rambut pirang keputih-putihannya dengan sebuah handuk kecil. Ia merasa kepalanya benar-benar ringan setelah mandi dengan air hangat.

Alisnya bertautan melihat Luhan meloncat-loncat aneh didepan kamar mandi. Sudut bibir atasnya terangkat.

"Hey, sedang apa kau disitu? Mau mengintip orang mandi ya?" Ujarnya disertai gaya bicara ala cadelnya.

Sontak Luhan langsung berhenti melakukan aksi tidak pentingnya saat mendengar ucapan nyinyir Sehun. Ia hendak mengumpat namun suaranya tercekat ditenggorokannya begitu saja.

Mata gadis itu melotot, pipinya merona serta hidung kembang-kempis.

Sebenarnya apa yang ia lihat? Mari kita saksikan juga.

Oh astaga! Pantas saja Luhan mendadak seperti orang struk. Oh Sehun topless, hanya mengenakan handuk saja untuk menutupi area pribadinya. Tubuh yang sedikit berotot itu membuat Luhan megap-megap.

"Pakai bajumu sanaaaa! ! " Teriak Luhan menggema.

Sehun dengan wajah 'masa bodoh'nya mengangguk pelan lalu mengambil kaos biru laut dari dalam lemarinya. Tak lupa memakai celana dalam serta celana pula. Ia berjalan mendekati Luhan yang masih setia didepan pintu kamar mandi dengan menutup kedua matanya.

"Sudah selesai." Ujarnya malas-malasan.

Luhan mendesah lega. Perlahan ia mulai menatap wajah Sehun yang mirip seperti bule. Kenapa Luhan baru sadar jika lelaki dihadapannya ini tampan sekali?

"Baru sadar ya jika aku tampan?" Tanya Sehun sombong seolah bisa membaca isi hati Luhan.

Luhan membuang mukanya asal. Alisnya bertaut, menyadari satu hal. Gadis itu tanpa komando dari siapapun langsung menarik tangan Sehun agar duduk diatas ranjang.

"Jadi... Kita mulai saja ya?"

"Ha? Mulai apanya? Ah~ jangan-jangan kau ingin kita, kkkk..." Ucap Sehun disertai senyuman mesumnya.

Luhan benar-benar tidak bisa berkata apa-apa lagi. Gadis cantik itu langsung meninju pipi Sehun tanpa ada komando dari siapapun.

"Yak! Sakit~~"

"Siapa suruh fikiranmu kotor sekali?! Jangan mengalihkan pembicaraan! Sekarang katakan padaku, kenapa kau bisa berubah menjadi perempuan seperti ini? Kalau ketahuan pihak sekolah bisa bahaya kan?" Cerocos Luhan tanpa jeda.

Sehun yang mendengar itu sekali lagi hanya bisa memutar bola matanya jengah. Ia segera merebahkan dirinya di atas ranjang, tepat disebelah Luhan.

"Semua karena ide bodoh Chanyeol hyung. Aku kalah taruhan, jadi ya seperti ini." Jelas Sehun dengan mata setengah terpejam. Kepalanya masih sedikit pusing omong-omong.

Sementara itu, Luhan hanya bisa terbengong bodoh dalam dunianya sendiri. Entah bisa dikatakan beruntung atau tidak bisa sekamar dengan salah satu anggota band populer dari sekolah tetangga, atau sial bisa satu kamar dengan lelaki menyebalkan yang menyamar hanya karena sebuah taruhan bodoh. Astaga, mereka mempermainkan sekolah hanya karena satu taruhan bodoh saja?!

"J-Jadi... Taruhan?! Kalian memang gila! Yak! Kau harus segera keluar dari sekolah ini sebelum ketahuan!" Ucap Luhan hampir seperti memekik.

"Tidak bisa. Taruhannya sampai tiga bulan. Dan_ ah! Kau benar!"

Luhan mengerjapkan matanya sesaat setelah Sehun bangun secara tiba-tiba. Lelaki itu menatap Luhan sengan senyuman mencurigakan. Tak lama kemudian ia berteriak bahagia, seolah sedang melakukan selebrasi kecil-kecilan.

"Akhirnya! Aku bisa bebas dari kutukan wig sialan ini! Hahaha! Tapi..."

Mengerjap.

Mengerjap lagi.

Oh sial! Sehun baru ingat. Jika begitu dia akan kalah. Otomatis hyung-hyungnya yang brengsek itu akan menang dan Sehun akan mendapat hukuman.

"Aish! Sialan! Mereka akan mengerjaiku habis-habisan jika penyamaranku ketahuan sebelum tiga bulan." Ratapnya sedih. Ia mengguncang-guncangkan tubuh Luhan dengan dramatis hingga gadis itu merasa sedikit pusing.

"Lalu bagaimana?! Kau itu berbohong, sebelum ketahuan makanya kau harus_"

"Kau harus membantuku Luhan! Berpura-pura saja tidak tau saja, hm?" Potong Sehun dengan cepat. Luhan melebarkan senyuman sinisnya. Sudah begini saja baru bertingkah sok baik.

"Tidak mau! Itu sama saja aku ikut-ikutan denganmu!" Tolak Luhan dengan tegas.

Sehun menggerutu pelan. Serius! Gadis didepannya ini kenapa susah sekali diajak kompromi sih?

"Ayolah~ kau tega padaku?"

"Memangnya kau siapa? Sudah ah! Aku mau pergi dulu_Aaak!"

Tidak ada jalan lain, fikir Sehun. Lelaki itu segera memeluk Luhan dari belakang dengan erat. Wajahnya benar-benar minta dikasihani saja. Sementara gadis yang ada dalam pelukannya sudah hampir pingsan dengan perlakuan tiba-tiba itu. Gila, dipeluk lelaki tampan? Siapa yang tidak suka_um... Maksudku terkejut.

"Tolong Luhan. Ini soal hidup dan mati. Tidak bisakah kita berkompormi Luhan?" Rengek Sehun yangmana terdengar menjengkelkan ditelinga Luhan.

"Kompromi! Bukan kompormi! Hah... Baiklah, lepaskan dulu aku." Ucap Luhan membenarkan ucapan Sehun. Pemuda itu bersedia melepaskannya. Matanya menatap tajam pada mata Luhan. Harap-harap cemas jika Luhan tidak mau.

"Baiklah, aku mau tapi... Kau harus mengikuti apapun yang aku bilang!"

"Apa?! Itu sama saja keluar dari lubang singa masuk ke dalam lubang buaya!" Sergah Sehun.

"Jadi maksudmu aku ini buaya?! Begitu! Ah, baiklah, aku tidak peduli jika begitu. Aku pergi saja_"

"Eiih... Tidak! Maksudku... Baiklah. Asalkan itu masuk akal. Aku tidak masalah."

Luhan melebarkan senyuman jahatnya. Dalam hati ia tersenyum menang. Ia akan menjadikan Sehun umpan agar Sungjae mau berkencan dengannya.

.

.

Dibilang kutukan, rasanya terlalu ekstrim. Sehun tidak tau jika Luhan ternyata adalah anak yang licik. Gadis itu sengaja menyuruhnya untuk mendatangi Sungjae malam-malam begini. Gila! Pemuda aneh itu sudah tersenyum-senyum seperti orang mesum sekarang. Besar kepala sekali dia.

"Jadi, Sehyun ingin kita bertemu besok di taman bermain?"

Dan senyuman masam Sehun lah yang menjawab itu.

"Bukan aku. Tetapi Luhan. Aku minta padamu untuk menemaninya. Soalnya aku tidak bisa, aku harus bertemu temanku besok."

Sungjae menatap Sehun curiga. Ini aneh, fikirnya. Sepenting apa urusan Luhan ke taman bermain? Toh, Kapanpun kesana juga bisa kan? Seolah bisa membaca fikiran Sungjae, Sehun cepat-cepat memberi alasan.

"Dia ingin merayakan ulang tahunnya disana. Aku merasa tidak enak menolaknya untuk menemaninya besok. Padahal aku juga punya janji." Tutur Sehun dengan suara sengaja dilembut-lembutkan.

"Ah, begitu ya? Baiklah aku setuju. Tetapi, kau tidak cemburu kan?"

Mata kiri Sehun langsung berkedut mendengarnya. Cemburu bokongku! Pekiknya dalam hati.

"Ah, tentu tidak. Baiklah jika begitu, aku masuk dulu ya?"

"Tunggu!"

CUP!

Kecupan singkat dipipi Sehun membuat lelaki itu benar-benar kehilangan kesabarannya. Hampir saja ia melayangkan tinjunya pada Sungjae, tetapi Luhan yang mengintip dari balik semak-semak memelototinya dengan kejam.

"Selamat malam." Ucap Sungjae dengan wajah malu-malu. Lelaki itu segera berlari dari sana dengan wajah bahagianya, meninggalkan Sehun dengan aura gelap yang mendominasi.

Seakan tak sadar situasi, Luhan keluar dari persembunyiannya dengan wajah berbinar bahagia. Ia segera menepuk pundak Sehun untuk menyadarkan lelaki itu dari acara bengongnya.

"Kerja bagus! Hahaha! Itu baru anak buahku!"

"Aku bukan anak buahmu!" Sentak Sehun emosi.

Luhan menutup matanya takut. Setelahnya ia kembali mendekati Sehun tanpa tau malu. Gadis itu bergelayut manja di lengan Sehun membuat si empunya menegang kaku.

"Oke... Oke. Tetapi, terima kasih ya? Akhirnya besok aku akan kencan dengan Sungjae. Hahaha...!"

Sehun meringis melihat Luhan yang sedang berloncat-loncat bahagia.

"Enak ya bisa kencan? Aku dicium olehnya dan kau senang? Dicium! Dicium oleh lelaki_aishh! Aku akan gila!" Sehun mengusap tengkuknya yang terasa sakit dengan dramatis akibat memikirkan kejadian tadi.

"Hanya ciuman pipi Sehun. Anggap saja angin lalu." Komentar Luhan acuh tak acuh, membuat Sehun semakin kesal saja rasanya.

"benarkah? Jika kau dicium begitu, kau tidak akan memikirkannya?" Tanya Sehun penasaran.

"Tentu saja! Hanya dipipi dan_"

CUP!

Deg... Deg... Deg...

Backsound suara jantung yang berdetak kencang seperti genderang mau perang itu memenuhi malam yang sunyi. Baik Luhan maupun Sehun sama-sama terdiam. Sehun berdehem, mengusir kegugupannya. Ia tak tau mendapat keberanian dari mana untuk mencium pipi Luhan. Lelaki itu memasang wajah stoicnya kembali. Ia segera memencet hidung Luhan agar gadis itu sadar dari bengongnya.

"pembohong!"Ejeknya. Pemuda itu berjalan mendahului Luhan yang menatap kesal ke arahnya. Sementara itu, Sehun diam-diam mengulas senyuman tipis yang siapapun tidak akan tau.

"Yak! Beraninya kau Oh Sehun!"

.

.

Sehun menatap malas pada Luhan yang terlihat bahagia seraya mematut dirinya didepan cermin. Gadis itu telah mengganti pakaian sekolahnya dengan sebuah dress berwarna kuning pucat dengan rok mengembang diatas lutut. Ia terlihat cantik. Sangat cantik.

"Sehun, menurutmu rambutku digerai saja atau diikat satu seperti ini?" Tanyanya meminta pendapat Sehun.

Pemuda itu tak menggubrisnya. Ia malah sibuk bertukar chat dengan Chanyeol dan Kris.

"Yak! Telingamu bermasalah ya?"

Astaga! kenapa wanita begitu menyebalkan? Fikir Sehun. Ia beranjak dari ranjangnya lalu bergerak mendekati Luhan. Pemuda itu memutar tubuh Luhan untuk menghadap cermin, sedangkan ia berada tepat dibelakangnya.

Tangan Sehun melepas pita rambut Luhan lalu merapikan rambut Luhan yang tergerai. Sadar atau tidak sadar ia mengulas senyumannya yang tampan, membuat Luhan menahan nafasnya sejenak.

"Kau cantiknya seperti ini." Gumamnya sangat pelan. Tetapi Luhan masih bisa menangkap ucapan yang berisi pujian itu.

"Kau bilang apa?"

"Ha? Tidak. Mau bagaimana pun kau tetap saja sama. Jelek."

Oh... Sekali menyebalkan tetap saja menyebalkan. Luhan menatap berang pada lelaki cadel itu. Ingin sekali ia melempar sepatunya ke wajah menyebalkan Sehun yang sedang tertawa nista.

"Ck! hah, baiklah. Aku tidak peduli. Yang penting aku akan kencan dengan Sungjae. Um... Kami akan menaiki wahana, menonton bioskop lalu makan, lalu... Astaga! Pasti seru sekali." Ujar Luhan sengaja ingin membuat iri Oh Sehun.

Mulut Sehun berkomat-kamit mengikuti ucapan Luhan. Ia segera memasuki selimutnya. Tak peduli dengan ocehan-ocehan Luhan selanjutnya. Sehun mencoba tertidur, walau bayangan Luhan dan Sungjae berkencan terus membayangi fikirannya.

"Astaga! Aku sudah gila!"

.

.

TBC

.

.

Um... Cuma mau bilang... Hai? Setelah bersemedi beberapa Tahun, cerita ini balik lagi. Maaf kalo kalian gak minat lagi baca. Tapi selagi ada ide, aku lanjutin buat yang masih nunggu.

Udah gitu aja. Sekian!

Review?