Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto
Warning : AU, OOC, typo(s), alur lambat.
A/N : HAPPY BIRTHDAY HIME-SAMA! Hinata di cerita ini memang lebih bubbly dari biasanya. Nanti bakal tau alasannya. Tapi nanti.
.
.
.
.
.
The Midnight Dew
Chapter 2
.
.
"Kenapa tidak dimakan? Hm? I-ini enak, kok."
Karena tidak mendapat respon apapun, wanita itu menyeret kursinya demi duduk berdampingan dengan Gaara.
Ia mengambil mangkuk sup di depannya dan mengaduk-aduk isinya agar lebih dingin. Sementara Gaara, yang wajahnya tenggelam di atas meja, sama sekali tidak peduli dengan sup buatan orang asing tersebut. Yang ada di kepalanya sekarang adalah rasa sakit berdenyut-denyut, dan puluhan pertanyaan berkelebat di benaknya tanpa henti.
Mungkin saja aku masih mabuk, pikirnya.
Wanita itu membuat suara-suara yang menurut Gaara sangat mengganggu. Mulai dari dentingan toples kaca beradu dengan sendok, celotehan yang sama sekali tidak Gaara pahami, sampai suara kaki kursi yang digeser-geser. Ia juga terus meniup-niup supnya, dan telinga Gaara tanpa sengaja ikut tertiup.
Sontak Gaara terlonjak. Ia bergegas menjauh beberapa meter.
"Kenapa?" Sendok mengepul di tangan wanita itu tertahan di udara. Ia menatap Gaara dengan air muka khawatir yang sangat berlebihan. Alisnya menekuk, dan bibirnya sedikit terbuka.
Gaara balik menatapnya dengan pandangan horror. Kedua tangannya menutupi sebelah telinga dengan protektif, mencoba meredakan rasa geli dan desiran yang menjalar menuju tengkuk, punggung, sampai ke pinggangnya. Ia membenci hal seperti itu karena telinganya sangat sensitif.
"Apa aku tak sengaja meniup telingamu?" Wanita itu terkikik geli, ekspresinya pun kembali melembut, "Ayolah, Gaara. Jangan bikin alasan. Duduk sini, supnya sudah tidak begitu panas."
Gaara berkedip. Sekali. Dua kali. Otaknya yang tadi malam dialiri banyak alkohol, rupanya butuh waktu sampai ia membuat beberapa perkiraan lain.
"Apa ini semacam lelucon?" tanya Gaara, "Apa Naruto yang menyuruhmu kesini? Atau dari pihak agensi?"
"Kamu bicara apa sih..."
"Camera prank? Di mana kameranya? Sudah kuduga, rookie artist biasanya akan ada di acara seperti ini." Gaara meracau sambil berkeliling apartemen. Matanya mencari di setiap inci ruangan. Tapi semakin ia mencari, dirinya malah semakin bingung.
Pasalnya ia tidak menemukan barang elektronik apapun. Tidak ada kamera, tidak ada pengeras suara, dan tidak ada kru berkeliaran. Sudut-sudut maupun langit-langit apartemennya tetap sama. Tidak ada bekas perekat atau paku yang ditancapkan. Benar-benar sama.
Tapi ia menemukan selusin kosmetik asing di laci watafel, ada juga handuk putih tergantung di samping handuknya. Beberapa pasang sepatu di rak bercampur dengan sepatu miliknya. Lemari pendingin pun kini sangat berwarna; dipenuhi sayuran dan bahan makanan lainnya. Bahkan sandal kamar mandinya kini berdampingan dengan sandal bergambar tokoh kartun populer.
Gaara yakin, siapapun yang bertanggung jawab atas hal ini, ia pasti benar-benar mencintai pekerjaannya. Orang macam apa yang cukup peduli untuk meletakkan hal-hal remeh di semua tempat. Memedulikkan detail kecil; seperti menyimpan kotak P3K di samping meja tempat ia biasa menulis lagu—jemari Gaara sering bengkak karena menekan senar gitar terlalu lama, membuat kotak bersekat untuk menaruh kabel dan headset, memasang bantal kecil pada sandaran kursi meja belajarnya, dan kini ada satu kursi tambahan di samping kursi tersebut.
Gaara berjalan melewati ruang tengah, lalu sesuatu-yang-seharusnya-tidak-di-sana menarik perhatiannya.
Demi jadwal debut Gaara yang tinggal menghitung hari. Orang itu menjemur bra dan bajunya di balkon Gaara.
Seolah-olah dia sudah tinggal di sini sejak lama.
Jika memang ini sebuah acara televisi, maka produser televisi tesebut sangatlah total dalam membuat acara-acaranya, pikir Gaara. Dalam semalam, mereka bisa membuat otak seseorang macet sama sekali. Terutama otak laki-laki yang baru bangun tidur, yang rambutnya seperti habis ditabrak kereta.
Jika tidak dalam situasi seperti sekarang, Gaara akan sangat bersyukur melihat hal-hal kecil yang ada di rumahnya—kecuali jemuran di balkon.
Tapi Gaara benar-benar takut.
Ia mengambil ponsel yang selama ini ada di saku celana. Menimbang-nimbang apakah dirinya harus menghubungi Naruto, atau tidak. Ia memikirkan bagaimana reaksi Naruto nantinya. Namun jika memang—terlepas dari semua keganjilan, ia dijadwalkan untuk syuting acara aneh ini, maka Gaara seharusnya diberitahu jauh-jauh hari, atau setidaknya dimintai pendapat.
Lalu bagaimana jika Naruto pun tidak tahu mengenai hal ini? Naruto mungkin akan berasumsi bahwa Gaara memiliki hubungan khusus dengan seorang wanita yang tinggal satu atap dengannya. Bisa saja jadwal debutnya nanti diundur, atau bahkan dibatalkan karena agensi kecewa pada 'sikap buruknya'.
Tiba-tiba kakinya terasa lemas dan badannya merosot terduduk. Selama tujuh belas tahun hidupnya, ia tidak pernah merasa sebingung ini. Ia memikirkan banyak hal, dan semua dampaknya dipikirkan terlalu jauh.
"Kamu sedang apa? Sudah cuci muka?" Wanita itu muncul di ujung koridor, memandangi Gaara yang membeku di seberang pintu kamar mandi.
"Kalau tidak mau sup tidak apa-apa. Aku bikin roti selai kacang dengan susu bubuk, loh. Ayo cepat cuci muka!" Wanita itu membujuk Gaara dengan suara riang, lalu pergi ke dapur.
Justru itu yang membuat Gaara merasa telinga dan otaknya perlu direparasi atau dibersihkan dengan seksama. Ia bangkit berdiri, sepenuhnya terhenyak. Darimana wanita ini tahu makanan favoritnya? Padahal tidak ada satupun yang tahu—selain ayahnya yang sudah lima tahun tidak ia temui.
Gaara membuka pintu apartemennya lebar-lebar dan mengambil sejumlah uang dari dompetnya.
"Kau," Gaara berjalan ke arahnya, suaranya setengah menggeram.
"Ya?" Wanita itu sedang memotong-motong roti selai untuk Gaara, sama sekali tidak terpengaruh dengan atmosfir yang menggelap.
Gaara melempar uang tersebut ke meja. Selama beberapa detak jantung, wanita itu mematung, lalu ia menolehkan kepalanya demi menatap Gaara.
"Keluar dari apartemenku. Sekarang," perintah Gaara.
Awalnya Gaara tidak memerhatikan, tapi melihat sedekat ini, ia sadar bahwa tidak ada sedikitupun rasa takut dalam iris pucatnya.
"Kamu belum cuci muka?" Wanita itu menarik dagu Gaara sedikit ke bawah, membuat mulutnya setengah terbuka, ia berjinjit dan mendekatkan wajahnya saat Gaara lengah. "Astaga! Berapa botol yang kamu minum tadi malam? Baunya sampai sekuat ini..." Ia mengerenyitkan hidungnya.
Siapa yang peduli dengan mulut bau alkohol jika kau punya masalah lebih besar di apartemenmu?
"Apa kita sedang syuting sesuatu? Apa kau menandatangani kontrak film atau semacamnya bersamaku?"
"Syuting apa maksudmu? Kamu akan segera syuting nanti, saat kamu sudah debut." Wanita itu menata roti selai di piring dengan tenang. "Kamu mau bawa bekal ke sekolah?" tanyanya.
Gaara benar-benar kesal. Wanita ini sama sekali tidak membantunya. Ia tidak memberikkan jawaban yang masuk akal dan ia tidak mengurangi rasa bingung Gaara. Tanpa melepaskan pandangannya, Gaara menarik piring dari tangan wanita itu dan ia banting ke lantai. Sangat keras. Pecahannya terberai, dan suaranya yang memekakkan telinga, membuat wanita itu terperanjat.
"Aku bahkan tidak tau kau siapa," desis Gaara. Ia mencengkram salah satu tangannya dengan marah. "Jika kau menjawab asal, aku akan mencekikmu."
Wanita itu sempat meringis. Perlahan tangannya terasa kebas, dan pedih merambat tatkala kuku tangan Gaara menekan kuat kulit tangannya. Namun ia tidak peduli. Dirinya sudah tahu makna sejati kata 'sakit'. Dan itu sejuta kali lebih dalam dari sekadar buncah amarah dan bentakkan kasar.
"Siapa kau?"
Ia mengangkat tangannya yang bebas, jari telunjuknya bergerak lurus, lalu berhenti, menyentuh tepat di tengah dada laki-laki itu.
Ia menunduk, senyumnya masih di sana saat berbisik, "Sabaku Gaara...suamiku."
Cengkraman Gaara semakin kuat. Kini wanita itu merasakan perih menjalar di tangannya. Terasa panas. "Jangan bercanda," geramnya.
Setitik air mata jatuh tatkala wanita itu menurunkan tangannya, lalu beralih menunjuk dirinya sendiri. Suaranya bergetar, namun masih terdengar jelas. "H-Hyuuga Hinata...istrimu."
"Aku bilang jang—"
"Kamu selalu marah saat tidak mengerti sesuatu." Hyuuga Hinata sekali lagi menatap Gaara, tepat di matanya, kendati pandangannya buram karena air mata yang menggenang. "Seperti saat kamu syuting video klip dua minggu lalu, kamu marah karena tidak mengerti apa yang dijelaskan sutradara. Kamu juga marah saat tidak mengerti materi sastra klasik di kelas seni, saat kamu kelas 10. Apa aku benar?"
Gaara tercenung. "Dari mana kau tau?"
Hyuuga Hinata tersenyum. Matanya yang memerah membentuk lengkung kecil. "Kamu selalu seperti itu."
Mendengar kalimat tersebut, Gaara lantas melepas cengkramannya pada Hyuuga Hinata. Seolah-olah ia baru menyentuh air panas.
Hyuuga Hinata benar; ia selalu seperti itu, selalu menuntut jawaban, apapun itu.
Ia merenggut uang di atas meja dan memaksa Hinata mengepalnya. "Kau akan menyesal jika tidak tutup mulut. Mana ponselmu?"
Gaara khawatir Hyuuga Hinata merekam dirinya atau mengambil fotonya saat ia mabuk.
"Tidak ada ponsel," kata Hyuuga Hinata.
Gaara terkekeh miris, "Kau bisa membawa begitu banyak barang tidak masuk akal ke apartemenku, namun tidak ada ponsel? Apa aku terlihat tolol di matamu?"
Gaara memeriksa setiap inci tubuh Hyuuga Hinata; depan, belakang, atas, maupun bawah, mencari-cari ponsel miliknya. Tidak menemukannya, ia bergegas mengacak-acak dapur, merogoh isi tas, bahkan mengeluarkan koleksi piringan hitam dan album dari lemari kuning besar di ruang tamu. Namun tak kunjung ia temukan.
"Di mana kau sembunyikan?" Dengan kasar ia menangkup rahang Hyuuga Hinata dalam tangannya. Napasnya terengah-engah.
"Kamu sudah menggeledah semua tempat...tapi kamu masih tidak percaya ucapanku?"
"Apa aku harus percaya pada orang asing yang menjajah apartemenku?" Gaara berujar sarkastik.
"Kamu tidak percaya istrimu sendiri?"
"Demi Tuhan, aku tidak pernah menikah! Bagaimana aku bisa punya istri?"
Hyuuga Hinata masih sempat mengerucutkan bibirnya. "Suami yang jahat..."
"Schizophrenia."
Ia tak pernah membayangkan hal mustahil seperti ini akan terjadi dalam hidupnya. Seorang wanita dewasa memakai setelan kantor, muncul tiba-tiba dengan semua barang-barangnya. Lalu tanpa segan memerintah Gaara ini-itu, dan mengaku sebagai istrinya sambil menangis dan tersenyum di saat yang sama.
Gaara mengambil secarik kertas dan spidol hitam. Lalu ia membuat tanda tangan dalam ukuran besar dengan tulisan 'spesial untuk Hinata Hyuuga, tanda tangan pertamaku.'
Mata Hyuuga Hinata membulat dan alisnya naik. "Itu untukku?"
"Aku memberimu uang, lalu kau mendapat tanda tangan pertamaku." Gaara menyerahkan kertas tersebut, "Sekarang pergilah."
"Terima kasih, tapi...kenapa aku harus pergi?" Hyuuga Hinata menggerutu saat menerima tanda tangan Gaara. Ia mencermatinya, kemudian paham apa maksud Gaara. "Aku bukan fansnya Loki! Aku istrimu," bisiknya.
Kendati begitu, Hyuuga Hinata mendekap kertas sobekan jurnal dari Gaara erat-erat.
Melihatnya, Gaara hanya bisa cengo. "Ha-ha. Lucu."
Ia mendorong wanita itu keluar apartemen. Baik Gaara maupun Hyuuga Hinata, mereka berdua sama-sama menggerutu dan saling adu mulut sepanjang jalan yang hanya beberapa meter itu.
BLAM!
Tak lama kemudian, ponselnya berdering. Tidak tahu harus merasa senang atau merasa sangat sial ketika ia melihat nama pemanggil di ponselnya bertuliskan 'Namikaze Naruto'. Mau bagaimanapun, ia harus menjawabnya.
"Halo?"
"Ya."
"Gaara! Astaga! Kita dalam masalah! Kita dalam masalah!"
"Maksudmu?"
"Kita dalam masalah! Cepat mandi dan bawa baju seragammu! Aku sedang di jalan menuju apartemen." Naruto terdengar panik. Nada suaranya pun tinggi.
"Masalah?" Gaara—untuk kali ini, harus mencerna ucapan Naruto dengan perlahan.
"Nanti aku jelaskan. Sekarang kau harus siap-siap. Aku tiba disana sekitar 20 menit lagi."
"Ya ya."
"Oh satu lagi!"
"Apa?" Gaara berusaha memasukkan seragamnya yang masih dibungkus plastik laundry ke dalam tas. Lalu sepasang tangan entah dari mana, mengambil alih dan membantu Gaara menyiapkan barang-barang lainnya.
"Hari ini kau harus benar-benar menjaga imagemu." Suara Naruto terdengar lebih serius. Gaara bangkit berdiri, mencoba mendengarkan dengan serius pula. "Wartawan-wartawan haus skandal itu mulai mengorek informasi dirimu dari mana saja. Tidak ada merokok, tidak ada wanita, tidak ada hal aneh lainnya."
Gaara ingin tertawa keras sekali. Naruto bagai memperingati Gaara agar tidak berada di dekat harimau, padahal Gaara sudah memelihara satu ekor di apartemennya.
Gaara merasa diolok-olok oleh jagat raya. Jalannya dalam mempersiapkan debut berlangsung semulus porselen. Namun ternyata, bebatuan terjal yang seharusnya meramaikan perjalanan Gaara saat itu, dilimpahkan seluruhnya hari ini.
Terima kasih banyak, Tuhan.
Sekarang ia harus mencari Hyuuga Hinata dan mengurungnya di sini, sebelum wanita bermata pucat itu berkeliaran dan menyebarkan apapun yang diketahuinya tentang Gaara.
"Gaara?"
"Aku mau mandi. Dah."
Ia memutuskan hubungan dan langsung melesat membuka pintu apartemennya lebar-lebar. Ketika menengok ke kanan-kiri koridor, Gaara tak menemukan satu orang pun berlalu-lalang. Selanjutnya, ia berlari ke balkon. Jika Hyuuga Hinata meninggalkan gedung ini, kemungkinan besar ia belum pergi jauh. Gaara menunduk dan memicingkan mata. Dari atas sini, Gaara mencari sosoknya yang berbalut rok pensil selutut. Namun nihil. Tidak ada seorangpun yang menyerupainya.
"Kamu cari siapa?"
Jika Gaara cukup ekspresif, maka sekarang ia pasti sudah mengumpat dan terlonjak kaget. Tapi ini Gaara. Jadi ia hanya menarik dirinya sedikit dan menoleh ke sumber suara.
Disitu berdiri Hyuuga Hinata dengan kepala sedikit dimiringkan ke kanan.
"Bagaimana caramu masuk ke sini lagi?" Gaara bertanya.
"Lewat pintu. Buka saja pintunya."
Gaara mengangguk-angguk, sebelah tangan menekan-nekan pangkal hidung tanda ia menahan sakit kepala. "Ya, ya. Kau benar. Tentu saja kau tau sandi pintu apartemenku. Tentu saja."
Hyuuga Hinata medekatinya, lalu mengusap-usap belakang kepala Gaara. "Kamu mau aku buatkan bekal untuk sekolah?"
"Kenapa kau ingin membuat bekal untukku? Apa kau akan memasukkan asam sianida ke dalam telur gulung? Atau onigirinya akan kau campur dengan staples?"
"Tidak!" Hyuuga Hinata mengerucutkan bibirnya. "Suamiku belum makan dari pagi...bisa saja sakit karena terlambat makan. Sekarang saja kamu sudah pusing begitu."
Gaara menghela napas panjang.
"Baiklah." Gaara menoleh menatap wanita berponi pagar di sampingnya. "Asal kau janji tidak pergi kemanapun, tetap di apartemenku sampai aku pulang, dan tidak mengakses internet atau menghubungi siapapun. Sama sekali."
Hyuuga Hinata mengangguk mantap tanpa ragu.
"Janji?"
"Janji!"
"Aku akan mencekikmu kalau kau ingkar."
Hinata tersenyum kecil lalu menghambur memeluk Gaara. "Kamu tidak akan tega. Percayalah."
.
.
Jalan raya cukup lengang karena hari masih pagi sekali. Jadi, Naruto memacu mobilnya lebih cepat dan lebih cepat lagi. Mereka harus menghemat waktu sebaik mungkin.
Gaara terbiasa dengan gaya menyetir Naruto. Namun, tidak biasanya Naruto menyetir tanpa banyak bicara, juga tanpa banyak tertawa atau tanpa mengomentari segala hal. Beberapa kali Gaara mendengar Naruto menghela napas.
Bukan karena dirinya peduli atau semacamnya, tapi Gaara jadi tidak nyaman. Sejak dua puluh menit yang lalu, mereka berdua sama-sama diam.
"Ada apa dengan wajahmu?" Pada akhirnya Gaara lah yang memecah keheningan.
"Ada apa apanya?" Naruto bertanya balik. Ia mengecek wajahnya sekilas di spion dalam, "Masih tampan, kok," kata Naruto dengan bangga.
"Terlihat seperti menahan buang air, atau seperti sakit gigi," jawab Gaara asal. "Apa itu karena masalah yang kau sebut-sebut di telepon?"
"Bukan, bukan!" kata Naruto. "Aku tidak sempat sarapan. Jadi perutku sedikit perih."
Gaara mengecek jamnya, "Sekarang masih jam tujuh." Ia bingung. Perut Naruto sakit karena belum sarapan pagi. Padahal ini masih pagi, dan sepatutnya, dia akan merasakan sakit perut nanti siang. Karena sekarang masih terhitung jam sarapan.
"Iya, benar."
"Aku tidak mengerti."
"Aku biasa sarapan jam enam pagi, Gaara. Tapi sampai sekarang aku belum makan apa-apa. Dan aku di sini, mengurusimu, dan harus menyelesaikan masalah-masalah demi dirimu. Aku tidak akan sempat makan apa-apa sampai nanti malam! Dan perutku sudah sakit sekarang..."
Naruto terdengar sangat menyedihkan. Ia menghela napas dengan wajah hampir menangis. Gaara tidak pernah tahu kalau masalah makanan akan begitu sensitif bagi manajernya.
Kemudian Gaara ingat, Hyuuga Hinata membawakannya bekal. Walau ia pun belum makan, tapi melihat manajernya uring-uringan seperti ini, apa boleh buat. "Kalau kau bisa makan sekarang, apa itu akan membuatmu lebih baik?"
"Tentu saja!" sahut Naruto.
Gaara meraih ranselnya yang ada di kursi belakang, lalu membukanya. Melihat isi tasnya yang sangat tersusun, Gaara baru sadar, Hyuuga Hinata masuk kembali ke apartemennya sejak ia mendapat telepon dari Naruto—wanita itu yang membantunya memasukkan seragam dan menyiapkan hal lainnya.
Saat itu Gaara tidak sadar karena terlalu serius berbicara dengan manajernya.
Ia menarik keluar kotak bekal berukuran sedang dan menyimpannya di pangkuan Naruto.
"Wah! Bikin sendiri?" Seketika wajah Naruto menjadi cerah.
Gaara menggeleng.
"Lalu dari siapa?"
Dari wanita dewasa di apartemenku.
"Fans. Dari fans."
"Oh..." Naruto mengangguk-angguk dengan senyum lebar. "Thanks!"
Saat Gaara memperhatikan jalan raya, ia sadar mereka tidak melewati jalan menuju ke studio atau ke kantor agensi. Mereka menuju ke pusat kota. Gaara bisa tahu itu dari volume kendaraan yang semakin padat, dan puncak gedung-gedung pencakar langit yang terlihat di kejauhan.
"Kau bawa seragam, kan?"
Ajaib, pikir Gaara. Manajernya bisa kembali ke kepribadiannya yang ceria dalam waktu lima detik. Hanya karena kotak bekal.
"Ya."
"Bagus. Kau tau kita akan ke mana?"
"Mungkin pusat kota?" tebak Gaara.
Naruto mengangguk. Kali ini dengan semangat. "Kita akan ke alun-alun untuk mengecek lokasi dulu. Nanti sore, aku akan mengetes popularitasmu di tempat ramai. Kita akan tunjukkan bahwa kau, Loki, akan jauh lebih populer dari dia!" Ia mengacungkan tinjunya ke udara.
"Dia siapa?"
"Si kepala merah super culas." Genggaman Naruto pada stir mobil semakin menguat. "Dan manajernya yang congkak."
"Kau punya dendam pribadi pada mereka?"
Naruto mengacak rambutnya sendiri. Mengingat dua orang itu membuatnya sangat kesal. "Aku memang tidak suka mereka sejak lama, tapi bukan begitu! Kau harus sering mengecek internet untuk mengetahui perkembangan dirimu sendiri. Berita sudah menyebar, dan netizen terus membicarakan dirimu dan dia!"
Penasaran, Gaara lantas mengeluarkan ponsel, dan mulai mencari nama panggungnya sendiri di peramban internet. Beberapa berita dan foto teaser untuk singlenya bermunculan. Ada juga fans club tidak resmi, dan lain sebagainya.
Ia menemukan beberapa berita yang menarik perhatiannya;
'[HOT] Loki vs Sasori'
'[NEWS] Sasori angkat bicara mengenai kemiripan Loki dengan Dirinya'
'[THREAD] Which one is better; Sasori or Loki?'
'[GOSSIP] Sasori: Loki Tidak Punya Gayanya Sendiri'
'[NEWS] Sasori Bertaruh Loki Mengidolakan Dirinya'
"What the duck..." desisan Gaara meluncur begitu saja. Berita yang dirilis media begitu beragam, sampai-sampai ia merasa ditelanjangi. "Aku bahkan belum debut." Gaara menatap Naruto, meminta penjelasan.
Seingat Gaara, Sasori adalah rapper hiphop dengan gaya husky. Gaara seikit-lebih tahu tentang musik hiphop, tapi ia tidak tahu kalau Sasori begitu peduli dengan dirinya sampai-sampai meluangkan waktu untuk merespon netizen.
"Orang-orang di internet sangat mengerikan, Gaara. Tapi orang-orang di industri musik lebih menyeramkan lagi," ujar Naruto.
"Kenapa mereka membanding-bandingkan kami?"
"Ada beberapa alasan." Kini suara Naruto sudah lebih tenang, "Pertama, rambutmu dan rambut Sasori, keduanya sama-sama merah."
Gaara tidak percaya dengan alasan pertama tersebut. Sangat konyol, menurutnya. Jangan salahkan Gaara jika rambutnya berwarna merah, karena sejak lahir memang sudah begitu. "Siapapun bisa berambut merah," katanya.
Naruto tertawa mendengar komentar rasional Gaara. "Kedua, netizen bilang kalian sangat berbakat. Sasori direkrut Utakata, dan kau direkrut Shikamaru. Dua produser besar yang selalu bersaing, walau mereka tidak pernah menunjukkannya secara langsung."
"Utakata dari Red Motion Entertainment?" Gaara memastikan.
"Yep."
Gaara sekarang mengerti dari mana datangnya kesombongan dalam diri Sasori. Jika memang dirinya berasal dari Red Motion, bisa dipastikan ia sangat bertalenta. Red Motion bukan agensi yang akan mendebutkan artisnya hanya karena mereka bisa bernyanyi, atau bisa menari. Mereka harus ahli, dan punya gayanya sendiri.
"Ketiga, kalian sama-sama punya sisi 'bad'. Kau dengan sikap diammu, dan Sasori dengan gaya playernya. Fans menggilai hal-hal seperti itu."
Lampu merah menyala. Naruto menghentikan laju mobilnya lalu menoleh ke arah Gaara. "Dan yang terakhir, perawakan kalian tak jauh beda. Sasori hanya dua tahun lebih tua darimu."
"Kenapa dia repot-repot peduli? Itu bukan hal yang aku sengaja atau semacamnya," Gaara memandang keluar jendela.
"Karena dia memang pembuat onar dan suka cari muka. Terlalu banyak yang memperhatikanmu, maka ia ingin dirinya ikut diperhatikan juga. Apalagi kau memang mirip dengannya."
Gaara mengangkat bahu. "Aku tidak yakin Sasori lebih tua dariku. Sangat kekanakkan."
Naruto tertawa puas. "HA! Aku benar, kan? Dia memang begitu! Culas dan seperti bocah."
Mereka sampai di alun-alun kota. Gaara membereskan ranselnya dan memakai hoodie. Naruto memaksanya agar memakai kacamata hitam juga. Sekarang, sudah banyak orang berlalu-lalang dengan langkah cepat. Kebanyakan dari mereka adalah pegawai kantoran.
"Oh ya, Gaara. Ada satu hal lagi yang membuat dirimu dan Sasori selalu dibicarakan." Naruto membuka sabuk pengamannya. Kebisingan di tengah kota membuatnya harus bicara lebih lantang.
"Apa lagi?" Gaara melompat turun dari mobil
"Dia belum pernah pacaran. Tidak ada rumor tentang wanita dan semacamnya. Dia terlalu sibuk berkarir sampai begitu," Naruto menggeleng-geleng, setengah kasihan, setengah salut. "Kau juga tidak ada hubungan dengan wanita manapun, kan? Kau akan jadi saingan Sasori, makanya ia akan terus mengganggumu." Naruto berjalan diikuti Gaara di sampingnya.
Gaara tidak tahu harus menjawab apa, jadi ia hanya diam. Ia tidak ada hubungannya dengan wanita mana pun. Setidaknya sampai tadi pagi. Sebelum Hyuuga Hinata super radikal itu datang.
.
.
To be Continued
.
.
A/N: Not gomen. Sangat not gomen. Silakan luapkan kekesalan Anda di kolom review. Saya selalu balas review u Anda log-in. /flee/ (np: Hi Suhyun – I'm Different)
See you!
