Disclaimer : Naruto oleh Masashi Kishimoto. Semua judul lagu yang disebutkan adalah milik musisi terkait.
.
.
Gaara menggosok kedua telapak tangannya dengan cepat. Ditiup-tiupkannya hela napas ke celah antara dua ibu jari yang bertautan.
Awalnya, Gaara sedang serius melakukan pemanasan vokal, namun, perlahan-lahan senandung itu berubah menjadi gumaman, sampai yang ia lakukan hanyalah menggosokkan tangan terus menerus.
"Hei, masih mabuk? Atau hangover?" tanya Naruto waspada. Ia mengamatinya dengan sebelah alis terangkat.
Gaara mendengus, "Aku bukan pemula."
"Lalu? Gugup?" selidik Naruto. Manik sebiru langit tengah hari itu mengarah ke tangannya yang bertautan, sebelum kembali mencermati jadwal kegiatan Gaara di layar tablet.
"Tidak," jawab Gaara. Ia menggosokkan tangannya lagi. "Ini hanya aku, atau memang udara tiba-tiba jadi dingin?"
Sekalipun wajah Gaara tak berpaling dari jalanan di balik jendela kafe, Naruto bisa mengerti lewat warna di bibirnya yang memudar dan bahunya yang membungkuk— seolah berusaha memerangkap hawa hangat di sekelilingnya. Jika Naruto tidak waspada, Gaara bisa terkena flu.
"Kau tidak bawa syal atau sweter?"
Gaara menggeleng kecil. Tangannya masih ia kepal di depan mulutnya yang tak henti menghembuskan hawa hangat.
Sebenarnya Naruto sama sekali tidak merasa kedinginan, walau kabut yang keluar dari mulut mereka memang bergulung-gulung lebih besar dari biasanya. Tanpa menunggu lama, Naruto bangkit dan meminta pelayan kafe menyalakan pemanas ruangan, sebelum berlari ke van untuk mencarikan Gaara pakaian tebal.
"Aku lupa," sesal Naruto, "stylistmubaru akan membawa busana panggung lainnya besok lusa," ujarnya dengan napas tersengal-sengal ketika kembali.
Gaara mengedikkan bahu sebagai jawaban.
"Coba kulihat tasmu. Mungkin kau meninggalkan sesuatu yang berguna."
"Sake. Sebotol sake bisa membuatku hangat," cetus Gaara sambil melemparkan ransel.
Naruto menangkap dengan cekatan. "Ha!" ledeknya, "jangan bergurau." Ia sibuk mengaduk-aduk isi tas Gaara. "Bisa-bisa, pers membuat artikel picisan tentangmu. Semacam; 'Loki si siswa SMA pecandu alkohol' atau 'Loki dirumorkan hadir dalam pesta seks dan narkoba di pusat kota Tokyo'. Bukan hal bagus, kan?"
Gaara memutar bola mata. "Satu gelas saja," tawarnya.
"Tidak perlu kurasa..." Tangan Naruto berhenti bergerak dan senyumnya perlahan mengembang saat ia menunjukkan apa yang ia genggam. "Karena aku menemukan ini di tasmu."
Di tangannya ada kantung plastik berisi dua hot pack instan. "Kebetulan, bukan?" Ia melempar hot pack itu ke pangkuan Gaara dengan senyum lega.
Gaara berniat mengangguk setuju. Namun ia urungkan ketika ingat siapa satu-satunya orang kurang kerjaan yang menyertakan benda tersebut ke dalam tasnya.
Jelas-jelas bukan kebetulan.
Hyuuga-Entah-Siapa, batin Gaara, tak begitu ingat nama Hinata.
"Aku tidak tahu kau sensitif pada suhu rendah." Naruto mendecakkan lidah.
Gaara mengedikkan bahu. "Jarang terjadi, sebenarnya." Ia merasa lebih hangat dengan hot pack di balik overcoat. Tangannya kini tak perlu digosok-gosokkan lagi.
Di luar kafe, staf audio mulai mengetes pelantang untuk busking hari ini. Spanduk dan sebuah kursi pun selesai ditata sedemikian rupa, hingga tak terkesan berlebihan, namun tetap menarik. Beberapa pejalan kaki berkumpul, entah sengaja menunggu Gaara bernyanyi, atau hanya penasaran.
Gaara menyandarkan kepalanya ke sofa. Tak lagi mengamati panggung kecilnya, kini ia sibuk meninjau satu bulan melelahkan yang telah ia lewati. Berjalan sangat lancar. Bahkan mungkin terlalu mulus jika dibandingkan dengan musisi atau artis lainnya. Gaara mendengar kisah-kisah perjuangan mereka dari karyawan di SunaMusic. Beberapa orang harus puluhan kali audisi demi masuk sebuah agensi dan menjadi trainee, itu pun belum tentu akan diorbitkan. Sebagian lainnya harus bekerja paruh waktu di empat tempat berbeda hanya untuk membayar biaya kursus tari. Dan sebagian kecil dari mereka harus rela disetubuhi oleh bosnya sendiri sebagai syarat agar bisa debut. Belum lagi kontrak dengan label sampah yang berat sepihak dan berujung di pengadilan.
Sementara Gaara, yang tidak pernah menjadi trainee, hanya perlu melenggang ke kantor SunaMusic, berbincang santai dengan CEO, tanda tangan kontrak, latihan, lalu rekaman. Dan sekarang sedang promo pradebut di pusat kota.
"Bro! Kita harus ke mobil sekarang." Seruan Naruto memutus lokomotif lamunan Gaara. "Kita harus mengurus rambutmu dan touch-up sedikit, dan aku harus briefing dengan staf kamerawan sebelum kau tampil."
Gaara mengerenyitkan dahi, "Kupikir yang esensial dari busking adalah musiknya, bukan tentang penampilanku."
"Bahkan style paling sederhanapun perlu ditata. Percayalah." Naruto kemudian tergelak membayangkan Gaara yang nantinya harus menghadapi remaja-remaja tanggung centil dengan sejuta imajinasi mereka. Sementara Gaara tak begitu mengerti apa maksudnya.
.
.
Tiga puluh menit kemudian Gaara sudah berdiri di stage. Setelah mendengarkan debat kecil antara stylist dan manajer terkait busana yang akan ia kenakan, pada akhirnya Gaara memakai oversized tee warna hitam dibalik overcoat putih gading, nyaris sewarna dengan kulitnya. Surainya kini semakin awut-awutan, namun jenis awut-awutan yang membingkai wajahnya dengan tepat; seolah meneriakkan 'rambut-bangun-tidurku ditata tapi tidak ditata'. Set cincin perak polos bertengger di ruas atas jari telunjuk, jari manis dan jari kelingking tangan kanan, begitu pas seolah aksesoris tersebut memang dibuat khusus untuknya. Walau enggan, sang stylist pun berhasil membujuk Gaara memakai celana jins hitam yang sobek dibagian lutut. Gaara sebenarnya tidak masalah, tetapi udara hari ini sangat dingin dan ia tidak rela tungkainya membeku. Make up di wajahnya jauh dari tebal; penata riasnya hanya memastikan warna kulit Gaara terlihat sehat dan bibirnya tidak kering mengelupas karena udara dingin.
Gaara duduk di kursi yang disiapkan staff, dan mengatur posisi gitarnya. Ia berusaha membiasakan diri ditatap tiga puluh pasang mata penuh penasaran, ditambah deretan kamera ponsel merekam gerak-geriknya.
"...Hai?" adalah kata pertama yang Gaara ucapkan—dengan sangat canggung, dan terdengar seperti pertanyaan daripada sapaan. Beberapa siswi SMP mulai heboh cekikikan.
Gaara menghela napas sebelum melanjutkan sesi perkenalan dirinya yang sederhana. Ia mengingat jelas apa yang sudah diajarkan Naruto;
"Halo. Perkenalkan, saya Loki, musisi Sunagakure Music yang berencana debut dalam waktu dekat. Saya senang bisa memperdengarkan musik saya pada hari ini. Mohon bantuannya."
"Hai. Saya Loki," adalah yang berhasil keluar dari mulutnya. Gaara membungkuk singkat memberi salam. Dari sini ia bisa mendengar Naruto mengerang frustasi dengan wajah tidak percaya . Tapi Gaara bersyukur, karena setidaknya ia tak mengatakan sesuatu yang konyol.
Riuh rendah tepuk tangan mengiringi sampai ia bangkit kembali. Tadi pagi Gaara sudah menyiapkan lima lagu untuk dinyanyikan di sini, dengan mempertimbangkan saran Naruto agar dirinya menyanyikan pula satu lagu request di akhir acara.
Ia membetulkan letak earplugnya, lalu mulai memetik gitar. Intro bertempo sedang mengalun tegas, "Walking through the traffic on a Monday." Gaara mulai menyanyikan bait pertama. Ragu yang awalnya menggerogoti hilang begitu saja saat ia mendengar beberapa penonton memekik karena mengenal lagu yang dibawanya; Craving milik James Bay.
Jemarinya yang kurus dan sedikit bengkok di buku-bukunya bergerak lincah menekan setiap kunci. Girang sendiri karena ia suka mendengar musiknya menggema dari speaker-speaker mahal ini— jika di apartemen, suaranya tidak akan sejernih sekarang. Menit-menit selanjutnya, Gaara sudah tidak peduli dengan penonton karena ia begitu menikmati dirinya sendiri. Outro lagu berakhir, dan tepuk tangan kembali bersahut-sahutan.
Gemuruh tepuk tangan tersebut terdengar terlalu ramai jika berasal dari beberapa puluh orang. Ia mengedarkan pandangan ke sekelilingnya selagi meneguk air mineral, dan nyaris tersedak ketika mendapati teras kafe yang tadi dikunjunginya sudah disesaki orang banyak, tak jauh berbeda dengan balkon-balkon pertokoan di lantai atas. Semuanya saling berbisik entah apa, mata menyipit dari kejauhan— mencoba menangkap fitur dirinya lebih jelas, atau membulat sempurna dengan tangan menangkup di depan dada.
Masih mencoba kembali fokus, Gaara mengingat instruksi manajernya setelah membawakan lagu pertama; sedikit berinteraksi dan menjawab satu-dua pertanyaan. Ya, ia bisa melakukannya.
"Yang barusan itu lagu milik—"
"James Bay!" Beberapa penonton berseru memotong ucapannya.
"Ya, ya. Benar. Judulnya 'Craving'," ujar Gaara setelah beberapa detik mencoba mencari suaranya lagi. Ia amatir dalam urusan public speaking.
Penonton hening, menunggu apa yang akan Gaara katakan selanjutnya. Udara dingin yang melingkupi terasa lembab dan sesak karena kaku yang menggantung rendah di sekitarnya semakin membengkak.
"Canggung," gumam Gaara lebih pada diri sendiri. Ia lupa pelantangnya masih berfungsi dengan baik, sehingga semua orang tergelak renyah, setuju dengan pernyataan impulsifnya. Ironis, Gaara menjadi satu-satunya yang tidak tertawa.
"Sebelum menyanyi lagi, aku bisa menjawab dua pertanyaan... jika ada yang ingin bertanya," ungkapnya datar. Intonasi suaranya tak lebih bervariasi. Demi John Denver, bahkan ia tidak yakin dirinya pernah berbicara sepanjang ini di depan kumpulan orang asing.
Banyak orang mengacungkan tangan, kebanyakan dari mereka terlihat masih sebaya dengan Gaara. Menuruti ucapan Naruto, Gaara tidak memilih siapapun yang membawa kamera mutakhir, ransel besar, dan buku catatan kecil di tangan; tipikal reporter. Maka dari itu, ia menunjuk seorang gadis berrambut coklat panjang dengan jaket merah muda.
Gadis bertubuh mungil itu berusaha menelan kembali pekikannya dengan menutup mulut erat-erat sambil melompat-lompat kegirangan, lalu salah satu staf memberikkan pelantang untuknya.
Setelah mengipasi wajah demi menenangkan diri, ia membuka suara, "Loki, aku sudah mengikuti akun youtubemu sejak lama." Ungkapannya mendapat banyak seruan setuju. "Jika aku ingat-ingat, terakhir kali kamu ikut tampil di festival itu lima bulan lalu dan selanjutnya tidak ada kabar sama sekali. Apa kamu sengaja memberi kejutan?" Ia mengakhiri pertanyaannya dengan membungkuk singkat lalu menatap Gaara dengan mata penuh harap.
Gaara sempat diam untuk beberapa detak jantung. Setelah dua kali menggaruk pipi, ia menjawab, "Tidak ada maksud membuat kejutan apapun. Terima kasih."
"Sungguh?" tanya salah satu orang di tengah kerumunan di balkon lantai dua.
"Ya. Jujur saja, bagiku juga, ini sedikit diluar dugaan." Gaara mengangguk. "Ada pertanyaan lain?"
Kali ini lebih banyak orang mengacungkan tangan. Gaara memilih seorang pria yang lehernya dilingkari syal wol hijau, berdiri di baris belakang sebelah kiri. Keputusannya naluriah, sebagian besar karena ia langsung membayangkan betapa hangatnya memakai rajutan tebal itu, mengingat dirinya hanya memakai jins bolong-bolong.
Pria dewasa itu menyeringai memamerkan gigi-giginya yang kekuningan— tak bisa menyembunyikan rasa senang saat bisa bertanya. "Um... pertanyaanku adalah... aku lupa... tunggu, tunggu sebentar." Pria itu merogoh saku celananya dan menarik keluar secarik kertas lusuh, lalu mulai membaca, "Nah, ini! Ini pertanyanku;" Pria itu berdeham dua kali sebelum melanjutkan, "Loki, selama tahun-tahun terakhir ini, kau dikenal berkat video cover, permainan piano dan fingerstyle gitar yang impresif," jelasnya. "Banyak orang di sini," Pria itu mengedarkan tangan ke sekelilingnya, "Sempat berpikir bahwa kau hanya bermain musik untuk kepuasan pribadi saja. Tapi setelah melihat rencana debutmu, aku tak bisa berhenti bertanya-tanya; apa kau punya alasan khusus hingga memutuskan debut di bawah agensi adikuasa milik Shikamaru?" tanyanya penuh selidik, "Apa kau sempat mempertimbangkan agensi lain dengan warna lebih distingtif. Red Motion, barangkali?" pungkasnya.
Semua orang diam, mendengarkan dengan saksama setiap kata yang diutarakan pria tersebut. Termasuk Gaara. Sepasang mata berwarna serupa riak telaga dangkal itu menatap tiap-tiap gerak bibir si pria bersyal hijau. Bibirnya terkatup rapat, menipis. Pertanyaan seperti ini bukanlah sesuatu yang ingin ia bagikan dengan orang banyak, sekalipun tidak termasuk kategori hal sentimental.
"Ada pesan tertentu yang tidak bisa tersampaikan jika hanya melalui video-video cover, mungkin?" tambahnya. Ia membungkuk kikuk dan melirihkan terima kasih, sebelum menanti jawaban Gaara, seperti orang lain yang menatapnya penuh ekspektasi.
Bagaimanapun, Gaara harus menjawab. Jadi ia menghela satu napas dan membetulkan letak pelantang. Balas menatap puluhan mata lapar itu, Gaara membuka mulutnya, "Jangan harap aku akan menjawab dengan ceramah melankolik inspiratif," ungkap Gaara. "SunaMusic menawarkan lingkungan kondusif untuk membuat musik, kontraknya menjanjikan. Dan kebetulan mereka yang pertama menghubungiku. Begitulah."
Beberapa orang di teras kafe tersedak dan terbatuk-batuk heboh saat mendengar jawaban Gaara. Beberapa orang lain meringis karena tidak siap dengan responnya yang kelewat jujur. Si pria bersyal hijau pun kehilangan kontrol atas rahangnya yang mendadak terbuka lebar.
"Jika kalian menyukai musikku, silakan dengar. Jika tidak, jangan didengar," tutur Gaara ringan dan tanpa mengurangi sopan dalam suaranya.
Dengan satu kalimat itu, ia menutup sesi tanya-jawabnya dan kembali menyanyi. Kali ini, ia membawakan lagu bertempo cepat, beratmosfer ceria; Let It Out milik Ed Sheeran. Paradoksal dengan suasana yang tercipta berkat jawaban barusan. Tapi Gaara tak acuh. Ia tetap bernyanyi, menikmati alunan gitarnya sendiri lewat speaker-speaker mutakhir yang begitu ia sukai. Lambat laun, penonton mulai melupakan kejadian barusan dan latah ikut bernyanyi bersama vokal bariton parau namun renyah milik Gaara.
Tak menyia-nyiakan suasana yang sudah ada dalam kendalinya, Gaara langsung melanjutkan dengan tiga lagu tanpa jeda; I Gave You All milik Mumford and Sons, In My Veins milik Andrew Belle, dan satu lagu sejuta umat, Jealous dari Labirinth. Ketiganya ia bawakan dalam versi akustik rekaannya sendiri dengan sangat baik, sekalipun ia tidak sungguh-sungguh menyelami lirik-lirik suka-duka roman sejenis itu, pelafalan bahasa inggrisnya yang sempurna lebih dari cukup untuk mengecoh penonton.
Ia baru saja hendak mengucapkan terima kasih dan menutup acara tersebut sampai Naruto mengisyaratkan sesi request satu lagu dari tempatnya memantau Gaara. Menyembunyikan gerutunya, ia mengambil botol air mineral dan menenggaknya habis sambil kembali mengamati barisan penonton yang semakin meluas sejak terakhir kali ia memedulikannya. Kini ponsel-ponsel itu ditancapkan ke tongkat-tongkat masa kini yang bisa memanjang dan memendek, fungsinya agar dapat merekam dari kejauhan dengan lebih stabil.
"Aku rasa melelahkan terus berdiri seperti itu, benar?" kata Gaara yang disambut bermacam-macam jawaban.
"Satu saran lagu untuk aku nyanyikan sebelum aku tutup acara ini," jelasnya. "Anyone?"
Seorang pria mengacung segera setelah Gaara selesai bicara. Sulit untuk tidak menyadari kehadirannya karena tubuhnya menjulang, ditambah rambut pirang kuning kusam yang diikat sebagian ke samping. Ia terlihat begitu antusias, Gaara bisa menilai dari seringainya yang tiap detik makin melebar— jika masuk akal. Maka Gaara menunjukknya.
"Hai, Loki," sapa pria tersebut ringan, seraya melambaikan satu set jemari lentik dengan gestur eksentrik. "Aku yakin kamu mengenal lagu-lagu legenda jagat raya mereka; The Beatles." Tubuhnya berpindah-pindah tumpuan dari satu kaki, ke kaki lainnya— kesan congkak memancar dari cara kepalanya diangkat beberapa derajat lebih tinggi dari orang kebanyakan.
Gaara mengangguk singkat. Tentu saja ia tahu. Idiot mana yang mengaku musisi jika tidak bisa menyanyikan setidaknya lima lagu mereka?
"Hmm..." Pria itu mengetuk-ngetukan jari telunjuknya ke dagu sambil pura-pura berpikir keras. "Bagaimana kalau Penny Lane? Oh, bukan. A Day in Their Life? Oh, tidak tidak." Gaara menatapnya bosan. Kakinya mulai terasa kebas karena terpapar udara dingin, dan mendengarkan celotehan pria ajaib ini bukanlah prioritasnya. "Ah! Aku tahu," serunya. "Here Comes The Sun."
Gaara mengangkat sebelah alisnya, tertarik dengan pilihan kepala pirang tersebut. Sejatinya, lagu tersebut adalah pelipur, pun di saat yang sama, pengantar lara bagi jutaan orang.
Durasi tiga sampai lima menit dalam sebuah lagu melibatkan emosi bervariasi, sekalipun merujuk bait yang sama. Karena yang orang ingat ketika memutar lagu, bukan benar-benar lagunya, melainkan pengalaman waktu tertentu yang masih meninggalkan sisa rasa di ujung lidah; pahit, memilukan, manis, atau masam. Tak peduli aliran lagunya apa.
Hal yang sama dilakukan Gaara ketika menulis lagu. Ia menuangkan apa-apa yang memenuhi kepalanya dalam wujud titinada dan bait. Beberapa lagu yang menurut Shikamaru sangat brilian, Gaara tulis dalam kondisi mabuk. Mengingat ia tidak pandai dalam berekspresi, alkohol menjadi jalan keluar. Terkadang emosi yang turut tertuang begitu kuat.
"Jadi?" Suara pria tersebut membendung lamunannya.
"Oke." Jawaban singkat Gaara tertimpa gemuruh tepuk tangan, dan petikan gitarnya mulai mengalun lagi. Ia mulai bernyanyi.
Jika seseorang memerhatikan dengan saksama, ia akan menangkap mata Gaara tidak benar-benar menatap, melainkan hilang jauh ke balik benaknya. Seolah mencari sesuatu di depan batang hidung namun terlalu remang untuk diraih.
Terlepas dari lagu yang ia bawakan berakhir tanpa cela, apa yang mengaburkan benaknya belum berakhir. Gaara mengulas kembali hal yang ia lamunkan barusan; tentang lagu, tentang kebiasaan mabuknya. Ini terkait dengan perempuan yang menyabotase apartemennya sejak tadi pagi. Ada satu benang mengarah ke penjelasan logis, sebuah probabilitas, tersangkut di kehidupannya yang semrawut. Gaara berpikir, berusaha menguraikannya perlahan-lahan. Secara intuisif.
.
.
"Dengar, walaupun kau merusak sesi perkenalan dan tanya-jawab, secara keseluruhan acara tadi sangat keren!" ungkap Naruto saat menyetir pulang. Acara sudah selesai dan malam turun semakin larut. Cengiran lebar kembali menghiasi wajahnya, ia terus menggumamkan lagu terakhir yang Gaara nyanyikan. "Ini awal yang sangat bagus. Kau sudah punya— kau tahu, para manajer selalu menyebutnya sebagai pace and flowmu sendiri."
Gaara tidak mendengar sama sekali. Kening berkerut dalam, giginya sibuk menggigiti ujung kuku ibu jari.
"Gaara? Halo? Apa ada orang di kursi belakang?"
Gaara berkedip beberapa kali. "Ya?"
"Bro, apa tadi kau dengar apa yang aku bilang?" tanyanya tanpa memalingkan mata dari jalan raya.
"Tidak."
"Apa kau sedang memikirkan penampilanmu barusan?" tanya Naruto lagi. Kali ini nada khawatir menyertai suaranya.
"Oh, bukan," jawab Gaara.
"Tentang sesi tanya-jawabmu tadi, mungkin? Sudah kuduga si pirang sialan itu akan datang. Kau tahu, yang terakhir bertanya padamu itu. Dia Deidara, manajer Sasori."
Gaara menggeleng.
"Lalu apa?" Naruto menaikkan alisnya.
Seolah tahu bahwa Naruto sedang menunggunya melanjutkan, Gaara pun akhirnya bersuara. "Apa kau yang mengantarku pulang kemarin?"
"Tentu saja." Naruto lantas mendengus. "Aku bahkan masih ingat semua racauanmu saat itu. Tanpa jeda, dari restoran sampai depan pintu apartemen." Naruto menggeleng-gelengkan kepala mengingat kejadian semalam.
"Oh, ya?"
"Aku berniat membawamu ke tempatku saja, tapi kau memberiku kuliah tentang sejarah musik jazz dan biografi Marie Curie sepanjang jalan," ungkap Naruto. "Tidak yakin bisa tidur nyenyak jika harus mendengarmu terus. Karena itu, aku langsung berubah pikiran. Sorry, Bro." Ia mengenang telinganya yang malang harus terpapar celotehan mabuk artisnya semalaman.
Fakta bahwa ia tidak muntah di mobil Naruto maupun di restoran, cukup untuk membuat Gaara lega. Racauan mabuk bukanlah hal yang memalukan baginya. Setiap orang punya kebiasaan mabuk masing-masing.
"Keputusan bagus." Gaara merespon sekenanya.
Naruto mengangguk setuju. "Lalu, saat kita hampir sampai gedung apartemen, kau menggumamkan lagu. Liriknya sangat ganjil... sensual. Tapi, hey, itu benar-benar menarik. Apa itu lagumu?"
Gaara mengingat-ingat kejadian semalam. Otaknya yang sejak tadi memang tengah bekerja keras, kini berputar lebih cepat lagi. Alisnya yang nyaris tak ada bertautan. "Entahlah. Terkadang aku membuat lagu tanpa sadar saat mabuk."
"Aku yakin kau merekamnya tanpa sadar pula. Kau mengirim pesan suara padaku jam 2 pagi buta, Bung." Naruto melempar ponselnya ke kursi belakang.
"Maksudmu?" Gaara menangkapnya dengan cekatan.
"Jujur, Bro. Awalnya aku kira ponselmu rusak atau kau tidak sengaja menindihnya saat tidur. Tapi setelah kuingat lagi, itu lagu yang sama dengan yang kau gumamkan." Naruto menganggukan kepalanya ke arah ponsel lewat cermin mobil. "Putar saja."
Gaara menekan tombol play dan mendekatkan ponsel Naruto ke telinga. Terdengar samar-samar karena bising entah dari mana— kualitas pesan suara di aplikasi mengobrol yang mereka gunakan sangat rendah. Walau terlampau parau dan kasar, Gaara mengenal suaranya sendiri yang diiringi lantunan inkonsisten keyboard. Dari total sebelas detik durasi pesan suara, Gaara menangkap gambaran; dirinya mencoba membuat lagu bertempo pelan dengan kata 'Happy life' dan 'Incorrigible' di liriknya.
"Sepertinya aku sudah membuat satu trek untuk EP selanjutnya." Gaara meletakkan ponsel Naruto di kursi samping kemudi.
"Aku harap lagunya bukan tentang seks," celetuk Naruto.
"Memang kenapa?"
"Aku tidak bisa membayangkan kau bercerita tentang seks dengan wajah sedatar itu." Naruto tergelak. Mobilnya sudah melewati persimpangan terakhir dan berbelok ke kanan menuju apartemen Gaara.
"Ah, iya! Aku benar-benar menikmati bekal makananmu tadi pagi, Bung. Sungguh, semua menu bekal makanan yang pernah aku makan sebelumnya jadi terasa palsu jika disandingkan dengan punyamu." Naruto menghela napas puas. "Terbaik. Terbaik." Ia mengacungkan jempolnya.
Gaara juga menghela napas. Tapi jenis helaan yang berbeda karena ia lantas memandang jauh keluar jendela.
"Turunkan aku di situ saja." Gaara menunjuk minimarket tak jauh dari apartemen.
"Siap!"
Pemilik surai merah itu meraih ranselnya dan melangkah keluar setelah mobil Naruto menepi.
"Lusa kita busking lagi di selatan kota dan pemotretan malam harinya," jelas Naruto.
"Oke."
"Berjanjilah jangan merokok di tempat ramai atau minum-minum sendirian. Oke?" Naruto menjulurkan kepalanya keluar jendela mobil.
Gaara mentapnya malas untuk beberapa detak jantung sebelum mengedikkan bahu.
"Bung, ayolah." Naruto menepuk ringan lengan Gaara.
Akhirnya ia mengangguk singkat lalu memutar badan, melangkah masuk ke minimarket. "Baiklah," ujarnya sambil lalu.
Jam dinding di belakang meja kasir sudah menunjukkan pukul sepuluh, tetapi Gaara masih mendapati beberapa siswi dari sekolahnya berkumpul di meja teras minimarket, tengah sibuk membicarakan sesuatu. Gaara tidak memerhatikan lebih jauh.
Ia meraih beberapa bungkus ramen instan dan sebungkus roti gandum, lalu menuju kabinet obat-obatan untuk mencari aspirin karena kepalanya berdenyut hebat seolah godam besi besar tengah memukul tengkoraknya berulang-ulang.
Gaara bergumam pada dirinya sendiri, merevisi langkah-langkah yang akan ia ambil dalam satu jam ke depan sebelum memasuki apartemennya lagi— yang sejak tadi pagi, tanpa sepengetahuannya, dikudeta oleh perempuan entah dari mana.
Apa melapor ke kantor polisi saja?
Memberitahu Naruto?
Besar kemungkinan kalau dia itu penggemar fanatik, kan?
Tidak. Mustahil seseorang membawa masuk puluhan barang tanpa membuat keributan sama sekali.
Probabilitas lain berlarian di benaknya, mencoba mengacaukan rencana yang sudah ia susun sejak sore.
"Tuan?"
Atau aku masuk apartemen yang salah?
"Tuan, maaf—"
Oke, kantor polisi lebih masuk akal.
"Tuan, kau menginjak kakiku."
Gaara berjengit, tak mengantisipasi tepukan ringan di bahunya. Rantai keraguannya terputus. "Huh?" cetusnya otomatis.
"Kakiku." Siswi berseragam serupa dengan miliknya, meringis sambil menunjuk ujung sepatu yang saat ini ada di bawah kaki Gaara.
"Oh, aku tidak bermaksud." Gaara buru-buru mengangkat tungkainya dan mundur beberapa langkah. Rupanya selama melamun tadi, ia sudah ikut berbaris untuk membayar. "Apa aku melukaimu?"
Surai berwarna sehitam jelaga itu tersibak saat mengangkat wajah, menatap Gaara. "Tidak. Aku baik-baik saja." Ia menawarkan segaris senyum untuk pria di depannya.
Hijau bertemu coklat. Gaara tidak pernah melihat manik coklat semembingungkan milik gadis itu. Mungkin karena kelopaknya yang lebar membuatnya seolah terkejut setiap saat. Mungkin karena bulu matanya yang panjang dan tebal. Mungkin karena warna coklatnya begitu muda, identik dengan segelas teh lemon madu hangat.
Mungkin juga karena Gaara tidak pernah benar-benar menatap mata seseorang seumur hidupnya.
"Oh! Aku mengenalmu," seru gadis itu. "Kita satu sekolah... benar?" Ia membuat lingkaran di depan mata dengan kedua tangannya, mengisyaratkan kacamata yang biasa Gaara kenakan di sekolah. "Sabaku?"
Wajah Gaara tetap datar.
"Aku Hakuto." Gadis itu mengulurkan tangannya pada Gaara. "Kita satu kelas di banyak mata pelajaran."
Gaara meliriknya sekilas, sebelum ragu-ragu membalas jabatan tangannya. "Kukira juga begitu."
Ujung bibir Hakuto kembali terangkat, mengulas senyum. Gaara tidak mengerti mengapa seseorang bisa melempar senyum sebanyak itu dalam sepuluh menit. Ia tidak nyaman karena tidak tahu harus bereaksi seperti apa.
"Aku sering melihatmu di perpustakaan," ujarnya.
Gaara mengangguk, tubuhnya kemballi menghadap ke depan memunggungi gadis itu. Antrian yang tadinya mengular kini memendek.
"Sulit untuk tidak menyadari keberadaanmu. Rambutmu mudah dikenali." Gaara bisa merasakan gadis itu tersenyum lagi di belakangnya.
"Kau benar," respon Gaara datar.
"Tinggal di sekitar sini?"
Gaara menghela napas. Tidak setiap hari ia berbasa-basi dengan orang yang bahkan baru ia sadari eksistensinya hari ini. "Ya." Gaara mengeluarkan dompet, bersiap membayar belanjaannya.
Hakuto mengangguk-angguk. "Lain kali, kau bisa menyapaku jika kita berpapasan."
Gaara menoleh sebelum berjalan keluar pintu. "Akan kucoba."
.
.
"Bisakah kau periksa sekali lagi?"
Pria setengah baya di depan komputer tersebut mengerang. "Nak, kita sudah melihatnya lima kali. Tidak seekor tikus pun melintas di koridor apartemenmu."
"Bagaimana dengan jendela atau balkon?"
Pria tersebut menekan beberapa tombol dan layar-layar monitor di dinding berubah menampilkan lantai sebelas gedung dari berbagai sudut. Hening sama sekali selama enam jam durasi yang dipercepat penayangannya.
"Tidak ada apapun," lirih Gaara lebih kepada dirinya sendiri. Matanya menyipit mencermati petak-petak balkon di tiap layar.
"Sebenarnya apa yang sedang kau cari?" tanya pria tersebut penasaran.
Gaara masih terpaku pada sepuluh layar di depannya. Dengan cara yang ganjil, ia merasa dicemooh habis-habisan oleh benda mati yang menampilkan pemandangan stagnan, tak menunjukkan titik terang. Dirinya pun mempunyai pertanyaan yang sama.
Apa yang sedang aku cari?
"Tanamanku. Aku menghilangkannya." Alih-alih jujur, ia berbohong. Objek pertama yang muncul di kepalanya menjadi alibi. "Kaktus. Bonsai kaktus."
Sekuriti tersebut menaikkan kedua alisnya. "Tanaman...?"
"Tanaman mahal. Prestise."
"Wow, sayang sekali," sesalnya. "Aku harap kau menemukannya."
Gaara membungkuk singkat dan mengucapkan terima kasih sebelum berlari tergopoh-gopoh menuju lift dan memencet semua tombol yang ada. Ia biasa melakukannya untuk mengulur waktu dan menenangkan diri.
Gaara berencana bicara empat mata dengan penyabotase berambut panjang itu, lalu membawanya ke kantor polisi esok hari, sekalipun tanpa bukti. Sekalipun ia tidak tahu pasti apa yang akan ia laporkan.
Lift sudah singgah di semua lantai. Diiringi sumpah serapah berwarna-warni, ia menekan tombol menuju lantai sebelas. Hal yang ia sesali adalah tidak memiliki CCTV di dalam apartemennya. Namun pembenaran langsung membantah penyesalannya— lagipula tidak dalam hidup Gaara pernah membayangkan hal mustahil ini terjadi padanya.
Aroma kayu manis bercampur kamperfuli dan cendana langsung memenuhi penciuman Gaara saat ia membuka pintu apartemen. Semua lampu padam, kecuali lampu dapur. Dengan tujuh langkah besar, Gaara sudah ada di dalamnya.
Perempuan berambut panjang itu terduduk di depan meja makan. Meja makan yang kini penuh dengan makanan yang cukup untuk memberi Gaara makan selama tiga hari. Kepalanya terkulai di atas kedua tangan yang dilipat di atas meja. Ia tertidur. Mungkin karena terlalu lama menunggu Gaara pulang.
.
.
Note:
1. Alur cerita ini akan lambat. Saya berniat mengekspos development di antara kedua karakter utama. Lebih realistis dan masuk akal nantinya. Mungkin.
2. Saya membayangkan saat Gaara nyanyi, suaranya sangat sangat sangat mirip dengan James Bay, cuma lebih berat dikit banget. (Merujuk cover James Bay – Man in the Mirror). Pas aja, menurut saya. Selain suara seiyuu aslinya, tentu.
3. Feel free to drop any question.
Thanks
