Hinata terlonjak bangun merasakan hantaman keras dari bawah meja makan. Piring-piring berdenting bersenggolan satu sama lain, sendok dan sumpit berjatuhan ke lantai dengan suara nyaring.

Ketika membuka mata, pemandangan pertama yang menyambutnya adalah sepasang telaga hijau terbingkai lingkaran hitam dengan sempurna. Ah, itulah mata rungau yang Hinata kenal. Ujung bibir Hinata melengkung manis menyadari hidangan malam ini tak akan terbuang sia-sia. "Kamu pulang sangat larut," katanya.

Gaara tak bergeming. Bahunya tegang dan rahangnya terkatup rapat hingga giginya bergemeletuk. Dadanya naik-turun tak beraturan— mencoba menenangkan apapun yang membuatnya kesal.

Hinata mengikuti sorot mata Gaara; naik-turun, lalu berhenti di manik pucatnya begitu lama.

"A-ah! Lihat ini," Hinata mengedarkan tangannya ke macam-macam hidangan di antara mereka, "Aku pikir kamu pasti lapar, jadi—"

"Malam ini, atau besok pagi?" Gaara menyela.

Hinata berkedip sekali, dua kali, perlahan wajahnya berubah sendu. "T-tapi kalau baru dimakan besok, rasanya tidak akan enak lagi," sesal Hinata. Ia bangkit, tangan kecilnya mengumpulkan lauk-lauk untuk dihangatkan.

"Aku tidak sedang membicarakan masakanmu," Gaara membantah. Ia melihat gurat kecewa melintas sesaat di wajah Hinata.

Gaara semakin geram.

Wanita itu memainkan perannya dengan sempurna, pikir Gaara. Bibirnya selalu bergetar kecil sebelum mulai bicara— seolah menimbang-nimbang apa ia harus mengutarakan atau tidak. Caranya berjalan yang menurut Gaara aneh. Jemarinya selalu bertautan dengan kikuk. Pupil matanya membesar dan mengecil di saat yang tepat— sehingga ekspresinya mudah dibaca, atau dalam pemahaman Gaara, dirinyalah yang terkecoh dengan mudah.

Lebih dari familiar, namun jauh dari ingatan. Betapa trivialitas pada Hinata terasa asing, namun ia mengenalinya dengan baik.

Gaara menerka-nerka, apakah semua korban penguntit memiliki pengalaman batin yang sama seperti dirinya. Mata amatirnya mengatakan bahwa perangai Hinata tidak dibuat-buat. Perlahan, tudingan yang tadi pagi ia lempar mulai goyah.

"Gaara."

Gaara mendongak.

Oven berdenting, tanda hidangan selesai dihangatkan. Tapi Hinata tidak bergeming. Punggungnya lesu, membelakangi Gaara. Kepalanya tertunduk.

Gaara menunggu Hinata melanjutkan.

"Apa kamu masih mabuk?" tanyanya pelan.

"Tidak."

Hinata masih memunggunginya. Bukan berarti Gaara peduli.

"Lalu...apa kamu bisa menjelaskan tentang sikapmu hari ini?" Ia bertanya lagi. "Karena, jika ini lelucon, a-aku rasa kamu sudah melewati batas."

Gaara mendengus; respon impulsif atas sebaris kalimat yang semestinya ia yang mengucapkan.

Dengan gusar Gaara bangkit, menyambar lengan Hinata dan memaksanya mendekat. Sekali lagi hari itu, mereka bersitatap. Wajah Hinata benar-benar tanpa dosa. Di matanya, Gaara tidak menemukan apapun selain sedu— bentuk empati yang membuatnya merasa sedang dikasihani.

Semua sangsi menguap. Gaara yakin kalau wanita ini positif sakit jiwa.

"Aku akan membawamu ke kantor polisi besok pagi," desisnya.

Mulut Hinata terbuka dan tertutup, namun tidak ada kata yang keluar selama beberapa hela napas. Nyeri akibat cengkraman di lengannya menjadi sepele. "Apa aku berbuat jahat?" tanya Hinata retoris.

"Sayangnya iya. Aku tidak mengerti bagaimana caranya kau—" tangannya berkeliling ke semua properti Hinata yang ada dalam jarak pandangnya, "—membawa masuk semua benda ini. Tapi bagaimanapun juga, aku akan menuntutmu." Suara Gaara sangat tenang. Serupa hening di bawah sabak sebelum hujan deras, atau desau angin yang mengiringi turunnya salju di jalan lengang.

Bibir Hinata tak kunjung menutup, malah semakin lebar terbuka. Ia menghempas tangannya dari cengkraman Gaara. Terengah-engah, Hinata tak sadar sedari tadi menahan napas ketika otaknya berputar memroses ucapan pria di depannya.

"Bukankah lebih baik kita ke rumah sakit?" tanya Hinata. "Aku khawatir sesuatu yang buruk terjadi dengan k-kepalamu," ungkapnya penuh khawatir. Sedetik kemudian ia berlari ke kamar Gaara.

"Kau tidak akan pergi kemanapun." Gaara mengekorinya.

Dengan cekatan Hinata memakai mantel dan meraih sejumlah uang. Ia beralih ke si pria berambut merah, yang ekspresi wajahnya benar-benar membuat Hinata tak nyaman.

"P-pakai ini." Hinata berusaha mengalungkan syal, namun Gaara menampik. Bukan penolakan yang membuat Hinata terluka, tetapi cara Gaara berjengit saat Hinata menatapnya— seolah ia asing, dan tidak seharusnya peduli.

"Dengar," Gaara menggeram, "Kau tidak akan pergi kemanapun," tegasnya. Telunjuk kiri menuding wajah Hinata. "Tidak sampai aku membawamu ke kantor polisi."

"Apa kamu mencoba menyakitiku, Gaara?" Suara Hinata sangat pelan, namun Gaara mendengarnya. "Aku membiarkanmu bertingkah begitu tadi pagi, karena aku yakin kamu masih mabuk." Alisnya bertautan, ia mencari-cari sesuatu di hijau matanya. "Apa masalahmu?"

"Pegang," perintah Gaara sembari mengulurkan satu tangan.

Hinata melirik tangannya sendiri sebelum beralih ke telapak kasar yang menantinya. Napas terhembus keras-keras seraya wajahnya melembut. Masih terulur, jemari Gaara gemetar hebat dan mengkilap karena keringat dingin. Sulit bagi Hinata untuk marah pada pria yang ia yakin beberapa jam lagi akan pingsan karena kelelahan.

Ketika tangan Gaara bersambut, ia menuntun Hinata ke studio tepat di seberang kamar. Berkas cahaya dari neon dapur hanya mengizinkan Hinata untuk melihat dengan mata menyipit, hingga akhirnya gelap sama sekali karena terhalang punggung Gaara.

Ia melepaskan genggamannya, lalu menuntun Hinata untuk duduk di kursi putar.

"Apa sekarang kamu akan menjawabku?"

Lantai kayu berderit beberapa kali, menandakan Gaara masih di situ bersamanya namun memilih untuk menggagu.

Tangan kanan merentang, langsung membentur tuts keyboard. Meraba-raba, jemarinya berpindah menggapai meja. Ia harus keluar dari sini, pikirnya. Jika Gaara masih menolak berbicara dengannya, maka Hinata tidak akan mendesak. Memaksa orang sebebal dia untuk bicara adalah usaha sia-sia. Hinata tahu Gaara masih menimbang-nimbang sesuatu; dari erangan halusnya, napasnya yang dihembuskan dengan kasar, serta langkah tak tentu arah. Tangan Hinata tengah merayapi tembok mencari sakelar ketika gumaman penuh frustasi Gaara terdengar semakin jelas seiring langkah kaki menderap.

Cahaya temaram menyelisik, cukup bagi Hinata untuk melihat relap di hijau matanya.

Hinata menebak-nebak lagi. Mungkin Gaara akan terbahak, mengatakan ini semua lelucon. Atau mungkin menyalak, meluapkan emosi yang biasa ia tekan. Mungkin pula ia akan tersedu sambil memeluknya. Banyak hal bisa terjadi dalam waktu sesingkat itu.

Yang tak Hinata duga adalah pintu dibanting sekuat tenaga, tepat di samping kanannya. Begitu kuat sampai-sampai tembok dan kusen ikut bergetar dan membuat telinga Hinata berdengung nyaring.

Telapak tangan bergeser sedikit, dan sakelar ia temukan. Dengan satu jentik studio kembali terang. Namun tanpa Gaara di dalamnya.

Tidak seharusnya begini, batinnya.

Hinata menghambur ke pintu. Dikunci dari luar.

"Apa kamu sudah gila!?" pekiknya. Ia menggedor, panik memenuhi dirinya.

Kelopak matanya seperti terbakar.

Tenggorokannya serasa berpasir.

Dan hatinya— hatinya yang malang, merosot lunglai ke perut. Gaara ada disana, dalam damai menyalakan semua lampu, sambil pura-pura tuli.

.

.

Mulutnya yang kering kembali meludah sembari mengumpat. Lalu sembarang menyumpah saat tahu ia kehabisan rokok dan bir. Badannya serasa remuk, namun kantuk tak juga hinggap di matanya. Aspirin yang ia minum tidak memberikan efek apa-apa. Tidak ada yang membantunya merasa lebih baik saat ini.

"Tujuh." Telunjuknya mengikuti mobil sedan yang lewat di depan gedung apartemen. Angin berhembus membekukan kulit pucatnya yang berlapis keringat dingin. Gaara merapatkan lutut ke dada.

Raungan klakson menggema keras, mencemooh apartemen Gaara yang terasa lebih sunyi karena Hinata sudah berhenti sesenggukan. Mungkin tertidur, atau pingsan. Keduanya, Gaara sama sekali peduli setan.

"Delapan," hitungnya lagi. Kali ini sengaja mengacungkan jari tengah untuk menuding taksi yang lewat.

Kendaraan itu beberapa kali muncul di PR matematikanya dalam bentuk soal cerita. Ditambah wanita asing dan kepala yang berdenyut-denyut, Gaara jadi tidak menyukai apapun yang mengingatkannya dengan hal-hal yang harus ia kerjakan. Termasuk taksi tak bersalah tersebut.

Salahkan watak perfeksionis yang melekat, karena Gaara tetap menuntaskan semuanya; merapikan seragam, menyemir sepatu, menyiapkan buku pelajaran, dan membuang masakan Hinata.

Seharusnya tidak ada lagi yang mengusik Gaara— selain fakta bahwa perutnya belum diisi apa-apa sejak siang. Namun Gaara merasa ada yang luput— terkesampingkan.

Sekilas ia melihat jam di ponselnya. Pukul tiga pagi dan sama sekali tidak bisa tidur. Jika bukan karena badannya yang menunjukkan gejala sakit, ia sudah pasti tak menghiraukan porsi tidur.

Ponsel berdenting. Dengan cepat jempolnya menekan ikon amplop. Satu pesan tertampil;

Dari : Uzumaki Naruto

Aku tidak ingin ikut campur, tapi jika ada waktu, selesaikanlah lagu gila yang kau tunjukkan padaku malam itu, Bung. Shikamaru pasti mau mendengar demonya.

Sebaris pesan singkat yang setelah dibaca, membuat Gaara melompat turun dari kursi di balkon dan menghambur ke studionya.

.

.

.

Ini bagian satu dari bab 4, bagian duanya mungkin akan saya unggah nanti.

Thank you!