Disclaimer : The Hobbit © J.J.R. Tolkien

Warning : alternate reality, multi pairing, slash, incest, boy x boy, gay, typo, dll ^^

.

.

.

.

Hari berlalu begitu cepat. Segala macam kemewahan dan kilauan emas tidak sedikitpun membuat para Dwarf tenang. Kabut hitam yang menyelubungi kerajaan mereka, kian menebal seiring berjalannya waktu. Tidak ada lagi kedamaian, tidak ada lagi ketenangan, hanya ada keserakahan dan emas yang melimpah. Hanya emas.

Gemerincing koin yang saling beradu terdengar nyaring dan bersahutan. Beberapa pasang kaki dan tangan tengah sibuk menguak bongkahan emas yang melimpah bagai lautan. Pencarian Arkenstone telah dilakukan sejak lama, namun tidak pernah membuahkan hasil. Permata itu seakan lenyap tanpa menyisakan jejak apapun.

Bilbo menatap pilu ke arah teman-teman Dwarfnya yang tampak kelelahan. Rasa bersalah seakan membentuk gumpalan besar yang bersarang di kerongkongannya. Dia tidak ingin semua ini terjadi, tapi juga tidak mempunyai pilihan lain. Dia tahu bahwa Thorin semakin berubah, dan batu permata itu hanya akan memperburuk segalanya.

"Kami tidak menemukannya." Ujar Nori letih.

"Teruslah mencari! Batu itu pasti terkubur di bawah sana." Hardik Thorin.

Bilbo mengalihkan tatapannya pada Thorin yang berada cukup jauh darinya. "Bagaimana bisa kau bersikap seperti itu? Jangan bodoh Thorin. Mereka butuh istirahat!"

Thorin balas menatapnya. Tatapan yang sangat berbeda, tajam, menyiratkan kebencian. "Apakah kau tidak mengerti seberapa kuat dan tangguhnya kami?"

"Tentu. Tapi maksudku kau tidak bisa memperlakukan mereka secara-"

"Cukup!" Dengan langkah terburu, Thorin berjalan kearahnya.

Bilbo mematung, merasa lemas melihat kemarahan Thorin yang siap meledak. Tanpa sempat dia hindari, sepasang tangan kekar menarik paksa mantel yang ia kenakan. Tubuhnya nyaris terangkat hingga dia bisa merasakan hembusan nafas Thorin menerpa wajahnya. Sangat dekat.

"Jangan pernah berani menentang kata-kataku. Atau- hmm aku bisa saja mematahkan leher mungil ini." Bisik Thorin seraya mengusap leher pucat di depannya.

Bilbo hanya hanya terdiam, berusaha keras mengatur nafasnya yang sangat memburu. Dia tidak pernah membayangkan Thorin bisa berubah menjadi seperti ini. Tidak pernah sekalipun.

"Thorin apa yang kau lakukan? Lepaskan dia!" Teriak Kili yang muncul dari belakangnya.

Thorin menoleh dan menatapnya tajam. "Seharusnya aku yang bertanya, apa saja yang kau lakukan dengan kakakmu sehingga kalian tidak datang kemari saat aku perintahkan?"

"Kami hanya- Kami tidur larut dan bangun terlambat." Ujar Fili dengan nada selembut mungkin.

Thorin tersenyum. Dia melepaskan Bilbo dari genggamannya lalu berbalik menuju kedua pangeran. Ditatapnya satu persatu putra dari adik kesayangannya dengan hangat. Dia lalu tersenyum, mengangkat dagu keduanya, mengagumi betapa muda dan tampannya mereka.

Tiba-tiba terdengar suara hantaman keras diiringi pekikan kesakitan. Dengan tangannya sendiri Thorin memukul kedua keponakannya hingga nyaris terjatuh.

"Jangan sampai aku menyakiti hati adikku karena kalian. Aku tidak akan keberatan jika harus menghabisi kalian berdua." Gumam Thorin nyaris berbisik.

Fili menunduk, berusaha menyembunyikan darah yang menetes dari salah satu hidungnya. Sementara Kili segera menatap kakaknya, memastikan bahwa dia baik-baik saja.

Dengan langkah yang dihentakkan, Thorin berbalik dan meninggalkan mereka. Semua yang ada di sana terlihat shock, termasuk Dwarf lainnya yang masih berusaha mencari Arkenstone di bawah mereka.

-oOo-

"Kau seharusnya tidak bicara padanya." Ujar Bilbo sambil menekan-nekan kain basah di bibir Kili yang memar.

Kili hanya terdiam, sesekali meringis merasakan perih di sekitar wajahnya.

"Kami tidak pernah melihatnya semarah itu. Bahkan kami ragu jika dia adalah Thorin, paman kami." Fili mendesah kecewa.

"Dengar! Dia tetaplah Thorin, tapi keadaan membuatnya berubah. Ingatkah kalian tentang cerita para Dwarf mengenai Thror? Kakek kalian?" Bilbo menatap keduanya yang segera mengangguk.

"Lalu apa yang harus kita perbuat?" Tanya Kili.

"Fili! Sebagai pangeran mahkota, kau harus berusaha membujuknya dan-"

"Tidak! Kau melihatnya sendiri tadi. Dia bahkan seperti tidak mengenali kami." Ujar Fili dengan nada tinggi.

Bilbo menghela nafas panjang, lalu mengalihkan tatapannya pada Kili.

"Dan kau tidak mungkin memintaku melakukannya. Ingat itu!" Cegah Kili sebelum Hobbit di depannya mulai bicara.

Suasana berubah hening. Ketiganya tampak sangat kebingungan.

"Kau yang harus melakukannya!" Ujar Fili dan Kili serempak.

"Apa? aku?"

"Tidakkah kau mengerti? Dia selalu mendengarkanmu. Dia mencintaimu, Mr. Boggins." Bisik Kili sambil menaikan alisnya.

Bilbo membelalakkan kedua matanya. Rasa panas menyebar di wajah hingga telinganya, membentuk rona merah yang semakin lama semakin menebal. Dia bahkan tidak peduli saat Kili kembali menyebut nama belakangnya dengan salah.

Melihat itu, Fili menyikut adiknya lalu keduanya tersenyum nakal.

"Kau tahu tentang pepatah yang mengatakan bahwa, kekuatan cinta bisa mengalahkan segalanya?" Tanya Kili dengan wajah serius.

Bilbo mengernyitkan dahi. "Tidak. Dari mana kau tahu?"

"Tentu saja kami tahu. Kami merasakannya sendiri." Kili menyeringai sambil merangkul bahu kakaknya.

Bilbo kembali terdiam, merasa canggung dengan suasana yang ada. Tubuhnya sedikit gemetar. Ingatannya tentang kejadian malam itu membuatnya semakin gugup. Dalam hatinya dia terus bertanya tanya tentang bagaimana cara Fili dan Kili mengetahui hubungannya dengan Thorin.

-oOo-

Thorin melangkah perlahan menyusuri bagian dalam istana. Dengan tetap waspada, dia terus mengamati setiap kegiatan yang dilakukan oleh siapapun di sekitarnya. Sedikit saja gerakan mencurigakan, dia akan segera menghampiri dan memeriksanya.

Dari kejauhan terlihat Bilbo yang tengah duduk bersandar di salah satu dinding batu. Posisinya sangat mencurigakan menurut Thorin, karena dia tampak tengah memperhatikan sesuatu di tangannya. Secepat kilat, Thorin berlari ke arahnya. "Sesuatu di tanganmu. Apa itu?"

Bilbo terkejut dan segera memasukan kembali benda itu ke dalam sakunya. "Bukan apa-apa."

"Tunjukkan padaku!"

Dengan sedikit ragu Bilbo merogoh sakunya dan mengeluarkan sesuatu dari sana. Wajah Thorin yang awalnya sangat tegang perlahan melembut setelah melihat apa yang sebenarnya disembunyikan Bilbo.

"Biji ek. Aku memungutnya dari kebun Beorn untuk ditanam di Shire." Kenang Bilbo sambil tersenyum.

Thorin membalas senyumannya, lalu menatap lekat sosok mungil di depannya.

"Aku minta maaf, Thorin."

"Untuk?"

"Mm. Kau sangat marah kemarin."

Thorin meraih kedua tangan mungil di depannya lalu mengecupnya satu persatu. "Bagaimana bisa aku marah padamu?"

"Sungguh? Tapi kau bilang akan mematahkan leherku dan-"

Thorin segera meletakan telunjuk di bibirnya, mengisyaratkan Hobbit di depannya untuk diam. Dia lalu meletakan kedua tangannya di bahu Bilbo, mencengkramnya dengan lembut. "Aku tidak akan menyakitimu, kau tahu?"

Bilbo mengangguk tanpa berani mengeluarkan sepatah katapun.

"Aku melakukannya hanya untuk membuat mereka ketakutan dan menyerah." Bisik Thorin.

"Maksudmu?"

"Aku tahu mereka menghianatiku. Salah satu dari mereka pasti mengambilnya."

"Thorin. Sebenarnya-"

Ucapan Bilbo terputus saat wajah Thorin mendekat. Semakin dekat, hingga dia bisa merasakan hangatnya hembusan nafas Thorin di wajahnya. Sepasang manik biru mengunci tatapannya, membuatnya terpaku. Jantungnya seakan berhenti berdetak saat bibir keduanya bertemu.

"Aku tidak ingin mendengar apapun sekarang." Ujar Thorin saat ciuman singkat itu usai.

Bilbo mengangguk. Mereka hanya terdiam sebelum akhirnya bibir keduanya kembali menyatu.

"Aku mencintaimu." Bisik Thorin di telinga runcingnya.

Bilbo masih terpaku, tidak percaya akan apa yang baru saja didengarnya. Untuk pertama kalinya dia mendengar ucapan itu dari bibir Thorin sendiri. Ternyata apa yang dikatakan Kili tempo hari memang benar. Kekuatan cinta.

TO BE CONTINUED

.

.

.

NOTE : Hi semua! Pertama tama Roth mau ngucapin terimakasih buat semua yang udah baca fic nista ini. Spesial makasihnya buat yang udah bersedia review, fav dan follow *peluk satu satu* ^^

Jadi, awalnya Roth bikin fic ini hanya iseng, karena fandom The Hobbit Bahasa Indonesia sepi banget, jadi sedikit ragu. Doc aslinya nya juga pendek, hanya sampai chapter 2 (sebelumnya). Tapi karena dukungan kalian semua, fic ini akan diperpanjang sampai akhir BOTFA ^^

Selalu di tunggu kritik dan sarannya ya, karena Roth masih pemula banget dalam dunia nulis. See ya! ❤