Disclaimer : The Hobbit © J.J.R. Tolkien

Warning : alternate reality, multi pairing, slash, incest, boy x boy, gay, typo, dll ^^

BIG WARNING! : Chapter ini mengandung konten dewasa/ adult content/ NC/ smut/ lemon, dll ^^

.

.

.

.

Cahaya matahari menerobos masuk melalui celah celah kecil pada dinding batu. Celah yang juga merupakan ventilasi udara di ruangan minim cahaya itu. Jika saja salju tidak turun, mungkin suhu udara akan terasa sangat panas.

Bilbo membuka mata perlahan, mengerjapkannya berkali-kali seiring kesadarannya yang semakin penuh. Dia lalu menggeliat, berusaha untuk melepaskan diri dari selimut tebal yang membatasi pergerakannya. Saat selimut itu tersingkap, dia baru menyadari bahwa hanya benda itulah yang menutupi tubuhnya.

Terbangun dalam keadaan seperti ini bukanlah hal yang aneh untuknya. Hanya saja kali ini dia tidak berada di Shire, melainkan di kamar pribadi Thorin, Raja Erebor, Raja para Dwarf. Pipinya bersemu merah karena ingatan itu. Dia juga teringat kejadian semalam, saat keduanya berbagi terlalu banyak ale hingga dia sangat mabuk dan tidak sanggup berdiri.

Dia masih bisa merasakannya. Sepasang tangan kekar itu berada di pinggangnya, menariknya lebih dekat hingga tubuhnya terhempas di tempat tidur. Dia tidak mengingat lebih banyak, kecuali hangatnya tubuh Thorin yang nyaris menutupi seluruh tubuhnya.

.

"Selamat pagi." Suara berat itu terdengar seiring pintu yang terbuka perlahan.

"Pagi, Thorin." Balas Bilbo sambil tersenyum.

Thorin menyerahkan semangkuk sup dari tangannya. "Aku membuatkanmu sesuatu."

"Wow, sup? Apa kau-"

"Ya, aku yang membuatnya sendiri. Makanlah."

Bilbo tersenyum, lalu mencoba satu suapan pertama. Ekspresi wajahnya yang lembut perlahan berubah menjadi tegang. Dengan segenap kemampuan, dia berusaha menelan sup yang terasa aneh di mulutnya.

"Bagaimana? Apakah kau suka?" Tanya Thorin antusias.

"Uhm, tentu. Ya ya aku suka. Tapi- ehm. Aku tidak lapar." Jawab Bilbo gugup.

"Kau tidak menyukainya!"

"Bukan begitu Thorin. Mm, mungkin kita bisa melakukan hal lain?"

Thorin masih terdiam, hingga akhirnya tersenyum sendiri melihat keluguan Hobbit di depannya.

"Tapi sebelum itu, apa kau tahu di mana pakaianku?" Lanjut Bilbo.

Thorin menyeringai. "Tidak ada pakaian."

Bilbo menatapnya heran, lalu terkesiap saat Thorin menarik lepas selimutnya. Jantungnya berdegup kencang merasakan telapak tangan kasar itu mengusap lembut dada mulusnya. Rasanya sangat hangat, jauh lebih hangat dari tubuhnya yang terasa beku. Perlahan matanya terpejam, menikmati setiap sentuhan hangat yang kini menyusuri perutnya dan berhenti di area sensitifnya.

"Kau menyukainya?" Bisik Thorin yang kemudian mengecup salah satu pipinya.

Bilbo nyaris tidak bisa berkata apapun saat jari-jari Thorin mulai menyentuhnya. "Engh. Thorin-"

Thorin tersenyum melihat Bilbo yang sangat tegang. "Sssshhh. Ini belum dimulai."

"Thorin, please."

"Please?" Goda Thorin.

Dengan sedikit kasar, Bilbo menarik mantel Thorin hingga wajah mereka berdekatan. Dia lalu menciumnya, tanpa membiarkan Thorin memulai lebih dulu.

"Kau sangat tidak sabar." Goda Thorin saat ciuman itu terlepas.

Dengan gemas Bilbo kembali menarik Thorin hingga terbaring dan menindih tubuhnya. "Aku mencintaimu, Thorin."

"Dan aku mencintaimu lebih dari apapun." Ujar Thorin seraya mengecup keningnya.

Bilbo tersenyum. Jari-jarinya bermain di janggut tebal Thorin, membuat Dwarf itu terkekeh.

"Aku harus melepaskan ini." Bisik Thorin seraya bangkit dan menanggalkan jubahnya.

"Lalu?" Bilbo menaikkan alisnya.

Thorin tidak menjawab. Dia hanya berbalik lalu melepaskan tunik beserta celana panjang yang masih melekat di tubuhnya. Nafas Bilbo tertahan saat Thorin berbalik dan menatapnya dengan tatapan hangat. Tatapan yang selalu diberikannya saat mereka sedekat ini.

Thorin kembali mendekat dan menindih tubuh mungil di depannya, namun tetap berusaha untuk tidak menumpahkan seluruh berat tubuhnya. Keduanya kembali hanyut dalam ciuman yang sangat dalam, menikmati setiap hisapan dan sentuhan lidah satu sama lain yang terasa sangat manis.

Hingga pertemuan itu kembali terjadi.

.

-oOo-

.

Hari ini Fili terbangun lebih awal dari biasanya. Selain karena udara yang dingin, suara bising di dapur istana juga menjadi penyebab lain. 'Siapa yang memasak sepagi itu?' Fikirnya. Bahkan saat mendengar suara tadi, suasana masih terlalu gelap untuk disebut pagi. Akibatnya dia tidak bisa tertidur nyenyak hingga saat ini.

Setelah bosan berbaring di tempat tidurnya, Fili bangkit lalu mengecup kening Kili yang masih terlelap. Ditatapnya sejenak wajah tampan adiknya yang kini tampak semakin dewasa. Dia berniat membangunkan Kili karena hari sudah semakin siang, tapi kemudian ia mengurungkannya. Semalam mereka tidur larut, dan Kili pasti sangat kelelahan.

Akhirnya, Fili memutuskan untuk berkeliling di istana. Mungkin melihat-lihat setiap ruangan di tempat megah itu, atau sekedar menemui Bombur yang pasti sudah memasak sesuatu. Tapi ketika tiba di depan pintu kamar pribadi Thorin, dia mendengar suara mencurigakan yang membuat langkahnya terhenti. Diamatinya suara tersebut dengan seksama hingga terdengarlah suara lain selain Thorin.

"Bilbo." Bisik Fili pada dirinya sendiri. Dia lalu tersenyum dan melanjutkan langkahnya.

Semuanya terasa sangat membosankan di sana. Tidak ada berburu, tidak ada petualangan, tidak ada latihan pedang ataupun pembuatan senjata. Hanya ada kemewahan yang justru terasa seperti penjara. Entah apa yang terjadi, yang pasti dia atau mungkin yang lainnya tidak menginginkan semua ini. Kehidupan di Ered Luin jauh lebih damai dan menyenangkan daripada di tempat impiannya sejak kecil ini.

.

"Fili, kau mau pergi ke mana? Dan di mana Kili?" Tanya Bofur yang tengah menghisap pipa berisi Red Tobacco di samping Nori.

"Kili di kamar. Mm, entahlah. Aku ingin mencari udara segar." Jawab Fili.

"Gerbang utama sudah tertutup rapat dengan batu, mungkin kau harus pergi ke atas." Ujar Dwalin.

"Ya. Tentu." Fili berbalik dan kembali melangkah.

Setibanya di benteng istana, Fili mengambil pipa rokok dari sakunya lalu menyalakan dan menghisapnya dalam dalam. Hembusan asap pekat menuntun tatapannya ke sekitar Dale. Di sana tampak ramai namun bukan hanya ada warga Laketown, melainkan sekumpulan Elf. Matanya terbelalak melihat betapa banyaknya jumlah elf di sana.

"Fili! Kau di sini rupanya." Ujar Kili yang tiba-tiba muncul dari belakangnya.

"Kemarilah! Lihat itu!" Fili mengarahkan telunjuknya pada kerumunan elf di depannya.

Kili menajamkan tatapannya. "Siapa mereka?"

"Sepertinya mereka Elf dari Mirkwood."

"Lalu apa yang mereka lakukan di sana? Menangkap kita semua? Oh, jangan harap!"

"Aku tidak tahu, Kee. Tapi aku yakin ini bukan pertanda baik."

Keduanya saling memandang, berbagi kekhawatiran yang sama sebelum akhirnya pergi menemui dwarf lain.

.

-oOo-

.

"Mereka mungkin berada di sana sejak semalam." Ujar Dwalin.

Thorin menghela nafas panjang. Pandangannya tertuju pada kerumunan Elf yang berbaris memenuhi Dale. Dwarf lain pun tetap di sana, mengamati semua pergerakan yang ada hingga tak lama kemudian, seseorang datang. Seseorang yang mereka kenal- Bard, penduduk Laketown yang pernah menolong mereka.

Dengan lantang pria itu mengemukakan maksud kedatangannya pada Thorin. Tentang janji Thorin untuk memberikan sebagian kecil kekayaannya pada rakyat Laketown, juga tentang keinginan Thranduil.

"Para Elf akan menyerangmu jika kau tidak memenuhi keinginan mereka. Juga keinginan kami." Ujar Bard dengan penuh harap.

Sejenak Thorin merenung. 13 Dwarf dan satu Hobbit tidak mungkin bisa melawan ratusan tentara Elf. Tapi dia juga tidak mungkin membiarkan apa yang dimilikinya jatuh pada orang lain. Tidak satu koinpun.

"Pergilah! Biarkan panah-panah mereka kemari." Hardik Thorin yang membuat Bard merasa geram.

Dengan ketakutan yang sama, para Dwarf hanya menatap Bard yang berlalu. Tidak lama lagi mereka akan diserang, tapi Thorin tampak sangat tenang. Raut wajahnya yang dingin, membuat tidak ada seorangpun berani mempertanyakan keputusannya.

.

-oOo-

.

Bilbo berdiri di atas benteng kokoh Erebor. Perasaannya sangat kacau, bukan hanya karena ancaman perang tapi juga karena Thorin yang kembali berubah. Raja Dwarf itu bahkan tidak menyapanya ataupun keluar dari kamar hingga saat ini. Bilbo menghela nafas panjang sambil merogoh sakunya. 'Mungkin ini saat yang tepat untuk melepaskan beban berat ini' fikirnya sambil menggenggam Arkenstone yang sudah lama ia sembunyikan.

.

.

To be continued