Disclaimer : The Hobbit © J.J.R. Tolkien

Warning : alternate reality, multi pairing, slash, INCEST, boy x boy, gay, typo, dll ^^

BIG WARNING! : Chapter ini mengandung konten dewasa/ adult content/ NC/ smut/ lemon, dll ^^

.

.

.

.

Suasana hening masih menghiasi Erebor. Para Dwarf yang baru saja mempersiapkan peralatan untuk perang, hanya terdiam dalam kekhawatiran. Sementara itu, Thorin tengah duduk seorang diri di atas singgasana dengan lantai berlapiskan emas. Dia tampak dingin, sangat dingin hingga tak seorangpun sanggup menghampirinya.

Fili dan Kili menatap sekitar, berusaha mencari sosok Bilbo yang sejak tadi tidak terlihat. Lalu keduanya serempak menggelengkan kepala, seolah telah berkomunikasi melalui tatapan mata.

"Lalu bagaimana? Hanya dia yang selalu didengarkan oleh Thorin." Ujar Kili khawatir.

Fili menggelengkan kepala. "Kita bahkan tidak tahu dia di mana."

"Apa kalian melihat Bilbo?" Tanya Kili pada Dwarf lainnya.

"Entahlah, sejak tadi sore dia tidak terlihat." Jawab Ori yang tengah sibuk menulis.

"Mm, sebenarnya- sebenarnya aku melihatnya." Ujar Bofur menyita perhatian.

Semuanya terdiam, membiarkan Bofur berbicara lebih banyak.

"Aku melihatnya di balkon, dan dia turun dari sana melalui tali. Tapi- dia berjanji akan kembali."

"Omong kosong. Dia pasti pergi karena tidak ingin berperang." Gloin menimpali.

"Tidak mungkin. Dia tidak seperti itu!" Sanggah Dori.

"Ya, kita semua mengenalnya dengan baik. Selama ini dia setia." Balin menambahkan.

Dwalin bangkit dan menyela. "Mungkin menurutmu. Tapi buktinya dia pergi."

Suasana berubah menjadi ricuh dengan teriakan-teriakan antara pendukung dan pencela Bilbo. Fili yang merasa mual melihat keadaan, segera bangkit dan berlari ke tempat lain, sementara Kili mengejarnya.

"Aku tidak bisa! Ini semua di luar kemampuanku. Aku tidak bisa, Kee." Fili menggumam lemah.

"Sssshhh. Tenanglah. Ini belum dimulai. Kau hanya perlu tenang. Kemarilah!" Kili menarik Fili ke pelukannya.

Sejenak mereka terdiam, menikmati kehangatan satu sama lain. Fili lalu mendongakkan wajahnya, disambut oleh Kili yang segera mengecup keningnya.

"Tenanglah. Kau tidak perlu takut berperang. Kita adalah petarung bukan? Kau selalu mengatakannya." Kili berusaha menenangkan Fili yang mulai menitikkan air mata.

"Aku tidak takut berperang, tapi aku takut jika Thorin- jika dia tidak kembali seperti dulu."

"Aku yakin dia akan kembali. Dia adalah paman kita, seseorang yang kita anggap sebagai ayah kita sendiri. Tidak mungkin dia seperti itu selamanya."

Fili mengangguk, lalu melepaskan pelukannya. "Kita harus pergi ke kamar, Kee. Aku lelah."

"Baiklah."

..

Kili merebahkan tubuhnya, disusul Fili yang segera berbaring di salah satu lengannya.

"Kee, aku merindukanmu." Bisik Fili sambil mendekapnya erat.

"Aku selalu di sini, Fee." Ujar Kili seraya mengecup puncak kepala kakaknya.

"Berjanjilah untuk tidak meninggalkanku."

"Tentu saja. Aku berjanji. Apapun yang terjadi, kita akan selalu bersama."

"Bagaimana dengan ibu?"

Kili terdiam sejenak, merasa kebingungan untuk menjawab pertanyaan cintanya. "Mm, kurasa- dia akan mengerti."

"Bagaimana jika tidak?"

"Entahlah. Tapi apapun itu, aku akan tetap bersamamu. Menjagamu, dan-membahagiakanmu."

"Aku kakakmu, Kee. Seharusnya aku yang menjagamu."

Kili tertawa. "Kau selalu melakukannya sejak kecil, dan sekarang giliranku."

Fili ikut tertawa, lalu bangkit dan merangkak ke atas tubuh Kili. Dikecupnya bibir Kili, hingga keduanya berciuman dengan lembut.

"Fee, bolehkah aku-"

"Tentu saja. Aku milikmu, kau tahu itu." Fili membelai lembut rambut Kili.

"Aku mencintaimu, Fee." Ujar Kili sambil membalikkan posisi mereka hingga ia menindih tubuh Fili.

Fili merintih pelan, merasakan hembusan nafas Kili yang semakin memburu di lehernya. Matanya terpejam. Dia sangat menyukainya ketika tubuhnya dikuasai oleh Kili, adiknya sendiri. Setiap inchi tubuhnya seakan memberikan sengatan kenikmatan setiap kali jari Kili menyentuhnya. Hingga dia tidak menyadari jika satu persatu pakaiannya mulai terlepas.

.

-oOo-

.

Pagi itu salju tidak turun namun matahari tidak menampakkan dirinya. Suasana kelam menyelimuti Erebor yang kini telah dikerumuni oleh ratusan tentara Elf. Thorin berdiri di benteng istana, didampingi 12 Dwarf lain dan juga Bilbo. Mahkota menghiasi kepalanya, juga jubah tebal khas kerajaan yang menggambarkan kekuasaannya. Tatapannya tertuju ke arah Raja Elf yang merupakan saingan terbesarnya, Thranduil.

Sebuah lesatan panah seakan menjadi sambutan untuk Thranduil. Matanya menyipit, menatap Raja Dwarf di atasnya dengan tatapan penuh kebencian. Jika saja Bard tidak di sana, mungkin dia sudah melanggar peraturan perang dan memerintahkan pasukannya untuk menghabisi ke 13 Dwarf.

"Kami datang kemari untuk memberitahumu, bahwa pembayaranmu atas seluruh hak kami telah diterima, dan kami menyetujuinya." Thranduil membuka suara.

Thorin mendelik, berusaha menyembunyikan rasa ingin tahunya. "Aku tidak memberikan apapun. Kalian tidak memiliki apapun!"

Bard merogoh sakunya, lalu mengeluarkan benda yang luar biasa bercahanya. "Kami punya ini."

Semua Dwarf terbelalak melihat Arkenstone yang berada di tangan Bard, tapi Thorin tetap berusaha tenang.

"Pencuri! Bagaimana bisa batu itu ada pada kalian? Batu itu milik Raja!" Teriak Kili penuh amarah.

"Raja boleh saja mendapatkannya kembali, tapi pertama tama dia harus memenuhi semua janjinya." Jawab Bard santai.

"Arkenstone terkubur di dalam istana ini. Itu hanya trik!" Teriak Thorin geram.

"Itu bukan trik! Aku memberikannya pada mereka." Suara lembut itu tiba-tiba muncul bersama sosok Hobbit yang dikenalnya.

Thorin terpaku, tak mengeluarkan sepatah katapun dan membiarkan Bilbo memperjelas perkataannya.

"Aku mengambilnya untuk hadiah."

"Kau- kau mencurinya dariku?" Thorin menatapnya lekat, merasa tidak percaya atas pengkhianatan seseorang yang sangat dia percaya.

Bilbo menghela nafas, berusaha menyingkirkan ketakutannya. "Aku selalu mencoba memberikannya padamu Thorin- tapi-"

Thorin berteriak. "Tapi apa pencuri?"

"Tapi kau berubah Thorin! Dwarf yang aku temui di Bag End tidak pernah menarik kembali kata-katanya. Dia juga tidak pernah meragukan kesetiaan bangsanya!" Bilbo balas berteriak.

"Jangan pernah berbicara tentang kesetiaan kau pengkhianat! Selama ini aku mempercayaimu, lebih dari bangsaku sendiri, bahkan lebih dari keturunanku. Tapi kau-" Amarah yang memuncak membuat Thorin kehabisan kata-katanya. Wajahnya merah padam.

"Thorin. Aku melakukannya untukmu, agar kau menepati janjimu pada mereka dan perang ini tidak terjadi. Mengertilah." Bilbo berusaha menenangkannya.

"Lemparkan dia dari benteng." Teriak Thorin geram, namun para Dwarf bergeming. "Apa kau tidak mendengarku?" Thorin menarik paksa Fili yang segera menepisnya.

Dengan amarah yang semakin memuncak, Thorin akhirnya meraih Bilbo dan menyeret tubuh mungilnya. Para Dwarf berusaha mencegahnya tapi gagal, dan kini tubuh Bilbo telah berada di tepi benteng. Dia pasti sudah terjatuh jika Thorin tidak memegangnya erat.

"Thorin. Maafkan aku." Bilbo berbisik. Dia sudah tahu apa yang akan terjadi jika Thorin mengetahui yang sebenarnya, tapi dia sudah siap. Bahkan dia rela mati karena ini, demi Thorin.

Thorin terdiam sejenak, menatap mata Bilbo yang menyiratkan ketakutan. Namun dia tidak melepaskannya, tapi menghimpit kuat tubuh mungil di depannya hingga Bilbo mengerang kesakitan. "Bahkan melihat mayatmu saja aku tidak sudi."

Fili mendekat, berusaha melerai amarahnya. "Thorin hentikan, kumohon. Biarkan dia pergi! Kau tidak bisa melakukan hal buruk seperti ini. Kau adalah Raja kami."

Thorin perlahan melepaskan Bilbo, lalu mendelik tajam ke arah keponakan tertuanya. Sementara itu Bofur membawa Bilbo pergi, berusaha membantunya turun ke area perang dengan seutas tali.

.

"Berikan kami jawaban! Apakah kau memilih berdamai, atau berperang?" Tanya Bard dengan penuh harap.

Thorin menatap sekitarnya. Terlihat jelas ratusan tentara Elf yang siap menyerang, juga Gandalf yang berlari kecil ke area peperangan. Dia sudah pasti kalah, mengingat jumlah lawan yang sangat banyak. Tapi dia juga tidak mungkin memberikan apa yang dimilikinya, ataupun merelakan Arkenstone menjadi milik mereka. Hingga akhirnya dia mendapat jawaban setelah seekor raven menghampirinya. Raven yang dia perintahkan untuk membawa berita ke Ironhill beberapa waktu lalu.

"Aku memilih perang!" Seru Thorin, seiring terdengarnya derap langkah ratusan Dwarf berpakaian besi.

Ke 13 Dwarf bersorak menyambut pasukan Ironhill yang dipimpin oleh Dain. Sementara seluruh pasukan lawan tercengang. Kini mereka mengerti penyebab utama Thorin menginginkan berperang.

Gandalf berusaha melerai kedua belah pihak, dan memberitahukan rencana serangan Orc yang akan segera terjadi. Namun, dendam turun temurun antata Elf dan Dwarf membuat perang tidak bisa dihindari.

Perang dimulai dengan sengit. Hingga tak lama kemudian apa yang dikatakan Gandalf benar-benar terjadi. Pasukan Orc muncul secara tiba-tiba, menunjukkan jumlah yang luar biasa banyaknya. Suasana pun berubah. Para Dwarf kini bergabung dengan Elf untuk melawan mereka, sementara Bard dan warga Laketown merusaha mempertahankan kota Dale.

.

-oOo-

.

Di dalam istana, Thorin duduk tenang di atas singgasananya. Dia tersenyum, mengagumi betapa banyaknya emas di dalam sana. Dia benar-benar tidak peduli pada perang yang terjadi di luar, bahkan tidak peduli pada pasukan Dain yang sebelumnya dimintai bantuan olehnya.

12 Dwarf lain yang mematuhi perintah Thorin hanya terdiam lesu. Mereka merasa sangat terhina karena hanya bersembunyi disaat bangsa mereka berperang. Ini bukan sifat mereka. Dwarf dikenal sangat tangguh dan tidak takut berperang, tapi kini mereka bagaikan seorang pecundang.

.

"Kee. Kita harus keluar dari sini." Gumam Fili di tengah kesedihannya.

"Sssshhh. Tidak! Kita tidak mungkin melanggar perintah Thorin. Dia adalah seorang Raja, dan kita semua harus menuruti perintahnya."

"Untuk apa? Untuk berdiam diri di sini dan menyaksikan semua orang terbunuh? Tidak Kili, aku tidak seperti itu."

"Lalu apa? Apa yang bisa kita lakukan? Kita bisa saja pergi, tapi bagaimana jika Thorin menghukumu atas itu? Aku tidak mau sesuatu terjadi padamu, pada kita." Kili menggenggam tangan Fili yang dingin dan bergetar.

"Baiklah. Aku akan berbicara padanya." Fili bangkit berdiri.

"Tidak! Kau tidak-"

"Tenanglah, Kee. Aku akan baik-baik saja." Fili tersenyum sebelum akhirnya berlalu.

..

Wajah dingin Thorin membuat Fili sedikit ketakutan, tapi dia tidak mungkin mengurungkan niatnya. Dia harus berusaha.

"Apa yang kau lakukan di sini?" Suara berat Thorin terdengar bergema.

"Aku ingin berperang, Thorin." Jawab Fili singkat.

"Tidak ada seorangpun yang bisa keluar dari istanaku."

"Mereka dikepung, Thorin! Pasukan Ironhill sekarat di luar sana." Ujar Fili penuh penekanan.

Thorin terdiam, memberi kesempatan untuk Fili berbicara lebih banyak.

"Kau seorang Raja, Thorin. Tidakkah kau peduli? Di mana rasa kemanusiaanmu? Apa kita hanya akan bersembunyi di sini?" Fili berusaha merendahkan nada suaranya.

"Apa yang kau tahu tentang semua urusan seorang Raja? Kau tidak tahu apapun, Fili. Kau bahkan tidak pantas menjadi penerus tahta ini."

Fili terpaku. Ucapan Thorin benar-benar membuatnya gemetar. Semua kata-kata yang sudah dia persiapkan tadi seakan menguap tanpa tersisa.

Thorin bangkit dari singgasananya, lalu berjalan perlahan, mengitari Fili yang masih terpaku. "Lihatlah dirimu! Kau bahkan tidak lebih baik dari seorang wanita. Kau lemah! Kau tidak akan mampu bertarung dengan tubuh mungil ini. Kau hanya bisa bersembunyi di belakang adikmu yang jauh lebih baik, lebih kuat. Kau bahkan tidak mampu mengangkat sebuah busur."

Fili semakin gemetar. Hatinya benar-benar hancur mendengar seluruh perkataan Thorin. Dia benar-benar berubah, bukan lagi Thorin yang dulu ia anggap sebagai Ayahnya sendiri. Bukan Thorin yang selalu melindunginya dan mengajarinya banyak kebaikan.

"Aku salah karena menjadikanmu putra mahkota. Kau sama sekali tidak pantas- dan ya, aku hampir melupakan sesuatu. Bagaimana bisa seorang pelacur rendahan sepertimu menjadi keturunanku?" Thorin berusaha mengunci tatapannya dengan mata Fili yang kini terbelalak.

"Jangan fikir aku tidak tahu apa yang kalian lakukan. Sebagai seorang kakak, kau hanya bisa menunggu adikmu sendiri menyentuhmu setiap malam. Dan- kau bahkan tidak mempunyai hak penuh atas tububmu sendiri! Kau telah di manfaatkan. KAU HANYA-"

"Cukup Thorin! CUKUP!" Fili tidak sanggup mendengar lebih banyak lagi. Kedua tangannya terkepal kuat, membuat telapaknya terluka oleh kukunya sendiri.

Thorin tersentak, menghentikan ucapannya lalu kembali duduk di singgasana. Teriakan Fili membuatnya menyadari bahwa ucapannya sudah keterlaluan.

"Kau boleh saja menghinaku, tapi kau tidak bisa melupakan tanggung jawabmu sebagai seorang Raja. Thorin, putra Thrain!" Fili beranjak meninggalkan ruangan Thorin yang kini sunyi.

Matanya terasa panas, getaran di tubuhnya membuat genangan air mata jatuh tak tertahan. Dia berlari menambrak apapun yang menghalangi jalannya, lalu menghempaskan diri di kamarnya. Thorin benar. Dia memang lemah, dia tidak pantas menjadi apapun yang dia harapkan selama ini.

Tiba-tiba pintu terbuka, menampakkan Kili yang mungkin sejak tadi mengikutinya. "Fee. Kau baik-baik saja?"

Fili tidak menjawab. Dia hanya bangkit lalu berusaha keras mendorong tubuh Kili keluar.

"Hey, ada apa denganmu? Katakanlah sesuatu, Fee! Apa salahku?" Kili berusaha menahan diri, tapi Fili terus mendorongnya hingga dia tiba di ambang pintu.

"Pergilah! Aku tidak ingin melihatmu." Fili berteriak sambil membanting pintu kamarnya hingga Kili terjatuh.

Kili terdiam beberapa saat, lalu bangkit. "Aku menunggumu jika kau merasa lebih baik, Fee."

Kili berjalan perlahan, menoleh sesekali ke arah pintu yang tidak juga terbuka.

.

.

TO BE CONTINUED.

.

.

A/N : Kali ini ceritanya lebih drama dan panjang dari chapter-chapter sebelumnya. Di sini juga terjadi konflik antara para karakter utama yang hampir terpecah belah. :'(

Tapi tenang, di chapter selanjutnya mereka akan menemukan cara untuk kembali bersatu. Tapi akan muncul konflik-konflik lain yang masih panjang hehe.

Stay tune ^^