Disclaimer : The Hobbit © J.J.R. Tolkien
Warning : alternate reality, multi pairing, slash, INCEST, boy x boy, gay, typo, dll ^^
Big Warning : Chapter ini mengandung adegan kekerasan.
.
.
.
Thorin mendobrak pintu ruangannya yang semula terkunci. Mahkota dan jubah tebalnya dibiarkan tergeletak begitu saja, sementara dia segera keluar dari tempat terkutuk itu. Dengan langkah besar, dia menyusuri istananya menuju tempat di mana para Dwarf berkumpul. Ini belum terlambat, batinnya.
.
"Aku tidak akan bersembunyi di balik dinding batu yang kokoh, ketika orang lain bertarung untuk kita!" Kili menyambut kedatangannya dengan teriakan. "Itu tidak ada dalam darahku, Thorin." Lanjutnya dengan suara melembut.
Thorin segera mendekat, meletakan tangannya di bahu Kili yang bergetar. "Tidak! Kita adalah putra Durin. Dan bangsa Durin tidak pernah lari dari peperangan."
Mendengar itu Kili tersenyum penuh haru. Dipeluknya tubuh Thorin yang hanya berbeda beberapa centi darinya. Saat pelukan singkat itu usai, Thorin melangkah menuju Dwarf lainnya. Mereka masih terdiam diantara peralatan perang yang berserakan, namun wajah mereka kini tampak lebih berseri dari sebelumnya.
"Aku tidak memiliki hak untuk meminta ini dari kalian." Thorin menjeda ucapannya, lalu menyapukan pandangan ke seisi ruangan. "Akankah kalian mengikutiku, untuk yang terakhir kali?"
Semua yang berada di sana mengangkat senjata masing-masing, pertanda mereka siap untuk berperang. Thorin tersenyum lega, namun senyumannya segera pudar setelah menyadari bahwa ia kehilangan salah satu kelompoknya.
"Di mana Fili?"
-oOo-
Dengan sedikit terpincang, Fili berlari mengikuti Bilbo memasuki wilayah Dale. Seandainya saja dia tidak terjatuh saat menuruni benteng tadi, mungkin kakinya masih baik-baik saja. Keduanya lalu berhenti setelah berhasil menemukan Gandalf di tengah kerumunan warga Laketown. Mereka tengah bersiap untuk menghalau serangan musuh yang mulai memasuki kota.
"Apa yang terjadi, Fili? Apakah Thorin tetap tidak ingin keluar dari sana?" Tanya Gandalf khawatir.
Fili mengangguk. "Begitulah."
Gandalf mengernyitkan dahi. "Lalu bagaimana kau bisa kemari?"
"Aku melarikan diri, Gandalf. Apapun yang terjadi Thorin tidak akan keluar dari sana." Fili menjawab dengan ekspresi kesal, hingga Gandalf terdiam.
Sedetik kemudian terdengar keras suara terompet dari Erebor, membuat perhatian mereka tersita. Tak lama setelah terompet dibunyikan, sebuah lonceng raksasa mendobrak dinding batu yang sebelumnya dibangun para Dwarf. Bebatuan itu memenuhi aliran sungai di depannya, memberi jalan untuk para Dwarf yang kini berlari ke luar menuju area perang.
"Du Bekar!" Teriak mereka serempak, disusul ratusan pasukan Iron Hills yang semula berkumpul di depan gerbang Erebor.
"Tentu saja. Thorin tidak akan pernah keluar." Bilbo terkekeh sambil menepuk-nepuk bahu Fili yang masih menatap tak percaya.
Di area perang, Thorin bersama 11 Dwarf tersisa bertarung sekuat tenaga untuk mempertahankan Erebor. Sementara itu pasukan Elf memilih untuk memasuki wilayah Dale dan bertarung di sana. Banyak korban berjatuhan, para Dwarf nyaris menyerah namun masih berusaha keras untuk menjaga pertahanannya.
"Kita tidak akan menang, Thorin. Jumlah mereka terlalu banyak. Apa kau memiliki rencana?" Tanya Dain yang tengah sibuk menghantamkan palu raksasanya ke arah orc di sekitar mereka.
Thorin tidak menjawab, namun berfikir keras. Ucapan Dain benar- mereka tidak akan bertahan jika terus seperi ini. Satu-satunya jalan adalah menghabisi pemimpin mereka, Azog.
"Aku akan pergi ke Ravenhill. Jika kita mengalahkan pemimpin mereka, perang ini akan usai." Ujar Thorin yang kemudian menaiki seekor domba besar.
"Thorin, kau tidak bisa melakukannya. Kau seorang Raja!" Cegah Dain khawatir.
"Itulah sebabnya aku harus melakukannya."
Thorin berlalu tanpa menghiraukan Dain, diikuti Kili dan Dwalin yang juga mengendarai seekor domba besar. Mereka menerobos barisan lawan dengan mudah karena domba yang mereka kendarai. Dari jauh, Azog menatap keberangkatan mereka dengan senyuman licik.
-oOo-
Musuh telah memenuhi sebagian besar kota Dale. Pasukan Elf membantu para manusia untuk mempertahankan kota, tapi jumlah mereka tetaplah tidak sebanding. Baik Thranduil maupun Bard, keduanya sangat bersedih menyaksikan semakin banyaknya korban berjatuhan. Mereka tidak mungkin memenangkan perang ini.
Bilbo dan Fili kini berada di bagian belakang kota. Tidak terlihat banyak musuh di sana, karena sebagian besar dari mereka menyerang bagian depan kota. Hanya beberapa orang yang tengah bersiap dan melakukan serangan dari sana.
Tiba-tiba seseorang datang dengan seekor kuda. "Gandalf!" Teriaknya.
Gandalf segera menoleh. "Legolas greenleaf."
"Azog telah menyiapkan pasukan kedua. Bolg memimpin pasukan Gundabad dan mereka hampir tiba di sini." Ujar Legolas tergesa.
"Rupanya ini rencana mereka selama ini. Mereka akan tiba dari Utara." Gandalf terlihat khawatir.
"Utara? Di mana utara?" Tanya Fili dan Bilbo bersamaan.
"Di sana, di Ravenhill." Jawab Gandalf membuat keduanya tercengang.
"Thorin di atas sana! Aku melihatnya tadi. Dia pergi bersama Dwalin dan Kili." Ujar Bilbo panik.
"Oh, tidak! Kita harus ke sana. Kita harus memperingatkan mereka!" Fili berniat pergi tapi Gandalf mencegahnya.
"Pergi seorang diri? Lihatlah betapa banyak musuh disini! Mereka akan menangkapmu sebelum tiba di Ravenhill!" Gandalf menggerutu.
"Ada jalan rahasia. Jalan pintas di bawah gunung yang terhubung ke salah satu menara di sana. Aku tidak akan melewati area perang, dan semuanya akan baik-baik saja." Fili berusaha meyakinkan Gandalf.
"Dan dia tidak sendiri. Aku akan pergi dengannya, Gandalf." Ujar Bilbo disambut senyuman Fili.
"Tidak! Aku tidak mengijinkanmu, Bilbo Baggins."
"Aku tidak meminta ijin dari siapapun. Kami akan tiba di sana dengan selamat. Percayalah, Gandalf!" Bilbo terus membujuk Gandalf, hingga dengan berat hati penyihir itu akhirnya mengangguk setuju.
Dengan sedikit bantuan, Fili berhasil menaiki seekor kuda diikuti Bilbo yang duduk di belakangnya. Mereka melaju cepat, sementara Gandalf menatap kepergian mereka dengan penuh harap. "Semoga mereka selamat."
-oOo-
Bilbo mengendap-endap di dalam gua di salah satu menara Ravenhill. Fili mengikutinya dengan sedikit tertatih karena luka di kakinya. Keduanya memeriksa sekitar, tapi tidak terlihat apapun selain Thorin, Dwalin dan Kili yang berada cukup jauh di sebrang mereka. Mereka tengah bertarung dengan puluhan Goblin tersisa, tapi tidak ada tanda-tanda keberadaan Azog ataupun Bolg.
Merasa aman, kduanya lalu saling menatap dan mengangguk. Baru saja mereka keluar dari persembunyian, terdengar derap langkah yang bergema di sekitar menara. Suara itu semakin dekat membuat keduanya panik dan ketakutan.
"Oh, tidak!" Desah Bilbo.
"Lari Bilbo, lari!"
"Tapi kau-"
"Aku hanya akan memperlambatmu. Cepat!"
Fili mendorong tubuh Bilbo yang segera berlari menuruni menara. Kedua tangannya menggenggam erat pedang kembar, bersiap untuk serangan apapun yang terjadi.
..
"Thorin! Thorin!" Teriak Bilbo dari kejauhan. Sudah tidak terlihat lagi Goblin di sekitar mereka.
Thorin menoleh, mendapati Bilbo yang tengah berlari di sungai beku. "Bilbo! Apa yang kau lakukan di sini?"
"Thorin. Azog membawa pasukan kedua dari Gundabad. Mereka akan segera tiba!" Ujar Bilbo dengan nafas terengah.
"Jadi ini adalah jebakan." Dwalin mengutuk.
"Ya, dan- dan- ah, Fili! Fili kau di mana?" Bilbo menatap sekitarnya tapi Fili tidak di sana.
"Fili? Dia bersamamu?" Tanya Kili yang merasa senang sekaligus cemas.
"Ya, tapi- Aku harus kembali ke menara. Dia mungkin saja ter-"
Sebelum Bilbo berhasil pergi, Thorin segera menarik tangannya. "Tidak! Itu terlalu berbahaya. Aku pergi bersamamu."
"Biar aku saja, Thorin." Ujar Kili.
"Tidak! Kalian tetap di sini, mereka akan segera tiba! Sekarang kalian bersiap-siap dan- uh, kalian harus bersembunyi."
"Bersembunyi? Lalu bagaimana dengan Fili? Kau tidak mungkin menyelamatkannya sendiri. Mereka akan menangkapmu." Thorin membentak khawatir.
"Thorin, please. Mengertilah! Azog mengincarmu. Kalian hanya perlu bersembunyi lalu aku akan membawa Fili kembali. Percayalah!"
Thorin terdiam sejenak mendengar ucapan Bilbo. Ucapan yang sering di degarnya dulu, sebelum semua kekacauan itu terjadi. Dengan rasa khawatir yang masih tersirat, Thorin akhirnya mengangguk dan pergi bersembunyi bersama Dwalin dan Kili.
-oOo-
Fili membuka mata dan mengejapkannya berkali-kali. Dia berusaha menyempurnakan kesadarannya yang sempat hilang beberapa saat. Kepalanya terasa berdenyut dengan luka berdarah di pelipisnya, sementara tubuhnya masih telungkup di atas bebatuan.
Perlahan Dia bangkit, meraih pedang kembarnya yang tergeletak tak jauh dari sana. Namun tiba-tiba sebuah tendangan keras mendarat di punggungnya membuat dia kembali tersungkur. Darah segar membasahi batu batu di depannya sesaat setelah benturan keras itu terjadi. Pandangannya mengabur, tapi cukup baik untuk bisa melihat keadaan di sekitarnya.
Sesosok mahluk raksasa berkulit pucat terlihat jelas ketika Fili berhasil membalikkan posisi tubuhnya -Azog!
"Hmm. Aku tidak pernah tahu jika Oakenshield mempunyai pangeran mahkota secantik ini." Tawa Azog terdengar menggelegar, diikuti tawa beberapa orc di belakangnya.
Fili masih terdiam, tak berani mengeluarkan sedikitpun suara. Bibirnya seakan terkunci, rasa takutnya semakin memuncak saat mahluk itu mendekat.
"Di mana Oakenshield?" Tanya Azog seraya mencondongkan tubuhnya untuk menatap wajah Dwarf terluka di depannya.
Fili menggeleng. Tentu saja dia tidak tahu, bahkan dia tidak tahu di mana tempatnya berada sekarang. Apakah masih di tempat semula, atau di tempat lain yang jauh dari semua orang? Dia benar-benar menyesal. Jika saja tadi dia berlari lebih cepat dan tidak bertarung, mungkin para orc keparat itu tidak akan menangkapnya.
Merasa kesal karena pertanyaannya tidak dijawab, Azog kemudian meraih rambut pirang yang kini dihiasi bercak bercak merah. Ditariknya kuat-kuat rambut itu hingga pemiliknya mengerang kesakitan. "Aku akan mempercepat kematianmu jika kau menuruti apa yang ku inginkan."
"Aku- ah. Aku tidak tahu. Aku tidak bersamanya." Fili akhirnya membuka suara, namun Azog tetap tidak mempercayainya.
"Baiklah. Kurasa kau akan menyukai ini." Azog menyeringai. Dilepaskannya rambut Fili hingga Dwarf pirang itu kembali terhempas.
Fili berusaha bangkit, namun tangan besar Azog lebih dulu menggenggam lehernya. Genggaman itu semakin mengetat hingga dia mulai merasa sesak dan terbatuk.
"Aku tidak ingin kau mati terlalu cepat. Hmm." Gumam Azog sambil melepaskan cekikannya. Dia lalu mendekat dan menjilat leher pucat Fili yang berkeringat. Tatapannya berubah buas, seakan ingin menelanjangi tubuh mungil nan lemah itu.
Tiba-tiba terdengar suara derap langkah ratusan kaki di bawah menara. Azog melepaskan mangsanya sejenak, lalu memeriksa apa yang terjadi. Terlihat Bolg bersama pasukannya yang baru saja tiba dan mulai menghambur, memenuhi tempat itu. Juga Thorin dan dua Dwarf lain yang kini tengah bertarung dengan mereka. Keluar dari persembunyiannya.
Azog menyeringai. Tentu saja Oakenshield akan masuk ke dalam perangkapnya. Dia lalu berniat pergi untuk menghadapi Thorin, tanpa melupakan mangsanya. "Kalian boleh bermain-main dengannya, tapi pastikan dia tidak mati sebelum aku kembali."
Ke 6 orc bersorak, sementara Fili hanya bisa memejamkan mata saat tangan-tangan menjijikan itu menyentuh tubuhnya. Walaupun jumlah mereka hanya 6, tapi dia tidak mungkin melawan dalam keadaan tanpa senjata dan terluka. Tendangan maupun pukulan lemahnya bukan masalah besar bagi mereka. Hingga untuk pertama kali dalam hidupnya, Fili berfikir bahwa mati merupakan pilihan terbaik.
Tiba-tiba terdengar suara teriakan di dekatnya, membuat Fili tersentak dan membuka mata. Tanpa penyebab yang jelas, salah satu dari keenam orc terjatuh dan mati dengan darah hitam mengalir dari dadanya. Semua yang ada di sana kebingungan, dan kebingungan itu bertambah saat satu persatu dari mereka merasakan tusukan tak kasat mata yang sama pada tubuhnya.
Kejadian itu sangat cepat. Semua orc yang ada di sana telah mati, tapi Fili tetap saja ketakutan. Apa yang baru saja terjadi? Batinnya. Dia merangkak sekuat tenaga, berharap bisa pergi dari tempat itu.
"Fili!" Suara tak asing itu terdengar, seiring kesadarannya yang menghilang.
.
.
TO BE CONTINUED
.
.
Note : Hello guys! Seperti biasa, Roth mengucapkan terimakasih banyak buat kalian yang setia baca dan review. Karena fic ini bukan apa apa tanpa kalian *kiss*
Untuk chapter ini, Roth sedikit bingung karena ingin merubah sebagian besar kejadian di film dan menghindari kematian para karakter. Jadi mohon maaf apabila banyak kesalahan, dan banyak hal yang kurang masuk akal *sungkem*
Di sini juga sengaja gak mencantumkan Tauriel, karena tanpa dia pun ceritanya masih bisa jalan *alesan* XD kalau Legolas? Tadinya juga gak akan diajak, tapi terpaksa karena cuma dia yang bisa ngasih tahu rencana kedatangan pasukan Gundabad. Dan mungkin lain kali bisa bantu-bantu (?)
Chapter selanjutnya masih tentang perang yang menonjolkan karakter Fili dan Bilbo. Well, aku bener bener cinta sama dua imut itu :3
See ya ^^
