Disclaimer : The Hobbit © J.J.R. Tolkien

.

Warning : Alternate reality, multi pairing, Slash, INCEST, boy x boy, gay, everyone is gay!, typo, dll ^^

BIG WARNING! : Chapter ini mengandung adegan kekerasan, kekejaman, pembunuhan, sadis, gore, konten dewasa, dll.

Mohon tekan tombol back jika tidak terbiasa dengan hal tersebut. Bagi yang sudah membaca, baca juga note di bawah ya! ^^

.

.

.

Thorin mengerahkan seluruh tenaganya untuk menghalau serangan para orc Gundabad. Sebagian besar dari mereka memenuhi medan perang, namun tak sedikit pula yang melancarkan serangannya di Ravenhill. Azog sengaja menyibukkan Dwalin juga Kili, membawa mereka ke tempat yang jauh, sehingga dia akan lebih leluasa menghabisi mangsanya.

Azog menyeringai. Gigi-gigi runcingnya gemeretak, menahan keinginan untuk segera menghabisi Oakenshield. Dia bisa saja menyerang dan memenggal kepalanya dengan bantuan semua orc itu, tapi tidak! Sedikit bersabar mungkin akan membuahkan hasil yang lebih memuaskan. Tidak akan ada kematian yang lebih buruk dari pada kematian orang yang telah menghilangkan satu tangannya. Itu janjinya.

Sejenak, Azog menatap menara tempatnya meninggalkan Fili. Dia tertawa kecil, membayangkan bagaimana nasib Dwarf itu saat para orc melucuti seluruh pakaiannya, menikmatinya lalu mencampakkannya bagaikan sampah. Selanjutnya Dwarf pirang itu akan merasakan penderitaan terbesar, saat tubuh mungilnya menggelepar tak berdaya di bawah guncangan Azog 'the defiler'.

.

"Seluruh pasukan telah memenuhi medan perang. Kemenangan pasti menjadi milik kita." Ujar suara yang muncul tiba-tiba dan membuyarkan lamunannya- Bolg.

Azog tak menjawab, namun tersenyum puas. Perhatiannya kembali tersita oleh Thorin yang nyaris kehabisan lawan. Dwarf itu memang tangguh, batinnya.

"Biarkan aku mengahabisinya!" Ujar Bolg sambil bersiap untuk melangkah.

"Tidak! Dia harus mati ditanganku. Kau boleh mengambil pangerannya." Cegah Azog.

Bolg mendelik kesal. "Baiklah. Di mana yang berambut pirang?"

"Bodoh! Dia sudah tak berdaya, dan kau tidak bisa menyentuhnya. Dia milikku!"

Bolg mendengus kecewa namun tak berani menentang. Satu matanya memindai jauh, mendapati Kili dan Dwalin yang tengah sibuk bertarung di antara bangunan hancur.

Dia mengingatnya. Dwarf muda berambut gelap itu pernah merasakan panahnya beberapa waktu lalu. Dan tentu saja dia jauh lebih kuat dan lebih menarik dari saudara pirangnya. Bolg menyeringai, sebelum akhirnya melangkah menuju mangsanya.

Sepeninggal Bolg, Azog kembali memperhatikan Thorin yang tengah bertarung di sungai beku. Hanya tinggal beberapa orc di sana, tapi dia harus tetap bersabar. Menunggu saat yang tepat untuk benar-benar berhadapan dengan musuh terbesarnya.

-oOo-

Kili yang tengah kewalahan menghalau serangan banyak orc, tiba-tiba tersungkur saat sebuah benda keras menghantam tengguknya. Dia mengerang kesakitan, tapi berusaha untuk tetap mempertahankan kesadarannya yang nyaris hilang.

Sepasang kaki raksasa menghalangi pandangannya, memaksanya untuk mendongak dan mendapati sosok yang pernah ia temui. Sosok yang kembali menghadirkan sengatan rasa sakit di kaki kanannya.

"Aku tidak menyangka kau bisa bertahan dari panah beracun itu." Bolg mencondongkan tubuhnya, menatap wajah pucat Dwarf berambut gelap itu.

Kili berusaha bangkit, namun Bolg yang sigap segera menendangnya hingga ia jatuh terlentang. Tak ingin mangsanya pergi, Bolg kemudian menginjakkan salah satu kaki di dada mangsanya dengan tekanan rendah. Biar bagaimanapun dia tidak ingin meremukkan tubuh mungil itu.

"Kili!" Teriak Dwalin dari kejauhan. Konsentrasinya dalam menghadapi musuh membuat dia nyaris melupakan Kili. Dengan bersusah payah, Dwalin berusaha lolos dari kerumuna orc, namun gagal. Jumlah mereka terlalu banyak dan dia hanya bisa berteriak geram. "Lepaskan dia! Hadapi aku!"

"Kau fikir aku tertarik padamu?" Bolg tertawa, kemudian memerintahkan seluruh orc tersisa untuk menyerang Dwalin dan membawanya lebih jauh.

Kini, yang tersisa hanya tinggal mereka berdua-Bolg dan mangsa cantiknya.

"Kita lihat, apakah kau sama seperti saudaramu? Lemah, tak berdaya, hidup dalam belas kasihan kami." Ejek Bolg.

Mendengar itu, Kili meronta. Dia tidak mungkin membiarkan Fili menghadapi mereka sendirian. "Jangan pernah menyentuhnya sedikitpun! Atau kalian akan tahu akibatnya!"

"Akibat apa, hah? Tunjukkan padaku!" Hardik Bolg sambil menyingkirkan kakinya dari tubuh Kili.

Dengan sedikit limbung, kili bangkit dan memungut pedangnya. Dia lalu mengibas-ngibas pedang itu, berharap bisa menebas kepala Bolg. Sayangnya tak ada satu seranganpun yang berhasil. Mahluk itu terlalu besar untuknya.

Melihat nyali Dwarf cantiknya semakin menciut, Bolg segera melakukan serangan. Hanya beberapa ayunan saja, pedangnya berhasil melukai salah satu bahu Kili. Dia benar-benar tidak memberi kesempatan untuk mangsanya melakukan perlawanan. Serangan brutal terus ia lakukan hingga mangsanya tak bisa berkutik.

Kili mengerang, nyaris berteriak saat tubuhnya kembali menumbuk bebatuan. Perutnya terasa mual, membuatnya tidak bisa menghentikan laju darah yang telah mencapai kerongkongan. Seluruh tubuhnya terasa hancur dengan darah berceceran di sekitarnya. Dia bahkan tidak sanggup lagi bangkit dan hanya terbaring tak berdaya di tempatnya.

Bolg mendekat, mengamati betapa menyedihkan dan tak berdayanya Dwarf mungil itu.

"Jadi hanya itu? Hmmm, apa yang harus ku lakukan sekarang? Menyelesaikanmu atau-" Bolg menjeda ucapannya seraya menyapukan lidah di bibir tebalnya. "Menikmatimu?"

Kili berusaha meronta saat mahluk raksasa itu mencengkram pakaiannya, lalu menyeret tubuhnya ke tempat yang lebih tersembunyi. Ketakutan terbesarnya kini terjadi dan tidak ada yang bisa menolongnya. Tidak ada, kecuali seseorang yang tengah bersembunyi di balik salah satu bangunan. Telunjuk menempel di bibirnya, mengisyaratkan untuk diam.

Kili merasa lega, namun ketakutan masih tetap membayanginya. Apa yang dilakukan Fili di sana? Mengapa dia memakai pakaian aneh? Dia tidak mungkin melawan Bolg sendirian dan dalam keadaan terluka. Lalu apa rencananya? Semua pertanyaan itu lenyap seketika, saat lengannya menyentuh sebuah belati. Dengan cepat Kili meraihnya, menyembunyikan benda itu di bawah tubuhnya tanpa sepengetahuan Bolg.

"Aku ragu jika kau masih berharap untuk hidup setelah ini." Gumam Bolg yang kemudian merangkak di atas tubuh Kili dan merobek paksa pakaiannya.

Sebelum mahluk menjijikan itu melakukan sesuatu yang lebih buruk, Kili segera menghujamkan belatinya di salah satu bahu Bolg yang bisa ia jangkau. Hujaman lemah, tapi cukup untuk membuat Bolg terlompat dan berteriak kesakitan.

Kili lalu beringsut dari sana, berusaha bangkit dan pergi namun segera dihentikan.

"Keparat kau!" Umpat Bolg yang segera mencengkram leher Kili. Dia tidak peduli lagi dengan hasratnya untuk menikmati tubuh mungil itu. Keinginannya saat ini hanya membunuhnya, memberikan balasan untuk kelancangannya.

"Lepaskan dia!" Teriak Fili yang muncul dari persembunyian.

Sejenak Bolg menghentikan aksinya, lalu menatap lekat Dwarf pirang terluka itu. Bagaimana bisa dia ada di sana? Tidak mungkin Azog melepaskannya begitu saja. Batinnya.

"Lepaskan dia, tangkap aku!" Tegas Fili.

"Tidak! Bunuh saja aku!" Kili beteriak tak setuju.

"Tidak! Kau boleh melakukan apapun padaku asal kau melepaskannya." Desak Fili.

Bolg menggeram, merasa di permainkan oleh dua bersaudara itu. Tanpa menghiraukan teriakan Fili, dia kembali mencekik Kili dan mengangkat tubuhnya tinggi-tinggi. "Akan ku habisi kalian ber-!"

Belum sempat Bolg menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba seseorang melompat dari atas bangunan dan menghujani tubuhnya dengan tusukan benda tajam. Orc raksasa itu meraung kesakitan, namun tidak melepaskan Kili dari genggamannya.

Melihat itu, Fili meraih busur dan beberapa anak panah yang sebelumnya dia sembunyikan. Tangannya gemetar. Biar bagaimanapun dia tidak pernah menggunakan panah atau semacamnya. Tapi dengan segala pertimbangan, Fili akhirnya melesatkan satu, dua hingga tiga anak panah lalu menutup matanya rapat-rapat .

Bagaimana jika panah itu mengenai Kili? Atau Bilbo? Atau keduanya? Segala macam pertanyaan berkecamuk, namun teriakan Bolg dan suara hantaman keras memaksanya untuk kembali membuka mata.

Bolg masih berdiri dengan dua anak panah di dadanya dan satu di lehernya. Sebelah matanya terbelalak, menggabungkan ekspresi terkejut dan ketakutan. Kili sudah tidak ada di tangannya sementara Bilbo masih menggelayut di punggungnya.

Sedetik kemudian, Bolg meloloskan erangan terakhir bersamaan dengan tubuhnya yang ambruk. Beruntung Bilbo mengambil posisi yang tepat, sehingga dia mendarat dengan selamat. Terlihat juga sebuah belati menancap di puncak kepala Bolg, seakan memberikan jawaban atas kematiannya.

Setelah yakin bahwa mahluk itu benar-benar tewas, Fili segera menggusur langkahnya ke arah Kili.

"Kili." Gumamnya seraya mendekap tubuh lemah adiknya. Sambil terisak, Fili membelai wajahnya yang dipenuhi luka. "Maafkan aku."

Kili tidak menjawab, tidak juga membuka mata. Dia hanya merintih lemah untuk mengisyaratkan bahwa dia baik-baik saja, meskipun kenyataannya tidak.

Bilbo menghampiri mereka dengan nafas terengah. "Mahluk itu sudah- mati."

"Ya Bilbo. Kau membunuhnya! Kau menyelamatkan kami untuk kesekian kali." Ujar Fili dengan bangga.

Bilbo tersenyum tipis sambil meletakan tangannya di kening Kili. "Sekarang kita harus menemukan Thorin. Azog pasti mengincarnya!"

Fili tertegun. Dia harus membantu Thorin, tapi tidak mungkin dia meninggalkan Kili dalam keadaan seperti ini.

"Fili?" Tanya Bilbo.

"Aku- aku tidak bisa pergi."

"Hey, apa yang kau katakan? Thorin membutuhkan kita!"

"Kili juga membutuhkanku."

"Dia aman di sini, Fili. Ayolah!"

"Tidak." Jawab Fili lagi membuat Bilbo geram.

"Baik! Jika sesuatu terjadi pada Thorin, kau akan menyesal!" Bilbo berlalu dengan kaki terhentak.

Fili merasa bersalah namun tetap pada keputusannya. Dia akan terus bersama Kili, apapun yang terjadi.

-oOo-

Bilbo berlari kecil bersama pedang bersinar di tangannya. Tubuhnya gemetar, rasa takut benar-benar mengalahkan rasa dingin di kaki telanjangnya. Dia tidak bisa melakukan ini sendirian, tapi dia juga tidak mempunyai pilihan lain.

Dengan segenap keberanian, dia melangkahkan kaki di sungai beku. 'Untuk Thorin!' gumamnya.

.

Di tempat itu, Thorin tengah meronta di bawah kaki raksasa Azog. Tangannya berusaha menggapai pedang yang tergeletak jauh, namun gagal. Dia tampak tak berdaya walaupun terus berusaha melepaskan diri. Pijakan kaki Azog di dadanya yang semakin kuat membuatnya nyaris tak bisa bernafas.

Tanpa Azog sadari, Bilbo telah berdiri di belakangnya; bersiap untuk melakukan serangan. Dihantamkannya Sting pada tubuh Azog, membuat orc pucat itu terlompat kesakitan. Keadaan itu di manfaatkan Thorin yang segera bangkit dan meraih pedangnya.

"Mahluk kecil keparat!" Umpat Azog seraya mendaratkan tendangannya pada Bilbo. Tendangan yang sangat keras, membuat tubuh Hobbit itu terlempar.

"Jangan sentuh dia!" Teriak Thorin sambil berusaha berlari dengan kedua kakinya yang terluka.

Merasa belum puas, Azog menghampiri Bilbo yang sudah tak sadarkan diri lalu melayangkan pedang bercabangnya.

"Tidak!" Thorin berusaha menghentikan Azog dengan serangannya, namun terlambat. Pedang itu telah lebih dahulu mencapai Hobbit malangnya.

Seketika itu juga Thorin terpaku, berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi. Azog, musuh terbesarnya, telah menghabisi nyawa orang-orang yang sangat ia cintai. Kakeknya, Ayahnya, dan sekarang- Bilbo?

Perasaan hancurnya membuat Thorin bagaikan kehilangan seluruh kekuatan. Dengan sangat mudah, Azog menerjang tubuhnya hingga dia kembali terkapar. Beruntung, akal sehatnya segera kembali sehingga dia bisa menahan pedang bercabang Azog dengan pedangnya.

Keduanya saling menekan senjata masing-masing namun tentu saja Azog jauh lebih kuat. Perlahan tapi pasti, ujung pedang itu bergerak semakin dekat dengan Thorin.

"Inilah akhir hidupmu, Oakenshield." Teriak Azog seraya menghujamkan pedang bercabangnya dengan kekuatan penuh. Orc pucat itu tertawa lepas saat pedangnya berhasil menancap di perut Thorin. Namun tawa itu pudar seketika saat pedang lain menusuknya dari belakang.

Dengan pedang masih tersemat di punggungnya, Azog segera bangkit dan terhuyung. Matanya terbelalak tak percaya saat mendapati sosok Dwarf pirang, dan saudaranya yang tengah terbaring di sebelah Hobbit. Belum reda rasa terkejutnya, Azog kembali dikejutkan oleh segerombol elang raksasa yang beterbangan menuju medan perang.

Fili tertegun, namun tetap waspada. Ditatapnya wajah Azog yang memancarkan rasa takut dan kebencian. Orc pucat itu mendekat, namun tiba-tiba ambruk dan jatuh berlutut dengan nafas tersenggal. Hal itu menghadirkan kelegaan luar biasa di hati Fili, tanpa sedikitpun menaruh curiga akan kelicikan mahluk di depannya.

Azog yang memanfaatkan kelengahan mangsanya, segera menerjang secepat kilat. Fili terkejut dan tak sempat menghindar. Dia hanya memekik saat tubuhnya kembali terkapar di bawah tubuh besar Azog. Semuanya begitu cepat. Pedang di tangan Azog menembus perutnya dengan mudah, menekannya semakin dalam hingga dia menjerit tak berdaya.

Di belakang mereka, Thorin melangkah gontai dengan sisa tenaganya. Dia lalu berusaha menjerat leher Azog dengan pakaiannya. Ditariknya kain itu sekuat tenaga hingga Azog kehilangan keseimbangan dan jatuh terjungkal. Pedang yang semula tertancap di punggungnya perlahan menembus keluar dari dadanya, membuat dia tak bisa berkutik namun menyerah pada kematian.

Thorin berusaha berdiri dengan tatapan terlontar jauh ke medan perang. Suara terompet kemenangan bergema, mengguratkan senyuman di antara nafasnya yang mulai tersenggal. Dia lalu ambruk, merangkak menuju keponakan tertuanya yang tengah berjuang untuk tetap mendapatkan pasokan udara. Dia tampak ingin mengatakan sesuatu, namun hanya rintihan lemah yang terdengar.

Thorin membelai rambut pirang berdarahnya, berusaha memberikan sedikit kenyamanan sebelum dia kembali merangkak menuju Kili dan melakukan hal yang sama. Dia tidak sanggup lagi bergerak lebih jauh, namun tidak melupakan Bilbo. Ditatapnya wajah damai Hobbit itu beberapa saat, hingga dia menyadari bahwa Bilbo masih bernafas.

Thorin mengerjapkan mata berkali-kali, mencoba memfokuskan pandangannya yang semakin mengabur. Semua ini bukan mimpi, semua ini nyata. Kemenangan perang, kematian Azog, juga kedatangan para elang bersama Gandalf.

Matanya terpejam, dengan senyuman tipis di wajahnya.

.

.

TO BE CONTINUED

.

.

Note : Akhirnya perang selesai! *jingkrak jingkrak*

Seperti di chapter sebelumnya, di sini juga terjadi banyak perubahan. Latar tempat hanya di Ravenhill, karena memang ceritanya dipusatkan pada 3 Dwarf, Bilbo, juga kedua musuhnya -Azog dan Bolg. Dwalin pun hanya muncul sebagai pemanis, tanpa peran lebih untuk penyelamatan.

Untuk tempat, mohon maaf karena Roth gak bisa memberi keterangan secara detail. Pertama, karena ini hasil imaginasi liar XD kedua, karena udah lama gak nonton filmnya. Jadi, gunakan imaginasi kalian juga ya! 'Sungai beku itu terletak di antara menara tempat Fili di tangkap, dan bangunan-bangunan tempat Kili dan Dwalin bertarung.'

Untuk senjata, di sini Bolg menggunakan pedang, sementara Azog hanya memanfaatkan pedang bercabang yang menancap di tangannya. Kalau para karakter utama, mereka memanfaatkan apapun yang ada di sekitar. (Pedang, panah, belati, kain, dll).

Tentang bagaimana caranya Fili bisa ada di bangunan tempat Kili di tangkap, Roth juga sedikit bingung. Kalau dia jalan kaki dari menara tadi sama Bilbo yang pakai cincin, mungkin dia akan ketangkap sama Azog yang ada di sungai beku. Tapi lebih gak masuk akal lagi kalau Fili ikut ngilang karena dituntun Bilbo yang pakai cincin. WTF! Jadi, kembali ke pilihan pertama dengan tambahan bahwa Fili menyamar sebagai orc. Ok, itu salah satu dari sekian banyak plot hole.

Kalau untuk kekuatan seseorang bertahan hidup, itu disesuaikan aja ya. Azog dan Bolg memang sengaja dibuat lebih kuat karena mereka Orc raksasa. Sementara para karakter utama, mereka bertahan lama karena tidak mengalami luka pada bagian fatal. Jadi Roth milih tusukan di abdomen untuk Thorin dan Fili, karena sering lihat di film pembunuhan kalau luka di sana akan membuat seseorang bertahan lebih lama.

Untuk kelanjutannya, kemungkinan akan di kemas dalam satu atau dua chapter penutup, tergantung inspirasi ^^ Jika ada pertanyaan, feel free to PM! :)

Mohon maaf lahir batin apabila banyak kesalahan, baik dalam penulisan atau jalan cerita. Yeah, harus diakui kalau chapter ini sangat panjang dan agak 'kotor'. Alur, latar tempat, waktu, dan lainnya juga berantakan T_T

Semoga kalian suka dan sanggup menghadapi fantasi gila lainnya ^^ See ya! ❤