Disclaimer : The Hobbit © J.J.R. Tolkien

.

Warning : Alternate reality, multi pairing, Slash, INCEST, boy x boy, gay, typo, dll ^^

.

.

.

.

Gemuruh air terjun dan kicauan burung mengiringi kesadaran Bilbo. Perlahan matanya terbuka, menampakkan sebuah ruangan berwarna dasar putih yang berubah keemasan karena cahaya matahari. Suasananya teramat sunyi, membuat Bilbo sedikit ketakutan. Di mana ini? Gumamnya dalam hati.

"Di Rivendell." Jawab seseorang yang ternyata sejak tadi duduk di sampingnya.

Bilbo berusaha bangkit lalu duduk di tempat tidurnya. "Gandalf. Apa yang terjadi?"

"Semuanya baik-baik saja." Jawab Gandalf singkat.

Bilbo terdiam sejenak, berfikir keras dengan kedua alis tertaut. Dia benar-benar tidak mengingat apapun kecuali saat tubuhnya melayang dalam genggaman elang raksasa. Kepalanya terasa berat, tapi dia tetap berusaha menggabungkan serpihan memori tentang kejadian yang dia alami sebelumnya.

"Apa kau mengingat perang itu?" Tanya Gandalf yang merasa iba melihat temannya kebingungan.

Bilbo tertegun. Perlahan suara bising itu mendenging di telinganya. Suara teriakan, suara hantaman senjata, suara peperangan, dan kini suara gemeletuk giginya yang beradu karena gemetar. Dia benar-benar merasa ketakutan atas semua ingatannya tentang perang itu. Wajahnya pucat pasi, dan dia tidak bisa menahan isakannya.

"Kau beruntung Bilbo Baggins. Aku tidak tahu apakah kau akan selamat jika Mithril itu tidak ada dalam pakaianmu."

Bilbo menghentikan isakannya, lalu meraba mithril yang masih melekat di tubuhnya. "Gandalf, apa yang terjadi setelah berperang? Bagaimana dengan-"

"Fili dan Kili? Mereka selamat, tapi sayangnya tidak seberuntung dirimu." Potong Gandalf.

Bilbo terdiam sejenak, mengingat kembali saat terakhir dia bertemu dengan kedua pangeran itu. Kili terluka parah dan Fili? Dia menolak untuk membantu Thorin.

"Uhm, bolehkah aku menemui mereka?"

"Tentu." Jawab Gandalf seraya bangkit dari duduknya.

..

Tiba di ruang penyembuhan, Bilbo mendapati kedua pangeran tengah terlelap di sebuah tempat tidur berukuran besar. Dia melangkah perlahan, mencoba mendekat tanpa membangunkan mereka.

Tiba-tiba Kili mengerang dan membuka matanya. "Bilbo?"

"Uh, Kili. Aku- aku tidak bermaksud membangunkanmu."

"Tidak masalah. Aku tidur terlalu lama." Kili bangkit dan duduk bersandar di tempat tidurnya.

"Bagaimana dengan Fili?"

Kili membelai rambut kakaknya yang tergerai. "Dia sudah sadar, tapi masih sangat lemah. Kita hampir kehilangannya."

Bilbo menatapnya sedih. "Aku harap dia segera pulih."

"Oh ya, aku hampir lupa. Bagaimana keadaanmu?"

"Baik. Aku sangat baik. Ehm, Kili? Apa kau tahu di mana Thorin?" Tanya Bilbo gugup.

"Kamarnya ada di ujung sana, dekat pohon besar. Kau hanya perlu berjalan lurus dari sini."

"Baiklah. Terimakasih." Bilbo bangkit lalu berpamitan pada Kili.

-oOo-

Thorin tengah duduk sambil memandangi jendela kecil di ruangannya. Tubuhnya terbalut perban, sementara kedua kakinya bersembunyi dalam balutan selimut tebal. Sudah sejak pagi dia melakukannya; memandangi sesuatu yang entah apa di luar sana. Nafasnya tampak berat namun cukup stabil untuk seseorang yang belum sepenuhnya pulih.

Terdengar suara ketukan dari luar, membuatnya mendesah jenuh. "Masuk."

Thorin telah mempersiapkan diri untuk menerima nasihat dan paksaan untuk menelan ramuan obat dari para Elf itu. Tapi wajahnya tiba-tiba berseri saat pintu terbuka, dan menampakkan seseorang yang dikenalnya.

"Thorin." Gumam Bilbo. Kebahagiaan terpancar jelas di wajahnya saat dia kembali melihat Thorin. "Bagaimana keadaanmu?"

Thorin tidak menjawab, tidak juga beranjak dari tempat tidurnya. Dia hanya tersenyum sambil merentangkan tangannya, mempersilahkan Bilbo untuk memeluknya.

Bilbo terdiam sejenak, namun segera berlari kecil menuju Thorin. Dengan perasaan bahagia yang meluap-luap, dia memeluk erat tubuh Thorin. Keduanya tidak saling bicara, hanya mengeratkan pelukan hangat masing-masing.

"AH!" Tiba-tiba Thorin memekik saat lukanya tertekan tanpa sengaja.

"Oh tidak!" Bilbo melepaskan pelukannya lalu mundur. "Maafkan aku. Aku lupa dengan lukamu."

Thorin tersenyum. "Tidak masalah. Naiklah!"

Bilbo merangkak ke atas tempat tidur lalu duduk di samping Thorin. "Aku sangat mengkhawatirkanmu."

"Begitupun aku. Kau tidur terlalu lama."

"Benarkah? Uhm, berapa lama?"

"Setidaknya tiga hari setelah perang itu."

Bilbo tertegun, menyadari betapa lamanya dia tertidur. Entah benar-benar tidur atau apa, yang pasti dia tidak mengingat apapun selama itu.

Thorin menghela nafas, lalu menarik Bilbo ke depannya hingga mereka berhadapan. Tangannya menggenggam erat tangan Bilbo, lalu di kecupnya tangan itu secara bergantian. "Aku hampir kehilanganmu."

"Uh? Maksudmu? Aku baik-baik saja sung-" Ucapan Bilbo terhenti saat Thorin mengecup bibirnya.

"Saat itu aku hampir terbunuh, tapi tiba-tiba kau datang dan menyerang Azog. Kau menyelamatkanku." Thorin menjeda ucapannya seraya mengecup kening Bilbo.

"Lalu?" Tanya Bilbo gugup.

"Lalu mahluk keparat itu melemparmu- tubuh mungilmu. Dan kau tak sadarkan diri. Betapa bodohnya aku karena tidak bisa lebih cepat, dan kau- Azog menghujamkan pedangnya padamu. Rasanya aku sudah mati saat itu juga." Lanjut Thorin dengan sedikit gemetar.

"Hmm, kau melupakan mithril pemberianmu?"

"Ya, aku tidak mengingatnya sama sekali. Aku hanya berfikir bahwa kau- akan meninggalkanku selamanya."

"Tentu saja tidak Thorin. Aku akan selalu bersamamu, apapun yang terjadi."

Thorin tersenyum lalu menarik Bilbo ke pelukannya. "Selanjutnya, Azog kembali menyerangku. Dia berhasil menghujamkan pedangnya padaku, tapi tidak lama. Fili datang bersama Kili yang sekarat. Dia melakukan hal yang sama sepertimu- menyelamatkanku. Tapi dia harus terluka karena itu. Oh, dia hampir mati. Aku bahkan tidak sanggup membayangkannya." Thorin mulai terisak dan membenamkan wajahnya di tengguk Bilbo.

Bilbo melepaskan pelukannya perlahan, lalu berusaha mengunci tatapannya dengan Thorin. "Sssshhh. Tenanglah! Sekarang semuanya baik-baik saja. Kita semua selamat, Thorin. Dan- dan kau sudah kembali seperti dulu. Bukan lagi Thorin yang berniat melemparku dari atas benteng."

Thorin tertegun, lalu menatap sedih. "Maafkan aku! Aku benar-benar tidak menyadarinya. Kau boleh menghukumku dengan cara apapun!"

Bilbo tertawa. "Sungguh? Hmm baiklah, baiklah. Tutup matamu!"

Tanpa menyela, Thorin segera memejamkan mata. Jantungnya berdegup kencang, menunggu apa yang akan dilakukan Bilbo. Bibirnya tersenyum tipis seolah telah mengetahui apa yang akan terjadi.

Tiba-tiba Thorin memekik merasakan tamparan keras di wajahnya. Dia segera membuka mata lalu menatap sinis Hobbit di depannya. "Bilbo, kau?"

"Kau memintaku menghukummu kan?" Bilbo tersenyuman nakal.

Thorin tertawa, hingga tiba-tiba dia mendorong tubuh Bilbo, membuatnya terhempas.

"Thorin, apa yang-" Bilbo merengek. Dia berusaha melepaskan diri namun Thorin segera merangkak di atas tubuhnya, dan mengunci kedua pergelangan tangannya.

"Kau juga harus di hukum, tuan pencuri." Bisik Thorin seraya menyumpal bibir Bilbo dengan bibirnya.

Bilbo meronta hingga ciuman mereka terlepas. "Uh- Sudah ku katakan bahwa Arkenstone itu-"

"Bukan- bukan Arkenstone yang kau curi. Tapi- mmm hatiku."

Mendengar itu, tubuh Bilbo seketika lemas. Rasa panas menyebar di wajahnya, hingga dia tidak bisa membayangkan betapa merahnya wajahnya saat itu.

-oOo-

Pagi yang cerah. Fili membuka mata perlahan, menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam retinanya. Pandangannya yang buram terasa semakin jelas, hingga dia menyadari bahwa dia berada di sebuah kamar. Bukan kamarnya di Erebor, apa lagi di Ered Luin. Ini terlihat seperti kamar asing dengan interior aneh bagi para Dwarf.

Dia lalu menyapukan pandangannya ke sekitar, hingga melihat Kili yang tengah terlelap di sampingnya. Dia juga baru menyadari akan suara dengkuran lembut khas adiknya, yang sebenarnya sudah terdengar sejak tadi. Fili menatapnya sejenak, lalu mengguncang lemah wajah Kili yang segera tersentak.

"Ah! Fee? Kau-" Kili segera bangkit. "Syukurlah kau sadar. Apa kau ingin sesuatu?" Lanjutnya.

Fili mengangguk, lalu berbisik. "Air-"

Kili segera melompat dari tempat tidur lalu meraih air yang terletak di sebuah meja kecil. Dia lalu membantu Fili meminum air itu sedikit demi seikit.

Setelah dirasa cukup, Fili kembali berbaring. Dia lalu meraba perutnya, merasakan rasa sakit luar biasa saat dia bangkit tadi.

"Apa kau perlu sesuatu sekarang, Fee?"

"Tidak. Aku hanya perlu berbaring. Kau baik-baik saja, Kee?"

"Tentu." Jawab Kili singkat. Dia lalu berbaring dan mendekap tubuh lemah Fili.

"Di mana kita?"

"Rivendell. Kau mengingatnya?"

Fili mengangguk. "Bagaimana para Elf bisa membiarkan kita tinggal di sini?"

"Entahlah, mungkin karena Gandalf atau karena mereka merasa kasihan pada kita."

.

"Menolong sesama mahluk hidup adalah tugas kami." Ujar seseorang yang tiba-tiba memasuki ruangan mereka.

Keduanya terperanjat. Kili segera bangkit, sementara Fili hanya berbaring dengan perasaan gugup.

"Uhm, maafkan kami. Kami tidak bermaksud apapun, sungguh." Ujar Kili.

Elrond tersenyum. "Aku yang harus memina maaf karena masuk tanpa memberitahu kalian. Hanya ingin memeriksa keadaan pangeran Fili."

Dengan beberapa Elf perawat di belakangnya, Elrond memeriksa luka di tubuh Fili. Mereka lalu meracik tanaman obat dan meminumkannya segera.

"Lukamu akan segera pulih karena sekarang kau sudah bisa menelan ramuan." Ujar Elrond ramah.

Fili hanya bisa tersenyum tanpa banyak bergerak. "Terimakasih banyak."

"Perban di tubuhmu harus segera di ganti, tapi lebih baik saudaramu yang melakukannya. Apa kau tidak keberatan pangeran Kili?" Elrond mengalihkan tatapannya pada Kili.

"Tentu saja tidak."

"Baiklah. Aku harus pergi."

Keduanya tersenyum saat Elrond dan yang lainnya berlalu.

"Fee, aku harus mengganti perbanmu. Kau siap?" Tanya Kili memastikan.

"Ya, ya. Aku akan mencoba." Fili segera bangkit dengan bantuan Kili. Dia lalu menyandarkan kepalanya di tepi ranjang dan membiarkan Kili mengerjakan semuanya.

Setelah selesai, keduanya kembali berbaring. Kili mendekap tubuh kakaknya, berusaha memberikan kenyamanan.

"Bagaimana perasaanmu sekarang?" Tanya Kili sambil mengusap punggung Fili.

"Jauh lebih baik. Kau sendiri? Terakhir melihatmu, kau sangat mengkhawatirkan, Kee." Fili membenamkan wajahnya di dada Kili, berusaha membuang semua rasa takut yang dihadirkan ingatannya.

"Jangan khawatirkan aku, aku baik-baik saja, sungguh. Tapi bukan itu maksudku. Kau ingat? Sebelum berperang kau sangat marah padaku. Apakah kau masih marah?"

Fili mengangkat wajahnya. "Tidak. Bagaimana bisa aku marah padamu?"

Kili tersenyum lalu mengecup kening Fili. "Aku mencintaimu, Fee."

"Aku juga." Fili mendongak, membuat bibir mereka menyatu.

Tiba-tiba pintu terbuka membuat keduanya membeku. Mereka saling menatap, memikirkan alasan yang tepat untuk menjelaskan pada siapapun yang ada di sana.

"Fili? Kili?" Ujar seseorang dengan suara khas yang mereka kenal.

Secepat kilat keduanya menoleh, mendapati Thorin yang tengah berdiri dengan bantuan Bilbo. Tidak ada ekspresi kemarahan di wajahnya.

"Maaf, aku lupa mengetuk pintu." Sesal Thorin.

Kili lalu bangkit dan membantu memapahnya. "Tidak masalah, Paman. Setahuku kau memang tidak pernah mengetuk pintu."

Thorin hanya tersenyum sinis mendengar lelucon Kili yang sama sekali tidak lucu. Ya, walaupun harus diakui jika dia benar-benar benci mengetuk. Perlahan, kerutan di dahinya menghilang saat dia melihat Fili. Keponakan pirangnya itu berusaha bangkit namun segera dia hentikan.

"Berbaringlah. Aku hanya ingin melihat keadaanmu." Ujar Thorin lembut. Dia lalu duduk di samping Fili, mencari tempat yang tepat untuk berbicara.

Fili hanya mengangguk dengan senyum yang terlihat dipaksakan. Merasa canggung akan keberadaan Thorin.

"Bilbo, Kili, bisakah kalian meninggalkan kami sebentar?" Thorin mengedipkan mata, dan mereka pun keluar.

"Bagaimana keadaanmu, Fili?"

"Baik." Jawab Fili singkat.

"Aku datang kesini untuk meminta maaf atas sikapku di Erebor. Kau tahu, aku benar-benar tidak menyadarinya. Semua yang ku katakan tidaklah benar." Sesal Thorin.

"Kau tidak perlu meminta maaf, Paman. Aku tahu itu." Fili berusaha tersenyum namun gurat kesedihan tidak bisa dia sembunyikan.

"Kau sangat berharga- kau dan Kili. Kalian adalah kebangganku, apapun dan seperti apapun kalian. Dan kau adalah penerus tahtaku, juga penyelamat hidupku. Kau berhak mendapatkan semua itu."

"Jangan berlebihan Paman. Aku baik-baik saja."

"Tidak, kau tidak baik-baik saja. Aku telah menyakitimu, Fili."

Fili meletakan tangannya di wajah Thorin, berusaha menatap mata Thorin yang semula menerawang jauh. "Aku juga telah menyakitimu dengan semua yang kami perbuat."

"Tidak. Itu semua bukan kesalahan. Kalian- kalian saling mencintai, bukan? Lalu, apakah aku harus menyalahkan perasaan kalian? Tidak Fili. Kalian berhak mendapatkannya." Thorin tersenyum melihat Fili yang juga melakukan hal yang sama.

"Terimakasih, Paman."

"Kau harus segera pulih, dan kita akan kembali ke rumah. Rumah yang sejak dulu aku janjikan."

Fili mengangguk, lalu berusaha bangkit untuk sekedar memeluk Thorin.

..

"Kili, ini tidak sopan!" Bisik Bilbo.

"Diamlah dan jangan bicara pada siapapun. Kau mengerti?" Bisik Kili yang segera menarik Bilbo menjauh dari pintu.

.

.

TO BE CONTINUED

.

.

Note : Chapter ini sengaja dibuat lebih manis daripada beberapa chapter sebelumnya yang pahit. Jadi semuanya selamat, OK? ^^

Untuk penyelamatan, awalnya sedikit dilema. Apakah harus di Erebor, di Rivendell, atau di tempat lain. Kalau di Erebor, agak aneh menurutku, karena di sana gak ada tabib, dokter, perawat atau semacamnya. Oin pun hanya bisa mengobati sedikit dengan kemampuan alakadarnya, jadi gak mungkin bisa menangani keempat korban perang.

Kalau manggil Tauriel? Ah ku rasa tidak. Udah cukup perannya di chapter satu, itu pun karena imaginasiku saat itu masih mepet. Jadi, keputusan terakhir adalah Rivendell. Selain karena Elrond adalah seorang penyembuh, Elf di sana kan ramah, jadi bukan tidak mungkin mereka bersedia menolong Dwarf.

Soal pertolongan pertama, aku anggap Gandalf turut andil dalam hal ini. Jadi dengan kemampuannya, dia membuat para korban bertahan selama perjalanan ke Rivendell. Mungkin seperti Frodo yang di tolong Arwen di LOTR.

Anyway, aku masih semangat melanjutkan fic ini. Sungguh! Setidaknya semua imaginasi liar ini mengobati rasa sakit atas cerita aslinya yang mengorbankan ketiga karakter kesayangan. Tapi sesuai perkiraan kemarin, kelanjutan ceritanya mungkin akan di kemas di satu atau dua chapter. Dan ya, satu chapter gak cukup, karena ini belum sampai ke ending :)

See ya soon!❤