Disclaimer : The Hobbit © J.J.R. Tolkien
Warning : Alternate reality, multi pairing, Slash, INCEST, boy x boy, gay, typo, dll ^^ Mengandung adegan dewasa/ Adult content.
.
.
.
Dengan langkah perlahan, Thorin menyusuri aula istana yang kini di penuhi oleh seluruh rakyatnya. Para Dwarf dari Ered Luin, Iron hills, serta beberapa manusia dan Elf yang turut serta menghadiri hari istimewa itu. Setelah pengobatan di Rivendell selesai, Thorin mewujudkan rasa terimakasihnya pada Elrond, dengan menjalin persahabatan antar Dwarf dan Elf. Bahkan, Thranduil pun telah melupakan perselisihan mereka, setelah Thorin mengembalikan apa yang selama ini diinginkannya; kalung permata putih milik mendiang istri Raja Elf itu. Thorin juga telah menepati semua janjinya pada rakyat Laketown, sehingga mereka bisa membangun kembali kota Dale, dan hidup tentram di bawah pimpinan Bard.
Thorin memutar tubuhnya, mengalihkan pandangan pada singgasana tak berpenghuni yang menantikan kehadiran sang Raja. Wajah-wajah familiar di sekitar sana menyambutnya dengan senyuman. Kedua pangerannya kini tidak lagi mengenakan pakaian lusuh, tapi pakaian bangsawan dengan mahkota emas di kening mereka. Thorin tersenyum bangga mengingat betapa besar pengorbanan dan keberanian mereka dalam peperangan. Di antara mereka tampak seorang wanita dewasa yang tak lain adalah Dis; adik kandungnya, sekaligus ibu dari kedua pangeran. Dia tampak sangat menawan dalam balutan gaun biru tua yang senada dengan iris tajamnya. Mahkota emas tersemat di rambut gelapnya yang tertata rapi dengan kepangan khas Dwarf wanita.
Thorin tersenyum pada mereka, lalu kembali berbalik menghadap rakyatnya yang tengah menyerukan namanya. Dia menikmati suasana riuh itu sejenak, lalu mengangkat telapak tangannya, mengisyaratkan untuk diam. Suasana berubah hening.
"Hari bahagia ini bukanlah milik satu orang, tapi milik kita semua. Bukan hanya aku, keluargaku, tapi kita semua telah berhasil mempertahankan kerajaan ini dari para musuh. Aku tidak akan berdiri di sini tanpa kalian, rakyatku, dan semua sahabat-sahabatku." Thorin menjeda ucapannya, seraya menyapukan pandangannya ke seluruh ruangan. "Bersama-sama juga kita membangun kembali kerajaan ini dalam kedamaian dan kebahagiaan." Tutupnya.
Suasana kembali riuh saat seluruh rakyatnya kembali menyerukan namanya. Sementara itu Thorin berjalan menuju singgasana, menghampiri adik beserta kedua keponakannya yang segera memberi hormat.
"Aku sangat bahagia melihat kalian tersenyum. Terutama kau, adikku. Rasanya sudah sangat lama aku tidak melihatmu sebahagia ini." Ujar Thorin seraya mengusap kepala Dis.
"Tidak ada hal yang lebih membahagiakan selain berkumpul bersama kalian, keluargaku. Aku sangat merindukan kalian." Dis tersenyum, namun seketika senyuman itu pudar. "Sesungguhnya, aku juga merindukan Frerin, Ayah, juga suamiku." Lanjutnya.
"Sssshhh. Di hari bahagia ini, kau tidak boleh bersedih. Mereka semua pasti bahagia melihat semua ini. Dan- lihatlah putra pertamamu! Tidakkah dia terlihat seperti Frerin? Dan Kili, aku fikir dia memiliki sangat banyak kemiripan dengan ayahnya, walaupun dia berambut gelap." Hibur Thorin, mengundang senyuman manis di wajah adiknya.
"Ya, kau benar. Aku sangat mencintai mereka." Ujar Dis, seraya memeluk erat kedua putranya.
Thorin tersenyum lalu menghampiri yang lainnya. Terlihat Gandalf yang tengah berdiri bersama tongkatnya, didampingi para Dwarf yang turut serta dalam perjalannya selama ini.
"Aku kehabisan kata-kataku untuk berterimakasih pada kalian, teman-teman." Ujar Thorin saat mereka memberinya hormat.
"Kau melakukan semuanya dengan sangat baik, Thorin Oakenshield. Dan kini tugasku sudah selesai." Ujar Gandalf, membuat Thorin bersedih.
"Aku harap kau mengunjungi kami suatu hari nanti. Kau akan disambut dengan sangat baik di sini, Gandalf." Thorin membungkuk untuk memberinya hormat.
Gandalf tersenyum. "Tentu saja."
.
-oOo-
.
Malam ini Bilbo terlihat gelisah dan mondar-mandir di kamarnya- kamar Thorin tepatnya. Ini sudah sangat larut, tapi Raja Dwarf itu belum juga kembali. Ingin rasanya dia keluar dari ruangan itu, tapi tidak mungkin! Akan sangat berbahaya jika seseorang melihatnya. Bilbo akhirnya berbaring, menyembunyikan sebagian besar tubuhnya di balik selimut. Setelah menunggu cukup lama, pintu akhirnya terbuka, menampakkan Thorin yang tampak mengendap-endap.
"Thorin." Sapa Bilbo dengan wajah mengantuk.
"Ah, aku fikir kau sudah tidur. Maaf, aku sangat sibuk tadi." Ujar Thorin seraya meletakkan mahkotanya di sebuah tempat khusus. Dia lalu melepas jubah dan dan pakaian berat lainnya, hingga hanya menyisakan tunik dan celana panjang.
Bilbo bangkit, lalu duduk bersandar."Kau pasti sangat lelah. Apa kau ingin aku memasak sesuatu atau memijatmu, mungkin?"
Thorin menoleh, lalu bergabung dengannya di tempat tidur. "Tidak. Aku hanya ingin berbaring di sini dan memelukmu. Rasanya sudah lama kita tidak menikmati waktu kita berdua; hanya kita."
Bilbo tersenyum saat Thorin menariknya untuk kembali berbaring lalu mendekap tubuhnya. "Kita telah melewati banyak hal, Thorin."
"Aku tahu."
"Dan- cepat atau lambat aku harus pergi dari sini."
Thorin mengangguk. "Aku mengerti. Tapi, apa kau benar-benar harus pergi?
"Tentu. Aku memiliki kehidupan yang tidak bisa ditinggalkan di Shire. Dan aku tidak bisa membayangkan jika kita- uhm maksudku, jika orang-orang tahu tentang semua ini. Kau tahulah."
"Maksudmu, hubungan kita?"
"Ya. Biar bagaiamana pun, kau adalah seorang Raja, Thorin. Kau harus-" Bilbo menjeda ucapannya. Tampak keraguan di wajahnya namun dia segera berdehem. "menikah dan memiliki keturunan." Lanjutnya.
"Aku sudah memiliki Fili sebagai penerus tahta ini, dan aku tidak perlu memiliki keturunan ataupun menikahi seorang perempuan."
"Tapi kau harus! Sekarang kau adalah seorang Raja, bukan lagi seorang Dwarf yang tengah berkelana untuk merebut kembali kerajaan. Dan- hubungan semacam ini tidak bisa diterima oleh mereka. Ini akan mempengaruhi reputasimu, posisi- mph-" Ucapan Bilbo terhenti saat Thorin tiba-tiba mencium lalu menindihnya.
"Aku mencintaimu, kau tahu." Gumam Thorin seraya meraba wajah lembut Bilbo dengan janggutnya.
"T-tentu. Tapi, ahhh..." Bilbo mengerang saat Thorin menggigit kecil lehernya.
"Berhentilah membicarakan hal itu. Malam ini milik kita, Hobbit kecil." Bisik Thorin, membuat Bilbo memejamkan mata rapat rapat. "Katakan kau juga menginginkannya!"
"Ngh. Ya." Erang Bilbo.
Thorin menghentikan ciumannya lalu menatap lekat wajah Bilbo. "Kau tahu, Bilbo? Aku sangat mencintaimu. Kau sangat berharga untukku." 'Bahkan lebih berharga dari semua yang aku miliki ini' Lanjut Thorin dalam hatinya.
Bilbo mengangguk lalu menarik Thorin ke pelukannya. "Aku tahu, Thorin. Aku tahu."
.
-O-
.
Bilbo terbangun dari tidur nyenyaknya. Butuh waktu beberapa saat, hingga dia benar-benar terjaga dan menyadari bahwa dia tengah tertidur di atas tubuh Thorin. Selimut menutupi tubuh keduanya, membuatnya semakin berkeringat. Dengan sedikit malas, dia beringsut lalu menjatuhkan dirinya ke tempat tidur, membuat Thorin terbangun.
"Oh, pagi" Gumam Thorin.
"Pagi. Maaf membangunkanmu."
Thorin menggeliat, lalu bangkit. "Tidak masalah. Uh, kau langsung tidur semalam. Aku baru tahu jika kau lebih berat dari yang ku bayangkan."
"Benarkah? Apa kau baik-baik saja?"
"Hanya sedikit pegal." Jawab Thorin yang segera pergi ke kamar mandi pribadinya.
Bilbo mengikutinya, lalu keduanya berendam dalam sebuah kolam berisi air dingin. Hal yang biasa dilakukan mereka setiap pagi. Tidak masalah untuknya, karena tubuh Thorin yang jauh lebih hangat selalu membuatnya merasa nyaman.
"Thorin, bagaimana dengan keberangkatanku?" Tanya Bilbo memecah keheningan.
"Dua hari lagi. Masih ada urusan penting yang harus ku selesaikan." Jawab Thorin santai.
"Apa? Kau? Maksudmu kau akan mengantarku?" Bilbo sedikit kebingungan.
"Tentu. Kau tahu? Aku akan selalu bersamamu. Jadi kemanapun kau pergi, aku akan ikut denganmu."
"Huh? Apa maksudmu? Thorin, jelaskan padaku!" Bilbo memekik jengkel.
"Ssssshhh. Kau harus mandi!" Gumam Thorin sambil menggosok tubuh Bilbo.
.
-oOo-
.
3 tahun berlalu...
.
Sore itu Fili dan Kili memutuskan untuk melepas penat dengan berjalan-jalan di Ravenhill. Semenjak kembali ke Erebor, keduanya memang tidak pernah sempat menghirup udara kebebasan. Terlebih saat Fili dinobatkan sebagai raja baru, satu bulan setelah kepergian Thorin. Semuanya benar-benar di luar akal sehat. Tidak lama setelah resmi menjadi raja, membangun kembali Erebor dan beberapa tempat lainnya, Thorin pergi meninggalkan semuanya. Meninggalkan singgasana, kemewahan, kemakmuran bahkan 'rumah'nya sendiri yang sejak lama dia perjuangkan.
Fili menghela nafas panjang. Nafasnya memang sering terasa sangat berat belakangan ini. Jubah bangsawannya menyapu bebatuan di Ravenhill. Sungguh, suasana di sana kini jauh lebih baik dan indah, tapi semua itu sama sekali tidak meredam ingatannya tentang peperangan.
"Kau baik-baik saja, Rajaku?" Tanya Kili sambil menatap sosok di depannya.
"Ayolah, Kili. Sudah beberapa kali aku bilang, kau tidak bisa memanggilku seperti itu. Panggil aku Fili! Semuanya masih sama, kau tahu!" Fili menggerutu dengan suara lembutnya.
"Baiklah baiklah. Aku lupa jika kita berada jauh dari istana." Kili terkekeh. "Apa yang membuatmu terlihat ketakutan, Nadad?"
"Entahlah. Aku takut pada diriku sendiri. Semenjak hari penobatan itu, rasanya aku tidak hidup. Aku- aku tidak berguna sama sekali tanpa Thorin. Aku tidak bisa melakukan apa yang seharusnya dilakukannya." Fili sedikit gemetar. Rasa mual membuatnya mengambil posisi duduk, tidak peduli jika jubah kesayangannya harus kotor.
Kili bergabung. "Aku mengerti. Ini sangat berat, Fee. Tapi apa yang bisa kita perbuat? Thorin telah meninggalkan kita dengan semua kemakmuran ini. Dan- dia memintamu untuk memimpin rakyatnya, rakyat kita. Dia tidak bisa mempercayakan semuanya pada orang lain selain dirimu." Hibur Kili.
Fili terdiam sejenak, mengingat kembali kejadian malam itu. Saat itu Thorin memohon padanya, nyaris dengan tangisan yang tidak bisa disembunyikan, bahkan oleh seorang yang kuat sepertinya. Berkali-kali dia mengatakan bahwa dia tidak bisa hidup tanpa orang yang sangat dia cintai, tanpa Bilbo. Dia juga mengatakan bahwa semua yang dia miliki tidak ada artinya jika dibandingkan dengan kebersamaannya dengan orang yang dia cintai. Fili sangat membencinya saat itu.
Kini dia mengerti, bahwa apa yang Thorin katakan sangatlah benar. Kehilangan orang yang dicintai memang sangat menyakitkan; dia merasakannya sendiri. Setelah resmi menjadi seorang Raja, dia telah kehilangan Kili; kehilangan semua yang pernah mereka alami di masa lalu. Kili mungkin masih berada di sampingnya dan akan selalu, tapi dia sama sekali bukan miliknya lagi. Mereka kini hanya dua bersaudara, tidak lebih dari itu. Hubungan mereka telah lama kandas, seiring berubahnya kehidupan mereka.
"Aku kehilangan banyak hal, Kee."
"Kau memiliki segalanya. Kau adalah Raja yang baik; Raja muda yang baik. Semua rakyatmu menghormatimu, membanggakanmu."
"Aku tahu. Tapi aku kehilangan seluruh jiwaku, termasuk- dirimu."
"Aku di sini, dan akan selalu ada di sampingmu, kau tahu itu. Aku mengerti, apa yang kau putusakan setelah penobatanmu malam itu. Kau- uhm, kita melakukan hal yang tepat."
"Maafkan aku. Aku hanya tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu, Kee. Mereka akan menghukummu- menghukum kita jika tahu yang sebenarnya. Aku tidak masalah jika harus dihukum mati pun, tapi tentu saja aku tidak bisa membiarkanmu terluka. Oh, aku seorang Raja yang lemah. Bahkan, Bofur dan Nori memilih untuk keluar dari sini atas semua peraturan tak masuk akal itu." Fili membenamkan wajahnya di kedua telapak tangannya sambil menangis perlahan.
"Ssshhh. Aku tahu, Fee. Aku tahu. Aku sama sekali tidak masalah dengan semua itu. Dengan bisa melihatmu setiap hari pun aku sudah bahagia. Aku mencintaimu, sekalipun aku tidak bisa menyentuhmu, berbagi tempat tidur denganmu dan melakukan hal lainnya seperti dulu. Aku tetap mencintaimu." Ujar Kili dengan mata berkaca-kaca. Tangannya mengusap punggung Fili yang bergetar.
"Aku juga mencintaimu. Aku tidak menginginkan semua ini. Aku tidak tahan lagi, Kee. Aku tidak bisa kehilanganmu."
Kali ini Fili tidak bisa menahan dirinya. Dengan cepat, dia memeluk erat tubuh Kili seolah tidak ingin melepaskannya. Sudah lama sekali keduanya tidak merasakan kehangatan ini. Fili memejamkan mata, namun kembali terbelalak saat Kili melepaskan pelukannya secara paksa.
"Kita harus kembali, Fee. Seseorang akan melihat." Kili menarik tangan Fili, namun Fili menariknya lebih kuat hingga Kili kembali.
"Kau bilang kau akan selalu berada di sampingku?" Tanya Fili, disusul anggukan Kili. "Artinya kau akan mengikutiku jika aku pergi dari sini?"
Kili segera menepiskan tangannya dari genggaman Fili. "Pergi? Kau gila! Kau diberi kepercayaan untuk ini, Fee. Kau tidak bisa melepaskan tanggung jawabmu!"
"Dengan membawa rakyat kita kembali ke Erebor dan hidup dalam kemakmuran, itu pun sudah lebih dari cukup untukku. Aku tidak menginginkan semua ini. Jabatan ini, mahkota ini, dan semua kemewahan ini. Aku tidak menginginkannya! Kau diam saja di sini jika tidak ingin pergi." Teriak Fili.
Kili melembut. "Baik, baiklah. Tapi siapa yang akan menggantikan semua tugasmu? Kau bahkan tidak mempunyai putra untuk menjadi Raja selanjutnya."
"Dain. Selama ini dia telah setia pada Thorin dan kerajaan ini. Dia bahkan jauh lebih mengerti dan mengetahui semuanya dibanding kita. Dia layak mendapatkannya." Jawab Fili mantap.
"Lalu, apa yang akan kita lakukan? Kau tahu jika kita pergi dari sini, kita tidak akan diterima di negri Dwarf manapun."
"Kita bisa tinggal di mana saja. Ambilah koin emas secukupnya, lalu kita gunakan untuk membangun kembali kehidupan baru."
Keheningan terjadi cukup lama, sebelum Kili berdehem lalu mengatakan 'ya'. Fili tersenyum senang; senyuman yang telah lama hilang dari wajahnya. Dia lalu kembali memeluk erat tubuh Kili, namun kali ini pelukannya terbalas. Keduanya memejamkan mata, menikmati kehangatan dan menghirup aroma tubuh satu sama lain yang menenangkan. Mereka tetap dalam posisi itu hingga seseorang datang dan menghampiri mereka. Keduanya membeku.
.
.
To Be Continued
.
.
Note : Berhubung ide Roth bertambah, chapter ini bukan yang terakhir ya guys! Maafkan ke tidak kensistenanku, aku tahu kalian membenci ini -_- Tapi apa boleh buat, kalau dihentikan di sini, mungkin ceritanya akan gak jelas. Kalau diselesaikan di sini juga pasti kepanjangan, maka dari itu Roth sengaja bagi dua. Sedikit penjelasan, di sini kita menemukan konflik baru baik untuk Thorin maupun yang lainnya. Hubungan sesama jenis itu DILARANG di Erebor dan seluruh negri Dwarf, sehingga para karakter merasa tertekan.
Please jangan benci sama Thorin dan Fili! Emang sih mereka terkesan egois dan lari dari tanggung jawab, tapi itu sama sekali bukan kejahatan. Mereka Raja baik yang udah memimpin rakyatnya pada kemakmuran dan meninggalkan semua kemewahan demi bisa bersama dengan orang yang mereka cintai. Selain itu, Roth juga mencoba menyesuaikan dengan cerita asli di mana yang jadi Raja selanjutnya adalah Dain, bukan keturunan resmi. Wapaupun Thorin dan Fili juga sempat mencicipi posisi Raja beberapa saat.
Untuk chapter selanjutnya, Roth pastikan itu chapter terakhir. Dan di sana, Happy Ending yang sejak awal Roth janjikan akan terjadi. Jadi stay terus ya, jangan lupa kritik dan sarannya ^^
