Disclaimer : The Hobbit © J.J.R. Tolkien
Warning : Alternate reality, multi pairing, Slash, INCEST, boy x boy, gay, typo, dll ^^
Big warning! Mengandung adegan dewasa eksplisit/ Adult content/ smut/ NC/ Explicit!
.
.
.
.
Suasana hening di pagi hari menemani Bilbo yang tengah sibuk mengguratkan tinta pada bukunya. Menulis merupakan kegiatan yang ia tekuni sejak kembali dari petualangan terbesar dalam hidupnya. Rasanya, seluruh perjalanan bersama para Dwarf terlalu berharga jika hanya dikenang melalui ingatan. Untuk itu dia menuliskan semua pengalamannya, entah itu pengalaman baik ataupun buruk.
Di tengah sibuknya menulis, terdengar suara ketukan bertubi-tubi di pintu utamanya. Dengan kesal Bilbo menggerutu 'apakah mereka tidak melihat bel?' Namun pada akhirnya dia tetap beranjak, meninggalkan semua peralatan menulisnya.
"Tunggu sebentar!" Teriak Bilbo. Dibukanya pintu bulat itu hingga tampaklah si pengetuk tidak sabaran di baliknya.
"Fili."
"Dan Kili."
"Siap melayanimu." Ujar keduanya seraya membungkuk bersamaan.
Bilbo membuang nafas, menyadari bahwa dia menahannya sejak membuka pintu tadi. Matanya membulat, menatap lekat kedua tamu yang sangat dikenalnya. Rasanya dia bermimpi, atau mungkin mengalami Deja Vu. Hanya saja, kali ini mereka terlihat sedikit berbeda dengan rambut yang lebih panjang dari sebelumnya. Janggut mereka pun tumbuh semakin lebat, terutama Kili yang kini terlihat lebih dewasa dengan janggut hitam tebalnya.
"Kau tidak akan mempersilahkan kami masuk, Mr. Boggins?" Rengek Kili.
Mendengar pengucapan marganya yang salah, Bilbo seakan tertarik kembali pada kesadaran. Tanpa banyak bicara, dia segera melompat dan memeluk keduanya. Air mata menetes dari sudut matanya, diiringi gelak tawa bahagia dari mereka bertiga.
"Katakan kalau ini bukan mimpi. Cubit aku!" Gumam Bilbo tanpa melepaskan dekapannya pada bahu kedua bersaudara. Sebelum sempat berbicara lebih banyak, Bilbo memekik merasakan sengatan di kulitnya.
Kili melepaskan pelukannya di tubuh mungil Bilbo, lalu menyeringai. "Sesuai keinginanmu."
Bilbo tertawa. "Masuklah, ayo masuk! Aku akan membuatkan makanan untuk kalian."
"Tidak- tidak. Kami tidak ingin merepotkanmu." Cegah Fili seraya duduk di meja makan Bilbo.
"Ya, benar. Kami bisa mengambilnya sendiri." Kili terkekeh sambil mengambil sepotong kue.
Dengan gesit, Bilbo berlari kecil kesana kemari sambil mempersiapkan makanan untuk mereka. Dia tampak lebih enerjik sekarang, seolah telah terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah semacam itu. Dia lalu menuangkan teh dan mengambil posisi duduk di depan kedua Dwarf.
"Terimakasih Mr. Boggins. Seperti biasa kue mu sangat enak." Ujar Kili sambil mengguncang toples biskuit, mengingat tangannya terlalu besar untuk bisa masuk kesana.
"Tehnya juga." Tambah Fili usai menyesap teh panas yang baru saja dihidangkan.
"Walaupun ini bukan waktu yang tepat untuk minum teh." Bilbo tertawa. "Ah, ceritakan padaku, apa yang membawa kalian kemari?"
Keheningan menyelimuti mereka, bahkan Kili menghentikan kegiatan memakan biskuitnya. Bilbo menunggu, matanya mengamati wajah kedua Dwarf yang terlihat tegang. Mereka masih tak bersuara membuat Bilbo merasa tidak nyaman. Sedetik kemudian terdengar suara pintu terbuka dari luar, disusul langkah kaki yang terdengar berdentam. Bilbo memang terbiasa membiarkan pintu tidak terkunci.
"Aku pulang." Ujar seseorang dari ambang pintu.
Bilbo segera melesat keluar dari ruang makan dan memeluk Thorin yang tengah melepaskan sepatunya.
"Whoa, Bilbo. Ada apa?" Thorin terkejut dan nyaris jatuh. "Tidak biasanya kau memelukku seperti itu."
"Cepatlah kemari, aku mempunyai kejutan untukmu!"
Thorin tampak kebingungan, namun Bilbo menariknya dengan cepat menuju ruang makan. Benar saja, kejutan yang disebutkan Bilbo memang membuatnya amat sangat terkejut. Thorin terdiam beberapa saat, mencoba mencerna apa yang dilihatnya.
"Kalian?" Gumamnya nyaris tak terdengar.
Fili dan Kili saling menatap, lalu berdiri untuk menyambutnya. "Paman."
Thorin tak beranjak. Tatapannya kian tajam, menuduh pada kedua keponakannya, membuat mereka merasa ketakutan. "Apa yang kalian lakukan di sini?"
Fili mencoba tersenyum. "Kami-"
"Apakah meninggalkan kerajaan dengan pakaian seperti ini adalah hal yang bisa kalian lakukan sesuka hati?" Bentak Thorin.
Memang, keduanya hanya mengenakan tunik yang dibalut jubah tebal beserta celana panjang dan sepatu boot biasa. Tidak ada tanda-tanda bangsawan dalam pakaian mereka.
"Sssssshhhh, duduklah! Kau tidak boleh memarahi mereka, Thorin. Tidakkah kau lihat? Mereka pasti kelelahan dan lapar." Ujar Bilbo.
"Tapi, Bilbo, mereka tidak bisa-"
Bilbo meletakkan telunjuknya di bibir Thorin. "Kau sudah berjanji untuk tidak menentang ucapanku."
"Tapi sayang, ini serius!"
"Aku juga serius." Bilbo menariknya lalu memaksanya duduk di salah satu kursi. "Bergabunglah, dan- ah, pas sekali! Ini waktu yang tepat untuk sarapan kedua."
"Aku bahkan tidak pernah melakukan sarapan kedua!" Erang Thorin.
"Lakukan saja, Thorin. Sekarang hari istimewa!"
Thorin hanya mendesah pasrah saat Bilbo menyajikan makanan di depannya. Sementara itu kedua keponakannya yang terlupakan saling melempar senyuman nakal, melihat Paman mereka yang kini banyak berubah. Khayalan tentang bagaimana kehidupannya dengan Bilbo sehari-hari pun, berhasil membuat kedua Dwarf muda itu terkekeh.
"Baiklah. Ceritakan padaku apa yang membawa kalian kemari?" Bilbo mengulangi pertanyaannya yang belum sempat terjawab.
Fili berdehem, menarik lalu membuang nafas panjang. "Kami merindukan kalian."
"Benarkah? Apa hanya karena itu kalian berpakaian seperti ini dan meninggalkan istana? Lalu siapa yang menggantikan posisimu selama kau kemari? Kau begitu ceroboh jika mempercayakan semuanya pada orang lain yang tidak tepat. Lalu berapa lama kalian akan tinggal di sini? Aku harap tidak lama, karena kau adalah seorang Raja, Fili. Ini bukan saatnya bermain-main!" Thorin berbicara tanpa henti, membuat Bilbo merasa tersaingi. Selama ini dialah yang paling cerewet di rumah, namun Thorin ternyata bisa lebih cerewet darinya.
"Sebenarnya kami- kami telah lama meninggalkan Erebor. Mungkin tiga atau empat tahun yang lalu." Ujar Fili nyaris bergumam, namun Thorin tetap mendengarnya dengan jelas.
Suara gebrakan pada meja membuat semuanya terlonjak. Kemarahan tampak di wajah Thorin saat mendengar ucapan keponakan tertuanya. "Untuk apa kalian meninggalkan kerajaan dalam waktu lama, hah?"
Bilbo ikut bangkit lalu menggenggam tangan Thorin, mencoba meredam amarahnya. "Tenanglah, kau tidak boleh marah-marah! Duduk dan bicara baik-baik. Aku akan meninggalkan kalian, OK?"
Thorin melembut lalu mengangguk lemah. Wajahnya semakin tenang saat Bilbo mengecup pipinya, sebelum beranjak keluar dari sana. "Baiklah. Jelaskan semuanya padaku, sebelum aku menendang kalian berdua keluar dari sini."
Fili dan Kili mengangguk, lalu tersenyum dan memeluk Thorin.
.
-O-
.
"Jadi, apa rencana kalian setelah ini?" Tanya Bilbo sambil menghirup aroma teh di tangannya.
"Kami ingin tinggal di sini." Jawab Kili antusias.
"Maksud kami, di sekitar sini." Tambah Fili yang tengah membuka-buka buku Bilbo.
"Kebetulan sekali! Aku dengar Tuan Paladin Took akan menjual rumah beserta tanahnya di desa sebelah. Uh, cukup jauh dari sini, tapi tempat di sana nyaman." Ujar Bilbo bersemangat.
Di tengah percakapan mereka bertiga, terdengar suara tangisan anak kecil. Samar pada awalnya, namun semakin lama semakin terdengar jelas. Tak lama kemudian, pintu terbuka menampakkan Thorin yang tengah menggendong anak menangis tersebut.
"Oh lihatlah, siapa yang datang!" Ujar Bilbo sambil tersenyum. "Kenapa kau menangis, jagoan?"
"Merry tidak mengajakku bermain." Rengek anak itu.
Kili menatapnya kagum. "Apakah dia anak kalian?"
"Dia keponakanku. Kedua orangtuanya meninggal dan ya, sekarang dia menjadi anak kami." Jawab Bilbo sambil tersenyum.
"Lihatlah Fee, dia lucu sekali!" Kili memekik gemas saat anak itu turun dari pangkuan Thorin. Keduanya segera beranjak dari kursi, lalu mendekati anak tersebut dan berjongkok di lantai.
"Ayo, perkenalkan dirimu!" Seru Bilbo.
Anak itu menatap Bilbo lalu mengalihkan tatapannya pada dua bersaudara. "Namaku Frodo. Kalian siapa?"
"Namaku Fili, dan ini Kili." Jawab Fili riang, namun Frodo terlihat kebingungan dan terus menatap mereka secara bergantian.
"Lihatlah, matanya biru sepertimu, Fee." Gumam Kili.
"Dan rambutnya sepertimu." Tambah Fili.
"Oh lucu sekali! Apakah kita bisa memiliki anak selucu ini?" Ujar Kili sambil mencubit pipi Frodo.
"A-apa kau bilang?" Tanya Fili tekejut.
"Tidak." Kili mengelak, namun Fili tetap menatapnya sambil terbelalak.
"Apakah kalian kembar?" Tanya Frodo polos.
Keduanya tertawa.
"Tidak, tapi kami bersaudara." Jawab Fili. "Maukah kau bermain?"
Frodo mengangguk.
"Dengan siapa kau ingin bemain?" Tanya Kili.
"Fili! Jawab Frodo sambil menarik tangan Kili."
Gelak tawa kembali menghiasi pertemuan mereka. Bukan hanya Thorin, tapi anak kecil seperti Frodo pun sulit membedakan nama keduanya. Mereka lalu bangkit dan berjalan-jalan ke luar dengan Frodo di punggung Kili, sementara Fili mengikuti mereka.
.
.
"Sepertinya Frodo memiliki pengasuh baru." Gumam Bilbo sambil mengamati mereka dari jendela.
Thorin mendekat, lalu melingkarkan tangan kekarnya di pinggang Bilbo. "Apa kau berkata pengasuh?"
"Ya. Sepertinya Fili dan Kili juga senang mengurus anak kecil."
"Tentu. Aku tahu mereka menginginkannya."
"Menginginkan- menginginkan apa?" Tanya Bilbo gugup.
"Ah, tidak. Hmm, jadi kita akan memiliki banyak waktu luang?" Thorin tersenyum lalu mengecup pipi cintanya. "Berdua..."
"Tidak. Ini masih sore, kita harus membereskan rumah." Bilbo berniat pergi namun Thorin menahannya.
"Ayolah sayang, kau sangat kelelahan belakangan ini." Bisik Thorin yang segera mengangkat tubuh Bilbo ke pangkuannya.
"Ow, Thorin. Turunkan aku!" Bilbo meronta, namun Thorin tak menghiraukannya dan menggendongnya ke kamar mereka.
"Aku mencintaimu." Bisik Thorin seraya meletakkan tubuh mungil itu di tempat tidur.
Seperti biasa, kalimat itu selalu menjadi jurus andalan Thorin. Setiap kali mendengarnya, Bilbo selalu berubah menjadi lemah bagaikan terkena sihir. Bibir tipis mereka bertemu, saling menghisap dan menggigit kecil, diiringi erangan lembut. Thorin melepaskan ciumannya lalu berusaha melucuti pakaian yang Bilbo kenakan. Dia lalu menatap tubuh telanjang di bawahnya.
"Jangan menatapku!" Bilbo memekik kesal, sementara wajahnya bersemu merah.
"Kau sangat lucu ketika marah." Thorin tertawa lalu membenamkan wajahnya di leher Bilbo.
Sentuhan bibirnya terus menurun, menelusuri tubuh mulus Bilbo dengan gigitan kecil yang sesekali dia lakukan. Hal itu membuat Bilbo kewalahan, terlebih saat lidah Thorin memainkan kedua putingnya yang mengeras.
"Ngh, Thorin...Please! Aku- aaaahh..." Bilbo merintih dengan wajah mendongak.
"Tidak, aku belum selesai." Gumam Thorin sambil tersenyum nakal. Dia lalu menurunkan ciumannya ke bawah perut Bilbo dan menghisap sesuatu yang mengeras di bawah sana.
"Ah, Thorin. Please please." Erang Bilbo dengan mata terpejam dan nafas tersenggal.
"Kau belum siap sayangku." Bisik Thorin seraya menyentuh bagian bawah Bilbo dan menyibukkan jari-jarinya di sana.
Tanpa bisa berbuat banyak, Bilbo hanya memejamkan mata dan mengeratkan cengkramannya pada seprai. Sejak pertama kali melakukannya, Thorin memang senang mempermainkannya seperti ini. Bilbo membencinya, namun juga menikmatinya. Matanya yang terpejam tiba-tiba terbelalak, saat Thorin akhirnya menyatukan tubuh mereka.
"Oh, Bilbo. Kau luar biasa." Gumam Thorin dengan suara bergetar, sementara Bilbo hanya melengguh tak berdaya. Kedua tangan mereka saling bertautan, dan bibir mereka kembali bertemu.
Perlahan Thorin menggerakkan tubuhnya, menciptakan erangan yang lebih keras dari bibir Bilbo. "Aku mencintaimu, Bilbo." Bisiknya.
"Aku juga uuuhh- mencintaimu." Erang Bilbo seraya melingkarkan kedua kakinya di tubuh Thorin, membawanya semakin dalam.
.
.
-oOo-
.
Beberapa hari berlalu.
.
Malam ini Fili dan Kili masih menginap di rumah Bilbo, setidaknya beberapa hari sebelum membeli rumah. Mereka menempati sebuah kamar tamu berukuran cukup besar, dengan satu ranjang yang terlalu kecil untuk dua Dwarf. Tapi itu tidak masalah, karena keduanya sering melakukannya di tempat tinggal sebelumnya. Jika saja mereka tidak merasa terganggu dengan aktifitas manusia di sana, mungkin mereka tidak akan pergi ke Shire.
Selimut tebal menyembunyikan tubuh mereka. Kili berbaring terlentang, dengan Fili yang meringkuk di sampingnya dan meletakkan kepalanya di dada bidang Kili.
"Aku tidak pernah membayangkan bisa kembali ke sini." Gumam Fili.
"Ya. Dan kita sempat takut menghadapi Thorin. Syukurlah dia mengerti." Ujar Kili sambil membelai rambut pirang di dadanya.
"Dia pasti mengerti, karena kita meninggalkan Erebor dengan sebuah alasan kuat. Dan sekalipun alasan itu tidak kuat, kurasa dia akan tetap mengerti."
"Hmm, tentu. Ini semua bukan semata-mata karena pengusiran, tapi juga karena kita saling mencintai. Seperti Thorin yang sangat mencintai Bilbo." Kili mengecup puncak kepala Fili. "Maafkan aku karena telah meragukan keputusanmu di Ravenhill saat itu."
Fili bangkit dari posisinya lalu merangkak ke atas tubuh Kili. Selimut mereka terlepas, menampakkan tubuh telanjang keduanya yang mengkilat karena keringat. Mereka lalu berciuman dengan lembut dan dalam.
"Aku mengerti. Kau hanya menginginkan yang terbaik untukku, Kee." Ujar Fili yang segera menggigit telinga sensitif adiknya.
"Uhh, Fee. Kau menggodaku?" Kili berusaha membalikkan posisi mereka tapi, Fili menahannya dengan kuat.
"Tidak! Mm, kali ini biarkan aku melakukannya untukmu. Kau hanya perlu- berbaring, dan-" Ujar Fili gugup.
"Ide bagus." Kili menyeringai lalu berusaha membantu Fili mengatur posisinya.
Erangan lembut lolos dari bibir keduanya saat tubuh mereka menyatu. Untuk beberapa saat mereka tidak bicara maupun bergerak, hanya menikmati pertemuan itu dengan nafas memburu.
"Mmm, aku tidak pernah tahu jika kau lebih nakal dari yang aku bayangkan." Gumam Kili sambil menggerakkan tubuhnya perlahan.
"Nggghhh. Ah- apa kau bilang?"
"Saat pertama kali melakukannya, kau menangis dan melihatku seperti melihat hantu." Kili tertawa, sementara Fili mencondonkan tubuhnya hingga kening mereka bertemu.
"Mmm, adik yang jahat."
"Kakak yang nakal." Tambah Kili lalu mendaratkan tamparan kecil di bokong Fili. "Ayolah. Kau bilang kau yang melakukannya."
Fili berusaha keras untuk bangkit dan menggerakkan tubuhnya. Namun tiba-tiba, suara ketukan membuat mereka terlonjak dan melepaskan diri.
"S-sebentar!" Teriak Fili dengan suara yang masih bergetar.
Dengan terburu mereka meraih pakaian terdekat, lalu Kili berjalan menuju pintu. Seorang anak kecil berdiri di sana, dengan ekspresi mengantuk.
"Frodo? Apa yang kau lakukan tengah malam seperti ini?" Tanya Kili yang segera berlutut untuk menyamakan tingginya.
"Aku ingin tidur bersama Fili." Ujar Frodo sambil menarik pakaian Kili. "Dan Kili." Lanjutnya saat melihat Fili muncul dari belakang.
Keduanya tertawa lalu membwa Frodo masuk. Untungnya Fili sempat merapikan tempat tidur mereka, sehingga anak itu akan tidur dengan nyaman. Tanpa ragu, mereka berdua tidur berdampingan, sementara Frodo berbaring di antara mereka.
"Di sini sempit. Apa kau tidak apa-apa?" Tanya Fili sambil menyeka keringat di wajahnya.
"Tidak. Ayo tidur, aku ngantuk."
Kili lalu menarik selimut hingga menutupi tubuh mereka dan menguap. Begitupun Fili yang tampak sangat kelelahan dan segera terlelap sambil memeluk Frodo kecil. Setelah yakin bahwa keduanya terlelap, Kili tersenyum dan memutuskan untuk ikut tertidur.
.
-O-
.
Bilbo terbangun saat menyadari Frodo tidak ada di sampingnya. Dengan terburu dia beranjak, lalu mengecek beberapa ruangan. Anak itu tidak ada di mana pun membuatnya panik. Namun pintu kamar tamu yang terbuka menarik perhatiannya untuk masuk. Betapa leganya dia saat mendapati Frodo tengah terlelap di antara Fili dan Kili. Bilbo tersenyum dan menatap mereka sejenak.
"Bilbo?" Bisik Thorin yang muncul dari belakangnya. "Sedang apa kau di sini?"
"Aku mencari Frodo. Ternyata dia di sini."
"Baiklah. Ayo kita kembali! Malam ini aku akan tidur di kamarmu." Bisik Thorin sambil mengedipkan mata.
Selama ini keduanya memang tidak tidur di kamar yang sama, karena Frodo masih terlalu kecil untuk ditinggalkan. Sebagai gantinya, Bilbo akan mengendap-enadap ke kamar Thorin saat anak itu terlelap, dan kembali ke kamarnya setelah urusan mereka selesai. Hanya pada saat-saat tertentu saja, karena Bilbo sering kelelahan dan tertidur pulas.
"Uh? Untuk apa?" Tanya Bilbo sambil melangkah keluar dari kamar tamu.
Thorin memeluknya dari belakang. "Mmm- membuat adik baru untuk Frodo."
Mendengar itu, kedua mata Bilbo terbelalak. "Thorin-"
"Sssshhh." Desis Thorin sambil mengangkat tubuh Bilbo ke pangkuannya.
.
.
.
THE END
.
.
Note : Hellooooo semua! Akhirnya Erebor Sickness selesai juga XD
Sebenarnya sedikit bingung tentang endingnya, tapi semoga ending ini memuaskan ya guys. Baik untuk para penyuka Thorin Bilbo ataupun Durincest (Fili Kili) ^^ Mohon maaf untuk beberapa adegan yang agak eksplisit nya ^^
Pada akhirnya mereka berempat bahagia kok, walaupun udah gak tinggal lagi di Erebor. Dan untuk Frodo kecil? Hmm, entah karena apa tapi Roth ingin memasukkan dia sebagai pelengkap kehidupan mereka. Roth sendiri kurang tahu perbedaan usia Frodo dan Bilbo, tapi di sini anggap aja ya Frodo masih berusia 3 tahunan hehe.
Akhir kata, Rothruingwen mengucapkan terimakasih untuk dukungan kalian semua selama ini. Fic ini bukan apa-apa tanpa kalian, para pembaca sekalian ^^
See you in the next story. Thank you very much and good Bye! *kiss*
