AHAHAHA
AKHIRNYA BISA W APDET '-'/
KEEP READING AND KEEP WAITING!
ENJOY THIS BBY
.
.
.
prev last chap...
.
.
"Hei namaku KIM TAEHYUNG ingat itu" ia mulai berteriak dan Yoongi yang merasa kalau dia satu satunya orang yang ada di sana selain namja itu menoleh dan memandang aneh
Merasa mendapatkan respon namja yang mulai sekarang di sebut Taehyung itu tersenyum senang kea rah Yoongi yang ada di jauh di depannya
"Apa peduli ku bodoh" ketus Yoongi yang berbalik dan berjalan menuju kea rah restroom
.
.
Splashh
.
Yoongi membasuh wajahnya berkali kali dengan air, dan memandangin dirinya beberapa saat di cermin
"sebenarnya apa yang terjadi" gumamnya dengan suara yang hamper tidak terdengar, mengusap wajahnya kasar dan membasuh wajahnya berkali kali dengan air
Berhenti sesaat dan manarik nafasnya dalam dalam, Yoongi terlihat berfikir
"pertama tama aku harus membiasakan diri dengan kegilaan ini dan, ah aku harus mencari apartement lama ku" wajah Yoongi berubah semangat sekarang, dia ingin melihat apakah apartement lamanya masih ada atau ada sesuatu yang bisa menjelaskan ini semua di dalam apartemen lamanya
Yoongi mengelap wajahnya dan sedikit merapihkan wajah dan pakaiannya lalu berjalan keluar
.
.
.
"ingin menyelidiki rupanya"
"Hm… ku rasa aku akan membatmu kewalahan kali ini"
"kkkk~ harusnya kau menikmati hidup indah ini karna memang kau pantas untuk ini"
.
.
.
"Yoongi-ya" sontak Yoongi menoleh saat mendengar seseorang memanggilnya
"Jin hyung, wae?" Ujar nya saat yang dilihat ternyata Jin yang memanggilnya
"menunggu siapa?" Tanya Jin yang sudah berdri di samping Yoongi yang diihatnya sedari tadi berdiri di halte dan melihat ke kanan dan kekiri
"Bus tentu saja" jawab Yoongi enteng, tanpa memperdulikan ekspresi Jin yang terlihat aneh di sebelahnya
"Bus? Apa kau bercanda?" Yoongi mengerutkan dahinya dan memandang Jin dengan wajah bingung,
"ini halte Jin-sshi jadi tentu saja aku menunggu bus memangnya apa yang salah"
Yoongi maish terlihat santai berdiri masih sambil mengunyah permen karet dan menghentak hentakan satu kakinya
.
.Drrttt…Drrttt… Drttt
.
.
Yoongi sedikit terlonjak kaget saat merasakan getaran hebat di saku nya, buru buru saja dia mancari benda yang menjadi sumber getaran tersebut. Jin masih di sebelahnya memperhatikan Yoongi yang memandangi layar ponselnya
.
'kenapa aku bisa lupa'
.
"yeobosseo"
'Yoongi kau mau membuat appa mu ini berkeliling sekolah hah kau dimana'
.
Yoongi sempat menjauhkan ponselnya dari telinga saat mendengar seseorang di seberang sana berteriak, bahkan Jin dapat mendengarnya dia hanya geleng geleng saja melihat kelakuan orang di sebelahnya
.
"a..ku di halte"
'apa yang kau lakukan di sana? Tunggu di sana'
"baik appa"
.
.
.
Pippp….
.
Saat telpon di matikan Yoongi menoleh kea rah Jin
"kenapa aku bisa lupa" Jin hanya terkekeh pelan dan menepuk nepuk kepala namja mungil di hadapannya ini, ingin rasanya Jin menarik kedua pipi itu lagi
"makanya aku tadi sempat heran saat kau bilang menunggu bus"
'karna dulu aku selalu naik bus bahkan aku mengejar bus' Yoongi membantin dan menghela nafasnya kasar
.
.
Tinnn Tinnnn
.
.
Keduanya menoleh saat mendengar klakson mobil di hadapan mereka, dan saat kaca mobil di turunkan nampaklah lelaki yang masih sangat tampan bahkan di usianya yang sudah berkepala 3
Dia membuka pintu mobil dan berjalan keluar menghampiri keduanya. Jin yang melihat nya menunduk sopan dan tersenyum
"ah Seokjin kau sekolah disini juga rupanya" melihat interaksi yang terjadi di antara 2 orang yang ada di hadapannya membuat Yoongi mengerjapkan matanya dan masih setia dengan innocent facenya
"nde ahjussi, aku bahkan sekelas dengan Yoongi" mendengar namanya di sebut Yoongi tersadar dan melihat ke arah sang appa yang juga tengah melihat ke arahnya
"eomma sudah berisik menyuruh mu pulang, bahkan dia memaksa appa yang menjemputmu lebih baik kita cepat pulang" melihat sang appa yang sudah berbalik dna berjalan masuk ke mobil membuat Yoongi reflek mengikuti sang appa, tidak lupa dia berpamitan pada Jin
"aku pulang duluan nde, sampai jumpa besok" melihat sang lawan bicara yang tersenyum dengan sedikit mengangguk membuat Yoongi mau tak mau ikut tersenyum
.
.
.
.
"a...ppa" Yoongi dengan ragu memanggil sang appa yang masih serius menyetir di sebelahnya yang hanya di jawab dengan sebuah deheman kecil.
Melihat sang anak yang diam setelah memanggilnya membuat Kyuhyun –sang appa- menoleh ke arahnya yang membuat Yoongi tersadar kalau dia malah diam setelah memanggil dirinya
"engg.. itu apa kemarin ada hal aneh yang terjadi" dengan sedikit ragu Yoongi berucap yang malah mendapat tatapan aneh dari Kyuhyun yang membuat Yoongi agaknya sedikit ciut
"tidak ada selain kau tidur sepanjang perjalanan pulang dari rumah nenek, bahkan appa yang harus mengangkat mu ke kamar karena tidak bangun setelah di biarkan tidur berjam jam di mobil"
"halmeoni?" Kyuhyun hanya mengangguk mendengar ucapan Yoongi, dan kembali fokus menyetir saat dilihatnya mereka berada di perempatan jalan
.
'kenapa mereka seolah terbiasa dengan kehidupan sekarang ini, apa Cuma aku yang merasa aneh?'
.
"kau tidak ingin mampir ke rumah Jimin dulu sebelum pulang ? kau belum menemuinya semenjak pulang dari Inggris" Yoongi mengerjapkan matanya sebelum akhirnya memahami perkataan sang appa. Dia semakin kaget saat mobil yang di kendarai sang appa memasuki gerbang tinggi berwarna Hitam dan yang dia tahu ini bukan gerbang tempat dimana dia keluar rumah tadi pagi
.
'Jimin ? Jimin siapa ? ya tuhan apa dia adik ku dimasa ini ?'
'kalau dia adik ku harusnya tadi pagi aku melihat dia bukan ?'
.
Entah karena terlalu larut dalam pikiran, Yoongi tidak menyadari bahwa sedari tadi pintu mobil di sebelahnya telah di buka lebar oleh sang appa yang sedari tadi sudah memanggil namanya.
"Yoongi" dengan nada sedikit keras akhirnya Yoongi sadar dan dengan tergagap dia langsung keluar dari mobil, dilihat wajah sang appa yang memandangnya dengan wajah sebal. Yoongi hanya memasang wajah innocent andalannya dan melihat sang appa berjalan masuk ke sebuah rumah ah tidak ini lebih pantas di sebut istana –menurut Yoongi-
Betapa luasnya rumah ini, bahkan Yoongi sempat berfikir akan sangat melelahkan kalau dia harus berlari dari gerbang ke depan pintu di hadapannya ini. Seandainya kau memperhatikan rumah tempat kau tinggal tadi pagi mungkin kau akan pingsan Yoongi-ah
"kenapa kau hobi sekali melamun akhir akhir ini Yoongi, apa kau lelah hm?" kelimat dengan nada kesal tapi masih kentara nada khawatir di dalamnya membuat Yoongi mendongak dan melihat langsung ke wajah sang appa.
Yoongi bahkan lupa rasanya di perhatikan oleh appanya, seulas senyuman muncul dan itu juga mengundnag senyuman lain di wajah yang berada lebih tinggi di hadapan Yoongi ini. Tangan Kyuhyun terulur untuk mengusak surai mint lembut milik sang anak yang malah membuat mereka larut dalam drama manis antara ayah dan anak, bahkan mereka tidak sadar sedari tadi 2 orang lainnya sudah bergabung bersama mereka dan hanya bisa menonton serta tertawa pelan menyaksikan adegan romantis di hadapan mereka
"astaga kalian berdua membuat ku iri andai Jimin mau aku perlakukan begitu" dua orang yang tadinya hanya diam itu akhirnya bersuara dan wajah terkejut sempat nampak pada dua orang yang ada di hadapan keduanya
Yoongi yang sadar kalau ada orang selain mereka menoleh dan melihat seorang pria yang sepertinya seumuran dengan sang appa atau mungkin sedikit lebih tua dan seorang namja tampan
.
'sial kenapa dengan pikiran ku'
.
"aku yakin yang ada Jimin malah akan muntah hyung" terdengar tawa saat kalimat dengan nada mengejek itu keluar dari mulut Kyuhyun, tepatnya hanya tiga ornag itu yang tertawa, Yoongi hanya memandang mereka dengan tatapan bingung dan kalau boleh jujur dia sedikit canggung karena tidka tahu apa apa mengenai dua orang yang sedang tertawa di hadapannya ini
"ayo Kyu masuk" melihat sang appa –satu satunya orang yang tidak asing di mata Yoongi- masuk Yoongi reflek mengekor di belakangnya dan ia sempat melihat ke arah Namja yang sepertinya seumuran dengannya tersenyum ke arahnya
"kau masih bisa memandanginya selama di dalam Jimin jadi cepat tutup pintunya" orang yang Yoongi asumsikan bernama Jimin itu terlihat memutar bola matanya malas dan menutup pintu sesuai ucapan orang tadi dan berjalan di belakangnya
"Lama tidak bertemu hyung" kalimat dengan nada pelan itu masih bisa terdengar oleh Yoongi, dia menoleh dan melihat orang itu –Jimin- melihat ke arahnya. Entah cuman perasaannya atau memang saat ini orang itu memandanginya dengan tatapan aneh dan itu terlalu sulit di artikan oleh kepala kecilnya.
Melupakan fakta kalau sang appa sudah berjalan duluan menuju ruang utama, Yoongi masih berdiri disini berhadapan dengan namja bernama Jimin entah kenapa Yoongi malah mau diam dan berdiri disini
Yoongi masih diam, memandangi namja dengan wajah tegas mata setajam elang hidung yang sangat pas di satukan dengan bibir penuhnya, di tambah rambut berwarna abu abu yang membuantnya malah terlihat sangat menarik. Entah Tuhan sengaja menciptakan mahluk dengan tampilan seperti ini untuk menjadi pemandangan bagus orang orang di sekitarnya atau malah untuk di jadikan cobaan bagi ornag ornag di sekitarnya. Pasalnya wajah itu seperti di pahat dengan sempurna, tanpa celah Yoongi sangat yakin kalau banyak orang yang menggilai namja ini di luar sana. Siapapun yang berhasil menaklukan namja ini patut di beri pujian atau mungkin patut untuk di contoh.
"ehem aku sedikit kecewa sebenarnya" Jimin masih melanjutkan kata katanya, dia masih memandnag ke wajah lain yang ada di hadapannya sekarang ini. Wajah yang sudah bertahun tahun tidak di lihatnya
Berbeda dengan Yoongi, dia masih sama memperhatikan dengan seksama wajah di hadapannya ini. Entah Cuma perasaannya atau apa, Jimin dengan dirinya sepertinya punya hubungan lain selain hanya sebagai orang yang saling kenal
.
'apa aku dan dia bersahabat dari kecil'
.
"Kecewa?"
Wajah yang berada di hadapannya mengangguk pelan dan tersenyum sebelum melanjutkan kata katanya
"pertama kau tidak menemuiku saat pulang ke Korea, kedua kau malah masuk ke sekolah yang berbeda dengan ku dan ketiga kenapa kau malah diam saja saat melihat ku hm? Tidak berniat memelukku?" namja di hadapannya kini merentangkan kedua tangannya membuat Yoongi semakin tidak mengerti tentang semua hal yang di alaminya.
Ingin menolak tapi dia takut kalau keanehan yang di alaminya di ketahui oleh orang lain termasuk keluarganya
Kalau boleh jujur Yoongi menikmati hidupnya sekarang ini, silahkan katakan dirinya seperti lupa pada daratan tapi mengingat hidupnya dulu yang jauh dari kata berkecukupan, harus bekerja paruh waktu kapan saja jika dia punya waktu luang, memikirkan bagaimana caranya hidup dan membayar uang sekolahnya yang tentu saja tidak murah bagaimana rasa tubuhnya yang seperti harus kerja rodi di jaman yang sangat sangat merdeka di Seoul.
Perlahan dengan banyak keraguan di kepalanya, Yoongi berjalan mendekat ke arah Jimin yang masih merentangkan tangannya menunggu dirinya mendekat dan, benar dengan cepat Jimin merengkuh tubuh kecil itu di pelukannya. Sebelah tangannya berada di pinggang ramping itu, dan sebelahnya lagi mengusak belakang kepala Yoongi dengan ritme yang membuat Yoongi nyaman. Dirinya meremas bagian depan kaos yang di gunakan Jimin sekarang, dia bingung ini terlalu dekat kontak fisik terdekat yang pernah dia lakukan seumur hidupnya dengan ornag lain selain ayah ibu dan hyungnya. Di sisi lain pelukan ini sangat nyaman dan membuat dirinya terbuai oleh aroma maskulin yang menguar dari tubuh Jimin.
"Hyung" Jimin hanya bergumam pelan tapi Yoongi dapat dengan jelas mendnegar kalau Namja itu memanggilnya. Merasakan nafas hangat Jimin yang menerpa lehernya bahkan hingga ke telinganya
"Haahh anak muda jaman sekarang" mendegar kalimat menyindir yang lewat di belakang keduanya membuat kesadaran Yoongi kembali dan mendorong Jimin menjauh, yang di dorong berdecak malas dan memandnag ayahnya yang tersenyum puas karena berhasil mengganggu anaknya itu
"kau mengganggu appa" nada malas dan datar terdengar dari kalimat yang di lontarkan Jimin, dan hanya di balas tawa ringan dari tuan Park,. Yoongi heran pasalnya nada bicara Jimin itu snagat tidak sopan untuk pembicaraan yang di lakukan 2 ornag dengan rentan umur yang berbeda, dan Yoongi kembali menjawab pertanyaannya sendiri. Mungkin Jimin memang orang yang tidak punya nada lain selain 'datar' dan 'malas' dari semua kalimat yang dia lontarkan. Bahkan kalau di lihat lihat wajah Jimin memang tidak banyak menunjukkan banyak expressi yang berarti.
Yoongi beralih memperhatikan sang appa yang juga ikut tertawa bersama tuan Park, senyuman tipis terhias di wajahnya dan dia tidak sadar jika Jimin memperhatikannya sejak tadi. Hal yang sama terjadi pada wajah Jimin, melihat bagaimana wajah cantik itu tersenyum membuatnya sedikit banyak juga ikut tersenyum.
"kurasa kami harus pulang sekarang hyung, Sungmin akan mengamuk kalau kami tidak segera pulang" mereka berjalan serempak ke sebuah mobil porce hitam metalik itu.
"kau yang begini tahluk pada mahluk mungil seperti Sungmin itu sangat mengejutkan Kyu"
"kalau dia mendengar kau mengatakan dia mungil kurasa kau akan berakhir di lantai dengan memar di punggung mu hyung"
Kedua orang tua itu masih sibuk bercanda, melupakan 2 orang anak muda yang berdiri di belakang keduanya. Pandnagan Jimin tidak lepas dari Yoongi yang sibuk menunduk, dia sadar kalau Jimin memperhatikannya dan itu membuatnya gugup sangat gugup.
"hyung kemarikan ponsel mu" Yoongi mendongak dan menatap sebentar wajah Jimin sebelum menyerahkan ponselnya seperti yang di mintanya, dia melihat Jimin mengetikkan sesuatu di ponsel miliknya dan untuk pertama kalinya Yoongi melihat wajah Jimin tersenyum sangat cerah dan itu membuat pipinya memanas, ah dia lupa kalau di luar sini sangat panas.
"aku akan menelfon mu nanti"
"Yoongi ayo" bersamaan dengan kalimat Jimin tadi, teriakan sang appa terdengar dan dengan segera Yoongi mengambil ponselnya dari tangan Jimin tidak lupa berpamitan pada tuan Park dan Jimin tentu saja.
"akui saja kau menyukainya Jimin-ah" Jimin masih diam memperhatikan mobil yang membaya Yoongi itu menghilang di balik pagar tinggi rumahnya, dia menoleh kapada sang appa yang masih berdiri di sebelahnya.
"dia hyung ku appa, aku hanya harus melindunginya dan berada di sisinya setiap dia membutuhkannya" tuan park menepuk punggung sang anak dan berjalan masuk saat menyadari kalau percakapan dengan tema seperti ini akan berakhir sama dan itu semakin memperburuk keadaan.
.
"aku hanya harus melakukan yang seharusnya aku lakukan bukan?"
.
Yoongi menjatuhkan tubuhnya ke kasur di belakangnya, pikirannya berkecamuk. Terlalu banyak hal yang di fikirkannya, tentang hal gila yang terjadi sekarang ataupun ornag orang asing yang entah kenapa terasa dekat dengannya.
Di tengah tengah pikirannya yang berkecamuk, sebuah cermin di sudut kamar menarik perhatiannya. Cermin besar yang terlihat clasik, Yoongi memandangi sekilas cermin itu dan memutuskan untuk berdiri di depan cermin. Hanya bias tubuhnya yang nampak, tubuh kecil dengan kulit pucat serta rambut blonde. Tunggu... Yoongi terkesiap, dia meraba wambutnya sendiri dan seingatnya rambut masih berwarna hitam kenapa sekarang...
"warna rambut mu masih hitam"
Yoongi menjerit, bias dirinya... ah tidak atau lebih tepatnya seseorang yang sama dengan dirinya di dalam cermin sana berbicara dengannya.
"namaku Suga"
TBC
yash akhirnya bisa w apdet :)
well w mau ngasih beberapa penjelasan
1. kenapa buat kyuhyun sama sungmin jadi ortunya Yoongi?
-itu karena perpaduan Kyumin itu pas bgt menurut gua jadi Yoongi :) wajar w Joyer:))) Kyuhyun yang cuek mulut setajam celurit putih pucad di tambah sungmin yang cutie subhanallah kiyowok pokoknya dan hasil akhirnya kalo di gabung jadi Yoongi :'v jadi jangan heran kalo beberapa ff gua entar bapake sama mamake nya Yoongi Kyumin :'v
2. ini cerita tentang apa ?
-tentang dunia nyata x cenanyang x mistis x ngawur. tau cenanyang kan itu loh semacam dukun dukun koreah jaman doeloe
udah lah ya w malah bacod
Keep Review bby
-KimMinus
