THE CONTRACT

Cast: Namjoon, Jin, Jungkook, BTS and Others

Pairing: Namjoon x Wendy, Namjin, Jin x Other

Rate: T to M

Warning: typos

(cerita ini murni karya saya, jika menemukan yang hampir sama, itu hanya kebetulan belaka)

.

.

.

Chapter 1

.

.

FLASHBACK

"Shinyuk datang padaku beberapa hari lalu. Ia meminta bantuan suntikan dana karena perusahaannya terancam koleps dalam beberapa bulan." Jelas Tuan Kim yang sekarang sedang duduk disamping ranjang istrinya. Nyonya Kim yang mendengar cerita sang suami mengernyitkan dahinya heran.

"bagaimana mungkin? Bukankah perusahaannya tengah naik daun sekarang?" meskipun nyonya besar cantik itu menghabiskan sebagian besar waktunya dirumah sakit, ia masih mengikuti beberapa perkembangan berita, khususnya perusahaan tuan Bang yang sekarang menjadi perhatian beberapa Negara tetangga karena prestasinya.

"yah, ada tangan jahil yang menyelundupkan uang perusahaan dengan nominal besar."

Nyonya Kim mengangguk mengerti. "lalu, apa kau membantunya?"

"tentu saja Yeobo. Aku membantunya. Namun.. hari itu kami terlibat dalam pembicaraan lain." Jelas Tuan Kim dengan nada lebih serius.

"aku tidak akan memberikan kebijakan yang memberatkan perusahaan Bang entertainment. Tapi aku merencanakan kerjasama lain dengannya. Aku bermaksud menjodohkan Seokjin dan Namjoon dalam ikatan pernikahan. Mengingat sebenarnya Shinyuk juga memiliki visi hampir sama seperti kita, yaitu ingin anaknya memiliki pendamping, ia pun akhirnya setuju meskipun butuh waktu beberapa hari untuk memikirkan nya."

"astaga! Apakah kau serius?!" Nyonya Kim tidak bisa menahan keterkejutannya mendengar berita ini, jantungnya yang dari tadi berdetak normal sekarang melonjak cepat, membuat dadanya sedikit nyeri namun masih bisa ia tahan

"apa aku terlihat sedang bercanda sekarang?"

"apa kau sudah menceritakan ini pada Namjoon?" Tuan Kim menghela nafasnya pelan.

"nah.. untuk itu. Aku akan mengatakannya nanti."

"apa menurutmu dia akan setuju?" tanya Nyonya Kim hati hati. Ia sendiri juga sedikit ragu tentang ide ini.

"dia akan setuju. Dan dia harus setuju." Tegas Tuan Kim dengan rahang yang mengeras.

"aku tidak tau harus menjawab apa, tapi... aku bahagia. Kau tau kan aku menyukai Seokjin. Dan entah kenapa saat pertama kali melihatnya aku merasa dia lah orang yang cocok untuk Namjoon. Aneh memang. Namun mau bagaimana lagi. Perasaan seorang ibu sangat kuat, kau tau."

"aku tau Yeobo."

"semoga saja mereka bisa menerima ini. Aku sungguh bahagia." Tutur Nyonya Kim sangat senang. Sampai sampai kedua bola matanya berkaca kaca.

"aku juga bahagia jika kau bahagia. Oleh karena itu, kau harus semakin semangat menjalani pengobatanmu ya?" ujar Tuan Kim lembut sambil mengusap kepala istrinya dengan sayang.

"tentu!"

.

.

.

.

.

.

"Kau benar benar akan menikah?! Astaga aku tak percaya ini!" suara pekikan seorang pria terdengar disebuah coffee shop yang cukup ramai. Membuat beberapa pelanggan lain yang sedang sibuk dengan latopnya, atau hanya sekedar bersantai dengan secangkir kopi hangat langsung menoleh ke sumber suara dan menatapnya tak suka.

"sstt. Pelankan suaramu." Tegur pria berkulit putih disamping pria berisik tadi dengan wajah sedikit kesal. Ia memandang kearah sekitarnya sambil tersenyum kikuk, meminta maaf atas sikap kekasihnya yang mengganggu.

"Hyung, lihat Seokjin hyung, dia diam diam menghanyutkan. Tanpa memberi tahu apa apa tau tau menikah!" seolah tidak perduli dengan teguran tadi, pria itu, Jimin malah membalas dengan celotehan lain lengkap dengan gerutu yang menggemaskan. Sementara subjek yang daritadi sedang diperbincangkan hanya tersenyum malu.

"memangnya ia harus memberikan pengumuman atau izin dari dirimu dulu jika ia mau menikah!" semprot si pria berkulit pucat, Yoongi, merasa kekasihnya memang tidak tau apa arti berisik.

"Hyung, aku sejujurnya juga kaget tapi aku tidak akan menggemparkan cofee shop mu dengan berteriak teriak heboh seperti Jimin. Maafkan kekasih pendekku ini ya." Lanjut Yoongi, mengabaikan tatapan kesal Jimin yang semakin merenggut.

"kau juga pendek!" sahut Jimin tak mau kalah. Tapi lagi lagi Yoongi memilih untuk mengacuhkan Jimin, daripada perdebatan mereka yang tidak penting semakin berlanjut.

Tak lama setelah kedatangan Namjoon, kedua sahabat nya datang ke coffee shop seperti biasa. Meminta kopi gratis atau promo diskonan coffee shop Seokjin, dengan dalih sedang tanggal tua.

Seokjin sendiri pun tak keberatan, karena sepertinya semua tanggal terlihat seperti tanggal tua didompet tebal mereka yang selalu menipis karena hal hal yang tidak penting.

"kau yakin dengan ini semua hyung?" tanya Yoongi hati hati. Dia tidak bisa memungkiri bahwa ia juga kaget. mendengar sahabatnya yang sudah lama menyendiri tiba tiba akan menikah. Heol, cerita tentang memiliki kekasih saja tidak, lalu tiba tiba akan menikah?.

Saat itu Yoongi baru sampai dan baru meminum kopinya sekali teguk, tiba tiba sahabat jangkungnya bercerita ia akan menikah, sungguh sebuah kejutan yang benar benar mengejutkan

Seokjin meminum ice cappucinno nya sekali. "aku tak punya pilihan." Lanjutnya tenang.

"semoga saja wanita itu bukan wanita menyebalkan yang akan mengatur ngatur hidupmu." Celetuk Yoongi dengan dengusan sebalnya. Seokjin yang baru saja ingin meminum kembali kopinya-guna membuat dirinya tetap tenang-menghentikan gerakannya saat mendengar ucapan Yoongi barusan.

"err.. soal itu. aku akan menikah dengan pria, Yoon"

"MWORAGO?!" keduanya terperanjat kaget. Yoongi bahkan memekik lebih keras dari pekikan Jimin sebelumnya. Para pengunjung sekitar kembali menoleh kearah mereka, bahkan ada yang terlonjak dari tempat duduknya.

Namun baik Jimin maupun Yoongi tampaknya tak perduli, membuat Seokjin sebagai satu satunya yang memandang para customer Coffee shop miliknya sambik tersenyum tak enak.

"aishh.. aku baru tau orientasimu juga menyimpang seperti kami hyung." Kata Yoongi kemudian, ia mengambil cangkir kopinya dengan sedikit terburu, dan menenggak cairan hangat itu banyak banyak. Berharap jantungnya yang tadi berdebar kaget kembali normal.

Seokjin mengedikkan bahunya. "sesungguhnya aku juga tidak tau juga. Aku kan belum pernah jatuh hati." Tutur Seokjin jujur. Ia memang belum pernah jatuh hati, mana dia tau soal orientasi seksualnya?. Saking tak pernah jatuh hati, Seokjin sampai berfikir mungkin ia ditakdirkan untuk hidup sendiri. Ia hanya cinta makanan dan kopi, tapi tak mungkin jika ia menikahi dia sudah gila.

Meskipun menyetujui perjodohan dengan kontrak rahasia juga tidak bisa dikatakan keputusan waras.

"apa kau sudah bertemu dengannya? Bagaimana dia?" tanya Jimin ambisius. Binar rasa penasaran terpancar kelewat kentara dari 2 bola matanya yang sipit.

"sudah. Baru saja aku bertemu dengannya lagi. Dia….." Seokjin terdiam, mengingat kembali pertemuan nya dengan Namjoon barusan. Dengan seorang pria muda berjas rapih dengan karisma kuat menguar dari auranya yang akan menjadi suaminya kelak. Jimin menaikan sebelah alisnya, menunggu kelanjutan Seokjin.

"…dia baik." Lanjut Seokjin singkat.

"semoga saja dia benar benar pria baik." Kata Yoongi pelan, terdengar sedikit nada sarkastik disana. Jimin menoleh, menatap Yoongi dengan tatapan tak suka. Tidak seharusnya Yoongi bersikap dingin seperti ini pada sahabat mereka yang mau menikah.

Sadar dengan tatapan Jimin, Yoongi buru buru melanjutkan kalimatnya.

"mwo? Kita belum tau siapa calonmu ini. aku tidak kenal. Jimin tidak kenal. Kau pun hanya bercerita bahwa kau akan menikahi anak dari sahabat keluirga mu yang sudah lama tak kau temui." Bela Yoongi, tapi sayangnya Jimin masih bersih teguh dengan pandangannya sementara Seokjin sedikit tertunduk.

Memikirkan baik baik kata kata Yoongi barusan yang sepenuhnya benar.

"hyung, terlepas dari ini perjodohan konyol orang tuamu, aku tetap mendoakan yang terbaik untukmu hyung. Semoga kau bahagia." Lanjut Yoongi-merasa tak enak dan bersalah-dengan sungguh sungguh. Pria itu sampai menggenggam tangan Seokjin untuk menyemangatinya kembali.

Memang ia tidak suka dengan ide perjodohan ini, terlebih saat tau Seokjin akan menikah dengan lelaki. bukannya Yoongi tidak suka Seokjin menjadi Gay, ia juga gay.

Hanya saja, menjalin hubungan antar opic lelaki-apalagi sebelumnya belum pernah menjalin hubungan dengan siapapun-pasti akan sangat rumit. Dan Yoongi hanya ingin Seokjin, sahabatnya, Bahagia.

"ya, semoga kau bahagia hyung. Untuk apa menikah jika tidak bahagia." Lanjut Jimin kemudian. Kalau jimin, entah dengan siapapun, 100% akan selalu setuju.

"gomawo Yoongi, Jimin." Kata Seokjin dengan senyum lembutnya. Sikapnya masih tenang seperti biasa.

"aku yakin semua baik baik saja." lanjut Seokjin lagi. Lebih terdengar seperti meyakinkan dirinya sendiri

Meskipun tenang, bukan berarti jauh dilubuk hati Seokjin ia benar benar tenang. Seokjin sangat handal dalam menyembunyikan perasaan sebenarnya. Ia pribadi yang selalu mengalah dan menerima

Tetapi.. manusia tidak bisa terus terusan mengalah, bukan?

.

.

.

.

.

.

.

.

Sebelum Namjoon pergi pagi itu, ia mengatakan bahwa opicda perjamuan keluarga malam harinya. Membicarakan dan mengenal keluarga kedua belah pihak lebih dekat. Lucu sekali bukan, mengingat suatu pernikahan normal pada umumnya seharusnya mengenal keluarga terlebih dahulu baru membicarakan pernikahan.

Bukannya sebaliknya.

Namun, katakanlah pernikahan mereka tidak normal, jadi disinilah Seokjin. Di kediaman keluarga Kim bersama kedua orang tuanya dan Keluarga Namjoon.

"ommo, Seokjin-ah kau tampak lebih tampan." Kata Nyonya Kim sumringah sekali. terlihat dari matanya yang berbinar saat menyambut Seokjin yang baru masuk dengan Tuan Bang dan Nyonya Bang.

"terima kasih nyonya kim. Anda juga tampak tetap cantik seperti biasanya." Sahut Seokjin tulus. Nyonya Kim memang masih tampak cantik, sama seperti dulu saat Seokjin bertemu dengannya. Meskipun wajah pucatnya tak bisa ditutupi, aura lembut dan penuh semangat itu tetap ada.

"namjoon-ah, lihat lah, calon suamimu manis ya." Ledek nyonya Kim sambil menyikut Namjoon yang berdiri disamping eommanya. Namjoon sendiri yang memakai celana jeans dan kemeja panjang polos berwarna Navy Blue yang digulung sampai siku dihiasi dengan jam tangan mahal berlogo mahkota itu hanya tersenyum kikuk.

"iya eomma." Sahutnya. Seokjin tak tau mengapa tapi jantungnya seolah terlewat satu degupan. Mungkin ia merasa canggung dan malu?. Tuan Bang dan Nyonya Bang yang mendengar itu tak bisa menyembunyikan senyum mereka, setidaknya Namjoon tampak baik dan sopan pada Seokjin. Ia pasti akan menjaga Seokjin dengan baik-pikir mereka.

"Maafkan keluarga kami yang kurang lengkap, ya? Jungkook sudah menghilang sejak sore tadi. Dasar anak muda." Kata Nyonya Kim sambil mengantar keluarga Bang keruang makan di rumah mereka. Nyonya Kim tampak lengket sekali dengan Soekjin, ia bahkan memeluk lengan Seokjin manja. Namjoon yang melihat itu sedikit berharap eomma nya bisa melakukan hal yang sama dengan kekasihnya. Tanpa sadar wajah pria itu berubah sedikit sendu.

Soekjin yang mendengar penuturan nyonya Kim hanya mengerjapkan matanya tak mengerti.

"anak kami satu lagi, Jungkook. Dia baru pulang dari studinya di luar negeri" jelas Nyonya Kim. Ah, Seokjin baru ingat soal adik Namjoon. terakhir ia bertemu dengan keluarga Kim, saat itu Jungkook masih memakai popok dan merangkak kesana kemari

"ah.. anak itu memang susah diatur." Celetuk Namjoon pelan tapi masih bisa ditangkap pendengaran Seokjin.

.

.

Makan malam berjalan normal. Keluarga Kim tetap bersikap ramah seperti dulu. Seokjin pikir semua akan berlancar biasa biasa saja sampai akhirnya Nyonya Kim melontarkan pertanyaan yang sudah diwaspadai Seokjin-dan Juga Namjoon-sebelumnya

"jadi, apa kalian sudah membicarakan pernikahan kalian? Maksudku, dimana kalian akan menyelenggarakannya?" tanya nyonya Kim antusias setelah membersihkan mulutnya dengan sapu tangan.

"ah soal itu, kami belum sempat memikirkannya Nyonya Kim" Seokjin menatap Nomjoon, lebih terlihat juga mempertanyakan hal yang sama pada pria itu. astaga, jangankan bicara soal konsep pernikahan, saat ini saja Seokjin masih tidak percaya ia akan menikah.

"menurut kami, lebih baik jika acaranya kecil kecilan saja lebih kearah private wedding. Kau setuju kan Seokjin-sshi?" lanjut Namjoon yang menyadari kebingungan Seokjin barusan.

"ne. kurasa itu jauh lebih baik."

"bagaimana dengan coffee shop mu Seokjin. Sudahkah kau bicarakan dengan Namjoon? maksud ibu, setelah kehidupan pernikahan kalian nanti, apa kau akan menetap dirumah, mengurusi pekerjaan rumah atau bagaiamana?" nyonya Bang bertanya dengan nada hati hati. Ia tidak mau menyinggung keluarga Kim, namun sebagai seorang ibu, ia hanya ingin anaknya bahagia. Tetap menjalankan hal hal yang ia suka. Karena bagaimanapun juga, coffee shop itu adalah impian Seokjin yang baru ia rintis.

"so-"

"soal itu, aku tidak akan membatasi Seokjin-sshi nyonya Bang, ia boleh melakukan kegiatan apapun yang ia suka, termasuk menjalankan bisnisnya seperti biasa." Belum sempat Seokjin menjawab Namjoon sudah membuka suaranya, mengambil alih pertanyaan barusan. Pria itu berujar meyakinkan dengan senyumnya yang tulus.

Berusaha menampilkan image baik di depan calon mertuanya.

"bagus jika seperti itu". sahut Nyonya Bang lega. Wanita itu kemudian menoleh kepada anak tunggalnya yang duduk disamping. "Jinnie, ingatlah kau akan menikah. Apapun yang kau lakukan, kau harus meminta izin dari suamimu. Jadilah pendamping yang baik untuknya ya?" kata nyonya Bang, bersikap seperti seorang ibu yang memberikan petuah pada anak gadisnya yang ingin menikah.

Seokjin hanya mengangguk canggung.

"ah iya, kalian mau bulan madu dimana?" tepat setelah pertanyaan itu keluar dari mulut Tuan Kim, Namjoon tersedak potongan buah yang sedang ia kunyah. Lelaki itu bahkan terbatuk batuk keras. Reflek, seokjin yang duduk didepannya menuangkan air dan memberikan nya pada Namjoon.

"namjoon kau tak apa apa nak?" Nyonya Kim mengelus punggung Namjoon yang sedang minum air pemberian Seokjin. Pria itu menenggak habis air tersebut sampai tak bersisa.

"aku baik." Kata Namjoon pelan setelah ia berhasil mengatur nafasnya kembali. Sementara Seokjin, yang mendengar pertanyaan tadi, berusaha setenang mungkin. Menutupi rasa keterkejutannya.

"aku rasa tidak perlu nyonya Kim. Maksudku, kami sangat sibuk dan… kurasa itu tidak ada gunanya." Sekarang gantian Seokjin yang mencoba mengambil alih pertanyaan ini. Takut takut kalau Namjoon sampai memuntahkan kembali makanannya karena terlalu terkejut.

Seokjin punya alasan. Pertama, mereka berdua memang benar benar sibuk. Namjoon dengan perusahaannya dan Seokjin dengan bisnisnya.

Kedua, bukankah tujuan bulan madu itu untuk cepat mendapatkan keturunan? Sementara mereka berdua sama sama pria, mana mungkin bisa hamil?

Ketiga, mereka tidak mencintai satu sama lain, semua hanya akan berakhir canggung.

Dan keempat, Seokjin tidak tau apapun soal hubungan gay. Ia hanya tau sedikit dari Jimin dan Yoongi. Salah satunya harus menjadi uke dan seme, top atau bottom. Dan jika memang kontak fisik itu diperlukan, Seokjin tidak tau posisi ia itu uke atau seme?

Memikirkan kembali alasan nomor 4, pipi Seokjin entah kenapa menghangat, ia tidak bisa membayangkan melakukan kontak fisik.

Terlebih dengan lelaki.

Dan terlebih lagi dengan Namjoon.

"hanya karena kau tidak bisa hamil, apakah bulan madu menjadi tidak ada gunanya? Kalian ini pasangan yang akan menikah. Dan kehidupan menikah itu juga tentang kehidupan ranjang. Jangan kalian pikir kalian dijodohkan lalu kalian tidak melakukan hubungan seksual." Jelas nyonya Kim lugas. Terlalu lugas malah. Seokjin dan Namjoon semakin canggung saja. mendengar penuturan istrinya, Tuan Kim menggenggam lembut tangan istrinya, mengingatkan bahwa ada tuan dan nyonya Bang yang juga ikut mendengar.

Nyonya Kim menatap suaminya, melempar pandangan "aku benar kan?" sementara sang suami hanya menghela nafas kemudian tersenyum "tenang Yeobo."

"jika yang kau permasalahkan adalah keturunan, kalian bisa mengangakt anak untukku. Tapi yang paling penting, kalian harus menjalani pernikahan layaknya pasangan pada umumnya. Arra?" lanjut Nyonya Kim dengan nada lebih tenang.

Seokjin berdeham sekali, "tentu nyonya Kim. Aku dan Namjoon.. akan bulan madu." Tuturnya, lalu kembali menatap Namjoon yang masih sedikit menegang ditempatnya.

"hanya itu yang bisa aku katakana," kata Seokjin pada Namjoon melalui tatapannya.

.

.

.

.

.

.

.

Makan malam berakhir tak lama setelah menit menit obrolan canggung itu berlalu. Nyonya dan Tuang Bang sekarang sedang bersama orang tua Namjoon di ruang keluarga. Berbicara soal bisnis dan masa muda mereka.

Mungkin juga berbicara tentang bagaimana ke empatnya bahagia akan menjadi besan. Seokjin dan Namjoon yakin sekali tentang itu.

Oleh karenanya, untuk menghindari pertanyaan pertanyaan yang mungkin lebih aneh akan terlontar dari mulut orang tua mereka, Namjoon memutuskan untuk mengajak Seokjin ke balkon di lantai dua. Duduk di terasnya dan menikmati pemandangan langit malam.

Untuk saat ini, tempat itu adalah tempat teraman daripada harus dikelilingi orang tua mereka yang terlalu bersemangat.

"maafkan soal ibuku tadi ya, dia pasti membuatmu tidak nyaman." Kata Namjoon sambil menyenderkan punggungnya ke pembatas balkon, kedua tangannya ia masukan ke kantung celana, sementara Seokjin yang berdiri disampingnya menghadap berlawanan dengan kedua tangan yang ia sandarkan di pembatas itu.

"bukankah kau yang tadi tersedak smapai terbatuk?" sindir Seokjin, Namjoon hanya tertawa renyah. Diikuti Seokjin yang juga tertawa pelan.

"tidak apa apa Namjoon-sshi. Ibumu menyenangkan." Lanjut Seokjin saat tawa Namjoon mereda.

Hening diantara mereka. Baik Namjoon dan Seokjin sibuk menikmati udara malam saat itu.

Atau sibuk dengan pikiran masing masing.

"aku lega." Ujar Namjoon memecah keheningan. Seokjin menoleh "lega karena?"

Namjoon ikut menoleh kearah Seokjin, menatap lelaki yang akan dinikahinya itu, tepat di kedua bola matanya. "karena kau bisa berfikir terbuka dan menerima semua ini. Seokjin.. aku memiliki kekasih dan sepenuhnya hatiku kuberikan padanya. Kau bisa mengerti tentang itu, aku sangat lega." Kata Namjoon sungguh sungguh.

Seokjin kembali memalingkan wajahnya kedepan, sambil tersenyum. "itu bukan hal besar Namjoon-sshi." Namjoon mengangguk angguk paham.

"dan omong omong soal bulan madu….apa kau ada ide?" Seokjin menoleh lagi kearah Namjoon dengan sedikit canggung, raut wajah Namjoon tampak tenang. Seolah ia baru saja bertanya "kau sudah kenyang?" lain halnya Seokjin, yang ditanya hal itu langsung oleh Namjoon malah jadi salah tingkah sendiri. Ia tidak menyangka Namjoon akan mengungkit kembali pertanyaan yang tadi sempat membuat mereka tidak nyaman.

"ti-tidak ada. Aku terserah pada mu saja Namjoon-sshi."

"ba-" baru saja Namjoon membuka suara, bunyi ponsel berdering terdengar diantara mereka. Namjoon merogoh sakunya dan mengambil ponsel itu, menatap beberapa detik kearah layar lalu meminta izin pada Seokjin untuk pergi sebentar.

"aku perlu mengangkat ini." katanya. Seokjin mengangguk, dan dengan tergesa Namjoon mengangkat panggilan itu sambil berjalan pergi. Terakhir yang ia dengar hanya Namjoon yang meminta maaf pada penelfon diseberang nya karena ia baru bisa mengangkat panggilan itu sekarang.

Seokjin kembali sibuk dengan pemandangan langit malam. Bulan madu? Ia yakin sekali Namjoon meminta itu hanya sebagai formalitas. Ia tidak ada masalah apapun dengan itu. toh mereka hanya harus pergi kesuatu tempat berdua dan berpura pura bulan madu kan?.

Tiba tiba suara mesin mobil yang mendekat menarik perhatian Seokjin. Seokjin menoleh kebawah, lalu menemukan mobil sport mewah berwarna merah masuk ke garasi Rumah, tak lama seorang pria turun dari bangku kemudi, menutup pintu mobilnya lalu berjalan masuk kearah rumah.

Seokjin masih memandang pria itu seksama sampai akhirnya subyek yang tengah ia lihat itu menoleh keatas, memandang Seokjin dengan tatapan datar lalu kembali melanjutkan langkahnya dan masuk kedalam.

Pria dengan tatapan cuek yang membuatnya sedikit tidak nyaman.

.

.

.

.

.

Esok siangnya Seokjin sudah berada di butik yang berlokasi dikawasan elit Seoul. Ia memiliki janji temu dengan designer ternama kenalan keluarga Kim. Mengingat ia akan menikah dekat dekat ini, semua perencanaan pernikahan seolah serba kilat.

Seokjin tak tau apapun soal perencanaan pernikahan, beruntung keluarganya sudah menyiapkan WO handal untuk mereka meskipun awalnya si organizer membelalakan matanya kaget saat mendengar berapa banyak waktu yang mereka miliki untuk mempersiapkan mustahil memang.

Tapi tidak ada yang mustahil jika kau memiliki uang dan posisi penting.

"permisi aku Bang seokjin. Aku ada janji untuk fitting baju dengan tuan Ryeowok." Kata Seokjin pada wanita cantik yang sedang duduk di meja resepsionis

"oh tuan Bang, anda sudah ditunggu." Sahut wanita itu ramah lalu mengajak Seokjin ke sebuah ruang tunggu private yang sangat mewah. Tak lama pintu kembali terbuka dan sesosok pria bersetelan rapih dengan selera fashion yang tak diragukan, masuk keruangan.

"selamat pagi. Maaf membuatmu menunggu Seokjin-sshi. Aku Ryeowok." Sapanya ramah sambil berjalan terburu kearah Seokjin. Seokjin bangkit dari tempat duduknya dan membungkuk sopan."ah tidak Ryeowok-sshi, aku juga baru sampai."

"baiklah, aku punya beberapa rancangan yang cocok untukmu." Sahutnya bersemangat dan tak lama seorang wanita masuk dengan rentetan tuxedo indah.

"arraso." Sahut Seokjin sambil tersenyum.

.

.

Beberapa tuxedo sudah ia kenakan dan semuanya sangat indah dan nyaman. Tak staupun rancangan Ryeowok yang mengecewakannya. Seokjin tidak begitu pintar soal Fashion, namun ia berani bertaruh, rancangan Ryeowok memang tidak ada tandingannya di Seoul.

"kau hanya sendiri? Tidak ada yang menemanimu?" tanya Ryeowok sambil mengepas tuxedo yang dipakai seokjin, seperti memasangkan kancingnya, membenarkan jas dan sebagainya. Seokjin hanya diam dan membiarkan Ryeowok bekerja.

"ah.. orang tuaku sedang sibuk mengurus urusan yang lain, sementara sahabatku, lebih baik aku tidak mengajaknya untuk urusan yang ini."

"bagaimana dengan calon suamimu." Tanya Ryeowok lagi dari belakang tubuh Seokjin, masih dengan tangannya yang sibuk merapihkan ini itu.

"a-ah.. bukan kah kata orang lebih baik jika tunangan tidak ikut saat fitting baju?" Ryeowok tertawa pelan"yah begitulah."

"tapi itu terserah padamu untuk percaya atau tidak, bukan?" Seokjin hanya bisa tersenyum.

"okay, kau sudah selesai." Sahut Ryeowok lalu berjalan kearah cermin besar yang tertup tirai di depan Seokjin. Pria itu kemudian membuka tirainya, membuat Seokjin melihat pantulan dirinya yang berbalut tuxedo berwarna putih.

"whoa…" guman Seokjin.

"aku tau. hebat bukan? Meskipun acara pernikahan kalian sangat dadakan, aku tak mungkin memberikan mu pakaian yang biasa biasa saja," kata Ryeowok puas sambil melipat tangannya. Menatap rancangan yang dikenakan Seokjin dengan tatapan bangga

"ini indah sekali Ryeowok-sshi." Ujar Seokjin tulus. Ia bahkan tak bisa mengenali dirinya sendiri sekarang. ia tampak sangat berbeda.

"kau mengagumkan Seokjin-sshi. Kau akan menjadi pengantin yang sangat cantik." Ujar Ryeowok jujur. Ia kemudian berjalan kearah Seokjin dan ikut menatap pantulan Seokjin di cermin besar di depannya.

"Namjoon akan sangat bahagia memilikimu Seokjin-sshi." Lanjut Ryeowok tulus. Ia tak tau detail alasan kenapa keluarga Kim meminta nya untuk mempersiapkan 2 baju pengantin laki laki sangat mendesak. Ia tak memiliki waktu untuk terkejut dan mencari tau. yang ia tau-dan ia ingin-adalah, semua pelanggannya akan memiliki hari pernikahan yang bahagia.

Tak terkecuali Seokjin dan Namjoon.

.

.

.

.

Acara Fitting baju sudah selesai, Seokjin masih ada di butik Ryeowok saat itu. Seokjin mengecek ponselnya yang daritadi ia simpan di dalam saku. Ponselnya bergetar terus dari tadi. Notifikasinya penuh dengan oborlan Jimin dan Yoongi di grup Line, pesan dari ibunya, dan sebuah pesan dari Namjoon yang baru saja masuk.

KIM NAMJOON:

Maaf tidak bisa menemanimu, aku ada rapat penting. Adikku akan membantumu memilih dekorasi gedung nanti.

Bang Seokjin:

Tidak apa apa. Baiklah kalau begitu.

KIM NAMJOON:

Tunggulah, ia sudah menuju ketempat mu. Sekali lagi aku minta maaf.

Bang Seokjin:

Tidak apa apa Namjoon-sshi. Fighting! Semangat untuk rapatmu.

Dan setelah pesan terakhir itu berhasil terkirim, Seokjin kembali memasukan ponselnya kedalam saku. Tak berapa lama ia duduk diruang tunggu seorang lelaki muda dengan celana jeans ketat, kaus branded lengkap dengan outter kemeja flannel yang tidak dikancing dan sepatu Boots berwarna coklat terang sedang berjalan menghampirinya.

"kau Bang Seokjin?" Seokjin mendongak, menatap lelaki yang wajahnya tampak familiar itu.

"ne. ada yang bisa ku bantu?"

"aku Jungkook. Adik Namjoon." ah tentu saja Familiar. Seokjin baru ingat, lelaki inilah yang ia lihat malam itu di balkon rumah kediaman Kim.

"ah, annyeong hasseyo Jungkook-sshi. Salam kenal." Kata Seokjin sambil berdiri dan tersenyum ramah.

"well, bisakah kita menghilangkan embel embel –sshi? Aku tak biasa." Alih alih membungkuk hormat, Jungkook malah berujar santai. Seokjin sempat heran awalnya namun ia memaklumi karena mungkin Jungkook sudah terbiasa dengan adat luar negeri.

"o-oke." Sahut Seokjin pada akhirnya.

"so, kau sudah selesai?" Seokjin mengangguk. "alright. Kita berangkat sekarang saja."

"tapi aku bawa mobil…" kata Seokjin lagi saat anak bungsu keluarga Kim itu baru membalikan badannya bersiap untuk pergi. Jungkook kembali menoleh pada Seokjin lalu mengulurkan tangannya.

"berikan kunci mobilmu" Seokjin bergeming beberapa saat, Jungkook berdecak sekali saat calon kaka iparnya itu tak merespon apa apa. "sudah berikan saja" pinta Jungkook sedikit memaksa. Mau tak mau, Seokjin merogoh kunci mobilnya dan memberikan itu pada Jungkook. Tanpa sepatah kata apapun, Jungkook menghampiri meja resepsionis dan berbicara sesuatu pada wanita yang sedang duduk disana.

Tak lama, Jungkook kembali menghamprii Seokjin yang daritadi menatapnya bingung.

"aku sudah menyuruh orangku mengambil mobilmu. Tenang saja, kuncimu tidak akan hilang, Ryeowok hyung dekat dengan keluargaku. Jika mobilmu hilang, aku juga yakin dia bisa menggantinya dengan mudah." Tutur Jungkook masih dengan nadanya yang sangat santai itu. Seokjin mengerjapkan matanya.

"lets move" lanjutnya lagi sambil memakai kacamata hitam yang dari tadi ia genggam. Seokjin masih bergemin beberapa detik ditempatnya, baru pertama kali bertemu dengan dongsaeng minim tata krama seperti Jungkook. Namun Seokjin mengerti, pria itu mengedikkan bahunya dan kemudian mengekori Jungkook yang sudah sampai di pintu keluar.

.

.

.

"jadi, selama ini kau sekolah dimana Jungkook?" tanya Seokjin pada Jungkook yang sedang sibuk menyetir disampingnya. Mencoba membuka percakapan ditengah kecanggungan. Hanya suara opic dari CD player yang menghiasi suasana di mobil saat itu.

"Manchester." Jawab Jungkook singkat tanpa membalas tatapan Seokjin. Pria itu sibuk menyetir sambil menatap lurus jalan didepannya sambil sesekali bersenandung mengikuti lagu yang diputar.

"apa kau berencana untuk melanjutkan kuliahmu disini?"

"aku sudah lulus." Seokjin melongo. Jungkook lebih terlihat seperti anak baru lulus Senior High ketimbang seorang sarjana.

"be-berapa umur mu?"

"tahun ini aku 20." Seokjin mengernyitkan dahinya. Sadar akan respon lawan bicaranya, Jungkook menoleh kearah Seokjin yang sedang menatapnya heran.

"Aku ikut kelas akselarasi." Jelasnya dengan nada malas. Seokjin adalah orang ke seribu yang memberikan respon yang sama saat mendengar umur Jungkook sebenarnya.

"daebak. Lalu, kau akan mengambil gelar master di korea atau bagaimana?" Seokjin berubah semangat, ia bahkan tersenyum kagum pada Jungkook. Namun, respon yang diberikan Jungkook malah berbanding terbalik dengan Seokjin.

Jungkook kembali menoleh kearah Seokjin. "kau ini banyak tanya ya?" sahutnya dengan nada sebal-yang bahkan terdengar sedikit tak sopan. Seokjin reflek mengatupkan mulutnya. Hening beberapa detik.

"entahlah. Aku juga tidak tau. tadinya aku ingin bersenang senang dulu disana. Tapi ayah malah menyeretku pulang." Lanjut Jungkook sambil memalingkan wajahnya kejalan lagi.

"you can have some fun in korea too."

"korea?" Jungkook mendengus remeh. "menyenangkan apanya."

"ini negaramu! Tidak ada yang lebih baik dari Negara sendiri bukan?"

"I don't hate Korea. Not at all." Tutur Jungkook dengan nada sedikit memelan. Seolah sedang menerawang atau teringat sesuatu akan apa yang ingin ia ucapkan.

"lalu..?" Seokjin menatap Jungkook lekat lekat. Merasa sedikit penasaran dengan kelanjutan kata kata Jungkook. Bukannya menjawab, Jungkook malah kembali mendengus.

"mr Bang, kau baru menjadi tunangan kakakku. Kau belum menikah dengan nya, which means kau belum sah menjadi bagian keluarga Kim. Jadi bukankah sebaiknya kau membatasi keingin tahu-anmu itu?." tegas Jungkook dengan intonasi jauh lebih menyebalkan. Ia bahkan tersenyum remeh saat mengakhiri kata katanya barusan.

Reflek Seokjin mengigit bibirnya, ia mengakkan posisi duduknya dan kembali menatap jalanan didepan. "maaf" kata Seokjin pelan, tak ingin melanjutkan pembicaraan yang dingin ini.

.

.

.

.

.

Hanya satu jam Jungkook dan Seokjin berbincang dengan vendor dekorasi gedung mereka, karena sebenarnya sudah ada WO yang mengurus, dan Seokjin hanya datang untuk memeriksa. Tapi pergi bersama Jungkook bisa dibilang adalah detik detik penuh kecanggungan yang amat sangat.

Ingatkan Seokjin sekali lagi bahwa ia yang lebih tua disini. Namun kenyataannya malah terbalik. Keberadaan Jungkook sedikit mengintimidasinya. Entah mungkin karena aura anak itu yang sedikit bossy, cuek dan semaunya atau Jungkook memang menyebalkan.

"aku lapar… kau sudah makan?" tanya Seokjin saat keduanya sedang berjalan menuju basement bersiap untuk pulang.

"begini saja kau sudah lapar?" Jungkook menatap Seokjin dengan tatapan tak percaya. "memangnya kenapa? Dari pagi aku belum makan asal kau tau." sahut Seokjin sedikit sebal. Jangan ada yang boleh mengomentari hobi makan Seokjin atau kebiasaannya yang mudah lapar.

Jangan pernah ada.

"yasudah ayo kita makan." Kata Jungkook menyerah, lebih baik seperti itu ketimbang Seokjin pingsan dan ia harus menggotong gotong pria yang faktanya memiliki tubuh lebih besar dari Jungkook.

.

.

.

.

.

.

Bersama dengan Seokjin beberapa saat sudah membuat Jungkook mengetahui satu hal. Seokjin hanya diam jika sedang makan. Pria itu tampak sangat menikmati berbagai hidangan yang tersaji dimeja. Sementara Jungkook hanya menikmati makan siang sambil memainkan ponselnya.

Jungkook menyelesaikan makan siangnya lebih dulu, sementara Seokjin sedang asik mengunyah makanan penutup berupa pudding coklat dengan saus vanilla dan potongan buah disana sini.

"maaf?" tanya Seokjin heran saat mendapati Jungkook sedang tertawa remeh sambil menatapnya.

"bukan apa apa. Aku hanya tak habis pikir." Kata Jungkook masih dengan tawa menyebalknya itu. Seokjin mengunyah potongan buah dan buru buru menelannya "tak habis pikir kenapa?"

"aku tak tau bagaimana kakakku bisa menjalani semua ini. dia straight dan dijodohkan dengan lelaki asing. Pasti rasanya mengerikan." Kata Jungkook sambil merogoh sakunya dan mengambil sekotak rokok. Sementara Seokjin hanya terdiam mendengar kata kata Jungkook barusan.

"no offense, aku tidak masalah dengan kaum gay. Tapi aku yakin didalam hatinya ia pasti ingin kabur dari pernikahan ini." lanjut Jungkook lagi setelah ia menghisap penuh penuh rokok yang baru ia nyalakan dan menghembuskan asap nya keudara.

Seokjin masih tak menyahut apa apa. Ia juga tidak tau mau merespon apa. Di posisi ini ia tidak memiliki kuasa untuk bertindak apapun. Ia hanya menjalani dan menuruti orang tuanya. Ia pun tidak memiliki perasaan atau menggunakan hatinya dalam pernikahan ini. ia juga tidak berharap apa apa. Tapi mengapa seperti ialah orang yang jahat disini.

Melihat respon Seokjin yang membisu, Jungkook menghisap kembali rokoknya dan membuang abunya ke dalam asbak. "Chillax. Kim Namjoon tidak akan berani mempermalukan keluarga dengan kabur seperti itu." jelas Jungkook santai.

"kalau aku, mungkin iya." Lanjutnya lagi.

"kau terdengar sangat mengenal Namjoon-sshi. Kalian pasti sangat dekat." Tanya Seokjin sambil tersenyum simpul, mencoba mengganti opic

"kau boleh berspekulasi apapun. Tapi aku harap aku tidak dilahirkan dari Rahim yang sama dengannya." Jungkook menjawab dengan wajah yang sangat serius.

"mwo?"tanya Seokjin dengan mata sedikit membulat. Apa maksudnya? Jungkook kembali menghisap rokoknya dengan pandangan menerawang. Hisap-hembus-hisap-hembus.

"nope." Kata Jungkook lalu mematikan rokoknya.

"aku ingin ke kamar mandi." Katanya lagi sambil bangkit berdiri. Meninggalkan Seokjin yang masih bingung dengan kata kata Jungkook barusan.

.

.

Tak lama setelah Jungkook kembali dari kamar mandi, pria itu membayar makan siang mereka dan bersiap untuk pulang. Baru saja Seokjin berdiri, Jungkook yang baru saja berjalan 2 langkah di depannya tiba tiba berhenti

"great" gumam pria itu sambil menatap lurus kesebuah titik dengan pandangan kesal. Seokjin menghampiri Jungkook dan mengikuti arah pandangnya. Dan saat itulah Seokjin tau apa yang sedang Jungkook lihat.

Namjoon yang baru saja masuk bersama seorang wanita. Bergandengan tangan dan duduk disebuah meja dekat situ.

Jungkook berjalan tergesa menghampiri Namjoon. Seokjin seolah terpaku dengan pemandangan di depannya. Wanita cantik yang sedang bersama calon suaminya. Saking terlalu fokus, ia tidak sadar bahwa Jungkook sudah beranjak daritadi. Soekjin akhirnya menyusul pria itu dengan terburu.

"menikmati makan siangmu, Hyung?" Kata Jungkook yang lebih terdengar dengan Sindiran. Namjoon yang saat itu sedang berbincang dengan wanita di depannya menoleh kesumber suara. Namjoon membelalakan matanya kaget.

"Jungkook. Sedang apa kau disini?" tanya sang kakak dengan intonasi tidak suka yang berusaha ditutup tutupi.

"well. Mengiyakan suruhanmu dengan sangat terpaksa untuk menemani melihat gedung pernikahan." Kata Jungkook santai sambil melipat tangannya

Dan saat itu Namjoon baru menyadari keberadaan Seokjin yang berjalan menghampiri mereka, tak jauh dibelakang Jungkook. Melihat kakanya yang semakin kaget, Jungkook malah semakin mengompori keadaan. "Kau sendiri? Bukan kah katamu tadi kau ada rapat, sampai sampai kau meminta bantuanku menemani tunanganmu?" katanya lagi dengan wajah polos yang dibuat buat. Ia melipat tangannya, puas sekali saat melihat ekspresi Namjoon semakin menegang.

"tunangan?" kata wanita didepan Namjoon, mengulang ucapan Jungkook barusan yang terdengar janggal ditelinganya.

"ah, selamat siang Nona Wendy. Aku hampir lupa kau ada disini." Kata Jungkook dengan nada ramah yang dipaksakan.

"apa maksudmu tadi Jungkook?" tanya Wendy lagi dengan dahi berkerut. "yeah, kau tidak tuli kan? Aku baru saja menemani tunangan pacarmu melihat gedung" lanjut Jungkook tanpa dosa, ia bahkan menatap Seokjin yang sekarang sudah berdiri disampingnya.

Seokjin yang baru sampai hanya mencoba tersenyum meskipun kikuk kearah tiga orang yang sedang menatapnya dengan ekspresi berbeda. Jungkook dengan smirknya, Namjoon yang kebingungan dan seorang wanita yang menatap Seokjin dengan pandangan kaget dan tak mengerti.

"kenalkan Wendy, ini Seokjin, Tunangan Namjoon. dan Seokjin, ini Wendy, Kekasih Namjoon. ah- atau haruskah sekarang aku sebut mantan kekasih?"

.

.

.

.

TBC


Hallo. Maaf baru bisa btw kemarin mau pasangin Namjoon sama OC. eh gajadi jadinya sama wendy deh._. hehe maafkan kelabilanku.

Terima kasih sudah baca

Review Jusseyooo ^^