THE CONTRACT
Cast: Namjoon, Jin, Jungkook, BTS and Others
Pairing: Namjoon x Wendy, Namjin, Jin x Other
Rate: T to M
Warning: typos
(cerita ini murni karya saya, jika menemukan yang hampir sama, itu hanya kebetulan belaka)
.
.
.
Chapter 2
.
.
Namjoon menarik lengan Jungkook, menyeretnya ke luar restoran dan meninggalkan Seokjin yang masih terdiam kikuk. Seokjin yang melihat kedua pria itu memutuskan untuk membungkuk singkat dan pamit pergi. Mengikuti Namjoon dan Jungkook yang sudah berjalan keluar.
"apa apaan tadi Jungkook!" bentak Namjoon kesal saat keduanya sudah berada diluar restoran. Orang orang yang berlalu lalang sempat menoleh kearah mereka, penasaran dengan sumber keributan di pinggir jalan.
Jungkook melepas cengkraman Namjoon di lengannya, ia hanya tersenyum miring. Membuat gigi Namjoon bergelatuk menahan amarah. Dan Jungkook sama sekali tidak takut melihat itu. Namjoon baru akan membuka mulutnya lagi saat sebuah suara menginterupsi keduanya
"Namjoon-sshi?"Namjoon dan Jungkook menoleh, melihat Seokjin yang berjalan tenang dengan kernyitan di dahinya.
"Seokjin-sshi. Maafkan aku. Akan aku jelaskan ini nanti." Katanya buru buru. Sejenak ia lupa akan urusannya dengan Jungkook. "aku pergi dulu. Urusan kita belum selesai."lanjutnya lagi sambil menatap nyalang kearah Jungkook yang berdiri santai didekatnya. Jungkook mendengus tak perduli.
Setelah Namjoon berjalan masuk ke restoran dengan langkah besar besar, Jungkook menghampiri Seokjin "ayo kita pulang." Sahutnya sambil terus melangkah kearah mobil mereka yang terparkir tak jauh dari situ.
.
.
.
Sepanjang Jalan Seokjin tampak termenung. Kejadian tadi berputar dibenaknnya. Bukannya ia cemburu. Tidak. Seokjin tidak ada masalah dengan kenyataan Namjoon sudah memiliki kekasih. Ia hanya kaget bertemu dengan wanita itu lebih cepat dari yang ia kira.
Dan buruknya, kekasih Namjoon belum tau sama sekali tentang hubungan Namjoon dan Seokjin. Seokjin hanya tidak ingin memiliki musuh. Dan situasi tadi sedikit menyudutkan Seokjin seperti orang yang paling jahat disini.
"sepertinya kau sudah tau Hyungku memiliki kekasih?" suara Jungkook membuyarkan lamunan Seokjin.
"huh?" Seokjin menoleh. Memastikan ia tidak salah dengar. Saat Jungkook menatapnya dengan sebelah alis terangkat, barulah ia yakin bahwa Jungkook memang sedang mengajaknya bicara.
"hm.. ya begitulah. Namjoon-sshi menceritakannya padaku." Jawab Seokjin dengan intonasi tenangnya seperti biasa. Ia menatap jalanan didepan seolah kejadian barusan tidak pernah terjadi ,
"dan kau baik baik saja dengan hal itu?"
Seokjin mengangguk, membuat pria yang duduk disampingnya mendengus remeh.
"eomma akan membunuhnya jika ia sampai tau." Jungkook berujar santai dengan sebuah senyum sarkas yang menyebalkan. Seokjin bukan orang yang ingin mencampuri urusan orang lain, tapi kata kata Jungkook barusan membuat lidahnya gatal untuk bertanya.
"apa maksudmu?" Seokjin menaikan sebelah alisnya heran, menatap Jungkook yang masih tetap pada ekpresi sebelumnya.
"coba kau pikir, mana ada orang tua yang terima anaknya masih berpacaran dengan gadis yang paling ia tentang disaat anak itu sudah dijodohkan."
Dahi Seokjin semakin berkerut"maksudmu…?" hening sebentar sampai akhirnya Jungkook menyahut pertanyaan Seokjin yang menggantung.
"yeah, eomma tidak pernah menyetujui hubungan Namjoon dengan Wendy."
Seokjin mengatupkan mulutnya rapat rapat. Ia masih diam menatap Jungkook beberapa detik, melihat jelas jelas wajah tegas Jungkook yang dingin. Lalu akhirnya ia kembali memalingkan wajahnya kedepan.
Seokjin baru tahu soal ini. dan ia semakin merasa dirinya sebagai orang yang paling jahat dalam situasi ini sekarang.
Seokjin dan Jungkook sampai di butik Ryeowok, tempat Seokjin menitipkan kendaraannya. "Sampai jumpa Jungkook. Terima kasih." Kata Seokjin ramah sebelum turun dari mobil Jungkook.
"bye." Jungkook menyahut singkat dan segera memacu mobilnya saat Seokjin sudah turun. Seokjin masih berdiri di pinggir jalan, menatap mobil Jungkook pergi. Saat mobil mewah itu menghilang di tikungan tidak jauh sebelum lampu merah, Seokjin pun masuk ke dalam butik dan megambil kunci mobilnya lalu berkendara pulang
~ooo~
"beruntung kau adalah adikku, jika tidak sudah pasti kubunuh kau tadi siang!" Namjoon menghambur masuk begitu saja ke kamar Jungkook. Pria itu tidak bisa menyembunyikan nada tingginya dengan wajah yang jelas jelas sangat marah. Saat itu sudah malam di kediaman keluarga Kim, Jungkook sedang bersandar di sofa kamarnya sambil memainkan ponsel sampai Namjoon tiba tiba muncul dengan bentakan yang sangat menganggu.
"ku anggap itu sebuah kesialan." Jungkook berujar santai tanpa melihat bahkan melirik kakanya sedikitpun. Namjoon mengatur nafasnya, atau lebih tepat emosinya. Ia menarik nafas beberapa kali. Mencoba agar ia tidak benar benar mengambil pisau dapur dibawah dan menancapkan ke kepala adik sialannya sekarang.
"apa mau mu Jungkook?" tanya Namjoon dengan nada lelah. Pria itu menjatuhkan dirinya diatas sofa di depan Jungkook.
"tidak ingin apa apa. Kau tau aku tidak pernah tertarik dengan kehidupanmu." Jungkook menurunkan ponselnya dan menatap Namjoon dengan tatapan tak gentar. Drai tampilan Namjoon yang masih memakai kemeja dengan lengan yang digulung, Jungkook bisa tau kakanya pasti baru pulang dari Kantor.
"begitukah? tidak tertarik tapi kau malah terbag ke Manchester setelah merecoki kehidupanku?"
Emosi Jungkook naik begitu kalimat itu meluncur dari mulut Namjoon.
Tidak.
Jangan pernah membahas itu.
Jungkook memajukan sedikit badannya dan menatap tajam kearah Namjoon,
"kau pikir kau maha sempurna Namjoon? kau akan menikah tetapi kau masih memiliki kekasih? Cih, menjijikan." Kata Jungkook, tak perduli dengan sopan santun, menanggalkan embel embel hyung. Karena Baginya, kakanya sudah mati.
Sejak beberapa tahun lalu.
"JANGAN BERANI BERANI KAU MEMBAHAS PERNIKAHAN! KAU SENDIRI TIDAK TAU APA ARTINYA!" Emosi Namjoon meluap begitu saja. suaranya menggelegar di kamar Jungkook.
Jungkook memundurkan kembali badannya lalu melipat tangannya dengan santai.
"aku tau. sex. Sex. Dan sex. Ah, katakan padaku nanti ya bagaimana rasanya meniduri lelaki~"
"KAU MENGHINAKU?!" cukup sudah. Namjoon bangkit dari duduknya dan bersiap menghampiri Jungkook untuk menghajar adiknya yang kurang ajar. Tapi langkah Namjoon terhenti seketika saat pintu kamar Jungkook terbuka dan tuan Kim sedang berdiri diambang pintu dengan tatapan tajam kearah ke dua putranya.
"NAMJOON! JUNGKOOK!"
Namjoon membantu ditempat sementara Jungkook masih acuh seperti biasanya. Ia bahkan tidak beranjak dari duduknya dan malah bersender di sofa sambil menoleh kearah Tuan Kim dengan tatapan tenang.
"Appa rasa kalian masih waras untuk menyadari bahwa eomma sedang beristirahat dikamar dan bisa dengan jelas mendengar keributan bodoh kalian! Apa yang kalian lakukan?". Tuan Kim masuk, ia memandang Namjoon tegas, meminta penjeleasan.
"you know, urusan sesama saudara." Jungkook mengedikkan kepalanya santai, ia menyerobot sebelum Namjoon menjawab. Namjoon yang sudah membuka mulut, mengatupkannya kembali. Tuan Kim mengalihkan arah pandangnya ke Jungkook, begitu juga dengan Namjoon yang menatapnya dengan tatapan penuh arti.
Jungkook bisa melihat sinar mata Namjoon yang tidak seperti tadi. Seolah sedang memohon sesuatu. Jungkook menaikan sebelah alisnya, sudut bibirnya sedikit tertarik keatas. Astaga, raut wajah Namjoon sekarang benar benar menggelikan.
"appa, aku ingin bicara dengan Jungkook. Bissakah appa berikan waktu privasi? Aku janji tidak akan menggangu istirahat eomma." Kata Namjoon hati hati. Gesturnya jelas sekali sedikit mencurigakan.
Siapa yang tidak kikuk sekarang? Namjoon tidak mau jika ayahnya sampai mengetahui bahwa ia masih bersama dengan Wendy. Bagaimana Jika Jungkook membuka mulut besarnya itu dan menceritakan kejadian tadi pada ayahnya?
Tuan Kim berbalik kearah Namjoon. sang ayah menatap si anak sulung lekat lekat.
"baiklah." Katanya. Tuan Kim sempat melirik Jungkook sebentar sebelum akhirnya keluar dari kamar itu dan meninggalkan kedua putranya. Namjoon masih diam beberapa detik, melihat pintu kamar Jungkook yang sudah tertutup kembali setelah Tuan Kim pergi. Ia hanya ingin memastikan ayahnya sudah benar benar menjauh dari pintu itu, takut takut Tuan Kim tidak sengaja mencuri dengar percakapan mereka.
Setelah ia rasa keadaan cukup aman, Namjoon berbalik kearah Jungkook dan duduk ditempatnya semula.
"look, jungkook, aku baru saja ingin menceritakan soal pertunangan bodoh ini pada Wendy sampai akhirnya kau datang dan mengacau. Jadi aku harap kau bisa bersikap dewasa dan tidak membicarakan soal ini pada appa atau eomma." Namjoon berkata serius sekali. pupil matanya bahkan membesar dan raut wajahnya mengeras. Ia menatap Jungkook tanpa berkedip.
"aku mencium kepanikan disini."
"aku tau bagaimana cara menyelesaikan masalahku Jungkook. Aku jauh lebih dewasa darimu."
"whatever~" Jungkook memutar kedua bola matanya lalu mengambil kembali ponsel yang ia letakan disamping tadi. Ia menyibukan dirinya lagi dengan benda pipih itu, tidak perduli bahwa Namjoon masih duduk didepannya.
"tutup pintunya saat kau keluar." Sahut Jungkook datar tanpa menolehkan pandangannya dari layar ponsel. Sadar tengah diusir oleh adiknya, Namjoon menghembuskan nafasnya dengan gusar lalu keluar dari kamar itu. menyerah untuk berbicara baik baik dengan Jungkook. Ia hanya bisa berharap bahwa Jungkook benar benar mengerti dan tidak membocorkan kejadian itu.
Yang Namjoon tidak tau, Jungkook sempat melirik penuh arti kearah punggungnya saat kakaknya menghilang dibalik pintu kamar.
.
.
Setelahnya, Namjoon memutuskan untuk menelfon Seokjin. menjelaskan soal kejadian tidak mengenakan saat di restoran. Bagaimanapun Juga Namjoon tidak enak hati atas hal tersebut. Tidak begitu lama perbincangan mereka ditelfon. Ia hanya menceritakan kejadian sebenarnya dan Seokjin tidak perlu khawatir tentang apapun karena semua sudah dia atur dan terkendali.
Tapi Namjoon tidak tau, bahwa Tuhan sudah mengatur hal lain untuknya.
~ooo~
Hari itu tiba juga. hari dimana Seokjin akan melepaskan marga keluarganya dan menjadi keluarga "Kim" ia menatap pantulan diirnya di cermin, memakai Sebuah tuxedo berwarna Putih yang indah dari rancangan Ryeowok. Seokjin menatap bayangannya tanpa berkedeip (atau lebih tepatnya melamum).
Beberapa kali ia menggumamkan dalam hati bahwa semua ini hanyalah untuk keluarganya. Pernikahan ini hanya sementara dan nanti Seokjin akan benar benar merasakan jatuh cinta.
Dengan orang yang tepat tentunya,
Suara pintu terbuka membuyarkan lamunan Seokjin. ia menatap pintu itu dari pantulan cermin. Memperlihatkan Jimin dan Yoongi yang menghambur masuk. Mata Jimin membulat saat melihat Seokjin yang sudah di balut jas pengantin. Pria itu berjalan cepat cepat kearah sahabatnya lalu memberikan pelukan hangat.
Seokjin bangkit dari tempat duduknya dan membalas pelukan Jimin yang erat. "Hyung. Kau sangat tampan sekali. jika Namjoon tidak mau menikahimu hari ini. aku mau jadi penggantinya." Seru Jimin sambil berdecak kagum saat pelukan mereka terlepas. Kedua mata sipitnya menyusuri penampilan Seokjin dari atas sampai bawah. Seokjin tertawa pelan.
"kalian tidak cocok! Kalian kan sama sama uke." Celetuk Yoongi yang kemudian juga memberikan pelukan penyemangat untuk Seokjin.
"uke?" Seokjin menaikan sebelah alisnya.
"Hyung. Kau tau kan dalam hubungan gay, ada top dan bottomnya. Ya meskipun ada juga yang bisa dua duanya sih. Tapi jika aku lihat dirimu dan Namjoon, kau lebih cocok jadi Bottom, kau tau." seru Yoongi santai sambil melipat kedua tangannya di dada. Seokjin mengerutkan dahinya bingung. ia bukan tidak tau apa itu uke. Yang ia maksud, apa Yoongi menganggap dirinya uke?
Dengan badan sebesar ini, ia menjadi uke?
"a-apa maksudmu? Aku lebih feminim darinya begitu? Kau tak liat bentuk tubuhku? Bahuku saja lebih lebar darinya."
"Hyung, bottom tidak melulu terlihat feminim. Tapi aura yang dikeluarkan Namjoon itu.. terlihat sekali bahwa ia adalah pria tulen."
"jadi aku bukan pria tulen maksudmu?" Seokjin mendelik tidak suka. Perlu diingatkan sekali lagi, Seokjin memiliki postur tubuh yang sempurna dan wajah rupawan. Ia juga memiliki penggemar di sekolah yang ujungnya ia tolak semua. Rasanya tidak mungkin dia menjadi Uke.
"aishhh bagaimana menjelaskannya ya." Yoongi menggaruk belakang kepalanya. Mencari kata kata yang tepat agar sahabatnya mengerti. Membicarakan masalah gay bukan sesuatu yang mudah untuk di diskusikan. Apalagi pada Seokjin yang notabene nya bukan gay. (atau mungkin akan menjadi gay.)
"well, maksud yoongi Hyung, Namjoon itu tipikal pria yang sangat berkarismatik. Maskulin. Aku tidak bisa mengendus lebih jauh aurany akarena yeah… dia kan tidak seperti kita. Tapi nantinya jika kau bersama driinya kau juga akan merasakan itu." jelas Jimin. Pria itu berujar santai sambil melipat tangannya di dada, berlagak seperti seorang ahli yang sedang melakukan seminar dadakan. Entah kenapa kedua temannya ini bisa sangat sok tahu tentang Namjoon.
Padahal mereka baru bertemu satu kali, dan itu pun tak sengaja. Namjoon sedang mampir ke Coffee shop Seokjin saat Yoongi dan Jimin kebetulan sedang menagih jatah kopi gratisan mereka hari itu.
"dan soal bulan madu, tenang saja. kami akan mengajarimu. Ah, sebagai sesame uke, aku akan memberikan mu tips disaat malam pertama. Kau taukan, rasanya sakit sekali. aku sampai susah duduk. Nan-"
"Park Jimin." Yoongi memotong omongan Jimin tepat sebelum kekasihnya itu semakin berceloteh hal hal yang tidak karuan. Yoongi melirik Jimin dengan tatapan tajamnya meminta pria itu menjaga omongannya setidaknya sekali saja. Jimin yang ditegur seperti itu hanya tersenyum kikuk.
"hehe. pokoknya nanti aku bantu." Ujarnya singkat. Seokjin masih mengernyitkan dahinya, mencoba mencerna apa yang sedang dikatakan Jimin saat tiba tiba pintu ruangan kembali terbuka
"ah. Tuan Bang? Kau sudah siap?" Seorang wanita dari WO yang disewa Seokjin masuk dengan transmitter di telinganya.
"huh?"
"Namjoon akan bersiap ke altar sekarang. kalian secepatnya bersiap." Jelas wanita itu lagi. Ah benar juga. setelah acara pelajaran bulan madu dadakan dari Jimin, otak Seokjin sepertinya sibuk mencerna hal yang 'lain' sampai lupa bahwa sebentar lagi ia memiliki pernikahan yang harus ia jalani. Seokjin berdehem singkat lalu kembali menatap pantulannya dicermin. Memastikan ia sudah tampil sempurna di acara sakralnya itu
Yoongi dan Jimin pun segera bersiap di tempat mereka, sebagai bestman di acara pernikahan sahabatnya, tentu Yoongi dan Jimin ingin acara ini berjalan dengan lancar.
Ketiganya menyempatkan diri untuk saling berpelukan beberapa detik lalu bersiap menuju altar.
.
.
Suara alunan musik terdengar dari dalam. Seokjin masuk ke ruangan dan berjalan ke altar tanpa pengiring, tanpa Tuan Bang yang mengantarnya, tanpa flower girl, hanya dengan sebuket bunga yang ia genggam . Seokjin dan Namjoon setuju untuk sedikit membedakan pernikahan ini dari pernikahan umumnya. Mengingat kedua mempelai adalah laki laki straight, Seokjin tidak ingin orang memandangnya sebagai lelaki yang berusaha agar terlihat seperti pengantin wanita. Ia ingin orang melihatnya sebagai calon mempelai pria. Intinya, ia normal, ia tampan dan ia tidak mau orang melihatnya sebagai pria cantik meskipun kenyataannya memang begitu.
Seokjin bisa melihat Nyonya Kim dengan senyum dan mata berkaca kaca. Tuan Kim yang tersenyum bahagia. Nyonya dan Tuan Bang yang menatapnya haru meskipun sedikit ada perasaan bersalah disana. Lalu ada Jimin sedang berdiri berdampingan dengan Yoongi sebagai bestmannya. Jimin terlihat paling sumringah dengan senyum lebar sampai sampai matanya menyipit. Sementara Yoongi menyunggingkan senyum tipisnya sambil mengangguk singkat, memberikan semangat pada Seokjin. Lalu Jungkook yang berdiri di pojok ruangan, tampak acuh dengan prosesi pernikahan Hyungnya.
Serta Namjoon yang sedang berdiri di altar. Meskipun pria itu mencoba tersenyum, Seokjin tau ada banyak hal yang berkecamuk di dalam benak Namjoon. seketika, ia merasa tidak yakin dengan langkahnya. Seokjin terhenti di tengah jalan. Apa yang ku lakukan?
Keluarga Kim dan orang tuanya sontak menatapnya khawatir, tak terkecuali Namjoon. Yoongi bahkan sudah bersiap menghamprii sahabatnya dan membawa Seokjin pergi dari pernikahan konyol yang tidak pernah ia setujui itu. tetapi Tangan Jimin menahannya.
Apakah ini pantas?
Apakah pantas aku menggadaikan kehidupanku untuk ini?
Eomma.. appa?
Mata Seokjin bergerak gerak cepat. Ia mulai merasakan kepanikan yang menjalar di dadanya. Shit, kenapa baru sekarang ia gelisah? Ini terlalu terlambat. Ia tidak bisa membatalkan semua ini. mengapa otak bodohnya baru menyadari bahwa bagaimanapun juga ini tetaplah sebuah pernikahan yang sah.
Ia benar benar menikah!
Seokjin menelan ludahnya susah payah, kepala pria itu masih tertunduk dengan bola mata yang bergerak gerak, meskipun pandangan Seokjin terpaku pada kedua ujung sepatunya, namun semua orang tau kalau pria itu sedang dilanda keraguan hebat.
Seokjin sempat tersentak saat tiba tiba sebuah tangan meraih lengannya.
"apa perlu kau ku gandeng layaknya pengantin wanita?" Jungkook berujar pelan dengan nada datar seperti biasa. Seokjin mengerjapkan matanya beberapa kali,"Jungkook?". Sekarang semua orang diruangan itu semakin menatap heran Seokjin dan Jungkook.
"lupa jalanmu menuju altar, princess?" Seokjin tertunduk lagi. Jungkook bisa merasakan kegugupan Seokjin saat ia melihat tangan calon kakak iparnya yang sedikit bergetar. Jungkook merapatkan dirinya pada Seokjin beberapa inci "kau tak bisa mundur sekarang. jika eommaku melihat kau kabur, aku bisa pastikan ia akan berakhir di UGD." Bisiknya.
Mendengar pernyataan itu Seokjin sontak langsung mendongak dan menatap Nyonya Kim dari balik pundak Jungkook. Terlihat jelas wanita cantik itu sedang cemas. Seokjin juga menoleh kepada Ibunya yang sedang memandanginya dengan raut yang sama.
Kedua keluarga mengharapkannya sekarang.
"ayolah Seokjin." kata kata Jungkook menyadarkannya kembali. Seokjin melirik kearah Namjoon yang melemparkan senyum simpul "kita pasti bisa." Seokjin menarik nafas panjang panjang hingga dadanya membusung
"baiklah. Ayo kita lakukan ini."
Seokjin akan menyesali ini nanti saat ia sadar bahwa tangannya mengalung sempurna di lengan Jungkook. Entah apa yang dipikiran Seokjin, pria itu reflek menggandeng Jungkook layaknya pengantin wanita yang sedang diantar oleh sang ayah.
Seokjin tiba di altar, pikirannya kemana mana saat pendeta mengucapkan serangkaian kalimat yang ia tidak begitu dengar dengan Jelas. Namjoon masih menyunggingkan senyum kecilnya sambil menggengam tangan Seokjin walaupun tatapan matanya sedikit sendu.
Mungkin ia juga sudah tidak tahan dan ingin buru buru mendobrak pintu ruangan, pergi mencari Wendy dan membawanya kemari. Menggantikan posisi Seokjin yang sedang berdiri di depannya.
Pikiran keduanya Buyar saat pendeta meminta mereka menyebutkan sumpah pernikahan. Namjoon berdehem sebentar.
"aku Kim Namjoon, bersumpah akan menjaga Bang Seokjin dengan baik, melindunginya, memberikan kebahagiaan untuknya sampai waktu memisahkan." Namjoon merangkai sumpahnya dengan hal hal general. Ia tidak tau ingin bersumpah apa, lagipula menurutnya pernikahan ini bukan pernikahan sebenarnya, jadi ia tidak mau ambil pusing dengan kalimat kalimat gombal yang menjijikan.
Namun berbeda dengan Seokjin, bagaimanapun juga pernikahan ini tetaplah pernikahan yang sah. Ia tidak ingin berdusta dihadapan Tuhan (meskipun sekarang ia juga bisa dikatakan sedang mengolok ngolok-Nya dengan pernikahan seperti ini) tapi Seokjin memutuskan untuk bersumpah sesuai dengan apa yang bisa ia , Ia hanya tidak ingin ingkar. Sudah cukup ia membohongi keluarga dan teman temannya
Ia tidak ingin membohongi Tuhan.
"aku Bang Seokjin, Bersumpah akan melakukan apapun yang terbaik, menjadi pendamping yang penurut dan selalu berkorban untuk kebaikan bersama" tuturnya. Yoongi sedikit mengernyitkan dahinya saat mendengar sumpah Seokjin yang terasa sedikit janggal. "berkorban"? seorang sahabat yang berfikir kritis (bahkan mungkin kelewat kritis) akan menyadari sesuatu yang mencurigakan dari sumpah Seokjin.
Jangan heran, Yoongi memang terbiasa menganalisa sesuatu hal, berhubung pria itu mengambil jurusan Hubungan International saat dibangku kuliah dan lulus dengan Cumlaude, itu menyebabkan Yoongi suka sekali menganalisa sesuatu. bahkan untuk hal yang tidak penting.
Belum sempat Yoongi berfikir apa apa, perhatiannya sudah kembali terpaku pada Seokjin saat pendeta mempersilahkan mereka berciuman.
Seokjin dan Namjoon bertingkah kikuk. Namjoon tidak tau bagaimana cara mencium Seokjin. demi tuhan! Ia tidak pernah mencium seorang laki laki sebelumnya. apa ia harus meraih wajah Seokjin? merangkul pinggangnya? Atau bagaimana? Namjoon tidak tau sama sekali.
tak jauh berbeda dengan Namjoon, Seokjin juga tidak tau harus bagaimana. Ini ciuman pertamanya! Akhirnya keduanya memperpendek jarak mereka. Namjoon dan Seokjin saling berhadapan. Tidak ada sebuah senyuman, tidak ada sebuah tangan yang mengelus rahang atau tidak ada rangkulan di pinggang. Hanya kecupan canggung diujung bibir yang secepat kilat.
Para hadirin bertepuk tangan bahagia, Jimin menatap dengan kecewa, ia jelas mengharapkan sesuatu yang lebih. Lalu Yoongi hanya mendesah lega. Kontras dengan Jimin, ia sama sekali tidak berharap Namjoon dan Seokjin berciuman. Aneh memang, bagaimanapiun mereka sepasang pengantin, pasti berciuman kan? Sementara di pojok ruangan Jungkook hanya mendengus geli sambil bertepuk tangan malas malasan.
Setelah acara pemberkatan berakhir, Jimin dan Yoongi memutuskan untuk berbaur dengan keluarga sementara Jungkook menyibukan dirinya di tumpukan gelas sampanye.
.
.
.
.
Karena resepsi mereka digelar di sebuah hotel, kedunya segera bertolak ke kamar pengantin saat acara berakhir. Namjoon dan Seokjin berjalan dalam hening menuju kamar mereka. Namjoon yang sibuk dengan ponselnya sementara Seokjin yang tampak tidak mau mengganggu. Ia hanya berjalan mengekori Namjoon sambil sesekali tersenyum pada para pekerja hotel yang membungkuk sopan saat berpapasan dengan mereka. Seokjin dan Namjoon lebih terlihat seperti dua sahabat yang baru pulang dari pesta ketimbang sepasang pengantin baru.
Mereka tiba dikamar yang dimaksud. Namjoon merogoh sakunya, mengambil kartu akses kamar mereka dan masuk lebih dulu. Kamar itu luas dengan interior romantis untuk pasangan pada umumnya seperti kelopak bunga mawar bertebaran dimana mana, 2 gelas dan sebotol wine yang ditata sedemikian rupa, serta pencahayaaan yang temaram.
Benar benar membuat keduanya canggung.
Namjoon mengerjapkan matanya beberapa kali "wow. Baiklah, aku akan mandi lebih dulu" katanya sambil mendengus geli saat melihat dekorasi yang sedikit membuat keduanya semakin canggung.
Namjoon mandi lebih dulu, sementara Seokjin membuat Kopi sambil menunggu gilirannya.
Setelah keduanya selesai mandi, Namjoon dan Seokjin duduk di balkon sambil menikmati kopi hangat buatan Seokjin, (alih alihs sebuah wine, karena itu bukan pilihan 'aman' untuk sekarang ini)
"so, kita sudah resmi menikah?" Kata Namjoon memecah keheningan.
"benar benar resmi menikah" Seokjin menyahut. Namjoon tertawa renyah,seolah menertawakan nasibnya sekarang, Seokjin yang melihat wajah Namjoon dengan deretan gigi rapih dan lesung pipitnya itu hanya tersenyum lembut.
"apa ini sempat terbayang dalam hidupmu Seokjin-sshi?" Namjoon bertanya lagi setelah tawanya reda. Seokjin menggeleng.
"tidak. hahaha percaya atau tidak aku belum pernah berpacaran sebelumnya. apalagi memikirkan untuk menikah."
"kau belum memiliki kekasih sebelumnya?" Namjoon agak membulatkan matanya tak percaya saat mendengar penuturan Seokjin. sementara pria yang resmi bermarga Kim Seokjin itu hanya menjawab dengn anggukan kecil.
Malu.
"whoa. Sepertinya kau menetapkan standar tinggi untuk calonmu ya?" Seokjin tersenyum simpul. "mungkin hanya belum waktunya Namjoon-sshi."
Keduanya hening lagi.
"Namjoon-sshi, aku minta maaf soal tadi." Seokjin berkata pelan, ia memandang cairan kopi hitam hangat di cangkirnya.
"tadi? Tadi yang mana?"
"kau tau, kejadian saat aku berhenti di tengah altar."
Namjoon tersenyum bijak mendengar penuturan Seokjin. "tidak apa apa Seokjin-sshi. aku mengerti" Seokjin menyunggingkan sebuah senyum manis.
"omong omong.. teman temanmu menyenangkan Seokjin-sshi." Lanjut Namjoon sambil menyeruput kembali kopinya.
"maksudmu Jimin dan Yoongi?"
Namjoon mengangguk singkat
"yeah. Mereka sahabat yang menyenangkan. sekaligus menjengkelkan disaat yang sama."
"um… apa mereka.. sepasang kekasih?" ada nada aneh yang ditangkap indra pendengaran Seokjin. pria berbibir tebal itu mendongak dan menatap Namjoon yang duduk didepannya. Ia bisa melihat Namjoon sedikit tidak nyaman setelah bertanya hal itu. apa Namjoon ada masalah dengan pasangan gay?
"ya.. mereka sudah bersama sejak Senior High. Ada apa Namjoon-sshi?"
"tidak. tidak apa apa." Namjoon menyahut cepat sekali. Seokjin hanya mengangguk angguk. Entah kenapa setelah pertanyaan itu atmosfer diantara keduanya sedikit canggung.
"oh ya, aku tidak melihat teman temanmu di pesta tadi. Apa aku melewatkannya?"
"tidak. kau tidak melewatkannya." Namjoon menjawab dengan nada datar. Tidak seperti biasanya.
"mereka berhalangan hadir." Tandasnya lalu segera meneguk kopi banyak banyak.
Seokjin menatap Namjoon dengan lembut. "istirahatlah. Aku tau kau pasti lelah."
"kau sendiri?"
"aku masih ingin disini dulu."
Namjoon menimbang nimbang usul Seokjin. Tidak enak sebenarnya meninggalkan Seokjin sendirian. Tetapi senyum lembut pria itu cukup meyakinkannya bahwa Seokjin tidak apa apa
"baiklah. Selamat malam Seokjin-sshi"
Namjoon masuk kedalam Kamar, meninggalkan Seokjin yang masih berkutat dengan pikirannya. Ia menuju ke sebuah ranjang dan bersiap tidur. Tapi ia tiba tiba terhenti dan mengurungkan niatnya. Namjoon mengambil beberapa bantal dan berbalik menuju sbeuah sofa besar di dekat sana, memutuskan untuk membiarkan Seokjin tidur diatas ranjang dengan selimut hangat sementara ia menghabiskan malam nya diatas sofa besar.
Malam pertama sebagai seorang suami dari orang asing.
~ooo~
Suara ketukan dipintu mengusik tidur Namjoon. ketukan itu perlahan semakin cepat dan sedikit terburu. Benar benar bukan ketukan pintu dari orang sabar yang sopan. Namjoon membuka matanya yang terpejam dengan susah payah. Ia ingin meringkuk lagi didalam selimut dan kembali ti-. Tunggu dulu. Sejka kapan ia memakai selimut?
Mata Namjoon terbuka sempurna dan bisa melihat jelas jelas selimut yang terlampir diatas tubuhnya. Ia menoleh kearah Ranjang dan tidak mendapati Seokjin diatas sana. Suara air pancuran dengan senandung suara seorang pria dari kamar mandi cukup menjelaskan pada Namjoon dimana Seokjin berada.
Ketukan itu semakin kencang dan cepat, seolah ingin merubuhkan pintu kamar hotel dengan hentakannya. Namjoon memutar bola matanya malas lalu beranjak dari sofa smabil menguap. Dari rendahnya sopan santun si pengetuk pintu, Namjoon bisa yakin sekali siapa pria yang mengganggu paginya.
"good morning newlywed." Sapa Jungkook dengan nada meledeknya yang menyebalkan Namjoon menatap adiknya tak minat. "cukup basa basinya. Ada apa kau kemari?"
"morning too, bro" sindir si adik saat tidak mendapatkan balasan salam dari Hyungnya. "eomma dan appa menitipkan ini untuk kalian." Jungkook menyodorkan sebuah amplop putih pada Namjoon secara asal. Ia menempelkan kertas itu didada Namjoon lalu berjalan masuk begitu saja tanpa permisi. Namjoon yang sudah hafal diluar kepala sikap kurang ajar Jungkook hanya mengambil amplop itu dan mengekori si adik.
"kau menjadi kurir sekarang?" Namjoon tidak bisa menyembunyikan tawanya .Jungkook memutar bola matanya saat mendengar Namjoon terang terangan sedang meledek dirinya
"kita lihat siapa yang tertawa terakhir." Ujarnya sambil mendengus lalu duduk di sofa sambil merentangkan tangannya lebar lebar. Namjoon baru saja mendudukan dirinya berhadapan dengan Jungkook dan bersiap membuka amplop itu saat tiba tiba pintu kamar mandi terbuka.
"Jungkook? Kau ada disini?" Seokjin yang baru saja keluar dari kamar mandi memandang tamu tak terduga itu sambil mengeringkan rambutnya dengan sbeuah handuk kecil. Alih alih menjawab senyum ramah Seokjin, pria yang paling muda itu hanya menyahut sinis.
"menurutmu?"
"Jungkook sedang menjadi merpati dan mengirimkan kita sebuah surat dari eomma dan appa" Celetuk Namjoon sambil mengangkat amplop putih itu, memperlihatkannya pada Seokjin yang berdiri diujung sana
"surat?" Seokjin menghampiri keduanya dan duduk disebelah Namjoon agar bisa membaca surat itu berdua. Jungkook tersenyum miring saat memperhatikan Namjoon membuka amplop itu. ah, ini akan sangat menyenangkan, pikirnya.
Amplop itu pun terbuka, Namjoon mengeluarkan isinya. Baik Seokjin dan Namjoon terbelalak begitu selesai membaca isi sebuah pesan kecil didalamnya
Maaf menganggu malam pertama kalian Seokjin-ah, Namjoon-ah. Eomma tau kalian pasti tidak sempat (atau sengaja tidak menyempatkan diri untuk mempersiapkan bulan madu), maka dari itu eomma sudah menyiapkan segalanya. Besok kalian akan terbang ke Bali untuk bulan madu selama 1 minggu.
Tidak usah memikirkan apapun, karena semuanya sudah eomma atur. Eomma pastikan bulan madu kalian akan sangat Romantis. Bersenang senanglah! Jangan sampai terlambat! Private jet kalian menunggu di bandara Incheon besok setelah makan siang.
Salam sayang,
Eomma.
Sial.
Ia tidak menyangka eommanya akan bertindak sejauh ini. awalnya Namjoon dan Seokjin berencana untuk pergi ke Jeju atau kemana saja yang tidak begitu jauh dan itu pun tidak ada embel embel bulan madu yang romantis. Hanya terbang ke Jeju, menyewa kamar yang berbeda, jalan sendiri sendiri, dan hanya pergi beberapa hari.
Tapi, pergi ke Bali dengan paket bulan madu romantis yang sudah disiapkan eommanya benar benar mimpi buruk. Namjoon tidak bisa membayangkan bagaimana canggungnya nanti. Dan Seokjin pun juga begitu. Terlihat sekali pria itu kikuk sekarang.
"ini pasti akal akalanmu saja kan Jungkook? Ini jebakan?" Namjoon mendesis tajam kearah adiknya yang duduk sangat tenang.
"apa untungnya bagiku?"
"jadi ini benar benar dari eommonim?" Seokjin bertanya memastikan. Tentu jika hal ini datang dari permintaan keluarga, Seokjin tidak bisa menolak.
"I told ya." Jungkook sudah tau apa yang dikirimkan oleh eommanya. Karena bisa dikatakan, Jungkook juga berkontribusi untuk mengurus hal tersebut seperti mengecek hotel, memastikan private jet mereka siap terbang.
Kenapa Jungkook mau melakukan itu semua?
Oh, dia memiliki alasannya sendiri.
Keduanya diam sebentar, Seokjin meremas tangannya, ia melihat Namjoon yang duduk disamping lekat lekat.
"so.. bagaimana menurutmu Namjoon-sshi?"
"tentu kalian akan pergi! Kalian suami istri-ah ralat. Maksudnya suami dan suami. Apa susahnya hanya berlibur ke Bali?" celetuk Jungkook tanpa dosa. Ia bahkan tidak perduli dengan tatapan kesal sang kakak yang dilemparkan kearahnya. Namjoon tidak begitu nyaman dengan ledekan ledekan pernikahan gay ini.
Meskipun ia sangat sopan pada Seokjin, sebenarnya Namjoon sangat tidak suka sekali.
"I gotta go. You better pack your bags now. Kalian terbang besok." Jungkook berdiri sebelum salah satu dari pasangan pengantin itu membuka suara.
"bye." Sahut Jungkook sambil berjalan menuju pintu. Hanya Seokjin yang berdiri dan mengantarnya sampai pintu sementara Namjoon masih duduk disofa, terlihat sedang memikirkan sesuatu. setelah menutup pintu, Seokjin berjalan perlahan mendekati Namjoon dan duduk di depannya.
"jadi… kita harus bagaimana?" Namjoon mendongak, ia menarik nafasnya dalam dalam. "tentu kita akan pergi Seokjin. Kita akna pergi ke bali." Ujarnya.
Entah apa yang direncanakan Namjoon.
Entah apa yang akan terjadi di Bali.
Tapi Seokjin berharap, selama 7 hari di pulau di Indonesia itu akan berjalan baik baik saja.
Semoga.
.
.
.
.
TBC
Aku baru sadar kemarin typo nya banyak banget. Maaf ya. Semoga ini lebih baik. Terima kasih sudah membaca, ditunggu reviewnya.
with Love,
-K :)
