Hope you like this fiction :)


"Selama ini tidak ada yang berani mendekati Sehun." Yifan berkata pada Jongin.

"Kenapa?" Jongin bertanya gugup. Ini perdana Jongin menjemput Sehun di rumah dan bertemu dengan Yifan langsung.

"Menurutmu kenapa?" Yifan menatap Jongin tajam, beda sekali dengan yang selalu dia tunjukkan saat berdua dengan Sehun.

Keringat dingin sudah membasahi dahi Jongin, sedari tadi dia menelan ludahnya gugup. Ini baru bertemu sepupunya Sehun, belum orang tuanya, pikir Jongin.

"Jangan menggodanya terus Ge." Akhirnya Sehun turun juga.

"Siapa yang menggodanya? Seperti tidak ada yang lain saja." Yifan mendengus.

Sehun duduk bersebelahan dengan Jongin dan memeluk Jongin sebentar, "Tidak menggoda apanya?" Sehun mengambil tissue dari sling bagnya, "Gege membuat Jongin sampai berkeringat begini."

Yifan memainkan ponselnya, "Aku hanya bilang kalau selama ini tidak ada yang berani mendekatimu, itu kan sebuah compliment."

Kalau Sehun tidak tahu sopan santun dia sudah mendengus lagi, tapi mau semenyebalkan apa pun, Yifan tetap kakak sepupu kesayangannya. "Yasudah kami pergi dulu."

"Kemana?" Yifan bertanya masih sambil memainkan ponselnya.

"Ke rumah Jongin." Perkataan Sehun mengalihkan perhatian Yifan.

"Disana ada siapa saja? Kalian berdua saja?"

"Tidak Ge, ada kedua orang tuaku dan kakakku juga." Jongin menjawab, tapi sepertinya Yifan tidak menyukai usaha Jongin yang mencoba akrab dengan memanggil Ge padanya.

"Kamu merepotkan sekali sih Sehun, kenapa tidak bertemu di rumah Jongin saja? Kenapa meminta Jongin menjemputmu disini lalu kalian ke rumah Jongin?"

"Well, aku kan gugup juga." Jongin terkejut mendengar perkataan Sehun. "Sudah ya Ge, kami pergi dulu." Sehun menghampiri Yifan dan memeluknya sebentar. "Bye Ge." Sehun menarik Jongin bersamanya.

Perjalanan dari rumah Sehun ke rumah Jongin sebenarnya bisa di tempuh dalam waktu 15 menit saja, tapi Jongin terlalu menikmati pelukan Sehun jadi mereka baru sampai setelah 30 menit perjalanan.

Setelah turun dari motor, Jongin menggenggam tangan Sehun, "Mereka tidak menggigit kok, aku yakin kamu pasti cocok dengan kakakku."

Tapi ini kan Sehun, "Tentu saja, aku kan memang adorable."

Untungnya Jongin mengerti apa yang dirasakan Sehun, jadi Jongin memeluk Sehun, "Tentu saja, kekasihku kan yang terbaik." Jongin melepaskan pelukannya, "Siap?" Sehun mengangguk dan mengangkat dagunya, menjadi Sehun yang biasa lagi.

Mereka memasukki rumah Jongin, "Tunggu disini sebentar ya, biar kupanggilkan ibuku dulu." Jongin meminta Sehun duduk di ruang tamunya, sementara Jongin ke lantai atas.

Sehun melihat foto keluarga terpajang di dinding, sepertinya foto itu diambil saat Jongin masih di sekolah dasar, Jongin masih kecil sekali disitu.

"Oh Sehun ya?" Seorang wanita menghampiri Sehun.

"Iya noona." Dari foto yang dilihatnya, tidak diragukan lagi kalau ini kakaknya Jongin.

"Waah lebih manis dari yang difoto ya, sayang sekali kamu dapatnya lelaki seperti adikku."

Sehun hanya tertawa gugup, "Jangan didengarkan Sehun, Jongin anak yang baik kok." Yang ini ibunya Jongin.

"Aku pergi dulu ya Bu." Kakak Jongin tadi menghampiri ibunya dan memeluknya sebentar, lalu menghampiri Sehun dan memeluk Sehun sebentar, "Aku pergi dulu ya Sehun, maaf tidak bisa mengobrol lebih lama. Semoga kamu betah menjadi bagian dari keluarga Kim."

"Tentu noona, hati-hati dijalan." Sepertinya Jongin benar mengenai Sehun akan cocok dengan kakaknya.

Setelah kakak Jongin pergi, ibu Jongin duduk di sebelah Sehun, "Jongin pernah menunjukkan fotomu pada Ibu, jujur saja Ibu tidak percaya kalau kamu mau menjadi kekasih Jongin."

Sehun menunjukkan muka bingungnya, "Waah aku jadi tidak enak Bi, Bibi tidak percaya karena aku atau Jongin?"

"Tolong panggil aku Ibu juga, kamu kan sudah menjadi bagian dari keluarga ini." Ibu Jongin tersenyum, "Oh Sehun kamu menyadari atau tidak sih kalau kamu itu cantik sekali? Jongin tampan sih, tapi menurut Ibu kamu masih bisa mendapatkan yang lebih baik."

Sehun tertawa bersama ibu Jongin, "Jongin sempurna untukku Bu, aku juga tidak sesempurna itu. Tanyakan saja Jongin, aku sering berbuat aneh, Jongin saja suka gemas sendiri karena kelakuanku."

"Oh iya, berbicara mengenai itu, kamu pasti ingin melihat ini, sebentar." Ibu Jongin beranjak ke lemari kaca yang ada disana dan mengambil sebuah album foto, lalu buru-buru menghampiri Sehun lagi, "Lihat ini, dulu kakaknya Jongin suka sekali membuat Jongin menjadi buah-buahan atau sayuran, untungnya Jongin penurut sekali, jadi tidak rewel saat didandani."

"Waah Jongin lucu sekali Bu, berbeda sekali dengan dia sekarang ya?"

"Jongin itu sejak kecil memang sudah menjadi penampil, lihatlah saat taman kanak-kanak dulu, ini dia sebelum ikut lomba menari." Ibu Jongin menunjuk sebuah foto.

Sehun sedang tertawa dengan Ibu Jongin saat Jongin turun bersama Ayahnya, "Jangan bilang Ibu menunjukkan foto masa kecilku pada Sehun." Jongin menuntun Ayahnya untuk duduk di sofa ruang tamu tersebut. Sehun ikut berdiri dan membantu Jongin. "Ibu senang sekali sih mempermalukanku?"

"Oh Sehun tolong maafkan mereka ya, mereka memang sering sekali membuat ribut di rumah ini." Ayah Jongin berkata.

"Tidak apa-apa paman, Jongin dan Ibu sangat lucu kok."

Ayah Jongin mengibaskan tangannya, "Panggil aku Ayah juga, seperti anak tetangga saja jika kamu memanggilku paman."

Semua yang ada disana tertawa, "Baiklah Ayah."

"Oh iya Sehun, Ibu ingin sekali bertemu dengan Ibumu. Kita kan harus secepatnya membicarakan masa depan kalian setelah lulus sekolah ini, apa kalian mau kuliah ditempat yang sama? Atau mempunyai apartment sendiri, pokoknya semuanya harus kita bicarakan."

Sehun tetap tersenyum, tapi Jongin tahu kalau Sehun tidak nyaman membicarakan masalah kedua orang tuanya, "Kedua orang tuaku tinggal di China Bu, aku akan mengabarkan pada Ibu kalau mereka berkunjung nanti."

Muka ibu Jongin terlihat kecewa, "Begitu ya, tapi kami pun tidak keberatan kalau harus menghampiri mereka disana, iya kan Yah?"

"Tentu saja, kami kan ingin mengambil anaknya." Lagi-lagi Ayah Jongin memancing tawa.

"Kita makan saja yuk Bu, Ibu sudah menyiapkan makanannya kan?" Jongin mengalihkan pembicaraan.

"Kamu ini yang dipikirkan hanya makan saja." Tapi ibu Jongin tetap beranjak dengan menggandeng Sehun ke ruang makan mereka sementara Jongin membantu ayahnya.

"Sehun tidak terlalu dekat dengan orang tuanya Yah, tolong cegah Ibu untuk membicarakan itu." Kata Jongin sambil membantu Ayahnya berdiri.

"Jongin kamu ini seharusnya memberikan briefing pada kami kalau ada hal-hal seperti itu, kamu kan tahu kalau aku dan ibumu itu suka sekali bercanda."

"Maaf Yah."

"Jongin kenapa jalannya lama sekali?" Ibu Jongin berteriak dari ruang makan mereka.


Saat ini Sehun sedang melihat-lihat kamar Jongin setelah mereka selesai makan, sementara Jongin berbaring di tempat tidurnya. Jongin lelah, dia khawatir orang tuanya berbicara sesuatu yang membuat Sehun tidak nyaman dari tadi.

"Orang tuamu menyenangkan Jongin." Kata Sehun sambil duduk disamping tempat Jongin berbaring.

Jongin pun menidurkan kepalanya diatas paha Sehun sementara Sehun memainkan rambutnya. "Maafkan mereka ya, mereka memang kalau terlalu excited susah sekali diaturnya."

Sehun tertawa, "Kamu mempunyai keluarga yang menyenangkan."

"Kita juga akan membuat keluarga yang menyenangkan." Kata Jongin.

"Memangnya aku mau menikah denganmu?"

"Memangnya kamu tidak mau?" Sehun tidak juga menjawab, "Sehun?" Panggil Jongin.

"Kalau tidak mau kenapa aku memanggil ibumu dengan sebutan ibu huh?"


Kalau Sehun itu tipe kekasih yang very sassy, sedangkan Jongin sedang berusaha menjadi kekasih yang sempurna untuk Sehun. Begini, Jongin menginginkan Sehun dari tahun pertamanya, kan tidak mungkin Jongin mengacaukannya karena dia tidak bisa menyesuaikan diri dengan Sehun.

Seperti pagi ini, pagi-pagi sekali Jongin di telpon Yifan yang ternyata sedang diluar kota. Yifan meminta Jongin untuk membangunkan Sehun dan memastikan Sehun makan dengan benar selama ditinggalkan olehnya.

Jadi disinilah Jongin, pagi-pagi sudah mengantri untuk membelikan Sehun croissant dan latte. Yifan sempat berpesan kalau Sehun di pagi hari itu agak susah dihadapi. Makanya Yifan menyarankan Jongin membelikan Sehun kesukaannya, which is croissant.

Setelah mendapat pesanannya, Jongin langsung bergegas ke rumah Sehun. Jongin is not a morning person. Sehun juga tahu sekali kalau Jongin itu susah dibangunkan, sebenarnya sama saja dengan Sehun, makanya mereka tidak pernah bertemu di pagi hari. Tapi demi Sehun, Jongin mau bangun pagi.

Jongin diberitahukan Yifan dimana biasanya mereka menyimpan kunci, jadi Jongin bisa langsung masuk dan menuju kamar Sehun. Benar saja, malaikatnya masih tertidur. Siapa yang sangka kalau sudah bangun nanti malaikat ini bisa menjadi setan kecil yang menyebalkan?

Jongin menghampiri tempat tidur Sehun dan menyimpan makanannya di atas nakas Sehun. Jongin mengecup pipi Sehun, "Good morning Sehun." Bisiknya, lalu Jongin naik ke atas tempat tidur Sehun, menyandarkan badannya pada kepala tempat tidur dan memeluk Sehun yang masih setengah terbangun.

"Hmm morning Jongin." Sehun malah menyamankan tidurnya dalam pelukan Jongin. Jongin mengusap pelan rambut Sehun dan mengambil croissant yang tadi dibelinya. Sehun langsung menengadahkan kepalanya menghadap Jongin, "You got me breakfast?" Tanyanya masih dengan suara serak. Jongin hanya mengangguk, jadi Sehun menyamankan lagi tidurnya di pelukan Jongin. Seperti tersadar, Sehun menengadah lagi, "Bagaimana kamu bisa masuk?" Sehun duduk dan bersandar juga pada kepala tempat tidur disebelah Jongin. Jongin memberikan latte dan croissantnya agar Sehun bisa mulai sarapan.

"Yifan Ge memintaku untuk memastikan kamu bangun dan makan dengan benar. Jadi, voila disinilah aku."

Sehun tertawa karena Jongin, "Jadi mau kemana kita hari ini?"

"Ingat sepatu yang waktu itu kamu ceritakan?" Sehun mengangguk, "Ayo kita beli hari ini."

Sehun segera menghabiskan sarapannya dan memeluk Jongin lagi, "Terima kasih sudah membawakan ku sarapan." Sehun menindih tubuh Jongin, "You're so sweet. Remind me again, why are you the best?"

Jongin hanya tersenyum, "I don't know, you're the one who make me the best."

"You're right." Lalu Sehun mencium seluruh muka Jongin, membuat Jongin tersenyum geli.

"Mandi sanaaaaa." Jongin mendorong Sehun untuk bangun. Tapi karena Sehun tidak mau melepaskan pelukannya, jadilah Jongin yang harus menggendong Sehun sampai ke kamar mandi.

Untuk usahanya yang satu ini setidaknya Jongin berhasil menjadi kekasih yang sempurna kan?


Tapi Jongin kan baru belajar, ada kalanya semua yang dilakukannya tidak sesempurna yang diharapkan. Jadi saat itu Jongin baru saja mengenalkan Sehun pada teman-temannya. Mereka yang paling tidak mempercayai kalau Jongin bisa mendapatkan Sehun, yaitu Baekhyun, Jongdae, dan Chanyeol.

Sehun yang memang tidak begitu dekat dengan mereka hanya diam saja di sebelah Jongin, sesekali tertawa kalau ada yang melemparkan lelucon, atau menimpali jika ditanya.

"Ingat tidak waktu Jongin pernah pernah membolos lalu hukuman yang diterimanya harus membersihkan toilet lantai satu yang hanya Tuhan yang tahu bagaimana itu bisa bersih?" Tanya Jongdae.

"Tentu saja, selesai hukuman bau badannya sudah sama dengan toilet itu." Tambah Baekhyun.

"Oh itu memalukan." Jongin kelihatan tidak nyaman.

"Jongin kan memang bodoh kalkulus, jelas dia lebih memilih dihukum daripada masuk kelas kalkulus." Kata Chanyeol.

"What did you just say to Jongin?" Sehun terlihat tidak terima. "Jongin itu tidak bodoh ya, seenaknya saja kalau berbicara." Chanyeol terdiam karena terkejut dibentak Sehun.

"Sudahlah Sehun, mereka tidak serius." Kata Jongin menenangkan.

Tapi Sehun memandang tajam pada Chanyeol, "Don't talk to my boyfriend like that."

Yang ini Jongin akui kalau dia belum bisa jadi kekasih yang sempurna untuk Sehun. Jongin masih punya banyak sekali kelemahan, kalkulus salah satunya.


How?

There's so much who asked me about, what exactly 'bear with me' means?

Bear with me is a polite way of asking someone to be patient with someone or something. So, when Jongin said 'This is so awkward Oh Sehun, please bear with me' it mean Jongin asked Sehun to be patient or put up with Jongin who very awkward when confronted with Sehun.

And I know some of you think that this fiction have a fast plot. But no dear, I don't wrote this fiction systematically based on the time. I just wrote what I want to write

Thank you so much for you review and please bear with this fiction :)