Hope you like this fiction :)


"Good morning Sehun." Jongin baru saja masuk ke kamarnya setelah selesai mandi.

Sehun menghampiri Jongin dan memeluknya, "Dingiiiiin. Kamu mau kemana? Ini kan masih pagi." Sehun bertanya dengan suara seraknya karena baru bangun tidur.

"Bengkel." Kata Jongin sambil memakai bajunya.

"Hujan-hujan begini? Aku ikut." Kata Sehun cepat. Lalu berlari ke kamar mandi.

"Cuma sebentar kok. Hanya membeli beberapa peralatan. Kamu dirumah saja." Jongin berteriak.

"Pokoknya tunggu aku. Aku jadi semakin gemuk karena tiga hari dimanja ibu, biar aku melihat matahari juga." Teriak Sehun dari dalam kamar mandi.

Jongin mendengus, mana ada matahari kalau hujan begini. Tadinya Jongin mau membohongi Sehun. Sebenarnya Jongin mau ke rumah Sehun sekarang, Yifan bilang orang tua Sehun ingin bertemu dengannya, berhubung Sehun ingin ikut, sekalian saja tidak apa-apa kan?

Sehun keluar kamar mandi dan memakai bajunya dengan terburu-buru. "Yuk berangkat." Katanya pada Jongin.

"Sisir dulu rambutmu dengan benar." Kata Jongin sambil menghampiri Sehun dan menyisir rambut Sehun agar lebih rapih.

Sehun tersenyum karena perlakuan Jongin, "Terima kasih." Kata Sehun. "Kita tidak akan naik motor kan? Hujannya deras begini."

"Karena kamu ikut kita akan pinjam mobil Ayah." Kata Jongin sambil berjalan keluar kamarnya.


Perjalanan mereka diisi oleh lagu yang terputar di radio dan suara air hujan yang menghantam atap mobil.

"Jongin." Panggil Sehun pelan. "Aku turun disini saja." Sepertinya Sehun sudah tahu kemana mobil Jongin mengarah.

"Tidak apa-apa, tidak akan ada yang memaksamu masuk ke rumah nanti." Kata Jongin tenang.

"Mereka bilang ingin bertemu denganmu?"

"Kata Yifan Ge sih begitu." Sehun hanya mengangguk.

"Kamu tahu kan Jongin, kalau menemui mereka itu bukan kewajibanmu?" Tanya Sehun.

"Kamu cuma pernah bilang kalau kalian tidak dekat, aku sih tidak melihat alasan kenapa bertemu orang tuamu ini bukan jadi kewajiban buatku, lagi pula aku mempunyai hubungan dengan anaknya." Kata Jongin santai.

"Terserah saja lah." Kata Sehun lagi.

Mereka sampai di rumah yang ditinggali Yifan dan Sehun.

"Kamu mau tunggu disini kan?" Tanya Jongin. Sehun hanya mengangguk, Jongin tahu Sehun khawatir, jadi dia mengecup dahi Sehun, "All is well. Kamu tidak perlu mengkhawatirkanku begitu."

Tapi ini kan Sehun, "Cepat sana masuk, biar cepat selesai. Dingin sekali disini. Aku ingin cepat berselimut di rumah."

"Ini kan rumahmu." Ledek Jongin.

"Cepaaat." Kata Sehun kesal sementara Jongin senang sekali membuat Sehun kesal. Tapi Jongin tetap menuruti Sehun dan keluar dari mobil lalu masuk ke rumah Sehun.

Sekarang Sehun benar-benar hanya berteman suara hujan dan musik dari radio. Jongin tidak salah kalau Sehun mengkhawatirkannya. Orang tuanya bukan orang yang Sehun sukai, sama saja seperti orang tua yang lain, mereka mengatur hidup Sehun, melarang Sehun begini begitu dan Sehun sudah lelah diatur. Jadi begitu Yifan menawarinya untuk pindah ke Korea, Sehun dengan senang hati menerima. Toh orang tua Sehun dan Yifan tidak akan tega memutus aliran dana untuk anaknya. Buat apa bekerja pagi siang malam kalau harta yang dihasilkan tidak dihabiskan kan?

Pintu mobil terbuka dan masuklah salah satu orang yang selalu dihindarinya, "Oh Sehun, kenapa kamu tidak menjawab telpon Mama?"

"Lalu Mama akan menyuruhku pulang dan setelah aku pulang Papa dan Mama akan berada seharian di kantor?" Kalau tidak ingat sopan santun, ingin rasanya Sehun mendengus. "Tidak, terima kasih. Lebih baik aku disini saja."

"Kamu pintar memilih kekasih ngomong-ngomong." Mamanya tidak mempedulikan sindiran Sehun.

"Apa yang mereka bicarakan di dalam?" Tanya Sehun.

"Karena kamu tidak mau meneruskan perusahaan, Papamu menyuruh Jongin yang ambil alih." Kata Mamanya santai.

"Yang benar saja." Sehun bergegas keluar dari mobil dan masuk ke rumahnya. Dia langsung melihat Jongin dan Papanya terdiam. "Papa tidak bisa seenaknya begitu, Jongin kan punya cita-citanya sendiri."

Jongin langsung menghampiri Sehun, "Kamu ini kenapa?" Tanya Jongin sambil menarik Sehun agar duduk disebelahnya.

"Kamu tidak menerima tawaran Papa kan?" Sehun bertanya pada Jongin. Jongin menunjukkan muka kalau dia tidak mengerti maksud Sehun.

"Kalau tidak dibilang begitu kamu tidak akan mau menemui kami Oh Sehun." Kata Mamanya begitu masuk ke ruang yang sama.

Muka Sehun sudah memerah karena mendengar omongan Mamanya. Sehun panik, oke? Dia tahu Jongin akan setuju saja apa yang dikatakan Papanya, makanya dia langsung turun dari mobil, tidak peduli kalau dia kehujanan. Dan ternyata Mamanya berbohong. Jongin jadi tahu dari mana sifat Sehun yang suka aneh ini berasal.

"Papamu hanya ingin aku berkenalan dengan mereka Sehun." Kata Jongin.

"Kami tidak akan memaksamu lagi Sehun, terserah saja kamu mau melakukan apa." Kata Papanya.

"Papa serius?" Tanya Sehun.

"Tentu. Jongin sendiri yang menjamin kalau masa depanmu akan baik-baik saja."

"Jongin?" Sehun terlihat berpikir, tapi dia memutuskan untuk menanyakan nanti pada Jongin jika sedang berdua.

"All is well, Sehun." Kata Jongin meyakinkan Sehun.


Saat ini mereka sedang belajar di kamar Jongin. Sebenarnya mereka belum memutuskan untuk mengambil jurusan apa atau mau apa sehabis lulus sekolah, jadi mereka tetap melakukan persiapan untuk masuk universitas seperti siswa lainnya.

"Jongin," Panggilan Sehun hanya dijawab gumaman oleh Jongin, "aku mau bicara serius." Jadi Jongin meletakkan pensilnya dan menghadap Sehun.

"Go ahead." Kata Jongin.

"Kamu menjamin masa depanku di depan Papa tadi, kamu mengerti konsekuensinya kan?"

"Tentu saja." Kata Jongin lagi.

"Jongin kamu mengerti kan kalau kamu harus menikahiku?"

"Apa itu masalah? Bukannya kita sudah sepakat?"

Lama Sehun terdiam, "Aku minta maaf." Kata Sehun.

"Sehun sebenarnya pembicaraan ini mengarah kemana? Kenapa kamu minta maaf?" Jongin tidak mengerti kenapa Sehun harus meminta maaf, memangnya dia salah apa?

"Karena aku meragukan kita," Kata Sehun pelan. "maksudku kamu adalah orang pertama yang mau menjadi kekasihku, mengingat sikapku yang menyebalkan, suka berbuat yang aneh-aneh, aku kira kamu tidak akan tahan denganku. Oh aku bahkan memarahi temanmu Jongin, aku tidak cocok dengan mereka."

"Aku mengerti, kita juga belum lama kenal kan? Aku mengerti kalau kamu meragukan kita. Sometimes I still feel amaze about how can you bear with me, you know how awkward I am, right?" Sehun mengangguk. "We're gonna working on it. It's okay, all is well Sehun."

Sehun memeluk Jongin, "Terima kasih. Aku juga akan berusaha menjadi kekasih yang baik sepertimu." Kata Sehun.

"Kamu sempurna buatku Sehun, tidak perlu berubah." Jongin merasakan Sehun mengangguk dalam pelukannya. "I love you Sehun." Kata Jongin pelan.

Tapi ini kan Sehun, Sehun melepaskan pelukannya, "You should. I'm a goddamn miracle." Dan mereka tertawa mendengar jawaban Sehun. Bahkan Sehun sendiri tidak mengerti kenapa dia bisa menjawab begitu.


Thank you for always bear with my fiction :)

Tell me, what if this is the end of this fiction?