Hope you like this fiction :)
Sehun memutuskan untuk tidak meneruskan pendidikannya ke tingkat yang lebih tinggi di universitas dan membangun studio tarinya sendiri. Karena dengan mempunyai studio tari sendiri dia bisa bebas berlatih menari dan menyediakan tempat untuk orang lain yang ingin berlatih. Mengelola studio tari pun tidak sesulit yang dibayangkan Sehun sebelumnya. Jongin, Yifan, bahkan kakak Jongin juga membantu Sehun mempromosikan studionya.
Sedangkan Jongin meneruskan kuliahnya di jurusan Manajemen Bisnis. Dia memang berniat untuk menerima tawaran dari Papanya Sehun sejak awal, karena Papa Sehun bilang kalau dia ingin membuka anak perusahaan di Korea tapi belum menemukan orang yang cocok untuk mengelolanya. Makanya Jongin, walau pun tidak suka kalkulus, belajar sangat giat untuk bisa lulus dengan nilai yang baik.
Mereka sama-sama sibuk sekali. Sehun dengan studionya dan Jongin dengan kuliahnya. Tapi sesibuk apa pun mereka, mereka masih mengusahakan untuk bertemu di akhir minggu. Tapi kadang-kadang kalau Sehun sedang sangat rindu dengan Jongin, dia akan langsung menghampiri Jongin, tidak peduli Jongin sedang ada ujian atau apa. Jongin pun akan menerima semanja apa pun Sehun padanya.
Seperti malam ini, Jongin sudah satu minggu tidak bertemu Sehun karena sedang ada renovasi di studionya dan ujian akhir untuk Jongin. Jongin mengalihkan pikirannya dari Sehun dengan belajar atau tidur. Karena biasanya Sehun baru bisa dihubungi menjelang tengah malam.
Seperti sore ini, Jongin sedang belajar untuk ujiannya besok. Dia tidak bisa konsentrasi penuh karena Sehun tidak bisa dihubungi dari kemarin. Menghubungi Yifan pun percuma karena Yifan sedang pulang ke rumah orang tuanya. Sekali lagi Jongin menghela nafasnya dan mencoba berkonsentrasi belajar.
Satu-satunya pikiran yang membuat Jongin tenang adalah bayangan Sehun yang akan tersenyum karena dirinya lulus kuliah dengan cepat dan bisa mengelola perusahaan Papanya Sehun sehingga mereka dapat direstui dan menikah. Ah Jongin pokoknya mau punya anak lima, biar rumahnya ramai.
Terdengar suara pintu flatnya dibuka dengan terburu-buru dan masuklah Sehun. Dengan cepat pula Sehun berlari memeluk Jongin. Bahkan Sehun tidak menutup pintu flat Jongin. "Hei kenapa?" Kata Jongin sambil mengusap-ngusap punggung Sehun, sementara Sehun mengatur nafasnya.
"Tidak ada apa-apa." Sehun masih belum melepaskan pelukannya dari Jongin. "Hanya saja renovasi studio itu benar-benar membuatku tidak bisa tidur, belum lagi Gegeā¦"
"I miss you too, I love you." Kata Jongin memotong ucapan Sehun. Sehun itu jarang bisa mengatakan secara langsung kalo dia merindukan Jongin atau mencintai Jongin. Datang jauh-jauh ke flatnya Jongin menandakan kalau Sehun juga merindukannya, hanya saja gengsinya terlalu besar untuk mengatakannya langsung, jadi biar Jongin saja yang mengatakannya duluan kan?
"Ponselku hilang. Makanya aku bingung mau bagaimana menghubungimu." Sehun mengeratkan pelukannya pada Jongin.
"Besok kita beli yang baru saja bagaimana?" Tawar Jongin.
"Besok kamu masih ujian kan?"
"Sepulang aku ujian saja, kamu menginap kan malam ini?"
"Baiklah kalau kamu memaksaku menginap." Sehun menyandarkan kepalanya pada bahu Jongin.
"Untung aku mencintaimu Kim Sehun." Kata Jongin gemas.
"You should, I'm a goddamn miracle." Kata-kata Sehun yang ini selalu bisa membuat Jongin dan Sehun tertawa.
Untuk hari-hari besar seperti anniversary, hari ulang tahun atau hari valentine biasanya Jongin akan memberikan sebuah kejutan untuk Sehun. Valentine kali ini pun Jongin sudah menyiapkan kejutan untuk Sehun.
Sehun menggerutu sebal karena Jongin hanya mengiriminya sebuah alamat dan menyebutkan Sehun harus datang sebelum jam 7 malam. Yang benar saja, pikir Sehun. Jongin memang baru saja lulus dari kuliahnya. Jadi valentine kali ini benar-benar berharga buat mereka. Selain merayakan hari kasih sayang dan lulusnya Jongin, mereka juga merayakan pembukaan studio Sehun yang kedua dan dimulainya karir Jongin di perusahaan Papanya Sehun.
Sehun memutuskan untuk segera pergi ke alamat yang dikirim Jongin. Dia tidak mau terlambat dan mengacaukan hari ini. Siapa tahu hadiah valentine dari Jongin tahun ini menyenangkan. Bukan berarti tahun-tahun sebelumnya tidak menyenangkan sih, hanya saja Sehun penasaran apa kado dari Jongin tahun ini.
Dia sampai di alamat yang dikirimkan Jongin tadi. Sehun lalu memencet bel di pintu depan rumah tersebut. Jongin membukakan pintu untuk Sehun dan mempersilahkannya masuk.
Rumah tersebut sederhana. Dengan warna dominasi warna putih dan abu-abu rumah ini memberikan kesan minimalis. Terlihat sekali ini rumah impian Jongin. "Jongin, ini agak terlambat kalau kamu menyewa rumah ini untuk liburan kita." Rumah tersebut walaupun terkesan minimalis, tapi dari ruang keluarga, kita bisa melihat ada kolam renang indoor berukuran sedang. Seperti rumah yang selalu mereka sewa untuk menghabiskan long weekend berdua.
"Ini bukan untuk liburan, ini rumah kita." Kata Jongin sambil menarik kursi di ruang makan dan mempersilahkan Sehun duduk.
Sehun kaget, dia terdiam di tempatnya. Sehun menunggu Jongin mengatakan kalau dia hanya bercanda tadi, tapi Jongin hanya menaikkan alisnya seolah bertanya, kenapa?
"Aku belum mulai bekerja, tapi aku yakin akan sibuk sekali jika nanti aku sudah mulai bekerja dan aku tidak bisa membayangkan betapa sulitnya untuk bertemu denganmu nanti. Jadi, aku pikir kita harus tinggal bersama sekarang, maksudku flatku terlalu kecil untuk kita berdua sedangkan di rumahmu ada Yifan Gege. Jadi aku membeli rumah ini sebagai hadiah valentine. Kamu tidak menyukainya ya?" Jongin sebenarnya agak ragu karena Sehun tidak menjawab pertanyaannya.
"You're serious?" Sehun berbisik.
Jongin mendadak gugup, "Yes I know I should have talked to you first, but you know me Sehun. Duh this is awkward please bear with me, you.." Sehun tidak membiarkan Jongin menyelesaikan kalimatnya karena dia sudah mencium bibir Jongin duluan.
"It's a wonderful gift. Thank you Jongin." Jongin menghela nafasnya, dia sudah panik saja kalau Sehun tidak akan menyukai hadiahnya.
Hari ini adalah hari ulang tahun Sehun. Jongin sudah merencanakan untuk memberikan kado yang spesial untuk Sehun, jadi Jongin sengaja bangun lebih pagi dari Sehun. Jongin berjalan dengan pelan agar tidak membangunkan Sehun. Jongin berjalan keluar dan membukakan pintu rumah mereka, mempersilahkan Yifan, Kakaknya, dan kedua orang tuanya untuk masuk dan duduk di ruang tamu.
"Aku sangat berterima kasih karena kalian mau datang pagi-pagi sekali kesini." Jongin berbisik, takut membangunkan Sehun.
"Langsung saja Jongin, aku ada rapat 3 jam lagi." Kakaknya menyela.
Jongin mendengus, "Kalian tunggu disini dulu ya. Aku akan membangunkan Sehun sekarang dan yeaah melamarnya. Kalau aku diterima baru kita merayakan ulang tahun Sehun."
"Kalau tidak diterima?" Yifan bertanya, membuat semua orang memandang padanya. "Aku cuma bercanda." Yifan tersenyum canggung.
"Ayah mendoakanmu." Jongin mengangguk dan memasuki kamarnya dan Sehun.
"Sehun bangun. Ayo kita mengobrol." Jongin mengguncang badan Sehun.
Sehun mengerang, "Apa?"
"I've got something important to ask you." Kata Jongin.
"Can it wait until afternoon?" Sehun berbisik.
"Tidak." Kata Jongin.
"Tapi aku mengantuk Jongin." Sehun mengerang lagi. "Aku sedang bermimpi indah tadi." Sehun mendudukan dirinya pada sandaran tempat tidur. "Kamu menyalakan musik romantis pagi-pagi begini?" Sehun seperti tersadar, "Tunggu sebentar. Musik romantis, kamu bilang kamu bertanya sesuatu, apa kamu sedang berlutut?" Sehun memperhatikan Jongin yang memang sedang berlutut, "Were you so bored in the play you decided to ask me to marry you afterwards?" Sehun mengusap pipi Jongin.
"Yeah something like that." Jongin benar-benar gugup sementara Sehun terlihat biasa saja. "Sebenarnya aku memang mau bertanya itu." Jongin menghela nafasnya, "Sehun, would you like to marry me?" Kata Jongin gugup.
Sehun terdiam, tidak menyangka kalau Jongin serius. Sementara Jongin semakin gugup, "Sudah memikirkan jawabannya? 'yes', 'no', 'get out of my life loser', they're all possible."
Sehun terlihat pura-pura berpikir, "I think I'll go for emmm." Sehun terlihat berpikir keras, "yes." Kata Sehun sambil mengangguk.
Jongin tersenyum gugup, antara bahagia dan tidak percaya Sehun menerima lamarannya, "Thank you for asking me. And thank you for not going for one of those melodramatic proposals with lots of people around. I hate other people."
Pikiran Jongin melayang pada Yifan, Kakaknya dan kedua orang tuanya diluar sana, "Me too." Jongin tersenyum canggung. "Nah sebentar, aku matikan musiknya dulu." Jongin beranjak keluar dan mendapati keluarganya masih menunggu diluar.
"Bagaimana?" Tanya Ibunya cepat.
"Ssssh." Jongin berbisik. "Sehun sedang kelelahan." Jongin berbohong, "Tapi aku benar-benar menghargai kedatangan kalian kesini." Jongin berkata gugup, "Tapi bisakah kalian pergi?" Bisik Jongin.
Jongin mengantarkan keluarganya sampai kedepan pintu rumahnya, sampai di depan pintu Ibunya langsung memukul Jongin, "Kamu ini beraninya mengerjai orang tua." Ibunya kesal.
"Ampun Ibu." Jongin menahan tangan Ibunya, "Tapi Sehun benar-benar moody kalau pagi-pagi begini."
"Nah itulah kenapa aku tidak mendukung rencanamu kemarin." Yifan berkata sambil berjalan ke arah mobilnya yang terparkir agak jauh dari rumah Jongin dan Sehun.
"Aku benar-benar minta maaf, aku akan menggantikannya dengan cucu yang lucu nanti." Janji Jongin.
Membuat Ibunya mendengus dan meninggalkan Jongin di depan pintu rumahnya.
Dan setelah menikah dengan Sehun, Jongin menepati janjinya untuk memberikan cucu yang lucu untuk kedua orang tuanya. Setelah lima tahun menikah Sehun dan Jongin merasa cinta mereka terlalu banyak untuk dibagi berdua saja, jadi mereka memutuskan untuk mengadopsi anak.
Kim Taeoh, anak laki-laki yang suka sekali makan, sifatnya sedikit aneh seperti Sehun, namun jika sedang gugup bisa jadi seperti Jongin.
"Jadi kapan terakhir kali kamu menghubungi mertuamu?" Baekhyun adalah salah satu orang yang biasa Sehun temui jika sedang menjemput Taeoh di sekolahnya. Baekhyun juga sedang menjemput anaknya dan Sehun kurang menyukai ibu-ibu untuk diajak mengobrol, syukurlah ada Baekhyun.
"Baru saja tadi pagi sebelum Taeoh berangkat sekolah. Mereka memintaku untuk tidak lupa memberi Taeoh vitamin dan nasehat lainnya. Biasa lah orang tua."
Baekhyun tertawa, lalu berkata, "Well, kita juga nanti akan seperti itu kan kalau sudah jadi kakek-kakek?"
Sehun mengibaskan tangannya, "Aku tidak akan jadi kakek yang seperti itu."
Mereka tertawa bersama saat melihat anak-anak sudah mulai keluar dari kelasnya. Ada seorang anak laki-laki berambut coklat yang tidak sengaja menyenggol Sehun saat berlari menghampiri ibunya. Sehun memperhatikan anak laki-laki tadi karena demi apa pun, mirip sekali dengan Yifan waktu kecil dulu.
Sehun mengalihkan matanya saat dia merasa ada yang menepuk tangannya, Sehun tersenyum pada Taeoh.
Taeoh pun membalas senyumnya, "I have to tell you something Papa." Sehun memegang tangan Taeoh untuk menuntunya.
"Oh? And what do you need to tell me, young master?" Sehun bertanya. Sehun mengangguk pada Baekhyun dan berjalan menjauh dengan Taeoh untuk menuju mobil mereka.
"Miss Cho memberi tahu kami tentang valentine's day." Taeoh memulai dan Sehun dapat mendengar rasa antusias di dalamnya. "Miss Cho bilang kita dapat menunjukkan kalau kita menyukai seseorang pada hari itu."
"Sebenarnya kita bisa menunjukkan kalau kita menyukai seseorang setiap hari seperti Papa dan Ayah. Tapi valentine's day memang bisa menjadi momen yang tepat." Kata Sehun sambil menaikan Taeoh pada mobilnya dikuti dengan Sehun yang tidak lupa juga memasangkan sabuk pengaman untuk Taeoh dan dirinya.
"Miss Cho bilang kita bisa menunjukkannya dengan memberikan cokelat atau kado." Kata Taeoh lagi.
Sehun mengangguk, "Kita bisa jalan sekarang pak." Kata Sehun kepada supirnya.
"So?" Taeoh sedang gugup, jadi dia menggigit bibirnya.
"So? Is there someone you like young master?"
"Kita langsung pulang Tuan Sehun?" Tanya supirnya.
"Kita mampir ke pusat perbelanjaan dulu Pak." Jawab Sehun. "Taeoh? Do you like someone, love?" Sehun mengulang lagi pertanyannya.
Taeoh terlihat semakin gugup. "I.. emm there's emm there's someone I like Papa. A.. a boy." Kata taeoh akhirnya.
Ah itu menjelaskan kenapa dia segugup ini, pikir Sehun. "Dan kenapa kamu menyukai anak ini?" Siapa tau Taeoh punya selera yang unik seperti Jongin kan?
Muka Taeoh langsung berubah sumringah, "Dia mempunyai wajah yang tegas tapi manis Papa, rambutnya yang berwarna coklat pun membuat dia menjadi lebih manis dari semua permen kapas yang pernah Ayah dan Papa belikan untukku. Aku pernah memegang rambutnya dan itu sangat lembut. Dia mirip sekali dengan Yifan Shushu kalau dilihat dari dekat, tapi versi lebih manisnya. Dia seperti rusa di buku dongeng yang pernah Papa bacakan untukku, Papa ingat?" Sehun mengangguk. "Dia cantik seperti boneka Papa. Seperti boneka yang Rachel punya. Dia lucu, pintar.." Taeoh terlihat murung tiba-tiba. "Tapi dia sangat popular dan aku tidak mau dia berteman dengan orang lain Papa. Aku ingin hanya aku lah yang menjadi sahabatnya." Nah yang ini Sehun sekali.
"Apakah kamu pernah bertanya apa dia mau bersahabat denganmu?" Tanya Sehun.
"Pernah dan dia bilang dia mau jadi sahabatku, tapi dia hanya menghabiskan sedikit waktunya denganku Papa." Taeoh terlihat mempoutkan bibirnya, "So I want to make chocolate for him and give it to him tomorrow, because it's valentine's day and Miss Cho said we can show people we like them. And if I give him my present, he'll have to know that I like him, right, Papa?"
"Well, Taeoh, you can certainly give this boy a present, but valentine's day is mostly to show people you like them in the same way I like your Ayah." Sehun mencoba menjelaskan.
Taeoh terlihat sedang mencerna apa yang telah dibicarakan Papanya tadi, dia terlihat agak ragu, "Bolehkah aku menyukai dia seperti Papa menyukai Ayah?" Tanya Taeoh, ragu.
"Tentu boleh." Sehun mengusap pipi Taeoh. "I thought you wanted this boy to be your best friend?"
Dengan cepat Taeoh menjawab, "Iya, tapi kalau dia menyukaiku seperti Papa menyukai Ayah itu akan lebih baik." Taeoh tersenyum, "And we can still be friends, right?" Sehun mengangguk dan tersenyum melihat besarnya rasa antusias Taeoh, "So I want to make chocolates for him!"
"Baiklah, kita akan membeli bahan untuk membuat cokelatnya nanti dan Papa akan membuatkan cokelatnya setelah kita sampai di rumah, bagaimana?" Tawar Sehun.
"Tidak mau Papa, Miss Cho bilang hadiah yang paling baik adalah hadiah yang dibuat sepenuh hati. Jadi aku akan membuatnya sendiri!"
Sehun yang melihat semangat Taeoh pun hanya mengangguk. Sehun tahu Taeoh punya banyak teman disekolahnya. Biasanya Taeoh akan bersikap cuek atau bossy, tapi sepertinya anak laki-laki yang dibicarakan Taeoh dari tadi benar-benar berbeda. Jadi Sehun hanya bisa berkata, "Baiklah, Papa akam membantumu saja, bagaimana?"
"Yeaaay! I'm going to make the best chocolates he ever had!"
Taeoh meminta Sehun membeli berbagai rasa cokelat, mulai dari dark chocolate, white chocolate, sampai strawberry chocolate. Karena sesungguhnya Taeoh tidak tahu rasa cokelat yang disukai anak laki-laki tersebut.
Sehun membantu Taeoh melelehkan cokelatnya dan menuangkannya ke cetakkan, sementara Taeoh sibuk menghias cokelat-cokelat yang sudah terbentuk.
"Taeoh, siapa nama anak yang kamu sukai?" Sehun bertanya sambil memasukkan cokelat ke dalam kulkas agar terbentuk dengan cepat.
Taeoh menatap Sehun dengan senyum yang sangat lebar, "Zhu Yi Papa."
Dan ingatan Sehun melayang pada anak yang tak sengaja menyenggolnya tadi siang.
"Kamu yakin tidak mau memberikan cokelatnya di dalam saja Taeoh?" Tanya Jongin. Jongin ikut mengantarkan Taeoh bersama Sehun karena penasaran dengan anak yang disukai Taeoh. Sehun awalnya menggoda Taeoh di depan Jongin, tapi lama kelamaan Taeoh malah menceritakan tentang Zhu Yi pada Jongin tanpa perlu diminta.
Taeoh menggeleng, "Tidak, aku ingin jadi orang pertama yang memberikan hadiah untuk Zhu Yi." Taeoh dan kekeras kepalaannya. Padahal pipi Taeoh sudah memerah karena kedinginan. Tangannya yang terbungkus sarung tangan memegang erat kotak cokelat untuk Zhu Yi.
Taeoh memasukan dua belas cokelat ke kotaknya. Dia menyusunnya dengan sangat hati-hati dan membungkus kotaknya dengan kertas berwarna hijau muda, warna kesukaan Zhu Yi. Taeoh juga memberikan pita berwarna perak di kotaknya untuk menyempurnakan hadiahnya untuk Zhu Yi.
"Mungkin tidak dia sudah masuk duluan?" Tanya Sehun. Dia takut Zhu Yi sebenarnya sudah di dalam, bel masuk akan berbunyi sepuluh menit lagi, anak-anak lain pun sudah masuk ke kelas.
"Tidak, biasanya dia memang datang jam segini Papa." Kata Taeoh yakin. "Apa dia akan menyukai cokelatku?" Tanya Taeoh, gugup.
Jongin berlutut untuk menyamakan tingginya dengan Taeoh. "Ayah yakin dia akan menyukai cokelatmu." Kata Jongin sambil mengusap kepala Taeoh.
"And I know he likes you too, because what isn't there to like about my young master?" Sehun menambahkan.
Taeoh tersenyum gugup dengan pipnya yang memerah, "Terima kasih Ayah, Papa." Katanya berbisik.
"Taeoh!" Sehun dan Jongin berbalik untuk melihat siapa yang sudah memanggil anak mereka untuk melihat anak laki-laki dengan rambut cokelat berlari menghampiri Taeoh.
"Zhu Yi!" Taeoh tak kalah bersemangat. Sehun tahu anak ini yang tidak sengaja menyenggolnya kemarin siang. Tidak jauh dari mereka, berdiri ibu dari Zhu Yi.
"Please be my valentine!" Taeoh berkata langsung sambil menyerahkan kotak cokelatnya pada Zhu Yi.
Zhu Yi terlihat kaget, walau pun tetap menerima kotak yang diberikan Taeoh. Zhu Yi langsung membuka kotaknya dan mengambil cokelat yang ada didalamnya, "I love chocolate!" katanya senang.
"I know, that's why I made them." Bisik Taeoh.
Sehun dan Jongin menahan tawanya melihat Taeoh yang salah tingkah di hadapan Zhu Yi. Sehun bahkan masih ingat Taeoh ingin membeli semua rasa cokelat karena tidak tahu Zhu Yi menyukai yang mana. Hampir saja tawa mereka meledak saat melihat wajah Taeoh yang memerah karena pipinya dicium Zhu Yi. Wajah Taeoh benar-benar campuran antara terkejut dan senang, mirip sekali dengan Jongin, ingin rasanya Sehun mengambil satu foto.
"Aku juga punya hadiah buat Taeoh." Kata Zhu Yi. "Ibu? Mana hadiah untuk Taeoh?" Zhu Yi berbalik pada Ibunya.
"Ini sayang." Ibunya menyerahkan kotak yang dibungkus dengan warna biru muda. Zhu Yi langsung menyerahkannya pada Taeoh.
Jongin sudah tertawa melihat tangan Taeoh yang gemetaran membuka hadiah dari Zhu Yi. Sehun juga sebenarnya ingin tertawa, tapi dia malah mendengus mengingat kalau Jongin juga sama saja sebenarnya.
"Waah cupcakes!" Taeoh mengeluarkan cupcakes berwarna merah dengan frosting berwarna merah muda diatasnya.
"Frostingnya rasa strawberry, kamu pernah bilang kamu sangat suka buah strawberry kan?" Zhu Yi menjelaskan sambil menunjuk bagian frostingnya. "Ini cupcake red velvet, kamu pernah bilang belum pernah mencobanya kan?" Taeoh mengangguk, "Kamu harus mencobanya, setidaknya sekali dalam hidupmu, kata uncle Chanyeol itu hukumnya wajib." Ibu Zhu Yi mendengus mendengar perkataan anaknya.
Zhu Yi memperhatikan Taeoh mencoba cupcakenya, "Aku membuatnya bersama Ibu. Apa kamu menyukainya?"
"I love it so much." Kata Taeoh cepat lalu mencium pipi Zhu Yi. Dengan cepat Taeoh mengalihkan pandangannya ke arah lain, dia malu. Sehun senang sekali melihat Taeoh lebih cepat berkembang dibandingkan Ayahnya dulu.
"So you'll be my valentine?" Tanya Zhu Yi.
"If you're mine." Balas Taeoh.
Mereka berpamitan pada orang tuanya dan memasuki kelas dengan bergandengan tangan sementara tangan yang bebas memegang hadiah dari masing-masing.
"Well, sepertinya kita akan lebih banyak menghabiskan waktu bersama." Kata Ibu Zhu Yi setelah melihat anaknya memasuki kelas. "Aku Wang Zi. Senang berkenalan dengan kalian." Ibu Zhu Yi mengulurkan tangannya.
Sehun menjabat tangan Ibu Zhu Yi, "Kim Sehun dan ini suamiku Kim Jongin." Jongin menjabat tangan Ibu Zhu Yi. "It's pleasure to meet you too."
"Nah sepertinya aku harus duluan karena harus mengurusi kakak Zhu Yi yang sedang pulang." Ibu Zhu Yi tersenyum dan menjauh dari Sehun dan Jongin.
"Jadi mau kemana valentine kali ini?" Tanya Jongin.
"Aku sih mau ke studio sebentar sebelum menjemput Taeoh lagi. Jangan lupa kamu ada rapat direksi satu jam lagi." Kata Sehun sambil menyelipkan tangannya agar digandeng Jongin sementara mereka berjalan pelan menuju mobil mereka.
"Umur bertambah membuat kita semakin susah menikmati hari spesial ya? Masa hari kasih sayang begini masih harus diisi dengan bekerja." Kata Jongin.
"Kata siapa? Kalau kamu pulang ke rumah lebih cepat, aku yakin kita bisa menikmati hari kasih sayang ini." Jongin membukakan pintu mobil untu Sehun dan masuk melalui sisi yang satunya.
"Ke studio baru ke kantor Pak." Kata Jongin pada supirnya, "Lalu Taeoh bagaimana?" Tanya Jongin.
"Ibu bilang bisa mengurus Taeoh untuk malam ini."
"Apa artinya kita sudah sepakat untuk mempunyai anak kedua?" Jongin berharap, dia kan ingin punya anak lima.
"Ya, nanti akan ku pikirkan lagi." Tapi ini kan Sehun, jadi Jongin hanya tersenyum karena dia tahu artinya iya.
Yeaay this is the end of this story.
Thank you for always bear with this fiction :)
