Gadis Pantai


Original Story

Roman Gadis Pantai by Pramoedya Ananta Toer

Karena saya sangat kagum dan suka pada roman ini, maka disini saya akan mengubah Roman Gadis Pantai menjadi versi chanbaek.

Saya bukanlah pengarang aslinya. Saya minta maaf yang sebesar-besarnya jika ada yang tidak berkenan Roman ini saya jadikan versi chanbaek.


[Oh iya, pada chapter ini banyak sekali unsur yg mengandung tentang ajaran agama Islam, jadi bagi yang non harap dimaklumi:')]

Selamat membaca~

Muahh :)


Bagian Kedua


Rasanya jutaan semut rangrang berkerumun di setiap titik dari kulitnya.

Ia tak menjawab. "Mas Nganten," sekali lagi.

Seperti boneka otomatis ia bergerak memusatkan diri ke arah datangnya suara. Kemudian duduk membungkuk berjagangkan kedua belah tangan di atas kasur.

"Sahaya Bendoro," ia berbisik.

"Akulah suamimu."

"Sahaya Bendoro."

"Mengucaplah."

Baekhyun tak mengerti.

"Syukur pada Allah."

"Syukur pada Allah." Baekhyun mengikuti.

Tak tahu lagi ia apa dia ulangi lagi sesudah itu. Yang ia ketahui ia telah rebah kembali, hanya tidak di atas bantal semula, tapi di atas lengan Bendoro. Ia rasai sebuah tangan halus meraba tangannya dan ia dengar suara lemah sayup:

"Betapa kasarnya tanganmu."

"Sahaya Bendoro," Baekhyun berbisik dengan sendirinya.

"Di sini kau tak boleh kerja. Tanganmu harus halus seperti beludu. Wanita utama tak boleh kasar."

"Sahaya Bendoro."

Entah berapa kali ia harus ulangi dua kata itu. Ya entah berapa kali. Tak mungkin ia menghitungnya, karena ia tak pernah dalam hidupnya menghitung sampai limapuluh.

Waktu subuh datang menjelang ia dengar bunyi burung hantu mendesis dan berseru di atas bubungan. Bulu badannya meremang. Tapi dada Bendoro itu pun ada dirasainya berdetakan seperti ada mercun tahun baru Cina.

"Kau senang di sini?"

"Sahaya Bendoro."

"Kau suka pakaian sutera?"

"Sahaya Bendoro."

Dan ia rasai tangan yang lunak itu mengusap-usap rambutnya. Tak pernah emak dan bapak berbuat begitu padanya. Dan tangan yang lunak itu sedikit demi sedikit mencabarkan kepengapan, ketakutan dan kengerian. Setiap rabaan dirasainya seperti usapan pada hatinya sendiri.

Betapa halus tangan itu: tangan seorang ahli-buku!

Hanya buku yang dipegangnya, dan bilah bambu tipis panjang penunjuk baris. Tidak seperti tangan bapak dan emak, yang selalu melayang ke udara dan mendarat di salah satu bagian tubuhnya pada setiap kekeliruan yang dilakukannya. Dan tangan yang kasar itu segera meninggalkan kesakitan pada tempat-tempat tertentu pada tubuhnya, tapi hatinya tak pernah terjamah, apa lagi terusik. Sebentar setelah itu mereka berbaik kembali padanya. Tapi tangan halus ini - ah, betapa mengusap hati, betapa mendesarkan darah.

Waktu bendoro terlelap tidur, dengan kepala pada lengannya, ia mencoba mengamati wajahnya. Begitu putih, pikirnya. Orang mulia, pikirnya, tak perlu terkelantang di terik matahari. Betapa lunak kulitnya dan selalu tersapu selapis ringan lemak muda! Ingin ia rasi dengan tangannya betapa lunak kulitnya, seperti ia mengemasi si adik kecil dulu. Ia tak berani. Ia tergeletak diam-diam di situ tanpa berani bergerak, sampai jago-jago di belakang kamarnya mulai berkokok. Jam tiga.

Dengan sigap Bendoro bangun. Dan dengan sendirinya ia pun ikut serta bangkit.

"Mandi, Mas Nganten."

Ia selalu bangun pada waktu jago-jago pada berkeruyuk, kemudian berdiri di belakang rumah. Dari situ setiap orang dapat melepas pandang ke laut lepas. Maka dari kandungan malam pun berkelap-kelip lampu perahu-perahu yang menuju ke tengah. Salah sebuah dari lampulampu itu adalah kepunyaan ayahnya.

Tapi mandi? Mandi sepagi ini?

Ia takut berjalan seorang diri menuju ke kamar mandi. Tapi Bendoro Chanyeol lebih menakutkan lagi. Ia turuni jenjang ruang belakang berjalan menuju ke arah dapur. Ah, kagetnya. Bujang itu telah menegurnya menuntunnya dan membawanya ke kamar mandi.

Lampu listrik kecil dinyalakan dan ia lihat lantai bergambar warna-warni begitu indah seperti karang kesayangan di rumahnya. Mau rasanya ia punya sebongkah dari lantai ini, menyimpannya di rumah dan melihat-lihatnya dan mengusap-usapnya di sore hari. Betapa indah.

Air pembasuh yang wangi telah tersedia di jambang porselen buatan Tiongkok, terhias dengan liong begitu panjang. Dan seperti pada sore kemarin, air pun mulai menggercik dan berkecibak. Air pembasuh harum itu dipergunakan setelah ia habis mandi.

Bujang kemudian mengajarnya ambil air wudu. "Air suci sebelum sembahyang, Mas Nganten."

"Apakah mandi dengan air sebanyak itu kurang bersih?" tanyanya.

"Selamanya memang begini, Mas Nganten."

Untuk pertama kali dalam hidupnya Baekhyun bersuci diri dengan air wudu dan dengan sendirinya bersiap untuk bersembahyang.

Bujang itu membawanya kembali ke kamarnya, menyisiri dan menghiasinya kemudian menuntunnya ke luar lagi melintasi ruang belakang. Ia buka sebuah pintu yang nampak begitu kecil dibanding luas ruangan berlangit-langit tinggi dari lembaran besi berukir dan bercat krem. Pintu itu terpasang pada salah sebuah dinding ruang belakang.

"Ini khalwat," bujang itu berbisik.

"Kalwat?"

"Ia khalwat. Jangan salah sebut - khalwat." Bujang itu tak membetulkannya lagi. Mereka masuk.

Ruang itu luas, sangat luas, persegi panjang. Lampu listrik teram-temaram menyala di dua tempat, tergantung rendah pada tali kawat.

Tak ada sebuah perabot pun di sana - terkecuali dua lembar permadani - selembar di sana, selembar di dekat pintu mereka berdua masuk.

Dari sebuah pojok bujang itu mengeluarkan selembar mukenah putih dan mengenakannya pada Baekhyun. "Duduk sekarang diam-diam di sini. Jangan bergerak, Bendoro Chanyeol duduk di sana. Mas Nganten harus bersembahyang dengan beliau."

"Aku tak bisa."

"Ikuti saja apa Bendoro lakukan."

"Aku tak bisa."

"Wanita utama mesti belajar - mesti bisa melegakan hati Bendoro Chanyeol, ingat-ingatlah itu."

Bujang itu pun ke luar dari pintu semula tanpa meninggalkan bunyi apapun seperti seekor kucing menyelinap di malam gelap.

Tertinggal Baekhyun seorang diri dalam ruangan besar yang tak pernah diinjaknya semula, laksana seekor tikus di dalam perangkap.

Suasana khalwat itu menakutkan, menyeramkan. Sekali-sekali seekor burung walet masuk dari lubang angin jauh pada dinding atas sana, kemudian pergi lagi. Baekhyun tersadar sekarang betapa takutnya ia pada kesunyian, pada keadaan tak boleh bergerak. Ia tersedan – sedan seorang diri. Dan tak ada seorang pun peduli padanya.

Dinding-dinding batu tebal itu bisu-kelabu tanpa hati. Apakah guna hatiku ini? Ia berteriak dalam hati.

Baekhyun telah jadi bagian dari tembok khalwat.

Ia angkat pandangnya sekilas ke depan sana ketika dari pintu samping Bendoro Chanyeol masuk. Ia mengenakan sorban, teluk belanga sutera putih, sarung bugis hitam, selembar selendang berenda melibat lehernya. Selopnya tak dikenakannya. Pada tangan kanannya ia membawa tasbih, pada tangan kirinya ia membawa bangku lipat tempat menaruhkan Qur'an. Tanpa bicara sepatah pun, bahkan tanpa menengok pada seorang lain di dalam khalwat itu, langsung ia menuju ke permadani di depan, meletakkan bangku lipat di samping kiri dan tasbih di samping kanan dan mulai bersembahyang.

Seperti diperintah oleh tenaga gaib Gadis Pantai pun berdiri dan mengikuti segala gerak-gerik Bendoro Chanyeol dari permadani belakang.

Pikirannya melayang ke laut, pada kawan-kawan sepermainannya, pada bocah-bocah pantai berkulit dekil, telanjang bergolek-golek di pasir hangat pagi hari. Dahulu ia pun menjadi bagian dari gerombolan anakanak telanjang bulat itu. Dan ia tak juga dapat mengerti, benarkah ia menjadi jauh lebih bersih karena basuhan air wangi? Ia merasa masih seperu bocah yang dulu, menepi-nepi pantai sampai ke muara, pulang ke rumah dengan kaki terbungkus lumpur amis.

Bendoro Chanyeol di depan sana berukuk. Seperti mesin ia mengikuti Bendoro – di sana bersujud, ia pun bersujud, Bendoro duduk ia pun duduk. Ia pernah angkat sendiri seekor ikan pari dari 30 kg, tak dibawa ke lelang, buat sumbangan kampung waktu pesta.

Ia bermandi keringat dan buntut ikan itu mengganggu kakinya sampai barut berdarah. Tapi ia tahu ikan itu buat dimakan seluruh kampung.

Dan kini. Hanya menirukan gerak dirasanya begitu berat.

Dahulu ia selalu katakan apa yang dipikirkan, tangiskan, apa yang ditanggungkan, teriakan ria kesukaan di dalam hati remaja. Kini ia harus diam - tak ada kuping sudi suaranya. Sekarang ia hanya boleh berbisik. Dan dalam khalwat ini, bergerak pun harus ikuti acuan yang telah tersedia.

Keringat dingin mengucur sepagi itu menjalari seluruh tubuhnya.

Kemarin, kemarin dulu. Ia masih dapat tebarkan pandang lepas ke mana pun ia suka. Kini hanya boleh memandangi lantai, karena ia tak tahu mana dan apa yang sebenarnya boleh dipandangnya.

Ia menggigil waktu Bendoro Chanyeol mengubah duduk menghadapinya, membuka bangku lipat tempat Qur'an, mengeluarkan bilah bambu kecil dari dalam kitab dan ia rasai pandangnya mengawasinya memberi perintah. Seumur hidup baru sekali ia menggigil. Kenangan pada belaian tangannya yang lembut dan lunak lenyap. Tiba-tiba didengarnya ayam di belakang rumah pada berkokok kembali. Moga-moga matahari sudah terbit seperti kemarin, ia mendo'a.

Dan Bendoro Chanyeol telah menyelesaikan "Bismillahirohmanirrohim", sekali lagi mentapnya dari atas permadani sana.

Ia tak mampu mengulang menirukan. Ia tak pernah diajarkan demikian. Tanpa setahunya air matanya telah menitik membasahi tepi lubang rukuhnya.

(rukuh (Jawa), mukenah, telukung.)

Sekali lagi ia merasa dipandangi begitu lama oleh Bendoro Chanyeol. Ia tahu Bendoro Chanyeol mengulangi kata-katanya. Waktu Bendoro mendaham, seperti dengan sendirinya ia mengangkat pandang. Dirasainya hatinya jadi ciut waktu diketahuinya benar-benar Bendoro Chanyeol sedang menatapnya dan dengan bilah bambu penunjuk menghalaunya pergi.

Ia berlutut, membungkuk, berlutut berjalan mundur. Sampai di pintu ia berhenti sebentar, menebarkan pandang jauh ke depan, pada Bendoro Chanyeol.

Dilihatnya untuk kedua kali Bendoro menghalaunya dengan bilah bambu penunjuk baris.

Dirasainya tangan yang diangkatnya begitu berat waktu mencari tangkai kunci. Kaki-kaki pun dirasanya kelu waktu hendak berdiri. Tangkai itu berputar sendiri. Ia terperanjat dan tahu-tahu sudah berada di luar khalwat, dalam pelukan bujang, lari masuk ke dalam kamar menghempaskan diri di ranjang.

"Oh, mak ... bapak," panggilnya berbisik-bisik.

"Mas Nganten, Mas Nganten."

"Bawa aku pada emak. Aku mau pulang, pulang ke kampung."

"Mas Nganten, jangan menangis." Baekhyun tenggelam dalam tangisnya.

"Wanita utama mesti belajar bijaksana Berakit-rakit ke hulu..."

"Emak! Aku mau sama emak."

"Sst. Diamlah. Mas Nganten sebentar lagi Bendoro datang."

Baekhyun terdiam. Sedu-sedannya tertahan, timbul tenggelam dalam kesenyapan pagi seakan kepingan-kepingan jiwanya sendiri yang pecah belah.

Sejurus kemudian, dengan suara agak reda ia bertanya, "Di mana emak?"

"Di kamar dapur."

"Kalau aku tak boleh ke sana, biarlah dia ke mari."

"Masih tidur."

"Hari begini emak sudah bangun!"

"Ya-ya, tahu sahaya. Biasanya sudah bangun mengantarkan laki berangkat ke laut, ya kan? Tapi tidak bijaksana wanita utama tinggalkan kamar tidak pada waktunya. Ayam pun masih tinggal di kandang Mas Nganten."

Segera setelah suara merongga dari khalwat berhenti mengaji, terdengar bunyi selop berat yang menggentarkan hatinya. Kian lama kian mendekat.

Di saat-saat seperti itu ia takut dan akhirnya takut pada ketakutannya sendiri. Dihapusnya air matanya. Ia duduk diam-diam di ranjang. Ia lihat bujang itu bersi-cepat merapihkan baju suteranya yang telah terbebas dari mukenah, kemudian buru-buru ke luar kamar seperti kucing hitam habis menyambar dendeng di lemari makan.

"Mas Nganten, mari," ia dengar suara Bendoro Chanyeol.

Ia sudah hafal suara itu: lunak, lembut, sopan. Dan seperti ditarik oleh benang-benang baja gaib, ia bangkit berjalan tanpa jiwa menuju ke pintu, Bendoro mengulurkan tangannya sendiri untuk menggenggamnya.

Mereka berdua berjalan menuruni jenjang ruang belakang, membelok ke kanan. Tiba-tiba saja Baekhyun melihat alam bebas kembali – sejauh pagar tembok tinggi yang melingkunginya. Baekhyun merasa begitu lama tak melihat pohon. Dan dalam rembang subuh, dengan bulan memancar suram di atas, dilihatnya sebuah pohon di hadapannya lebih besar daripada yang lain-lain. Itulah pohon sawo, pikirnya, nampaknya tidak seperti yang kulihat selama ini, mengerikan.

Ia eratkan genggaman tangannya pada tangan Bendoro Chanyeol. Dengan tangannya yang lain Bendoro mengusap bahunya.

Mereka sedang menghirup udara pagi di kebun belakang. Dan kebun belakang itu jauh lebih besar dari seluruh kampung nelayan tempat ia dilahirkan dan dibesarkan. Seluruhnya terpagari dinding tembok tinggi. Pasir di bawah itu terasa lunak dan buyar kena tendangan. Pohon mangga tertanam berderet seperti serdadu, sedang pohon-pohon pisang yang merana berbaris menepi pagar, seperti tahu akan kekecilannya.

"Kau suka jalan-jalan begini?"

"Sahaya Bendoro,"

Baekhyun ingat, pagi begini biasanya ia kembali merangkak ke balenya setelah melihat perahu bapak kian menjauh bahkan lampunya pun tidak nampak lagi. Ia membiarkan diri terlelap sejenak untuk kemudian dibangunkan emak: Ai-ai, anak ini. Ayam sudah dikasih makan? Jangan suka tidur pagi, nanti disambar buaya. Dan ia pun bangun memberi makan ayam yang telah berlari-larian sekitar rumah.

"Apa yang kau makan di kampung sana?"

Tak mampu Baekhyun menjawab. Ia takut. Ia tak pernah diajar menggunakan bahasa yang biasa dipergunakan di kota. Ia diam saja.

"Jagung?"

"Sahaya Bendoro."

"Jarang makan nasi?"

"Sahaya Bendoro."

"Bersyukurlah di sini kau selalu akan makan nasi. Insya Allah. Tuhan akan selalu memberkati." Mereka terus berjalan pelan-pelan.

"Itu pohon mangga, dua tahun umurnya. Ditanam waktu orang memasang listrik. Tak ada orang menanam buat dirinya sendiri. Betapa pemurahnya Allah. Dia pun tak ciptakan alam semesta dan manusia buat diriNya sendiri. Kau masih ngantuk?"

"Tidak, Bendoro."

"Kau lapar."

"Tidak Bendoro."

"Berceritalah."

Kembali Baekhyun jadi bisu ketakutan. Ia rasai nafasnya lersumbat.

Mengapa bicara saja tak berani, sedang ia suka memekik-menjerit panggil-panggil si Mongryong, anjingnya? panggil-panggil kawan-kawan bermainnya? panggil-panggil Pak Jongdae tetangganya yang selalu dimintai tolong bila mengangkat barang-barang berat?

"Tak perlulah kalau kau tak suka. Aku tahu kampung-kampung sepanjang pantai sini. Sama saja. Sepuluh tahun yang baru lalu aku juga pernah datang ke kampungmu. Kotor, miskin, orangnya tak pernah beribadah. Kotor itu tercela, tidak dibenarkan oleh orang yang tahu agama. Di mana banyak terdapat kotoran, orang-orang di situ kena murka Tuhan, rezeki mereka tidak lancar, mereka miskin."

"Sahaya Bendoro."

"Kebersihan, Mas Nganten, adalah bagian penting dari iman. Itu namanya kebersihan batin. Ngerti Mas Nganten?"

"Sahaya Bendoro."

"Kebersihan batin membuat orang dekat pada Tuhan."

"Sahaya Bendoro."

"Apa kau ingin buat hari ini?"

Tiba-tiba Baekhyun menyadari dirinya sangat lelah, mengantuk dan ingin rebahkan tubuhnya di atas kasur lunak, seorang diri di dalam kamar. Tapi ia tak berani mengatakan sesuatu. Bendoro Chanyeol membawanya duduk di atas sebuah bangku di bawah pohon yang ia tak tahu namanya.

Dari kantong teluk belanga sutera Syantung dikeluarkan sesuatu benda.

Dan tanpa menyadari tahu-tahu telah terpasang sebentuk cincin pada jari manis Baekhyun dan sepasang gelang pada kedua belah tangannya yang lampai.

Beberapa menit kemudian kedua orang suami-istri itu telah duduk pada meja makan. Roti hangat yang masih mengepul yang dikirimkan tadi dari bengkel roti, telah tersayat-sayat di atas meja. Botol-botol selai, serbuk coklat, gula-kembang; perasan air jeruk, krupuk udang dan bubur havermouth, telah terderet di atas meja. Kopi mengepul-ngepul dari cangkir porselen buatan Jepang. Sendok-garpu, pisau, semua dari perak putih mengkilat berderet-deret memusingkan kepala Baekhyun.

Sebuah tempat buah dari perak begitu menyilaukan matanya. Otaknya terpilin-pilin dan ia lapar. Tapi apa guna alat sebanyak itu dan serba mengkilat?

"Mana Mas Nganten lebih suka? Bubur? Roti? Atau air jeruk saja?" bujang wanita itu berbisik.

Apa saja Baekhyun mau, asal tanpa pengawasan siapapun. Tapi bujang itu telah berbisik lagi, "Tanyalah Bendoro Chanyeol apa beliau suka, dan layanilah."

Baekhyun menebarkan pandang sekilas pada Bendoro Chanyeol sama dengan mata itu ia bisa bicara, kemudian menunduk lagi. Waktu Bendoro Chanyeol menunjuk pada roti, Baekhyun berdiri, melirik pada bujang. Kembali bujang membungkuk berbisik:

"Tanyailah Bendoro Chanyeol rotinya apa pakai lapis coklat, gula-kembang, selai."

Baekhyun menggigil. Ia tak tahu yang bernama coklat, Tula-kembang dan mana pula selai.

"Coklat," Bendoro Chanyeol berbisik.

Bujang wanita itu menangkap tangan Baekhyun, membimbingnya ke arah botol serbuk coklat, meraihkannya pada sendok perak kecil yang begitu aneh bentuknya dan mengaurkan serbuk itu di atas sayatansayatan roti yang telah dibuat mengkilat dengan mentega Friesland

.

.

.

Pagi itu Baekhyun kembali ke kamar dengan perut tetap lapar. Ingin ia makan roti coklat itu barang sesayat lagi. Tapi Bendoro Chanyeol begitu sedikit makannya. Ah, roti itu mungkin yang terlampau terlalu enak ... roti dengan aur serbuk coklat, ia meyakinkan dirinya. Bukan diri yang lapar, cuma perut ini memang tak tahu diri.

Tapi lapar tetap membelit-belit dalam perutnya. Tak pernah ia tanggungkan yang demikian, biarpun pada dua tahun yang lalu, waktu kampung nelayan disapu lenyap oleh gelombang pasang. Perahu-perahu yang tak dibinasakan laut, tertinggal di pantai terkubur lumpur.

Ia masih ingat waktu tong-tong bambu kepala kampung bertalu tanpa hentinya sampai bayi terakhir dapat dilarikan dari kampung yang terkepung maut. Dan dalam gelap itu daun-daun kelapa tua beterbangan cari kepala manusia menjadi korbannya. Waktu penduduk kampung pulang ke tempatnya, tak sebatang rumput pun tinggal berdiri. Batang-batang kelapa silang melintang memagari pantai. Batang kelapa bapak sendiri tinggal satu yang baru saja berbuah, begitu rendah, rasanya bisa dijolok begitu mudah. Tapi seluruh buahnya telah jadi coklat dan dua minggu kemudian pada rontok.

Busuk isinya.

Pada waktu itulah ia menderita kelaparan. Tak kurang dari seminggu. Tebat-tebat lenyap dan tanggul-tanggulnya hilang tanpa bekas. Tak seekor bibit bandeng tinggal di tempatnya. Tapi kelaparan waktu itu hanya kelaparan karena tak makan beras-jagung. Setidak-tidaknya laut masih memberi makan, kerang-kerangan panjang, kepiting dan ganggang laut.

Sekarang, makan tersedia, malah melimpah-limpah. Tapi tak mungkin ia memakannya. Di sini terlalu banyak benang-benang baja, tangan-tangan gaib yang selalu mencegah, roh-roh mahakuasa yang membuat hati selalu kecut.

"Mak, mak," ia berseru dalam bisiknya.

"Mas Nganten ini mak." terdengar suara bujang wanita.

Baekhyun melompat. Waktu dilihatnya emak memasuki pintu, ia lari menubruk wanita tua itu dan merangkulnya, "Mak, emak mari pulang."

"Husy."

"Mas Nganten wajib tetap ingat, mak," bujang itu memperingatkan, "wanita utama harus belajar berhati teguh, kendalikan segala perasaan dengan bibir tetap tersenyum."

"Ya-ya mBok."

"Katakanlah pada Mas Nganten."

"Ya-ya mBok. Diamlah kau nak. Ketakutan ini kurang patut."

"Aku tak suka di sini, mak."

"Segalanya harus dipelajari, nak. Lama kelamaan kau akan suka."

"Mak, bawa aku pulang."

"Apa dia bilang?" terdengar suara bapak. Dan tahu-tahu bapak telah berada di samping Baekhyun.

"Apa kau bilang?" tanyanya sekali lagi dan suaranya mengeras membentak.

"Tak ada orang berani berlaku kasar terhadap wanita utama." Bujang memperingatkan.

Bapak terkulai di atas kursi. Tenaganya yang biasa diadu dengan badai dan gelombang, remuk di dalam kamar pengantin ini. Terdengar nafasnya megap-megap. Kedua belah tangannya lunglai di atas kursi.

"Kalau wanita utama suka," bujang itu meneruskan, "Mas Nganten bisa usir bapak dari kamar."

Baekhyun meronta dari pelukannya di dada emak. Ia terisak-isak.

Sekarang ia berlutut merangkul kaki bapak. "Ampuni aku bapak, pukullah anakmu ini."

Dua titik air menggantung layu pada sepasang mata bapak. Diangkatnya dengan tangan kanannya yang layu terkulai, diusapnya rambut Baekhyun. Didirikannya pengantin itu, didudukkannya di atas kursi tempat ia tadi terjatuh layu.

"Selamat untukmu, nak," bapak berbisik.

"Bilang pengestu," emak mendesak.

"Pangestu bapak."

Tanpa menengok lagi bapak meninggalkan kamar.

.

.

.

Siang itu Baekhyun makan seorang diri di kamar makan. Bujang wanita menunggunya di pojok kamar makan. Sebentar-sebentar wanita itu menghampiri, membantunya menggunakan sendok, garpu, pisau. Ah, sulitnya setiap baki dan cawan punya sendoknya sendiri.

"Bendoro Chanyeol tidak pulang Mas Nganten. Hari begini biasanya dipanggil Bendoro Bupati."

"Mengapa aku mesti diikuti terus, mBok?"

"Bukan sahaya mengikuti, Mas Nganten. Tugas sahaya hanya membantu."

"Jangan mempergunakan sahaya itu mBok."

Bujang itu tertegun. Ia heran. Baru kemarin Baekhyun datang kini telah berani melarang.

"Sahaya hanya bujang, Mas Nganten."

Dan sekarang Baekhyun tertegun. Ia mulai mengerti, di sini ia tak boleh punya kawan seorang pun yang sederajat dengannya. Ia merasai adanya jarak yang begitu jauh, begitu dalam antara dirinya dengan wanita yang sebaik itu yang hampir-hampir tak pernah tidur menjaga dan mengurusnya, selalu siap lakukan keinginannya, selalu siap terangkan segala yang ia tak faham, bisa mendongeng begitu memikat tentang Joko Tarub, dan bisa mengusap bahunya begitu sayang bila ia siap hendak menangis.

Hatinya memekik: mengapa aku tak boleh berkawan dengannya? Mengapa ia mesti jadi sahaya bagiku? Siapakah aku? Apa kesalahan dia sampai harus jadi sahayaku?

"Makanlah, Mas Nganten! Mengapa melamun saja?"

Baekhyun berhenti makan. Ia bangkit. Tanpa menengok masuk ke dalam kamar, langsung ke kasur kesayangan dan mengucurkan air matanya. Ia rasai bagaimana dirinya seperti seekor ayam direnggut dari rumpunnya. Harus hidup seorang diri, di tengah orang yang begitu banyak. Tak boleh punya sahabat, cuma boleh menunggu perintah, cuma boleh memerintah.

Betapa sunyi! Betapa dingin. Dan iklim sedingin ini tak pernah dirasainya di pantai, betapapun cuaca pagi telah membekukan seluruh minyak kelapa di dalam botol. Ia puaskan tangisnya sampai tertidur.

.

.

.

Belaian tangan halus sahabat yang jadi sahaya itu membangunkannya. Buat ke sekian kali ia dibimbing ke kamar mandi dan dimandikan. Buat ke sekian kali ia dibimbing masuk ke dalam kamar.

"Aku mau bertemu bapak," bisiknya.

"Sejak tadi siang tak ada. Tak ada yang tahu ke mana. Bendoro Chanyeol akan marah kalau tahu. Marah pada kami semua, tak bisa urus tamu."

"Emak?"

"Emak kelihatan begitu bingung. Dia mau kemari, tapi sahaya larang. Mas Nganten baru tidur tadi."

"Tolong aku panggilkan dia," bisik Baekhyun.

"Biar rapi dulu, Mas Nganten."

"Tolong panggilkan."

Bujang itu pergi dan sebentar kemudian kembali lagi mengiringkan emak.

Dan ia lihat wajah emak begitu muram. "Mana bapak, mak?"

Emak tak menjawab. Ia menghampir, membantu bujang mendandani dan merias. Celak Arab itu kembali memperbawa-kan wajahnya. Dan rouge buatan Perancis itu menyalakan wajahnya.

"Lihat di kaca," bujang menganjurkan.

Baekhyun menatap wajahnya. Tiba-tiba ditutupnya wajahnya dengan kedua belah tangannya.

"Mengapa, nak?" emak bertanya waktu dilihatnya Gadis Pantai berpaling dari kaca. "Nak, nak,... nak."

Dengan tangannya yang kiri Baekhyun menuding pada kaca, memekik,

"Itu bukan aku, bukan aku. Bukan! BUKAN! IBLIS."

Baekhyun lupa pada kesulitannya sendiri serenta mengetahui kebingungan emak yang kehilangan bapak. Ke mana lagi? Pulang, kata bujang meyakinkan. Emak juga tahu bapak pulang. Bujang tak perlu menerangkan padanya. Tapi apa bakal jawabnya pada Bendoro Chanyeol kalau dia pulang tanpa minta diri?

Tak pernah Baekhyun menyayangi bapak seperti sekarang. Bapak, katanya dalam hati, mungkin sekarang sedang memeriksa layar buat nanti malam atau subuh pergi menantang badai, menantang gelombang, menangkap ikan buat keselamatan seluruh keluarga.

"Biar Mas Nganten yang memohon akan ampun," bujang mengusulkan.

Emak bertanya pada Baekhyun dengan matanya dan Baekhyun menjadi ragu sejenak, kemudian mengangguk. Namun hatinya teraduk.

Apakan Bendoro Chanyeol lebih berkuasa daripada laut, sampai bapak melarikan diri? Dua abangnya telah tewas ditelan laut, mereka tidak pernah lari.

Bapak pun tak pernah lari. Mengapa dia sekarang lari? Ia sendiri pun tak pernah takut pada laut. Mengapa takut pada Bendoro Chanyeol? Mengapa? Bapak lebih kukuh dan kuat dari Bendoro. Bendoro Chanyeol bertubuh tinggi langsing, berwajah pucat, kulitnya terlalu halus, ototnya tak berkembang.

Mengapa semua orang takut? Juga diriku?

"Mengapa Mas Nganten melamun? Bapak pasti selamat sampai di rumah."

Baekhyun berhenti membayangkan bapak.

"Dengarkan, sahaya ajari, katakan begini pada Bendoro Chanyeol nanti, 'Ampuni sahaya Bendoro...' hafalkan. Lantas Bendoro Chanyeol akan menegur, 'Ya, Mas Nganten, ada yang kau inginkan?'"

Baekhyun menyimak tanpa mengedip.

"Dan Mas Nganten bilang begini, bapak sahaya terpaksa pergi Bendoro. Ampuni sahaya, bapak dan emak sahaya, dia lupa memohon diri. Dan nanti Bendoro Chanyeol akan tertawa senang. Tak apa, tak apa, Bendoro Chanyeol nanti akan bilang. Kemudian ..."

"Apa kemudian?"

Bujang itu diam. Menarik Baekhyun ke depan cermin.

"Lihatlah itu bukan iblis. Bidadari dari surga itu sendiri!"

Pada cermin Baekhyun melihat wajahnya sendiri: itu bukan diriku! pekiknya dalam hati.

Wajah itu memang bukan wajahnya yang kemarin dulu. Wajah itu seperti boneka, tak ada tanda-tanda kebocahannya lagi yang kemarin dulu. Sari ke-bocahan telah lenyap dari matanya, dan untuk selama-lamanya, Emaknya pun tak ada melihat nyala pada anaknya lagi. Belum lagi 3 x 24 jam, dan kelincahan dan kegesitan anaknya telah padam.

Tiba-tiba Baekhyun mendengar tawanya sendiri beriak bergelumbang-gelumbang pada setiap kelucuan. Tapi itu tawa bocahnya dulu. Tawa semacam itu tak terdengar lagi olehnya di gedung Bendoro Chanyeol ini, dan mungkin juga tidak buat selamanya.

"Bendoro manapun akan hasratkan wanita berwajah ini," bujang meneruskan. "Lihat," katanya kemudian pada emak.

"Tubuh yang kecil mungil seenteng kapas. Kulit putih susu selicin tapak setrika. Cuma tangannya yang harus direndam air asam, biar cepat jadi tipis. Dan mata lindri (lindri (Jawa), artinya mata dengan pandang lunak menyerah.) terpancar dari tapuk yang setengah sipit: seperti putri Cina. Siapa tak memuji kecantikan putri Cina? Mas Nganten, nanti malam sahaya akan ceritakan kisah peperangan antara putri Cina melawan Amir Hamzah. Ah, berapa orang saja yang telah kucurkan air mata, dengarkan tangisnya waktu anak panah menembus bahunya, ia menggelesot di tanah, berguling mengucurkan darah, tanpa ada orang datang membantunya."

Dan ia pun mulai menggumamkan "megatruh" pada saat dikisahkan putri Cina terjatuh dari kuda di medan perang, tapi liba-tiba, "Ah, mak, mari aku antarkan balik ke kamar dapur lagi. Siapa tahu Bendoro Chanyeol segera tiba?"

Kedua orang itu keluar. Dan Baekhyun tertinggal seorang diri, berdiri tanpa semangat di depan kaca.

Cerminnya di kampung sederhana saja. Makin besar cermin, makin terhormat tempat seseorang di lingkungan tetangga-tetangga. Dan setiap cermin dipasang pada tempat yang segera dapat dilihat orang.

Setiap tamu yang datang mengagumi cermin pada luas dan tebalnya, terutama juga pada pahatan piguranya. Tapi hanya orang dari luar kampung yang mengagumi pahatan. Seluruh kampung nelayan itu sendiri terlalu terlibat kesibukan, mereka hanya memahat di waktu senggang.

Tapi cermin yang sebuah ini sama sekali tidak pernah menarik hatinya untuk berkaca. Ia tatap wajahnya di situ dengan curiga, dengan prasangka. Di sini semua serba lebih bagus dari di kampungnya. Tidak!

Wajah yang lebih bagus di cermin itu bukan wajah yang sering dilihatnya pada cermin di rumahnya sendiri. Cermin di rumahnya memang sederhana tanpa pigura, tapi ia sudah mengenalnya, ia sudah yakin pada kejujurannya. Dengan cermin di rumahnya ia juga bisa membersihkan mukanya dari tahi mata, dan menyeka pipi dari jelaga dapur. Tapi di sini celak Arab berwarna jelaga justru dipulaskan pada sekitar matanya.

Orang-orang bilang, kulit mukanya halus, rata, dan putih. Ia suka menyekanya bila berkeringat. Tapi di sini selapisan rouge menutupnya, hilang putih timbul warna jambu. Sedang satu garis tipis hitam berenang di tengah-tengah alisnya yang lebar, seperti tulang punggung ikan lajur. Bahkan bertemu wajahnya sendiri, di sini tidak diperkenankan!

Ia pandangi kalung, gelang, cincin - semua emas bertatahkan permata. Uh, betapa bencinya, seluruh kampung nelayan pada pak Kintang, yang mengukur segala-galanya dari mutu dan berat emas. Dan waktu orang tertua di kampung meninggal, ia sama sekali tak menyumbang sesuatu pun! Emas bagi kampungnya selalu bergandengan dengan kepalsuan.

Baekhyun tertegun, Ah-ya, siapa pula yang bicara tentang emas dulu?

Ia mulai mengingat-ingat. Akhirnya kenangannya mengangkat sebuah wajah kurus cekung-cekung dengan bibir selalu senyum, orang dari kota - datang ke kampung buat meminjam uang dan mengutangkan emas-emasan.

Ya-ya, orang itu datang ke rumah. Bapak sedang di laut. Dan emak menyila-kannya duduk di bale. Emas, mBok, belilah. Tidak kontan, mencicil juga boleh. Ayoh, mulai kumpulkan emas. Kan punya anak perawan? Dengan emas bisa didapat segala-galanya. mBok dengar?

Segala-galanya!

tbc...