Gadis Pantai


Original Story

Roman Gadis Pantai by Pramoedya Ananta Toer

Karena saya sangat kagum dan suka pada roman ini, maka disini saya akan mengubah Roman Gadis Pantai menjadi versi chanbaek.

Saya bukanlah pengarang aslinya. Saya minta maaf yang sebesar-besarnya jika ada yang tidak berkenan Roman ini saya jadikan versi chanbaek.

Selamat membaca~

Muahh :)


Bagian Ketiga


Waktu itu Baekhyun duduk pada kaki emak.

Dan ia lihat kakek tertua kampung masuk tertatih-tatih ke dalam bertunjangan tongkat.

Ia tertawa terkekeh-kekeh. Aku dengar, katanya, dan ditunjuknya orang kota itu dengan tongkatnya. Emas? heh-heh-heh, itu dia yang bikin perahu-perahu kita pada tidak punya layar, pada bolong dan karam di tepian. Perahu! Perahu yang perlu! Jangan dengarkan dia.

Perahu datangkan segala-galanya. Emas habiskan segala-galanya. Dan dengan tongkatnya juga ia usir orang dari kota itu dari rumah. Waktu orang kota berwajah kurus cekung-cekung itu sampai di bendul pintu, kakek menuding emak dengan tongkatnya: kalau kau dengarkan dia kau celakakan lakimu. Ngerti? Ingat-ingat, barang siapa lebih banyak bicara tentang emas, itulah iblis keparat. Jauhi dia. Kampung ini harus selamat...

Dan sekarang di hadapannya, di atas meja, tergeletak benda-benda emas bertatahkan permata, gemerlapan kena cahaya lampu. Ia pandangi dan pandangi.

Terkejut.

Sepantun suara berdesis pada kupingnya benar, "Betapa semua orang meng-impikannya." Itulah suara bujang wanita.

"mBok bikin aku kaget saja."

"Mas Nganten suka perhiasan, bukan?" Baekhyun tak pernah punya perhiasan sebelumnya. Ia suka pada keindahannya.

"Halus buatannya," bujang meneruskan, "buatan Solo Khusus dipesan buat Mas Nganten."

"mBok suka? Ambillah."

Mata bujang itu berkilau-kilau. Kedua belah tangannya tegang tergenggam di depan mulut, dan dengan suara gemetar berkata, "Siapa tidak mau? Jangan berkata begitu. Jangan. Sahaya takut, Mas Nganten."

"Apa yang ditakutkan dengan emas ini?"

"Sahaya takut, benar-benar takut, Mas Nganten. Takut khilaf."

Dan dengan suara masih juga gemetar ia meneruskan, "Sahaya adalah sahaya. Kalau tidak ada sahaya, mana bisa ada Bendoro? Takdir Allah Mas Nganten. Kakek sahaya memang bukan sahaya tadinya. Anakanaknya tak ada yang bisa seperti itu. Dan sahaya ini. Inilah sahaya yang ditakdirkan melayani Bendoro, melayani Mas Nganten."

"Ambillah kalau suka."

"Emak dan bapak Mas Nganten sendiri takkan berani menerimanya."

Kembali Baekhyun tertegun. Lambat-lambat dengan pikiran yang tertindas beban, ia mulai mengerti: Di sini semua takut terkecuali Bendoro Chanyeol.

Mengapa semua takut padanya? Juga diriku sendiri?

Dia tidaklah nampak garang, tidak ganas, malahan halus dan sopan.

"Adik sahaya," bujang itu meneruskan dengan suara mulai kehilangan getarannya, "ingin punya sebaris telenan-mas (uang logam emas yang disebut gouden tientje (Belanda) bernilai sepuluh gulden.) buat penitinya. Cantik bukan main dia berangkat ke Lasem mencoba peruntungan memikat hartawan Tionghoa. Pagar-depannya terbuat dari deretan tombak besi. Gedungnya tinggi, gentingnya berkilat-kilat biru, bubungannya melengkung terhias patung barongsai."

"Besar mana dengan gedung ini?"

"Besar sana."

"Bagus mana dengan gedung ini?"

"Bagus sana."

"Dia?"

"Dia masuk ke gedung itu, dan tak muncul lagi buat selamanya."

"Dia dapat sebaris telenan-mas itu buat penitinya?"

"Siapa tahu. Dia tidak muncul lagi. Dua puluh tahun telah lewat."

Baekhyun jadi ketakutan.

Digenggamnya tangan bujang, "Apa aku bakal muncul lagi dari sini? Ah-ah, ambillah emas ini."

Bujang itu menarik meja hias, mengeluarkan anak kunci menyerahkannya pada Baekhyun, berkata: "Tiga bulan lagi Mas Nganten bisa muncul sesuka hati, asal dengan izin Bendoro Chanyeol. Masukkan perhiasan itu dalam lemari, Mas Nganten. Sahaya tidak berani."

"Mengapa orang pada suka emas?"

"Karena, ya, karena. Yah, apa mesti sahaya katakan? Karena dengan emas ... karena ... ya, supaya dia tidak kelihatan seorang sahaya, supaya tidak sama dengan orang kebanyakan."

"Apa itu orang kebanyakan?"

"Aah, Mas Nganten ada-ada saja tanyanya. Orang kebanyakan, ya, sahaya inilah."

"Mengapa mBok sebetulnya?"

"Ya, orang kebanyakan seperti sahaya inilah, bekerja berat lapi makan pun hampir tidak."

"Mengapa mBok tak ambil saja, biar mBok tak jadi orang kebanyakan? Tak perlu kerja berat, dan dapat makan banyak? mBok boleh jual, boleh mengenakannya."

"Aah, Mas Nganten, Mas Nganten, itu gunanya ada Bendoro..."

Bujang wanita itu nampak mulai besar hati melihat Mas Ngantennya mulai jadi ramah padanya. Tapi hal itu tak berlangsung lama. Kedua orang wanita itu terdiam ketika suara pang-gilan yang mereka kenal baik:

"Mardi."

Serta jawabnya, yang juga mereka kenal baik:

"Sahaya, Bendoro."

Tapi sekali ini perintah yang dijatuhkan lain. Terdengar, "Bendi! Suruh sediakan bendi! Di dalam satu jam mesti sudah sedia."

"Sahaya, Bendoro."

Terdengar kemudian hiruk-pikuk di jurusan pagar di belakang rumah. Baru waktu itu Baekhyun menyadari di rumah itu lebih banyak orang tinggal daripada yang pernah diketahuinya.

"Siapa saja mereka?"

"Kemenakan-kemenakan yang pada dititipkan."

"Apa kerja mereka di sini?"

"Mengabdi, kalau siang belajar."

"Di mana saja mereka selama ini?"

"Di surau."

"Surau?"

"Ya, di samping kiri kan ada surau. Di sana mereka belajar, juga mengaji."

"Aku tak pernah dengar."

"Guru ngaji sudah diusir. Malas. Dan tamak juga."

"Dia mengajar malas dan tamak?"

"Barangkali itu kepandaiannya, mungkin sekali. Ma'af, Mas Nganten, aku tak tahu benar. Tapi mari sahaya rapikan rias-annya."

Kembali Baekhyun menyadari keadaannya. Dan ia meriut kecut. Tapi ia diam saja waktu bujang menyisihnya kembali serta memasangkan sanggul yang telah dipertebal dengan cemara, serta menyuntingkan bunga cempaka di sela-sela.

"Di kampung orang tak berhias bunga pada sanggulnya," Baekhyun memprotes.

"Di kota, Mas Nganten, barang siapa sudah bersuami, sanggulnya sebaiknya dihias kembang."

Sekali lagi Baekhyun menyadari keadaan dirinya: istri seorang pembesar.

"Aku lebih suka di kampungku sana." Ia mulai protes lagi.

"Siapa yang tak lebih suka tinggal di kampungnya sendiri?"

"Mengapa mBok tak balik?"

"Bagi orang sudah tua seperti sahaya ini, siapa yang beri makan di sana? Semua pada hidup susah."

"Apa yang disusahkan sebenarnya?"

"Ah, Mas Nganten, Mas Nganten, bocah kecil, kecil juga susahnya. Bocah gede, gede juga susahnya. Orang tua semacam sahaya ini semuanya serba susah, Mas Nganten."

"mBok dipukuli di kampung?"

"Dipukuli? Dipukuli benar memang tidak. Tapi ada saja dan siapa saja boleh pukuli orang-orang kebanyakan seperti sahaya ini," kata bujang wanita sambil membetulkan wiron kain.

"Mardi," kembali terdengar teriakan Bendoro Chanyeol.

"Sahaya Bendoro."

"Sudah siap?"

"Bendoro terburu-buru rupanya," bisik bujang, "mungkin ada pembesar

kawin."

"Dengan keris?"

"Ah, hanya orang kebanyakan dikawini dengan keris," tiba-tiba bujang itu terkejut sendiri. "Tidak, kalau pengantin pria berhalangan, juga boleh diwakili dengan keris."

"Mengapa orang mesti kawin mBok?"

Bujang itu tertawa, dan kepalanya digeleng-gelengkan, "Ah, Mas Nganten ini. Bagi orang kebanyakan seperti sahaya ini, kita kawin supaya semakin menjadi susah. Tentu beda dengan para priyayi besar, mereka kawin supaya jadi senang."

"Mengapa kawin juga kalau jadi semakin susah."

"Ya, itulah, itulah, ya, itu gunanya ada takdir, Mas Nganten."

Ia diam sebentar, kemudian meneruskan, "Kakekku dulu bilang, bapaknya digantung waktu tuan besar Guntur (tuan besar Guntur itu maksudnya Deandels) membuat jalan pos yang panjang itu," tangannya menuding ke arah laut, "Kakek lantas lari."

"Kenapa digantung?"

"Dia mandor, Mas Nganten, dapat perintah bikin jalan seminggu mesti jadi. Seminggu kemudian datang pemeriksaan. jalan belum jadi. Rawarawa membuat orang kebanyakan sakit, pada demam. Mereka semua digantung."

"Ha?"

"Ya, begitulah takdir bagi orang kebanyakan. Kakek sahaya lari lantas ikut huru-hara di sini. Waktu Pangeran Diponegoro kalah perang – kakek lari lagi bersama seorang priyayi yang juga ikut huru-hara. Waktu priyayi itu menyerah, kakek juga ikut. Waktu priyayi diangkat jadi pembesar, kakek diangkat menjadi sahayanya, tidak lebih dari sahayanya, seperti sahaya sekarang ini. Setiap kali patroli, kakek sahaya ikut. Pada suatu malam pergi patroli, priyayi itu tewas dibunuh orang-orang jahat. Kakek pulang sendiri, dipukuli dimasukkan ke penjara. Limatahun lamanya. Waktu keluar hilang pekerjaannya sebagai sahaya. Dia bertani di selatan kota. Dan semua anaknya jadi petani, tak ada yang bisa jadi sahaya."

Sewaktu bujang lihat Baekhyun menunduk menghindari pandangnya, ia meneruskan, "Mas Nganten beruntung, patut bersyukur pada Allah. Tidak semua wanita bisa tinggal dalam gedung semacam ini bukan sebagai sahaya,"

"Aku lebih suka kampungku sendiri."

"Tidak benar."

"Di sana tidak ada ketakutan ..."

Bunyi langkah selop berat terdengar kian mendekat menghampiri kamar, Baekhyun mencekam lengan bujang, dan bujang membisikinya, "Senyumlah, Mas Nganten mesti sudah belajar. Sambutlah Bendoro Chanyeol di belakang pintu," dan dipapah-nya Baekhyun menuju pintu.

Tepat pada waktu itu Bendoro Chanyeol memanggil-manggil, "Sahaya, Bendoro," sambut Baekhyun di dekat pintu.

"Hari ini aku tak pulang," dan tanpa menjenguk ke dalam kamar terdengar selop-beratnya menjauh.

Malam itu Baekhyun minta pada bujang untuk tidur dengan emak.

Tapi bujang tak meluluskan.

"Biarlah emak kawani aku di sini, kalau aku tak boleh tidur di kamar dapur."

"Itu tidak layak bagi wanita utama."

"Dia emakku, emakku sendiri, mBok."

"Begitulah Mas Nganten, biar emak sendiri, kalau emaknya orang kebanyakan, dia tetap seorang sahayanya."

"Tidak, tidak, akulah sahaya emakku. Di kampungku aku lakukan segala perintahnya, aku akan teruskan lakukan perintahnya."

"Itulah salahnya, Mas Nganten, adat priyayi tinggi lain lagi. Dan di sini ini kota, bukan kampung di tepi pantai."

"Ah, lantas apa aku mesti kerjakan di sini?"

"Cuma dua, Mas Nganten, tidak banyak: mengabdi pada Bendoro Chanyeol dan memerintah para sahaya dan semua orang yang ada di sini."

"Apa, aku mesti kerjakan buat Bendoro Chanyeol?"

"Apa? Lakukan segala perintahnya, turutkan segala kehendaknya."

"Aku tidak bisa, aku tidak mengerti."

"Dengan sendirinya saja nanti bisa, dengan sendirinya juga ngerti nanti."

"Ah."

"Gampang sekali."

"Apa aku perintahkan pada mereka selebihnya?"

"Segala yang Mas Nganten kehendakkan."

"Cuma satu yang aku kehendakkan."

"Cuma satu? Sederhana betul."

"Sama emak pulang ke kampung."

"Cuma itu yang tidak mungkin."

"Cuma satu itu kehendakku."

"Dengarlah sahaya punya cerita," ujang itu membujuk sambil menggelar tikar ketidurannya di samping ranjang.

"Cuma satu yang dikehendaki Allah, Mas Nganten, yaitu supaya orang ini baik. Buat itu ada agama. Buat itu orang-orang berkiblat kepada-Nya. Tapi nyatanya, kehendak Allah yang satu itu saja tidak seluruhnya terpenuhi. Di dunia ini terlalu banyak orang jahat."

"Oh! Lantas aku ini apa termasuk orang jahat yang tak dikehendaki Allah?"

"Ah-ah, siapa tahu hati orang? Iblis sendiri pun tak tahu. Si orang itu sendiri pun tak tahu. Kalau bisa diketahui, mungkin dia tidak ditakdirkan hidup di atas bumi ini, Mas Nganten. Sudah, sudah - tidurlah."

"Dongengi aku."

Dan dengan demikian bujang itu setapak mulai berhasil menyabarkan keliaran Baekhyun dan menertibkannya sebagai wanita utama.

Buat ke sekian kali ia mendongeng. Lebih dari empat wanita telah ia dongengi dengan dongeng-dongeng yang itu-itu juga. Dan diulangnya setiap datang wanita utama baru, tentang pangeran-pangeran yang tergila-gila pada gadis kampung. Tentang gadis kampung yang masuk ke dalam gedung.

Tentang kehidupan yang mewah penuh sahaya. Tentang putra yang dilahirkan. Tentang Allah dengan segala kemurah-anNya dan kepelitanNya bagi orang-orang yang jahat. Tentang tuan besar Guntur dengan tiang gantungannya. Tentang kuburan-kuburan besar sepanjang pantai. Tentang pemberontakan Diponegoro. Dan tentang rumahtangga pembesar-pembesar kota. Tentang perayaan perkawinan Raden Ajeng Kartini beberapa tahun yang lalu, dan tentang upacara pemakamannya juga beberapa tahun yang lalu.

Dan bila dongengnya telah selesai, ia bangun melihat ke atas ranjang.

Dan dilihatnya Baekhyun telah tertidur senang di atas kasurnya yang empuk.

Ia pun mengucap kepada Allah, karena telah terbebas dari tugas hari itu dengan hasil yang bisa menyenangkan Bendoro Chanyeol.

.

.

.

Ternyata seminggu lamanya Bendoro Chanyeol tak pulang. Baekhyun merasa senang selama itu.

Dan bujang wanita juga merasa senang, karena pada kesempatan-kesempatan ini - pada saat-saat Bendoro Chanyeol tak hadir beberapa hari - apa yang dilakukannya selama ini atas sekian banyak wanita utamanya selalu berhasil, ia dapat melunakkan hati para wanita utama itu. Seminggu cukup panjang untuk membuat para wanita utama yang berganti-ganti itu ditertibkan melewati persahabatannya.

Dan pada suatu sore, datang seorang guru mengaji mengajar Baekhyun membaca huruf-huruf suci, yang tercetak di atas kertas suci.

Beberapa kali saja ia sudah ulangi kata-kata, suku-suku yang ia tak tahu makna dan tujuannya.

Juga di malam hari waktu bujang wanita sudah terbaring di bawah samping ranjangnya, sedang dengung nyamuk di luar kelambu begitu bisingnya. Ia miringkan badan memunggungi dinding, meninjau ke bawah dilihatnya bujangnya sedang melamun dengan mata terbuka lebar meninjau langit-langit.

"mBok kan pernah kawin, mBok?" mBok terkejut dan buru-buru duduk.

"Pernah, Mas Nganten. Dua kali."

"Tidak punya anak?"

"Mestinya punya, Mas Nganten."

"Mati laki mBok?"

"Ya, Mas Nganten. Begitulah cerita orang kebanyakan seperti sahaya ini. Sahaya kawin, dan karena sudah kawin lantas dianggap dewasa oleh lurah. Lantas sahaya dikirim ke Jepara sana buat kerja rodi, tanam coklat. Suami sahaya ikut. Empat bulan lamanya, Mas Nganten. Anak sahaya gugur sebelum dapat menghirup udara, Mas Nganten. Perut sahaya disepak mandor. Ya, apa mau dikata. Waktu itu kepala sahaya pening, duduk berteduh di bawah pohon. Dia datang, dia - mandor. Tiba-tiba datang seorang pembesar Belanda dengan beberapa orang kompeni. Mandor menarik-narik tangan sahaya supaya kerja lagi. Tapi sahaya sudah lemas. Dia sepak perut sahaya. Pemandangan sahaya berputarputar. Tapi masih sahaya dengar laki sahaya datang berlari-larian, memekik seperti orang gila. Lantas sahaya tak sadarkan diri."

"Ah. Keterlaluan."

"Ya, begitulah orang-orang kebanyakan ini, Mas Nganten."

"Di kampungku tak pernah terjadi semacam itu."

"Memang, Mas Nganten. Laki sahaya tadinya mengajak sahaya lari. Tinggal saja di kampung nelayan katanya. Kita bisa lari ke pulau-pulau kecil. Tapi sahaya bilang itu belum tentu lebih buat anak kita. Tapi nyatanya itulah yang terjadi. Ya-ya, Mas Nganten, Bapak Mas Nganten punya perahu sendiri?"

"Punya, mBok."

"Itu memang cita-cita laki sahaya dulu. Punya perahu mestinya bisa lari ke salah satu pulau. Mas Nganten beberapa kali pernah dibawa naik perahu bapak?"

Baekhyun berfikir, pelan menjawab, "Tiga kali, lebih tiga kali."

"Itu artinya, tiga kali pernah lari ke pulau, ingat?"

"Ya, aku pernah ingat tinggal di pulau kecil. Kalau pagi pesisirnya tertaburi ubur-ubur. Aku belah perutnya. Kukeluarkan ikan-ikan tanggung dari dalamnya. Aku bakar. Tapi bapak tak pernah bilang lari."

"Apalah perlunya dibilang-bilang? Itu dialami semua orang dari kalangan kebanyakan, Mas Nganten."

"Lantas bagaimana, laki mBok?"

"Tidak tahulah. Waktu sahaya bangun, sahaya sudah bermandi darah. Darah sahaya sendiri. Darah bayi sahaya. Darah laki sahaya. Darah mandor."

"Begitu banyak darah?"

"Begitulah orang pada cerita. Sahaya sendiri tidak tahu, Mas Nganten. Orang saja yang bilang: Laki sahaya jadi mata gelap, mandor dibelah pada perutnya. Dia dodet perut itu. Dan dia merubuh-rubuhi saja semua orang yang mau membantu mandor. Kompeni-kompeni yang ada di situ lantas menyergapnya. Dengan parangnya dia amuk mereka. Waktu mereka mengepungnya, dan waktu dia tidak bisa mendekat buat menikam lagi, lantas dia lemparkan parangnya pada seorang kompeni. Kena tapi tidak mati. Ah, laki sahaya sudah begitu kurus kehabisan tenaga, Mas Nganten. Tinggal kulit sama tulang. Dagingnya sudah habis. Kulitnya pun penuh kudis dan baluran cambuk."

"mBok lihat laki mBok?"

"Tidak Mas Nganten. Waktu sahaya bangun sudah tidak ada apa-apa. Yang ada hanya tiga orang kawan wanita sahaya. Mereka coba menolong sahaya, tapi tak bisa, jadi cuma duduk menunggu. Waktu itu sudah agak gelap, lantas datang gerobak. Beberapa orang turun dari atasnya. Ketiga-tiganya kawan sahaya ditendangi disuruh pergi. Dan sahaya sendiri? Setiap orang pegang sahaya pada kaki kanan-kiri, juga tangan kanan-kiri. Jadi sahaya masih ingat empat orang yang datang itu. Mereka bilang satu, dua, tiga dan dilemparkan sahaya ke udara kemudian jatuh di atas geladak gerobak. Sahaya tak ingat diri lagi."

Waktu bujang itu berhenti bercerita ternyata Baekhyun telah tersedan-sedan dalam tangisnya.

"Mengapa, Mas Nganten? Ada apa?"

Baekhyun tak mampu menjawab.

"Mengapa?"

"Kan boleh?"

"Mengapa, Mas Nganten?"

"Menangis buat mBok?"

Secepat kilat bujang wanita itu berdiri, membuka kelambu dan memeluk serta menciumi kaki Baekhyun.

"Ah-ah, Mas Nganten. Kenang-kenangan ini jahat. Di luar gedung. Mas Nganten, yang ada cuma keganasan, keganasan atas kepala kami, orang-orang kebanyakan."

"Ke mana dibawa dengan gerobak itu?"

"Ke mana lagi perginya orang kebanyakan, Mas Nganten? Ke penjara."

"mBok menderita di sana, mBok?"

"Tiga bulan sahaya tidak bangun, Mas Nganten. Masih juga kaki sahaya dirantai. Waktu rantai dilepas, sahaya dibawa -entah ke mana. Sahaya ditelentangkan di lantai dingin, Mas Nganten, dan tiga orang Bendoro menanyai sahaya berganti-ganti. Seorang Belanda melihat pada sahaya, Mas Nganten. Dia tidak tanya apa-apa. Cuma bilang: anjing."

"Kata orang, biar laut kasih kita makan, dia kejam bukan buatan."

"Ya, dia kejam, tapi tidak menyiksa, Mas Nganten."

"Betul, dia tidak menyiksa. Kata bapak dia cuma menagih utang yang mesti dibayar. Lain tidak. Benar! Bapak tak pernah bilang menyiksa."

.

.

.

Dan Baekhyun bangun. "Mengapa mBok tidur di bawah? Mengapa tak mau di sampingku sini?"

"Sahaya, adalah sahaya. Dosa pada Bendoro, pada Allah, seperti sahaya begini menempatkan diri lebih tinggi dari lutut Bendoronya."

"mBok, aku tak pernah dilayani sebelum ke mari."

"Sahaya, Mas Nganten."

"Aku tak tahu apa mesti aku perbuat."

"Sahaya, Mas Nganten."

"Ah, mengapa aku mesti bicara tentang diriku sendiri? mBok lebih menderita begitu. Bagaimana mBok keluar dari penjara?"

"Ya, begitulah Mas Nganten. Pada suatu pagi orang mengusir sahaya keluar dari penjara."

"Jadi?"

"Sahaya jalan kaki tak tahu tujuan. Sahaya tak tahu di mana, di kota mana waktu itu. Kembali ke kampung sahaya tidak berani, takut kena rodi lagi. Sahaya tinggal beberapa malam di bawah beringin-kurung di alun-alun. Ya di situ."

Bujang wanita itu menunjuk ke arah pantai, "kalau pagi sembunyi di pasar."

Ia menuding ke arah selatan kota.

"Di kota ini juga rupanya sahaya dipenjarakan. Sahaya bertemu dengan seorang lelaki dan kawin. Orang itu tukang bendi Bendoro. Lima tahun sahaya kawin dan tinggal di sini, tapi tak pernah punya anak. Sampai pada suatu sore laki sahaya jatuh dari pohon kelapa, mati."

"Lantas, tinggal terus di sini?"

"Sahaya, Mas Nganten. Sahaya suka pada bocah. Entah sudah berapa bocah saja saya besarkan. Sudah limabelas tahun lebih sahaya tinggal di sini."

Kedua orang wanita itu terdiam. Dan ombak laut berdebur-an riuh.

Sedang angin bersuling-suling tiada henti-hentinya, membuat Baekhyun teringat pada bapak. Tiba-tiba ia bertanya sendiri, "Siapa yang masak buat bapak sekarang?"

Bujang itu diam saja.

Baekhyun berbicara sendiri, "Mestinya aku. Sekarang bapak tinggal seorang diri. Emak ada di sini."

"Jangan pikirkan orang lelaki, Mas Nganten, biarpun bapak sendiri. Lelaki tahu bawa diri, biarpun di neraka."

"Dia, bapakku mBok."

"Sekarang Mas Nganten seorang wanita utama, tinggal di gedung sebesar ini. Tak ada orang berani ganggu bapak, sekali pun bapak tinggal di kampung nelayan di tepi pantai. Bendoro-bendoro priyayi tak berani ganggu, kompeni juga tak berani ganggu. Bapak tak perlu lagi lari dengan perahu, tinggal di pulau-pulau karang anak-beranak. Tidak. Bapak sekarang jadi orang terpandang di kampung. Setiap orang bakal dengar kalanya. Senang-senangkan hati Mas Nganten."

"Bagaimana bisa tahu semua itu, mBok?"

"Sahaya banyak tahu, Mas Nganten. Terlalu banyak. Bendoro Chanyeol sendiri kadang-kadang tanya pada sahaya."

"mBok sayang padaku, mBok?"

"Bukan sayang lagi, Mas Nganten."

"Ambillah gelang itu! Atau kalung."

"Jangan ulangi lagi, Mas Nganten. Kalau sahaya diusir dari sini, ke mana lagi sahaya mesti pergi? Dunia memang luas, Mas Nganten, tapi mau ke mana? Susah."

"Aku juga sayang mBok. Katakanlah padaku kalau aku keliru."

"Tidak ada yang keliru, Mas Nganten, selama hati Bendoro Chanyeol tak dikecewakan."

Terdengar ia membalik bantal dan menepuk-nepuknya.

"Kalau kita salah pada Bendoro Chanyeol, di mana pun kita bakal dapat kesusahan, Mas Nganten mengerti?"

Baekhyun telah tertidur.

.

.

.

Waktu Bendoro Chanyeol telah pulang, berhari, berminggu, bujang tak lagi masuk ke dalam kamar Baekhyun.

Emak telah pulang ke kampung dengan bekal sekarung beras, beberapa puluh rupiah, beberapa pasang pesalin bekas Bendoro Chanyeol buat bapak, satu kilo asam Jawa dan beberapa kaleng bumbu-bumbuan.

Beberapa menit sebelum berangkat, Baekhyun baru dapat menemui emaknya di kamarnya sendiri. Ia tawarkan emas-emasan pada emak.

Tetapi emak pura-pura tak dengar selalu, dan kemudian langsung bicara tentang bapak yang sudah pulang lebih dulu ke kampung, tentang jala baru yang harus di buat, karena yang ada sudah terlalu tua, tentang kain layar yang sedang turun harga, tentang damar yang tiba-tiba meningkat harganya, sehingga sudah agak lama juga bapak segan menambal bocoran-bocoran pada lambung perahunya.

"Ada pesan yang harus kusampaikan pada bapakmu?"

"Ada, mak, tentu ada. Sampaikan permintaan ampunku buat ke sekian kalinya."

"Kau sudah suka tinggal di sini?"

"Bapak dan emak yang menghendaki aku tinggal di sini. Aku lebih suka di kampung kita."

"Setiap perempuan mesti ikut lakinya. Emak sendiri juga begitu," emak menghiburnya. "Biar di pondok buruk, biar dia tak senang, dia harus belajar menyenangkan lakinya."

Baekhyun menyerahkan padanya dua lembar kain panjang. Dan emak menerimanya tanpa mengatakan sesuatu.

"Aku pergi sekarang."

"Maaak!"

"Jangan panggil begitu lagi, kau bukan bocah lagi."

"Ya, mak."

"Sekarang kamu mesti belajar menangis buat dirimu sendiri. Tak perlu orang lain lihat atau dengarkan. Kau mesti belajar menyukakan hati semua orang."

Baekhyun memunggungi emaknya, dan menghindari pergi ke depan cermin.

Waktu dilihat bayangan tubuh, dan wajahnya, mencoba melihat air mukanya, segera ia punggungi cermin dan merubuhkan diri di kasur.

Seakan belum cukup siksaan dalam dua-tiga minggu ini, pekik Baekhyun dalam hatinya.

Tapi di sini ia tak punya hak apa-apa, memekik melepaskan duka pun tidak.

Dalam beberapa minggu ini setapak demi setapak ia dipimpin untuk mengerti, bahwa satu-satunya yang ia boleh dan harus kerjakan ialah mengabdi pada Bendoro Chanyeol, dan Bendoro Chanyeol itu tak lain dari suaminya sendiri.

Di kampung ia memberikan jasa pada kedua orang-tuanya, saudara-saudaranya, dan kepada seluruh penduduk kampung. Ada ia rasai sekarang hidupnya dimasukkan ke dalam kerucut yang makin dalam dimasukinya makin jadi sempit seperti memasuki corong minyak, terus ke bawah, tapi dasar itu tak pernah tersentuh.

Sebuah tangan membelai pipinya, dan ia tidak angkat mukanya.

Beberapa saat kemudian, waktu ia dapat atasi perasaannya dan mencoba bicara lagi dengan emak, orangnya sudah tak ada. Yang ada hanyalah bujang wanita yang mengawasinya dengan diam-diam dari dekat pintu.

"Emak sudah pergi, Mas Nganten. Mardi yang panggilkan dokar."

Mengapa tidak diantarkan dengan bendi Bendoro Chanyeol?

Tiba-tiba mengerjap tanya dalam pikirannya, tapi ia tidak bicara.

Pagi yang cerah waktu itu. Deburan laut terdengar kian lama kian menjauh, sedang angin darat mulai meriuh tanpa kendali.

"Apa harus kuperbuat sekarang?" Baekhyun bertanya.

"Tambah mulia seseorang, Mas Nganten, tambah tak perlu ia kerja. Hanya orang kebanyakan yang kerja."

"Lama, lama sekali rasanya aku tak kerja. Badanku sakit semua. Boleh aku bantu menumbuk tepung?"

"Menumbuk tepung? Ribuan orang bisa kerjakan itu. Mengapa mesti Mas Nganten sendiri? Tiga benggol sehari, Mas Nganten, kita sudah kewalahan menolak orang."

"Jadi apa mesti aku kerjakan?"

"Benar-benar mau kerja?"

"Tak mungkin mBok, tak mungkin aku terus berkurung begini."

"Sebelum tiga bulan, sebenarnya Mas Nganten tidak boleh berbuat apaapa. Nanti sahaya menghadap Bendoro Chanyeol. Mas Nganten mau kerja apa?"

"Tak tahulah aku," kata Baekhyun, tapi dalam pikirannya terbayang emak yang kini terpaksa menumbuk jagung sendirian.

Dan kalau bapak tidak pergi ke laut, dan jam tujuh pagi mulai tidur, ia harus gantungkan

sendiri jala pada tiang jemuran dari balok berat yang tinggi itu.

Ia harus tarik sendiri talinya, ia harus bikin katrol itu berputar. Tak ada yang bantu menaikkan jala dengan cabang kayu. Sekarang emak harus tumbuk sendiri udang kering buat dapatkan uang beberapa benggol dari orang Tionghoa dari kota itu.

"Apa sesungguhnya dikerjakan di sini?"

"Semua, Mas Nganten, untuk mengabdi pada Bendoro Chanyeol."

Kerja mengabdi! Kerja mengabdi! Baekhyun masih juga kurang memahami.

tbc...


Disini Baekhyun masih berumur empatbelas tahun, polos tak tahu apapun.

Chanyeol udah duapuluh/tigapuluhan kali ya, Uh-uh.. Bendoro Chanyeol jadi sugardaddy nih:)


byundina630 - wah kamu jd review saya yg pertama di ffn, jd terhura:'). makasih banyak~