Gadis Pantai


Original Story

Roman Gadis Pantai by Pramoedya Ananta Toer

Karena saya sangat kagum dan suka pada roman ini, maka disini saya akan mengubah Roman Gadis Pantai menjadi versi chanbaek.

Saya bukanlah pengarang aslinya. Saya minta maaf yang sebesar-besarnya jika ada yang tidak berkenan Roman ini saya jadikan versi chanbaek.

Selamat membaca~

Muahh :)


Bagian Keempat


Baekhyun mulai membatik, seorang guru batik didatangkan.

Di pagi hari, tangannya yang telah diperhalus oleh keadaan tanpa-kerja, mulai memainkan pinsil membuat pola. Seminggu sekali datang guru yang mengajarinya memasak kue. Dan setiap tiga hari sekali, datang guru lain yang menyampaikan padanya kisah-kisah agama dari negeri Padang Pasir nan jauh.

Lambat laun ingatannya pada emak, bapak dan saudara-saudaranya jadi memudar. Dan bila ia terkenang pada mereka, pada kampung halamannya, diajaknya bujang wanita itu bicara tentang cerita-cerita nelayan yang dikenalnya.

Baekhyun mulai terbiasa pada kehidupan yang diperlengkap alat-alat begitu banyak dan menggampangkan kerja. Ia mulai terbiasa dengar suara pemuda-pemuda yang bicara dalam bahasa Belanda setelah meninggalkan surau di sebelah kiri rumah utama.

Suara-suara mereka yang menerobosi dinding kamarnya memberitakan pada banyak hal yang tak pernah diketahui sebelumnya. Salah seorang kerabat baru saja pulang dari negeri Belanda, tidak membawa ijasah, tapi seorang noni Belanda, sebuah kapal perang sedang berlabuh kira-kira 7 km dari pantai, tebing pantai di utara Lasem gugur, dan banjir besar terjadi:

Tiga buah perahu bajak telah mendarat di sebuah dusun dekat kampung halamannya, membinasakan lebih sepersepuluh penduduknya dan mengangkuti seluruh emas, perak dan barang berharga, beberapa orang pemuda kampung telah masuk kompeni buat berperang di seberang.

"Kalau Mas Nganten meninjau kampung, Mas Nganten benar-benar sudah jadi putri bangsawan."

Kemudian Baekhyun pun belajar menyulam, merenda, menjahit.

Kecerdasan dan ketrampilannya menyukakan semua gurunya.

Beberapa kali ia turun ke dapur, tapi kini tidak lagi. Beberapa pasang mata para bujang di situ menatapnya begitu tak menyenangkan.

"Jangan lagi ke dapur, Mas Nganten. Mereka hanya bujang yang tak suka pada keadaannya sendiri. Semestinya mereka tinggal di gubuknya sendiri. Orang-orang tak tahu diuntung."

Bendoro Chanyeol belum juga kunjungi kamarnya.

"Bendoro Chanyeol sibuk sekali, Mas Nganten. Bendoro Bupati bakalnya kawin lagi dengan putri kraton Solo. Kasihan mendiang Den-ajeng Tini. Begitu berani. Siapa lebih berani dari beliau? Menghadapi Belanda mana saja tidak takut. Pembesar-pembesar sendiri pada hormat."

Juga Baekhyun sekarang tahu siapa Den-ajeng Tini. Kartini yang beberapa tahun yang lalu dalam bendi agung memasuki perbatasan kota, dan semua penduduk disuruh lurah menyambutnya sepanjang jalan, dengan bendera tiga warna kertas berkibaran di tangan coklat hitam mereka.

Sekarang ia mengerti cerita bapak yang pulang dari kota beberapa tahun yang lalu, mengapa dia dan beberapa orang kawannya mesti pergi ke kota, ke alun-alun, ke kabupaten, buat menyatakan hormat pada pengantin dari Jepara itu.

Itulah Den-ajeng Tini? Betapa singkat usia, tapi betapa dihormati. Ia tak suka perkawinan agung itu. Ia tak tahu apa terjadi waktu itu. Dan bila bujang itu bercerita tentang putranya Bendoro Chanyeol, timbul hasrat hendak menggendong dan menyayanginya.

Sedang putra-putri wanita utama sebelum dirinya, dengan sengaja seakan disingkirkan darinya.

Hampir-hampir ia tak pernah bertemu dengan Agus Junkook, biar pun saban sore didengarnya ia berbicara dalam bahasa asing dengan gurunya di ruang belakang.

Hari-hari lewat cepat, dan Baekhyun mengisi dirinya dengan berbagai kecakapan baru. Kulitnya yang tak lagi terpanggang panas matahari jadi putih kemerahan, dan wajah bocahnya telah lenyap digantikan oleh pandang orang dewasa.

Bulan demi bulan lewat. Dan Bendoro Chanyeol hampir tak pernah ditemuinya.

Tak pernah memasuki kamarnya.

Perkawinan Bendoro Bupati semakin menghampir. Dan Bendoro Chanyeol semakin jarang di rumah.

Kota mulai dihias.

Putri dari kraton Solo harus disambut lebih hebat dari putri dari kabupaten Jepara.

Gapura-gapura kabupaten dan pinggiran-pinggiran kota mulai di pajang daun kelapa muda serta batang-batang pisang. Jangkar keramat di pinggir pantai mulai diganti pagarnya.

Setengah tahun lewat, beberapa minggu setelah Baekhyun memasuki gedung ini, kota itu jadi semarak bermandikan cahaya, berhiaskan penonton dari seluruh penjuru. Bujang wanita itu memimpin Baekhyun meninggalkan kamarnya, meninggalkan pelataran tengah, memasuki paviliun di samping kanan, naik ke loteng menyaksikan keramaian di alun-alun.

Ia ingin bergabung dengan orang-orang itu yang telah terbiasa dengannya sejak jabang bayi, tapi kini tidak mungkin.

Kini ia lebih tinggi daripada mereka.

Malam itu ia kembali ke ranjang dengan banyak pikiran. Perkawinannya tak dirayakan seperti itu. Bupati yang kawin jauh lebih tua dari Bendoro Chanyeol. Dan putri kraton itu lebih tua dari dirinya.

Tapi ia tidak disambut dengan perayaan.

Dan jam tiga pagi ia terbangun. Bujang tak ada di bawah ranjangnya lagi.

Tapi Bendoro Chanyeol telah tergolek di sampingnya.

Pada jam 5 subuh, waktu bujang masuk ke dalam kamar, dilihatnya Mas Nganten-nya masih tergolek. Ia sedang mendekat, dan didengarnya suara memanggilnya:

"mBok, tolonglah aku."

Bujang membuka kelambu dan menyangkutkan pada jangkarnya.

"Sakit, Mas Nganten?"

"mBok, mBok."

Bujang itu meraba kaki Gadis Pantai.

"Tidak apa-apa, Mas Nganten, tidak panas."

"Aku sakit, mBok. Bawa aku ke kamar mandi," diulurkannya kedua belah tangannya minta dibangunkan.

Wanita itu meraihkan lengannya, di bawah tengkuk Baekhyun, mendudukannya, merapikan rambutnya yang kacau balau, membenahi baju dan kainnya yang lepas porak poranda, menarik-narik seprai yang berkerut di sana-sini.

"Ooh! Mas Nganten tidak sakit," katanya bujang sekali lagi, dan menurunkannya dari ranjang.

"mBok," sepantun panggilan dengan suara lembut.

"Tidak apa-apa Mas Nganten. Yang sudah terjadi ini takkan terulang lagi."

"Apa yang sudah terjadi, mBok?"

Dan setelah Baekhyun terpapah berdiri, bujang menunjuk pada seprai yang dihiasi beberapa titik merah kecoklatan, berkata, "Sedikit kesakitan Mas Nganten, dan beberapa titik darah setelah setengah tahun ini tidaklah apa-apa."

"mBok!" suara yang tetap lembut.

"Sahaya, Mas Nganten."

"Aku takut."

"Sahaya, Mas Nganten."

"Mari ke kamar mandi."

Baekhyun terpapah menuruni ranjang.

"mBok!"

"Sahaya Mas Nganten."

"Kapan emak datang kemari?"

Mereka berjalan terus.

"mBok!"

"Sahaya, Mas Nganten."

"Apakah aku cantik?"

"Gilang-gemilang, Mas Nganten."

"Tidaklah mereka lebih cantik?"

"Di dunia ini, Mas Nganten, yang lain-lain harus menyingkir buat yang tercantik."

Mereka berhenti di tengah-tengah pekarangan dalam.

"mBok, apakah mereka manis?"

"Ah, Mas Nganten lebih manis."

"mBok."

"Sahaya, Mas Nganten."

"mBok sayang padaku?"

"Apa masih meragukan sahaya, Mas Nganten?"

"Tidak, aku tidak meragukan. Orang-orang lain?"

"Bendorolah yang paling sayang, Mas Nganten."

"mBok!"

"Sahaya, Mas Nganten."

"Aku takut."

"Apa yang ditakuti, Mas Nganten?"

"Apakah aku bisa tetap cantik?"

"Mengapa tidak, Mas Nganten?"

"mBok dulu cantik?"

"Tidak pernah, Mas Nganten."

"Aku takut, Mbok."

Keduanya lenyap di balik pintu kamar mandi...

.

.

.

SETAHUN TELAH LEWAT. Kini Baekhyun merasa sunyi bila semalam saja Bendoro Chanyeol tak datang berkunjung ke kamarnya.

Bujang itu tak perlu membantunya lebih banyak lagi. Di luar dugaan ia telah dapat menyesuaikan diri dengan kehidupan barunya. Namun wanita tua itu tetap menjadi sahabat dan tempat bertanya yang bijaksana.

Ia telah banyak dan sering meninggalkan kamar, jalan-jalan seorang diri di sore hari di kebun belakang, bicara dengan sanak kerabat suaminya yang mengabdikan diri, dan bersekolah di pagi hari serta mengaji di malam hari, dengan para bujang, kadang dengan tetangga. Dan dalam setahun itu tak pernah sekalipun ia menginjakkan kaki di ruang depan ataupun tengah, apalagi memasuki kamar-kamarnya, terkecuali khalwat.

Ada suatu kekuasaan yang tidak memperkenankannya.

Tak ada orang menyampaikan ini kepadanya tapi aturan dan ketentuan yang berlaku ia rasai dengan sendirinya saja.

Pada suatu sore Bendoro Chanyeol memerintahkan Mardi menyiapkan bendi. Sesuatu terasa menyambar dalam hati Baekhyun.

Paling sedikit seminggu Bendoro Chanyeol akan meninggalkan kota.

Perintah pada Mardi itu dengan sendirinya menyebabkan ia berkemas-kemas dan merapikan diri, kemudian menunggu di kursi dalam kamar sampai suaminya datang dan meminta diri.

Selama setahun ini lebih sekali peristiwa demikian terjadi - kali ini bukanlah yang terakhir.

Setelah dirasanya bendi itu meluncur menjauh, ia pun keluar dari kamar, menuruni jenjang ruang belakang, membelok ke kanan dan memasuki kebun belakang. Langsung ia menuju bangku tempat ia pertama kali duduk bersanding dengan suaminya.

Ia menginginkan sore segar dalam suasana hati tak menentu, keruh dan kacau balau. Ia ingin seorang diri di tengah-tengah alam, seperti hampir selamanya bila ia ada di kampung nelayan dulu. Ia ingin kenangkan segala yang indah dan memadamkan kakacauan hati sekarang ini.

Betapa ia rindukan suaminya yang baru pergi, baru saja, belum lagi sepuluh menit.

Betapa ia sesali nasibnya tak pernah lama tinggal bersama Bendoro Chanyeol, suaminya, terkecuali beberapa malam dalam seminggu.

Apapun yang terjadi Bendoro Chanyeol berpesan padanya: jangan kenangkan yang buruk-buruk, itu perbuatan bodoh. Kenang yang indah-indah, yang baik-baik, biar hati tetap bersih, dan pikiran tinggal segar. Cuma keledai yang selalu renungkan nasibnya yang buruk, karena itu sampai mati ia cuma jadi pengangkut beban orang.

Ia tak pernah tahu apa itu keledai.

Dan bujang wanita itu bilang keledai tak lain dari kuda-kerdil yang saban hari digiring dari dan ke kota, dari dan ke selatan untuk mengangkuti orang dan kapur.

Keledaikah aku? TIDAK!

Tidak layak Bendoro Chanyeolku beristrikan seekor keledai.

Entah berapa kali, ia yakinkan diri bukan keledai. Tapi hatinya begitu keruh. Ia tak mengerti sampai waktu itu, bahwa ia merasa sangat,

sangat cemburu.

Belum lagi seperempat jam ia merenungi dirinya, bujang wanita telah datang menghampiri.

"Guru baca sudah datang, Mas Nganten. Sahaya cari di mana-mana."

"Bilang aku tak belajar hari ini. Kepalaku pening."

"Dia takkan pergi sebelum jalankan kewajibannya, Mas Nganten. Untuk itu menerima nafkahnya, katanya."

"Pergi!" Baekhyun membentak.

Terkejut sendiri, segera ia sambung, "ah, maafkan aku. Pikiranku sedang kacau. Maafkan aku mBok."

Dengan perasaan tersinggung bujang itu pergi.

Kini perasaan berdosa karena telah mengasari wanita tua itu, membuat ia terjerambab dalam kekacauan baru.

Segera ia bangkit dan mengikuti bujangnya.

Dengan lemah lembut sebagaimana biasa, ia sampaikan pada guru baca ia tak belajar sekali ini.

"Mas Nganten," tegur guru itu, "apa akan jawab sahaya bila Bendoro Chanyeol murka pada sahaya?"

"Aku tak belajar kali ini, besok tidak, lusa tidak, sampai Bendoro Chanyeol datang."

Guru itu pergi dan bujang wanita itu dipandanginya masuk.

"mBok sekali lagi, mBok, jangan gusar padaku. Bukan maksudku berlaku kasar padamu."

"Wanita siapakah yang tak pernah cemburu, Mas jangan ajak orang lain merasa tak senang."

"Terima kasih, mBok. Terima kasih. Ke manakah biasanya Bendoro pergi sampai berhari-hari begini?"

"Ah, Mas Nganten, itu urusan pria dengan pekerjaannya, jangan ikut campur, karena wanita tak tahu apa-apa tentang itu. Kita hanya tahu daerah kita sendiri: rumah tangga yang harus kita urus."

"Daerah kita itu pun aku tahu pasti, mBok. Ke ruang tengah dan depan saja aku belum pernah."

"Mari sahaya antarkan, Mas Nganten."

"Apa ada gunanya?" namun ajakan itu begitu merangsang hatinya.

Ia bangkit.

Bujang itu pun mengantarkannya meninggalkan kamar, melintasi ruang belakang dan memasuki ruang tengah. Sebuah pintu raksasa telah mereka lewati: sekian kali besar mejanya di kampung nelayan dulu!

Sebuah ruangan luas terpampang di depannya. Dan bila pandangnya ditebarkan ke atas tergelar sederetan langit-langit yang rata, berkotak-kotak berbunga, berwarna-warni terbuat dari lembaran besi seluruhnya.

Di tengah-tengah langit-langit terhias lingkaran tebal yang berbentuk ikatan jerami-jerami semacam padi, dengan butir-butirnya kadang tergelar di luar lingkaran. Sedang tepat di tengah-tengah lingkaran tergantung pipa kuningan yang digantungi lampu listrik beberapa buah, terhias manik-manik sebesar kristal, bergantungan seperti berlian-berlian pada kuping wanita.

Di samping pintu, Baekhyun melihat di sebuah meja kecil rendah terletak sebuah stoples di atasnya, berisi air dan benda-benda kehitaman pada mendekam di dasar stoples.

Ia kenal benda-benda kehitaman itu: lintah.

"Mengapa dia ditaruh di sini?" Baekhyun bertanya.

"Dengan pertolongan binatang-binatang itu saban bulan Bendoro Chanyeol membuang darah beliau."

"Buat apa darah dibuang?"

"Sinse yang beri nasehat."

"Sakitkah Bendoro?"

"Benar. Beberapa dokter Belanda sudah dipanggil. Dari Jepara, Pati, Semarang, tak ada yang bisa sembuhkan."

"Sakit apa?"

"Tak ada yang tahu."

Gadis Pantai kehilangan keinginan melihat-lihat ruangan tengah lebih jauh lagi.

Ia berdiri diam-diam di tengah-tengah ruang.

Di antara lemari-lemari kaca yang berdiri di sepanjang dinding, hiasan kaligrafi di mana-mana, permadani biru, hitam, merah, putih dengan gambar-gambar pemandangan negeri Padang Pasir dengan onta serta kuda. Antara ruang tengah dan pendopo menganga sebuah pintu raksasa yang separuhnya ter tutup penyekat lipat terbuat dari kayu sonokeling dengan ukiran Jepara dan ditutupi dengan anyaman kulit bambu halus bersulamkan benang emas yang menggambarkan laut.

Dengan ucapan yang tak terpusat Baekhyun memulai lagi: "Bersih amat di sini. Saudara-saudara Agus Junkook tak pernah main-main di sini?"

"Tak ada anak-anak di sini. Semua tinggal di kamar dapur. Kalau main mereka pergi ke pelataran depan, atau ke alun-alun."

"Mana bayi yang sering mBok gendong dulu?"

"Diungsikan biar tak mengganggu Mas Nganten."

"Biarlah aku urus dia."

"Oh, Mas Nganten, harap Mas Nganten jangan bicara begitu di hadapan Bendoro Chanyeol. Soal anak selamanya soal pelik di rumah-rumah gedung, jadi sumber pertengkaran, sekalipun yang mengurus cuma para sahaya."

Baekhyun tak mengerti.

Ia diam tak meneruskan.

"Beberapa waktu lagi Mas Nganten akan dikaruniai putra sendiri."

Baekhyun berseri riang, dan sekejap terlupa pada cemburunya.

Naluri keibuannya mulai bekerja. Dan lebih keras lagi naluri ini menjejaki darah hidup suaminya.

"Jadi dengan siapa Bendoro Chanyeol sehari-hari di sini?"

"Seorang diri. Tamu-tamu diterima di ruang tengah. Di sini tidak terima tamu wanita."

"Mengapa tidak? Di kampung kami pria dan wanita sama-sama bertamu."

Nampak bujang itu merasa kasihan kepada Baekhyun.

Pengalaman selama ini membuat ia banyak tahu tentang perbedaan antara kehidupan orang kebanyakan dan kaum Bendoro di daerah Pantai.

Seorang Bendoro dengan istri orang kebanyakan (maksudnya orang desa, orang kampung, punya derajat lebih rendah) tidaklah dianggap sudah beristri, sekalipun telah beranak selusin.

Perkawinan demikian hanyalah satu latihan buat perkawinan sesungguhnya: dengan wanita dari karat kebangsawanan yang setingkat. Perkawinan dengan orang kebanyakan tidak mungkin bisa menerima tamu dengan istri dari karat kebangsawanan yang tinggi, karena dengan istri asal orang kebanyakan - itu penghinaan bila menerimanya.

"Mengapa mBok diam saja?" Baekhyun bertanya.

"Sahaya sering berfikir, Mas Nganten ..."

"Ya?"

"Betapa adilnya kalau setiap orang punya rumah sebesar ini."

"Takkan bisa diurus sendiri semuanya!"

"Ya-ya sehingga setiap rumah bakal jadi beban setiap orang. Lihat itu," dan bujang mengalih menunjuk pada sebuah meja kecil, dengan sebuah kotak kayu cendana di atasnya, terukir dengan berbagai gambar kupu-kupu dan bunga-bungaan.

"Itulah kotak obat Bendoro Chanyeol."

"Obat? Kelihatannya Bendoro Chanyeol tidak sakit."

"Mas Nganten ingin lihat kamar?" dan sebelum mendapat jawaban ia telah membuka salah sebuah pintu besar pada dinding.

Baekhyun menjenguk ke dalam.

Pertama-tama yang dilihatnya adalah jagang kayu, tempat tombak-tombak didirikan. Ia melompat ke samping dan memunggungi pintu.

"Tidak-tidak, terima kasih."

Bujang itu menutup kembali pintu dan Baekhyun pulang ke kamarnya.

Di luar hari telah mulai rembang.

Dan beduk mesjid serta surau bertalu bersahut-sahutan.

Sampai di pintu kamarnya tiba-tiba Baekhyun tak dapat menahan hatinya yang selama ini diaduk ketakutan dan kekuatiran.

Bertanya:

"Adakah wanita utama lain yang akan menggantikan aku?"

"Tidak! Tidak! Sahaya tidak tahu!" bujang itu memalingkan mukanya bersicepat pergi menuruni jenjang ruang belakang, hilang ke dalam dapur.

.

.

.

Setahun yang telah lewat merupakan perkisaran dari banyak perasaan dalam jiwa Baekhyun.

Meninggalkan kampung nelayan di tepi pantai berarti memasuki ketakutan dan hari depan tidak menentu. Memasuki kota dan gedung tempat ia tinggal sekarang adalah memasuki dunia tanpa ketentuan.

Dahulu ia tahu harga sesuatu jasa, tak peduli kepada siapa. Di sini jasa tak punya nilai, dia merupakan bagian pengabdian seorang sahaya kepada Bendoro.

Dahulu ia dapat bicara bebas kepada siapapun, bisa menyinggung martabat Bendoro atau siapa saja. Kini tak dapat ia bicara dengan siapa ia suka.

"Tidak, Mas Nganten," pelayan tua itu tak bosan-bosannya memperingatkan, "tidak semestinya wanita utama bicara dengan semua orang. Perintah saja orang-orang itu, jangan ragu-ragu. Tak ada gunanya Mas Nganten dengarkan pendapat atau keberatan mereka. Mereka di sini buat diperintah. Sahaya ini begitu juga Mas Nganten."

Begitulah lama-lama ia mengerti, di sini ia menjadi seorang ratu yang memerintah segala.

Hanya ada seorang saja yang berhak memerintahnya: Bendoro, tuannya, suaminya.

Otaknya yang masih bocah itu tidak mengerti mengapa cuma perintah dan memerintah.

Ia kehilangan sesuatu yang besar: keriaan, yang ditimbulkan oleh kerjasama dengan semua orang.

Di sini tidak ada kerjasama.

Di sini hanya ada pengabdian dan perintah.

Pada suatu hari, karena merasa kesepian ia bertanya: "mBok mengapa di sini tak ada orang tertawa dan tersenyum denganku?"

"Lantas apa guna senyum dan tawa?"

"Mereka hanya abdi, hanya sahaya. Tak layak jual senyum dan tawa pada Mas Nganten. Juga tak baik layani senyum dan tawa mereka. Tahu, Mas Nganten, seorang wanita utama adalah laksana gunung Dia tidak terungkit dari kedudukannya, terkecuali oleh tangan Bendoro Chanyeol. Bendoro lebih tidak terungkit, terkecuali Gusti Allah sendiri."

"Ah, ah."

"Mengapa, Mas Nganten?"

"Bodohnya aku ini. Aku tak mengerti."

"Kalau semua orang bisa mengerti, Mas Nganten, gampang saja jadi priyayi."

"Jadi? Aku bagaimana?"

"Mas Nganten adalah wanita utama, segala apa terbawa karena Bendoro Chanyeol. Begitulah Mas Nganten, jalan kepada kemuliaan dan kebangsawanan tak dapat ditempuh oleh semua orang."

Dahulu Baekhyun cuma mengerti: hanya nelayan-nelayan gagah perkasa saja yang patut dihormati dan dimuliakan.

Mereka lintasi laut dan menangkap ratusan, bahkan ribuan ikan dengan jalanya sendiri.

Nelayan yang paling terhormat, dialah yang bawa pulang ikan terbesar. Dia pahlawan. Ikan demikian tak dijual, tapi dibagi-bagikan, terkecuali tulangnya. Karena tulang-belulang itu akan dihias di atas pintu masuk rumahnya.

Dahulu ia bersama-sama kawannya sering berhenti lama-lama di depan pintu yang dihiasi dengan tulang-tulang yang besar dan panjang. Ia sendiri bayangkan gerigi dan mata yang semestinya dahulu terpasang jeli pada kelopak mata tengkoraknya. Betapa kuat ikan semacam itu, dua-tiga kali lebih besar dari dirinya sendiri. Ingin ia melihat mahluk semacam itu masih hidup-hidup dibawa ke darat.

Tidak pernah!

Selamanya binatang itu sudah mati. Malah ia pernah minta pada bapak.

"Bawalah pulang yang besar, yang masih hidup!"

Dan bapak membungkamnya dengan kata-kata keras, "Kalau kau kuat sekalipun, jangan kau tentang maut kalau tak perlu."

Tentu ia tidak mengerti.

Ia hanya rasai ketakutan menjalar di seluruh tubuhnya. Ia meriut dan waktu bapak berangkat, ia tidur di bale kawani emak, tanpa bicara sesuatu pun sampai malam tiba.

Dan malam-malam ia rangkul emak, tanpa bicara sesuatu pun sampai emak sengit.

"Anak manja," bentak emak.

Malam itu Baekhyun tak dapat tidur.

Yang terbayang olehnya hanya ikan besar yang gagah bersirip merah. Mereka kuasai samudra dan ikan-ikan kecil. Tidurnya gelisah tak menentu. Akhirnya emak terbangun juga. Memandanginya lama-lama dalam temaram pelita.

"Mengapa kau ini?"

Bapak waktu itu seperti biasa, tidak di rumah. Dia bergabung dengan kawan-kawannya untuk membantu nelayan-nelayan yang membutuhkan tenaga.

Dan Gadis Pantai menceritakan pada emak pengalamannya dengan bapak.

"Anak bodoh!" bisik emak sambil menepuk-nepuk pipinya.

"Tidur, nak, tidur. Buat apa kau pikirkan ikan-ikan itu? Ikan besar-besar?nJangan bicara dengan bapakmu tentang ikan besar: jangan sekali lagi. Tidak boleh. Jangan kecilkan hati bapakmu, nak. Setiap ikan besar adalah bahaya. Dan di laut, nak, siapa yang bisa tolong? Biar orang menjerit setahun lamanya? Ombak itu lebih besar dari jeritannya. Ikan besar-besar itu lebih banyak dari nelayan. Gigi mereka lebih perkasa dari tombak bapakmu. Kau mengerti, nak? Kau mengerti?"

Dan bulu badan Baekhyun meremang.

Mulai waktu itu, setiap hari ia mendoa buat keselamatan bapak. Mulai waktu itu ia mengerti sekeping kepahlawanan bapaknya, bapaknya sendiri. Juga mulai waktu itu ia tak lagi bicara tentang ikan besar yang hidup, ikan besar yang menakutkan.

Pikirannya yang masih muda kini mulai membandingkan semua yang baru dengan semua yang lama.

Akhirnya ia tak mau berfikir membanding-banding lagi,

ia tak mengerti,

ia tahu ia tak tahu sesuatu pun.

Ia melihat, dan segera bertanya. Begitulah pada lain kali ia bertanya,

"mBok, apa sebab semua takut pada Bendoro Chanyeol?"

Ia ingin bertanya apakah kepahlawanan Bendoro Chanyeol. Apakah kehebatan dan keberanian orang selangsing, seputih, dan sepucat, serta sehalus itu.

Tapi ia tak berani.

Dalam pembisuan itu pelayan tua menepuk-nepuk dadanya sendiri seperti hendak meyakinkan dirinya sendiri bahwa ingatannya masih bisa dipercaya.

Ia bercerita: "Mas Nganten dalam setiap peperangan raksasa selamanya dikalahkan oleh satria yang kurus-kurus gepeng dan layu. Gergaji cakil yang gesit penuh api sekali tersenggol jari kelingking satria, dia rubuh takkan bangun lagi. Dan satria itu hampir-hampir tidak pernah beranjak dari tempatnya, sedang si cakil berputar melompat, berjungkir balik meledek."

"Wayangkah itu?"

"Di tempat Mas Nganten tak ada wayang?"

"Kami hanya pernah dengar. Tak ada gambar wayang di rumah-rumah kami di kampung nelayan."

"Lha, mengapa?"

"Sekali seorang kota membawa wayang kulit ke kampung nelayan. Kakek tua marah. Dipukulnya orang itu dengan tongkatnya. Orang itu juga jadi marah kena pukul. Digelan-dangnya kakek. Waktu hendak diguguhkan tinjunya pada mulut kakek, nampak ia tak sampai hati, dan didorongnya kakek sampai terjatuh di atas pasir. Kakek keparat, kata orang itu. Apa dosaku? Apa dosa wayang ini? Kakek mengerang-ngerang. Waktu itu aku ada di situ. Mereka berhadap-hadapan di sebuah jalan kecil yang terapit barisan semak-semak. Tak ada orang lain lagi yang melihat. Aku hampiri kakek, mencoba mendirikannya. Orang kota itu melihat padaku, kemudian membantu aku mendirikan kakek. Dosamu, orang kota berangasan, kau mau tipu kami dengan wayangmu. Tipu? pekik orang kota. Benar, tipu! kakek menjerit. Kau mau menjual omong kosong. Kau mau buali orang kampung dengan kehebatan selembar kulit kerbau yang kau pahati dan kau lukisi berwarna-warni, kau akan katakan pada mereka, wayangmu, sangat berkuasa, tak ada bandingan. Bohong! Di sini cuma laut yang berkuasa. Bukan wayang-wayang itu."

"Sombong benar kakek kampung itu. Kalau dia di sini, dia akan tergetak tak dapat berkutik seperti batu yang habis di-belah."

"Nelayan dari kampung-kampung lebih-lebih lagi malah tidak mau menyebut kata wayang mBok. Mereka tak suka."

"Mereka tidak mengerti, Mas Nganten. Wayang itu nenek moyang kita sendiri."

"Nenek moyang mBok sudah tidak ada, tapi laut tetap ada."

"Uh-uh. Mas Nganten, kita tidak bakal ada kalau nenek moyang tidak ada."

"Kakek itu pernah bilang mBok, segalanya bersumber di laut. Tak ada yang lebih berkuasa dari laut. Nenek moyang kami juga bakal tidak ada kalau laut tidak ada."

"Entahlah, Mas Nganten, entahlah," jawab pelayan itu sopan dengan kejengkelannya.

Dan tanpa disadari, semua pertanyaan Baekhyun tak lain dari ucapan cemburu hatinya.

Ia ingin ketahui segala tentang suaminya yang sekaligus juga tuan dan majikannya, tapi itu takan mungkin ia berani tanyakan pada Bendoro Chanyeol sendiri.

"Jangan gusar padaku, mBok. Aku hanya bertanya."

"Bingunglah sahaya ini, Mas Nganten, pertanyaan-pertanyaan begitu tak pernah sahaya dengar seumur hidup."

Sebenarnya Baekhyun ingin mengetahui pasti, ke mana saja Bendoro Chanyeol pergi bila meninggalkan rumah berhari-hari lamanya. Siapa-siapa yang ditemuinya. Apa yang dibicarakannya. Bagaimana pendapat Bendoro Chanyeol tentang dirinya. Akhirnya ia berpendapat: betapa mahalnya pengetahuan di sini.

Aku harus belajar segala, dari membatik, menyulam, sampai membaca dan mengaji. Terkecuali belajar tentang suami sendiri, bahkan juga pendapat suami tentang istrinya. Di kampung ia sering dengar istri-istri pada mengkritik suami masing-masing. Kadang-kadang kritik itu membuat mereka pada bertengkar, tapi di sini?

Di sini?

"mBok pernah tinggal di kampung nelayan?"

"Pernah. Mas Nganten."

"Suami-istri hidupnya tidak seperti di sini."

"Sahaya tahu. Mereka bersama-sama makan, bersama-sama duduk, minum. Kalau sedang tak berlayar, mereka bicara tentang segala."

"Yah, tentang musim, tentang bulan, tentang angin, tentang binatang."

"Sahaya, Mas Nganten."

"Tentang layar dan dayung, tentang jaring tersangkut pada batu karang dan kaki yang tertusuk duri babi."

"Sahaya, Mas Nganten."

"Apakah di kota suami-istri tidak pernah bicara?"

"Ah, Mas Nganten, di kota, barangkali di semua kota - dunia kepunyaan lelaki. Barangkali di kampung nelayan tidak. Di kota perempuan berada dalam dunia yang dipunyai lelaki, Mas Nganten."

"Lantas apa yang dipunyai perempuan kota?"

"Tak punya apa-apa, Mas Nganten kecuali "

"Ya?"

"Kewajiban menjaga setiap milik lelaki."

"Lantas milik perempuan itu sendiri apa?"

"Tidak ada, Mas Nganten. Dia sendiri hak-milik lelaki."

Baekhyun tahu benar: Bendoro Chanyeol telah tiga hari pergi.

Dan ia tahu tepat pula: ia hanyalah hak milik Bendoro Chanyeol.

Yang ia tak habis mengerti mengapa ia harus berlaku sedemikian rupa sehingga sama nilainya dengan meja, dengan kursi dan lemari, dengan kasur tempat ia dan Bendoro pada malam-malam tertentu bercengkerama.

Tiga hari telah lewat. Setiap hari semakin panjang saja cemburu yang mengerumuti dalam hatinya.

tbc...