Gadis Pantai


Original Story

Roman Gadis Pantai by Pramoedya Ananta Toer

Karena saya sangat kagum dan suka pada roman ini, maka disini saya akan mengubah Roman Gadis Pantai menjadi versi chanbaek.

Saya bukanlah pengarang aslinya. Saya minta maaf yang sebesar-besarnya jika ada yang tidak berkenan Roman ini saya jadikan versi chanbaek.

Selamat membaca~

Muahh :)


Bagian Kelima


Hari ke empat Bendoro Chanyeol datang.

Sore waktu itu, beberapa waktu setelah beduk asar bertalu.

Ia dengar bendi berhenti, di depan pendopo.

Ia dengar roda bendi dan telapak kuda itu berjalan perlahan di samping kamarnya.

Ia dengar selop melangkah-langkah berat di ruang tengah.

Ia dengar bunyi buutt terkenal itu.

Jantungnya berdebar.

Ia tutup pintunya rapat-rapat, tetapi ia tiada menguncinya.

TIDAK! Bendoro tidak membawa wanita utama baru, ia menjerit dalam hati. Tidak! Tidak mungkin.

Ia duduk di kursi dan meletakkan kepalanya di atas meja dengan mata melotot mengawasi pintu. Pintu itu harus terbuka perlahan, dan setelah itu wajah pucat berhidung mancung harus tersembul. Sosok tubuhnya yang langsing tinggi kurus menyelinap masuk ke dalam menghampirinya, meletakkan tangan di atas pundaknya seperti biasa, dan harus berbisik lunak seperti biasanya pula kepadanya,

"Mas Nganten, kau sehat bukan?"

Ia menunggu dan menunggu, menunggu dengan hati meriut dan jantung

berdebaran.

Tapi wajah pucat berhidung mancung itu tak juga menyembul di kirai pintu.

Suatu kekuatan gaib telah bangkitkan ia dari kursi, ia menghampiri pintu - menguraikan sedikit dan dipusatkan seluruh kupingnya pada setiap kata yang bisa terdengar dari kamar.

Tidak! ia tak dengar suara wanita.

Hanya bunyi selop berat saja berjalan mondar-mandir diselang-seling terbuka dan tertutupnya pintu serta berpindah-pindahnya kaki kursi.

Tiba-tiba terdengar olehnya perintah yang keras mengandung ancaman gaib.

"Daesung!"

Ia segera tahu apa artinya: Bendi harus segera disiapkan.

Hatinya jadi kecut.

Bendoro Chanyeol hendak berangkat lagi.

Berapa hari lagi ia harus menunggu kedatangannya?

Tanpa disadarinya matanya jadi sembab.

Ditutupnya kembali pintu.

Satu-satunya pelindungnya yang setia selama ini adalah kasur dan bantal ranjang. Kalau saja pelayan wanita itu begitu menyenangkan seperti itu! Tapi bertambah meningkat pengetahuan dan kecerdasannya, pelayan itu makin kurang kemampuannya menghibur hatinya.

Juga sekali ini ia lari pada pelindungnya.

Dipeluknya bantal dingin itu.

Ia teringat pada emak, pada bapak, dan saudara-saudaranya. Dan ia merasa begitu malu selama ini tak banyak mengingat mereka.

Betapa ia rindukan suaminya.

Betapa perasaan cemburu telah menyiksa ia begini macam.

Siapakah dia?

Siapakah dia yang begitu berkuasa atas Bendoro Chanyeol yang maha kuasa ini?

Siapakah dia yang dapat perintahkan Bendoro Chanyeol terungkit dari gedung ini menempuh jarak begitu panjang dan menahannya berhari-hari buat dirinya sendiri?

Ah, ah.

Dan ia tinggal demikian sampai magrib.

Waktu beduk bertalu, ia masih dengar selop Bendoro Chanyeol berjalan mondar-madir, beliau belum lagi pergi. Terburu-buru ia keluar dari kamar, turun ke kamar mandi, mandi dan ambil air wudu.

Ia masuk ke khalwat.

Ia duduk, duduk, duduk dan menunggu, menunggu.

Pintu pada dinding samping di depan sana masih juga belum terbuka.

Pintu itu, ah pintu itu.

Dalam khalwat ini tak sepantun pun suara dapat menembusinya, sekalipun dinding samping itu saja yang memisahkan khalwat dari ruang tengah.

Waktu pintu dinding samping itu akhirnya terbuka juga, buru-buru ia menunduk namun masih dilihatnya juga sosok tubuh yang dirindukannya berhari-hari belakangan ini. Ia lihat sarung baru berwarna merah bergenggang biru dikenakannya. Dan sosok tubuh itu mulai sembahyang.

Tanpa sedikitpun berpaling padanya.

Sudah berubah sikapnya!

Ia pun mengikuti bersembahyang. Dalam rukuh putih itu ia merasa lebih aman daripada di luarnya. Rukuh ini mampu menyembunyikan, tubuhnya, pikirannya dan perasaannya tanpa bisa diketahui orang.

Selesai sembahyang ia segera menuju ke kamarnya kembali, merias diri dan menunggu Bendoro Chanyeol pada meja makan.

Di luar dugaannya Bendoro Chanyeol muncul lebih cepat, langsung menuju padanya berbisik, "Ada tamu akan bersantap," dan Bendoro Chanyeol berdiri tegak mengawasinya.

Ia bangkit dari kursi, menunduk membungkuk dan pergi kembali masuk ke dalam sangkarnya.

Dari kamar didengarnya percakapan antara Bendoro Chanyeol dengan tamunya.

Baru hatinya lega sedikit mengetahui tamu itu bukan wanita.

Apa mereka bicarakan sambil santap? Tentang wanita utama baru? Betapa tegang urat sarafnya mengerahkan seluruh kemampuan buat setiap pantun suara.

"Ya, huru-hara," kata tamu itu.

"Mereka tak kenal terima kasih pada Gubermen, pada Gusti Allah. Apa saja yang tak dilakukan Gubermen buat menjaga keselamatan mereka? Tumpas saja tuan."

Ia hafal sekali, yang akhir itu adalah suara orang yang dirindukannya selama ini.

"Terima kasih. Tuan tahu, saya dikirim kemari oleh kanjeng Gubermen."

"Ah, tuan?"

"Benar, menurut keputusan Raad Hindia..."

Bendoro Chanyeol terdiam dalam terkejutnya.

"... buat cari ketetapan, tetapi sebelumnya Gubermen mau dengar dulu bagaimana pendapat pembesar-pembesar negeri tentang huru-hara di Lombok ini."

"Ya, ya, saya paham."

"Tuanlah yang pertama-tama memberi pendapat yang tegas. Yang lain-lain para bupati yang telah saya kunjungi, sampai-sampai tidak tahu di mana Lombok ini."

"Terima kasih."

Mereka bicara tentang perang.

Baekhyun berbisik pada dirinya sendiri. Dan selama setahun ini ia sudah terlalu sering dengar tentang perang di gedung ini. Tapi perang itu sendiri tak pernah nampak olehnya, hanya jauh, jauh sekali.

Tempatnya terjadi jauh sekali. Ia tak pernah tahu dan tak ingin tahu di mana. Ia hanya tahu: di seberang menempuh laut, lebih jauh yang pernah di tempuh bapak sehari-hari. Jantungnya berhenti meronta dan hatinya jadi damai kembali.

"Bagaimana kalau tuan menginap, di sini? Kita masih bisa bicarakan banyak hal."

"Tuan sudah perintahkan siapkan bendi, bukan? Malam ini juga saya harus berangkat, dan besok pagi saya harus sudah susun laporan tentang pendapat Bendoro Bupati Blora."

"Jadi tuan akan keliling seluruh Jawa?"

"Tidak. Ada enam orang bertugas seperti saya. Saya mendapat bagian daerah pesisir utara. Itu pun bukan seluruh pesisir Jawa, sebagian Jawa Tengah saja."

"Jadi kita tidak bisa bicarakan lain soal?"

"Maafkan saya."

Suara itu menarik hati Baekhyun.

Suara tegas, perkasa, berkuasa, dan selalu bernada memerintah. Ah, rasa-ranya ia rela diperintah olehnya, apa saja.

Dengan hati-hati ia kiraikan sedikit pintu kamarnya dan mengintip ke luar.

Melalui punggung Bendoro Chanyeol ia lihat seorang priyayi muda, berperawakan kecil. Ikat kepalanya tinggi, tidak lazim terdapat pada priyayi pantai, sedang ujung-ujungnya tertarik pongah agak sedikit ke atas, kepalanya selalu terangkat lurus, jarang menunduk. Matanya berkilau gemerlapan, lebih indah dan menarik daripada berlian-berlian dan intan-intan dan jamrut yang pernah menghias tubuhnya. Kulitnya agak kehitaman, sedang gerak-geriknya begitu lincah menangani sendok-garpu-pisau.

Jantungnya kini berdenyut lain, manis dan mengusap-usap.

Tiba-tiba ia sadar akan dirinya.

Ditutupnya kembali pintu, Ia merasa sangat malu pada dirinya sendiri. Diambilnya bakul benang wol, mulai merenda.

Waktu didengarnya kaki-kaki kursi meja makan pada terdorong, ia berhenti sebentar. Suatu tenaga gaib menariknya untuk sekali lagi mengiraikan pintu dan mengintip.

Ia lihat tamu, priyayi muda itu, berjalan tegap meninggalkan ruang belakang menuju ke ruang tengah. Diletakkan bakulnya.

Ia keluar kamar langsung ke meja makan, duduk di tempat bekas priyayi muda tesebut. Betapa gagahnya priyayi muda itu. Dan dengan berahi ia rasai bekas tempat tamu itu. Ia resapkan sisa hangat pada kursi ke sekujur badannya. Ia menoleh ke arah dapur.

Dilihatnya pelayan tua sudah keluar dari pintu dapur dan sedang menuju ke tempatnya. Segera disendoknya nasi dan dituangnya di atas piring bekas tamu. Sebelum ia sempat menyendok sayur, pelayan tua telah datang.

Mata wanita tua yang merabai wajahnya membuat hatinya kecut, dan dengan sendirinya saja ia berbisik, "Tidak, mBok, tidak salah ini piring bekas Bendoro Chanyeol."

"Mas Nganten memerlukan sayur lagi? Atau yang lain-lain."

"Tidak, benar tidak."

Pelayan tua itu menarik diri kembali ke dapur.

Baekhyun menyendok sayur. Ia mulai menyuap perlahan-lahan. Dan dalam bayangannya muncul priyayi muda gagah. Tanpa disadarinya ia rasai betapa kemudaan pria itu begitu penuh, melimpah gesit, dan hanya dengan matanya yang bersinar, tanpa melihatnya, telah dapat taklukkan seluruh hatinya.

Satria seperti dia takkan tinggal-tinggal istrinya, pikirnya.

Betapa nikmat sisa sayur dan butir-butir nasi yang telah tersentuh oleh bibirnya. Siapakah dia? Siapa namanya? Di mana tempatnya?

"Siapa tamu tadi, mBok?" tanyanya sehabis makan.

"Mana sahaya tahu, Mas Nganten, orang bilang dari Betawi."

"Betawi kota besar. Aku ingin lihat Betawi."

"Semua orang pernah mimpi pergi ke Betawi, Mas Nganten."

"Kalau sudah selesai semua, temani aku di kamar, mBok."

"Sahaya, Mas Nganten."

Ia bangkit dan masuk kembali ke dalam kamarnya. Dan jantung yang beberapa jam yang lalu masih berdebaran karena cemburu pada Bendoro Chanyeol kini berdebaran kental dan manis berisikan sesuatu yang hampir dapat dinamai harapan, penyerahan, kerelaan dan pengabdian pada seseorang yang namanya pun ia tidak tahu ...

Ternyata tamu itu masih beberapa jam lagi duduk di ruang tengah bersama Bendoro Chanyeol.

Dari kamarnya tak ada sesuatu pun yang dapat tertangkap kecuali derai tertawa yang kadang-kadang menerobosi deru angin malam dari laut.

"Sudah tidur Mas Nganten?" tanya pelayan tua dari tikar tidurnya.

"Ha?"

"Sudah ngantuk?"

"Ha?"

"Sebentar lagi tamu akan pergi. Jangan tidur malam ini. Bendoro Chanyeol begitu lama pergi. Empat hari. Empat hari kalau sahaya tidak salah?"

"Ya, empat."

"Kalau tamu sudah pergi," suara wanita tua jadi perlahan-lahan dan merongga. Tiba-tiba suaranya berubah jadi tegas, "ah ya buat apa sahaya mesti bicarakan?"

"Dongengi aku."

"Dongeng apa? Nabi Sulaiman?"

"Tidak, tidak, jangan. Dongengi aku tentang dirimu sendiri."

"Apa yang mesti sahaya dongengkan? Orang kecil memang cuma punya dongeng tentang dirinya. Tapi apa mesti sahaya dongengkan?"

"mBok, mBok sayang pada suami mBok?"

"Ah, Mas Nganten ini ada-ada saja. Di mana lagi seorang sahaya bisa menerima sayang kalau bukan dari suaminya sendiri. Cuma dialah yang dapat kita sayangi."

"Suami yang mana? Yang pertama? Yang kedua?"

"Suami yang mana saja, Mas Nganten. Pertama atau kedua itu tidak penting."

"Tidak pernah mereka pukul mBok?"

"Perempuan ini diciptakan ke bumi, Mas Nganten, barangkali memang buat dipukul lelaki. Karena itu jangan bicarakan itu, Mas Nganten. Pukulan itu apakah artinya kalau dibandingkan dengan segala usahanya buat bininya, buat anak-anaknya. Kalau saja Tuhan dulu mengurniakan sahaya anak, barangkali seorang, barangkali juga selusin? Apakah artinya pukulan pada emak? Mas Nganten sendiri lihat, bapak saban hari menentang maut."

"Ya, mBok, ya-ya. Saban hari menentang maut, dapatnya cuma nasi jagung."

"Ah-ah, tentang kemiskinan - janganlah dibicarakan, itu kekuasaan Tuhan, Mas Nganten."

"Ya-ya, mBok. Cuma sedikit saja yang tidak miskin."

"Apa mesti sahaya dongengkan, Mas Nganten?"

"mBok, mBok, bagaimana semua orang jadi kaya, atau semua miskin?"

"Tidak mungkin. Jangan pikir-pikir seperti itu, Mas Nganten. Itu syirik! Mas Nganten tahu artinya syirik?"

"Tidak. Setidak-tidaknya terdengar menjijikkan."

"Tuhan ciptakan bumi dan langit, alam dan dunia dalam kesempurnaannya. Ada siang ada malam. Ada malaikat ada setan dan iblis. Ada tinggi dan rendah. Kalau semua miskin, semua kaya, lantas bagaimana zakat, bagaimana fitrah, mana hamba dan mana Bendoro? Kiamat. Ya-ya mungkin itu tanda-tanda kiamat, Mas Nganten."

"Jelek benar dongeng mBok malam ini. Pijitlah aku."

Wanita tua itu bangkit dari lapik-ketidurannya, menyingkap kelambu dan sambil berdiri memijiti kaki Baekhyun.

"Aku ingin mBok sayangi aku."

"Apakah kurang sayang, sahaya?"

"Aku ingin senangkan hati mBok."

"Apa dikira sahaya kurang senang layani Mas Nganten?"

Demikianlah mereka terus-menerus bicara dan bicara.

Baekhyun tanpa pernah peroleh kata-kata tepat untuk mencoba mendapatkan kasih sayang yang tulus, yang terucapkan, tanpa tertutup-tutup kesopanan berlebihan.

Wanita tua itu tanpa pernah peroleh kata-kata tepat, mencoba dapatkan kasih sayang pula dalam penghambaan dan pelayanannya. Mereka rasai sesuatu kekurangan dalam kehidupan mereka, tapi mereka tak menyadari, tak mengetahui apa yang mereka rasai.

"Bagaimana kalau aku ini anak mBok?"

Wanita tua itu berhenti memijiti.

"Mengapa mBok?"

"Ah, Mas Nganten ini ada-ada saja. Mana bisa, mana mungkin?"

"Biarlah kita andaikan mungkin, bagaimana?"

"Janganlah siksa sahaya ini, Mas Nganten."

"Mengapa mBok? Mengapa?"

Waktu diketahuinya mBok sama sekali berhenti memijit, Baekhyun bangkit. Ia duduk di kasur. Dan kala dilihatnya wanita tua itu mencoba menghindarkan wajahnya dari pandangnya, ia segera turun ke bawah dan meletakkan kedua belah tangannya, di atas pundak wanita tua itu.

Dirasainya kedua pasang pundak itu menggigil sedikit.

"Kok menangis, mBok, mengapa?"

"Sudahlah bolehlah sahaya balik ke dapur, Mas Nganten?"

"Mengapa mBok menangis? Apa salahku mBok?"

"Biarlah sahaya kembali, Mas Nganten."

"Tapi mengapa menangis?"

"Pertanyaan itu, Mas Nganten! Pertanyaan itu. Apa masih kurang kutukan ditimpakan pada sahaya?"

"Siapa telah kutuki orang sebaik mBok?"

"Siapa? Yah yang menguasai hidup sahaya."

"Bendoro?"

"Bukan, nasib!"

"Ah."

"Dirampasnya anak sahaya. Dirampasnya suami sahaya. Dan suami sahaya yang kemudian. Ke mana lagi perginya sahaya ini, kalau sudah tak sanggup lagi layani Bendoro? Mengapa Mas Nganten ingatkan sahaya pada masa tua sahaya? Tak lama lagi sahaya sudah jompo."

"Ampuni aku mBok. Bukan maksudku menyiksa mBok. Kan masih ada aku? mBok boleh ikut aku sampai jompo. Akan kupelihara sendiri mBok di hari jompo nanti."

Ingin sekali wanita tua itu peringatkan Baekhyun, tapi ia tak berani.

Ia takut.

Ia tahu benar, dalam sehari wanita utama bisa berganti 25 kali tanpa sedikit pun mengurangi perbawa Bendoro Chanyeol.

Ia tahu besok atau lusa paling lama setelah Baekhyun melahirkan anaknya yang pertama, wanita muda tak berdosa ini pun mungkin akan langkahi dan lalui jalan hidupnya sendiri tanpa ragu-ragu lagi: jalan hidup sebagai sahaya.

Dan ibu muda ini lebih menderita daripadanya karena ia punya anak tapi harus pergi dari anaknya. Ia tak boleh bertemu. Dan bila bertemu anak, maka itu bukan anaknya, tapi Bendoronya, orang yang harus disembah dan dilayaninya. Ditindasnya perasaannya sendiri, dan dengan lemah lembut dicobanya juga memperingatkan Baekhyun akan nasibnya yang akan datang.

"Mas Nganten jangan pikirkan sahaya. Sahaya ini orang kecil, orang kebanyakan, orang lata, orang rendah, kalaupun jatuh - ya sakit memang, tapi tak seberapa. Bagi orang atasan ingat-ingatlah itu, Mas Nganten, tambah tinggi tempatnya tambah sakit jatuhnya. Tambah tinggi, tambah mematikan jatuhnya. Orang rendahan ini, setiap hari boleh jatuh seribu kali, tapi ia selalu berdiri lagi. Dia ditakdirkan untuk sekian kali berdiri setiap hari."

Tapi Baekhyun tak mengerti.

"Mengapa orang mesti jatuh? Dia kurang hati-hati," katanya kemudian seperti anak yang tak berdosa.

"Mas Nganten benar sekali. Kurang hati-hati, tapi sayang sekali, orang tak dapat berhati-hati setiap saat buat seumur hidupnya, Mas Nganten. Ada kalanya kita mengenangkan bapak atau emak, kita lupa pada diri sendiri, lupa pada Bendoro. Tentulah kekurangan mahluk Allah yang daif ini Mas Nganten, lantas dia tak hati-hati lagi melayani Bendoro."

"Lantas aku ini, bagaimanakan aku ini?"

"Mas Nganten ampunilah sahaya. Sahaya bukan bermaksud jelek. Boleh sahaya bicara?" .

"Ah, mBok apa yang salah pada diriku?"

"Tidak Mas Nganten. Cuma saja ..."

Baekhyun duduk di atas kasur ranjang mengawasi wanita tua yang menunduk itu, gelisah, mendesak, "Apa salahku?"

"Salah Mas Nganten seperti salah sahaya, salah kita, berasal dari orang kebanyakan."

"Lantas mBok, lantas?"

"Kita sudah ditakdirkan oleh yang kita puji dan yang kita sembah buat jadi pasangan orang atasan. Kalau tidak ada orang-orang rendahan, tentu tidak ada orang atasan."

"Aku ini, mBok, aku ini orang apa? Rendahan? Atasan?"

"Rendahan Mas Nganten, maafkanlan sahaya, tapi menumpang di tempat atasan."

"Jadi apa mesti aku perbuat, mBok?"

"Ah, beberapa kali sudah sahaya katakan. Mengabdi, Mas Nganten. Sujud, takluk sampai ke tanah pada Bendoro Chanyeol. Mari sahaya dongengi. Tahu bawang merah bawang putih?"

"Sudah tahu itu. Jadi mBok, bagaimana mengabdi sebaik-baiknya? Sujud-takluk sebaik-baiknya?"

"Mas Nganten sudah tahu cerita Trunojoyo menyeberangi Bengawan Solo?"

"Sudah, tapi agak lupa. Apa pengabdianku masih ada cacatnya?"

"Saban hari harus disempurnakan, Mas Nganten. Karena seorang abdi, Mas Nganten, setiap hari semakin nampak cacatnya. Mas Nganten sudah tahu tentang Surapati?"

"Ah Surapati itu, seorang budak-belian saja."

"Betul, Mas Nganten, tapi akhirnya dia jadi raja. Dia kalahkan raja-raja Jawa. Dia kalahkan kompeni, Mas Nganten. Bukan main."

"Apa cacatku?"

"Cacat itu tidak ada pada kita, Mas Nganten. Tapi di dalam hati orang atasan." Tiba-tiba ia terdiam.

"Dengar."

Baekhyun memusatkan pendengarannya. Terdengar hiruk-pikuk dari depan rumah, kemudian bunyi cambuk melecut. Tamu meninggalkan rumah.

"Jadi?" Baekhyun mendesak.

"Tidak ada jadi, Mas Nganten, kita kan terlalu lancang bila bicarakan Bendoro kita. Maafkan sahaya, tamu sudah pergi, ijinkan sahaya kembali ke dapur."

Dan tanpa menunggu ijin, ia menggulung tikarnya dan membawa keluar dari kamar. Tak lama kemudian Baekhyun merapikan rambutnya. Belum lagi selesai, sesosok tubuh tinggi langsing telah muncul dalam bayangan cermin.

"Mas Nganten," ia dengar suara bisikan.

Baekhyun menjatuhkan diri, mencium kaki Bendoro Chanyeol, kemudian memeluknya.

Waktu Bendoro Chanyeol duduk di atas kasur ranjang, ia angkat kedua-duanya, ia cium telapaknya.

"Inilah sahaya, Bendoro."

"Kau baik-baik saja selama ini?"

"Sahaya menanggung, Bendoro, rindu tiada tertahankan." Baekhyun mengulangi hafalan dari pelajarannya.

"Apa kau harapkan dari kedatanganku? Emas? Berlian? Batik paling indah?"

"Tidak Bendoro, cuma keselamatan Bendoro." Baekhyun meneruskan hafalannya.

Dan jelas-jelas didengarnya derai ombak menjamah pantai mentertawakan dirinya. Dan lebih jelas lagi adalah gambar wajah tamu sebentar tadi, yang kini berangkat entah ke mana. Kaki Bendoro Chanyeol menjadi sosok tubuh tamu tadi. Dan bulu kaki Bendoro Chanyeol menjadi usapan tangan tamu tadi.

"Kau sendiri? Kau tak kekurangan sesuatu apa?"

"Sekarang sahaya, Bendoro, sudah kecukupan segala-galanya, selama kasih Bendoro tiada

putus."

"Ah, kau, siapa ajari kau?"

"Siapa? Keinsafan sahaya sendiri, Bendoro, keinsafan sebagai sahaya."

"Ah, kau bukan sahayaku. Kau temanku. Mari, Baekhyun, mari Baekhyun berdiri."

Tapi Baekhyun tetap berjongkok di atas lantai. Bendoro mengusap-usap rambutnya, turun dari ranjang, mengangkatnya dari bawah kedua belah ketiaknya.

Dan bangunlah Baekhyun.

"Mari, Baekhyun, mari."

"Sahaya, Bendoro."

"Aku terlalu lelah, Mas Nganten. Buatlah aku bermimpi tanpa tidur."

"Inilah sahaya Bendoro."

"Naiklah ke ranjang, Mas Nganten."

"Sahaya, Bendoro."

Dan naiklah Baekhyun ke atas kasur. Ia duduk termangu sambil duduk.

"Tidaklah kau lelah seperti aku, Mas Nganten?"

"Tidak Bendoro."

"Biarpun begitu, bertidurlah."

Sunyi-senyap sejenak di dalam kamar. Tapi angin dari laut dengan ganasnya menggaruki genteng, sedang laut yang makin lama makin mendesak ke kota, dalam malam tanpa suara manusia, terdengar merangsang masuk ke dalam hati.

"Dengar!"

"Sahaya, Bendoro."

"Apa yang terdengar?"

"Angin Bendoro."

"Cuma angin?"

"Ombak Bendoro."

"Kau suka pada laut?"

"Laut, itulah, kampung sahaya Bendoro."

"Dengar?"

"Sahaya, Bendoro."

"Tak ada lagi kau dengar?"

"Suara Bendoro, Bendoro."

"Tak ada lain yang terdengar?"

"Tidak, Bendoro."

"Dekatlah, sini."

"Sahaya, Bendoro."

"Tak ada lain yang terdengar?"

"Nafas Bendoro, Bendoro."

"Dekatlah lagi."

"Sahaya."

"Apa yang terdengar?"

"Apa Bendoro? Detakan jantung?"

"Aku dengar juga nafasmu."

"Sahaya, Bendoro."

"Aku dengar juga detakan jantungmu."

"Sahaya, Bendoro."

"Apa kau dengar lagi?"

Angin semakin menggaruk genteng. Dan ombak semakin mendesak kota.

"Pohon-pohon cemara sepanjang pantai itu takkan patah diterjang angin sebesar itu. Kau tahu dari mana datangnya cemara itu?"

"Tidak, Bendoro."

"Itu keturunan cemara yang dibawa tuan besar Guntur waktu membuat jalan pos. Waktu itu aku belum lahir, tapi ayahku bisa bercerita."

"Sahaya, Bendoro."

"Apa sekarang kau dengar?"

"Detak jantung Bendoro."

Bendoro terdengar tertawa.

"Benar, detak jantung."

"Keras berdetakan."

"Benar."

"Nah sekarang apa terdengar?"

Tiada jawaban.

"Dengarkan lagi baik-baik."

"Sahaya mendengarkan, Bendoro."

"Ada?"

Diam sejurus. Angin berhenti menggaruk. Seekor burung hantu melenguh-lenguh sunyi pada pohon beringin di tengah alun-alun. Sedang ombak kian mengancam.

"Ada Bendoro."

"Apa yang terdengar?"

"Suara Bendoro. Suara kasih yang dibawakan oleh denyut jantung."

"Kau mulai pintar. Mulai pintar - siapa ajari?"

Baekhyun tertawa lemah.

"Siapa yang ajari?"

"Kasih Bendoro sendiri."

"Bagaimana kau perlakukan kasih itu?"

"Sahaya sambut setiap saat dia bersuara, Bendoro."

"Ah, Mas Nganten, kau belum lagi tanyakan apa oleh-olehku."

"Sahaya, Bendoro."

Terdiam sebentar kemudian,"... tapi..., apakah oleh-oleh seorang suami, Bendoro, terkecuali rindu?"

"Tidak seluruhnya benar. Ada yang lain: kain Lasem, Mas Nganten, kain Pekalongan. Bosan aku melihat kau mengenakan pakaian Solo itu jua. Gantilah sekali-sekali. Dan juga: intan laut, Mas Nganten. Mutiara, kau pernah lihat mutiara?"

"Belum, Bendoro."

Bendoro Chanyeol tertawa terbahak sekali ini, senang, terbuka.

"Anak laut yang tak pernah lihat intan laut." Sekali lagi ia tertawa.

"Bapakmu bagaimana, pernah lihat mutiara?"

"Cerita pun tidak pernah Bendoro." Kembali Bendoro tertawa terbahak.

"Cuma orang-orang berani bisa dapatkan mutiara, Mas Nganten. Dia selami laut sampai ke dasarnya. Dibaliknya setiap karang di dasar sana, diangkatnya setiap tiram."

Baekhyun merasa jantungnya terhenti berdetak, dan sebilah sembilu mengiris ujung hatinya.

"Bapak sahaya, Bendoro, mungkin kurang berani, mungkin juga tidak menyelam," katanya hati-hati.

"Kasihan bapak sahaya, Bendoro. Kasihan memang. Tapi dia memang bukan cari mutiara, tapi cari nasi, jagung buat anak-bininya."

"Salah," Bendoro Chanyeol menggunting.

"Mencari jagung tidaklah di laut."

"Sahaya Bendoro. Mungkin itulah yang disebut takdir bagi orang-orang rendahan yang bodoh."

"Ahai, guru ngaji yang ajari kau seperti itu?"

"Tidak, Bendoro."

"Katakanlah, dari siapa?"

"Sahaya pernah dengar orang bilang, Bendoro, orang bawahan selalu lapar, karena itu matanya melihat segala-galanya, kupingnya dengar segala-galanya dan hatinya rasakan segala-galanya, sedang jantungnya deburkan darah buat segala-galanya."

"Guru ngajimu besok tak perlu datang lagi. Dan kau, Mas Nganten, jangan bicara lagi tentang orang rendahan dan orang atasan. Kita ini manusia yang menjalani perintah dan ketentuan Yang Maha Kuasa. Jangan pernah lagi membicarakannya."

Baru sekali ini Baekhyun tak menyambut.

"Engkau anak yang cerdik."

Sementara itu dalam kepala Baekhyun mengaum-ngaum cerita-cerita pelayan tua itu, cerita tentang segala-galanya, tentang nasib orang bawahan dan kebesaran orang atasan, tentang kejatuhan orang bawahan dan kemuliaan orang atasan, tentang orang bawahan yang menumpang diri kepada orang atasan, tentang kekuasaan dan tentang takdir, tentang Gusti Allah dan tentang kompeni. Jiwanya yang muda itu menangkap dan menggenggam semua, tak peduli mengerti seluruhnya atau sebagian darinya.

"Bendoro."

"Ya, Baekhyun."

"Bolehkah, sahaya..."

"Katakan, katakan, jangan sampai ayam terburu berkokok."

"Mengapa Bendoro begitu sering pergi? Berhari-hari? Tinggalkan sahaya menanggung siksa?"

Bendoro Chanyeol tiba-tiba berubah pikirannya.

Hatinya yang beku mendadak cair. Yang keras dingin mendadak kembali cair hangat. Berbisik ramah:

"Kau, cemburu!"

"Sahaya, Bendoro. Sahaya cemburu."

"Kau juga tak pernah tanya pada bapakmu ke mana saja perginya kalau dia berlayar, bukan?"

"Ampun Bendoro, tidak pernah."

"Mengapa tak pernah?"

"Karena sahaya tahu dia bekerja."

"Mestinya kau tahu juga aku bekerja."

"Sahaya, Bendoro."

"Sunyi-senyap benar. Sebentar lagi ayam berkokok..."

"Ah, Bendoro, Bendoro, ben ... do ..." dengan suara terengah-engah.

Tinggal angin kini berjingkrak merajai alam ...

Dan waktu pun merangkak terus, kadang-kadang saja melompat tanpa irama.

tbc...