Gadis Pantai


Original Story

Roman Gadis Pantai by Pramoedya Ananta Toer

Karena saya sangat kagum dan suka pada roman ini, maka disini saya akan mengubah Roman Gadis Pantai menjadi versi chanbaek.

Saya bukanlah pengarang aslinya. Saya minta maaf yang sebesar-besarnya jika ada yang tidak berkenan Roman ini saya jadikan versi chanbaek.

Selamat membaca~

Muahh :)


Bagian Keenam


BAEKHYUN MEMASUKI TAHUN PERKAWINANNYA yang kedua.

Kini setiap sebulan sekali ia terpanggil ke ruang tengah. Bendoro Chanyeol, suaminya, duduk pada kursi yang terbalik arahnya, sedang ia sendiri dengan sebuah jepitan bambu menjepit lintah-lintah seekor demi seekor dari stoples, dan diletakkan pada tengkuk, pelipis, kening, juga lengan Bendoro Chanyeol.

"Ya, ya letakkan di sini..."

"Sini, Bendoro?"

"Ke bawah sedikit, beberapa jari ke bawah, ya situ selalu terasa pegal."

Demikianlah setiap bulan. Dan binatang-binatang yang kurus kering itu menempel dengan letaknya, punggungnya menggelinjang, berombak-ombak, menghisap darah Bendoro Chanyeol dengan rakusnya, semenit, lima, sepuluh, lima belas, dan berubahlah binatang-binatang langsing itu jadi bola-bola bening dengan jeroannya yang nampak coklat gelap.

Bila sudah demikian, Baekhyun menjaga jatuhnya binatang-binatang yang kekenyangan dengan selembar karet sarang tawon.

Binatang-binatang itu tak boleh jatuh ke lantai.

Dia tidak boleh jadi pecah dan binasa.

Dia harus dikembalikan ke dalam stoples.

Dan bila pekerjaan yang membutuhkan keuletan kesabaran itu selesai, pasti terdengar Bendoro Chanyeol mengucap syukur memuji kegunaan binatang-binatang purba itu. Binatang pun tahu berdagang. Rupa-rupanya dagang bukan pekerjaan luar biasa.

Lihat! Dan ditunjuknya binatang-binatang itu.

"Itu si Kempul, ini si Karti, itu si Kutil, Ah, mengapa pula namanya si Kutil. Ini si Gempal. Itu si Kunyuk. Itu pedagang-pedagang tulen. Dia terima darahku, dia berikan padaku kesehatan, Mas Nganten, apa mereka tak bijaksana dan berbudi?"

"Terlalu berbudi Bendoro."

"Aku tak jadi kaya karena pemberiannya. Mereka pun tak jadi kaya karena pemberianku. Itulah kebijaksanaan."

"Sahaya, Bendoro."

"Selesai sudah kerja lintah - sekarang pergilah."

Dan ia pergi balik ke kanan jalan menuju ruang belakang, kadang langsung menuju sasaran, kamarnya sendiri, kadang ke tempat ia biasa membatik. Tapi, baik ia pergi ke kamar maupun terus kerja atau belajar, hatinya selalu kecewa.

Sudah memasuki tahun perkawinan kedua, tak pernah hasratnya terkabul.

Suatu kali Bendoro Chanyeol mempersilakannya menemani duduk-duduk di ruang tengah. Dalam hatinya, demi mengabdi pada Bendoro, sengaja ia tindas kenangan dan kangennya pada kedua orang tuanya, pada saudara-saudaranya.

Pengabdian ini tak boleh cacat, tak boleh merosot dalam penglihatan dan perasaan Bendoro Chanyeol.

Bicara tentang saudara-saudara dan orang tua ia tak mau, biar tidak merusak kewajiban pengabdian yang kokoh. Wanita tua itu telah mengajari bagaimana menjadi bangsawan sejati, jadi ningrat, jadi orang atasan.

Dua tiga kali Bendoro bertanya, "Kau tak ingin lihat orang tuamu?"

"Tidak Bendoro, sahaya lebih suka melayani Bendoro."

Dan Bendoro selalu tertawa senang.

"Tapi kau anaknya, kau bukan hanya istriku."

"Sekarang ini kewajiban sahaya adalah mengabdikan diri pada Bendoro. Orang tua sahaya dapat menolong diri sendiri tanpa sahaya, Bendoro."

"Tak pernah kau kirim utusan ke sana?"

"Tidak Bendoro."

"Tentu aku percaya. Tak pernah kirim uang atau pakaian ke sana?"

"Tidak Bendoro."

"Aku percaya, tapi mengapa?"

"Saya tak berani Bendoro. Sahaya hanyalah sahaya."

Dan sudah tiga kali ini, percakapan semacam itu mati tanpa sambungan.

Tentu.

Baik di kamar maupun di tempat kerja, dengan sendiri Baekhyun kontan teringat dan kangen kepada orangtua dan saudara dan mulailah pekerjaan berat menindas perasaan. Cuma doa saja yang dapat menghibur hatinya, moga-moga keadaan semua berubah, dan ia dapat membalas budi dan segala jerih payah orang tua, terutama bapak yang selalu menentang maut buat menghidupinya.

.

.

.

Ia telah memasuki tahun perkawinan kedua, mendekati umur keenambelas dan keadaan tidak pernah berubah.

Kini ia harus lebih banyak berpikir sendiri, mengambil putusan sendiri, bertindak sendiri. Wanita tua itu makin lama makin tak dapat memberi apa yang ia butuhkan. Ia tak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaannya, ia harus makin memikirkan dirinya sendiri.

Malah pada suatu kali ia merasa jengkel, karena jawaban yang pendek tanpa sesuatu keterangan.

"Bagi wanita yang masih muda, Mas Nganten, sebenarnya tak ada kesulitan hidup di dunia, apalagi kalau ia cantik, dan rodi sudah tak ada lagi."

Ia mengerti wanita itu menyindir dirinya.

Ia diam saja.

Mau juga ia pada suatu kali membalas menyindir, tapi masih banyak bantuannya yang dibutuhkan.

Pada suatu kali ia memberikan perintah pada sanak kerabat yang tinggal di situ untuk membongkar kamar, menjemur segala yang ada. Dan di sore hari waktu semua sudah diletakkan ditempatnya kembali, dan kamar itu menyebarkan bau kapur yang setengah kering, diketahuinya dompetnya sudah tidak tersimpan aman lagi di dalam laci meja hias.

Yang demikian baru sekali terjadi.

Sekaligus ia berpendapat pasti bukan pelayan tua yang melakukannya, ia hanya seorang sahaya.

Dia tak akan merusak kehidupannya yang telah tua. Tak pernah ia begitu ketakutan seperti waktu itu.

Apa harus dimakan besok, lusa, kalau uang tak ada? Apa harus dibelanjakan?

Buru-buru dipegangnya wanita tua itu. Ia lupakan sindirannya yang tajam, ia membutuhkan bantuannya, wanita tua itu mendengarkan, menatapnya dengan mata kuyu seperti kehilangan semangat, dan:

"Tidak, bukan mBok, yang kutuduh. mBok tak akan lakukan itu. mBok cukup minta padaku, dan aku akan beri, biarpun sampai sekarang mBok tak pernah minta dan tak mau diberi. Tapi apa mesti kulakukan kalau, kalau ... kalau ... kita semua toh musti makan? Bagaimana aku harus ganti uang itu?"

"Siapa yang Mas Nganten duga?"

"Mana aku berani menduga? Aku sendirilah yang bersalah. Mungkin aku sendiri yang kurang hati-hati. Seperti kata mBok, kurang hati-hati sama juga tidak jujur."

"Tak ada orang lain masuk ke kamar selain Agus."

"Ya cuma Agus."

"Duduk tenang-tenang, Mas Nganten biar sahaya coba usut."

Ia pergi, dan Baekhyun mulai sibuk kembali memeriksa sana sini tapi tanpa hasil. Apakah mungkin bangsawan-bang-sawan muda mencuri? pikirnya.

Dan pikiran itu sungguh-sungguh menyiksa. Bangsawan! Ningrat!

Orang atasan yang ditakdirkan buat memerintah orang bawahannya.

Mungkinkah mereka bisa mencuri? Mereka? Ia bebaskan pikiran itu dari otaknya. Syirik! Ia berteriak dalam hatinya, itu pikiran syirik menyangkal takdir! Tentulah aku sendiri yang salah, aku telah lupa tempat menyimpannya!

Aku sendiri orang bawahan, orang rendahan, orang kebanyakan. Hanya orang-orang yang seperti aku yang mencuri.

Tak ada bujang dapur yang berani masuk ke mari! Jangankan ke mari ke belakang pun tidak. Pencuri! Pencuri!

Baekhyun mendapat serangan saraf - ia mau menjerit, tapi mulutnya dibungkamnya. Bapak emak ampunilah anakmu ini. Ampuni ia. Tak ada orang atasan bisa dan boleh disalahkan. Mereka ditakdirkan buat memerintah.

Ya bapak, emak! Ia teguk habis air teh segelas yang terletak di atas meja. Ketegangan sarafnya mereda sejenak, dan jantungnya berdebaran kencang waktu wanita tua itu masuk kembali ke dalam kamar.

"Saya telah panggil agus-agus, periksalah mereka, Mas Nganten."

"Apa?" Pekiknya tak terkendali.

Dan waktu ia menyadari dirinya, suaranya diturunkan jadi bisikan ketakutan.

"Mana mungkin? Mana mungkin? Mereka kerabat Bendoro Chanyeol."

"Periksalah mereka. Tanyailah mereka," desak wanita tua itu sambil memimpinnya ke luar kamar.

Wanita tua itu merasai tangan Baekhyun menggigil waktu menghadapi para kerabat Bendoro Chanyeol yang pada berdiri di depan pintunya.

Tanpa diduga sebelumnya dengan gagah berani ia mulai angkat bicara. Ia telah bertindak sebagai jaksa:

"Gus, jangan susahkan Mas Nganten, siapa merasa ambil uang Mas Nganten? Itu uang belanja. Kalau tak dikembalikan besok semua terpaksa tak makan. Bendoro Chanyeol sendiri juga tak makan. Kembalikan uang itu."

Dengan mata berapi-api pemuda kerabat-kerabat Bendoro itu menentang mata Baekhyun.

Dan wanita tua itu merasai tangannya menggigil, wajahnya lesu. Dikencangkan pegangannya untuk memberanikan wanita utama itu. Dengan mata berapi-api karena merasa dihina, seorang pemuda angkat bicara:

"Kau pikir apa kami ini? Orang kampung? Orang dusun? Orang pantai yang tidak pernah lihat duit?"

"Apa ini semua maksudnya menghina kami?" yang lain lagi menyerang.

"Kami bukan bermaksud menghina agus-agus. Bukan. Ada kesulitan bersama, agus-agus. Siapa yang tahu uang itu dipindahkan? Siapa tidak bakal kena murka besok kalau Bendoro Chanyeol mengetahui? Semua kena!"

"Persetan!" seorang lain lagi mendesis.

"Dikiranya kami ini maling kelaparan dari kampung nelayan?"

Baekhyun tersedan-sedan.

"Kami ini anak sekolahan, tahu pengajaran."

"Dituduh bandit?"

"Kalau air mata bisa tebus hinaan ini, betapa murahnya itu!"

Baekhyun terserang demam saraf dan memekik, "Akulah anak kampung nelayan. Akulah pencurinya. Aku!" dan kemudian meraung, "Aku! cuma aku yang yang mungkin mencuri: Aku! Aku!" dan dipeluknya pelayan tua itu.

Mendengar pekik dan raung pemuda-pemuda itu berpandang-pandangan ketakutan. Bujang-bujang dapur pada berdiri di depan pintu dapur mengawasi adegan itu. Dan wanita itu menepuk-nepuk Baekhyun, "Baik, tidak ada yang mengaku. Sahaya cuma orang kampung. Cuma Sahaya. Tapi sahaya tahu apa mesti sahaya perbuat, agus-agus."

Nampak pemuda-pemuda itu menjadi pucat dan berpandang-padangan satu sama lain.

"Ayoh, kembalikan itu uang!" Tak ada yang menjawab.

"Baik, tunggu agus-agus di sini. Sahaya akan urus. Sahaya akan tunjukan orang kampung juga mengerti bagaimana berbuat. Tunggu di sini bendoro-bendoro kecil, dan ia bimbing Baekhyun menuju pintu ke ruang dalam.

"Tunggu!" seorang di antara para pemuda itu menengahi.

"Bagaimana kalau kita rundingkan baik-baik dahulu?"

Baekhyun dan pelayan tua itu kini terhenti memunggungi pintu, menghadapi pemuda-pemuda itu. Baekhyun tetap menunduk ketakutan, sedang pelayan tua itu meradang menantang. Dengan suara perlahan, sopan dan hati-hati pelayan tua mengacarai, "Apakah yang masih bisa dirundingkan?"

"Kau mau mengadu?"

"Bukankah kewajiban kita mendudukkan kembali apa yang tidak benar?" tangkis pelayan tua itu.

"Kita? Apa maksudnya dengan kita?"

"Kau harus ingat, ingat mBok," pemuda yang tergarang di antara semuanya menghantam, "kami adalah kerabat terdekat. Orang-orang kampung yang tinggal di sini, kapan saja bisa pergi dari sini buat mati kelaparan di luar sana. Kami tinggal di sini. Tinggal tetap di sini, biar seribu orang kampung ke luar dari sini setiap hari, mengerti?"

Baekhyun tersedan-sedan. Ia rangkul kembali pelayan tua itu berbisik di antara sedan-sedannya:

"Aku ke mari bukan karena melarikan diri dari kelaparan."

"Tentu Mas Nganten." Pelayan itu meneruskannya kepada pemuda-pemuda, "Mas Nganten pergi ke mari bukan karena lari dari kelaparan, laut tetap kaya takkan kurang, cuma hati dan budi manusia semakin dangkal dan miskin. Lihat saja ini, uang di rumah dikelilingi tembok begini bisa hilang."

"Terang-terang saja mBok menuduh kami mencuri?"

"Aku cuma bilang," pelayan tua itu jadi kasar, "kembalikan uang itu! Di sini ada hukum. Kalau hukum tidak ditaati lagi, mari, mari kita panggil hakim."

"Kau jangan kurang ajar mau panggil hakim, mBok. Kau sendiri bakal celaka."

"Orang kampung semacam sahaya ini, bendoro muda, kelahirannya sendiri sudah suatu kecelakaan. Tak ada sesuatu yang lebih celaka, dari nasib orang kampung. Ayoh, mau berunding apa lagi? Kembalikan tidak uang itu?"

"Baik-baik, carilah hakim itu, biar dia adili kau sendiri!"

"Baik, mari mas Nganten," pelayan itu memapah Baekhyun masuk ke dalam ruangan tengah.

Bendoro Chanyeol sedang duduk senang di atas kursi malas. Sebuah meja kecil berdiri di sampingnya. Di atasnya terletak sebuah stoples kristal berisi biskuit buatan negeri Belanda, sedang sebilah capit perak tergeletak di sampingnya. Sinar matahari sore jatuh melimpah-limpah pada deretan tafsir yang sedang dibacanya.

"Ampun Bendoro," pelayan tua itu memelas setelah menggelesot di lantai. Juga Baekhyun duduk menggelesot di lantai.

Bendoro Chanyeol menutup tafsir.

Melepas kacamatanya, meletakkannya di pangkuan dan bangkit duduk dari rebahnya, memandang ke samping bawah pada kedua wanita itu, lemah lembut ia bertanya, "Hemmmm?"

"Ampun sahaya, Bendoro Chanyeol, sebentar lagi bendoro masuk khalwat bersembahyang magrib, semoga tidak mengganggu sembahyang Bendoro. Tapi soal ini...soal ini, uang...ah."

"Uang Mas Nganten hilang?" Bendoro Chanyeol meneruskan dengan tanya.

"Ampun," Baekhyun menjawab sambil semakin menundukkan kepala, dengan kedua tangan menjagangkan pada lantai.

"Kau kurang hati-hati. Uang itu biar rejeki dari Tuhan sekalipun, tidak jatuh begitu saja dari langit."

"Ampun Bendoro," sekali lagi Baekhyun bersuara semakin perlahan.

"Dan kau, mBok Kyungsoo apa yang kau ributkan?"

"Ampun bendoro uang itu hilang."

"Aku tahu uang itu hilang. Apa yang kau ributkan?"

Pelayan tua tak menjawab. Kedua belah tangannya menggigil, sehingga tubuhnya yang bertunjangan pada tangannya meliuk-liuk sedikit.

"Jiyong!" Bendoro Chanyeol memekik.

Dari kejauhan terdengar suara sahutan. Dan beberapa detik kemudian muncul seorang anak muda menyembah sebelum memasuki pintu dan duduk menggelesot di lantai, di belakang kedua wanita itu.

"Panggil semua agus ke mari."

Jiyong menyembah lagi - hilang dari pandangan dan segera kemudian muncul pemuda-pemuda itu seorang demi seorang dari pintu ruang belakang. Mereka masuk tanpa menyembah, hanya langsung duduk di lantai di samping kedua wanita itu. Semua bersila dan merenungi lantai.

"Siapa ambil uang itu?" Bendoro Chanyeol bertanya perlahan tanpa melihat pada mereka, tapi justru pada lembaran-lembaran tafsir yang mulai dibuka kembali.

Tiada jawaban.

"Benar? Tidak ada yang mau menjawab?" Tiada berjawab.

Bendoro Chanyeol tertawa perlahan. Baekhyun mengangkat muka untuk melihatnya.

Dilihatnya Bendoro Chanyeol sedang mulai membaca tafsirnya. Tapi terdengar suara perlahannya.

"Sejak jaman Nabi memang sudah ada hamba-hamba iblis."

Ia mendengarkan tawa ejekan.

"Maling. Siapa heran ada maling selama iblis ada? Tapi maling pun butuh kehormatan, semakin dia tidak punya kehormatan diri."

Tiba-tiba ia tutup tafsir itu dengan kasarnya sehingga berdetak. Semua mereka yang duduk di lantai mengangkat pandang. Tapi segera dilihat mereka Bendoro Chanyeol dengan kasar sedang lemparkan pandang ke arah mereka, mereka menunduk kembali.

"Siapa tidak mengerti?" Bendoro Chanyeol bertanya dengan suara mengancam.

Setiap orang yang duduk di lantai semakin dalam tunduknya.

"Ya, semua mengerti, itu penting buat dipahami. Tapi apa kehormatan itu?"

Diam sejenak tak seorang berani bergerak.

"Taehyung, apa kehormatan itu?" Tak berjawab.

"Pertanyaan dibuat untuk dijawab, Taehyung," suaranya menurun jadi lembut kembali.

"Berapa tahun kau sudah tinggal di sini? Tujuh? Kau tak mau menjawab pertanyaanku? Jawabanmu mau kudengar. Hanya jawaban. Kau takkan rugi apa-apa."

"Sahaya, pamanda."

"Apa itu kehormatan?" Tak berjawab.

"Tapi kau tahu artinya maling?"

"Sahaya, pamanda."

"Kau tak tahu apa arti kehormatan?" Tak berjawab.

"Jadi sampai di mana kau belajar mengaji? Benar-benar kau tak tahu maknanya?" Tak berjawab.

"Jadi kau tidak punya kehormatan?"

"Sahaya, pamanda."

"Kau malingnya!"

"Tidak, tidak, pamanda sahaya bukan maling. Sahaya tahu makna maling. Dan sahaya tahu sahaya bukan maling."

"Apa penjelasannya, maka kau bukan maling?"

"Tidak ada bukti dapat dikemukakan sahaya seorang maling, pamanda."

"Siapa guru ngajimu?"

"Haji Masduhak, pamanda."

"Apa sabda Rasullulah kalau bukti itu ada?"

"Disumpah, pamanda."

"Berani kau disumpah?"

"Pamanda yang memutuskan."

"Namjoon! Haji Masduhak juga gurumu? Kau, Namjoon, apa kata gurumu tentang kemunafikan?"

"Ampun, pamanda, sahaya tiada hafal."

"Berapa umurmu?"

"Sembilan belas, pamanda."

"Kau duduk di kelas berapa?"

"Enam, pamanda."

"Sini, kau berdiri di hadapanku."

Pemuda Namjoon beringsut-ingsut dari duduknya sampai di hadapan Bendoro Chanyeol, ia tetap duduk menggelesot di lantai.

"Kau dengar aku Namjoon? Berdiri?"

"Ampun, pamanda," dan Namjoon tetap tidak berdiri.

"Jimin," panggil Bendoro Chanyeol pada pemuda yang lain.

"Sahaya, pamanda."

"Apakah guru ngajimu sama dengan Taehyung?"

"Sama, pamanda."

"Sama dengan Namjoon?"

"Sama, pamanda. Haji Masduhak."

"Gurumu Haji Duhak itu pernah dia ajari kalian tentang ciri-ciri kemunafikan?"

"Pernah, pamanda."

"Kau, masih ingat?"

"Sahaya pamanda."

"Kau lihat Namjoon menolak perintahku. Apakah itu munafik?"

"Tidak menurut Ustad, pamanda."

"Jadi apa itu munafik?"

"Kelihatannya suci dan setia, tapi sebenarnya tidak, pamanda."

"Namjoon!" panggil Bendoro Chanyeol tegas-tegas.

"Apa sebabnya uang itu kau ambil?" Tiada jawaban.

"Terkecuali wanita-wanita ini dan Namjoon, semua harus pergi."

Pemuda-pemuda yang diperintahkan beringsut-ingsut mengundurkan diri dan sesampainya di pintu baru mereka berdiri dan lenyap dari pemandangan.

"Namjoon!"

"Ampun, pamanda. Ampunilah sahaya yang telah khilaf ini."

"Kau tidak lakukan kekhilafan, Namjoon."

"Ampuni kekhilafan sahaya, pamanda."

"Kau tak dengar aku? Kau tidak khilaf. Dengar! Orang tuamu telah kirimkan kau ke mari. Aku telah berikan rumah, sekolah segalanya terbaik bagimu. Aku berikan guru ngaji terbaik di kota ini. Aku berikan pengajaran terbaik di dunia ini. Sabda Allah dan nabi apakah yang masih kurang? Kalau semua ini tidak juga mencukupi bagi pendidikanmu, pergilah pada si guru yang lebih baik. Pergilah kau. Pergi! Aku tak sudi lihat tampangmu lagi seumur hidup. Pergi!"

Tanpa menjawab Namjoon bangkit berdiri dan meninggalkan ruangan.

Semua mata mengikutinya. Dan waktu ia telah hilang di balik pintu, kembali suara Bendoro Chanyeol terdengar:

"mBok Kyungsoo, kau mau lawan kejahatan ini dengan tanganmu, tapi kau tak mampu. Maka itu kau lawan dengan lidahmu. Kau pun tak mampu. Kemudian kau cuma melawan dengan hatimu. Setidak-tidaknya kau melawan."

"Sahaya Bendoro."

"Itu baik sekali."

"Siapa ajari kau berbuat begitu?"

"Pengalaman dan perasaan seumur hidup inilah, Bendoro."

"Kalau begitu pengalaman dan perasaan itu belum lagi cukup."

"Sahaya, Bendoro."

"Tahu kau di mana kekurangannnya?"

"Kalau tidak khilaf, tahulah sahaya Bendoro."

"Aku ingin tahu kekurangan itu."

"Kekurangan sahaya ialah ...ialah...ialah karena sahaya terus berusaha bersetia pada Bendoro Chanyeol dan melakukan segala yang dijadikan kewajiban sahaya, karena itu sampai-sampai berani menggugat agus-agus bendoro-bendoro muda."

"Tepat."

"Sahaya Bendoro."

"Jadi kau tahu hukumannya."

"Bagi orang semacam sahaya, Bendoro, sebenarnya tidak ada hukuman lagi. Hidup pun sudah hukuman."

"Syirik! tak tahu bersyukur pada Tuhan."

"Sahaya, Bendoro."

"Pergi kau. Sekarang juga tak perlu injakkan kaki di rumah ini, jangan pula di pekarangannya."

"Sahaya, Bendoro."

"mBok, mBok!" Baekhyun meraih tangan pelayan tua itu. "Ampuni dia, Bendoro, Ampuni dia."

"Jangan buat bising! Kembali kau ke kamarmu sendiri."

Pelayan wanita itu beringsut-ingsut mundur menyembah kemudian mencapai pintu. Dan Baekhyun mengikuti contohnya. Di ruang belakang kedua wanita itu berdiri. Dan di hadapannya telah menunggu bangsawan-bangsawan muda dengan sikap yang masih juga menantang.

"Apa aku bilang?" seorang menegur. "Kaulah yang terusir."

Pelayan tua tak menjawab sedang Baekhyun menariknya masuk ke dalam kamarnya.

"mBok, mBok sudah tahu, bakal beginilah kejadiannya. Mengapa mBok lakukan juga? Apa aku mesti perbuat tanpa mBok?"

"Biar sahaya ceritai, Mas Nganten, mungkin ini buat penghabisan kali. Mas Nganten masih ingat cerita sahaya tentang kakek sahaya yang ikut berontak bersama Pangeran Diponegoro? Ya Mas Nganten masih ingat,bukan? Seorang penewu (penewu (Jawa), wakil wedana.) pernah mengurniainya wejangan: Kau tidak mengabdi kepadaku, man, tidak, man! Kalau kau cuma mengabdi kepadaku, kalau aku tewas dan kau tinggal hidup, kau mengabdi kepada siapa lagi? Kau cari Bendoro baru kalau dia juga tewas? Tidak man, tidak. Kau mengabdi pada tanah ini, tanah yang memberimu nasi dan air. Tapi para raja dan para pangeran dan para bupati sudah jual tanah keramat ini pada Belanda. Kau hanya baru sampai melawan para raja, para pangeran dan para bupati. Satu turunan tidak bakal selesai, man. Kalau para raja, pangeran dan bupati sudah dikalahkan, baru kau bisa berhadapan pada Belanda. Entah berapa turunan lagi. Tapi kerja itu mesti dimulai."

"Aku tidak mengerti, mBok." Ia pegangi tangan pelayan tua itu.

"Jangan buru-buru pergi. Bisa aku ikut denganmu, mBok?"

"Tidak, Mas Nganten, tidak bakal lama lagi Mas Nganten bakal mengerti wejangan itu. Ayah sahaya teruskan wejangan itu pada sahaya, dan sahaya teruskan pada Mas Nganten. Sekarang Mas Nganten belum mengerti, tapi pengalaman bakal membuat Mas Nganten memahaminya baik-baik. Tuhan senantiasa melindungi Mas Nganten hendaknya."

Dan ia pun bergegas pergi.

Baekhyun tertinggal seorang diri di kamarnya, tercabut dari seluruh kekuatan dan tenaganya.

Nafasnya megap-megap, tubuhnya meliuk di atas kursi, kedua belah tangannya terkulai di atas meja, dadanya turun naik, sedang matanya merah Jingga sebak, dengan pandangan tidak menentu. Ingatannya menangkap dan menggenggam kata-kata pelayan tua itu, tapi ia tak mengerti, terdengar seperti sebuah mantra.

tbc...