Gadis Pantai


Original Story

Roman Gadis Pantai by Pramoedya Ananta Toer

Karena saya sangat kagum dan suka pada roman ini, maka disini saya akan mengubah Roman Gadis Pantai menjadi versi chanbaek.

Saya bukanlah pengarang aslinya. Saya minta maaf yang sebesar-besarnya jika ada yang tidak berkenan Roman ini saya jadikan versi chanbaek.

Selamat membaca~

Muahh :)


Bagian Ketujuh


BAPAK SELALU MENGUCAPKAN MANTRA bila hendak tinggalkan darat.

Dan tak pernah ia mengerti makna kata-katanya.

Hari-hari meluncur sendat, tertegun, setelah pelayan tua itu lenyap dari kehidupan gedung besar berkurung pagar tembok tinggi itu. Bila tadinya Baekhyun hidup sebagai pendiam karena terpaksa, kini ia jadi pendiam karena kehilangan hasrat untuk bicara.

Orang sebaik itu keluhnya dalam hati selalu. Orang sebaik itu! Orang sebaik itu!

Dan untuk mengisi hari-harinya yang lamban menyebalkan ia menenggelamkan diri dalam kerja batik.

Ingin ia menghadiahkan salah sebuah batik tulisnya pada wanita tua itu.

Tapi di gedung ini tak ada orang menyebut-nyebutnya, tak ada yang tahu dimana ia tinggal. Tak pula punya perhatian ke mana perginya.

Mereka yang telah keluar dari gedung ini, bila bukan kerabat Bendoro Chanyeol, adalah laksana roh-roh yang tidak punya suatu bekas. Mungkin hanya Baekhyun yang mau dan selalu mengenangnya.

Musim hujan datang lebih cepat dari seharusnya. Angin kencang antara sebentar mendesak dengan kekuatan besar dari timur-laut, mengangkat sampah dan pasir pantai, pasir alun-alun yang mulai gundul karena kemarau, menerobosi pintu dan jendela, masuk ke dalam kamar bahkan juga ke dalam lemari pakaian dan makan.

Masa demikian adalah masa banyak mendo'a di kampung nelayan.

Dahulu Baekhyun tak pernah bersungguh-sungguh mendo'a. Tapi kini dirasanya hasrat untuk mengucapkan permohonan pada Tuhan agar seluruh nelayan dilindungi dari marabahaya, agar angin tidak terlalu kencang, agar ombak tak terlalu jahat, dan agar ikan menjadi jinak.

Pada suatu pagi dalam hujan lebat, empat orang wanita dalam keadaan basah kuyup masuk ke dalam dapur. Seorang di antara mereka diantarkan oleh Daesung datang kepadanya.

"Mas Nganten," Daesung memulai, "pelayan baru buat Mas Nganten."

Baekhyun meletakkan cantingnya, dan mori yang baru setengah terbatik ia gulung dan gantungkan pada jagangnya.

"Apa harus kupanggil kau?" Baekhyun bertanya.

"Mas Nganten, nama sahaya Luhan."

"Itu bukan nama orang desa."

"Sahaya lahir di kota. Mas Nganten. Di Semarang."

"Berapa umurmu?"

"Empat belas, Mas Nganten."

"Belum ada laki?"

"Janda Mas Nganten."

Baekhyun tertegun. Ditatapnya wanita muda itu. Lebih tinggi dari dirinya. Air mukanya begitu jernih dan ceria, gerak-geriknya cepat tanpa ragu-ragu.

"Di mana pernah kerja?"

"Di kabupaten Demak, Mas Nganten."

"Mengapa keluar dan kerja di sini?"

"Sahaya diperintahkan Bendoro Puteri Demak bekerja di sini, Mas Nganten."

"Apa hubungannya Bendoro Puteri Demak dengan aku?"

"Mana sahaya tahu, Mas Nganten? Sahaya cuma jalankan perintah."

"Engkau terlalu cantik buat pelayanku, juga terlalu muda."

Tiba-tiba Baekhyun terkejut dengan ucapannya sendiri. Tiba-tiba ia pun menduga pelayan muda ini berseri bebas dan ceria itu sadar akan kelebihan-kelebihannya.

Ah, mengapa dia dikirim ke mari? Ia teringat pada mBok yang telah pergi. Ah, tidak! Kini aku harus berfikir sendiri, berbuat sendiri tanpa siapapun. Dan untuk pertama kali dalam hidupnya ia mulai belajar curiga.

Apa sebabnya wanita muda berumur empat belas dikirimkan kepadaku?

Dan dengan sendirinya mengiang-ngiang kembali suara pelayan tua itu: Sekarang Mas Nganten belum mengerti, tapi pengalaman akan membuat Mas Nganten memahaminya baik-baik!

Sekarang ia belajar memahami, mencurigai.

Tak lebih dari dua hari kedatangan Luhan, terjadi suatu peristiwa.

Sore hari ketika Baekhyun merasa tak nyaman, dan bertiduran di ranjangnya. Luhan masuk ke kamarnya dan duduk di kursi.

"Sinilah sebentar," Baekhyun memanggil.

Luhan langsung duduk di kasur.

"Apa Bendoromu yang dulu tidak marah padamu kau duduk di kursi?"

"Bendoro tidak pernah lihat sahaya duduk di kursi."

"Apa Bendoromu yang dulu tidak pernah marah melihat kau duduk di kasurnya seperti

ini?"

"Bendoro tidak pernah lihat sahaya duduk di kasur."

"Aku tidak marah padamu."

"Tentu saja."

"Mengapa tentu saja?"

"Karena Mas Nganten bukan Bendoro sahaya."

"Lantas siapa Bendoromu?"

"Bendoro sahaya, ya, Bendoro Chanyeol sendiri."

"Dan aku?"

"Ah, Mas Nganten. Mas Nganten kan orang kampung?"

Jantung Baekhyun terguncang.

Dengan sendirinya ia bangkit dan duduk, menantang wajah Luhan. Tapi ternyata Luhan membalas tatapan matanya tanpa sedikit pun ragu-ragu.

Melihat mata yang berapi-api, Baekhyun menjadi takut, menyesali diri.

"Benar, aku orang dari kampung, dan aku tidak menyesal berasal dari kampung. Siapa kau sebenarnya?"

"Yang jelas, sahaya bukan berasal dari kampung."

"Apa hinanya orang kampung?"

"Setidak-tidaknya dia sebangsa kuli."

Untuk kedua kali Baekhyun terguncang. Ketakutan menjamah seluruh batinnya. Ia mencoba memberanikan diri.

"Jadi buat apa kau datang ke mari?"

"Yang jelas bukan buat mengabdi pada Mas Nganten."

"Lantas buat apa kau mendekam di kamar ini?"

Luhan tak menjawab. Ia hanya tersenyum. Kemudian membuka mata, sedang giginya yang tampak tak terhitami oleh sirih kapur dan pinang atau pun sugi itu gemerlapan menantang.

"Mas Nganten," katanya perlahan.

"Sahaya bisa baca bisa tulis, Mas Nganten bisa?"

Untuk ketiga kali dalam sehari Baekhyun terguncang.

"Apa bapak Mas Nganten? Nelayan, bukan? Benar, sahaya tidak salah. Mas Nganten tahu siapa orang tua sahaya? Pensiunan juru tulis."

Untuk keempat kali jantung Baekhyun terguncang.

Luhan tertawa menang dan senang, tapi tak melanjutkan. Baekhyun turun dari ranjang. Diperiksanya seluruh lemari dan laci, dikuncinya yang belum terkunci, meninggalkan kamar menuju ke kebun belakang.

Tanah sehabis hujan kemarin sore berwarna coklat tua, sedang butiran-butiran putih kulit kerang yang terhampar membuat tanah berwarna coklat itu silau gemerlapan kena cahaya matahari. Uap yang membumbung dari tanah membuat nafas jadi berat dan sesak.

Baekhyun duduk di atas bangku kebun di bawah pohon mangga tanaman Bendoro Chanyeol beberapa tahun lalu.

Sekarang Mas Nganten belum mengerti, tapi pengalaman membuat Mas Nganten memahami baik-baik, terngiang kembali wejangan pelayan tua itu.

Jadi ini adalah permulaan.

Ia tak dapat memikir, ia tak tahu pada siapa ia harus adukan hal dan kesulitannya. Setidak-tidaknya kejadian begini tidak bakal terjadi di kampungnya - kampung nelayan pinggir pantai.

Seorang demi seorang di antara keluarganya terbayang: ayahnya yang sedang mengangkat jala, melompat dari perahu turun ke darat, emak sedang menumbuk udang kering, abang-abangnya sedang menambal lunas pada buritan perahu, dengan samar adik-kecilnya sedang memperbarui cat pada pahatan hiasan pada lambung dan haluan perahu... dan terbayang juga dirinya sendiri sedang bertanak nasi-jagung.

Bertanak nasi-jagung!

Ah, itu dua tahun yang lalu. Sekarang ia tak pernah bertanak Tak pernah menyambal. Tak pernah mencuci piring dan cobek. Dengan lenyapnya kampung nelayan dalam hidupnya lenyap pula laut yang tiada bertepi. Dunianya kini hanyalah kamarnya, dengan beberapa meter radius sebagai lapangan bergerak.

Tiba-tiba pikirannya menangkap Daesung. Mungkin orang itu mau menyampaikan halnya pada Bendoro Chanyeol. Tapi segera kemudian dicegahnya sendiri pikirannya itu. Tidak! Aku harus selesaikan sendiri. Rumah ini harus selamat. Bendoro Chanyeol harus bebas dari segala kesulitan, bebas dari pikiran tentang istrinya.

Tidak! Tidak! Aku harus selesaikan sendiri semua. Semua! Semua!

Ia meronta bangun, dengan langkah tegap menaiki jenjang ruang belakang, langsung menuju kamar. Didapatinya Luhan telah bertiduran di ranjangnya.

Dengan langkah tegap itu pula ia langsung menghampiri Luhan.

"Orang kota, bangun! Menurut ukuran orang kampung tidaklah sopan tidur di tempat orang lain tanpa ijin."

Luhan tertawa dan bangkit sendiri.

"Rupa-rupanya kau bisa menggeletak dan terlentang di mana-mana, di mana saja."

Ternyata Luhan kebal tusukan kata. Ia masih juga tertawa.

Dan tanpa terduga oleh Baekhyun keluar kata-katanya: "Ini, Mas Nganten," sambil menunjuk-nunjuk dadanya sendiri, "tak lain dan tak bukan adalah tubuh sahaya sendiri. Terserah pada sahaya di mana sahaya taruh dan sahaya geletakkan."

"Tidak. Tidak terserah padamu semata-mata. Keluar kau dari kamar ini! Jangan masuk lagi. Keluar!"

Lenyaplah tawa dari wajah Luhan. Dengan mata berapi-api ditantangnya Baekhyun dan dengan suara mengancam ia menyatakan,

"Tidak mungkin orang kampung memerintah anak priyayi. Tidak bisa. Tidak mungkin."

Tapi Baekhyun telah menudingnya tepat pada matanya.

"KELUAR!"

Luhan dengan kasar melemparkan lengan yang menuding matanya. Tapi Baekhyun menuding dengan tangannya yang lain.

Kemudian, "juh!" dan sepercik ludah bertengger pada hidung Luhan.

.

.

.

Tidak kurang dari seminggu lamanya Luhan tak pernah muncul di kamar Baekhyun. Ia tinggal di dapur. Dan karena bukan seorang pekerja dapur, ia hanya duduk-duduk di sana sambil mengobrol dengan para pekerja dapur.

Saban pagi Baekhyun turun dari kamarnya, memasuki dapur dan mengawasi santapan yang akan dihidangkan pada suaminya. Ia cicipi semua untuk menentukan baik tidaknya dihidangkan, kemudian ia tutup meja, setelah itu membatik.

Dalam seminggu ini bila ia masuk ke dapur, matanya tajam mengikuti segala gerak-gerik pelayannya. Tapi tiada sepatah kata pun keluar dari mulutnya.

Pagi itu waktu ia kembali masuk ke dapur, dilihatnya Luhan telah menunggunya di belakang pintu. Dilihatnya wanita itu siap hendak menegurnya. Tapi Baekhyun jalan terus menuju tungku.

Demikian pula waktu ia hendak balik naik ke ruang belakang, dilihatnya Luhan masih berdiri di belakang pintu, tapi kali ini berhasil membuka suara, "Mas Nganten sana..."

Baekhyun berjalan terus tanpa menengok.

Luhan memburunya dan menghadang jalannya.

"Mas Nganten," tegurnya, dan hadangan itu membuat kedua orang itu berhadap-hadapan.

"Sahaya membutuhkan Mas Nganten."

"Bukankah aku bukan pelayanmu?"

"Tidak, tentu saja tidak. Tapi sahaya pun bukan pelayan Mas Nganten."

"Jadi pergilah dari sini. Yang aku butuhkan hanya pelayan."

"Biarlah sahaya melayani Mas Nganten."

"Maaf, aku tak butuhkan kau. Aku tahu mengapa kau di sini. Aku akan sampaikan sendiri pada Bendoro Chanyeol."

Luhan terdiam. Ia tak tahu apa mesti diperbuat. Nampak pikirannya kacau. Dan kesempatan itu dipergunakan Baekhyun untuk menyisihkannya dan meneruskan jalannya ke tempat pembatikan.

Tapi baru saja ia duduk di bangku rendah membatik, Luhan telah datang menghampirinya membawa batikan pula, juga ikut membatik.

"Mas Nganten," Luhan berbisik sehabis meniup cucuk cantingnya.

"Apa kerjamu di sini?"

"Sekarang ini membatik, Mas Nganten."

"Siapa menggaji kau?"

Luhan tak menyahut. Ia celupkan cantingnya ke dalam belanga kecil lilin cair dan melukis cucuk burung garuda di atas kain.

"Mas Nganten," Luhan memanggil lagi. Dan tanpa menunggu reaksi ia meneruskan. "Mas Nganten bisa membaca, bukan?"

Mengerti kelemahannya sendiri Baekhyun terdiam.

"Ada surat buat Mas Nganten."

"Aku tak membutuhkan surat dari siapapun."

"Tapi surat ini sangat penting."

"Tak ada yang penting bagiku kecuali satu."

"Tidak ada yang penting? Juga percintaan tidak?"

"Tidak, aku hanya tahu mengabdi pada Bendoro Chanyeol, lain tidak."

"Bodohnya Mas Nganten ini. Setiap istri pembesar mempunyai kesenangannya, yang satu main ceki, yang lain main cinta, tapi Mas Nganten cuma sibuk di rumah seperti pesakitan."

Baekhyun terhenti membatik. Sekaligus tergambar dalam ingatannya seorang pria bertubuh tegap, tidak begitu tinggi, kulitnya kehitaman, dan suaranya begitu tegas dan yakin, dan bijaksana: tamu Bendoro Chanyeol yang ia tak ketahui namanya. Ia tersenyum sedikit.

"Sahaya juga bekas istri pembesar, Mas Nganten."

Canting Baekhyun yang sedang terangkat dari belanga lilin ke arah batikan terhenti di tengah-tengah pengangkutan, jatuh ke lantai, dan lilin cair dalam canting itu pun tertumpah di atas lantai, mengental kemudian membeku.

"Berhentilah membatik bila canting jatuh," pelayan tua dulu sering memperingatkan.

"Ingatlah pada Bendoro Chanyeol, karena otakmu sedang diganggu iblis."

Sambil mengawasi Luhan yang sedang tersenyum menyindir, ia meletakkan canting di dalam kotak cerutu. Dan sebelum bangkit berdiri kembali ia awasi Luhan yang masih juga tersenyum mengawasinya.

"Siapa sedang Mas Nganten pikirkan?" Luhan bertanya.

Baekhyun kaget, bingung. Tahukah dia siapa aku pikirkan? Ia selamatkan wajahnya dari pandang Luhan .

Melangkah masuk ke dalam kamar, duduk termenung di atas kursi di dalam kamarnya. Dua tiga kali ia mengusap wajahnya. Ia ingin bicara. Ia ingin mengadukan halnya. Tak ada orang lain selama ini yang dapat diajak bicara selain Luhan. Beberapa malam ini Bendoro Chanyeol tidak mengunjunginya. Dan ia pun terlalu lelah sehingga tertidur tanpa sempat mengimpi.

Ia ingin bertemu dengan pelayan tua itu. Ia ingin mengadu kan halnya. Ia pun ingin tahu bagaimana halnya. Tapi yang ada cuma Luhan, hanya Luhan.

Dia ingin bicara.

"Luhan," panggilnya.

"Sahaya, Mas Nganten."

Dan sebentar kemudian Luhan masuk ke kamar berdiri di sampingnya agak beberapa meter menjauh.

"Katakan apa yang hendak kau katakan," Baekhyun memulai.

"Seorang pemuda gagah ingin berkenalan, Mas Nganten."

"Apa lagi?"

"Inilah suratnya Mas Nganten."

"Apa lagi?"

"Haruskah saya bacakan?"

"Tidak. Aku tak membutuhkan surat. Apa lagi hendak kau lakukan?"

"Apa Mas Nganten tak ingin tahu isi surat ini dan membalasnya?"

"Tidak. Apa lagi?"

Luhan terdiam.

"Kapan pergi dari rumah ini?"

"Kapan? Tapi ini bukan rumah Mas Nganten."

Sekarang Baekhyun terkejut.

"Jadi menurut pendapatmu, siapa aku ini?"

"Selir."

"Baiklah selir. Apa kau sebenarnya?"

"Sahaya."

"Kapan kau pergi?"

"Sahaya akan bicara sendiri dengan Bendoro Chanyeol."

"Kapan?"

"Belum tahulah sahaya."

"Baik, biar aku bawa kau pada Bendoro Chanyeol."

"Tidak. Tidak perlu."

"Bendoro Chanyeol pun tak tahu siapa kau."

"Tidak mungkin."

"Mari menghadap."

"Mari. Tapi tidak sekarang."

"Baik, tidak sekarang nanti jam dua siang."

"Baik. Tapi jangan jam dua."

"Baik," dan Baekhyun terdiam.

Luhan masih berdiri beberapa meter di sampingnya.

"Siapa yang menggaji kau di sini?" Baekhyun bertanya.

"Mas Nganten."

"Tidak. Aku tak suka menggajimu. Minta gaji pada Bendoromu dari Demak. Aku sekarang mulai tahu siapa kau, kau datang ke mari buat membuat onar."

"Tidak, sahaya datang buat kepentingan Bendoro Chanyeol."

"Ha?"

"Karena tidak layak beberapa kali beristrikan orang kampung melulu."

Baekhyun menjadi pucat. Nafasnya megap-megap. Ia tahu tak punya kekuatan sedikit pun untuk menegakkan diri di tengah-tengah kumpulan bangsawan. Tangannya menggapai-gapai mencari pegangan daun marmer meja. Tapi marmer yang dingin itu tetap dingin. Tak ada sesuatu kekuatan menyembur darinya dan mengisi dirinya.

Melihat keadaan itu segera Luhan menyerang.

"Jadi Mas Nganten tahu siapa sahaya. Seorang yang kebangsawanannya lebih tinggi dari Bendoro Chanyeol telah perintahkan sahaya ke mari. Sudah waktunya Bendoro Chanyeol kawin benar-benar dengan seorang gadis yang benar-benar bangsawan juga. Di Demak sudah banyak gadis bangsawan menunggu. Siapa saja boleh Bendoro Chanyeol ambil, sekalipun sampai empat."

Nafas Baekhyun tidak lagi megap-megap, tapi menyekat di tenggorokan. Dengan suara lemas ia berbisik lesu, "Sudah, sudah. Pergi kau. Jangan dekat-dekat aku."

"Terima kasih Mas Nganten. Sahaya boleh undurkan diri ke dapur."

Tanpa melihat pada Luhan, Baekhyun mendengar langkah kaki yang lirih hampir-hampir tak tertangkap oleh pendengaran. Ia rasai Luhan berhenti di depan pintu mengintip padanya. Ia tak bergerak.

Hanya Bendoro Chanyeol yang tak terungkit di sini kata pelayan tua dahulu. Hanya dewa-dewa yang tak terungkit dalam kehidupan ini, yang lain-lain adalah goyah tanpa pegangan.

Kelahiran sahaya sudah satu hukuman! Terngiang suara pelayan tua itu. Ia meradang - apakah dosa suatu kelahiran di tengah-tengah orang kebanyakan? Mengapa? Apa dosa? Dan tanpa disadari air matanya telah mengembangkan cairan dukacita buat seluruh orang yang berasal dari kampung, terutama kampung nelayan.

Sekarang aku harus pikirkan sendiri semua ini.

Sekarang Mas Nganten belum mengerti kata pelayan tua dulu, tapi pengalaman bakal membuat Mas Nganten memahami baik-baik!

Pelayan itu telah pergi. Kini ia harus berfikir sendiri. Dan dalam usia tidak lebih dari 16 tahun. Ia mengerti semua itu dengan perasaannya, dengan tubuh dan jantungnya. Dan ia pun kenangkan kembali kampung nelayan nun jauh di tepi pantai, hari-hari yang penuh tawa, keringat yang mengucur rela, tangan-tangan yang coklat kuat, dan lemah-lembut, dan kasar yang pada saling membantu.

Ia tersedan-sedan di sini. Semua pada banting-membanting.

Buat apa? Buat apa? ia merintih buat kehormatan dan nasi.

Di sana di kampung nela yan tetesan deras keringat membuat orang tak sempat membual kehormatan, bahkan tak sempat mendapatkan nasi dalam hidupnya terkecuali jagung tumbuk yang kuning. Betapa mahalnya kehormatan dan nasi!

.

.

.

Dan Baekhyun baru 16 umurnya.

Ia bertekad bicara dengan Bendoro Chanyeol, bila Bendoro Chanyeol datang menginap di kamarnya. Ia akan curahkan perasaannya. Ia akan minta penjelasan tentang Luhan, tentang dirinya sendiri.

Beberapa malam ia tidak tidur menunggu kedatangan Bendoro Chanyeol. Tapi banyak kali Bendoro Chanyeol kembali lagi ke ruang tengah, setelah bersantap di ruang belakang, bahkan dua tiga kali tanpa menegurnya.

Bila malam Jum'at ia tahu Bendoro Chanyeol takkan mungkin menginap. Ia menunggu pada malam Sabtu, malam Minggu, malam Senin, malam Jum'at lagi.

Akhirnya 15 hari setelah pembicaraannya dengan Luhan, pada suatu malam Bendoro Chanyeol mengetuk pintunya perlahan-lahan. Ia turun dari ranjang dan membukakannya. Bendoro masuk langsung menuju ke ranjang, dan Baekhyun menguncinya kembali. Ia tak menyusul suaminya ke ranjang, tapi duduk tepekur di kursi. Ia kehilangan keberanian untuk mulai bicara.

"Kau sakit, Mas Nganten?"

"Tidak, Bendoro."

"Sudah malam sekarang, mari tidur Baekhyun."

Baekhyun bangkit, tapi kemudian duduk kembali, kepala tertunduk.

Bendoro Chanyeol turun lagi dari ranjang menghampiri.

"Engkau pucat."

"Sahaya, Bendoro."

"Benar-benar tidak sakit?"

Baekhyun menggeleng, mengangkat pandang sebentar memandang Bendoro Chanyeol, kemudian menunduk kembali.

"Kau rindu pada orang tuamu?"

Baekhyun menghembuskan nafas keluh. Ia tetap tak berani mencurahkan perasaannya. Bendoro Chanyeol meletakkan tangannya, di atas bahu Baekhyun, dan dengan tangan yang lain mengusap-usap rambut wanita muda itu.

"Aku tahu. Kau mau bicara. Bicaralah."

"Sahaya, Bendoro."

Dan keberanian Baekhyun mulai timbul sedikit. Lidahnya dirasanya kelu, dan segulung rasa yang linu menyerang di bawah kedua belah rahangnya.

"Bicaralah, aku dengarkan."

"Bendoro..."

"Ya?"

"Mengapa wanita Luhan dikirim ke mari?"

"Buat membantu kau."

"Siapa dia, Bendoro?"

"Kemenakan jauh, Mas Nganten."

Baekhyun tak mampu meneruskan kata-katanya. Dia kerabat jauh Bendoro Chanyeol. Ia tak punya hak menggugat. Ia berdiri dengan langkah lesu menuju ranjang dan naik ke atas.

Waktu Bendoro Chanyeol telah berbaring di sampingnya dan memeluknya, dirasainya air mata hangat telah membasahi wajahnya. Dan waktu Bendoro Chanyeol mengusap-usap wajahnya yang basah itu, Bendoro Chanyeol terhenti sejenak, duduk menatap wajahnya tenang-tenang dalam cahaya listrik yang telah dipatahkan oleh kelambu, bertanya, "Engkau menagis kenapa?"

"Bendoro."

"Ya?"

"Tidak, tidak jadi Bendoro. Ampuni sahaya."

"Aku tak mengerti."

"Bendoro."

"Ya?"

"Ampuni sahaya. Bolehkah sahaya...tapi jangan murkai sahaya."

"Tidak tentu saja tidak. Bicaralah."

"Sahaya ingin ... ingin ... ingin melihat orang tua sahaya."

"Tapi mengapa kau menangis?"

"Sahaya hanya mohon diperkenankan melihat orang tua sahaya di kampung, Bendoro. Sahaya takut dimurkai Bendoro."

"Kau boleh pergi - kapan kau mau pergi?"

"Jika dizinkan besok Bendoro."

"Baik. Besok kau boleh lihat orang tuamu. Luhan akan temani kau."

"Ampun Bendoro, jangan."

"Apa telah diperbuat Luhan terhadapmu?"

"Tiada Bendoro. Biar sahaya pergi sendiri."

"Husy, itu tidak benar. Kau harus ditemani."

"Sahaya, Bendoro. Tapi Luhan... ampun, Bendoro, jangan."

"Siapa akan temani kau?"

"Siapa saja Bendoro asal bukan Luhan."

"Apakah ia membuat onar di sini. Luhan itu?"

"Tentu saja tidak Bendoro. Seorang kerabat Bendoro tidaklah layak mengantarkan orang seperti sahaya ini."

"Kau tak boleh pergi seorang diri."

"Sahaya, Bendoro."

"Kau milikku. Aku yang menentukan apa yang kau boleh dan tidak boleh, harus dan mesti kerjakan. Diamlah kau sekarang. Malam semakin larut," lalu seperti ada yang terlupa, "tapi kau belum punya persiapan."

"Apalah yang perlu dipersiapkan Bendoro?"

"Husy. Kau harus selalu ingat-ingat, tak boleh ada sesuatu terjadi yang menyebabkan penghormatan orang berkurang padaku. Bawalah juga beras sekarung."

"Sahaya, Bendoro."

"Belanja dulu besok pagi di pasar. Beli dua puluh meter kain kasar, sarung, benang jala, damar, sandal, biskuit." Bendoro diam mengingat-ingat, "tasbih yang baik, hitam mengkilat tanpa cacat. Hitung benar-benar jumlah bijinya, lengkap tidak. Beli juga sebagai hadiahku: tembakau kretek Bojonegoro. Beli satu keranjang."

"Tak ada yang memikulkan barang yang sebanyak itu, Bendoro."

"Dokar sewaan bisa antarkan kau sampai ke rumahmu."

Baekhyun ingin menyampaikan, kampungnya tak dapat dicapai oleh dokar. Orang mesti berjalan kaki dua atau tiga kilo meter dari pos. Tapi ia padamkan keinginan itu. Jalan itu sunyi Dan ia bayangkan dirinya terengah-engah mengangkut barang-barang di atas kepalanya, seperti biasanya wanita-wanita nelayan, karena tak mampu beli kain gendongan.

Wanita, wanita melulu yang ada di kampung di pagi hari. Kaum pria masih menyisiri laut, atau tidur di gubuk masing-masing, atau sedang menggigil-gigil, karena malaria.

Wanita melulu.

Demikianlah malam itu berjalan sangat lambat bagi Baekhyun. Waktu Bendoro Chanyeol telah tergolek layu di sampingnya, lelah dalam kenikmatan, berkeruh deras dalam tidurnya, mulut menganga dan mata masih sedikit terbuka, lambat-lambat Baekhyun turun dari ranjang meninggalkan kamar menuju kamar mandi.

Malam gelap gulita waktu itu. Bintang-bintang bertabur di langit hitam. Ia berdiri lama-lama di tengah-tengah pelataran. Bibirnya menggeletar di malam gelap itu membisikan do'a syukur. Wajah manusia-manusia tercinta ganti-berganti muncul dalam bayangannya. Wajah manusia-manusia yang tak punya sesuatu pun untuk diberikan, kecuali tenaga, kasih sayang dan ikan. Ah bapak, bapak. Kita ini, ia masih ingat kata-kata bapak pada malam sebelum ia diberangkatkan ke kota kita ini biar hidup dua belas kali di dunia, tidak bisa kumpulkan duit buat beli barang-barang yang terdapat dalam hanya satu kamar orang-orang kota.

Laut memang luas tak dapat terkuras, kaya tiada terbatas, tapi kerja kita yang memang hina tiada berharga. Besok kau mulai tinggal di kota, 'nduk, jadi bini seorang pembesar. Kau cuma buka mulut, dan semua kau maui akan berbaris datang kepadamu. Kau tinggal pilih.'

Ah, bapak. Bapak. Itulah dunia yang kau tawarkan padaku, dunia serba gampang, cuma hati juga yang berat buat dibuka, meski tinggal memilih dan tinggal meminta.

Ah, bapak. Bapak. Aku tak butuhkan sesuatu dari dunia kita ini. Aku cuma butuhkan orang-orang tercinta, hati-hati yang terbuka, senyum tawa dan dunia tanpa duka, tanpa takut.

Ah, bapak. Bapak. Sia-sia kau kirimkan anakmu ke kota, jadi bini percobaan seorang pembesar.

Dari kamar mandi ia berjalan ke arah dapur. Berhenti sejenak di depan pintu. Itulah pintu yang sehari lebih sepuluh kali dilewati mBok tua yang kini entah ada di mana. Orang yang pernah ia kasari karena perasaannya tersinggung, tapi yang kini ia sesali pernah berbuat kasar itu.

Waktu ingatannya tersentuh pada Luhan. Ia terhenyak buru-buru ia tinggalkan tempat itu. Di situ ada Luhan, pekiknya dalam hati.

Bodohnya aku, aku kenangkan orang sebaik itu, nyatanya orang yang kubenci yang ada di dalamnya. Ia bersicepat menaiki jenjang ruang belakang, masuk ke kamar dan menguncinya dari dalam. Duduk termenung di kursi, sampai kemudian terdengar suara lirih, "Mas Nganten, tidurlah."

"Sahaya, Bendoro," tapi ia tak bergerak.

"Sudah malam tidurlah, kalau tidak, kau tak perlu pergi besok. Aku khawatir kau masuk angin kelelahan."

"Sahaya, Bendoro," dan Baekhyun berdiri naik kembali ke dalam ranjang.

"Mengapa kau punggungi aku? Aku tak suka dipunggungi."

Baekhyun mengubah letak tidurnya.

"Mas Nganten, kalau kau sudah datang ke kampung," kata Bendoro Chanyeol dengan suara mengantuk, "sampaikan salamku pada orang tuamu."

"Beribu terima kasih, Bendoro."

"Jangan berlaku seperti orang kampung, kau istri priyayi."

"Sahaya, Bendoro."

"Tidurlah, tidur."

Sebentar kemudian seluruh alam pun tertidur. Tinggal bintang, ombak dan angin yang masih melakukan tugasnya ...

tbc...