Gadis Pantai
Original Story
Roman Gadis Pantai by Pramoedya Ananta Toer
Karena saya sangat kagum dan suka pada roman ini, maka disini saya akan mengubah Roman Gadis Pantai menjadi versi chanbaek.
Saya bukanlah pengarang aslinya. Saya minta maaf yang sebesar-besarnya jika ada yang tidak berkenan Roman ini saya jadikan versi chanbaek.
Selamat membaca~
Muahh :)
Bagian Kedelapan
Kita catat dari daerah ini, kawan
nelayan dimakan ikan
sedang di darat hanya tiga jam istirahat
dari segala yang didapat
untuk tengkulak dan pajak
nasi dan pukat
dari: "Kampung Nelayan"
-Pinore Gangga
IBLIS ITU MAU GIRING AKU SAMPAI KE NERAKA, TERIAKNYA DALAM hati. Dan dokar sewaan berjalan tenang mengangguk-angguk dijalan pos buatan tuan besar Guntur alias Daendels. Kuda kacang yang menarik dokar sarat muatan nampak seperti sedang berjingkrak kepanasan. Sedang semak-semak bakau sepanjang pantai nampak begitu hijau dan sunyi. Bau tembakau yang ke luar dari keranjang bergumul melawan bau laut yang abadi.
Baekhyun menarik nafas panjang. Sekejap diliriknya Luhan yang duduk di sampingnya. Mengapa Bendoro kirimkan dia untuk antarkan aku? Mengapa? Mengapa? Bendoro Chanyeol lebih percaya padanya mungkin, pada kerabatnya sendiri.
"Surat itu mestinya Mas Nganten balas."
"Kau pernah ke kampung nelayan, man?" Baekhyun bertanya pada kusir tanpa mengacuhkan kata-kata Luhan.
"Sahaya, Bendoro Putri, tentu saja. Sahaya lahir di pantai."
"Kau tak suka ke laut rupanya."
"Kalau semua ke laut siapa yang ke darat, Bendoro Putri? Biarlah mereka mendapat makan dari ikan, sahaya lebih senang dari kuda. Cukup satu sajalah binatang sahaya."
Udara bebas itu meniupkan hidup ke dalam dada Baekhyun. Buat pertama kali dalam lebih dua tahun ia tertawa puas, tertawa terbuka.
"Apa yang lucu?" Luhan menegur. "Itu bukan layaknya seorang istri priyayi."
Baekhyun tersumbat.
Angin darat yang kencang menyebabkan kusir tak dengar teguran itu.
"Sahaya lebih suka darat, Bendoro Putri, kalau mati ketahuan di mana bangkainya."
"Bangkai siapa maksudmu, man? Kudamu?"
"Bangkai sahaya sendiri tentu, Bendoro Putri. Sahaya ..."
"Sayang benar kau rupanya pada bangkaimu sendiri," Baekhyun memotong kemudian tertawa lepas lagi. Dan lagi Luhan menegur.
"Kau tinggal di mana, man?"
"Kauman Pantai," kuatir menjawab tanpa menengok pada lawan bicaranya sejak awal percakapan.
"Di tempatmu apa orang tak boleh tertawa?"
"Masya'allaaaah, di mana ada di dunia ini orang tak boleh tertawa?"
Baekhyun kembali terdiam. Aku masih terlalu muda, tapi aku lebih tahu dunia, pikirnya.
"Berapa umurmu, man?"
"Empat puluh, Bendoro Putri."
"Lebih baik kau terima surat itu daripada mencoba-coba seorang kusir."
"Banyak cucumu, man?"
"Bukan banyak lagi, Bendoro Putri, lebih duapuluh."
"Jangan teruskan bicara dengannya. Aku adukan pada Bendoro Chanyeol."
"Ada yang kau sayangi, man?"
"Sahaya, sayangi? Semua, Bendoro Putri."
"Kau tak pernah rodi di kebun coklat, man?"
"Inilah sahaya, Bendoro Putri, sisa yang masih tinggal dari hidup sahaya. Kiai sahaya dulu bilang, setiap orang dikaruniai hidup oleh Allah yang Maha Pengasih, tapi cuma segumpil saja hidup karunia Allah yang benar-benar sahaya miliki, Bendoro Putri. Inilah diri sahaya yang segumpil ini. Sebagian besar habis buat rodi di kebun coklat."
"Mengapa tak lari?"
"Lari? Ke mana? Di sana kompeni. Di sini kompeni Bapak sahaya seratus dua puluh tahun umurnya baru meninggal. Tapi sahaya ini, baru empatpuluh sudah begini reyot, kehabisan tenaga, Bendoro Putri. Bapak sahaya lari-larian saja kerjanya, tak mau kena rodi. Badannya besar, keberaniannya besar. Asal ada huru-hara pasti ikut. Sahaya tidak berani. Sahaya takut mati. Jadilah begini sahaya. Sama laut takut, ikan besar takut. Berani cuma sama kuda dan cucu-cucu."
Kembali Baekhyun tertawa senang. Ia temukan dalam logat kusir bahasa yang selama ini ia rindukan, yang ia sendiri ingin ucapkan: kata-kata yang keluar dari hati yang lugu - dari hati yang tertindas.
"Kalau ada nasib, mau kau jadi pembesar?"
"Nasib? Aiya-aiya, kudanya kelelahan, Bendoro Putri terlalu banyak bawaannya. Biar lambat-lambat saja, ya Bendoro Putri? Kasihan dia. Kalau dia angkut tembakau, maka diangkut-nyalah tembakau tanpa pernah mendapat bagian. Kalau dia angkut limun, seteguk pun ia tak penah minum. Aiya-aiya, mengapa tuhan takdirkan dia menjadi kuda, dan bukan jadi pembesar?"
Baekhyun tertawa lepas terbahak.
"Mas Nganten benar-benar sudah keterlaluan. Apa kata kusir tentang Bendoro Chanyeol nanti? Jadi tertawaan tidak patut."
"Kalau kuda itu jadi pembesar ..."
"Aiya, untung tidak, Bendoro Putri. Kosong terus kuali sahaya nanti. Nasib jelek si kuda, Bendoro Putri, membuat sahaya sekedar makan, kawin dan bercucu sebanyak itu, membuat sahaya tidak menjadi kuda. Tapi dia, dia! Aiya."
"Apa aiya itu?"
"Sedap mengucapkannya, Bendoro Putri. Lepaslah segala sesak di dada."
"Dari mana aiya itu?"
"Aiya, dulu sahaya pernah tumpangi seorang singkek. Ngomong tak karuan, Bendoro Putri. Ngobrol banyak. Dari Rembang dia menuju Lasem. Dia bercerita, dahulu dialah yang jadi kuda - di Hongkong katanya - menarik kereta sewaan sambil berlari. Begitulah Bendoro Putri, setiap ngomong mesti ke luar aiya-nya yang ah, ah, senang sekali mengucapkannya. Coba ucapkan Bendoro Putri."
"Aiya!"
"Enak?"
"Sedap," dan Baekhyun terbahak lepas.
"Tidak bisa, Mas Nganten. Ini tak bisa diteruskan. Sahaya akan adukan pada Bendoro Chanyeol."
"Kau punya Bendoro, man?"
"Aiya. Semua orang Bendoro sahaya, Bendoro Putri. Cuma itulah susahnya. Tiap hari sahaya mendo'a moga-moga tak ada penyakit menyerang kuda sahaya."
Kembali Baekhyun tertawa terbahak, kemudian bertanya, "Berdo'a buat kuda? lantas do'a apa yang buat anak dan cucumu, man?"
"Mereka bisa berdo'a sendiri, Bendoro Putri. Itulah jeleknya takdir kuda. Dia do'a saja tak mampu. Aiya, barangkali dia berdo'a dengan bahasanya sendiri... bahasa kuda. Mungkin di dalam hati saja."
"Sayang."
"Ya, sayang Bendoro Putri."
"Apa yang sayang."
"Apa? Do'anya tidak pernah terkabul, Bendoro Putri. Mungkin ia berdo'a agar tidak ditakdirkan jadi kuda lagi seperti sekarang, tapi jadi kusir seperti sahaya ini. Tapi sahaya terus berdo'a keras agar sahaya tetap sehat seperti kuda. Kalau takdir berubah, aiya, mungkin sahaya kudanya, dia kusirnya. Celakalah badan yang sudah tua ini, Bendoro Putri."
"Menyebalkan," bisik Luhan.
"Ya menyebalkan, ya man? Nasib dan takdir kuda?"
"Begitulah."
Dan dokar berjalan kian perlahan, kian perlahan. Pada sebuah tanjakan kuda itu benar-benar kehabisan tenaga dan berhenti. Kusir terpaksa lompat turun, mengambil dua buah batu dan mengganjal rodanya.
"Biar dia mengaso, man."
"Terima kasih, Bendoro Putri."
"Nanti kemalaman kita pulang," Luhan memperingatkan.
Dan Baekhyun pun turun berdiri memunggungi kereta, menebarkan pandang ke laut lepas, menerobosi daerah pesisir yang dirimbuni tunggul-tunggul akar bakau.
"Dua tahun lamanya aku cuma dengar suaranya dari kamar."
"Lhah, mengapa Bendoro Putri di kamar saja selama dua tahun? Sakit?"
"Sakit?"
"Tentulah sakit parah."
"Kalau malam hembusan anginnya melalui genteng kamarku. Tambah malam deburannya tambah menyata. Dia memanggil-manggil sini, sini, sini, Baekhyun. Mengapa kau lari dari pangkuanku? Semua nenek moyangmu telah kupangku, kuusapi, kubesarkan dan ku..."
"... kuburkan," kusir itu meneruskan. "Cerita-cerita nelayan selalu begitulah, Bendoro Putri, membuat sahaya ngeri turun ke laut."
Baekhyun membungkuk, menyendok segenggam pasir dengan tangannya dari pinggir jalan. Kersik kerang nampak gemerlapan kena cahaya matahari. Ia taburkan pasir itu perlahan ke tanah, dan jatuh miring tertiup angin.
"Lihatlah kuda sahaya, Bendoro Putri."
Tiba-tiba Baekhyun menjadi murung. Didorongnya pasir di bawah kakinya dengan sandal. Ia angkat muka menghampiri kuda, memperhatikan matanya yang tertutup selembar kulit yang jadi satu dengan abah-abah.
"Kasihan, buat apa punya mata?"
"Kalau sedang dinas begini, matanya cuma jadi hiasan, Bendoro Putri. Kalau dibuka penutupnya, dia tahu nanti apa yang ditariknya: tembakau. Mungkin karena tahu tembakau dia tak mau kerja."
"Tapi, kau tak merokok kulihat, man?"
"Kuda sahaya juga tidak merokok, Bendoro Putri, tapi sahaya sendiri menyisik."
"Nanti kuberi persen."
Kusir itu menepuk-nepuk punggung kudanya. Seluruh tubuh binatang itu sudah bermandikan keringat.
"Ayoh, Gombak, Gombak, ucapkan beribu terima kasih."
"Dia tidak menyisik, kau yang menyisik, man?"
"Benar, Bendoro Putri, tapi kalau sahaya dapat menyisik, Bendoro Putri, dia dapat persen minum air gula-jawa" Kuda itu mengangkat kepalanya ke atas. "Dia minta istirahat lebih lama dikit, Bendoro Putri. Diperkenankan, kan?"
Baekhyun tak menjawab. Ia berjalan menjauh, meninggalkan jalan pos buatan tuan besar Guntur alias Daendels, melompati semak-semak rendah menuju ke laut.
"Mas Nganten," Luhan berteriak, kemudian melompat turun dari dokar dan memburu. "Ke mana? Banyak ular di akar-akaran bakau di pantai tanpa penghuni begini."
Tanpa memandang Luhan Baekhyun berkata lemah: "Bukankah itu yang kau inginkan?"
"Duduk saja di dalam dokar."
"Mungkin sekali kalau ada takdir, seekor ular gigit aku, dan kau bisa senang gantikan aku sebagai wanita utama."
"Tidak mungkin."
"Mengapa tidak mungkin."
"Mas Nganten tahu sendiri sahaya cuma seorang janda."
"Tapi kau wanita bukan?"
"Ah, Mas Nganten begitu lama di gedung tak juga mengerti para pembesar cuma mau terima wanita langsung dari tangan Gusti Allah."
"Kau?"
"Sahaya bekas lelaki lain."
"Lantas. Mengapa surat itu kau paksa-paksa padaku?"
"Ayolah, naik ke atas Mas Nganten."
"Naiklah. Aku lebih suka bicara dengan kusir."
"Bendoro Chanyeol akan marah."
"Lebih baik buat kau kan?"
"Tidak enak buat sahaya naik ke atas, sedang Mas Nganten masih di bawah."
"Kau sering membuat surat buat orang lain?"
"Lantas, siapa yang mesti sahaya surati? Tetapi sahaya bisa menulis."
"Apakah semua keturunan pembesar begitu?"
"Begitu, bagaimana Mas Nganten?"
"Ya, begitu seperti iblis."
"Sahaya akan adukan."
"Pergilah. Adukan sekarang juga. Suruh kusir itu balik ke kota dengan seluruh muatan. Aku bisa jalan kaki."
Baekhyun berjalan balik menuju ke dokar, dan Luhan mengikuti.
"Habis lelahnya si Gombak, man?"
"Silakan naik, Mas Nganten. Dia memang cerdik cepat benar segarnya kalau tuannya bakal kena tembakau."
"Tentang tembakau itu, man, aku tak lupa. Tapi kudamu sama sekali tak membutuhkannya."
"Memang tidak, tapi kusirnya membutuhkannya, Bendoro Putri," dan dengan suara senang ia berseru, "Silakan naik, Bendoro Putri. Angin sudah tak begitu kencang."
Semua telah duduk di atas dan dokar berjalan lagi.
"Betapa besar dan luas laut itu. Tanpa batas."
"Sahaya Bendoro Putri," kemudian kepada kudanya, "Aiya, yoh, lebih cepat, Gombak! Hati-hati kalau sampai kemalaman di jalan."
"Pasti kemalaman," Luhan memprotes.
"Bukan sekarang saja ada malam, bukan, man?"
"Seumur-umur sahaya, Bendoro Putri, sahaya tahu saban hari ada malam, tidak sekarang saja. Aiya. Ayoh Gombak maju!" dan dengan ujung cambuknya dikilik-kilik kudanya.
"Kau tak pernah cambuk dia."
"Hanya orang dan binatang bodoh saja kena cambuk, Bendoro Putri."
"Kalau orang atau binatang jahil."
"Patutnya disrimpung saja kakinya."
"Binatangnya atau orangnya? Kalau dia priyayi?"
"Itulah susahnya, Bendoro Putri. Itulah susahnya ditakdirkan jadi kuda dan jadi orang seperti sahaya. Dan hanya orang-orang seperti sahaya kebagian cambuk seperti si Gombak. Tetapi kalau terus menerus dicambuk tentu siapa saja tidak bisa terima. Macan sakit saja, biar sudah lemas kalau diusik-usik terus, tentu akan melawan, Aiya," cambuknya digeletarkan di udara. Begitu membelah suaranya dalam kesenyapan pantai utara.
.
.
.
Sudah dua jam dokar kretek itu berjalan, belum juga mereka berpapasan dengan dokar lainnya. Grobak pun tak ada mereka papasi. Besok bukan hari pasaran.
"Kalau kemalaman kau berani pulang ke kota, man?"
"Ini bukan perjalanan pertama, juga bukan terakhir, Bendoro Putri. Lebih dari lima puluh kali sahaya pulang dari perjalanan jauh. Kadang-kadang sampai di tempat ini laut sudah di pinggiran darat itu, jadi sudah jam tiga pagi."
"Tidak takut?"
"Siapa tidak takut?"
"Takut, tapi berani juga ya."
"Bagaimana takkan berani, Bendoro Putri. Malu sahaya pada kuda sahaya nanti. Setan dia tak takut. Rampok dia tak takut. Itulah untungnya kalau mata ditutup."
Kembali Baekhyun tertawa. Sebelum habis tertawanya selesai, disadarinya tertawanya tidak seperti dulu. Dahulu terdengar seperti loyang kuningan tersentuh batu. Ia perpanjang tawanya. Seperti apa suara tawaku? Ia bergeleng-geleng, tak mendapatkan perbandingan.
Baekhyun terdiam. Waktu ia melirik dilihatnya Luhan tertidur senang bersandaran keranjang tembakau. Ia awasi wajah wanita muda itu. Bodohlah pria bila tak perhatikan dia. Mukanya bulat, dan mulutnya begitu kecil, seakan sebuah bawang merah menempel pada sebuah cobek. Sepasang alisnya hitam tebal, hampir-hampir bersambung, sedang dagunya yang begitu tumpul seakan merupakan bagian dari dasar mukanya yang bulat. Wajah yang seindah itu. Tapi apa saja yang dikerjakan hatinya?
Kini ia merasa mengantuk. Sekalinya diawasinya wajah bulat di sampingnya. Berapa pria yang telah dinikmatinya? Ah, mengapa kau punya pikiran sekotor itu?
Ia dengarkan deburan ombak sepanjang pantai yang semakin mendekati darat. Matahari makin condong ke barat, dan ombak tampak semakin besar. Apakah yang dikerjakan bapak sekarang? Dan emak? Angin bebas meninabobokannya. Seperti emak meninabobokan si adik. Ia senang nikmat dalam buaiannya, ia tertidur pada keranjang tembakau juga.
Dan kedua wanita itu baru terbangun waktu dokar berhenti. Kusir bertanya, "Benar, berhenti di sini, Bendoro Putri?"
Baekhyun menebar pandang ke luar jendela dokar, ia masih hafal tempat itu. Tiga batang pohon jati raksasa berdiri beberapa meter di pinggir jalan, sedang pantai tidak nampak sama sekali, bahkan deru ombaknya pun tak terdengar, karena laut berada tidak kurang dari 5 kilometer dari tempat itu. Semua orang di kampung nelayan tahu benar tentang tiga pohon jati itu. Seperti orang-orang sekampungnya, Baekhyun setelah turun dari dokar, langsung menuju ke tiga pohon jati itu, mengagumi batangnya yang perkasa dan lurus menjulang ke atas, paling tinggi di antara semua pohon. Ia pegang-pegang batang pohon itu, ia goyangkan tapi sedikit pun tak tergoyangkan, pindah pada batang yang lain dan juga pada yang ke tiga.
"Peninggalan nenek moyang yang tersisa," kata kusir.
"Jadi kau tahu riwayat tiga batang jati ini?"
Kusir tertawa senang mendapat kehormatan itu. "Sahaya sudah lebih dari sepuluh kali ke mari, Bendoro Putri."
Luhan mengawasi kedua-duanya, dari atas dokar.
"Waktu tuan Guntur perintahkan seluruh penduduk kampung sini, laki dan perempuan, membuat jalanan ini, mereka tiga harmal tak boleh pulang. Bayi-bayi pada mati kelaparan di rumah."
"Aku kira cuma di kampung nelayan sana saja orang tahu riwayatnya."
"Banyak orang yang tahu, Bendoro Putri, sampai-sampai ada tembangnya."
"Mas Nganten, hari sudah hampir magrib," Luhan memotong.
"Man, dokar bisa membelok ke kanan?"
"Jalannya tidak keras, Bendoro Putri, roda agak tenggelam dalam pasir, kasihan kudanya, tapi kita coba pelan-pelan saja."
"Tiga pal lagi."
"Benar, sesudah itu dokar tak bisa terus. Ada yang menjemput di sana nanti?"
"Tidak."
'Tidak?"
Baekhyun naik ke atas dokar kembali diikuti oleh kusir. Dokar membelok ke kanan. Roda dokar tenggelam beberapa sentimeter di dalam pasir dan dengan susah payah kuda menarik bebannya. Kusir pun mulai menembang:
duh-duh aduh bayi bocah jadi korban emak pikul tanah bapak babat hutan orang-orang kampung dilarang pulang kejamnya rodi tiada alang kepalang
waktu jalan besar sampai ke rembang orang-orang kampung barulah pulang oh nasib bayi bocah sungguhlah malang berserak sudah jadi tulang belulang
seluruh kampung dirundung duka di tengah malam pakai obor pelita tiga jati kenangan ditanam bersama rodi celaka jangan sampai terlupa
"Orang kampung pun tak semua pulang."
"Memang tidak semua, Bendoro Putri, lebih separohnya terkubur sepanjang jalan. Beruntung bapak sahaya kerjanya lari-larian dan berhuru-hara."
Baekhyun ingat pada pelayan tua. Bukanlah kakeknya juga selalu ikut setiap terbit huru-hara? Tapi tak ada keinginannya untuk bertanya. Ia terus membayangkan siapa saja yang bisa dipinta pertolongannya buat angkut barang-barang bawaannya. Dan emak, bapak, saudara-saudara bagaimana mereka akan sambut dia?
"Ayoh, Gombak dua pal lagi. Kau boleh tidur nanti di bawah petecina!"
Dan waktu dokar berhenti di depan sebuah dangau, di tempat jalanan pasir berubah jalan setapak, hari sudah tambah magrib.
"Kalau bukan perintah Bendoro Chanyeol enggan sahaya pergi ke sini."
"Aku tak perlukan kau, balik saja sekarang." Luhan terdiam.
Mendengar pertengkaran kusir terkejut, mengawasi kedua wanita itu berganti-ganti. Keceriaannya tiba-tiba hilang. Matilah pelanduk bila dua ekor gajah sedang bertarung. Ia menyingkirkan diri dan menutup kuping, duduk di bangku kayu dangau dan memasukkan sejumput tembakau ke dalam mulutnya, dan memainkannya di antara gusi depan dengan dinding bibir dalam.
"Man!" Baekhyun memanggil.
Kusir melompat dan segera menghadap. Sebelum sampai dekat Baekhyun, ia dengar suara wanita lain mendesis, "Dasar perempuan kampungan!"
"Inilah kampung. Kampungku. Jangan injakkan kakimu yang indah di atas pasir ini, nyonya janda, kalau tidak mau kena kutukanku."
Melihat kusir mendekat Luhan terdiam.
"Bawa dia balik ke kota, man!"
"Perintah Bendoro Chanyeol antarkan Mas Nganten. Sahaya tak mungkin pulang seorang diri."
"Kampung nelayan bukan tempatmu. Pulang kau sendiri."
"Memang tidak mungkin, Bendoro Putri. Mari kita bereskan dulu bawaan ini."
"Ayolah, kau bisa angkut yang mana, man?"
"Beras jelas sahaya tidak bakal kuat, Bendoro Putri."
"Apa kau kira aku kuat."
"Gombak tentu kuat, tapi ia bukan kuda beban, cuma kuda tarik."
"Tepat, Bendoro Putri."
"Cancang kudamu. Pergi kau ke kampung panggil empat orang."
"Gombak bisa bawa sahaya lebih cepat, Bendoro Putri."
Dan sebentar kusir melepas aba-aba kuda, melompat ke atasnya. Kuda dan kusir kemudian berjalan memasuki jalan setapak dan lenyap di balik rumpun pepohonan petecina, kingkit dan semak-semak.
Baekhyun menjauhkan diri dari dokar dan menuju ke dangau, ia duduk di atas bangku kayu. Luhan melihat sekelilingnya. Kemudian Luhan pun menyusul.
"Buat apa kau dekat aku?"
"Takut."
"Kau! Cuma aku tak kau takuti."
"Sahaya benci pada kampung. Kampung mana saja."
"Pergi, cepat!"
"Bagaimana sahaya mesti pergi?"
"Kau bukan orang kampung, tentu kau punya kelebihan."
"Tentu. Sahaya punya kelebihan, sahaya bukan orang kampung. Bapak sahaya juru tulis dan masih kerabat Bendoro Chanyeol."
"Pergi pada Bendoromu. Roh-roh nenek moyang kami bakal cekik kau kalau berani memasukinya. Kau telah hinakan kampungku, kampung kami kampung nelayan dengan nelayan-nelayan yang gagah berani, yang saban hari pergi ke laut hadapi maut." Ia menunjuk ke langit.
"Gelap. Petir kampung kami selalu menyambar orang-orang kota yang tak tahu diuntung." Ditunjuknya Luhan pada dadanya. "Kau bakal celaka di kampungku. Pulang. Ayoh, balik ke kota sebelum langit menjadi hitam." Dan mendadak sepasang kilat mengintip dari balik awan gelap.
"Ampuni sahaya, Mas Nganten."
"Pasangan matanya putih, kalau ia melompat api menyembur. Kemudian dikeluarkannya dua belas tangannya dari balik awan hitam, dan dibelahnya orang yang membenci kampung nelayan dengan pisau kecilnya, kecil dan tumpul. Seminggu dia butuhkan buat membelah musuhnya."
Nampak Baekhyun begitu kecil seperti kucing kehabisan mangsa.
"Ampuni sahaya, ampuni. Sahaya cuma dapat titah antarkan Mas Nganten."
"Benar kau dari Demak?"
"Sahaya, Mas Nganten."
"Tidak apa dari Demak sana?"
Suara Luhan menggigil dan ragu-ragu tapi paksakan diri bicara terus, "Panjang ceritanya Mas Nganten. Tapi sahaya cuma dapat perintah."
"Perintah, buat usir aku?"
"Persaudaraan sekandung dan sepupu di Demak sangat malu, Mas Nganten, karena sampai sekarang Bendoro Chanyeol masih perjaka."
"Perjaka? Jadi aku ini apanya?"
"Apa mesti sahaya katakan? Bendoro Chanyeol masih perjaka sebelum beristrikan wanita berbangsa."
"Kau berbangsa, apa kau ingin diperistri Bendoro Chanyeol."
"Sahaya, Mas Nganten."
"Biarpun Bendoro Chanyeol pamanmu sendiri?"
"Sahaya, Mas Nganten, tapi saya cuma seorang janda."
Kembali Baekhyun bertanya, "Jadi aku bukan istri Bendoro?"
"Istri, ya, istri, Mas Nganten, cuma namanya istri percobaan."
"Lantas kau dapat perintah mengusir aku: Biar Bendoro Chanyeol dapat kawin dengan wanita berbangsa, bukan? Ah, ah. Aku bisa menetap di kampung ini, kampungku sendiri. Kau boleh pulang. Jangan ikut masuk ke kampung."
"Sahaya takut, Mas Nganten."
"Takut? Di mana kelebihan orang kota, orang berbangsa? Orang kampungan seperti aku ini tidak takut."
"Jangan biarkan sahaya seorang diri, Mas Nganten."
"Lebih dua tahun aku tinggal di kota, sampai akhirnya kau datang. Dan baru sekarang ini aku tahu, orang-orang kota, orang-orang berbangsa itu, begitu takutnya kalau orang tidak lagi menghormatinya. Dan mereka begitu takutnya kalau terpaksa menghormati orang-orang kampung."
tbc...
