Gadis Pantai
Original Story
Roman Gadis Pantai by Pramoedya Ananta Toer
Karena saya sangat kagum dan suka pada roman ini, maka disini saya akan mengubah Roman Gadis Pantai menjadi versi chanbaek.
Saya bukanlah pengarang aslinya. Saya minta maaf yang sebesar-besarnya jika ada yang tidak berkenan Roman ini saya jadikan versi chanbaek.
Selamat membaca~
Muahh :)
Bagian Kesembilan
Hari telah mulai gelap. Dalam kegelapan Baekhyun melihat Luhan hanya menunduk di atas bangku di sampingnya, kepalanya ditumpangkannya di atas kedua belah tangannya.
Kedua wanita itu masih muda belia, namun berpengalaman sudah dalam banyak hal, seperti umumnya wanita-wanita di rumah-rumah gedung. Keduanya jadi dewasa dalam gemblengan kesulitan-kesulitan.
"Dan Mas Nganten sendiri? Mau kembali ke kampung apa tak takut kehilangan sesuatu?"
"Segalanya telah lenyap dari tangan orang seperti aku, semua orang kampungan. Kami cuma dapat mengimpi. Apa lagi yang dapat hilang dari kami? Impian itu?"
"Apa yang Mas Nganten impikan?"
"Segala-galanya yang tak pernah ada dalam kehidupan kami."
"Lantas, apa saja yang ada dalam kehidupan Mas Nganten?"
"Setelah lebih dari dua tahun tinggal di gedung, tahulah aku, kami Cuma punya kemiskinan, kehinaan dan ketakutan terutama pada orang kota. Di kampung kami tahu benar tepung udang dibayar sebenggol, padahal mestinya empat sen. Itu tidak layak, tidak adil. Tapi lihatlah diriku ini. Bukan lagi tepung udang. Manusia! Aku tak bisa dipungut begitu saja dari kampung, disimpan di dalam gedung. Kau, kau orang kota, apa yang kau tahu tentang orang kampung?" Luhan tak menjawab.
"Aku kenal seorang wanita tua. Dulu dia layani aku di gedung sejak aku tinggal di sana. Tapi dia diusir karena tuduh agus-agus colong duitku."
"Dia harus diusir."
"Mengapa?"
"Dia harus berbakti, bukan menuduh."
"Tapi ada yang colong duit di antara agus-agus itu."
"Dia seorang abdi tak tahu lagi cara-cara mengabdi."
"Pengabdian yang membosankan! Tanpa mengabdi nenek moyangku juga hidup. Laut lebih kaya dari segala-galanya." Kemudian, "Baliklah kau ke kota aku mau tinggal di kampungku sendiri."
"Apa sahaya harus katakan pada Bendoro Chanyeol?"
"Mintalah ampun, dan serahkan dirimu, biar Bendoro Chanyeol masih pamanmu sendiri, orang tuamu sendiri, kau sendiri saja jadi bini percobaannya. Mau bukan?"
Dan kusir itu tak juga muncul.
"Mengapa kau diam saja?"
"Sahaya kacau, Mas Nganten."
"Karena kampung ini yang mau kau hinakan? Coba pikir, lebih dua tahun aku mesti tinggalkan kampungku, hidup di gedung, di lingkungan orang-orang yang tak kukenal, kau baru beberapa saat di sini, sudah kelabakan seperti nenek kehilangan susur."
"Sahaya bisa jadi gila di sini."
"Aku ingin tinggal agak lama di kampungku sendiri."
"Tidak mungkin, Mas Nganten, sahaya tak sanggup tinggal begitu lama."
"Kau boleh pulang sekarang pun, aku tak ada keberatan."
"Berapa lama Mas Nganten akan tinggal di sini?"
"Seminggu, barangkali sebulan."
"Bendoro Chanyeol tak pernah bilang begitu."
"Kalau kau orang yang mengerti, sekarang ini kau mesti tahu akulah Bendoro."
"Tidak mungkin! Tidak mungkin! Sahaya masih punya gelar Mas Nganten, biar pun cuma, Mas."
Mereka terdiam sejenak. Angin kencang tiba-tiba menero-bosi tajuk-tajuk pepohonan dan semak-semak.
"Dingin, Mas Nganten."
"Kau tak pernah ingat pada nelayan. Telanjang dada mereka pergi ke laut."
"Mengapa harus telanjang dada?"
"Pakaiannya tak cukup."
"Oh."
"Apa yang oh? kau ini aku tertawa tak boleh, begini salah, begitu salah, apa yang oh? Kami memang orang miskin, dan di mata orang kota kemiskinan pun kesalahan. Aku masih ingat pada hari-hari pertama. Bendoro Chanyeol bilang kami orang-orang jorok, tak tahu iman, itu miskin, kau mengerti agama?"
"Sahaya tak pernah belajar ngaji, Mas Nganten."
"Aku pun, tidak."
Tanpa mereka sadari kusir telah datang, dan turun dari kudanya. "Empat orang, Bendoro Putri, semua bawa pikulan."
"Uruslah semua pengangkutannya. Kau mau balik ke kota?"
"Belum, Bendoro Putri. Si Gombak masih lelah, belum lagi mengasoh. Kota begitu jauh dan ..."
"Tembakau itu? Ambil satu bungkus dari keranjang itu."
"Beribu terima kasih Bendoro Putri. Cukuplah buat lima belas hari si Gombak minum air gula-jawa."
Kusir itu memerintahkan mengangkuti barang-barang, kemudian kembali datang pada Baekhyun.
"Cukup orangnya, man?"
"Tentu tidak, Bendoro Putri. Cuma mereka, rupanya yang nanti malam tak turun ke laut. Apa boleh buat. Biarlah sahaya ikut saja membantu."
"Wah-wah, banyak benar barangnya," salah seorang penolong berkata.
"Ini barang-barang siapa, Bendoro Putri?" seorang lain bertanya.
"Ya, aku yang punya."
"Mau dibawa ke mana?"
"Ke kampung nelayan."
Tiba-tiba mereka tak bicara lagi, mulai mengangkuti barang-barang dari dokar dan menyusunnya untuk dipikul.
"Tembakaumu sudah kau ambil, man? Jangan lupa."
Mereka mulai berjalan beriringan memasuki kegelapan malam.
"Sahaya takut," Luhan berbisik.
"Lebih baik kau bawa botol-botol itu. Aku sendiri keberatan dengan bawaanku."
"Ah, Mas Nganten..."
"Ya, ya, aku tahu, kerja memang hina, tapi apa salahnya menolong aku?"
Dan dengan ragu-ragu Luhan menjinjing empat botol yang telah diikat dua-dua. Mereka berjalan. Cabang dan ranting semak antara sebentar menyangkut pada baju, dan pasir di bawah kaki begitu empuknya seperti lumpur hangat. Para pemikul telah jauh mendahului. Tertinggal dua wanita dan kusir di belakang.
"Cepat benar, Mas Nganten, tak bisa lebih perlahan?"
"Lebih baik kau berdo'a semoga tak turun hujan."
Mereka berjalan terus dan malam kian menghampiri.
"Masih jauh, Mas Nganten?"
"Kau mau tinggal sendirian di sini?" Dan mereka berjalan terus.
"Mas Nganten sendiri mestinya juga capek."
"Siapa yang tidak capek, tapi ada yang kita tuju, dan kita belum lagi sampai."
"Bagaimana sahaya pulang, nanti?" kusir bertanya.
"Man, malam ini juga kau pulang."
"Sahaya Bendoro Putri."
"Bawa pulang Bendoro ini, ya?"
"Tidak Mas Nganten, sahaya diperintahkan mengantarkan, dan sahaya akan terus antarkan."
"Kau dengar, Luhan? Di sini, di tempat Bendoro Chanyeol suamiku tak ada, akulah Bendoromu. Aku yang perintahkan kau balik ke kota, kalau kau tak suka, ya apa boleh buat, kau mesti menginap. Suka atau tidak tanggunglah sendiri."
"Kalau menginap, maafkan sahaya, Mas Nganten, ah... ah..."
"Tentu kami akan perhatikan segala keperluanmu."
Dan mereka berjalan terus. Beberapa buah lampu nampak berkelap-kelip dari kejauhan. Tiba-tiba angin kencang datang meniup. Luhan menghampiri Baekhyun dan mencoba berpegangan padanya.
"Mas Nganten, sahaya ..." Baekhyun berjalan terus.
"Itulah rumah orang-orang yang menolong angkut barang Bendoro Putri."
Baekhyun masih dapat mengingat-ingat rumah itu - rumah-rumah penghabisan kampung nelayan. Kedua-duanya tak pernah punya perahu sendiri seumur hidupnya, dan terpaksa membantu nelayan-nelayan lain dengan tenaganya. Ia pun ingat namanya. Jumyeon dan Yixing, tapi ia tak pernah bicara dengan mereka. Anak mereka banyak dan kecil-kecil dan kerja anak-anak itu sehari-harian mencari kayu bakar untuk emaknya masing-masing dan bermain-main di pantai.
Waktu sampai di depan rumah mereka, Jumyeon dan Yixing berhenti menunggu. "Sekarang ke mana Bendoro Putri?" kusir bertanya.
Jumyeon dan Yixing sengaja hendak menatap wajah kedua wanita itu. Dan kala Baekhyun muncul kena cahaya lampu pelita, mereka berpandang-pandangan kemudian mengawasi Baekhyun lama-lama tapi tak bicara sesuatu pun kecuali dengan mata mereka.
"Kalian kenal aku pak? Pak Jumyeon? Pak Yixing?"
"Rasa-rasanya Bendoro."
"Bendoro? Mengapa aku dipanggil Bendoro, aku orang sini."
"Sahaya, Bendoro."
"Bendoro?"
"Ayoh. Jumyeon cepat." Yixing menganjurkan.
Sementara itu istri-istri dan anak-anak mereka keluar dan merubung. Salah seorang di antara mereka menuding Baekhyun dan hendak menegur, tapi emaknya menarik jauh-jauh dan menyuruhnya masuk ke dalam rumah kembali. Tinggal suaranya terdengar oleh semua, "Itu kan Baekhyun?"
"Husy, diam kau. Jangan sekali lagi."
"Mengapa tak boleh?"
"Biarlah, mak, biar dia ke luar," Baekhyun memberanikan.
"Anak-anak ini memang susah diajar, Bendoro."
"Tidak, aku bukan Bendoro. Mak sendiri kenal aku waktu kecil, kan?"
Wanita itu keluar lagi dengan anak kecilnya yang ditekap mulutnya.
"Yang dahulu tinggal dahulu, Bendoro yang sekarang kan lain lagi?"
"Ah, bisa saja omongnya ini mak."
"Yang itu jangan diangkat sendiri, Bendoro. Biar anak-anak yang bawa."
"Ayolah, kalau mereka mau." Dan anak-anak itu berebut keras mau ikut menolong.
"Ayoh, mari ikut semua. Ayoh, mak sama-sama ikut."
"Biarlah sahaya tunggu di rumah. Anak-anak saja yang iringkan Bendoro."
Sampai yang masih menetek pun mau ikut. Jumyeon dan Yixing telah mendahului. Dan rombongan belakang itu, berjalan sendiri seperti mengiringkan pengantin.
"Dulu tak dipanggil Bendoro," seorang anak berbisik nyata.
"Cantik, ya sekarang?"
"Ah-ah, anak-anak ini," kusir memperingatkan.
"Ayoh, nyanyi!" Baekhyun memberanikan.
"Apa? Menyanyi, Mas Nganten?"
"Nyanyi apa? Angin meniup?"
"Angin meniup, ya, ayoh!"
Suara bening kanak-kanak itu pun menembusi kegelapan dan kesunyian pantai:
menukik-nukik menukik-nukik menukik kau angin beliung masuklah masuk
masuklah masuk masuklah kau ke kawah gunung
pergilah pergi pergilah pergi pergilah kau ke dalam hutan di sanalah
sana di sanalah sana berganda mangsa berkeliaran
Baekhyun menitikkan air mata. Terbayang olehnya bapak sedang menebarkan jala di dalam gelap. Angin beliung telah menderu-deru dari kejauhan. Langit gelap-gempita, dan jala tersangkut pada cabang karang. Ah, berapa kali saja bapak pulang bawa cerita semacam itu? Dan bapak bersama saudara-saudaranya melompat ke dalam air dingin, menyelam, melepaskan jala.
"Nyanyi yang lain," kusir mengacarai.
Baekhyun tak dengar, ia bayangkan bapak. Karena dialah aku sekarang selamat ada di sini. Ah, bapak, dan ia bayangkan emak. Apa yang sedang dikerjakan sekarang?
Jumyeon dan Yixing telah jauh di depan. Tiba-tiba dari kejauhan nampak berbagai obor bergerak menyambut, sedang lelatu daun kelapa kering bertebaran tertiup angin.
"Siapa mereka itu Mas Nganten?"
"Orang tuaku, tetanggaku, kenalanku."
Anak-anak kecil itu tiba-tiba mendahului menyerbu lari sambil berteriak-teriak, "Baekhyun datang, Baekhyun datang."
Obor dan lampu pun kian banyak dalam kegelapan, kemudian muncul juga wajah-wajah mengkilat keringatan. " Baekhyun! Baekhyun."
"Husy, diam! Jangan kurang ajar anak-anak!" seorang dari rombongan penjemput menggertak.
Baekhyun terbangun dari sendunya. Ia rasai sesuatu menggerumuti bulu tengkuknya. Dahulu tak pernah orang menyambutnya seperti sekarang. Ia merasa begitu asing. Dari kejauhan ia lihat bapak berjalan paling depan membawa obor daun kelapa kering. Ia bertelanjang dada. Dan otot-ototnya yang perkasa berkilat-kilat setiap bergerak kena cahaya obor.
Baekhyun lari, lari, lari. Pasir di bawah kakinya berhamburan. Baekhyun hanya melihat satu sosok tubuh saja di antara sekian banyak.
"Bapak! Bapak!" dan ia pun menubruk kaki bapak, memeluknya dengan kedua belah tangannya.
Bapak mengusap-usap rambutnya. "Selamat kau, nak?"
Seluruh obor turun ke bawah dan mengepung kedua bapak dan anak.
"Pangestu, bapak."
Tiada seorang pun bicara, berdiri pesona laksana segerombolan patung.
"Berdiri, nak."
Baekhyun berdiri mengawasi sekelilingnya, menatap setiap wajah yang melingkunginya. Dan setiap orang yang dipandangnya segera nunduk gelisah. Baekhyun jadi kecut. Mereka tak begitu dulu. Benar, tidak begitu dulu, ia yakinkan dirinya sendiri. Ia merasa asing dan terpencil laksana seekor kera dalam kerangkeng. Ia berdiri dengan bantuan tangan perkasa bapak.
"Mari pulang, emak menunggu di rumah."
Ia pandangi bapak dan dengan mata ragu-ragu bapak menghindarkan pandangnya.
Bapak? Mengapa bapak pun segan menatap aku? Anaknya sendiri. Dan bumi di bawah kakinya terasa goyah. Kampung nelayan ini telah kehilangan perlindungan yang meyakinkan baginya. Sedang dari belakang terus juga mengikuti mata-mata Bendoro Chanyeol yang tak dapat dikebaskan dari bayang-bayangnya. Ia masih kenal benar siapa-siapa yang menjemputnya - tetangga-tetangganya. Ada yang dahulu pernah menjewernya. Ada yang pernah mendongenginya. Ada yang pernah mengangkat dan menggendongnya sewaktu ia habis jatuh dari pohon jambu. Ada yang sering dibantunya menunggu dapur. Dan ada bocah kecil yang digendongnya dulu. Tapi semua tidaklah wajar lagi terhadapnya, tidak seperti dulu. Antara sebentar ia dengar kata Bendoro Putri! Bendoro! Bendoro! Bendoro Putri! Kata itu mendengung memburu.
Mengiris dan meremas di dalam otaknya Bendoro! Bendoro Putri! Bendoro! Bendoro Putri! Dan pasang-pasang mata yang menunduk hormat bila tertatap olehnya seakan menyindirnya: semu, semu, semua semu!
Dalam iringan bapak ia berjalan lambat ragu-ragu. Benar, kampung nelayan ini bukan kampungnya yang dulu lagi. Bahkan kegelapan malam yang ditembusi cahaya obor-obor daun kelapa kering rasa-rasanya juga bukan kegelapan malam kampung nelayan yang dulu. Sedang riak yang menjilati pantai, dan gemerlapan lemah kena cahaya obor, rasa-rasanya bukan lagi riak sejak sejuta tahun yang lalu. Suara-suara yang terdengar sekalipun, dalam bisikan lemah pun, terdengar olehnya begitu suram, begitu tak rela dan menyindir.
Luhan tiada buka mulut sama sekali. Kusir pun segan membuka bibir.
Bocah-bocah kecil berloncatan mengelilingi sambil memandangnya, seakan dia ikan duyung yang baru saja tertangkap.
Di depan dan di belakangnya bocah-bocah kecil tak habis-habisnya mengawasi setiap gerak-gerik, dan setiap benda yang lekat pada tubuhnya. Seorang bocah bahkan menahan tangan kirinya dan mengawasi cincinnya, beberapa orang bocah berlari mendahului masuk ke dalam rumah. Ia mengerahkan seluruh perhatiannya, untuk mendapatkan emak menyambutnya di depan pintu. Tapi wanita itu tidak nampak. Hatinya jadi kecut.
Semua orang dewasa mengiringkannya di belakangnya. Cuma bapak berjalan di sampingnya pun agak di belakangnya.
"Mengapa di belakang, bapak?"
Bapak terbatuk-batuk.
"Mana emak, bapak?"
"Di mana tempat perempuan kampung kalau tak di dapur?"
"Ah, Emak," dan Baekhyun lari.
Sandalnya yang sebelah melompat entah di mana ia menyerbu ke dalam rumah. "Emak, mak! Emak, mak."
Tapi tak terdengar suara menjawab. Cuma api di dapur menjilat-jilat belanga besar yang selama ini tak dipergunakan, terkecuali bila kampung mengadakan pesta. Ia berdiri di depan api. Ia mencoba mendengarkan. Ya, ada sesuatu terdengar olehnya: angin dari laut. Ya, ada sesuatu lagi: suara lirih tertahan-tahan.
"Mak!" ia menjerit waktu dilihatnya emak berlutut di pojokan rumah.
"Ah, emak, emak."
Tapi emak Cuma menjawab dengan sedu-sedannya. Baekhyun menyambut dengan sedu-sedannya juga. Keduanya berlutut tanpa bicara.
Dan orang-orang pun kini telah masuk semua ke dalam rumah. Melihat tamasya itu semua orang berhenti tak menghampiri. Bapak membalikkan badan, dengan tergesa-gesa ke luar dari rumah, menyerahkan dirinya pada kegelapan pantai.
"Kau baik, nak?" emak bertanya terputus-putus.
"Pangestu, mak."
"Begitu lama kau tak nampak," dan emak terus tersedan-sedan.
"Emak dan bapak tak pernah panggil aku pulang."
"Ah, terlalu, terlalu. Apakah hak kami memanggil istri seorang Bendoro?"
"Ampuni aku, mak, ampuni."
Orang tua-tua dan orang dewasa seorang demi seorang ke luar rumah, mengikuti contoh bapak. Tinggal bocah-bocah yang jadi saksi bagi anak dan emak di pojok rumah di kampung nelayan.
"Mengapa mak sambut aku dengan tangis, mak?"
"Apakah jahatnya air mata buat anaknya sendiri, biarpun dia istri seorang Bendoro?"
"Mak tak suka aku pulang, mak?" Emak sekarang melolong.
"Emak!"
Kemudian wanita-wanita kampung nelayan pun pada masuk ke dalam. Mereka berhenti tidak jauh dari anak-anak itu.
"Pengabdianmu diterima Bendoro, nak?"
"Apa yang dikehendaki emak dan bapak kucoba lakukan sebaiknya, mak."
"Bukan bapakmu, bukan emakmu tapi Gusti Allah yang menghendaki, nak."
"Emak baik, mak?"
"Cuma kau yang selalu terbayang, mengapa kau pulang?"
"Aku masih anakmu, mak"
"Kau tak kena murka?"
"Tidak."
"Kau tidak dikembalikan pada kami?"
"Tidak."
"Kau datang atas kehendak sendiri?"
"Benar."
"Kau datang dengan seizin Bendoro suamimu?"
"Tidak bisa lain, mak."
Emak menghapus air matanya, berdiri. "Betapa cantiknya kau sekarang."
Dan wanita-wanita tetangga pun mulai mendekat. "Seperti bidadari," beberapa orang menyambung suara.
Dan Baekhyun merasai setiap orang mencoba kuat-kuat untuk meniru kesopanan orang kota, menempatkannya di tempat yang lain, membedakannya dari yang lain-lain seperti pada penderita kusta. Setiap pandangannya bertatap pada wajah, segera wajah itu pun tunduk sambil tersenyum, dengan kedua belah tangan tergantung tanpa tenaga!
Tangan-tangan yang biasa lumatkan biji-biji jagung keras, yang biasa mengeping-ngeping kayu bakar yang keras ulet seperti berasal di jaman purba.
"Kita, masak!" Baekhyun mencoba mengubah suasana.
Tanpa membuka mulut orang-orang itu pun menuju ke dapur. Sejurus sunyi. Tiba-tiba seorang nenek melengking, "Mana orang-orang lelaki? Ayoh, kerja!" Hore, bocah-bocah bersorak.
Karung beras dibongkar. Botol-botol kecap lari ke dapur. Oleh-oleh digelar di atas ambin. Kaum lelaki mulai masuk kembali ke dalam rumah. Baekhyun mengeluarkan dua lembar sarung pelekat dan diserahkan pada kakek tertua kampung nelayan, selembar lainnya pada lurah.
"Yang lain-lain," kakek tua angkat bicara, "cukup makan kenyang-kenyang saja, ya."
"Beras sekarung takkan habis buat orang sebanyak ini." Baekhyun menyusul suaranya.
"Terima kasih, Bendoro Putri."
"Mengapa Bendoro Putri? Inilah Bendoro yang tulen!" Baekhyun menunjuk dengan jempolnya pada Luhan.
Barulah kini perhatian teralih pada Luhan, wanita kota bermuka bulat, bermulut kecil laksana sebuah bawang merah menempel pada bawah cobek.
Malam itu kampung nelayan bermandikan cahaya obor. Di sana-sini terdengar orang menyanyi, dan menjelang subuh tiada satu pun yang turun ke laut.
"Jangan ikut masak, Bendoro Putri," orang-orang mencegah Baekhyun.
Ternyata kusir pun ikut berpesta, lupa pada si Gombak kudanya yang tercancang sebatang kara di penghujung jalan setapak. Cuma setahun sekali kegirangan dan kedamaian semacam ini terjadi: di waktu lebaran haji, dan seluruh keluarga nelayan turun ke laut, menyerahkan ketupat pada dewa laut, meminta berkah dan memohon jangan hendaknya diganggu dalam pekerjaan sehari-hari. Setiap orang merasa bangga, seorang gadis dari kampung mereka telah jadi orang kota, jadi bangsawan, jadi Bendoro. Dan setiap orang merasa bangga kampung mereka dikunjungi seorang bangsawan turunan: Luhan.
Si Sehun pendongeng dengan rebana di tangan sedang asyik mendongeng ketika orang-orang pada sibuk melayani Baekhyun. Ia menyanyikan cerita waktu tuan besar Guntur alias Daendels membangun jalan raya menerjang selatan daerah mereka.
oh, oh dewa sejagad kalah bengisnya matilah dia berani tolak
perintahnya bupati mantri semua priyayi apalagi orang kecil yang
ditakdirkan jadi kuli
dia sandang pedang tipis di pinggang kiri tapi titahnya wah wah wah
lebih dahsat lagi laksana geledek sambar perahu dan tali-temali sehela
nafas sedepa jalan harus jadi menggigil semua dengar namanya guntur
semua pada takluk gunung kali dan rawa pantai dan jalan berjajar
panjang membujur kepala kawula jadi titian orang yang kuasa ...
"Bukan main, tuan besar Guntur," seorang menyela.
"Kalau ada empat orang seperti dia, habislah orang Jawa."
waktu jalan panjang sempurna jadi kereta-kereta indah jalan tiap hari
bawa tuan-tuan nyonya-nyonya dan putri-putri tuan besar gubernur
jenderal dan para abdi
"Ganti saja ceritanya!" seseorang lain menyela.
"Ya, ya, ganti! Ceritakan saja"
"kisah Baekhyun," seseorang mengusulkan. Pendongeng itu berhenti sebentar. Manarik nafas dan mereguk kopinya, kemudian memulai dengan cerita baru. Laut tenang angin pun damai
"Panggil Bendoro Putri biar ikut dengarkan."
"Suruh dia mendongeng lebih keras - tak usah dipanggil."
"Ya, nyanyinya keras sedikit."
Pendongeng memukul rebananya keras-keras dan mengencangkan suaranya:
laut tenang angin pun damai nelayan pulang melepas dahaga
tiada tandingan cantiknya gadis pantai laksana nawangwulan turun ke
telaga
"Bendoro Putri mari keluar - ke sinilah!" seorang berseru.
"Mari ikut dengarkan." Pendongeng memukul rebana lebih kencang dan bersemangat.
gadis tercantik kampung nelayan
idaman pemuda pujaan perawan
kekasih tua-muda laki-perempuan
gadis pantai 'duhai cantik rupawan
orang-orang kota penasaran
bunga mekar di kampung nelayan
bendoro pun cepat kirim utusan
bawa lamaran orang kasmaran
bunga dipetik menghias gedongan
dimandikan mawar disunting berlian
tiada lupa orangtua dan kenalan
manis budi gadis pantai jadi teladan ...
tbc...
