Gadis Pantai


Original Story

Roman Gadis Pantai by Pramoedya Ananta Toer

Karena saya sangat kagum dan suka pada roman ini, maka disini saya akan mengubah Roman Gadis Pantai menjadi versi chanbaek.

Saya bukanlah pengarang aslinya. Saya minta maaf yang sebesar-besarnya jika ada yang tidak berkenan Roman ini saya jadikan versi chanbaek.

Selamat membaca~

Muahh :)


Bagian Kesepuluh


Rebana makin keras dipukul, giring-giringnya makin menggerincing. Dongeng semakin asyik menggelitik, suara laut semakin mendekat, dan malam semakin larut. Keriuhan mencapai puncaknya waktu hidangan tersedia, lengkap dengan segala lauk-pauk dan bumbu-bumbu dari kota.

Beberapa orang mulai menjelepoh di pasir, di bawah-bawah pohon karena mabuk tuak, sedang ruas-ruas bambu tempat bekas tuak bertebaran di mana-mana. Perut yang kenyang membuat keriuhan semakin lama semakin surut. Obor-obor makin pudar dan padam. Bocahbocah pada kehabisan tenaga bergolek di teritis rumah, bahkan di bawah ambin. Akhirnya padam sama sekali kampung nelayan. Yang ronda pun lupa pada kewajibannya.

"Mas Nganten," Luhan berbisik, "di mana sahaya tidur?"

"Tidurlah bersama aku."

"Tidak ada kamar?""

"Menggeletak bersama dan seperti yang lain."

"Mas Nganten ..."

Matahari merangkak cepat tanpa disadari. Baru setelah ada bocah menjerit bangun karena boroknya dipatuk ayam, orang-orang mulai membuka mata, mengucek-ngucek, terbatuk-batuk, kemudian mencari tempat-tempat kelindungan untuk melepas air. Laut telah lama menjauh dari pantai dan perahu-perahu yang kemarin telah disediakan kini pada kandas di pasir.

Bocah-bocah berebutan pada menyerbu dapur mencari sisa-sisa semalam. Dan mendadak saja kampung nelayan sibuk kembali.

"Di mana sahaya mesti mandi Mas Nganten?"

"Di kulan, tentu."

"Air asin tentu. Sabun tak bakal mudah lenyap terbasuh."

"Jangan dengan sabun."

"Sehabis perjalanan kemarin? Tanpa mandi semalam?"

"Kami hanya orang kampung miskin. Kadang-kadang sama sekali tak mandi air, lebih banyak mandi keringat dan laut."

"Seminggu saja di sini, jadi ikan asinlah sahaya."

"Man, Man!" Baekhyun berseru-seru.

Sambil mengerudungi badan bawahnya kusir segera menghadap.

"Ah, Bendoro Putri, lupa sahaya pada kuda sahaya."

"Jangan kuatir tak ada bajak semalam."

"Tak ada memang. Bagaimana kalau kakinya digigit ular?"

"Terpaksa kau turun juga ke laut."

"Tak ada binatang yang lebih menyenangkan daripada kuda, Bendoro Putri. Makannya cuma dedak dan rumput, tapi dia beri anak bini sahaya segala yang kami butuhkan. Sahaya tak perlu cari dia, tidak seperti ikan, Bendoro Putri."

"Tak lupa tembakaumu?"

"Semalam sahaya pergunakan jadi bantal, Bendoro Putri, sayang benar kalau jadi asap tanpa lewat hidung sahaya sendiri."

"Bawa Bendoro Putri ini pulang ke kota."

"Sahaya Bendoro."

"Mas Nganten juga mesti balik."

"Kapan kau punya hak memerintah aku? Man, bersiap-siap kau, cepat."

"Lhah, di mana sahaya mandi Bendoro Putri?"

"Tanyalah pada kudamu."

.

.

.

Dengan demikian di pagi hari itu juga Luhan kembali ke kota.

Ternyata cuma segumpil kecil saja kelegaan yang diperoleh Baekhyun. Pasang-pasang mata yang menyinarkan pandang tak wajar padanya, kesopanan yang dibuat-buat, kekakuan yang menjengkelkan. Terutama orang tuanya yang begitu jauh terhadapnya, menyebabkan ia merasa seperti batu karang tunggal, tak punya sesuatu hubungan dengan dirinya, terkecuali laut yang mengandung kesepian.

Bila ia masuk ke dalam rumah bukan lagi emak yang ramah dan selalu melindunginya yang didapatkan, tapi tetangganya yang dengan sukarela bekerja buat menyenangkannya. Sekarang bapaknya hampir-hampir tak berani masuk ke dalam bila ia tidak di luar rumah. Berapa kali sudah dalam sepagi itu, ia panggil bapak. Tapi ia muncul hanya sampai di pintu mendengarkan suaranya, mengangguk dalam, dan kemudian pergi lagi.

Semua orang menahannya dari bekerja. Semua orang memusatkan perhatian padanya. Setiap langkah dan gerak-geriknya diperhatikan. Maling kesiangan pun tak sejanggal nasibku dewasa ini. Rumah kelahirannya kini tak lagi kuasa melindunginya lagi.

"Bapak," akhirnya ia memanggil. Dan seperti selama sepagi itu, kini Bapak kembali muncul di pintu.

"Mengapa bapak tak terus masuk pak?"

"Di sini lebih senang, panas di dalam."

"Ah, bapak, aku tahu karena aku di sini. Bapak tak mau masuk."

"Tidak benar, itu tidak benar. Apakah yang bisa kuperbuat untukmu?"

"Dekatlah sini."

"Panas di dalam."

"Panggil namaku pun bapak tak sudi lagi."

"Bukan galibnya lagi anak terhormat dipanggil pada namanya."

"Ah, bapak dekatlah, sini."

"Biarlah, aku di sini saja."

Baekhyun melangkah ke pintu menghampiri bapak. Dan bapak meninggalkan bendul pintu menyingkir keluar.

"Aku ingin seperti dulu lagi, bapak, seperti dulu. Orang tak perhatikan aku."

"Tak ada yang perhatikan."

"Mari jalan-jalan bapak. Lihat-lihat sepanjang pantai."

"Apa yang mau dilihat di pantai?"

"Dua tahun lebih aku tak jnjak pasirnya yang basah dan hangat."

"Tinggal saja di rumah, masih lelah dari perjalanan kemarin."

Baekhyun melangkah keluar, berjalan lambat-lambat menuju ke pantai. Bocah-bocah segera menyerbu dan mengikuti riuh rendah suara mereka, dan semua orang ke luar rumah menghantarkannya dengan pandang. Bapak mengiringkan dari belakang.

"Mengapa bapak selalu di belakangku? Bukankah bapak masih bapakku?"

Bocah-bocah pada berkicau mengenalkan keanehan pantai. Waktu Baekhyun lebih jauh lagi berjalan, yang nampak dan tercium masih yang dulu juga: ampas manusia yang berbaris sepanjang pantai, berbaris tanpa komando. "Ingin aku mandi di laut."

"Tak jelas, apakah patut."

"Memang tak patut, tapi aku ingin."

"Tidak mungkin."

"Memang tidak mungkin."

"Ai, bocah-bocah mengapa meriung-riung seperti udang di nampan? Ayoh bubar!" dan dengan tampang mengancam bapak melototi bocah terbesar.

Rombongan bocah itu pun mundur dan menggerombol, berhenti di suatu jarak dan mengawasi anak dan bapak berjalan terus menelusuri pantai.

"Mengapa tidak seperti waktu aku belum kawin? Kampungnya tak berubah, tapi orang-orangnya semua berubah."

"Kita semua semakin jadi tua."

"Lihatlah," ia menuding pada laut, "dia tak berubah," kemudian membalik badan menuding ke kampung. "Dia pun tak berubah. Atap-atap rumbainya tak ada yang baru. Pohon-pohon kelapa itu kulihat tak bertambah. Ada yang mati sepeninggalku?"

"Tidak."

"Cuma bocah-bocah semakin besar, dan banyak."

Bapak mendaham.

"Sedikit sekali perubahannya."

"Sedikit sekali memang."

"Tapi orang-orangnya jelas berubah. Terhadap aku. Bahkan bapak sendiri. Seakan mereka pada menuding padaku: pergilah lekas, pulang kau ke kota."

"Tidak benar. Tidak benar." Bapak mengulang-ulang dengan jerit tertahan.

"Aku datang dan tak seorang pun turun ke laut."

"Tak patutkah mereka ikut gembira bersama bapak yang ditinggalkan dua tahun tanpa kabar tanpa berita?"

"Dua tahun lebih sedikit. Tapi tak ada kulihat bapak bergembira."

"Tak patutlah orang setua ini berjingkrak seperti bocah."

"Betapa bodohnya aku mengharapkan bapak berjingkrak " Ia menuding ke arah laut. "Nampaknya itu bukan perahu kampung kita."

Bapak mengikuti arah tudingan, menggeleng.

"Aku bawakan benang jala."

"Ya, setiap orang bawa benang jala dari kota."

"Dan tasbih."

"Tasbih?"

"Dari Bendoro Chanyeol, buat bapak saja. Hitam. Dari kayu keras, buatan Mekah."

"Buat apa tasbih?"

"Bendoro Chanyeol menyampaikan salam. Kalau kampung belum punya surau, Bendoro bersedia membiayai pendiriannya."

"Betapa mulianya."

"Tapi orang di sini tentu tak ada waktu buat itu. Semua sibuk ke laut dan ikan tak semudah itu ditangkap."

"Jangan menyindir."

"Ah, bapak. Mana bisa aku sindir bapak? Kita semua tahu, buat dapatkan jagung pun tenaga tak cukup, jangankan dirikan surau, jangankan membuka-buka kitab!"

"Masih ingat kata kakek semalam?"

"Aku tak dengar apa-apa."

"Dia bilang, kita ini tak sempat apa-apa. Kaya tidak, cukup tidak, surga tidak, mati pun cuma dapat neraka. Habis segala-galanya tak sampai."

"Nasib nelayan."

"Ah, ingat aku," kata bapak.

"Waktu si Dul pendongeng buka cerita, dia bilang: Kalau kakek tua masuk neraka, kita semua masuk neraka. Cuma dia paling tahu di antara kita."

"Bendoro Chanyeol bilang bisa dikirim guru ngaji."

"Bagaimana kita mesti upahi dia?"

"Bendoro yang upahi."

"Barangkali ikan akan lebih jinak kalau kita ngaji, ya?"

"Barangkali. Belum dicoba."

"Kita tanyakan pada kakek. Cuma kakek tahu menjawab."

"Bapak, bendoro Chanyeol berpesan, ganti rumah itu dengan kayu. Aku bawakan uang buat biaya."

"Buat apa uang? Barang tak bisa dibeli di sini. Lagi semua orang seperti itu rumahnya. Dan kita sama dengan yang lain-lain."

"Barangkali buat beli perahu."

"Kita tetap bikin perahu-perahu sendiri seperti dulu."

"Apa mesti kujawab pada Bendoro?"

"Laut tetap kaya. Dia berikan kepada kita segala-galanya sampai yang terindah di dunia: mutiara."

"Bapak tak pernah bicara tentang mutiara."

"Buat apa? Dia takkan buat tenaga kita lebih berharga."

"Aku dibelikan seperangkat mutiara oleh Bendoro Chanyeol."

"Mutiara sangat berharga, memang. Tapi tenaga kita tidak. Cuma orang pilihan dihiasi mutiara. Yang menyelam mengaduk lautpun tak bermutiara."

"Panggilan aku pada namaku seperti dulu, bapak."

"Memanggil kadang-kadang cukup dalam hati."

"Ah, bapak seakan-akan aku bukan anak kampung nelayan ini lagi."

Bakau di pantai kampung nelayan ini sangat tipis, karena terlalu sering ditebang, dijemur buat kayu bakar. Tapi di suatu tempat semak bakau sangat subur nampak tak pernah terjamah. Jangan ganggu bakau di sini, pernah kata seorang asing dulu. Biar kelak kalau aku ada keberuntungan, aku akan dapat kemari lagi. Aku akan tahu, tanah ini tempat aku injak setelah ditolong perahu nelayan kampung sini, dibawa ke sini, dipelihara di sini dan diantarkan ke kota. Orang asing itu tak pernah datang lagi, tapi semak bakau itu tetap tak terjamah.

"Barang siapa pernah minum air setengah asin kampung ini, dia takkan bakal lupa. Dan barang siapa dilahirkan di kampung sini, dia tetap anak kampung sini."

"Abang-abang sama sekali tak bicara padaku lagi."

"Mereka sedang membikin pola ukiran."

"Nampaknya adik-adikku dilarang mendekati aku."

"Mereka diajar menghormati kakaknya dari kota."

"Ah, bapak, bapak. Sekarang aku seperti pertama kali bapak antarkan masuk ke rumah Bendoro." Bapak menunduk terharu.

"Barangkali aku harus segera balik ke kota kembali."

"Kampung ini memang mengecewakan, terlalu hina."

"Ah, bapak aku cuma ingin diperlakukan seperti dulu. Pukullah aku kalau aku bersalah. Tapi jangan cabarkan hatiku semacam ini. Apa tak cukup penanggunganku di kota? Apa kurang banyak yang kuberikan buat penuhi keinginan orang tua jadi bini priyayi? Mengapa sesudah seumur ini bapak sendiri bersikap begitu? Dan emak hampir-hampir tak mau bicara padaku? Apa dosaku?"

"Siapa sangka anaknya sendiri yang diserahkannya ke tangan priyayi tinggi menanggung?"

Tiba-tiba bapak tak dapat teruskan bicaranya. Dan dengan suara sayup-sayup dan sebagian lenyap tertiup angin ia berbisik, "Berapa kali aku telah pukuli anakku, kadang di subuh hari..."

Baekhyun berhenti, meneleng ke belakang. Mengawasi bapak yang berjalan menunduk dengan pandang menggaruk pasir. Pemberani itu yang menentang laut melawan badai, mengaduk laut, menangkap ikan setiap hari... betapa jadi kecil hatinya kini cuma karena di dekat anaknya sendiri, dan anak yang jadi bini kecil priyayi.

"Ah, buat apa menyesali diri. Kapan aku dikaruniai seorang cucu?"

"Kehendak Allah belum tiba, bapak."

"Belum pernah rumah kita dihiasi dengan cucu."

"Apa bapak harapkan dari cucu bapak?"

"Kesejahteraan, keselamatan, jangan seperti kita."

"Seperti priyayi?"

"Kalau lelaki dia - akan jadi priyayi tulen."

"Kalau ada nasib, bapak suka jadi priyayi?"

"Itulah yang dicitakan setiap orang."

"Kalau bapak tahu bagaimana mereka hidup di sana."

"Setidak-tidaknya mereka tak mengadu untung setiap hari. Setidak-tidaknya mereka tidak berlumuran kotor setiap hari."

"Ah, aneh benar pikiran bapak."

"Aneh dan tak guna. Kita hidup dan bekerja berat dan akan begini terus sampai tak bisa kerja sesuatu lagi. Terkecuali kasih nasehat seperti kakek tua."

"Mari kita lihat orang-orang memperbaiki jala."

"Hari ini semua pada mengasoh. Tak ada yang kerja."

"Kita lihat empang."

"Nanti terlalu lelah, sakit. Bibit sudah ditanam delapan pekan yang baru lalu."

Baekhyun tertawa. "Tahun ini banyak yang beli bibit dari sini?"

"Berkah, berkah. Anak-anak kampung sudah pada besar. Penghasilan bibit lebih banyak. Adik-adikmu saja dapat kumpulkan lebih 1.000 ekor dalam seminggu!"

Dan Baekhyun teringat pada masa beberapa tahun dulu, dengan telanjang diri bersenjatakan rumah karang ia sendoki bibit bandeng dari tepian laut, dimasukkan ke dalam belanga kecil yang diisi air dan dedaunan bakau.

"Aku tak lihat orang membuat trasi lagi."

"Trasi kita tak laku. Sedikit sekali pedagang datang ke mari cari trasi kita."

"Di kota orang lebih suka trasi buatan Lasem."

"Bukan salah kita. Kata orang-orang trasi kita dibawa ke kota sudah dicampur dengan lempung."

"Ya, banyak trasi penuh lempung di kota."

"Bukan kita yang mencampuri."

"Tentu saja bukan kita. Kita bukan keturunan penipu, bapak. Di kota kudengar itu buatan seorang pedagang. Dia punya istri kedua dan ketiga di kampung nelayan dekat kota. Pedagang itu mengaku diri haji. Dia rusak trasi kita biar kampung istri-istrinya saja dapat laku."

"Dari bibit bandeng saja tak banyak yang kita peroleh."

"Sedikit sekali?"

"Tapi kita masih tetap hidup segar, sehat."

Mereka berjalan menuju ke rumah. Bapak tetap saja diam-diam bila tak ditanyai.

"Bapak masih juga tak mau panggil namaku?"

Baekhyun merasai bapak tersiksa karena kata-katanya. Tapi ia sendiri pun tersiksa. Dan laut semakin jauh dari kampung. Dataran pasir nampak begitu jauh, begitu lenggang, coklat muda, datar dan kosong.

Laut nampak seperti garis biru tipis dengan garis lamat-lamat putih di atasnya. Sama sekali tak menandakan ada perahu di atas garis biru putih itu. Angin tiada terasa meniup. Sedang tunggul-tunggul bakau nampak begitu kaku, coklat, hitam tak mengandung hidup, bahkan Cuma kematian melulu. Burung-burung camar yang biasa nampak tergantung-gantung di udara, kini tiada mengisi kelenggangan cakrawala. Dan langit di atas sana putih, cuma putih, seperti kapas tanpa setitik pun warna lain.

"Emak sediakan sate ayam siang ini."

Kata-kata itu membuat Baekhyun seakan terasa lengang. Tak pernah seumur hidup emak buatkan dia sate. Ayam yang hanya beberapa ekor, hanya diambil telurnya buat obat kuat bapak. Entah berapa ekor dari yang sedikit itu kini harus membuktikan, bahwa ia memang lain daripada seluruh penduduk kampung selebihnya.

Dengan langkah gontai dan hati bimbang ia masuk ke rumah kembali.

Waktu ia menengok ke belakang diketahuinya bapak tak ikut masuk. Bapak! Bapak! serunya dalam hati. Ia dapati beberapa orang wanita tetangganya masih sibuk bekerja membantu emak. Waktu melihatnya, mereka berhenti bekerja menekur ke tanah dan mundur-mundur memberi jalan. Barangkali karena perhiasanku, ia mencoba menarik kesimpulan. Aku harus lepas perhiasan ini nanti sore. Ia menghampiri emak yang sedang membuat sambal. Juga emak berhenti kerja, "Jangan ke mari nanti kotor."

Kotor! Tiba-tiba ia ingat pada hukuman Bendoro Chanyeol pada orang-orang kampung nelayan ini. Mereka kotor kurang beriman, karena itu miskin kata Bendoro. Kalau semua mau serba bersih terus siapa yang lenyapkan kotoran? ia bertanya lugu pada Bendoro.

Kotor! Miskin! Kurang beriman! Neraka! Ia tak pernah dengar kata-kata itu sebelum ke kota. Dan kata-kata baru itu banyak mengacaukan otaknya. Bagaimana ikan asin bisa dibuat kalau orang tak berani tarik ludes isi perut setiap ikan yang menggeletak di atas nampan? Binatang-binatang itu akan busuk dan sia-sia saja kerja kepahlawanan bapak dan abang-abang. Dan bau amis jala. Dan seluruh laut! Minyak wangi? Memang menyenangkan, tapi dia tak kuasa panggil ikan datang ke rumah manusia dengan suka rela.

"Mengapa kalau aku kotor?" Baekhyun menukas.

"Tidak baik orang kota kotor. Biarlah kami yang sudah biasa saja melakukannya istirahatlah di ambin. Lelah dari perjalanan kemarin. Mak Tao bisa pijit kalau mau dan kalau suka."

"Mau! mau aku dipijiti"

"Ran panggil Mak Pin."

Baru sekali ini dalam seumur hidup seorang ahli pijat meletakkan tangannya yang berbakat itu di atas punggungnya, pinggangnya, mengendurkan urat-urat yang tegang.

"Sudah lama memijit, Mak Pin?"

"Sahaya."

"Mak Pin pernah tinggal di kota?"

"Sahaya."

"Mengapa tinggal di sini?"

"Sahaya."

"Ha?"

"Sahaya?"

Baekhyun tersenyum, lenyap hasratnya hendak bicara.

Mak Pin tak pernah dikenalnya sebelum ini. Pendatang, pikirnya. Ia telengkan kepala dan melihat ke arah dapur.

"Dari mana Mak Pin ini?" ia bertanya pada siapa saja yang mau menjawab.

"Siapa tahu? Tahu-tahu sudah ada saja di sini," seseorang menjawab.

"Di mana tinggalnya?"

"Di mana saja."

Baekhyun tersenyum. Dalam waktu dua tahun lebih tinggal di gedung menyebabkan ia terbiasa memandang setiap orang punya tempat tetap buat tinggalnya. Dan ia sudah terbiasa memandang setiap orang tinggal aman bila pintu rumah telah terkunci, tiada orang asing datang mengganggu, mendengus.

Di kampung nelayan, kampung kelahirannya ini pelan-pelan tapi pasti ia mulai belajar kembali tentang masa silamnyadulu. Ia tersenyum. Ia menyesal telah menjadi begitu pelupa. Di sini tak ada rumah terkunci pintunya, siang ataupun malam. Di sini pintu bukanlah dibuat untuk menolak manusia, tapi menahan angin. Di sini semua orang tidur di ambin di malam atau di siang hari, termasuk para tamu yang tak pernah dipedulikan dari mana datangnya. Ia mendengus sekali lagi.

Di kota setiap orang baru selalu ditetak dengan tanya: Siapa nama? Dari mana? Di sini, orang tak peduli Mak Pin datang dari mana. Tak peduli Mak Pin gagu. Tak peduli sekalipun dia kelahiran neraka.

"Jadi bagaimana orang tahu dia bernama Mak Pin?"

"Lihat saja kakinya."

"Mengapa kakinya?"

"Pincang." Ah, anak-anak bengal itu sudah namai dia pada cacatnya.

Baekhyun tertawa. Bukan karena kebengalan bocah-bocah, tapi pada nada yang bicara itu! Ia rasai nada suara itu tak mengandung pembedaan diri lagi, itu suara manusia kampungnya. Bukan suara budak terhadap Bendoro.

Tiba-tiba Mak Pin mengeluarkan suara aneh.

"Apa dia bilang?"

Orang-orang tertawa bergegar-gegaran. Baekhyun menghela nafas, itu tertawa manusia kampungnya: lepas, bebas, bukan tertawa budak di depan Bendoro.

"Mak Pin ini ada-ada saja," seseorang menjerit suka.

"Apa dia bilang?"

"Bendoro belum berputra, katanya."

"Haa?"

"Belum segala-galanya. Dia bertanya, Bendoro tak ingin segera berputra?"

"Haa?"

Kembali Mak Pin mengeluarkan bunyi aneh dan riuh rendah, seperti suara keluar dari kerongkongan binatang buas sedang menanggung lapar. Kembali orang tertawa bergegar-gegaran.

"Apa dia bilang?"

"Katanya pinggang ini kecil benar-juga pinggulnya," seseorang memperbaiki, kemudian tertawa melengking.

Baekhyun mengangkat kepala untuk melihat benar-benar bagaimana Mak Pin bicara. Ternyata suara-suara aneh itu dibantu oleh gerak-gerik tangannya yang lincah.

"Mengapa kalau kecil pinggang dan pinggul?"

Seseorang menghampiri Mak Pin, menyentilnya pada pinggangnya. Mak Pin terlompat terkejut sambil berteriak melengking, kemudian tertawa terkekeh-kekeh. Wanita yang menyentil bicara dengan bahasa isyarat, tapi Mak Pin terus tawa cekikikan. Baekhyun pantai memperhatikan, tapi tak mengerti. Ia lihat Mak Pin menggeleng-geleng dan kembali tangannya bergerak memberi isyarat.

"Apa dia bilang?"

"Ah, ada-ada saja, Mak Pin ini," kata orang yang sedang mengaduk gulai di tungku sambil tertawa malu cekikikan.

"Keterlaluan memang Mak Pin ini," orang lain lagi berderai dengan suara keras.

"Memangnya ada apa?"

"Itu lho, Bendoro, katanya, ah, itu...itu...kalau begitu, itu...jadi, ininya..."

"Ah, apa sih ngomong seperti itu?"

"Mak Pin ini memang ada-ada saja bicaranya."

"Ya, tapi apa yang dibicarakan aku tak mengerti."

"Itu lho, Bendoro Putri, begitu, katanya, kata dia, sudah bisa punya anak."

Tiba-tiba Baekhyun terlonjak dari bantalnya, melihat pada Mak Pin, wajahnya bersungguh-sungguh, dan seperti orang baru engah ia bertanya, "Mak Pin benar gagu? Tadi bisa sebutkan sahaya."

"Cuma itu yang dia bisa katakan. Entah berapa tahun lamanya dia pelajari sahayanya. Mungkin dia bisa ucapkan sesudah seratus kali dikepruk kepalanya."

"Sahaya."

Baekhyun mengawasi Mak Pin, yang dengan tangannya memberi isyarat agar ia rebah lagi. Tapi Baekhyun tetap mengawasinya. Tiba-tiba Baekhyun merasa takut, wajahnya mendadak kecut. Gelak tawa di dapur terhenti. Semua mata melihat Baekhyun, kemudian pada Mak Pin.

Baekhyun turun dari bale, berdiri, mengawasi Mak Pin sambil melangkah mundur-mundur. Suasana tiba-tiba berubah. Ketegangan merayapi setiap pojok rumah.

"Bapaaak!" Baekhyun memekik sekuat-kuatnya.

tbc...