Gadis Pantai
Original Story
Roman Gadis Pantai by Pramoedya Ananta Toer
Karena saya sangat kagum dan suka pada roman ini, maka disini saya akan mengubah Roman Gadis Pantai menjadi versi chanbaek.
Saya bukanlah pengarang aslinya. Saya minta maaf yang sebesar-besarnya jika ada yang tidak berkenan Roman ini saya jadikan versi chanbaek.
Selamat membaca~
Muahh :)
Bagian Kesebelas
Pandang liar ketakutan berkilauan pada mata Baekhyun. Beberapa orang lelaki lari masuk ke dalam. Bapak menghampiri anaknya, dan tanpa menengok ke belakang pada bapak, Baekhyun mengulurkan tangan ke belakang dan bapak menangkapnya.
"Siapa dia?" Baekhyun menuding Mak Pin.
"Mak Pin. Kita kenal dia."
"Bukan! Dia lelaki!" suara Baekhyun melengking sekuat-kuatnya.
"Lelaki?" semua orang berseru, heran.
Mak Pin yang tiba-tiba saja dalam kepungan semua orang mencoba bicara dengan matanya. Tapi semua mata tertuju padanya justru minta jawaban darinya.
"Mak Pin, kau lelaki atau perempuan?" tiba-tiba bapak melompat maju mencekam lengan Mak Pin. Mak Pin menggigil.
"Lima belas hari kau sudah di sini, ya?"
"Mana bisa dia jawab? Dia gagu."
"Tidak," Baekhyun meraung.
"Dia bisa bilang sahaya."
"Ayoh, katakan sahaya," bapak meraung.
"Sa-ha-ya," Mak Pin berkata gugup.
"Dia tak gagu. Ayoh, katakan lelaki atau perempuan?"
Mak Pin mencoba menggerak-gerakkan tangannya. Tapi dengan tangannya yang bebas bapak menampar pipinya.
"Kau mengerti omonganku? Kau tak gagu. Laki atau perempuan?" bapak menggertak.
"Buka pakaiannya."
Pengepung-pengepung mengulurkan tangan mau menelanjangi. Mak Pin meronta lepas, menerobos kepungan dan melarikan diri. Beberapa orang lompat berlari.
"Tangkap," bapak berteriak.
Mak Pin telah berada di luar rumah, hilang. Semua orang lelaki lari meninggalkan rumah. "Bawa tali," seseorang berseru dari rumah. Yang tertinggal semua
wanita, melihat ke arah lubang pintu.
"Tidak disangka," seorang nenek mendesis.
"Siapa sangka?"
"Kemarin dia tidur di rumahku. Ah, tidak kemarin dulu."
"Kemarin dulunya lagi?"
"Di rumahku, tapi aku benar-benar tidak tahu."
"Semalam, semalam di mana dia tidur?" tak ada yang menjawab.
"Dia tak ikut pesta semalam?" Tak berjawab.
"Kemarin siang, di mana dia kemarin siang."
"Sahaya tak lihat, Bendoro Putri."
"Siapa yang lihat?" Tak berjawab.
"Heran sekali, Bendoro Putri. Kita semua tidak tahu."
"Mau apa dia sebenarnya kalau dia benar lelaki?"
"Yah, namanya saja lelaki." Diam sejurus.
"Jadi dia tak gagu?"
"Pura-pura barangkali."
"Mengapa pura-pura?" Tak berjawab.
Baekhyun melangkah ke pintu, melihat ke luar, tapi tiada sesuatu pun dilihatnya. Wanita-wanita lain segera mengikuti dan merubungnya.
"Mata-mata bajak laut," orang memutuskan.
"Ya ampun, ya ampun."
Mendengar kata bajak laut, dengan sendirinya orang menutup pintu dan mengunci dengan palang.
"Apa yang mau dibajak di sini? Di sini tak ada apa-apa."
Tiba-tiba orang mengawasi Baekhyun, dan semua mata itu membelainya dari ujung rambut ke seluruh tubuh, antara sebentar berhenti, pada perhiasan-perhiasan di leher, di kuping jari, pinggang, dada. Tak lama kemudian semua pada menunduk. Seseorang menggandeng tangan Baekhyun, dan dirasainya tangan itu menggentar.
"Ambillah minum, buru! Silakan duduk saja, Bendoro Putri. Lelaki-lelaki kita akan bereskan, jangan kuatir orang itu mesti tertangkap."
"Mak, di mana mak."
"Inilah aku," sahut emak dari sampingnya.
"Sudah lima belas hari dia di sini?"
"Lima belas hari? Belum, belum sampai."
"Dia ditemukan waktu orang-orang mau turun ke laut."
"Ya, sedang menggigil kedinginan."
"Dibawa ke rumah Lurah. Dimasakan kopi."
"Ya, lantas tidur. Nggak mau ngomong."
"Besoknya orang baru tahu dia gagu."
"Ah, ah, ingat aku waktu tidur di rumahku dia ngigau. Ngigau benar-benar, tidak gagu."
"Ngigau apa dia?"
"Kurang terang Bendoro Putri. Terlalu pelan, tapi tidak gagu memang."
"Di mana barang bawaannya?"
"Tidak punya. Tidak bawa apa-apa."
"Makanlah," emak mencoba memutuskan perhatian dan Mak Pin. Tak seorang pun ingin makan.
"Ada yang pernah kehilangan di sini?"
"Apa yang bisa hilang di sini? Paling-paling tulang ikan."
"Sudah lama, lama sekali, tak pernah ada bajak."
"Apa yang mau dibajak dari kita?"
"Mereka takkan bajak kita. Orang kota lebih kaya, di sana menumpuk harta."
"Ya, di sini ada apa?"
"Pasti di kota sana semua orang punya emas berlian. Bagaimana Bendoro Putri?"
"Diamlah, diam. Buat apa ngomong yang bukan-bukan?"
Sate ayam menumpuk dingin tak terbakar di atas tungku.
Waktu matahari mulai condong ke barat, barulah para pria kampung nelayan datang ke kampung. Beberapa orang lelaki langsung menuju rumah bapak. Seorang di antaranya bapak sendiri. Dengan wajah muram ia mendekati Baekhyun. Wanita-wanita lain datang merubung.
"Laki apa perempuan dia bapak?"
"Memang bukan perempuan."
"Mana dia sekarang?"
"Dia takkan kemari lagi."
"Di mana?"
"Dia tak mau mengaku, itu salahnya."
"Ya, tapi di mana dia sekarang?"
"Dia bilang, dia dari Demak."
"Demak?"
"Ya, Demak. Siapa percaya dari Demak? Bajak laut takkan pernah berasal dari pedalaman apalagi dari pegunungan. Dia berkukuh tak ngaku mata-mata bajak laut. Dia tak mau ngaku kapan bajak-bajak itu mau menyerbu ke mari. Jadi dia diadili-di tempat dari mana induk bajak bakal datang."
"Disuruh berenang?"
"Ya, ditelanjangi, digiring dengan enam biduk."
Baekhyun teringat pada cerita yang dikenal semua orang di kampung: setiap bajak yang tertangkap digiring ke tengah laut dengan biduk, sampai tak kuat lagi berenang dan tenggelam, kalau tak terburu disambar hiu.
"Berapa ribu depa dia bisa berenang?"
"Tidak sampai ribuan."
"Berapa ratus?"
"Tak sampai ratusan."
"Ha?"
"Segera tenggelam setelah dilempar dari perahu."
"Tidak berenang? Kalau begitu bukan bajak."
"Entahlah. Salah sendiri mengapa menyaru jadi perempuan."
"Bapak salah, salah, bapak, mungkin dia tak bersalah." Bapak menunduk menekuri lantai.
"Mengapa dia pura-pura gagu?" emak membela bapak.
"Mengapa dia pura-pura jadi perempuan?" seorang menguatkan.
"Di mana dia semalam?" seorang lain menyerbu bertanya.
"Tak ada orang lihat dia ikut makan-makan. Barangkali memang mata-mata bajak, Cuma tinggal di darat saja."
Mata bapak jadi beringas. Ditatapnya pembicara itu, kemudian menunduk lagi, kepalanya menggeleng.
"Lantas siapa dia?"
"Siapa namanya?"
"Tao."
Baekhyun terperanjat. Sekaligus ia teringat pada Luhan. Abang Luhan? Mengapa namanya Tao? Ia mencoba bayangkan kembali, tapi tak dapat. Dalam bayangannya selalu saja orang itu menunduk bila ditatapnya.
"Tao?" desisnya kemudian.
"Apa ada yang masih bisa ingat wajah Bendoro Luhan?"
"Bendoro Luhan?" orang berseru.
Bapak menatap emak, kemudian pada wanita-wanita lain.
"Ya, memang ada. Ada persamaan sedikit."
"Mukanya bulat, Tao itu?"
"Ya, ya hampir bulat, seperti Bendoro Luhan."
"Juga Luhan berasal dari Demak," Baekhyun mengingat-ingat.
Barangkali memang abang Luhan. Barangkali bapaknya. Lantas mau apa dia datang ke mari?"
"Kakek pengetua sudah tahu peristiwa ini?"
"Masih tidur dia."
"Benar, cuma dia yang mengerti."
.
.
.
Dan waktu kakek datang, matanya segar, tiada tanda-tanda mengantuk atau habis tidur. Seluruh mata ditujukan padanya. Tongkat kayu bakaunya yang setengah membatu itu seperti memerintah menuding pada emak, sedang suaranya yang garang terdengar terengah-engah kecewa, "Berapa kali aku mesti bilang? Emas! Emas itulah sumber bencana."
"Apa hubungannya semua ini dengan emas?" bapak membantah.
"Apa hubungannya? Kan aku sudah berulangkah bilang, emas itu bikin perahu-perahu pada kandas, tenggelam dalam lumpur. Sudah berapa kali aku bilang emas, emas, emas!" matanya meluncur dan membelai perhiasan - perhiasan pada tubuh Baekhyun.
"Itu semua membuat perempuan ini membedakan diri dari yang lain-lain. Padahal apa beda kita di sini? Apa beda aku dari kau? Semua hidup berkat kemurahan laut."
"Kau tak suka aku tinggal di sini, kek?" Baekhyun bertanya lemah.
"Bukan aku yang bilang begitu, kau sendiri," kakek meraung gerang.
Hati Baekhyun terguncang. Kini ia mulai mengerti, mengapa sikap semua orang jadi berubah terhadapnya. Ia sadari diri bukan lagi penduduk kampung nelayan, hanya karena perhiasan.
"Lantas, apa hubungannya emas dan anakku, dan Tao yang menyaru jadi Mak Pin?"
"Jadi kau tak mengerti?" raung kakek dengan marahnya pada bapak.
"Baik, ayoh jawah, ke mana perginya luak kalau bukan kepada mangsanya?"
"Siapa mangsanya? Aku? Siapa luaknya? Aku?" juga Baekhyun meraung.
Rumah itu tambah lama tambah gelap, karena lubang pintu seluruhnya tertutup oleh penduduk kampung yang menonton. Anak-anak kecil tak seorang hadir, lari ketakutan pada bersembunyi di rumah masing-masing di dekat emak mereka.
"Diam," pekik kakek.
"Kau kami panggil ke mari bukan buat berteriak-teriak seperti monyet gila, kek," bapak meraung marah. "Kami ingin dapat penjelasan dari kau, apa artinya semua ini."
"Mana aku tahu?"
"Kau tak tahu, tetapi mengapa marah-marah kayak kesetanan?"
Dengan suara menyurut-nyurut reda kakek memukul-mukul tongkatnya pada tanah dan, "Ingat-ingatlah, berapa kali aku ajari kalian? Emas itu biang keladi di daratan - mutiara biang keladi di lautan. Tambah banyak barang emas masuk kemari, tambah banyak kemungkinan bajak datang ke mari."
"Tao bukan bajak."
"Kalau begitu dia bajak darat."
"Tapi belum terbukti."
"Tunggu saja. Tak ada bajak laut maupun darat, bisa bekerja seorang diri. Tunggu saja nanti bakal muncul kanca-kanca-nya. Tunggu saja! Tunggu saja." Dan sekali lagi kakek membentak gemas, "Lihat saja nanti."
"Bajak tak peduli siapa yang punya, pinjam atau tidak, dia cuma tahu emasnya, yang mengenakan boleh ditebang lehernya kalau perlu." Baekhyun mengeriut.
"Ya, jadi kau ngeri, kan? Tak ada gunanya seluruh kampung gendadapan cuma karena mau lindungi emas-emas itu. Tahu-tahu luput semua itu darimu. Bodoh semua! Begitulah polisi-polisi kota. Mereka digaji buat jaga emas priyayi, saudagar-sau-dagar Tionghoa, Belanda dan haji-haji. Goblok! Bodoh! Cuma kerbau tidak mengerti."
"Kau tak pernah pergi ke kota," seseorang menuduh.
"Berapa umurmu plonco? Waktu makmu belum lagi bisa buang ingusnya, aku sudah malang-melintang ke Kedah, Treng-ganu, Mengkasar."
"Jadi bukan nelayan?" seseorang bertanya.
"Bukan nelayan tadinya. Bajak aku!" kakek berkata bangga.
Tiba-tiba orang-orang mengambil sikap lain terhadap kakek.
"Mengapa terkejut?" Kakek menetak dengan suaranya. "Apa yang aneh? Kalau orang sudah habis kesabaran kumpulkan ikan, kalau orang sudah habis kesabaran karena jerih payahnya 'nggak laku di darat, apa diperbuat seorang nelayan kalau tak 'mbajak? Kau mau nantang?" teriaknya sambil menudingkan tongkat bakaunya yang setengah membatu.
"Tahu apa kau tentang jaman dulu? Jaman sekarang lain - jauh lebih baik."
"Barangkali kakek pernah membajak kampung kita," seseorang mengujar.
"Kampung ini? Hei, plonco! Kau tak tahu akulah yang selamatkan kampung ini dari bajak. Empat puluh tahun yang lalu. Waktu itu jadi ingus pun kau belum lagi, plonco, kau tak tahu apa?'
"Apa maunya si kakek ini sih?"
"Mau ku? Selamatkan kampung ini. Jangan terjadi apa-apa. Kalian yang sudah agak tua-tua tahu apa itu marsose. Kalian pernah lihat satu kampung disembelih marsose? Semua bayi-bayi yang baru lahir kemarin? Marsose bakal tahu ada orang digiring ke laut, dikira bajak nyatanya tak bisa berenang, Apa kalian mau bilang kalau marsose datang? Uh, uh-uh," kakek terbungkuk-bungkuk dalam batuknya.
"Tao sudah mati. Mau apa kita sekarang ini?"
"Baik, uh-uh, balik uh-uh-uh. Balik kau kota!" Kakek menunjuk Baekhyun dengan tongkatnya.
"Dia cuma mau bertemu orang tuanya. Sudah dua tahun tidak bertemu."
"Buang itu perhiasan ke laut!"
"Bukan aku punya," Baekhyun meyakinkan kakek.
"Kau tak punya apa-apa memang. Semua kepunyaan Bendoro Chanyeol. Kembalikan saja semua pada Bendoro."
"Jangan kasari dia," seseorang menyela.
"Dia orang kita sendiri datang kemari buat tengok orang tua dan kampungnya. Dan kau sendiri girang dapat sarung bugis dan dia."
Kakek terdiam.
"Mengapa kau terima sarung itu?"
"Bagaimana takkan kuterima," kakek mendayu-dayu. "Apa kah layak aku kedinginan terus sampai matiku? Apa itu terlalu banyak?"
"Setiap orang mau dapatkan sarung bigis, bukan kau saja, kek."
.
.
.
Demikianlah, tak pernah selama ini kampung nelayan jadi guncang.
Setiap orang terlibat dalam kecurigaan dan dugasangka. Lenyap kedamaian, lenyaplah ketentraman. Di malam hari tiada seorang pun bermaksud menyiapkan perahu dan turun ke laut. Bulan waktu itu tak ada - cuma bintang-bintang gemerlapan tanpa makna, angin pun tiada meniup.
Dan di malam gelap gulita sayup-sayup, antara gonggongan anjing liar, terdengar nyanyian perlahan si Sehun pendongeng dengan iringan sayup pada rebananya.
tiada perahu turun ke laut tiada ikan bermukim ke darat nelayan
sekampung pada kalut semua terlibat urusan berat
Rebana dan giring-giringnya berbunyi perlahan sayup-sayup.
cring-cring duk-duk-duk - cring-cring duk-duk-duk
ombak segan membanting diri menyulam pantai riak pun ragu nelayan
sekampung pada jeri dikutuk dewa karamlah perahu
cring-cring duk-duk duk - cring-cring duk-duk duk cring-cring duk-duk
duk - cring-cring duk-duk duk
Keesokan harinya, kembali orang lelaki pada berkumpul-kumpul meneruskan persoalan. Umumnya pada menyoal dalam nada peringatan.
"Siapapun tak boleh bicara tentang Tao."
"Marsose tak boleh tahu."
"Juga polisi kota tak boleh tahu."
"Bendoro Chanyeol juga tidak."
"Apalagi Luhan, sudah jelas ada apa-apanya. Luhan juga berasal dari Demak. Tao berasal Demak. Namanya pun sama-sama seperti saudara."
Suasana pembicaraan tak lagi sepanas kemarin. Juga kakek tak dipanggil datang, ia pergi berjalan-jalan dengan hati penasaran sepanjang pantai, di balik-balik semak bakau.
"Ya, ya panggil dia! Urun rembuk, semua kasih pendapat!"
Si Sehun dipanggil, muncul membawa rebananya.
"Bagaimana pendapatmu?" seseorang bertanya.
Si Sehun pendongeng memukul rebananya dan mulai dengan dongengnya:
riuh rendah hati pada cemburu!
"Husy, lempar rebana itu kita tak mau dengar dongeng sekarang. Apa pendapat dan saranmu tentang semua ini?"
Seseorang merenggut rebana dari tangannya, dan dengan hati-hati diletakkan di atas ambin, tepat di tempat Baekhyun semalam tidur. Si Sehun pendongeng menganga mulutnya melirik ke rebananya. Sungguh aneh sikapnya.
"Bicaralah, apa pendapatmu?" Tetap diam, mulut masih menganga, matanya terus melirik ke arah rebana.
"Mengapa dia?"
"Mengapa kau ini?" seorang bertanya langsung.
"Ah, dia cuma bikin-bikin diri aneh."
Kembali si Sehun hanya melirik ke arah rebana. Membisu seribu bahasa. Orang pada heran melihat si Sehun menjadi aneh kalau bercerai dari rebananya. Tetapi orang tak sempat memberikan perhatian lebih lama.
"Berikan kembali rebananya," seorang memerintah.
Waktu si Sehun pendongeng menerima kembali rebananya, sekaligus nampak wajahnya berseri-seri.
Baekhyun adalah satu-satunya yang terus memperhatikan si Sehun pendongeng. Ia mengenal si Sehun pendongeng sejak kecil.
Semua orang bilang dia edan. Orang sering mengatainya si Sehun gendeng, di samping panggilannya sehari-hari si Sehun pendongeng, karena ia tak pernah bekerja selain mendongeng. Orangnya malas, padahal badannya sehat dan kekar. Di kampung nelayan tak ada kamusnya orang malas. Kemalasan adalah barang paling aneh di kampung.
Katanya, si Sehun pendongeng paling takut turun ke laut, sampai-sampai bapaknya membiarkan ia pergi mengembara meninggalkan kampung. Ia pulang bila matahari pun telah lenyap dari langit. Tahu-tahu orang mendapatkannya tidur di depan pintu. Bila bapaknya akan turun ke laut, selamanya hati-hati ia membuka pintu agar tidak mengagetkan anaknya dari tidurnya.
Kini si Sehun pendongeng berumur tiga puluh tahun sudah, namun tak ada wanita mau jadi istrinya. Sebenarnya si Sehun pendongeng cukup ganteng, tetapi malasnya tidak ketolongan.
Nenek pun, maulah aku, cring-cring-cring, sering ia pukul rebananya di malam hari, perlahan-lahan, lebih buat dongeng dirinya sendiri. Tapi nenek-nenek pun tiada sudi jadi bini lelaki malas.
Dalam riuhnya orang mencari pikiran, tiba-tiba si Sehun pendongeng membunyikan rebananya:
cring-cring duk-duk-duk - balik-baliklah bendoro putri
"Husy," orang membungkamnya.
Tapi si Sehun pendongeng tak peduli:
balik-baliklah bendoro putri
ke kota tempat harta ditampung
bawa-bawa emas berlian ke mari
oh oh celakalah seluruh kampung
"Suruh diam pemalas gila itu!" seseorang berteriak gemas.
"Bungkam mulutnya."
"Tapi ia dipanggil buat ikut berunding."
"Ya, tapi bukan untuk mendongeng."
"Mau apa lagi, bisanya cuma mendongeng."
"Rebana? Gendang apa tak bisa?"
"Ah, gendang cuma ditetak di rumah-rumah priyayi."
"Apa dia pernah ke kota?"
"Orang tak pernah pulang begitu, ke mana lagi kalau bukan ke kota?"
"Hai, Sehun gendeng, benar kau sering ke kota?"
"Orang tak pernah tanya dari mana dia dapat rebana."
"Sudah, sudah, kita bukan berunding urusan dia."
"Jadi apa sebenarnya mau dirundingkan?" semua tercenung diam
Tiba-tiba si Sehun pendongeng memukul rebananya lagi dan menarik suara:
kembali kembalilah ke kota
emas berlian bawalah serta
di sana kesenangan menanti
di sini bukan tempat bendoro putri
"Mengapa aku harus kembali ke kota? Aku lahir di sini, orang tuaku di sini."
kampung nelayan gelap gulita pakai obor minyak kelapa kalau hidup cuma
pikirkan harta sudah pasti datang malapetaka
"Hei, Sehun gendeng, tak usahlah kasih-kasih nasehat. Urus saja dirimu sendiri. Cari kerja sana!"
"Mana bisa dia? Nangkap selar saja tak mampu."
Rebana segera gemerincing - kata berjawab gayung bersambut:
nangkap selar menyombong-nyombong
omongnya besar kepalanya kosong
seumur-umur makannya cuma ikan
pantas otak buntu perut cacingan
"Kurang ajar! Aku tendang kau!" seseorang mengancam.
Cring-cring dukduk- duk, si Sehun pendongeng memukul rebana.
"Otakmu itu, otakmu, cuma penuh duri sembilang, pemalas! Pura-pura edan begitu." "Sembilang pun bukan!"
"Belanak!" seorang memperbaiki.
"Otak udang."
"Udang? Teri busuk!"
Suasana tiba-tiba menjadi riang gembira. Orang tertawa riuh rendah. Pendongeng jadi sasaran.
"Otak begitu apa isinya? Tahu enggak? Ubur-ubur!" Ejekan kontan membal kembali pada yang mengejek.
kalau marsose datang dar-der-dor
seisi kampung digedar-gedor
pembual-pembual pada meriut
berani sesumbar cuma ditengah laut
Tiba-tiba gebrakan keras membungkam setiap orang, terkecuali si Sehun pendongeng, mengarahkan pandangan pada pintu. Di sana kakek muncul dengan megahnya, "Begitu ya, tingkah orang yang sudah kenal kota?" tongkatnya sehabis memukul daun-pintu menuding si Sehun pendongeng.
"Nggak bisa hargai kerja nelayan di laut! Pendongeng edan! Pemalas! Bukan rebana yang kasih kita makan, tahu! Ikan, ikan di laut yang bikin seluruh kampung tetap bisa bernafas. Tapi kau mengejek seperti orang kota!"
"Dia tak pernah ke kota."
"Siapa bilang? Lihat saja rebananya. Dulu dia pakai kaleng rombeng. Hei, mana kalengmu sekarang?" kakek tertawa menghinakan, kemudian menyambung, "itu tanda dia suka mengemis di kota. Kaleng rombeng tak boleh dekati masjid dan surau, ngerti. Tapi rebana di kota boleh masuk mesjid - masuk sampai ke dekat khotib di samping mimbar. Ngemisnya lebih gampang pakai rebana! Jejaka malas tak tahu diuntung!"
memang gede-gedenya beduk obral amanat muluk-muluk di depan
khalayak beralim-alim di belakang-belakang paling lalim
"Jadi pintar nyindir begitu dia."
"Jual saja ceritamu ke kota sana. Tanpa dongengmu orang-pun bisa bernafas di sini."
Tapi berbisik-bisik orang saling bertanya, siapa gerangan beduk gede?
"Hei, Sehun gendeng, siapa yang lalim pura-pura alim?"
Cring-cring duk-duk duk, kemudian tiba-tiba irama rebananya berubah, merangsang, melawan, membangkang, memprotes, cring-cring dung-dung cring dung-dung cring.
"Ceritanya dia sedang marah."
"Kau marah, ya?"
dung-cring dung-cring dung-cring...
"Ah, layani orang edan, ikut edan."
"Usir saja, dia!"
Seseorang mengusir si Sehun pendongeng dengan satu tendangan mantap.
Si Sehun pendongeng tertelungkup, rebananya mengguling menggelinding menuju pintu. Seperti orang setengah lumpuh si pendongeng melirik dan merangkak laju menuju rebananya.
"Kok gendengnya menjadi-jadi dia sekarang?"
"Dasar pemalas! Lebih suka dikatai gendeng, asal tak bekerja."
"Bandeng kena tuba pun tidak begitu menjijikkan."
"Tahu kalian mengapa dia jadi begitu?"
"Siapa tidak tahu? Waktu emaknya membuntingkan dia, emaknya mencabut hidup-hidup kaki-kaki kepiting. Jadinya dia kayak orang tak berkaki tak bertangan, tak berdaya. Enggak bisa kerja apa-apa."
"Bagaimana dia kalau mati? Masuk neraka atau surga?"
"Siapa tahu? Berdo'a dia tak pernah, bisanya cuma mendongeng."
"Kita sebenarnya sedang berunding apa sih?"
Sekali lagi orang tercenung membisu.
"Enggak ada yang dirundingkan sebenarnya. Kemarin kita minta pendapat kakek, tapi seperti orang kesetanan kakek 'nggebah sini, 'nggebah sana. Naik pitamlah semua orang jadinya."
"Lantas apa lagi mesti diributkan sekarang?"
"Ah, dengar! Sst dengar ... indah sekali dia menyanyi."
"Memang si gendeng itu berbakat, tapi sayang, malasnya minta ampun."
"Sst, dengar."
Orang-orang terdiam dan sepantun suara lembut, lunak, menghiba-hiba sayup-sayup terdengar di luar rumah, indah.
ombak mengombak riak meriah
perahu nelayan menembus kelam
orang kampung tak kenal tamak
peras keringat sepanjang malam
seia-sekata ikan cakalang
satu hilir semua hilir
hidupi keluarga banting tulang
kerja keras rezeki mengalir
angin keras menghempas buritan
udang-udang dijemur bertebaran
lelaki semalu perempuan seresan
sepakat sekampung tahan cobaan
"Ha, sedang waras dia, ceritanya sudah nggak ngawur. Dia barangkali mau ikut bicara."
"Sekali ngawur, tetap ngawur!"
"Biar dia ikut bicara. Suruh masuk lagi dia."
Seseorang menjenguk keluar dan menyilakan masuk, tapi yang dipanggil tak mau datang, cuma mengeraskan bunyi rebana dan mengeraskan suaranya sendiri.
dasar peruntungan nelayan
harta benda tak mampu cari
jangankan peroleh emas-berlian
gembira sudah dapat sesuap nasi
biar bendoro putri ambil sendiri
putusan terbaik buat diri pribadi
dua tahun sudah bermukim di kota
serasa tujuh turunan di kampung kita
Orang-orang pada mencuri pandang pada Baekhyun.
"Ya, aku akan putuskan sendiri!"
Cring-cring, duk-duk-duk cring-cring, duk-duk-duk, suara rebana makin lama makin terdengar sayup dan jauh, akhirnya padam sama sekali.
"Barangkali dia berangkat ke kota."
"Ke kota? Tangkap dia, Ikat! Kita semua celaka nanti."
"Dia mau ngadu pada masose? Barangkali ke polisi?"
"Tangkap dia, ayoh lari, buru."
"Bendoro, apakah mungkin Bendoro ..."
"Diam! Aku anak kampung sini."
"Maaf, Bendoro Putri."
"Jangan apa-apakan si Sehun itu."
"Tidak, pasti tidak Bendoro, dia dicancang cuma. Biar tak lari melapor ke kota."
tbc...
