Gadis Pantai


Original Story

Roman Gadis Pantai by Pramoedya Ananta Toer

Karena saya sangat kagum dan suka pada roman ini, maka disini saya akan mengubah Roman Gadis Pantai menjadi versi chanbaek.

Saya bukanlah pengarang aslinya. Saya minta maaf yang sebesar-besarnya jika ada yang tidak berkenan Roman ini saya jadikan versi chanbaek.

Selamat membaca~

Muahh :)


Bagian Keduabelas


Hari itu perjalanan sangat cepat, malam pun cepat tiba.

Belum lagi habis orang mengenangkan kembali segala kejadian sesiang tadi, kampung nelayan tiba-tiba jadi hidup lagi. Luhan, Luhan datang.

Kali ini dengan beberapa orang pengiring - semua pria. Langsung ia masuk ke dalam rumah Baekhyun. Dan langsung menyampaikan, "Bendoro Chanyeol perintahkan Mas Nganten pulang malam ini juga."

"Mana tandanya?"

Dari dalam kutangnya Luhan mengeluarkan sepucuk surat bersampul.

Ragu-ragu sambil menatap Luhan Baekhyun menerimanya. Waktu itu emak, saudara-saudara dan bapak masih tinggal di rumah. Mereka semua berdiri tanpa menyilakan duduk tamu-tamu tak diundang itu.

"Mas Nganten tak bisa baca. Mari sahaya bacakan."

"Siapa di kampung ini yang bisa baca, bapak?"

"Siapa? Tak ada."

Sebelum Luhan mendapatkan kembali surat itu, orang-orang kampung nelayan ramai-ramai telah berkerumun di depan pintu rumah.

"Barangkali, sahaya bisa," seseorang berkata.

"Tapi sudah lama sekali tidak membaca sahaya ini."

"Biar sahaya bacakan," dan Luhan mengambil kembali surat itu, menyobek sampul dan membacakan, "Mas Nganten pulanglah." Luhan terdiam. Ia tak teruskan bacaannya.

"Cuma itu?"

"Cuma itu."

"Tulisan itu panjang."

"Tapi bunyinya dikit."

"Mari sahaya bacakan," orang yang mengusulkan diri tadi berkata lagi.

"Tak perlu," gertak Luhan.

"Baiklah tak perlu. Kalau Bendoro Putri mesti pulang malam ini juga, kita antarkan beramai-ramai."

"Ha? Bendoro tak sediakan dokar buat orang sebanyak itu. Cuma dua."

"Semua mesti jalan kaki kalau begitu."

"Jalan kaki?"

"Ya, atau semua mesti naik dokar,"

"Ya, jangan lupa kudanya." Orang terdiam.

"Mestikah aku berangkat, bapak?"

"Kalau tergantung pada emakmu ini, kau mesti pergi nak."

Empat pengiring itu tak juga buka mulut. Salah seorang di antaranya mendaham. Dan orang-orang pun segera memandang padanya. Baru waktu itulah orang melihat nyala aneh pada mata mereka.

Dan orang-orang kampung pun semakin curiga.

"Sini suratnya," Bapak meminta.

"Apa gunanya? Bapak tak bisa baca."

"Surat ini buat anakku, bukan buat Bendoro."

"Ya, berikan surat itu."

Melihat Luhan dalam keadaan terancam, keempat orang pengiringnya pun maju melindunginya. "Surat ini tak kuserahkan," katanya sambil hendak menyelinapkannya kembali di balik kutangnya.

"Kalau begitu anakku tak perlu berangkat. Pulang saja ke kota kalian."

Bapak berkata tegas memutuskan.

"Tidak bisa," Luhan membantah. "Mas Nganten harus pulang malam ini."

"Tidak ada bukti."

"Surat ini buktinya."

"Kalau Bendoro Chanyeol perintahkan pulang, itu berarti pulang," salah seorang pengiring Luhan menengahi.

"Pergi kalian, aku bisa antarkan sendiri. Malam ini juga."

"Tak ada tempat di dokar buat kau!" salah seorang pengiring mengancam.

"Tak ada tempat buat kalian di rumah ini. Pergi!"

"Jangan, jangan pergi," emak menengahi percekcokan.

Tiba-tiba kentongan bambu dipukul bertalu-talu, dan semua lelaki kampung nelayan menyerbu ke dalam membawa tongkat, pendayung, golok, kampak. Yang tak dapat masuk, tinggal di luar mengepung.

"Anakku pergi kalau benar ada bukti. Berikan surat itu!"

"Ya, berikan"

Pria-pria pengiring itu pun mengundurkan diri ketakutan melihat orang banyak masuk. Dan Luhan terpaksa menyerahkan surat itu pada bapak.

"Siapa tadi bilang bisa baca?"

"Aku. Tapi dua puluh tahun aku tak pernah baca. Mari kubaca." Orang itu pun mendekati pelita. Ia pandang-pandang surat itu, mencoba membacanya.

"Ayoh. Apa katanya?"

"Lama benar."

"Aku bilang, dua puluh tahun aku tak membaca."

"Kami sudah dengar, tapi apa katanya?"

"Tapi ini bukan tulisan Jawa."

"Lantas tulisan apa?"

"Tulisan iblis kali."

Luhan mendengus menghinakan. "Tadi sudah kubacakan, tapi kalian tak percaya."

"Hitung ada berapa baris surat itu," bapak meminta.

"Satu, dua, tiga,... dua puluh."

"Yang dibaca cuma sebaris tadi. Mengapa baris-baris lain tidak?"

"Apa gunanya? Itu cuma alamat tempat tinggal Bendoro Chanyeol, dan alamat Mas Nganten di sini."

"Bagaimana bunyi alamatku di sini?"

Belum pernah selama ini kedua wanita itu berpandangan sedemikian tajam. Para pengiring mengawasi bapak - juga dengan mata tajam.

Luhan tak minta surat itu kembali, juga tak membacanya.

"Aku perintahkan kau baca yang lengkap!" Baekhyun menuding Luhan.

"Tidak perlu, ayoh pergi saja kalian dari sini!" Luhan mengusir orang-orang kampung yang berkerumun.

"Ada apa ini? Ah-ah orang kota lagi!" Kakek masuk dengan tergopoh-gopoh.

Tongkatnya kayu bakau yang setengah membatu menuding orang-orang kota.

"Asal ada orang kota datang, selalu mesti ribut."

"Baik, kita balik saja," Luhan mengisyaratkan para pengiringnya.

"Kami akan datang lagi bawa polisi."

"Polisi?"

"Ya, polisi, polisi. Biar kalian didrel habis."

"Ya, ya, benar polisi," salah seorang pengiring menguatkan.

Waktu sedang tegang-tegangnya suasana, nampak sekali bapak sedang keras berpikir. Kemudian ia membisikkan sesuatu pada seseorang. Lama betul bapak berbisik. Sesudah itu orang itu pun lari keluar rumah, tak kembali lagi. Ah, sebodoh-bodoh orang kampung, dalam kepepet akal mereka selalu jalan.

"Jangan, jangan datangkan polisi ke mari. Silakan duduk kita berunding lebih baik lagi. Jangan marah," kata bapak menyabarkan.

"Sekarang juga Mas Nganten mesti pulang," kembali Luhan mendesak garang.

"Ya, sekarang juga anakku akan kembali ke kota. Tapi tunggu sebentar anakku belum siap."

Suasana tegang menjadi surut sedikit. Dan para pengiring pun nampak mendapatkan kepribadiannya kembali.

Mendadak seluruh kentongan bambu di seluruh kampung berbunyi bartalu-talu. Orang-orang terdiam mendengarkan. Terdengar seseorang berseru.

"Bajak laut! Mereka sudah mendarat mau menyerang. Lari!"

Orang-orang pun bersiaga, melompat ke luar rumah membawa senjata masing-masing.

"Mereka datang."

Luhan menjadi pucat. Para pengiringnya menjadi bingung.

"Ke mana kita mesti sembunyi."

"Ikut sama yang lain-lain."

"Ikut ke mana?"

"Pertahankan kampung."

"Tidak. Lebih baik buru-buru pulang ke kota."

"Jalan-jalan tidak mungkin aman sekarang."

"Biarlah aku bebenah," Baekhyun memutuskan.

"Mereka akan segera datang," bapak memperingatkan.

"Tiup itu pelita."

"Jangan dulu."

Tiba-tiba dari luar terdengar.

"Dua mata-mata bajak tertangkap."

"Bawa sini!" bapak berteriak.

Dua orang laki-laki itu di dorong ke dalam. Mukanya babak belur kena pukulan. Terhuyung-huyung mereka didekatkan pada pelita.

"Masya'allah. Itu kusir kami," Luhan memekik.

"Benar, kusir kami."

"Kusir?"

"Tidak! Dua orang biangkeladi ini mata-mata bajak."

"Tidak!" Salah seorang kusir membela diri.

"Kami berdua cuma kusir. Segerombolan bajak sudah serang dokar dan kuda kami. Waktu

dilihatnya dokar kosong mereka bunuh kuda kami. Dan kami lari ke mari."

"Jadi bagaimana kuda itu?"

"Mati. Dua-duanya kita temukan dekat semak-semak, dikampak kepala

dan kakinya," kata seorang kampung.

"Kalian tak di buru?"

"Mereka mengejar, mereka terus memburu ke mari."

"Tiup pelita itu!"

Gelap gempita.

"Keluar semua!"

Semua lari keluar. Di kejauhan terdengar seorang bayi menangis.

"Mereka sudah dekat!" seseorang berbisik.

Dan malam pun semakin gulita.

"Ayoh kita semua lari ke tengah laut."

"Ayoh, ayoh."

"Bendoro Putri siapa ganti kuda kami?" Kusir bertanya.

"Diam!"

"Uh."

"Sudah bagus kalian sendiri nggak digorok."

Seluruh kampung lari meninggalkan rumah. Ke tepi laut dan mendekati muara kali kecil tempat pencalang-pencalang nelayan ditambat.

"Selamatkan Bendoro Putri. Bawa ke laut!"

"Ya, dua-dua Bendoro Putri."

"Satu perahu saja. Pengiring-pengiring di dua perahu lain-nya."

"Benar. Jangan sampai kita kena. Salah nanti."

"Tapi, apa bajaknya tak ada yang jaga di tengah laut?"

"Laut lebih lebar dari darat."

"Naik. Silakan. Cepat-cepat."

Dalam kegelapan itu terdengar bunyi kecibakan kaki-kaki yang turun ke air.

"Jangan takut-takut orang kota. Di sini tak ada buaya."

"Benar. Di sini tak ada buaya. Buaya lebih suka di muara kota."

"Kok kalian tak takut kelihatannya?" tanya salah seorang pengiring Luhan.

"Biasa. Kita semua sudah biasa. Enam bulan sekali bajak turun ke mari."

"Dari mana?"

"Dari mana? Barangkali dari kota."

"Husy. Jangan ngobrol. Cepat!"

Dalam kegelapan itu pun tiga buah perahu meluncur ke laut lepas.

.

.

.

Waktu matahari sudah menjalankan dinasnya, orang-orang pria telah kumpul kembali di rumah bapak.

"Jadi bagaimana?"

"Ya, begitulah, semua menurut rencana."

"Benar dua kuda itu dibunuh?"

"Tidak. Cuma dipindahkan ke tempat lain."

"Tapi kusir-kusir itu ..."

"Cuma ruji gerobaknya kami gergaji tandas."

"Kusir-kusir itu ... katanya kuda-kuda dibunuh."

"Ah, memang kuda-kuda itu terpaksa dipukuli agak keras."

"Di mana kuda-kuda itu sekarang?"

"Di bawa ke hutan, ditinggalkan di sana."

"Anakku sudah mendarat?"

"Sudah, tapi ditahan dulu."

"Bagaimana pengiring-pengiring itu?"

"Mereka semua bersenjata tajam, dalam kegelapan kami pukuli mereka dengan dayung."

"Apa kata mereka?"

"Anak bapak akan dibunuh di tengah jalan."

"Apa alasannya?"

"Mereka tidak tahu. Mereka hanya tahu melaksanakan perintah dari Demak."

"Sama dengan Tao, jadi?"

"Sama."

"Nggak bisa berenang, tentu."

"Tentu saja tidak."

"Kau lempar ke laut?"

"Dua-duanya."

"Yang di perahu lainnya?"

"Mungkin sama saja nasibnya."

"Luhan? Bagaimana Luhan."

"Dia cari-cari abangnya."

"Orang-orang itu yang bilang?"

"Ya."

"Siapa orangnya di Demak yang kasih perintah mereka."

"Mereka tak tahu."

"Jadi mereka cuma tahu Luhan?"

"Barangkali."

"Rupa-rupanya cuma Luhan yang tahu segalanya."

"Kita paksa dia. Kita tahan dia di sini."

"Bukan main perempuan itu, seperti lelaki."

"Mengapa dia sampai begitu? Siapa yang atur semua itu?"

"Nanti kita periksa."

"Celakanya tak ada yang bisa baca."

"Sialan."

"Ah, barang kali si Sehun pendongeng pernah belajar baca. Kita sudah lupakan dia."

"Selama ini masih dicancang dia?"

"Masih di bedeng sero."

"Dia tak bertemu kusir-kusir itu?"

"Tidak mungkin."

"Lepaskan dia. Coba ambil dia ke mari."

Dan waktu si Sehun pendongeng muncul membawa rebana, semua mata tertuju padanya. Dipukulnya tepi rebananya lambat-lambat. Ia sedang memperhatikan apa yang bakal mungkin terjadi.

"Kau bisa baca?" bapak berteriak.

Si Sehun pendongeng terkejut dan dengan sendirinya membuat pukulan kencang pada rebananya, sedang seperti tersentak dan mulutnya meluncur kata-katanya:

"Tidak! Tidak! Ai-ai Tidak!" - dung-dung-dung-cring!

"Jelas nggak bisa baca juga."

Cancang lagi dia.

Pukulan rebana itu tiba-tiba keras memprotes. Dan orang-orang pun memberikan kesempatan padanya berbicara. Pukulan rebananya kini kembali jadi tenang, dan dengan suara mantap dia bawakan pantunnya:

ke mana pun si kecil pergi

ke sana pun penipu menanti

orang kampung sifatnya lugu

sasaran empuk para penipu

tetapi tetapi –

dung-dung-cring dung-dung-cring

Suara rebana tiba-tiba berubah.

"Tetapi mengapa!?" serentak orang memotong.

tetapi tetapi — dung-dung-cring

siapa sangka siapa nyana - dung-dung-cring

"Mengapa, oi gendeng?" teriak seorang tak sabar.

sejak petang layar terkembang

ikan terperangkap dalam langgai

aih aih orang kampung sekarang

menipu pun sudah pandai...

"Setan! Siapa yang kita tipu?" seorang membentak dengan marah.

"Kau jangan mengada-ada, gendeng."

Tapi si Sehun pendongeng meneruskan tanpa peduli:

bajak mana mau singgah di kampung

cuma udang kering berkarung-karung

bajak mana mau datang menggempur

cuma perawan dekil di dapur-dapur

harta tidak — benda tidak

ubur-ubur pun segan mendekat

...

...

Kali ini si Sehun pendongeng tak sempat menyelesaikan nyanyiannya. Dia didorong keluar rumah, "enyah kaul"

Semua marah, tak tahu harus diapakan si pendongeng yang terus mengoceh tak keruan. Sekarang tinggal rebananya masih terdengar lambat-lambat gelisah, sayup-sayup karena orangnya sudah menjauh.

"Tak pernah dia seaneh ini," seorang memecah kesenyapan.

"Benar kata kakek. Kota merusak semua-mua. Betul-betul sudah gendeng dia."

"Selusin iblis sudah bersarang di otaknya."

"Dua lusin."

"Ah, tidak," bapak menyela, "dia cuma kelihatannya saja gendeng, tapi matanya jeli, otaknya jalan."

"Wah, bahaya kalau begitu. Lantas kita apakan dia?"

"Mulutnya tak boleh mencelakakan kita semua. Cancang lagi dia. Ambil rebananya! Simpan di rumah siapa saja, asal tak dirusakkan anak-anak," perintah bapak.

Seorang segera meniggalkan rumah, bertugas sekali lagi mencancang kedua kaki si Sehun gendeng, kalau perlu tangannya sekalian. Pukulan-pukulan rebana sekarang lenyap sama sekali. Tapi suasana dalam rumah masih terasa mencekik. Udara kian lama kian merangsang dengan panasnya, seakan angin enggan menyentuh tubuh manusia.

Tiada selembar rumbia bergerak di atas rumah. Kesaksian hidup Cuma panas udara dan sesaknya dada.

"Apa kita lakukan sekarang?" seseorang berkata.

"Mengapa kepala kampung tak juga bicara?"

"Mesti bicara apa lagi dia?"

"Setidak-tidaknya keselamatan dirinya juga terancam."

"Bukan dia sendiri, kita semua."

"Cuma kakek saja yang tenang-tenang."

"Bagi dia cuma tinggal cari tempat buat mati."

"Iblis tua itu, dia cuma pikirkan dirinya sendiri."

"Itu tidak benar. Dia pikirkan keselamatan kita semua."

"Mengapa sampai terjadi begini sekarang?"

"Husy, husy, jangan menyesali. Beginilah kita sekarang. Kita mesti dapatkan akal, lain tidak. Bagaimana pengiring yang dua lagi itu?"

"Tin! Coba cari keterangan kau." Seseorang segera pergi meninggalkan rumah.

.

.

.

Mereka menunggu, menunggu, menunggu.

Tapi yang ditunggu tiada muncul.

Di hari-hari akhir ini mereka hidup seakan begitu lama. Tak ada ikan tertangkap. Lebih duapuluh jam perut tak dilalui makanan. Orang-orang hampir tak sempat terlelap. Sedang saraf terus juga dalam keadaan tegang. Minyak tanah pun telah habis. Kini orang mempergunakan minyak kelapa, dan nyalanya yang tak berpribadi membuat suasana semakin teras muram.

Tak lama setelah dapat kabar kedua pengiring lainnya juga tewas dan kedapatan bersenjata tajam juga, muncul Baekhyun dan Luhan diiringkan beberapa orang. Kedua wanita nampak layu kehabisan darah.

"Bendoro Putri takkan mungkin pulang." Bapak memulai.

"Bajak telah hancurkan dokar. Kedua-dua dokar. Tak ada dengar apaapa waktu di laut."

Luhan cuma setengah mendengarkan. Menjawab, "Tidak."

"Benar tidak?"

"Tidak."

"Ingat-ingatlah lagi."

"Beberapa mayat nelayan kami ditemukan di pantai pagi ini. Juga keempat pengiring Bendoro Putri."

Wajah Luhan berubah. Matanya menyala serta tangannya dan bibirnya menggigil.

"Pada mereka terdapat luka-luka senjata tajam. Pasti mereka terkena kepung bajak di tengah laut."

"Benar Bendoro Putri tak dengar apa-apa waktu di laut?"

"Aku ada dengar teriakan," Baekhyun berbisik. "lamat-lamat sayup-sayup. Gelap gulita waktu itu. Perahu-perahu kami berpisahan. Kami tak berlampu."

"Beruntunglah Bendoro tak ikut terpelosok dalam kepungan bajak. Mereka tak kenal kasihan. Tak kenal ampun. Seperti orang-orang yang dendam pada kelahirannya sendiri. Syukur Bendoro Putri, syukur Bendoro masih selamat. Bukankah begitu kanca-kanca?"

"Ya, memang begitu. Syukurlah Bendoro Putri selamat. Kita semua sudah begitu kuatir."

"Tapi sekarang Bendoro Putri tak mungkin bisa balik ke kota."

Kemudian emak pun masuk ke dalam rumah, juga abang-abang dan saudara-saudara Baekhyun.

"Bagaimana makan, emak? Tak ada?"

"Ah, datang pun baru, kami ini."

"Masaklah."

"Beras dari kota masih ada kan, mak?"

"Beras masih ada, bajaknya yang sudah tak ada. Mari masak perempuan-perempuan?!"

Dengan tubuh layu, wanita-wanita pun mulai memasak.

Luhan rubuhkan diri di atas bale, dan sebentar kemudian tak bergerak-gerak lagi terkecuali alat-alat pernafasannya. Baekhyun menyusul merebahkan diri di ambin. Pun sebentar kemudian terlelap. Orang-orang laki walaupun capek masih kelihatan berembuk. Bersama mereka mencari akal tentang apa yang harus dilakukan selanjutnya.

Seorang demi seorang meninggalkan rumah setelah lama bicara berbisik-bisik. Akhirnya bapak pun pergi ...

Ketika makan tersedia dan dua wanita yang tertidur dibangunkan, makan sore menyusul, lambat tanpa semangat. Dan waktu Luhan hendak merebahkan diri kembali ke ambin, seperti telah diperhitungkan sebelumnya bapak pun masuk ke dalam dan langsung membuka percakapan:

"Bendoro Putri, Bendoro terpaksa tinggal di kampung sini. Kami tak bisa panggilkan dokar lain, kami cuma mau menolong kalau kami pun ditolong. Kami orang-orang miskin saja, setahun sekali saja makan nasi. Biasanya kami makan jagung. Kami tak mampu sediakan apa-apa pada Bendoro Putri. Cuma sekali ini saja kami sediakan makan. Mulai besok Bendoro Putri silakan cari makan sendiri, mungkin ikut menangkap ikan di laut, mungkin menjahit jala. Sahaya tak tahu apa Bendoro Putri bisa kerjakan."

"Aku? Aku mesti kerja? Kau tidak tahu siapa aku?"

"Tahu benar Bendoro Putri, karena itu sahaya beritakan sebelumnya. Kami tak mampu sediakan makan lagi mulai besok, juga tak mampu sediakan ambin lagi. Juga tak mampu sediakan atap naungan lagi. Bendoro Putri bisa tidur di bawah-bawah pohon kalau suka."

"Mengapa dulu bisa sekarang tidak?"

"Karena masih tamu kami, mulai besok tidak lagi."

"Ah-ah aku tak biasa. Aku tak bisa kerja."

"Ya, Bendoro Putri lebih baik pulang saja kalau begitu."

"Kan tidak ada dokar ..."

"Jalan kaki."

"Takut."

"Kalau begitu harus tinggal di kampung sini."

"Suruh orang antarkan aku, aku akan bayar dia."

"Tidak ada yang bisa. Bendoro terpaksa pulang sendiri."

"Ah-ah, aku takut dan aku tak bisa kerja, aku bayar semua, makanku, tempat tidurku, mandi, minum."

"Berapa uang Bendoro Putri?"

"Tidak banyak, barangkali mencukupi buat beberapa hari sampai ada dokar."

"Dokar takkan datang ke mari. Dia datang kalau kami panggil."

"Panggillah."

"Tak mungkin. Berhari-hari sudah kami lak menangkap ikan. Kami terlalu lelah. Terlalu banyak ribut akhir-akhir ini."

"Ah-ah, biarlah kupikirkan besok."

"Maaf Bendoro Putri, pagi besok Bendoro sudah harus cari tempat lain dan cari makan sendiri. Bendoro sebaiknya tentukan sekarang.'

"Janganlah begitu keras padaku," Luhan memohon.

"Seribu maaf, sahaya tak bisa lain."

"Aku akan bayar semua."

"Mau bayar?"

"Ya! Minta berapa bayarannya?"

Bapak agak mengangkat muka, berdiri, berjalan menjauh menghampiri pintu, mendaham, kemudian dengan ragu-ragu mendekati Luhan yang kehilangan kantuknya.

"Ongkosnya tinggi sekali."

"Seringgit?"

Bapak tertawa.

"Kurang banyak? Tiga rupiah."

Bapak tertawa.

"Lima? Enam? Sepuluh?"

"Dari mana Bendoro punya uang sebanyak itu?"

Baekhyun bangun dari ambin dan menyumbangkan suara, "Di kota dia kerja melayani aku, bapak."

"Cuma pelayan? Tapi dari mana uang sebanyak itu Bendoro Putri?"

Luhan menarik-narik tepi kainnya sambil menunduk sedikit, kemudian dengan mata menyala menatap Baekhyun. "Tahu Mas Nganten tentang orangtuaku?"

"Bapakmu jurutulis."

"Apa jurutulis tak mungkin kaya?"

"Apa yang dimiliki orang tua Bendoro Putri?"

"Sawah puluhan bahu."

"Apa lagi?"

"Rumah, puluhan dokar-dokar sewaan."

"Tapi Bendoro Putri tak bisa keluar dari kampung sini "

"Aku bisa bayar berapa saja diminta."

"Kalau begitu bayar saja dengan sawah, rumah dan dokar-dokar itu. Buat biaya Bendoro Putri di sini. Setuju? Kepala kampung besok bisa pergi ke kota. Berikan uang yang lima rupiah itu kepadanya. Dia akan melihat sawah dan rumah dan juga delman-delman itu. Mengurusnya pada bendoro-bendoro priyayi sampai semua diserahkan pada kami, sesudah itu Bendoro Putri kami antarkan pulang ke kota setuju?"

"Tidak mungkin. Mana bisa sawah-sawah diserahkan."

"Beribu maaf, Bendoro Putri, itu kalau Bendoro Putri suka. Kalau tak suka, lebih baik sekarang saja Bendoro Putri cari tempat menginap lain. Tak usah tunggu besok."

Luhan menekur.

"Dengar!"

Luhan mengangkat kepala kembali dan mendengarkan. Sayup-sayup terdengar salak anjing.

"Silakan pergi Bendoro Putri! Ayoh silakan, silakan pergi! Di semak-semak bakau sana ada tempat."

Sementara itu di luar sana suara-suara anjing masih terus melolong panjang.

Luhan mencekam kedua belah tangan pada dadanya. Wajahnya pucat dan bibirnya jadi biru. Dalam kegelapan malam berlampu pelita nampak seakan rambut kepalanya membumbung lebih tinggi.

"Silakan Bendoro Putri, kalau tak suka pergi, terpaksa sahaya seret keluar."

"Ampun, bapak. Ampun."

"Tidak ada ampun. Berapa uang Bendoro Putri bawa sekarang? Jawab lekas."

Luhan meriut ketakutan. Orang-orang yang kini masuk ke dalam membawa berbagai macam alat, membikin suasana semakin menyeramkan.

"Orang-orang ini datang buat carikan tempat buat Bendoro Putri di semak-semak bakau."

"Ampun, jangan aku harus tidur di sana."

"Berapa uangnya? Sekarang ada?"

"Lima puluh rupiah."

"Dari mana uang sebanyak itu? Serahkan!"

"Orang tuaku kaya."

"Bohong!" beberapa orang sekaligus bersuara.

Orang-orang yang baru masuk kini nampak mengancam sambil menghampiri. Luhan menutup matanya dengan kedua belah tangan dan menangis.

"Tidak ada gunanya, nanti di semak-semak bakau Bendoro Putri bisa menangis sepuas-puasnya."

"Ampun!" jeritan ngilu.

"Dari mana uang itu?"

"Ampuuuun!"

"Angkat saja, bawa saja Bendoro ke semak bakau tepi laut." Orang-orang semakin mendekat.

"Ampun. Uang itu, uang itu dari..."

"Mengapa tak lekas-lekas diseret? Dibuang!"

"Hayoh, kanca-kanca."

"Ampuuuun!" Luhan berpegangan erat-erat pada galar ambin.

"Tak usah minta ampun! Katakan saja dari mana uang sebanyak itu?"

"Aku akan katakan."

"Katakan, cepat!"

"Dari Bendoro Demak."

"Bendoro apa? Patih? Mantri Kanjeng Bupati?"

"Bendoro ... Bendoro ... Tidak, aku tidak akan katakan."

"Bendoromu yang suruh kau ke mari?"

"Tidak."

"Siapa suruh kau?"

"Siapa? Siapa? Aku sendiri!"

"Mengapa Baekhyun mau kau bunuh?"

"Tidak! Tidak! Tidak!"

"Kanca-kanca! Bawa pengiringnya yang masih hidup. Itu yang bahunya belah kena tombak bajak. Suruh dia ngaku di sini. Biar tatap muka. Sedia Bendoro Putri?"

Baekhyun terdiam.

"Pengiring itu bilang, kalau Bendoro Putri tak mau ngaku, parang yang dibawanya dari Demak bakal ditebangkan pada leher Bendoro Putri sendiri."

"Hei, para kanca, ikat kaki tangannya. Kita sendiri saja yang tebang

lehernya. Nggak ada yang tahu dia ada di sini. Bendoro di kota pun tak tahu."

Luhan membalikan badan merangkul dataran ambin dengan kedua belah tangannya, melekat erat pada galar-galar ambin.

"Tidak ada gunanya Bendoro Putri!"

"Ah, bukan Bendoro dia!"

"Tidak ada gunanya, Bendoro Putri. Gampang saja tangan itu ditebang, lepas sendiri Bendoro dari ambin."

Luhan menjerit minta-minta tolong.

"Tak ada guna menjerit. Tak ada orang kota di sini, takkan ada yang dengar. Takkan ada yang nolong."

Baekhyun terisak-isak.

Luhan melolong-lolong.

"Ngaku cepat!"

"Bendoro Demak janjikan aku, aku ...jadi..." Orang-orang terdiam mendengarkan. Luhan masih melekatkan tubuh pada ambin.

"Cepat! Kalau tidak aku lecut dengan buntut pari."

"Istri... Istri, Istri, istri kelima, kalau.."

"Kalau apa?"

"Kalau, kalau, kalau aku dapat, dapat usahakan .."

"Cepat!"

"... putrinya, dapat... dapat ...jadi istri Bendoro Chanyeol, Bendoro Chanyeol suami Mas ... Mas Nganten."

"Tengik!"

"Berapa kau dapat duit dari Bendoro Demak buat usir anakku?"

"Seratus rupiah."

"Mana sekarang?"

"Tinggal tiga puluh lima."

"Berapa kau bagi pengiringmu?"

"Baru seringgit-seringgit"

"Kalau berhasil pekerjaannya, ditambah berapa?"

"Ampun! Ampun!"

"Kita apakan perempuan culas begini?"

"Aku ada usul, aku ada usul."

"Bagaimana? Ayoh cepat apa usulnya?"

"Berikan dia pada si Sehun gendeng biar kesampaian maksudnya dapat lelaki."

"Bagus! Bagus! Setuju!" serentak orang menyambut.

"Betapa girang si Sehun gendeng. Dia bakal ileran."

"Ah, ah, Bendoro - pergi jauh-jauh, tahu-tahu jadi bini pendongeng gendeng."

"Cepat!"

Orang pun pada tertawa senang. Luhan reda sedikit. Ia terisak-isak.

"Ai-ai, tak dapat Bendoro, pendongeng edan pun jadilah. Oi, sudah pernah lihat si Sehun?"

"Hmm, kalau malam bisa dengarkan dongengnya: duk-duk-duk, cring!"

Kembali orang gelak-gelak.

Isak-isak Luhan semakin surut mendengar gelak-gelak itu.

"Tak jadi dibawa ke semak bakau?" Tak bersambut.

"Kasihlah dia pada si gendeng itu. Biar pesta dia malam ini."

"Bagaimana Bendoro Putri, jawablah, tidur di semak-semak bakau atau ditemani si Sehun pendongeng di bedeng sero. Jawab."

Luhan terdiam dari isak dan sedannya. Ia menekuri bumi sekarang.

"Nggak susah, nggak susah. Ayoh jawab saja."

"Para kanca! Itu usul baik, bukan?"

"Baik, lebih dari baik."

"Hebat!"

"Asyik!"

"Jawablah, Bendoro. Bendoro Putri bukankah masih perawan?"

"Janda," Baekhyun membetulkan.

"Ya, ya, biar sekali ini si Dul punya kerja. Kerja jadi lelaki."

"Benar, biar dia belajar jadi lelaki!" tertawa riuh.

"Cepat!"

"Para kanca, Bendoro Putri diam saja, tak menolak - jadi setuju."

Orang-orang mengawasi Luhan, yang kini duduk diam-diam di ujung ambin.

"Apa lagi yang ditunggu? Ayoh! antarkan dia pada si Sehun pendongeng."

"Ya, ya. Cari laki di sini tidak sulit."

"Silakan berdiri, Bendoro Putri. Mereka akan antarkan Bendoro Putri."

Ragu-ragu Luhan berdiri.

"Para kanca! Yang sopan! Antarkan Bendoro ke bedeng sero –jangan tinggalkan sebelum kalian tahu pasti Bendoro selamat sampai di tempat."

Luhan mulai berjalan meninggalkan ruangan, lambat-lambat menuju ke pintu. Kepalanya menunduk dalam. Baekhyun berlari-lari menghadang jalan.

"Luhan, bukan kehendakku semua ini."

"Sahaya, Mas Nganten."

"Ini semua barangkali akibat niatmu sendiri."

Luhan meneruskan langkah, dan Baekhyun menyingkir memberi jalan.

"Kau tak keberatan mendampingi si Sehun pendongeng?"

Ragu-ragu Luhan mengangkat bahu dan terus melangkah, keluar dari pintu, hilang ke dalam kegelapan malam, orang-orang pun mengiringkan di belakang sebagian di depannya.

"Seungri!" bapak berseru.

Seorang pemuda berjalan sigap menghampiri bapak. "Sampai besok pagi kau bertugas mengawasi si Sehun pendongeng dan Luhan. Jangan sampai mereka lari ke kota. Lepaskan ikatan si Sehun dan awasi mereka dari kejauhan saja. Jangan lupa kembalikan lebih dulu rebananya."

Pemuda itu pun segera ke luar rumah

Dari luar terdengar riuh rendah pemuda-pemuda tertawa.

"Si Sehun pendongeng masih perjaka!" seseorang memekik.

"Baik-baiklah mengurus dia, Bendoro." Orang pun bersorak.

Baekhyun terisak-isak. Bapak menatapnya sebentar kemudian berjalan juga menuju ke pintu.

"Kau menangis," emak menghampiri.

"Kasihan dia."

"Di sini tak seorang pun mau sama si Sehun gendeng. Kan baik ada perempuan yang mengurusnya."

"Tapi kita orang kampung, mak. Luhan orang kota, tentu lain kemauannya."

"Ah, hukuman itu tidak berat."

"Tidak berat? Kawin dengan orang biasa pun sudah tak tertanggungkan, mak."

Tiba-tiba Baekhyun teringat lagi pada kejadian yang telah menggegerkan seluruh kampung, ia bertanya, "Apa benar para pengiring mati diserbu bajak, mak?"

"Tanya saja pada bapak."

"Benar ada pengiring belah punggungnya? Bahunya?"

"Tidurlah, nak."

"Dia tak berbicara sama sekali tentang Tao," berkata Baekhyun terheran-heran tentang Luhan.

"Tao?" Emak tersentak.

"Si pendongeng tahu tentang Tao. - Bapak! Bapak!" emak pun lari mendapatkan bapak yang telah hilang di dalam kelam.

tbc...