Gadis Pantai
Original Story
Roman Gadis Pantai by Pramoedya Ananta Toer
Karena saya sangat kagum dan suka pada roman ini, maka disini saya akan mengubah Roman Gadis Pantai menjadi versi chanbaek.
Saya bukanlah pengarang aslinya. Saya minta maaf yang sebesar-besarnya jika ada yang tidak berkenan Roman ini saya jadikan versi chanbaek.
Selamat membaca~
Muahh :)
Bagian Ketigabelas
Keruyuk pagi ayam jago pantai mulai terdengar. Terdengar juga deru ombak menjilati pantai dan membanting diri.
"Satu malam lagi mereka tak berangkat ke laut," Baekhyun berbisik sendiri. "Apa jadinya orang-orang ini semua?"
Ia rebahkan diri di ambin. Matanya merenungi segala yang telah terjadi. Beberapa kali ia menarik nafas keluh, kemudian tertidur. Waktu, bapak dan emak datang ia telah tenggelam di dalam mimpi.
"Kasihan anak kita."
"Mestinya tak kau kawinkan dengan Bendoro."
"Diamlah, diam!"
Kedua-duanya pun merebahkan diri di ambin. Abang-abang Baekhyun telah keluar semua. Sedang adik-adik Baekhyun menyusul orang tua mereka. Kampung itu pun terlelap dalam embun pagi yang sejuk.
Jam sembilan pagi rumah bapak mulai ramai lagi, kedua orang kusir pun muncul, tapi kemudian dibawa ke rumah kepala kampung untuk sarapan pagi dan didengar ceritanya.
Pemuda Timin muncul untuk melapor tentang tugasnya semalam, ia menarik bapak ke pojokan.
"Luar biasa! Luar biasa!"
"Apa yang luar biasa?"
Mata Timin menyala bangga, takjub heran. "Bagaimana tak luar biasa! tanpa rebana si Sehun gendeng bisa senyum, bisa tawa. Dia waras, bisa ngobrol."
"Ngobrol? Ngobrol apa mereka?"
"Mana aku tahu?"
"Bagaimana Luhan?"
"Juga dia tertawa-tawa, mencubit dagu si pendongeng."
"Dasar!" Cih, sebenggol ludah pun mendarat pada dinding bambu.
"Ada mereka sebut-sebut nama Tao?"
"Mana sempat? Mereka sibuk kok,...berkasih-kasih."
"Kau kembalikan rebananya?"
"Tak perlu lagi."
"Kau lepaskan ikatannya?"
"Ya, sesudah lepas ikatan, ia bersila di tanah. Kami bertiga kemudian mengobrol. Luhan tak bicara apa-apa tentang abangnya. Aku beranikan diri bertanya, 'kau senang ditemani putri cantik dari kota? Tidak semua orang kampung dapat kehormatan seperti kau.'"
"Iblis! Kau sendiri kepingin?"
"Tidak! Mereka berdua memang sudah paling cocok. Waktu aku tinggalkan bedeng sero dan keadaan sudah sepi sekali, mereka malahan..."
"Malahan apa?"
"Ya, begitu ..." jawabnya sambil mengedip-ngedipkan matanya sebelah.
"Iblis kau! Aku suruh mengawasi jangan sampai mereka lari ke kota, bukan disuruh ngintip yang tidak-tidak!"
"Apa lagi kalau sudah begitu?"
"Apa lagi? Mereka harus kawin baik-baik."
"Mau makan apa mereka nanti? Si Sehun gendeng begitu takut pada ombak."
"Barangkalai sekarang ia terpaksa harus berani. Di mana keduanya sekarang?"
"Jalan-jalan di tepi laut."
"Oh, enaknya."
"Memang. Itu bukan hukuman namanya."
"Bukan. Perbaikan! Barangkali baik buat dua-duanya."
"Kapan mereka dikawinkan?"
"Tanya sendiri pada keduanya!"
Pemuda Timin lari meninggalkan ruang rumah bapak, menyegarkan diri ke dalam cerah pagi. Hadirin lainnya ngobrol sambil tertawa-tawa. Antara sebentar terdengar nama si Sehun pendongeng disebut-sebut.
"Tahu? Sekarang tidak ada bedanya Bendoro Putri dengan orang kampung seperti kita ini."
Orang-orang pun gelak-gelak tertawa. Baekhyun mengawasi mereka dengan mata sayu. Mendengar obrolan semua itu, justru yang sebaliknya terbayang dalam angannya: dirinya sendiri - orang kampung - diseret ke kota dan diupetikan pada seorang Bendoro. Tapi nampaknya Luhan terima nasibnya dengan senang.
Bagaimana bisa? Bagaimana bisa? Ia awasi orang-orang yang pada gelak tertawa. Apakah orang-orang kampung ini tak tertawakan aku juga waktu aku diseret ke kota? Tiba-tiba suatu sayatan menyerang hatinya.
Ia bangkit dari ambin, meninggalkan ruangan dan melalui pintu dapur memberanikan dirinya pada alam terbuka. Ia berjalan menuju pantai. Laut telah menjauh dari kampung, sedang pasir pantai yang kuning keputihan itu mengisi hatinya dengan kelapangan.
Di dekat sebuah biduk bergaris biru jauh di sana, dua titik bergerak perlahan. Sekaligus ia tahu: Itulah Luhan dan Si Sehun pendongeng.
Ia berjalan cepat menghampiri mereka. Dan ia lihat titik satu lagi juga sedang bergerak menghampiri mereka. Sekaligus ia tahu: Itulah pemuda Timin.
Tak pernah dua tahun ini ia berjalan cepat seperti sekarang ini. Kakinya yang tak bersandal merasa dibelai oleh pasir basah yang hangat. Bertambah cepat ia berjalan, bertambah membesar titik-titik di hadapannya. Terus semakin besar sampai akhirnya nampak resam tubuh mereka. Titik yang satu nampak bergerak semakin cepat, akhirnya menggabungkan diri dengan yang kedua. Mereka kemudian nampak berjalan menuju ke arah kampung. Dan perjalanan mereka membuat tubuh mereka makin cepat nampak menumbuh jadi jelas.
Akhirnya di bawah genggaman terik matahari pagi Baekhyun menemui Luhan berjalan bersama si Sehun pendongeng sedang pemuda Timin mengiringkan di belakang. Ia melihat pancaran bahagia pada mata si pendongeng, dan pancaran menyerah pada mata Luhan. Tiada terdapat pertarungan antara kedua pancaran mata itu.
Nampaknya tak ada sesuatu pun patut disesali, ia berbisik pada diri sendiri. Ia hampiri Luhan, ia gandeng tangannya. Dan Luhan tak menolak.
"Bagaimana kau Luhan?" Tak berjawab.
"Mereka rupanya mau siapkan pesta," pemuda Timin menyambung dari belakang.
"Memang patut dirayakan," si Sehun pendongeng mendengus ria tanpa rebananya.
"Kau sendiri, bagaimana kau sendiri, Luhan?" tetap tak berjawab.
"Mas Nganten!" keluar lagi suara si Sehun mendadak.
"Ya?"
"Sahaya..."
"Mengapa terdiam?"
"Ayoh," Timin memberanikannya dari belakang.
"Bendoro Putri, sahaya akan ikut turun ke laut."
"Kau? Kau? Ke laut?"
"Benar, Bendoro Putri!"
"Syukur! Mengapa baru sekarang? Sudah lupa pada rebanamu sekarang?"
"Tidak, Bendoro Putri, tapi sahaya akan turun ke laut. Kapan saja. Besok boleh, lusa pun boleh."
"Ah, Sehun, Sehun, kau tak main-main?"
"Percumalah sahaya jadi lelaki, kalau tak berani turun ke laut."
"Ya, ya Aku mengerti. Tapi mengapa baru sekarang?"
"Ha, ha, ha."
"Si Sehun pendongeng sudah menjadi anak nelayan sejati, Bendoro." Timin bersuara.
"Ya, anak nelayan sejati!" si Sehun pendongeng membenarkan.
"Kau bahagia Sehun!"
"Anak nelayan harus jadi nelayan."
Timin terbahak-bahak dari belakang mendengar jawaban jantan si Sehun gendeng.
"Kau sendiri bagaimana Luhan? Kau sedia dikawinkan?"
Luhan angkat bahu. Nasib tak dapat diraih, mujur tak dapat ditolak.
"Kau takkan menyesal?"
"Mau sesali apa lagi, Mas Nganten?"
"Nasib kita memang berlawanan, Luhan."
"Sahaya."
"Aku seperti kau, dipaksa. Aku dipaksa ke kota. Kau ke kampung."
"Sahaya."
"Tapi pendongeng pun sesama mahluk Tuhan, bukan? Dia orang baik dan sekarang mau bekerja."
"Sahaya."
"Berbahagialah kau. Dia tak punya apa-apa terkecuali kasih sayang."
"Sahaya, Mas Nganten."
"... yang ada dalam dada setiap nelayan."
"Sahaya."
"Bagaimana kau Timin, ada kasih sayang dalam hatimu?"
"Lebih daripada ikan yang bisa ditangkap, Bendoro Putri."
"Kau dengar itu, Luhan?"
"Sahaya."
"Aku senang kau sudah terima nasibmu."
"Sahaya."
"Kalau nanti lakimu turun ke laut, kau akan kerja seperti bini nelayan lainnya. Kau juga mesti menumbuk udang kering. Kalau subuh antarkan laki tinggalkan darat. Kalau angin kencang, tinggalkan rumah meninjau laut. Dan kalau laki terlambat datang, kau tunggu dia di pantai, sampai dia datang dengan perahunya."
"Sahaya, Mas Nganten."
"Tidak seperti di gedung sana, Luhan."
"Sahaya."
"Orang disekap dalam kamar, dalam rumah. Berapa tahun aku di sana? Baru kali ini lagi melihat laut, rasai hangatnya matahari, bertemu orang tua di sini. Luhan di sini setiap hari kau bertemu dengan setiap orang."
Si Sehun pendongeng terdiam mengangguk-angguk lemah. Mereka berempat terus berjalan, diam-diam menuju ke kampung. Dan ternyata seluruh kampung sedang menunggu mereka, berbaris besar, kecil, tua, muda, laki-perempuan, di pantai di bawah deretan pohon-pohon kelapa yang hijau melambai ria. Waktu mereka telah dekat orangorang pun bersorak riuh-rendah, sedang Timin dan Baekhyun mengiringkan di belakang mereka.
"Horeee!" anak-anak bersorak.
"Pengantin datang! Pengantin datang!"
"Horeee!"
"Kanca-kanca, ayoh kita iringkan ke rumah kepala kampung."
"Ayoh!"
Tiba-tiba rebana si Sehun menderu-deru dari tengah-tangah barisan. Si Sehun pendongeng berhenti berjalan menengok ke belakang, melambai-lambaikan tangan meminta rebananya. Dan rebana itu pun dilemparkan ke atas, melayang ke udara. Seperti ditarik tenaga gaib, benda itu menghampiri pemiliknya. Dengan cekatan ia menangkapnya, memeluknya, kemudian menciumnya. Dengan kasih sayang ia geletarkan jari-jari halusnya di atas kulit benda itu, dan dengan kuping sebelah diletakkan pada kayu bingkainya. "Oooh!" terdengar sayu suaranya seperti merintih penuh sesal.
Tiba-tiba dengan sekuat tenaga ia pukulkan jari-jari halusnya pada rebana itu. Satu rentakan suara riuh-rendah, merenung, merangsang, mengatasi pekik sorak yang segera berhenti karenanya. Si Sehun pendongeng terus membunyikan rebananya. Kadang diangkat tinggi-tinggi di udara, dan cuma bunyi kerincingannya yang terdengar. Kadang ia lemparkan benda itu ke atas untuk kemudian ditangkapnya kembali.
"Mana dongengnya!" orang memekik.
"Dia sudah kehabisan dongeng."
"Ya, ya, dia sendiri jadi dongeng sekarang!"
"Horeee!"
Waktu iring-iringan sampai di depan rumah kepala kampung, kulit rebananya itu telah pecah. Barisan berhenti. Si Sehun pendongeng meletakkan rebananya yang rusak di tanah. Membungkuk mengambilnya kembali. Semua orang terdiam sekarang, melihat si Sehun pendongeng berjalan ke luar dari barisan, matanya liar mencari ke kiri, ke kanan, merabai tanah di depannya. Akhirnya dia menemui sebuah batu besar, dan sekali hantam kayu bingkai rebana hancur berantakan. Dengan gaya seorang pemain sandiwara ia lemparkan bingkai itu tanpa melihatnya, matanya tertuju pada semua orang. Tiba-tiba ia angkat kedua belah tangannya. Dan seluruh pengiring itu pun bersorak:
"Horeee!" Gegap gempita seluruh pantai.
Dengan langkah tegap ia gandeng Luhan memasuki beranda kepala kampung.
"Kami ini yang datang." serunya menantang.
Dari dalam rumah terdengar sapa, "Siapa itu bikin ribut di sini?"
"Aku si Sehun pendongeng," ia menyebut dirinya sendiri.
"Angkuh benar kamu sekarang."
"Aku telah rampas wanita buat jadi istriku."
"Dari mana kau rampas dia?"
"Dari kota!"
Kembali orang pun bersorak gegap gempita. Dan seperti ada komando kemudian terdengar suara membenarkan, "Dia rampas wanita dari kota! Kami saksinya."
"Siapa nama wanita kota itu?"
"Luhan."
"Mana buktinya."
"Keluarlah! Ini buktinya."
Kepala kampung keluar sambil memandang Luhan dan mengangguk-angguk. Kemudian mengangkat tangan, mengisyaratkan agar semua berhenti gaduh. Tinggal angin yang terdengar kini.
"Sehun! Si pendongeng kampung kita?"
"Ya, betul."
"Bagus, bagus. Bawalah wanita itu pulang jadi kawan hidupmu."
"Tentu."
"Bawalah pulang. Kau punya rumah?"
"Tidak."
"Kalau begitu, untuk sementara bawalah ke rumah siapa saja yang mau terima."
"Kami mau terima," hampir setiap orang berteriak.
"Pergilah pada mereka! Kalau sudah cukup ikan kau tangkap, nanti kau bikin rumahmu sendiri."
Si Sehun pendongeng menggandeng Luhan. Dipunggungi-nya kepala kampung dan dihadapinya para pengiring. Kepada orang banyak yang mengerumuninya ia berseru, "Inilah kami. Siapa mau pinjamkan bale dan atapnya?"
Orang melompat-lompat girang menyambut permintaannya, para pengiring pun bersuka-ria. Sorak sorai berjalan terus ...
.
.
.
KEHIDUPAN SEHARI-HARI DI RUMAH BESAR INI KIAN LAMA KIAN terasa sunyi olehnya. Para kerabat Bendoro Chanyeol yang tidur di surau di sebelah kiri rumah dan yang bersekolah di siang hari, terasa olehnya tidak punya persinggungan dengannya sama sekali. Mereka seakan mahluk-mahluk dari dunia lain, apalagi kalau mereka sudah bicara dalam bahasa Belanda yang sepatah pun tak dikenalnya. Bendoro Chanyeol sendiri muncul dalam hidupnya hanya di waktu ia berada dalam setengah tidur, setengah jaga. Bujang-bujang di dapur dirasainya seperti mahluk-mahluk aneh, hanya bicara kalau ditanya dan bergerak seperti bayang-bayang di kala senja. Tamu ia tak pernah menerima.
Penjual sayuran yang setiap pagi berdiri di emperan dapur, penjual daging yang duduk di anak tangga ruang belakang - mereka seperti berasal dari alam lain. Sedang bila hari Jum'at tiba, dan para pengemis berbaris di depan rumah, maka ia pun keluar memberikan sedekah mingguan. Dirasainya mereka seperti muncul begitu saja dari bawah tanah.
Cuma satu yang menemaninya dengan setia sejak pertama kali tinggal di gedung besar ini: deru dan derainya ombak laut begitu nyata di malam hari, dan begitu lamat-lamat di siang hari. Bahkan bunyi angin yang setiap hari menggaruk genteng, mengguncang dan membelai pepohonan terdengar begitu asing.
Perabot rumah tangga yang indah-indah itu terkesan olehnya laksana ikan-ikan yang sudah kemarin dulu tertangkap dan menggeletak kaku di penjemuran.
Kedatangannya kembali ke kota, ke dalam gedung, sama sekali tak mendapat teguran dari Bendoro Chanyeol. Perhatian luar biasa pun tidak.
Pertanyaan pertama waktu Bendoro Chanyeol mulai bicara:
"Apa jawab bapakmu? Dibutuhkan surau itu?"
"Tidak, Bendoro. Di sana sudah ada."
"Guru ngaji? Sudah ada?"
"Ada, Bendoro."
"Bagaimana menurut orang-orang? Cukup pandai dia mengajar?"
"Kata orang-orang memadailah."
"Sudah ada yang bisa bahasa Arab?"
"Beribu maaf. Bendoro sahaya lupa tanyakan."
"Lain kali harus ditanyakan."
"Sahaya, Bendoro."
"Suka bapakmu dengan sarung pemberianmu?"
"Beribu terima kasih Bendoro. Bukan kepalang girangnya."
Setelah itu Bendoro Chanyeol tak ditemuinya lagi selama tidak kurang dari tiga harmal.
Sekarang setiap Bendoro Chanyeol pulang dari bepergian, hampir tidak pernah bawa oleh-oleh lagi. Ia pun tak mengharapkannya. Gedung ini lambat laun membikin ia belajar tak mengharapkan sesuatu apa. Dari mengontrol dapur ke pekerjaan batik, dari berbelanja di emper dapur sampai melayani Bendoro, dari malam-malam Jum'at yang lowong sampai pada malam-malam lainnya, semua itu terhampar di hadapan dan di belakangnya, laksana jalan-jalan sunyi-senyap. Hanya seorang saja yang menempuh jalan itu, dia sendiri.
Bendoro Chanyeol tak pernah bertanya tentang Luhan. Ia seperti titik abu yang tertiup dari perapian, hilang terhisap oleh alam semesta. Pada mulanya kenyataan ini mengguncangkan Baekhyun. Bukankah Luhan kerabat Bendoro Chanyeol? Mengapa tak ada perhatian pada nasibnya? Tentang Tao yang telah tewas digiring ke laut, Bendoro Chanyeol tak pernah bicara sama sekali.
Pernah selama dua minggu beredar berita tentang serbuan bajak di kampung nelayan. Sumber berita adalah dua orang kusir yang pulang jalan kaki dari kampung nelayan tapi pihak yang berwajib tak ambil peduli. Pernah juga pada suatu malam Bendoro Chanyeol bertanya dari sampingnya, di tempat tidur:
"Kau bilang bapak dan emakmu baik-baik saja di sana?"
"Sahaya, Bendoro."
"Jadi tak ada apa-apa di sana?"
"Tidak ada apa-apa Bendoro."
"Mereka bicara tentang bajak yang menyerbu. Tidak ada?"
"Tak ada, Bendoro."
"Syukurlah, mereka cuma omong kosong." Bendoro Chanyeol tak bertanya lebih lanjut.
.
.
.
Pada suatu hari yang cerah datang seorang Tionghoa diterima menghadap Bendoro Chanyeol di pendopo. Mereka berdua duduk di atas kursi goyang. Baekhyun sedang membersihkan perabot di ruang tengah.
Dan ia dengarkan percakapan dalam bahasa Jawa tinggi yang kini sudah dikuasainya.
"Bendoro sahaya dengar ada bajak menyerbu kampung nelayan."
"Kampung nelayan mana?"
"Kampung ... beribu ampun. Bendoro ... kampung nyonya Bendoro."
"Nyonyaku?" Bendoro Chanyeol menjawab setengah berteriak. "Aku belum punya nyonya!"
"Beribu ampun, Bendoro. Beribu ampun. Sahaya diutus surat kabar sahaya dari Semarang buat datang ke mari, menghadap Bendoro dan menanyakan soal ini. Kantor Pusat sahaya yang kasih keterangan."
"Pergi, sebelum aku marah."
"Sahaya, Bendoro. Beribu-ribu ampun."
Dan Baekhyun tak mendengar lagi orang Tionghoa itu. Ia menduga Bendoro Chanyeol akan segera memeriksa dirinya kembali tentang peristiwa yang disangkalnya itu. Buru-buru ia tinggalkan ruangan tengah, membawa serta sapu dan bulu ayam, langsung menuju ke kamar, duduk di kursi menunggu datangnya pemeriksaan.
Tidak, aku harus bilang tidak, terus, terus mungkir. Ya, Allah lindungilah seluruh kampung kami. Jangan datangkan marsose. Jangan datangkan polisi. Apakah mereka belum cukup diganggu orang kota?
Yang terjadi kemudian tepat sebaliknya. Bendoro Chanyeol tak datang ke kamar untuk memeriksanya. Tapi sepantun suara yang dingin, keras dan memerintah terdengar menggeletar berdembam-dembam memenuhi seluruh ruangan gedung besar itu:
"Mas Nganten, sini!"
Jantung Baekhyun terguncang. Jantung yang menjompak-jompak dirasainya memukuli dinding-dinding dadanya. Ia terlompat bangkit, berjalan cepat menuju ke arah datangnya suara. Tidak, kampung kami harus selamat. Kampung kami harus selamat. Harus selamat. Ia mempercepat jalannya, terlupa bahwa ia sedang ketakutan.
Bendoro Chanyeol duduk di kursi goyang di ruang tengah. Ia menghampiri dan berjongkok di hadapannya dengan kepala menunduk.
"Inilah sahaya, Bendoro."
"Apa katamu perempuan? Benar tak terjadi apa-apa di kampung nelayan?"
"Benar, Bendoro. Tak terjadi sesuatu pun di sana. Sahaya tinggal selamat dalam lindungan Tuhan, Bendoro."
"Apa yang sudah terjadi di sana?"
"Seperti sehari-hari Bendoro. Orang-orang berangkat ke laut di subuh hari atau tengah malam. Wanita-wanita yang tinggal menjemur ikan dan menumbuk udang kering."
"Semua orang bicara tentang bajak laut."
"Tak ada yang tinggal selamat kalau bajak laut menyerbu, Bendoro. Juga bayi-bayi dibinasakan, dan wanita-wanita ditawan. Sahaya tinggal selamat berkat pangestu Bendoro. Tak ada bajak di kampung kami."
"Baiklah, dengar sekarang. Nanti malam akan datang seorang tamu. Bendoro dari Demak."
Jantung Baekhyun menggigil kencang.
Kini aku harus berhadapan sendiri dengan dia. Dia! Dia yang terbitkan rangkaian bencana atas kampung kami. Dia! Dia! Tapi kampungku harus tinggal selamat.
"Siapkan semua, jangan ada sesuatu yang kotor. Ruang tengah mesti dicuci bersih dengan sabun. Kerahkan anak-anak itu. Mereka tumbuh jadi begitu malas."
"Sahaya, Bendoro."
"Kamar ruang tengah sebelah belakang harus disusun rapi. Lemari-lemari harus dibenahi dengan kapur barus. Meja rias harus lengkap dengan bedak, minyak wangi, celak, sisir, minyak rambut. Jangan ada terlupa satu pun."
"Sahaya, Bendoro."
"Sahaya boleh berangkat, Bendoro?"
"Mulai! Sekarang!"
"Sahaya, Bendoro."
Bendoro terdiam, Baekhyun mengangkat sembah dan meneruskan, "Ya sahaya pergi."
Baekhyun bergerak mundur sambil berjongkok sampai menempuh jarak beberapa meter, kemudian baru berdiri, masuk ke dalam salah sebuah kamar ruang tengah.
Setelah wanita tua pelayannya diusir Bendoro Chanyeol, ia mulai kerjakan sendiri segala-galanya di dalam gedung ini. Kamar-kamar ruang tengah ini tak lagi asing baginya. Di sebuah pojokan berdiri sebuah bupet segitiga. Sebuah buku tebal berdiri di sana. Sering ia buka-buka buku itu untuk melihat gambar-gambarnya. Tapi ia tak mengerti siapa yang tergambar dalam buku itu. Ia banyak melihat gambar berbagai benda aneh yang tak diketahui namanya pun, juga gunanya. Selalu bila ia membawa sapu dan lap atau bulu ayam ke dalam kamar di ruang tengah ia buka buku itu.
Barangkali saja anakku nanti bisa membacanya. Bisa menerangkan padaku gambar-gambar ini. Dan selalu ia berhadapan dengan buku itu timbul dalam hatinya pertanyaan yang menyiksa: Apakah sampai mati aku cuma pegang lap, bulu ayam dan sapu? Canting, sayuran dan piring-piring bekas makan Bendoro? Dan ia pun menyesal tak belajar baca tulis ataupun mengaji.
Dan seperti terjadi tiap hari, tangannya pun mulai bergerak melepas debu pada perabot, mengeluarkan permadani dan menjemurnya untuk kemudian memukulinya dengan pemukul kasur.
Sekarang suasana dirasainya lain. Seorang musuh akan datang dengan kebesarannya, memasuki perbentengan yang selama ini dianggapnya masih bisa lindungi hatinya. Tapi dengan keresahan tak menentu ia teruskan kerjanya menyeka seluruh perabot terkecuali senjata-senjata pusaka - sederetan tombak yang berdiri di atas jagangnya, karena yang demikian diharamkan oleh Bendoro Chanyeol.
Waktu ia sedang menyeka kaca cermin bundar telur yang terpasang pada lemari pakaian Bendoro Chanyeol, ia lihat wajahnya begitu pucat, letih dan kehijauan.
Sakitkah aku? Mengapa pipiku begitu aneh? Mengapa nadi-nadi pada pipinya bersaluran membayang di kulitnya yang putih? Ia tantang matanya sendiri. Mata itu kehilangan sinarnya. Sakitkah aku?
Ia masih berdiri seorang diri di hadapan bayangannya sendiri. Ya, aku lelah. Limabelas hari setelah meninggalkan kampung ia sama sekali tidak berkesempatan istirahat. Kepalanya terasa berat dan besar, seakan telah membesar dua-tiga kali lipat. Keringat dingin terus mengucur sepanjang hari dan antara sebentar matanya berkunang-kunang.
Ia teruskan kerjanya waktu didengarnya daham Bendoro Chanyeol dari ruang tengah. Tapi ia masih tak beranjak dari depan cermin. Dan waktu Bendoro Chanyeol masuk ke dalam ia masih menatap wajahnya. Sedang tangan kirinya mengusap-usap rambutnya. Ia kaget waktu bayangan Bendoro Chanyeol muncul di cermin di samping bayangannya.
"Mengapa kau?"
"Ampun, Bendoro."
"Kau lelah? Mengapa tak kau suruh bujang-bujangmu?"
"Biarlah sahaya kerjakan sendiri."
Tanpa melihat ia dapat mengetahui Bendoro Chanyeol sedang berganti sarung, mengenakan topi hajinya seperti biasa, dan tanpa melihat ia pun tahu Bendoro meninggalkan rumah, berjalan menuruni jenjang depan, turun ke pasir pelataran depan, menempuh gang pasir dan masuk ke dalam mesjid.
Baekhyun menarik nafas panjang. Perabot-perabot di hadapannya semua nampak besar-besar, nampaknya begitu rapuh baginya. Bahkan rumah batu sebesar itu dirasainya tidak pernah sekukuh pondok orang tuanya di kampung nelayan. Ia menuju ke jendela, dilemparkan pandangnya ke arah surau. Pemuda-pemuda kerabat Bendoro Chanyeol pada duduk-duduk di beranda surau membacai buku pelajaran mereka.
Seseorang melihatnya, tapi segera menundukkan muka dan meneruskan bacaannya.
Seakan-akan ia tak pernah ada di dunia. Seakan dia dan mereka pun tak pernah ada!
Tiba-tiba dirasainya sesuatu seperti selembar jarum menusuk hulu hatinya. Ia tertegun. Apakah ini? Benar-benar aku sakit? Dengan sendirinya tangan kirinya meraba tempat yang terserang sakit. Ia berjalan menuju ranjang Bendoro Chanyeol, berpegangan pada tepinya dan duduk di lantai. Ingin ia rebahkan diri di atas kasur itu, tapi ia tak berani. Dan waktu serangan sakit itu berhenti, ia buru-buru berjalan ke luar kamar. Dipanggilnya dua orang bujang wanita untuk meneruskan pekerjaannya: menyabun lantai, ia sendiri duduk di atas bangku kecil dengan mata berkunang-kunang sedang serangan jarum itu antara sebentar datang berulang. Dirasainya jarum itu berjalan-jalan dengan lamban di dalam tubuhnya, dan selalu ulu-hati itu juga sasaran kesukaannya. Setiap serangan pada ulu-hati dibarengi dengan mengucurnya keringat dingin yang merembes berbareng dari pori-pori kulinya.
Tak kurang dari dua jam ia mengawasi bujang-bujang itu bekerja sampai kamar-kamar ruang tengah bersih dan kering seluruhnya. Baru kemudian ia bangkit, meninggalkan kamar-kamar itu serta menguncinya dan langsung menuju ke kamarnya sendiri. Buru-buru direbahkannya dirinya di ranjang. Dirasainya sekepal-sekepal udara yang padat membumbung ke atas dari dasar perutnya - mendorong seluruh isi perutnya ke atas pula. Kadang-kadang udara itu keluar tanpa berhasil mendorong isi perutnya, tapi tak jarang satu dua kepal dapat memompa benda-benda cair dari bawah sampai ke tenggorokan, ke lidah dan dirasainya udara yang tak sedap dan tajam laksana air asam bercampur pahit empedu.
Aku mengandung, bisiknya.
Ia panggil seorang bujang masuk ke dalam kamar dan disuruhnya mengambil paidon (paidon (Jawa), tempolong.), kuningan besar yang tersimpan dalam gudang.
"Jangan pergi dulu, pijiti aku. Bukan di bawah, tengkukku saja."
"Seribu ampun, Mas Nganten."
"Ya, pijiti," dan Baekhyun menengkurapkan dirinya dengan kepala mencekung di luar kasur, mulutnya mengarah pada paidon di lantai.
"Mas Nganten, mengandung."
"Barangkali."
"Syukurlah, Mas Nganten. Semoga Tuhan mengaruniai Mas Nganten seorang putra." "Ya, seorang putra."
"Diselimuti Mas Nganten?"
"Ya, selimuti aku, kakiku. Selimutnya lipat biar tebal."
"Sahaya, Mas Nganten.''
"Jangan tinggalkan dulu aku."
"Sahaya jaga, Mas Nganten."
Tiba-tiba Baekhyun merasa malu. Tak ada wanita kampung nelayan dimanjakan seperti ini bila mengandung. "Tidak, tak usah, pergi kau membersihkan ruang belakang. Nanti malam akan ada tamu."
"Sahaya, Mas Nganten. Siapa yang datang?"
"Husy, mulai kapan kau belajar lancang bertanya?"
"Beribu-ribu ampun, Mas Nganten."
Dan malam itu waktu tamu yang diharapkan datang, ia tergeletak tanpa daya di dalam kamar. Kepalanya dirasainya sangat berat seakan tak mau diangkat lagi buat selama-lamanya. Dan waktu Bendoro Chanyeol masuk ke dalam kamarnya untuk menegurnya, ia hanya menutup wajahnya dengan bantal.
Bendoro Chanyeol mengangkat bantal itu dan meraba keningnya.
"Kau mengandung," bisiknya kemudian dan segera meninggalkan kamar.
Ia memanggil-manggil pemuda kerabatnya. Dan sebentar kemudian menyusul suara perintah bertubi-tubi. Tiga jam kemudian waktu Bendoro Chanyeol menghadapi meja makan bersama tamunya, baru diketahuinya tamu itu seorang wanita.
"Adi Mas Chanyeol," ia dengar wanita itu bicara. Suaranya tinggi dan mengandung perintah.
"Aku senang, Adi Mas, melihat tak ada perempuan tinggal di rumah ini."
"Sahaya, Mas Ayu Xiumin."
"Dan aku lupa melihat si Luhan. Di mana dia?"
"Kurang terang sahaya di mana dia."
"Ha? Bukankah dia kukirim ke mari?"
"Beribu ampun, Mas Ayu, sahaya tidak pernah mengurusi bujang-bujang."
"Adi Mas priyayi sejati. Pantas banyak orang mengharapkan."
"Apa yang diharapkan orang dari sahaya, Mas Ayu?"
Tamu itu tertawa mengerti. Percakapan terhenti, sebentar. Baekhyun berkunang-kunang pemandangannya. Kembali kepalan-kepalan udara memompa isi perutnya ke atas. Ia miringkan kepalanya, dan ia dorong kepala itu dengan lehernya keluar tepian kasur. Tak ada sesuatu yang berhasil didorong oleh kepalan-kepalan udara itu terkecuali udara itu sendiri yang mengeluarkan bunyi tahak serta beberapa sendok cairan kuning yang rasanya asam dan pahit sekaligus dan segera jatuh ke dalam paidon. Waktu ia geletakkan kembali kepalanya di atas kasur, ia dengar lagi suara percakapan disambung. Tapi juga tamu itu rupanya sempat mendengar suara sendawa dari dalam kamar.
"Siapa itu? Luhan?'
"Bukan, Mas Ayu."
"Aa, mengerti aku sekarang!" dan diteruskan dengan nada menggugat, "mengapa tak kau taruh dia di kamar dapur? Tidak patut! Tidak patut! Lihatlah aku. Kau kira patut kau tempatkan dia di bawah satu atap dengan aku?"
"Beribu ampun, Mas Ayu."
Baekhyun tersedan-sedan. Buat pertama kali dalam hampir tiga tahun ini ia mengetahui ada kekuasaan yang lebih tinggi daripada kekuasaan Bendoro Chanyeol. Dan kekuasaan itu berada di tangan seorang wanita. Siapa dia? Siapa? Ia tersedan-sedan kembali. Ia rasai nasibnya sendiri pun berada di tangan wanita kuasa itu. Sia-sia kekukuhan dan kebesaran rumah batu ini. Ada kekuasaan lebih perkasa daripada kekukuhan perbentengan batu ini. Ia teriak-teriak dalam hati. Akhirnya ia diantarkan oleh sedan dari isaknya.
tbc...
