Akuma: *baca review* UUWAAA! Makasih atas dukungannya! Gue seneng banget! *Terharu

Yuki: Ye... cuma dua review aja seneng

Akuma: *Gak denger* Dan maafkan atas kesalahan ngomongnya Yuki minggu lalu... *Bungkuk

Yuki: Emang gue salah ngomong apa? Kayaknya gak ada

Akuma: Hah... bagian happy reading and enjoy. Bagaimana bisa 'enjoy' jadi 'enjor' hah?!

Yuki: Ups...

Akuma: Lupakan saja. Happy reading and enjoy every body~!


Chapter 1

Laki-laki itu selalu bertanya.

"Yuuma! Yuuma! Kau ada dimana?"

Dia selalu bertanya kepada dirinya.

"Ah! Yuuma! Akhirnya kutemukan kau, eh? Kenapa kau di atas sana? Cepat turun! Demammu belum sembuh 'kan?"

Laki-laki itu menghela nafas, menyebabkan kepulan udara dingin keluar dari mulutnya.

"Yuuma? Kau mendengarkanku 'kan? K-kalau kau tidak mau pulang setidaknya turunlah. Aku membawakanmu syal,"

Dia ingin bertanya. Bertanya pada semua orang, apa yang membuat dirinya seperti ini.

Laki-laki itu mengantuk, dia ingin tidur. Nafasnya memburu. Ah... sudah dimulai, reaksi tubuhnya terhadap musim ini.

"Yuuma?"

Entah kenapa tubuhnya terasa jatuh ke bawah.

"YUUMAA!"

Dia selalu bertanya, kenapa dirinya begitu lemah di musim dingin?


Yuki


Dingin. Dingin ini menusuk sampai ke tulangnya. Hamparan putih memenuhi penglihatannya.

Apa yang terjadi? Dimana dia? Dia ingat tadi dia tidak ada di sini.

"Kau sudah sadar?" suara itu tertangkap oleh telinganya. Tapi, dia tidak melihat satu orang pun yang melontarkan pertanyaan tersebut. Hanya hamparan putih yang ada di hadapannya.

Di sini tidak ada orang, hanya dia seorang. Sendirian. Di tempat ini.

'Yah... aku memang ditakdirkan untuk sendiri, untuk apa berharap agar ada seseorang yang selalu menemani disisiku untuk waktu yang lama?' pikirnya.

"Oi Yuuma! Kalau kau sudah membuka matamu tolong jawab pertanyaanku! Kau seperti tidak melihatku di sini!" lagi, dia mendengarkan seseorang yang bahkan rupanya tidak bisa ia lihat. Dan kenapa suaranya terasa familiar?

Puk!

Pandangan serba putih itu langsung hilang saat seseorang memegang pundaknya dan digantikan oleh wajah seorang perempuan berambut pink pucat dengan iris mata biru cerah layaknya langit musim semi.

Selama beberapa detik ia mencoba memahami situasi yang baru ia alami. "IA?" kata laki-laki itu memastikan orang yang ada di depannya.

Perempuan itu— IA, hanya memiringkan kepalanya. "Iya, kau tidak apa-apa? Apa kepalamu sakit? Ada yang luka?" tanyanya bertubi-tubi.

Laki-laki yang biasa dipanggil Yuuma itu hanya diam. Apa yang barusan terjadi? Bukannya tadi dia ada di atas pohon dekat taman menikmati turunnya salju?

"Ya ampun! Aku hampir mati karena terkejut tadi! Kau jatuh dari pohon yang tingginya hampir 5 meter!" serunya.

"Hah?" Yuuma heran. Apa karena itu dia ada di kamarnya sekarang dengan kompres di kepalanya dan baju yang telah diganti menjadi sweater?

"Kau tidak ingat? Aku mencarimu karena kau tiba-tiba hilang. Kak Luka sangat khawatir saat aku membawamu kembali dalam keadaan tak sadarkan diri," jelas IA. Entah kenapa Yuuma merasa sifat IA tidak seperti biasanya.

Yuuma menyingkirkan kompres yang ada di kepalanya lalu bangun dari posisi tidurnya. "J-jangan bangun dulu! K-kau masih sakit!" kata IA dengan suara yang Yuuma kenal.

"Sifatmu kembali," katanya singkat.

"Hah?" kini gantian IA yang heran.

"Kau memakai sifat saat kau ada di sekolah, itu menggangguku," jelasnya singkat.

"Ah! Maaf, aku sangat khawatir tadi..." ucapnya sambil menundukkan kepalanya.

"Kak Yuu! Ayo kita main!" ajak bocah umur 6 tahun yang entah sejak kapan ada di samping ranjang Yuuma.

"Kanon! Kak Yuu masih sakit, kita bisa main setelah dia sembuh," jelas IA kepada bocah bernama Kanon. Anak perempuan berambut jingga panjang yang dikuncir ponytail samping kiri dan mata bewarna emerald.

Kanon cemberut, Yuuma mengusap kepala Kanon lembut, "Benar kata IA, aku akan mengajakmu bermain setelah aku sembuh," kata Yuuma membenarkan ucapan IA sambil mengangkat Kanon kepangkuannya.

"Hee... kau sudah sadar? Laki-laki pendiam yang gak punya sopan santun yang sukanya buat khawatir orang?" tanya perempuan berambut seperti gulali dengan matanya yang tajam bewarna biru laut sinis.

'Gawat!' pikirnya. Dia sudah hafal dengan sifat perempuan yang ada di depan pintu kamarnya entah kapan, alias Luka.

"M-maaf," katanya lirih.

IA menatap Yuuma seakan berkata, 'Maaf tidak akan cukup! Kau keluar dari rumah tanpa izin saat badai salju sedang terjadi!'.

"Ma... af?" ucap Luka dalam.

Sedangkan dua anak berbeda gender dan umur itu hanya menatap Luka dan Yuuma dengan pandangan khawatir di belakang perempuan yang agak bertemperamen. Bahkan IA dan Kanon ikut khawatir. Bagaimana mereka tidak khawatir? Yang perempuan memiliki sifat disiplin dan kasih sayang yang sangat besar pada penghuni rumah— tepatnya penghuni panti ini. Jadi kalau salah satu dari mereka hilang atau tidak disiplin, tanggung jawabnya sebagai pemilik panti akan keluar.

Sedangkan yang laki-laki, memiliki kepedulian yang besar bersamaan dengan sifat cuek dan pendiam yang minta dilempar ke laut. Kalau ada masalah pasti dia akan diam dan mencari solusi sendiri. Dan itu membuat Luka sangat mengawasi apa yang selalu dilakukan Yuuma.

"Ah... sebentar lagi kak Luka akan bicara panjang lebar," gumam laki-laki berumur 10 tahun. Lui, laki-laki berambut jingga seperti senja dan bermata ruby. Dia memiliki sifat yang lebih dewasa ketimbang pemilik panti asuhan.

"A-a-apa kak Yuu akan baik-baik saja?" tanya perempuan yang wajahnya mirip Kanon. Hanya berbeda panjang rambut. Rambutnya yang bewarna jingga muda itu pendek seperti rambut laki-laki dengan bando bewarna putih menghiasi rambut tersebut, Anon. Adik kembar Kanon yang sifatnya pemalu.

"Pasti baik-baik saja kok, kak Yuuma sudah terbiasa dimarahi kak Luka," jawab Lui sambil tersenyum lembut kepada Anon.

Luka menghela nafas, apa yang sebenarnya dipikirkan laki-laki berumur 16 tahun yang ada di depannya? Keluar saat badai salju, terlalu pendiam untuk pamit keluar, dan hilang tiba-tiba seperti hantu.

"Yuuma, kau tahu badai salju itu berbahaya 'kan?" tanya Luka memastikan kalau otak laki-laki berambut merah muda seperti dirinya itu masih ada di tempatnya.

Yuuma mengangguk, "Anak kecil baru lahir tahu itu," jawabnya.

"Lalu? Kenapa kau masih keluar dan panjat pohon yang tingginya hampir 5 meter yang ada di taman saat badai dan tidak pamit kepadaku?" Luka bertanya tanpa menyempatkan dirinya mengambil nafas.

"Kalau aku pamit kepadamu, kau tidak akan memberikanku izin, jadi aku langsung keluar," Yuuma menjawab pertanyaan Luka dengan tenang.

"Tanpa syal?"

"Hmm,"

"Memakai baju pendek dan jaket tipis?"

"Hmm,"

"Kau...!" Luka menggeram. Bagaimana bisa laki-laki pendiam itu menjawab pertanyaannya hanya dengan gumaman tidak jelas?

"Sudahlah kak Luka, saat ini Yuuma sedang sakit... kakak bisa memarahi Yuuma nanti saat dia sembuh..." IA mencoba melerai perdebatan yang sudah diketahui pemenangnya.

"Hah?!"

"Tidak jadi... s-s-silahkan lanjutkan," IA menyerah untuk melerai perdebatan mereka karena Luka menatapnya dengan mata iblisnya.

"Hah... kalian semua keluar dan jangan mencoba menguping!" perintah Luka yang langsung dilaksanakan oleh 4 orang tersebut.

"Sekarang tinggal kita ber—"

"Zzz,"

"Jangan tidur bodoh!" teriak Luka sambil menarik selimut yang menutupi tubuh Yuuma.

"Hah... kau ini masih punya otak apa gak?! Kau selalu membuat kami semua khawatir, kapan kau akan berhenti melakukan hal-hal yang mengancam nyawamu?" tanya Luka sambil duduk dipinggir kasur Yuuma.

"..." Yuuma diam seribu dua ratus bahasa (?).

"Sebenarnya aku ingin menanyakan ini dari dulu, otakmu kau taruh mana?" tanya Luka sekali lagi.

"Di kepala yang dilindungi oleh tulang tengkorak. Mau ditaruh kemana lagi? Semua orang tahu itu tempatnya otak," jawab Yuuma.

"Selama musim dingin, kau keluar rumah tanpa bilang kepadaku, berenang di sungai, jalan-jalan dengan pakaian tipis, dan baru saja kau memanjat pohon saat badai salju sedang terjadi. Dan kau masih bisa bilang otakmu ada di kepala?!" tanya Luka dengan nada yang mulai meninggi.

"Apa yang sebenarnya kau lakukan?" tanya Luka lagi.

"Entah... apa yang ingin kulakukan?" Yuuma balik bertanya. Dia bangun dari posisi tidurnya.

"Jangan membalikkan pertanyaanku bodoh!" kata Luka hampir berteriak.

Yuuma hanya memutar bola matanya, dia terlalu bosan untuk mendengar omelan Luka. "Hah.. musim dingin," kata Yuuma lirih.

"Hah?"

Yuuma kembali menghela nafas, "Penyakit ini menyebalkan, kenapa aku selalu mengalami demam tepat di musim dingin? Itu mengganggu jadwal sekolahku. Jadi aku mencari cara untuk menyembuhkan penyakit ini. Selain itu, selalu muncul mimpi yang sama berulang kali," jelas Yuuma panjang lebar.

Luka terkejut, "Kau barusan bilang apa?" tanya Luka.

"Sudah kubilang, penyakit in—"

"Bukan yang itu tapi tentang mimpimu! Kau bilang kau mengalami mimpi yang sama berulang kali?"

Keringat dingin langsung mengalir di pelipis Yuuma. Dia belum memberitahu tentang ini ke Luka, "Y-yah... karena aku selalu bermimpi tentang s-salju dan m-mobil yang terbakar berulang kali, itu menyebalkan bagiku. Karena itu aku selalu keluar di musim dingin," jelas Yuuma.

"Sejak kapan?" tanya Luka lirih.

"Hah?"

"Sejak kapan kau mengalami mimpi itu?!" tanya Luka dengan nada tinggi.

Yuuma merasakan keseriusan Luka, "S-sejak aku umur 12 tahun," jawab Yuuma sambil memalingkan mukanya dari Luka.

Luka mengambil nafas, "Kau kehilangan ingatanmu saat umur 10 tahun dan mengalami mimpi yang sama selama 4 tahun dimulai dari saat kau umur 12 tahun. Kenapa kau tidak memberitahukan ini kepadaku?! Mungkin saja itu kepingan ingatanmu?!" bentak Luka.

Yuuma kesal, kenapa Luka selalu membentaknya? Apa ingatan itu penting baginya? "Bukan urusanmu. Apa mengembalikan ingatanku itu penting? Aku tahu kalau kau itu seorang dokter," balas Yuuma dingin.

"Penting! Itu sangat penting Yuuma! Kau bisa mengetahui dirimu yang sebenarnya! Daripada hidupmu kosong seper—"

"Hidupku tidak kosong! Hidupku sudah cukup indah dengan adanya kau, IA, Lui, Kanon, dan Anon! Aku sudah merasa hidup dengan adanya kalian semua!" teriakan Yuuma memotong ucapan Luka.

"Y-Yuuma..."

"Aku takut... aku takut kalau aku mendapat semua ingatanku, aku takut kalau ingatanku ini menambah traumaku, aku takut kalau ingatanku sudah kembali ini adalah ingatan yang kelam, aku takut menghancurkan tempat ini karena ingatanku, aku takut kalau kalian akan meninggalkanku karena kalian tahu aku yang sebenarnya. Karena itu... aku...aku—"

"Cukup Yuuma... maafkan aku karena telah terlalu keras denganmu, kau tidak usah memaksakan dirimu," kata Luka sambil memeluk Yuuma yang menangis dalam diam.

"Pokoknya, kalau kau mendapat kepingan ingatanmu segera beri tahu aku, mengerti?" lanjutnya sambil mengusap kepala Yuuma lembut.

"…" Yuuma tidak mengatakan apapun.

"Yuuma?" Luka melihat Yuuma yang tertidur di pelukannya. Luka tersenyum lembut.

"Dasar... IA! Ambilkan aku kotak obat!" pinta Luka dengan teriakannya.


Yuki


"Hah..." Lui menghela nafas sambil menatap salju yang turun di halaman panti asuhan.

Jam sudah menunjukkan angka 12 dan laki-laki berambut jingga itu belum bisa tidur. "Kau belum tidur Lui?" tanya Luka sambil menguap.

Lui hanya menampilkan senyum lembutnya, "Aku tidak bisa tidur," jawabnya.

Luka menghela nafas, "Sepertinya insomnia milikmu itu parah, apa yang membuatmu tidak bisa tidur? Kau baru saja umur 10 tahun, tapi sifatmu seperti anak kuliahan yang sibuk dengan tugas skripsinya," tanya Luka ditambah dengan sindiran.

"Yah... mau gimana lagi? Mungkin aku tidak bisa tidur karena ingatan masa kecilku muncul dalam mimpi," jawab Lui sambil memandang jauh.

"Dasar... sifatmu ini terlalu dewasa untuk anak seumuranmu," komentar Luka.

"Ah... saljunya indah banget ya kak Luka?" Lui mengalihkan topik.

"Jangan mengalihkan topik! Sudahlah... ayo masuk! Kayaknya tambah dingin, akan kubuatkan susu hangat untukmu," kata Luka.

"Makasih kak Luka,"

[To Be Continued]


Akhirnya kisah mereka akan di mulai, tunggulah kisah mereka yang tidak dapat terduga -mungkin sudah ada yang menduganya...-

Ngomong-ngomong... meskipun ini telat, Akuma dan para OC mengucapkan...

MERRY CHRISTMAS! Bagi yang merayakan.

Tolong jangan lupakan tinggalkan jejak setelah membaca.

SEE YOU~ ON NEXT WEEK!