Tanpa basa-basi lagi... Happy Reading and Enjoy Everybody~!


Chapter 2

Luka memandang khawatir laki-laki yang sedang memasang sepatu sekolahnya. Yang dipandang langsung menatap Luka tajam.

"Kau tak perlu memandangku seperti itu 'kan? Lagian sudah ada IA jadi kau tak perlu mengkhawatirkanku," kata laki-laki itu datar, Yuuma.

Luka hanya menghela nafas, "Kau baru saja jatuh dari pohon dengan tulang punggung retak, setelah itu demammu langsung naik, dan kau hampir tidak bangun dua hari, mana mungkin aku tidak khawatir? Untung saja aku mengetahui kalau tulang punggungmu retak," omel Luka.

"Aku akan berhati-hati, dan berhenti menatapku seperti itu, kau membuatku merinding," kata Yuuma acuh.

"Bisakah kau tidak memanggilku dengan sebutan 'kau' atau 'kamu'? Aku punya nama, dan aku ini kakakmu. Setidaknya panggil aku kak Luka seperti dulu. Kenapa—"

"Aku akan ke sekolah, jaga Kanon dan Anon dengan baik... kak Luka," kata Yuuma memotong omelan Luka lalu berjalan keluar menuju sekolahnya.

Luka tersenyum lembut, "Kalau kau bisa memanggilku seperti itu, setidaknya lakukan, bodoh," gerutunya.

[Haruka Highschool]

"Yuuma!" panggil laki-laki berambut putih keabu-abuan, Utatane Piko.

Yuuma yang tertidur pulas di tempat duduknya langsung terbangun berkat panggilan teman sekelasnya.

"Aapaa...?" balas Yuuma malas. Jujur saja, dia tidak ingin diganggu sekarang.

"Pinjam tugasmu bagian merangkum bab 3 dan bab 5 pelajaran sejarah dong~ Aku tidak sempat mengerjakan karena event tadi malam," kata Piko sambil masang wajah melas. Apa para pembaca bisa menebak apa yang dimaksud Piko? Ya, seorang Utatane Piko adalah gamers sejati. Dia rela tidak tidur selama seminggu hanya karena ada events, atau sekedar menaikkan level karakternya.

Dan efeknya? Dia mengabaikan tugas sekolah. Tolong jangan ditiru, ini perlakuan yang tidak baik untuk pelajar (Yuuma: Seperti kau bukan seorang pelajar saja | Akuma: Berisik kau Yuuma!).

"Piko..." kata Yuuma dengan aura gelap yang membara.

"Ya?" balas Piko tanpa menyadari aura yang keluar dari tubuh Yuuma.

"Bisakah kau mati saja? Apa tugasmu itu penting untukmu? Aku rasa itu tidak penting bagimu yang sukanya nge-game gak jelas. Lagian kita sudah melakukan ujian kenaikan kelas, jadi tidak ada tugas yang diberikan oleh guru," tanya Yuuma sarkastik dengan suara lirih lalu kembali tidur.

Piko diam, dia memproses ucapan Yuuma yang kelewat lirih. "Tung— itu penting Yuuma!" jawab Piko setelah mengerti apa yang dikatakan Yuuma.

"Penting mana dengan gamemu?" tanya Yuuma lagi.

"Tentu saja game!" jawab Piko cepat.

Yuuma kembali bangun dari posisi tidurnya yang nyaman, "Lalu? Kenapa kau meminjam tugasku? Kenapa tidak lanjutkan saja gamemu?" tanya Yuuma tajam.

"I-itu..." Piko kehabisan kata-kata. Dia tidak mungkin bilang kalau dia tidak mengumpulkan beberapa tugas dan guru menyuruhnya untuk mengumpulkan tugas itu sekarang guna menambah nilai rapotnya.

Kriingg!

Bel masuk berbunyi yang menandakan pelajaran jam pertama akan dimulai —walau itu adalah jam kosong—. Dan laki-laki berambut putih itu langsung panik, "Kumohon Yuuma! Akan kulakukan apapun untukmu! Aku tidak mau dihukum sama guru killer itu!" mohon Piko.

"Apapun?" tanya Yuuma memastikan.

"Apapun!" jawab Piko pasti.

"Ok, pastikan janjimu kau tepati," Yuuma memberikan buku pelajaran sejarah miliknya.

[Jam Istirahat]

"Oi! Bangun!" seorang perempuan membangunkan Yuuma dengan menendang kaki kursi yang di duduki laki-laki berambut pink tua tersebut. Ok, itu memang sedikit kasar.

Yuuma membuka matanya sedikit hanya untuk melihat siapa yang membangunkannya dengan cara 'halus' itu. Perempuan berambut pink pucat yang pertama ia lihat dan dia langsung tahu siapa perempuan itu.

"Bisakah kau membangunkanku dengan cara halus?" sinis Yuuma.

"Bisakah kau tidak tidur dengan nafas yang terburu-buru dan membuatku khawatir? Kak Luka menitipkanmu kepadaku," balas perempuan itu— IA lebih sinis. Dan Yuuma hanya mendecih.

"Apa yang kau inginkan? Kenapa kau ke sini? Kelasmu ada di sebelah," tanya Yuuma beruntun dengan suara datarnya.

"Bel istirahat sudah berbunyi 5 menit yang lalu, aku membangunkanmu untuk makan ke kantin seperti biasanya. Dan tentu saja mengingatkanmu untuk minum obat," jawab IA.

Yuuma hanya menghela nafas, kenapa dia harus berurusan dengan sisi IA yang ini? Walaupun sifatnya berubah saat di sekolah, sifat yang mudah khawatir itu masih ada.

Dia melihat kelasnya seolah mencari seseorang, "Apa yang kau tunggu? Apa aku perlu menyeretmu Yuuma?" tanya IA yang ada di dekat pintu tepat di belakang Yuuma dengan nada mengancam.

"Tunggu sebentar!" desis Yuuma.

Laki-laki berambut pink itu langsung berjalan menuju seseorang yang sibuk berbicara dengan temannya di pojok kelas. "Piko, kau akan menepati janjimu 'kan?" Yuuma menagih janji yang dibicarakan oleh laki-laki berambut putih tadi pagi.

Piko langsung keringat dingin, "T-tentu saja! Apa yang kau inginkan?" tanya Piko.

"Traktir aku dan IA makan di kantin," jawab Yuuma cepat.

Piko langsung menjerit dalam hati, 'UANGKU SELAMA SEBULAN!'

[Skip]

IA dan Yuuma sedang bersantai di taman, walaupun ini musim dingin, kegiatan rutinitas mereka masih tetap dilakukan. "Hah..." Yuuma menghela nafas, menyebabkan kepulan awan hawa dingin keluar dari mulutnya. Ia melirik tajam gadis yang ada di sampingnya.

Orang yang dilirik merasa risih, "K-kenapa kau menatapku begitu?" tanyanya lirih, sifat yang asli telah kembali.

"Kau tahu? Aku ingin sendirian, lagian taman ini dekat dengan rumah. Kau tidak perlu mengawasiku," kata Yuuma datar.

"Aku tidak mengawasimu... 'kan bukan kau saja yang punya kebiasaan duduk di taman..." elak IA dengan suara lirih.

Yuuma hanya mendengus, "Terserah," dan IA pun tersenyum.

[Skip]

"Apa. Yang. Kalian. Lakukan. Sampai. Pulang. Selarut. Ini?" tanya Luka penuh penekanan saat melihat Yuuma dan IA pulang setelah berhasil membuat perempuan berambut gulali itu khawatir.

"Nganggur di taman," jawab Yuuma santai. Dia sudah terbiasa menghadapi kemarahan Luka, sedangkan IA hanya bisa tersenyum dengan keringat dingin yang membanjiri tubuhnya.

"Di musim dingin?" tanya Luka lagi, nada penuh penekanan itu hilang entah kemana.

"Hmm," dan seperti biasa Yuuma menjawab dengan gumaman tidak jelas.

Seakan marah tidak efektif dengan Yuuma, Luka langsung menyuruh kedua orang itu ganti baju dan siap-siap makan malam.

Setelah semua penghuni rumah berkumpul di meja makan, Luka mengambil makanan untuk adiknya.

"Selamat makan..." dan 6 orang itu menyantap makanannya masing-masing.


Yuki


Laki-laki berambut merah muda agak gelap itu menikmati langit malam lewat jendela kamarnya yang sengaja tidak ia tutup, menyebabkan udara dingin masuk ke dalam kamarnya yang agak berantakan.

Krieet...

Suara pintu yang terbuka tidak ia hiraukan, seakan tidak sadar akan kehadiran dua orang yang menatapnya heran.

"Kak Yuu?" panggil salah satu dari dua orang tersebut sambil menarik baju Yuuma pelan.

Yuuma tersadar dari lamunannya dan menundukkan kepala untuk melihat wajah orang yang menarik bajunya. Yuuma tersenyum tipis, "Ah, Kanon, Anon, kenapa kalian di sini?" tanyanya lembut.

"Kami mimpi buruk, jadi aku dan Anon pergi ke kamar kak Yuu buat tidur bersama kakak... boleh kak?" jawab Kanon memohon.

Yuuma mengernyit, "Bukannya masih ada Lui, IA, dan kak Luka? Dari tiga orang itu kenapa milih kakak?" tanya Yuuma.

Kanon dan Anon saling pandang, mereka pernah tidur dengan ketiga orang itu secara bergiliran saat mereka mengalami mimpi buruk. Tapi, karena sifat mereka saat tidur, Kanon dan Anon tidak mau tidur dengan mereka lagi.

"Itu... kalau kami tidur bersama kak Luka, kak Luka akan tidur di sofa yang ada di kamarnya," jelas Kanon.

"Kami merasa merepotkan kalau tidur bersama kak Lui, dia tidak akan tidur dan menjaga kami semalaman," lanjut Anon.

"Kami tidak mau diusir dari kasur akibat tendangan kaki dari kak IA," Kanon dan Anon bicara bersamaan mengakhiri penjelasan mereka.

Yuuma hanya menghela nafas, ia menutup jendelanya lalu menggendong Kanon dan Anon secara bersamaan ke kasurnya. "Kalau gitu ayo tidur, sudah jam 1. Kalian besok akan ikut belanja bersama kak Luka 'kan?" Yuuma menyelimuti kedua anak kembar tersebut.

"Gak apa-apa nih kak? Nanti kami merepotkan kak Yuu gimana?" tanya Anon lirih.

"Gak papa, sudahlah, kalian tidur. Akan kakak bangunkan kalau sudah pagi," jawab Yuuma.

Kanon dan Anon langsung tidur saat Yuuma menyuruhnya, laki-laki bermata emerald itu memandang kedua adiknya dengan pandangan lembut. Yuuma kembali melamun, segera ia menggelengkan kepala , 'Sudah kuputuskan,'


Yuki


Pagi telah datang, sinar sang mentari menyinari kamar perempuan berambut merah muda tersebut melewati sela-sela jendela yang tidak tertutup oleh tirai.

Mata birunya terbuka dengan perlahan, membiasakan sinar yang ada di kamarnya. Dia melihat jam yang ada di laci kecil samping kamarnya menunjukkan pukul 6 tepat.

Perempuan yang memiliki nama Luka itu bangkit dari tidurnya, meregangkan badan yang sedikit kaku lalu membuka jendela membiarkan angin dingin menerpa wajahnya.

Luka melihat hamparan salju yang sebentar lagi mencair, "Sebentar lagi musim semi ya? Berarti Yuuma dan IA naik kelas 2 SMA. Lui naik kelas 4 SD. Kanon dan Anon akan masuk SD yang sama dengan Lui. Hah... panti— lebih tepatnya rumah ini akan lebih sepi karena mereka semua akan pulang siang, khususnya IA dan Yuuma yang pulangnya tiap hari mepet sama makan malam karena kebiasaan mereka," gumam Luka.

Toktoktoktok!

Ketukan cepat berasal dari kamarnya membuat Luka heran, siapa yang bangun sepagi ini? Karena ini adalah hari libur mana mungkin ada penghuni rumah ini yang bangun lebih pagi darinya.

Brak!

"Kak Luka! Kanon dan Anon tidak ada di kamarnya!" lapor pelaku pengetukan (?) pintu cepat tadi yang ternyata IA. Perempuan berambut merah muda pucat itu membuka pintu kamarnya sebelum Luka memperbolehkannya masuk.

Luka sempat terkejut, tapi ia langsung memaklumi sifat Kanon dan Anon saat mereka tidak ada di kamarnya. "Tenanglah IA... mungkin mereka ada di kamar Lui atau Yuuma karena kebiasaan mereka saat mendapat mimpi buruk. Tapi... kalau mereka ada di kamar Yuuma sepertinya itu tidak mungkin. Aku tidak bisa membayangkan Yuuma memperbolehkan mereka tidur dengannya karena dia suka tidur sendirian," Luka menenangkan IA.

[Sedangkan di kamar Yuuma...]

Laki-laki bermata emerald seperti dedaunan di saat musim semi itu hanya menghela nafas, dia sudah bangun sejak jam 3 karena mimpi buruk yang seperti ingatan masa lalunya itu membangunkannya dan tidak bisa tidur kembali.

Dia tidak bisa bangun karena Kanon ada di atas tubuhnya entah sejak kapan dan Anon yang memeluknya seperti guling. Dia tidak tega menyingkirkan mereka, takut kalau membangunkan anak kembar tersebut.

Laki-laki itu sudah mencoba tidur, tapi tidak bisa dikarenakan kebiasaannya yang sekali bangun tidak akan bisa tidur lagi kalau rasa kantuk tidak mendatanginya.

Toktoktok!

Samar-samar dia mendengar ketukan cepat dari kamar seberang, siapa yang mengetuk pintu secepat itu? Jam enam lagi. Dia yakin tidak akan ada yang bangun lebih pagi dari kakaknya yang galaknya minta ampun itu. Untuk saat ini dia yang bangun lebih pagi dari kakaknya.

"Kak Luka! Kanon dan Anon tidak ada di kamarnya!" ah... sepertinya ia tahu siapa pelaku yang mengetuk pintu dengan cepat itu.

Krieet...

Yuuma melirik kearah pintunya yang dibuka oleh seseorang.

"Kenapa kau ke sini Lui?" tanyanya setelah melihat siapa yang membuka pintu kamarnya tanpa mengetuk.

"Sstt... aku hanya ingin mencari Kanon dan Anon saat mendengar teriakan kak Aria, maksudku kak IA. Dan seperti yang aku duga, mereka ada di sini," jawab Lui lalu masuk ke kamar Yuuma setelah menutup pintu.

"Oh... kebetulan, bisakah kau membantuku memindahkan Kanon dari atas tubuhku?" Yuuma meminta bantuan.

Lui tertawa kecil, entah apa yang lucu sampai membuatnya tertawa ringan, dan itu sukses membuat Yuuma memasang wajah heran. "Apa yang lucu?" tanyanya datar.

"Ah... gak ada, hanya saja baru pertama kali ini kak Yuuma minta bantuan padaku. Kakak 'kan bisa memindahkannya sendiri, Kanon tidak mudah bangun walau ada suara keras di sampingnya," jawab Lui kalem sambil memindahkan Kanon perlahan di samping Anon yang masih memeluk Yuuma.

"Aku akan melakukannya dari tadi kalau Anon tidak memelukku erat seperti guling," balas Yuuma sambil bangkit dari tidurnya.

Puk!

Yuuma merasa ada yang membebani bahunya, dia menoleh lalu menghela nafas, "Baru bebas dari tindihan Kanon, kenapa giliran kau yang menindih bahuku?" tanya Yuuma sarkastik.

"Bentar aja kak... aku tidak bisa tidur semalaman walau sudah minum susu dan obat tidur yang diberikan kak Luka. Entah kenapa kalau aku dekat kak Yuuma aku bisa tidur nyenyak tanpa obat maupun susu," jawab Lui dengan suara pelan.

Yuuma kembali menghela nafas, "Terserah," dan Lui langsung memindahkan posisi tidur dari pundak ke paha Yuuma (Akuma: Alert! Yaoi! | Yuuma: Dalam mimpimu! Jangan kambuh di sini dasar Akuma gila! #lemparsandal | Akuma: *tertohok hatinya* kau tidak memanggilku Author, Yuuma? | Yuuma: Cuih! Kagak sudi! | Akuma: *pundung). Sedangkan pemilik paha itu hanya menggelengkan kepalanya.

"Kanon... Anon... bangun, katanya mau belanja sama kak Luka," Yuuma membangunkan kedua adik kembarnya dengan pelan.

Kedua anak kembar itu menggeliat, lalu mengerjapkan matanya membiasakan cahaya yang masuk. "Sudah pagi kak Yuu?" tanya Anon dengan suara orang yang baru bangun tidur.

"Sudah... sebaiknya kalian mandi dengan air hangat lalu sarapan. Sepertinya kak Luka dan IA sudah membuatkan sarapan," jawabnya lembut.

"Kak Yuu gimana?" giliran Kanon yang bertanya.

"Aku akan keluar sebentar lagi, setelah Lui bangun," Yuuma melirik Lui yang tertidur pulas.

Kanon dan Anon saling pandang, lalu mengangguk. Sepertinya mereka paham dengan ucapan Yuuma. Sepasang anak kembar beda sifat itu keluar dari kamar Yuuma dan melakukan perintah dari kakaknya yang kata orang terdengar dingin tersebut.

Hening melanda kamar Yuuma, kantuk mulai menyerang sang pemilik kamar tersebut. Namun rasa kantuk itu langsung hilang tak berbekas saat Lui mulai mengatakan sesuatu.

"6 tahun lalu, ada kecelakaan di taman dekat rumah ini. Kak Yuuma tahu?" tanya Lui, sepertinya laki-laki berambut jingga itu masih belum tertidur sepenuhnya.

"Hn, kudengar ada dua orang di dalam mobil tersebut. Salah satu dari mereka selamat karena sedang keluar dan satunya menghilang entah kemana," Yuuma merasakan kepalanya pening tanpa alasan.

"Seminggu sebelum menghilangnya orang itu, aku bertemu dengannya di taman tersebut. Dia tidak pernah mengatakan namanya, tapi dia mirip dengan kak Yuuma. Bedanya hanya sifat kalian," Yuuma sedikit terkejut dengan penuturan Lui.

"Mirip denganku? Maksudmu?" Yuuma heran.

"Emm... wajahnya... mirip dengan kak Yuuma, dia seperti kak Yuuma versi kecil. Saat itu... hoamm... keluargaku dalam masalah... ibu... dan ayah selalu bertengkar. Jadi aku ke taman dan menemukan orang itu sedang duduk sendirian sambil masang wajah sedih. Aku... menyapa orang itu... entah kenapa aku menceritakan masalahku dengan orang itu. Auranya sama dengan kak Yuuma. Selama seminggu kami selalu bertemu dengannya tanpa tahu nama masing-masing. Setelah itu... aku melihat kejadian itu dan mendengar kabar bahwa orang itu menghilang dalam kecelakaan tersebut. Sempat ada jejak darah di hamparan salju, tapi keburu tertimbun sebelum para polisi menyelidiki jejak tersebut... dan saat itu... aku tahu namanya... walau hanya nama marga..." Lui berbicara panjang lebar disela-sela ngantuknya.

"Siapa namanya?" ok, Yuuma jadi penasaran dengan cerita —curhat— Lui.

"Hotsuka... zzz" jawab Lui lalu tertidur.

"Hotsuka?"

NGIINGG!

Yuuma segera memegang kepalanya saat pening yang ia tahan makin menjadi-jadi, "Yuuma... kau akan menjadi pewaris keluarga Hotsuka," ucapan-ucapan yang tidak ia mengerti muncul dalam kepalanya.

Dan selanjutnya ucapan acak memenuhi pikiran Yuuma, seakan-akan itu adalah puzzle yang berusaha menyatukan kepingan-kepingan berupa ingatan.

"Tapi... bagaimana dengan kakak? Seharusnya dia yang menjadi pewaris utama keluarga Hotsuka,"

"Tidak... kakakmu itu akan menghancurkan Hotsuka kalau dia menjadi pewaris utama keluarga ini, dia terlalu serakah Yuuma,"

"Yuuma~! Mau ikut kakak?"

"Kemana kak ***?"

"Ikutlah... kau pasti senang!"

"Un! Aku akan ganti baju!"

"Cepat ya!"

Yuuma terkejut, nafasnya tersengal-sengal, dia mencoba menahan untuk tidak bergerak berlebihan agar tidak membangunkan Lui. 'Apa maksudnya ini?! Apa ini ingatanku? Kalau ini ingatanku, berarti aku bagian dari keluarga Hotsuka?!' Yuuma mencoba memahami situasi yang menimpa dirinya.

Tiba-tiba ingatan pertama saat ia sadar di panti— tidak, di rumah ini, Luka memanggilnya 'Yuuma'. Dan saat itu ia bertanya kenapa perempuan itu memanggilnya Yuuma, ia bahkan tidak ingat dengan namanya sendiri.

Luka dan ibunya —yang masih hidup— itu terkejut, lalu menceritakan bagaimana dia bisa berakhir di sini.

"Kau tidak ingat apapun?!"

"Ya ampun nak... padahal kamu masih kecil, dan kau sudah mengalami amnesia... hiks,"

"Tapi... b-b-bagaimana saya bisa ada di sini?"

"Kau mengetuk pintu kami sesaat setelah badai salju berhenti, kamu mengalami pendarahan di kepala dan beberapa bagian tubuhmu terkena luka bakar. Sebelum pingsan kamu sempat memberitahu namamu,"

"Jangan-jangan! Kau ada di taman dekat panti ini?! Ada kecelakaan tunggal, katanya ada mobil meledak,"

"Ya ampun... siapa yang berani meledakkan mobil di taman itu, beruntung kamu selamat nak... untuk saat ini kamu akan tinggal di sini bersama kami sampai ingatanmu kembali,"

Yuuma mulai sesak nafas, pikirannya berkecamuk sekarang. "Namaku..." belum sempat Yuuma mengambil kesimpulan atas jati dirinya sendiri itu, gelap sudah menguasai pandangannya.

[To Be Continued]


HAPPY NEW YEAR!

Aku tahu kalau udah telat, tapi seenggaknya gue ngucapin untuk pergantian tahun ini. Nah... gue nanya nih... resolusi kalian untuk tahun 2017 ini apa? Gak jawab juga gak papa...

Meskipun kalian gak tanya resolusi gue... gue akan beritahu. Di tahun ini gue akan meningkatkan skill gue untuk cerita dan mencari ide biar gak ada kata 'HIATUS' di akun ini. Dan... tentu saja gue harap 'masalah-masalah' gue akan hilang dan gak akan datang lagi apalagi nambah 'masalah' yang sampe buat gue nangis. Jujur saja, gue gak pernah nangis hanya karena suatu 'masalah' sampai segitunya.

Baru kali ini gue nangis sampai beberapa hari hanya karena 'masalah' itu. Lega rasanya nangis... masih ada rasa mengganjal sih...

Dah! Sampai gue curcol di sini hanya karena gak ada tempat buat nuangkan uneg-uneg gue. Kenapa gak pake diary saja? Jawabannya... gue kagak bisa nulis diary meskipun gue bisa nulis cerita. Sekali gue buat diary, langsung gue buang setelah gue baca lagi.

OYA! Terima kasih para reader yang udah Review, Favorite, Follow cerita gue dan dukungan kalian selama setahun ini.

Akhir kata...

Mind to review in my story?

See you in next week~!