"Sasuke-kun tahu, sebenarnya dia ingin bergabung ke klub voli karena melihat wajahmu di poster yang kutempel di mading. Mungkin kalau Sasuke-kun bersikap baik, memberinya motivasi, dan menunjukkan perhatian untuknya; dia akan bersungguh-sungguh untuk jadi manager di klub kita."

Sasuke menyeringai tipis, "Jadi—" Sasuke menggeser sedikit tubuhnya, sikunya bersender di atas permukaan lembut kasur; dagunya ditopang oleh punggung tangannya, wajahnya semakin mendekat "—kau mau menjualku, eh?"

"HE! B—bukan begitu!" bantah Sakura panik, ia segera memalingkan wajahnya ke arah lain. Jantungnya berdetak sangat kencang, rasa kantuknya pun hilang. Ia tak pernah menyangka bahwa ketampanan Sasuke bisa meningkat lima kali lipat jika dilihat dari dekat—dan efeknya pun sungguh tidak baik untuk kesehatan jantungnya. "A—aku hanya memberi saran saja. Hehehe," cengirnya. "Lagipula kalau dilihat-lihat Chino itu sangat imut. Dia sepertinya juga sangat …," tenggorokan Sakura tercekat, "...menyukaimu."

Sasuke menormalkan kembali posisi duduknya. "Jadi begitu."

Sakura menoleh untuk membaca mimik wajah lelaki tersebut.

"Tapi aku tidak bisa melakukan itu," ujar Sasuke. "Sayang sekali karena aku sudah punya gadis lain."

Bibir sang manager mendadak kelu, namun ia tetap berusaha tenang menyembunyikan hatinya yang nyaris patah. "Sasuke-kun ..., sudah punya..." ia menghela napasnya, melawan sesaknya dada, "—kekasih?"

"Hn?" Uchiha muda tersebut malah menatap Sakura heran. "Maksudku bukan begitu. Aku sedang tidak menjalin hubungan dengan siapapun."

Dahi lebar Sakura mengerut, "Lalu maksud ucapanmu tadi?" ia ingin tahu jelas apa makna dari kalimat mengejutkan Sasuke beberapa saat tadi.

—yang nyaris saja membuat jantungnya berhenti berdetak.

"Maksudku, aku sudah punya gadis lain yang kukagumi," ucap Sasuke seraya menatap pada tirai jendela yang berayun tertiup angin. "Aku tidak bisa begitu saja berpaling darinya."

Sakura menggenggam erat selimut yang menutupi dua per tiga bagian tubuhnya. Sakit berdenyut di kepalanya tak sebanding dengan ngilu yang meremukkan dadanya. "Maaf atas kelancanganku tadi. Aku tidak berniat untuk membuat Sasuke-kun melupakan gadis itu dan beralih ke Chino." Sebisa mungkin Sakura menahan air matanya yang sudah bertumpuk siap untuk ditumpahkan.

"Aa. Aku sudah tahu itu." Sasuke kembali menoleh pada gadis yang masih terbaring di kasur. "Bagaimana keadaanmu? Masih sakit? Pusing?" dengan telunjuknya, siswa tampan ini menyentuh pelan pipi mulus Sakura; namun gadis itu segera menghindar dan bangun dari posisinya.

"Kurasa sudah tidak apa-apa." Sakura merapikan rambut dan pakaiannya. "Sudah saatnya kita kembali ke gym."

.

.

.

.

Love is like a hole;

once you fall in, it's hard to get out.

.

.

Chapter - 3

.

.

.

.

Sakura berjalan menuju gym ditemani dua kantong plastik penuh yang ia jinjing di kanan kirinya. Kegiatan klub sudah dimulai sejak sejam lebih lalu. Hari ini sang manager datang lebih lambat dari biasanya karena ia baru saja dari supermarket terdekat untuk membeli suplemen, buah dan keperluan lainnya. Baru saja dua langkah ia masuk ke dalam gedung olahraga, dirinya langsung disambut antusias oleh Uzumaki Naruto yang seketika berlari menujunya di pintu masuk.

"SAKURA-CHAN!" serunya heboh, rona bahagia terpancar dari wajah Naruto. "Butuh bantuan?"

"Tidak usah, aku bisa sendiri. Terimakasih ya," Sakura menolak halus tawaran Naruto.

"Tapi belanjaanmu terlihat sangat berat," ucap siswa kelas tiga tersebut, ia pun berinisiatif untuk meraih salah satu kantong di tangan kiri Sakura, "sini kubawakan," beban yang dijinjing Sakura telah berkurang lima puluh persen, "kalau saja kau memberitahuku lebih awal, aku pasti akan menemanimu belanja sampai puas, Sakura-chan."

Sakura tersenyum kecil. Keduanya kini sama-sama berjalan memasuki gym yang sudah ramai dan sibuk. "Kalau cuma segini saja aku bisa melakukannya sendiri kok." Sakura mengerlingkan matanya ke sekitar, tampak para member tengah berlatih dengan serius. Ada yang mematangkan kembali serve-nya, mengatur timing memukul bola saat bola dilemparkan ke arahnya, ada juga yang melatih memperkuat block agar serangan lawan berhasil dipatahkan.

Namun yang paling menarik perhatian Sakura adalah saat matanya menangkap sepasang lelaki dan perempuan yang jauh dari keramaian. Tampak Sasuke tengah meneguk air dari botol minuman, sementara itu gadis yang kelak akan jadi manager baru terlihat berdiri manis di dekatnya. Sakura menatap punggung tegap milik Sasuke, seharian ini ia belum melakukan kontak mata dengan lelaki itu padahal mereka berada di kelas yang sama. Sejak sore kemarin—saat mereka berbincang singkat di UKS, ada dinding yang seolah menghalangi mereka berdua. Sakura mulai membatasi dirinya, mulai menjaga sikapnya agar tak terlalu dekat dengan siswa tampan tersebut. Meski hati kecilnya berontak, ia tak punya pilihan lain selain harus melakukan ini.

Bagaimanapun, bukan dirinya yang dipilih Sasuke. Ada orang lain yang sangat beruntung di luar sana—yang berhasil mencuri hati pangeran es tersebut.

"Huh? Sakura-senpai?" ucap Chino yang heran melihat tingkah seniornya itu. Baru saja dia tiba dan langsung melamun.

"Eh!" Sakura terperanjat, "Selamat siang, Chino," ucap gadis muda ini. Di saat itu pula lelaki bernomor punggung 23 berbalik. "Selamat siang juga, Sasuke-kun."

"Aa."

"Belanjaannya banyak sekali," ucap Chino.

"Iya, aku beli beberapa bantalan lutut baru, suplemen, vitamin dan sepuluh helai handuk," ujar Sakura sambil menunjukkan isi kantong yang dibawanya. "Aku juga membeli buah pear dan semangka, sudah dipotong-potong jadi tinggal dimakan saja."

"Sakura-chan, ini mau diletakkan di mana?" tanya Naruto.

"Taruh di sini saja," Sakura menepuk pelan bangku kayu di dekat mereka. "Kalian sudah boleh memakannya sekarang, mumpung masih dingin dan segar."

"Benarkah!?" tanya Naruto yang dijawab anggukan oleh manager berambut pink tersebut, "oke! Aku akan beritahu yang lainnya! MINNA!" lelaki berambut kuning tersebut berlari ke tengah gym dan memberitahukan kabar gembira kepada tiap member satu per satu.

"Kau membuat si Dobe jadi makin berisik," ucap Sasuke.

Sakura menahan dirinya agar tak merespon Uchiha muda tersebut. "Hehehe. Maaf," ucapnya singkat. "Kalian makan juga ya buahnya. Aku akan membawa ini ke loker di ruang ganti." Ia pun membawa sekantong belanjaannya sendirian. Meninggalkan Sasuke dan Chino berduaan.

.

.

Sakura menatap pantulan dirinya pada cermin di hadapannya. Ia telah mengganti pakaiannya, seragam sekolah telah berubah jadi celana training hitam panjang dengan dua garis putih di sisi kanan kiri pahanya, dan juga kaos putih dengan gradiasi warna biru di sekitar leher yang terdapat tulisan SMA Konoha pada bagian dada kanan. Sakura tercenung, pandangannya mengabur karena pikirannya saat ini sudah melayang tak tentu arah. Kalimat yang kemaren sore diucapkan Sasuke masih menusuk di kepalanya.

"Sayang sekali karena aku sudah punya gadis lain."

—benar-benar mematahkan harapannya dalam sekejap.

Sakura sendiri sadar, harusnya ia sudah siap dengan segala kemungkinan terburuk yang akan dihadapinya. Selama dua tahun ini tidak ada hal spesial yang terjadi di antara mereka. Mereka teman sekelas dan baru-baru ini duduk bersebelahan. Mereka rekan satu tim sehingga banyak waktu yang dihabiskan bersama. Banyak kenangan berkesan yang berkaitan dengan klub voli, namun tak berarti membuat Sasuke jatuh hati pada dirinya.

Sakura tahu itu.

Tapi tetap saja sulit sekali untuk menepikan perasaan yang sudah terlanjur menggerogoti hati dan pikirannya. Sakura telah melihat bagaimana saat putra dari klan Uchiha itu dalam mode serius, saat dia tersenyum bangga dan percaya diri atas kemampuannya. Ada kalanya saat Sasuke terlihat idiot saat Sakura mengomelinya, lelaki itu juga terlihat menyebalkan saat saling mengejek dengan Naruto. Saat wajah tampan itu marah, kesal, dan raut ketika wajah rupawannya begitu bersyukur lega atas kemenangan yang diraihnya.

Namun masih ada satu lagi yang ingin Sakura lihat, yaitu tatapan saat lelaki itu jatuh cinta.

Sakura menggeleng pelan. "Itu tidak mungkin." Ia lalu tersenyum getir. Sudah jelas bahwa ia tak bisa melihat hal itu, karena Sasuke tidak akan melakukan itu pada dirinya. "Hah, sudahlah. Jangan sedih hanya karena seorang lelaki. SEMANGAT!" setelah menyisir rambutnya, gadis musim semi ini pun keluar dari ruang ganti perempuan yang bersebelahan dengan ruang penyimpanan gym.

"Lama sekali."

Eh?

Sakura dikejutkan oleh suara maskulin yang langsung menegurnya saat ia baru saja keluar melewati pintu. "Sasuke-kun? Sejak kapan ada di situ?"

"Kurang lebih sepuluh menit." Uchiha Sasuke tengah bersandar di dinding beton bercat abu-abu, dua tangannya terlipat di dadanya. "Kau lama sekali, buahnya sudah habis."

"Ahh, tidak apa-apa. Aku sudah makan beberapa potong tadi. Hehehe," respon Sakura canggung. "Kau ke sini hanya untuk memberitahuku hal itu?"

"Aku ke sini karena mengkhawatirkan keadaanmu," jawab Sasuke seraya menatap lurus pada emerald Sakura.

Tidak, jangan berharap yang aneh-aneh, Sakura. Dan, Sasuke-kun ..., tolong jangan mengucapkan sesuatu yang tak sungguh-sungguh kau rasakan...

"Nyaris saja aku akan masuk ke ruang ganti untuk menyusulmu tadi. Kau terlalu lama, kupikir kau pingsan atau terjatuh karena efek benturan kemarin."

Sakura merasakan sesak yang menyengat.

Apa sebenarnya yang direncanakan oleh lelaki bernama Uchiha Sasuke tersebut? Bukankah kemarin dia bilang bahwa dia telah memiliki gadis lain yang disukainya?

"Bagaimana keadaanmu? Kau baik-baik saja?" tanya Sasuke yang masih betah berada di posisinya semula. Tak ada yang memulai untuk saling mendekat di antara keduanya.

"Aku baik-baik saja," jawab Sakura, "Sasuke-kun tidak perlu khawatir."

"Tapi jidatmu masih memerah." Mata hitamnya terfokus pada titik merah di kening Sakura.

"Masih sakit sedikit, tapi aku—" ucapan Sakura terputus saat dirinya mendadak tumbang ke lantai.

"SAKURA!" Sasuke pun segera meraih tubuh gadis tersebut. "Bagian mana yang sakit? Kepalamu pusing? Apa pandanganmu kabur? Kau masih bisa mendengarku?"

Sakura tak menjawab. Ia sama sekali tak merasakan pusing ataupun gejala lain yang disebutkan oleh Sasuke. Dirinya sungguhmasih baik-baik saja. Tapi entah bagaimana prosesnya, tiba-tiba saja ada iblis licik yang mengendalikan dirinya. Mengambil alih segala kerja otaknya dengan berpura-pura kesakitan untuk mencari tahu seberapa jauh Sasuke peduli kepadanya.

"Kau harus istirahat dulu. Jangan banyak bergerak." Sasuke pun mengangkat pelan tubuh Sakura dengan tangan kokohnya, membawa tubuh gadis tersebut pada tumpukan matras yang berada tak jauh di ruangan penyimpanan. "Masih pusing?" tanya Sasuke. Sakura kini telah berbaring di atas matras yang disusun sebanyak lima tingkat, dengan posisi kepalanya yang bersandar di pangkuan Sasuke.

Sakura menggeleng pelan, "Sudah berkurang," jawabnya lemah. Padahal ia sama sekali tak merasakan pusing. Ia lalu menoleh ke atas, mendapati sepasang mata hitam Sasuke tengah memandanginya serius. "Kenapa?"

"Tidak ada," Sasuke masih melihat ke arahnya, "aku hanya takut kalau sampai hal buruk terjadi padamu," tangan kirinya mulai mengusap pelan kening hingga daerah ubun-ubun Sakura, "semua ini salahku."

"Sudahlah jangan berpikir seperti itu," ujar Sakura yang mencoba menenangkan Sasuke, "besok pasti sembuh."

"Tentu saja. Kau harus sembuh. Kau harus menonton kami di final dalam keadaan sehat dan seratus persen fit."

"Hihihi!" Sakura terkikik pelan, "iya iyaaa, Sasuke-kun tenang saja. Final-nya masih tiga hari lagi, masih ada waktu untuk memulihkan kondisiku."

"Aa."

Hening menyerang. Tak ada satu pun yang berbicara di antara mereka. Sasuke masih mengelus area kepala Sakura. Sakura sendiri begitu menikmati sentuhan lembut yang diberikan lelaki tampan tersebut.

"Pertandingan ini akan jadi yang terakhir," ucap Sakura di sela-sela lamunanya. Pandangannya menerawang pada langit-langit di atasnya. "Setelah ini, para anak kelas tiga sudah harus fokus pada ujian masuk universitas yang makin dekat. Sebentar lagi kita akan berpisah dan menentukan jalan masing-masing."

"Aa. Maka dari itu kita harus menang dan pulang membawa kebanggaan."

"Sasuke-kun yakin akan menang?"

"Tentu saja."

"Benar-benar sangat percaya diri."

"Kami akan menang." Jemari Sasuke yang awalnya berada di antara helaian rambut Sakura tiba-tiba saja berpindah ke dagu oval gadis tersebut. "Kau lihat saja, kami akan memenangkannya dan kau akan jadi manager paling berbahagia di dunia ini." Kalimat optimis tersebut ditutup dengan satu senyuman tipis di bibir Sasuke.

Sakura hanya bisa terpana memandangi segala ekspresi yang tercurah di wajah tampan Sasuke. Segala harapan yang tadi dibuangnya seolah kembali dan bermekaran di sekitarnya. Sakura ingin berhenti untuk mencintai tetapi sang lelaki masih tak membiarkannya pergi. Bahkan setelah genap semenit berlalu, mata hijau mudanya masih enggan terkatup—terus saja haus akan pantulan Sasuke di irisnya.

"Aw!" Sakura mendadak mengucek matanya, sepertinya kejatuhan debu yang membuatnya terasa perih.

"Hn? Kenapa?"

"Sepertinya mataku kemasukan debu," ujar Sakura yang masih berusaha mengeluarkan benda asing di indra penglihatannya.

"Biar kulihat." Sasuke menepikan pelan helaian merah muda di wajah Sakura, "buka matamu," pintanya yang langsung dilakukan oleh gadis manis tersebut. "FUUHH!" Pangeran Es yang cool ini lalu memberikan satu tiupan kuat untuk mengeluarkan debu tersebut dari mata Sakura. Gadis tersebut tampak mengerjapkan matanya berulang kali. Lelehan air mata juga tampak mengalir di sudut matanya. "Debunya sudah keluar?"

Sakura menganguk. "Kurasa sudah. Arigatou, Sasuke-kun."

"Kau membuatku panik saja."

Tuk!

Sasuke menabrakkan dua ujung jarinya pada dahi lebar Sakura. "Dasar menyebalkan," ucapnya sambil tersenyum tipis.

"A—apa maksudnya itu!? Aku tidak menyebalkan!" protes Sakura.

"Kalau bukan menyebalkan, jadi apa namanya hn?" Sasuke menangkap mimik lucu Sakura saat gadis tersebut menggembungkan pipinya. "Ah, aku tahu. Kau menggemaskan." Ia lalu menarik pelan pipi Sakura dengan jemarinya.

"APA YANG SEDANG KALIAN LAKUKAN!" teriakan seorang perempuan membuat Sasuke dan Sakura terkejut, namun Sasuke terlihat tetap tenang karena ia hanya menoleh santai pada gadis blonde yang berada di pintu masuk yang terbuka. Sedangkan Sakura refleks langsung terduduk dan menatap horor pada juniornya. "Senpai, k—kalian berdua ..., apa maksudnya ini? KENAPA KALIAN BERMESRAAN DI TEMPAT SEPERTI INI!"

"Chino, ini tidak seperti yang kau bayangkan—"

"DIAM! AKU SUDAH LIHAT SEMUANYA!" pekik Chino, membuat Sakura tak berani berbicara. "Dasar Senpai pembohong!" gadis bermata violet ini pun segera pergi meninggalkan Sasuke dan Sakura.

"Chino, tunggu!" Sakura tak bisa tinggal diam, ia pun beranjak untuk menyusul adik kelasnya itu.

"Senpai tidak perlu mengatakan apapun lagi!" Chino terus berjalan cepat hingga ia dan Sakura saat ini sudah kembali area lapangan gym.

"Chino, tolong dengarkan penjelasanku dulu," ucap Sakura sambil memegang tangan kanan adik kelasnya. "Kau salah paham—"

"HENTIKAN!" teriakan Chino menggema di dalam luasnya gedung, semua yang berada di dalam serta merta berhenti dari aktivitasnya masing-masing; terfokus pada kericuhan kecil yang cukup menegangkan. "Aku tidak butuh penjelasan lagi. Aku sudah melihatnya langsung dengan mataku sendiri!" Chino menepis tangan Sakura. "Sakura-senpai dan Sasuke-senpai tengah asyik berduaan di gudang! Kalian sangat menikmatinya!" tangan Chino mengepal, matanya menusuk tajam ke arah senior berambut pink di depannya. "Senpai sudah janji akan membuat Sasuke-senpai menyukaiku! HARUSNYA SENPAI MEMBERITAHUKU SEJAK AWAL JIKA KALIAN ADALAH SEPASANG KEKASIH!"

"Chino! Kau sama sekali tidak benar—"

"Ah sudahlah!" Chino menutup kedua telinganya. "Aku tidak akan kembali lagi ke tempat ini! Dasar pembohong!" tanpa banyak bicara lagi, siswi kelas satu ini pun pergi meninggalkan klub voli.

Krik. Krik. Krik.

Suasana berubah jadi senyap. Seluruh member bahkan pelatih pun hanya terdiam sambil menatap Sakura yang kelihatan shock.

"Sakura-chan—"

"MAAFKAN AKU!" gadis bernama lengkap Haruno Sakura ini membungkuk sembilan puluh derajat di depan semua lelaki yang ada di sana. "Aku baru saja membuat kekacauan di sini. Aku benar-benar telah menyesal, hiks." Satu isakan pelan terdengar dari Sakura, "aku tidak bermaksud untuk membuat masalah di sini, hiks, aku hanya—"

"Sudahlah, ini bukan salahmu."

Sakura merasakan tangan hangat seseorang menyentuh bahunya, membawa tubuh bagian atasnya kembali ke posisi normal.

"Sejak awal dia memang tak berniat bergabung dengan tim kita."

"Tapi, Sasuke-kun, tim ini membutuhkan manager baru. Aku harus segera menemukan penerusku."

"Itu memang benar, tapi yang kau cari bukanlah Chino."

"Teme benar, Sakura-chan!" Naruto menyusul Sasuke yang telah berdiri di samping Sakura. "Chino memang manis, tapi sejak awal dia datang ke sini hanyalah sibuk mengurusi teme saja!" ucap Naruto sambil memanyunkan bibirnya. "Jadi sudah jelas bahwa semua ini bukan salahmu. Iya 'kan, semuanya!?"

Respon yang lainnya hanya mengangguk.

Sakura menyeka air mata di wajahnya. "Terimakasih. Aku akan berusaha untuk lebih baik lagi..."

"Hehehe," Naruto menepuk pelan pundah Sakura, "AYO SEMANGAT, SAKURA-CHAN!"

"Mari lanjutkan latihannya, waktu yang tersisa untuk pertandingan final tinggal sedikit lagi," ujar Shikamaru. Para member yang awalnya diam membatu mulai sibuk kembali setelah mendengar ucapan dari kapten mereka.

Sakura hendak menuju toilet untuk membersihkan wajahnya yang saat ini terlihat berantakan. "Sakura," namun Sasuke menahannya, "Jangan lemah begitu, kami butuh semangat darimu."

.

.

.

.

.

.

.

.

Rabu.

Hari yang ditunggu-tunggu telah tiba di depan mata. Pertandingan final tahun ini mempertemukan kembali SMA Konoha dengan SMA Suna untuk ketiga kalinya. Di pertandingan pertama mereka dua tahun lalu, Tim Konoha dikalahkan telak 3 - 0 oleh tim yang berasal dari kota yang terkenal dengan area berpasirnya tersebut. Sedangkan tahun lalu, Shikamaru berhasil memimpin mati-matian timnya untuk bisa memenangkan pertandingan dengan perolehan 3 - 2. Dan untuk pertarungan hari ini, tidak ada yang bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya. Kedua tim sama-sama bekerja keras, berlatih tanpa henti untuk memperkuat diri. Semuanya ingin menang, mendapatkan kepuasan serta kebanggaan saat berhasil menjatuhkan bola di sisi lawan.

Sebagai manager, Sakura hanya bisa berdoa sambil memberikan teriakan penyemangat pada rekan-rekan timnya. Ini bukanlah pertandingan resmi pertama yang ia hadapi, namun degupan kuat jantungnya masih saja tak beraturan saat melihat lawan mereka yang berada di seberang sana.

Mereka semua saat ini berada di gymnasium terbesar di Konoha. Penonton yang hadir begitu ramai. Selain pendukung dari kedua sekolah, banyak juga masyarakat yang ingin melihat langsung perebutan gelar tim voli terbaik di provinsi timur ini. Pertandingan hari ini juga disiarkan langsung di stasiun tv swasta, tampak camera-man berada di sudut-sudut lapangan.

Sakura mengatur pola pernapasannya, mencoba menenangkan dirinya yang gugup tak karuan.

"Kau baik-baik saja?"

"HEH!?" Sakura terperanjat, "Sasuke-kun! Kau mengagetkanku saja!"

"Ini bukan yang pertama kalinya kita di sini, kau tidak perlu segugup itu."

"Memang benar," ucap Sakura sambil memandangi seluruh keadaan gym yang begitu riuh. "Tapi ini adalah pertandingan terakhir kita yang sudah kelas tiga, semuanya ingin menang agar jadi kenangan bahagia. Aku cemas sekali memikirkan hal itu, Sasuke-kun!"

"Kita akan menang," ucap Sasuke singkat.

"Sakura menoleh. "Aku sedang serius, Sasuke-kun!"

"Aku juga," lelaki tampan ini balas menatap mata kehijauan milik Sakura. "Bukankah aku sudah berjanji padamu bahwa kita akan menang?"

Sakura tak menjawab.

"Kita akan menang," Pangeran Es pun tersenyum tipis, "persiapkan dirimu jika aku berhasil memenuhi janjiku. Sampai nanti," ucap Sasuke dan setelah itu bergabung dengan rekan-rekannya yang sudah berada di tengah lapangan terlebih dahulu.

"Hm? Apa maksudnya? Apa yang harus kupersiapkan?"

.

.

.

Satu jam tiga puluh menit telah berlalu, pertandingan masih terjadi di antara dua kubu. Baik Tim Konoha dan Tim Suna sama-sama tak membiarkan pantulan bola berakhir di area mereka. Sudah memasuki penghujung set kelima; babak penentuan di mana kemenangan akan didapatkan oleh tim yang merebut lima belas poin terlebih dahulu. Energi telah banyak terkuras, peluh telah membasahi tubuh para pemain. Penonton masih serius mengikuti jalannya pertandingan, pendukung dari masing-masing tim berusaha menyemangati dengan nyanyian yelyel kompak dan nyaring.

Sakura menatap ke papan nilai, tim sekolahnya sudah mencapai skor ketiga belas, selisih satu poin saja dari tim lawan. Shikamaru dan yang rekannya membutuhkan dua poin lagi untuk bisa mengakhiri permainan ini. Gadis bermata emerald ini menggenggam tangan dalam pangkuannya, ia terus menatap ke mana arah bola bergerak; berpindah dari tangan satu pemain ke pemain lainnya. 'Dapatkan poinnya! Dapatkan poinnya!' gumamnya dalam hati.

Shoot!

Thump!

Prit!

"YEAY!"

"Yes!" Sakura berseru bahagia saat satu poin berhasil ditambahkan untuk tim Konoha. Sasuke berhasil mencuri angka dengan cara melakukan tipuan di depan net yang berhasil mengecoh lawannya. "Ayolahhh, rebut poin terakhir, kumohon!" Sakura memejamkan matanya sambil berdoa khusyuk dalam hati.

"SHIKAMARU, NICE SERVE!" pekik Naruto.

BAM!

Bola terlempar ke daerah lawan, melambung tak beraturan seolah melayang terbawa arus angin yang berhembus.

"Serahkan padaku!" salah satu pemain dari Tim Suna mampu menerima jump float serve dari Shikamaru dengan baik, lalu mengarahkan bola tersebut pada setter berambut coklat yang telah bersiap. Dada Sakura semakin bergejolak tak karuan tatkala tim Suna sudah memasuki mode siap menyerang mereka. 'Jangan biarkan mereka menghentikan kalian!' batinnya berteriak.

"Gaara!" seru pemain berambut coklat tadi. Ia memberikan umpan bolanya pada lelaki berambut merah terang yang berada di sisi kanan lapangan. Menyadari serangan akan datang dari arah sana, Sasuke, Kiba, dan Sai pun segera membentuk dinding tinggi untuk menghalang serangan.

BOOM!

Sayangnya bola yang ditembakkan malah melenceng ke kiri lapangan, mampu mengelabui tiga pemain sekaligus di depan net. Gaara menyeringai tipis, ia yakin jika terjangannya berhasil mencuri poin dan menghambat langkah tim Konoha.

"MASIH ADA AKUUU!" teriak Lee yang berlari dari posisi tengah menuju sisi kiri secepat kilat. "HIYAHHH!" lelaki beralis tebal tersebut berhasil menahan bola yang nyaris saja menyentuh lantai dengan ujung tangannya. "SHIKAMARU!"

"Chance ball!" seru sang kapten, tiga pemain yang tadi berada di depan kembali ke posisi awal mereka. Bola kembali ke udara, Sai dan Sasuke saling bertukar tempat. Dengan tangan pucatnya, Sai menerima bola tersebut. Kelima pemain lainnya bergerak bersamaan dengan posisi siap untuk menyerang; membuat tim Suna kebingungan pada siapa bola tersebut akan diberikan.

Hup!

Sai melambungkan bola tersebut ke tengah dan—

BOOOM!

Langsung dihantam oleh Sasuke dengan sekuat tenaganya. Tak memberikan kesempatan bagi lawan untuk bertindak. Bola melesat tajam jatuh ke lantai.

PRIIITTT!

"YEAAYYY!"

"SASUKE, NICE KILL!"

"TEMEKAUHEBATSEKALI!"

Kelima perwakilan dari SMA Konoha langsung menyerbu Sasuke dan memberikan siswa tampan tersebut pelukan erat. Kemudian disusul oleh pemain cadangan yang tak mau ketinggalan untuk ikut merasakan hawa kebahagiaan.

"Sasuke-senpai keren sekali!" seru Konohamaru.

"Semua itu berkat yang lainnya juga," ujar Sasuke pada juniornya itu. "Kalau saja kesempatan tadi tidak digunakan sebaik mungkin, kita mungkin tidak bisa menang."

Sakura terpana menatap pemandangan luar biasa di depannya. Tubuhnya terasa kaku, ingin berlari menuju gerombolan teman-temannya yang tengah tertawa bahagia tapi tidak kesampaian. "K—Kami menang, 'kan?" ia bertanya pada diri sendiri. Air mata haru mulai menetes di wajahnya. "Kami menang! Sasuke-kun dan yang lainnya berhasil memenangkan pertandingan ini! KITA MENANGGG!" Teriakan gadis berambut pink tersebut begitu nyaring sehingga semua orang langsung menatap kepadanya. Sakura refleks menutup mulutnya, sedangkan para anggota klub malah tertawa melihat tingkah Sakura yang sangat lucu tersebut.

Tap.

Tap.

Tap.

Salah satu dari mereka berjalan mendekat ke arah Sakura. Gadis ini pun menatap heran pada lelaki yang mendatanginya tersebut. "Sasuke-kun, ada apa?" suasana gym tersebut mendadak diam dan terfokus pada interaksi antara pemain voli dan manager cantiknya ini.

"Kau sudah siap?" tanya sang Uchiha muda.

"Maksudmu?" Sakura mengerutkan dahinya.

"Aku sudah memintamu untuk mempersiapkan diri jika kita menang, 'kan?" Sakura mengangguk pelan.

"Kalau begitu," Sasuke semakin mendekat ke arah perempuan di depannya, meraih helaian rambut yang berterbangan di wajah Sakura kemudian mengaitkannya pada telinga sang pemilik. Ia lalu menggenggam tangan Sakura yang dari tadi mengepal di sampingnya, "jadilah kekasihku."

Satu detik.

Dua detik.

Lima detik.

"HAAAHHH!" Sakura kaget bukan main saat lelaki tampan di hadapannya begitu tenang saat mengucapkan kalimat tadi di depan semua orang. "Sasuke-kun apa yang kau lakukan! Jangan bercanda seperti ini! Semua orang bisa melihat kita!"

"Aku serius, Sakura." Sasuke lalu membawa telapak tangan Sakura untuk bersandar di dadanya, tepat di mana jantungnya berdetak begitu kencang. "Kau adalah alasan utamaku agar bisa memenangkan pertandingan ini. Aku ingin melihat kau tersenyum bahagia."

"T—t—tapi, Sasuke-kun bilang s—s—sudah punya gadis lain yang—"

"Itu dirimu. Aku menyukaimu." Sasuke lalu menarik tubuh Sakura ke dalam rangkulannya. "Aku sudah menyukaimu sejak awal." Kening mereka saling bersentuhan. "Jadi, apa jawabanmu?"

"TE-RI-MA! TE-RI-MA! TE-RI-MA!" gemuruh teriakan penonton menggema di seluruh ruangan. Sepertinya semua orang sangat mendukung jika Sasuke dan Sakura bersatu jadi sepasang kekasih.

Sakura merasakan wajahnya memanas. Bohong jika saat ini ia tak bahagia, rasanya seperti mimpi saja ketika tahu bahwa lelaki yang selama ini diidamkam ternyata memiliki perasaan yang sama untuknya. "Hu'umm!" Sakura mengangguk cepat; tanda bahwa ia menerima perasaan Sasuke; mereka resmi jadi sepasang kekasih hari ini. Ia pun langsung menghamburkan pelukan pada tubuh Sasuke. Melekatkan wajahnya pada dada kekar pangeran es ini yang sama sekali tak bau meski telah banyak berkeringat.

Sasuke mengusap pelan kepala Sakura. "Arigatou," gumamnya sambil menghirup aroma di antara tumpukan helaian merah muda kekasihnya.

"CIUM! CIUM! CIUM!"

Emerald Sakura melebar dua kali lipat saat mendengar teriakan yang kembali heboh. Ia segera menjauhkan tubuhnya dan melepaskan diri dari dekapan Sasuke. "Kita tidak bisa melakukan itu, Sasuke-kun, ibuku sedang menonton ini di rumah!"

Sasuke tertawa pelan. "Kau kira aku takut, hn?" Sang pangeran malah mendekat, memegang kedua sisi bahu Sakura yang berontak. "Tutup matamu."

Sakura menggeleng. Namun terpaksa memejamkan matanya kala wajah Sasuke mulai merapat.

Dug.

Ketukan pelan membentur di jidat Sakura. Dan saat gadis musim semi tersebut membuka matanya, pandangannya langsung disambut oleh senyuman tulus di wajah Sasuke—yang hanya akan diberikan kepada dirinya seorang. "Aku menyayangimu. Sampai nanti." Lelaki muda itu pun kembali lagi ke lapangan di mana teman-temannya sudah menungguinya sejak tadi.

"Ternyata Sasuke benar-benar jantan," ucap Genma yang berjalan mendekati Sakura.

"Genma-san?"

"Aku tidak menyangka bahwa dia akan mengikuti saran dariku."

"Eh!? Maksudmu!?"

Genma menyeringai tipis. "Proses pernyataan cinta tadi sudah direncanakan dengan matang sejak seminggu lalu. Syukurlah bisa berjalan lancar."

"Jadi kau sudah tahu bahwa Sasuke-kun—"

"Sudah bukan rahasia lagi jika Sasuke menyimpan perasaan spesial untukmu, Sakura," ucap Genma seraya memandangi Sakura yang tampak begitu terkejut. "Sejak awal, kami semua sudah tahu bahwa dia menyukaimu. Terlihat dari sorotan matanya saat menatap lembut ke arahmu."

Sakura mengerjapkan matanya beberapa kali. Mencerna baik-baik segala informasi yang baru saja didapatnya barusan. Ia tak pernah menyangka bahwa Sasuke telah menaruh hati padanya sejak dulu.

Sasuke yang terlihat dingin, ternyata juga memendam perasaan yang sama untuk dirinya. Sudut bibirnya melengkung, irisnya menangkap bayangan lelaki yang kini telah jadi kekasihnya di depan sana. "Arigatou, Sasuke-kun." Kini Sakura sudah tahu, tatapan jatuh cinta adalah ketika Sasuke tak menatap siapapun kecuali dirinya.

.

.

.

.

.

Sraakkk.

Sakura mencabut poster yang ia tempelkan di mading beberapa waktu lalu. Poster pencarian kandidat baru untuk menjadi penerusnya sebagai manager tim voli pria SMA Konoha. Setelah insiden bersama Chino beberapa hari lalu, membuat Sakura sadar bahwa menarik minat siswi junior menggunakan visual para anggota tim bukanlah hal yang bisa dibenarkan. Akan sangat buruk jika tujuan anak gadis memasuki ekskul lelaki hanya karena mengincar salah satu dari mereka untuk dijadikan pacar. Sakura harap jika kelak akan ada yang menggantikan posisinya, orang itu dapat menjalankan tugasnya karena mencintai suasana dan ikatan di dalam tim.

"Haahh," Sakura mendesah lelah, "apa masih ada siswi yang berminat untuk mencalonkan dirinya?" murid kelas tiga ini lalu melipat kertas berukuran A3 itu menjadi empat kali lebih kecil, kemudian dimasukkan ke dalam tasnya. "Aku harus mendesain posternya jadi lebih bagus agar ada yang tertarik."

"Eh!? Apa tim voli sudah menemukan manager baru?"

Suara asing tiba-tiba terdengar dari belakang Sakura. Saat berbalik, tampak gadis berambut berambut oranye yang diikat menjadi twin-tail imut di kepalanya. "Kami belum menemukan manager baru, tapi rencananya aku mau mendesain poster baru agar bisa ada yang tertarik. Hehehe," jawab Sakura sambil tertawa hambar.

"Ah syurkurlaahhh," gadis asing tadi tampak bernapas lega. "Perkenalkan, namaku Moegi dari kelas 1-2." Moegi lalu membungkukkan tubuhnya, "dua hari lalu aku ikut menonton pertandingan antara SMA kita melawan SMA Suna. Aku baru tahu bahwa ternyata sekolah kita memiliki potensi besar dalam bidang voli." Siswi kelas satu ini maju selangkah untuk mendekati Sakura. "Aku ingin membantu tim ini berkembang! Aku ingin mencalonkan diriku untuk menjadi manager selanjutnya!"

Sakura tertegun sejenak, memandangi sosok bermata hitam yang tampak bersemangat dan begitu percaya diri. "Baiklah," ucapnya, ia lalu menyentuh pundak Moegi. "Hari senin, silakan datang ke gym nomor tiga, pukul dua siang. Jangan lupa bawa pakaian olahragamu ya."

"Hai, Senpai!"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Delapan Bulan Kemudian.

"Selamat atas kelulusanmu."

Haruno Sakura menoleh pada pemilik suara yang datang dari arah kanannya. Lalu tersenyum karena ia sudah hapal betul siapa orang itu, "Sasuke-kun, selamat juga atas kelulusanmu," ucapnya. Mereka berdua tengah berdiri di keramaian lapangan sekolahnya di hari pengumuman kelulusan. "Sasuke-kun nendapatkan nilai tertinggi untuk angkatan tahun ini." Mata Sakura menatap baik-baik jejeran kertas yang terpasang di papan.

"Aa, setidaknya proses belajarku tidak sia-sia."

"Kita belajar bersama sebelum ujian, tapi mengapa nilaiku tidak setinggi seperti nilaimu?" Sakura memanyunkan bibirnya.

Sasuke malah mengacak rambut Sakura karena gemas melihat tingkah kekasihnya itu, "Mana kutahu, mungkin kau terlalu banyak memikirkanku saat mengisi jawabannya."

"Itu tidak benar!" bantah Sakura—namun wajahnya tetap saja memerah.

"Sudahlah, setidaknya kau berada di peringkat delapan dari 150 siswa yang mengikuti ujian akhir. Itu juga prestasi namanya."

"Yaa, aku harus bersyukur." Sakura lalu berbalik, tak lagi memandangi kertas putih berisikan nilai-nilai para peserta ujian di papan coklat tadi. Kini menikmati serunya para lulusan SMA Konoha yang ramai memenuhi halaman sekolahnya. "Tiga tahun telah berlalu. Sudah waktunya kita meninggalkan sekolah ini."

"Aa," respon singkat Sasuke.

"Kapan Sasuke-kun akan pergi ke Tokyo?"

"Kemungkinan dua atau tiga minggu lagi, aku mau mencari referensi penginapan yang nyaman dulu di internet."

"Oh. Selamat juga karena sudah diterima di sana."

"Kau sendiri bagaimana?"

Sakura melirik tatapan mata hitam milik Sasuke, "Sebenarnya aku," ia terlihat ragu untuk mengatakan sesuatu pada kekasih tampannya itu, "aku juga diterima di universitas yang sama denganmu. Aku juga akan ke Tokyo. Hehehe."

"Heh, dasar kau ini," Sasuke menarik Sakura masuk ke dalam rangkulannya, "kau sengaja tidak memberitahuku, hm?" Sasuke bisa merasakan gadisnya terkikik pelan di pelukannya. "Padahal aku sudah berencana mengatur waktu agar bisa pulang ke Konoha seminggu sekali untuk bisa bertemu denganmu."

Sakura menengadah, "Maafkan aku, Sasuke-kun, aku hanya ingin memberimu kejutan. Hihihi."

"Aa, kau benar-benar membuatku terkejut." Pangeran Es ini lalu menunduk untuk mencapai kening Sakura dengan ujung hidungnya, "aku tidak sabar untuk mengisi banyak waktu bersamamu di Tokyo," gumamnya.

"Aku juga, Sasuke-kun."

"TEME! SAKURA-CHAN!" teriakan Naruto membuat pasangan muda tersebut segera menjauhkan tubuh mereka. "Aku mencari kalian dari tadi!"

"Kami sudah berada di sini sejak tadi, Naruto," ucap Sakura.

"Ada apa?" tanya Sasuke.

"Mari kita berfoto untuk kenang-kenangan tim voli!" ajak Naruto bersemangat, "yang lainnya sudah berkumpul di photobooth, mereka sudah menunggu kehadiran kalian berdua!"

"Baiklah, ayo kita ke sana sekarang."

"OK!" seru Naruto yang kembali berjalan melewati arah yang tadi dilaluinya.

"Ayo?" ucap Sasuke seraya mengulurkan tangannya pada Sakura.

Senyum manis mengembang di wajah gadis berambut merah muda ini, segala kebahagiaan meluap di sekujur tubuhnya. Sakura pun segera meraih tangan hangat Sasuke, menggenggamnya erat dan penuh rasa sayang. "Hai!"

.

You know you're falling in love;

when the feeling of falling actually feels like you're floating.

(Rashida Rowe)

.

-tamat-

.

telat sih, tapi—

HAPPY SASUSAKU FANDAY FOR ALL OF US WHO PROUDLY BEING A SASUSAKU FAN!

SELAMAT HARI FAN SASUSAKU UNTUK KITA SEMUA YG BANGGA JADI SEORANG FAN SASUSAKU! XD

Terimakasih sudah membaca fanfic ini sampai akhir. Terimakasih banyak untuk yang bersedia meninggalkan review di chapter sebelumnya : williewillydoo, Guest, 0310 – 04, nabila SasuSaku, eci, Ranindri, mc-kyan, wowwoh geegee, Nurulita as Lita-san, Uchiha Cherry 286, Harika PCY-OSH, Guest (2), Berry Salada, nurvieee96 dan eka.

Terimakasih banyak juga buat temen2 lain yang udah berpartisipasi di SSFD tahun ini.

#HappySSFD2017

Sampai jumpa di fanfic2 selanjutnya~!

Xoxo