Chapter 3
"Ah! Kanon, Anon... apa kalian tidur nyenyak di kamar Lui?" tanya Luka setelah selesai menyiapkan sarapan untuk penghuni rumah tersebut.
Kanon dan Anon yang sudah selesai mandi —atas perintah Yuuma— saling pandang. "Kami tidak tidur di kamar kak Lui," penuturan Kanon membuat Luka heran.
"Jadi... kalian tidur dimana?" Luka kembali bertanya.
"Tentu saja di kamar kak Yuu, k-kami tidak m-mau merepotkan kalian bertiga. Khususnya kak Lui," jawab Anon lirih.
Luka hampir menjatuhkan sendok sayur yang ia pegang, sedangkan IA hampir saja tangannya terjepit saat akan menutup pintu lemari pendingin. "Kayaknya tidak jadi musim semi karena badai akan datang gara-gara Yuuma," Luka menyindir secara gak langsung.
"J-j-jangan bilang begitu! H-harusnya kita senang 'kan?" kata IA sambil tersenyum aneh.
Luka menatap IA, "Kau tahu IA? Dari pertama dia ada di sini sampai sekarang dia tidak pernah tidur bersama orang lain," ucapnya sambil masang wajah horor. Lagi-lagi IA menampilkan senyum anehnya.
Kanon dan Anon hanya memandang kedua kakak perempuan mereka dengan wajah bingung. Memang apa masalahnya kalau mereka tidur bersama Yuuma? Apakah bencana yang besar akan datang hanya karena tidur bersamanya? Daripada memikirkan hal rumit yang tidak akan mereka mengerti, sepasang anak kembar itu duduk di kursi lalu mengambil sarapan mereka.
"Hah... sudahlah! Kau bangunkan Yuuma dan Lui. Tidak biasanya mereka belum bangun jam segini," perintah Luka.
"Ah! Kak Lui tidur di kamar kak Yuuma," penuturan bocah berumur 6 tahun yang sedikit hiper itu kembali membuat Luka dan IA cengo.
"Kutarik kembali kataku kalau akan ada badai salju tadi, sepertinya diganti sama badai es batu," Luka memegang kepalanya yang pening karena perubahan sifat Yuuma.
"Aku jadi khawatir sama Yuuma sekarang, apa karena jatuh dari pohon beberapa minggu lalu membuat Yuuma yang dingin hancur menjadi Yuuma yang penuh perhatian?" IA ikut khawatir.
"Lupakan. Semua manusia pasti berubah, cepatlah bangunkan mereka. Sudah hampir jam 10," Luka kembali memberi perintah kepada IA yang sempat tertunda tadi.
IA mengangguk, lalu pergi menuju kamar Yuuma. Perempuan bermata biru layaknya langit itu terkejut, bagaimana tidak? Yang satu tidur dengan bantal berupa paha pemilik kamar. Yang satunya lagi tidur posisi duduk sambil bersender pada tembok kamarnya dengan nafas terengah-engah.
Segera saja ia masuk kamar kemudian membangunkan laki-laki berambut merah muda tua itu yang kelihatan sedang menggumamkan sesuatu. "Yuuma bangun... k-kamu tidak apa-apa?" tanya IA sambil menepuk bahu Yuuma dengan pelan.
Tapi pemuda tersebut tidak bergeming, bahkan bocah yang ada dipangkuannya itu masih tertidur. Biasanya bocah umur 10 tahun itu langsung bangun ketika ada pergerakan maupun suara sekecil apapun. "Hah... hah... Ho…" sepertinya Yuuma mulai mengigau.
"Ho?" IA heran. Penasaran dengan gumaman laki-laki yang sebaya dengannya, perempuan berambut pink pucat itu menunggu kata-kata yang akan keluar dari mulut pemuda tersebut.
"Ho... hah... hah... tsuka," ok, dia puas dengan lanturan Yuuma.
"Yuuma... bangun, sarapannya sudah siap," ucapnya lembut sambil menepuk bahu Yuuma, kali ini sedikit lebih keras.
Mata hijau laki-laki itu terbuka perlahan, nafasnya masih terengah-engah. "Kau tidak apa-apa? Apa ada yang sakit? Kau terlihat tersiksa," tanya IA beruntun.
Yuuma yang pandangannya masih buram itu hanya diam, ia mencoba memproses ucapan perempuan yang ada di depannya itu, "Panggil kak Luka, dadaku... ugh! Sesak," ucapan Yuuma cukup untuk menjawab pertanyaannya.
"Oke, tunggu sebentar, Lui cepat bangun! Kakakmu itu sedang sesak nafas!" IA segera memanggil Luka setelah selesai membangunkan laki-laki berambut jingga dengan menggoyangkan tubuhnya cukup keras.
Drap! Drap! Drap!
Suara langkah kaki menuju kamar Yuuma terdengar, "Yuuma! Kau tidak apa-apa? Kau bisa berdiri?" Luka langsung membawa Yuuma ke kamarnya setelah mendapat gelengan sebagai jawaban pertanyannya.
"Sesak... gak... bis... a... nafas... sakit..." racau Yuuma saat dibawa ke kamar Luka.
"Sudahlah! Jangan bicara, ambil nafas secara perlahan," perintah Luka setelah berhasil membawa Yuuma ke kamarnya lembut.
"Gak bisa... aku... ukh! Sudah... hah... hah... coba tadi," balas Yuuma.
Segera Luka memasang masker oksigen yang sudah dipasang ke tabung oksigen pada Yuuma. Setelah laki-laki yang suka membuat khawatir dirinya itu tenang, dia kembali bertanya, "Apalagi yang kau rasakan?".
Mata sayu Yuuma menatap Luka lalu dengan cepat menghindar tatapan sang kakak yang beda 4 tahun tersebut, "Pusing... dengar gak jelas... pandangan buram," lirih Yuuma.
"Sejak kapan kau mulai sesak?" tanya Luka sambil mengambil kursi yang ada di dekat meja kerjanya lalu duduk di depan Yuuma.
Yuuma mencoba mengingat, "Jam 6... mungkin?" jawabnya ragu.
"Hah?! Kau mengalami sesak nafas hampir 5 jam?!" teriak Luka.
Yuuma langsung menutup telinganya, "Apa kau selalu teriak kepada pasienmu di rumah sakit?" tanya Yuuma sarkastik.
Luka langsung mengambil nafas dan menghembuskannya secara perlahan, "Maaf, kau tahu penyebab kau sesak nafas, pusing, dan lainnya itu?" tanya Luka, kali ini dengam suara lembut sambil mengusap kepala Yuuma secara perlahan.
"Cerita —curhat— Lui," jawab Yuuma singkat, ia melepas masker oksigen tersebut saat sesaknya menghilang.
"Cerita tentang apa?" Luka pernasaran, tidak biasanya Lui cerita —curhat— kepada Yuuma karena bocah bermata ruby itu tidak suka menceritakan kehidupannya.
"Kecelakaan yang terjadi 6 tahun lalu," jawab Yuuma.
Luka terkejut, "Memangnya... ada apa dengan kecelakaan itu? Bukannya itu kecelakaan tunggal ya?"
Yuuma mengangguk, ia pun mengusap tengkuknya yang terasa dingin, "Sepertinya... itu ada hubungannya denganku," jawab Yuuma lirih.
"Hah?"
Yuuma terus mengganti channel yang ada di televisi, ia merasa bosan dengan isi layar yang ada di benda berbentuk kotak tersebut.
Rumah terasa sepi, hanya Lui dan dirinya yang ada di rumah tergolong besar ini. Luka, IA, Kanon, dan Anon pergi ke supermarket karena persediaan makan mereka yang menipis.
"Kak Yuuma," panggil laki-laki berambut jingga sambil mengucek matanya. Rambutnya berantakan, suaranya serak, dan matanya sayu. Tipikal orang bangun tidur.
"Hm?" Yuuma membalas dengan gumaman.
"Aku lapar, apa kakak bisa membuat makanan?" tanya Lui, sesekali ia menguap.
Yuuma mematikan televisi, "Pergilah ke ruang makan, aku akan membuatkan nasi goreng," perintahnya datar yang langsung dilaksanakan oleh bocah umur 10 tahun tersebut.
Tidak butuh waktu lama untuk membuat dua porsi nasi goreng, susu untuk Lui, dan teh untuk dirinya sendiri.
"Selamat makan..." Lui memasukkan satu sendok nasi goreng ke mulutnya. Sedangkan laki-laki berambut merah muda itu menatap Lui seakan menunggu komentar tentang masakannya.
"... enak. Ini pertama kalinya aku makan masakan kak Yuuma, sejak kapan kak Yuuma pintar masak? Masakan kak Yuuma lebih enak daripada masakan kak Luka," Yuuma tersenyum puas dengan komentar Lui.
"Entahlah, aku pernah mencoba masak saat umur 10 tahun di hari ketiga aku tinggal di rumah ini. Padahal itu pertama kalinya aku memasak, Ibu dan kak Luka sudah memujiku seakan aku adalah chef profesional," Yuuma tertawa kecil mengingat hal itu.
Lui memasang wajah ketakutan saat melihat tawa kecil Yuuma, "Kak Yuuma? Sejak kapan kakak bisa tertawa seperti itu?" tanyanya tanpa sadar ada sindiran yang terselip di pertanyaannya.
Yuuma langsung kembali memasang wajah datar, "Jangan beritahukan hal ini pada yang lain atau kau tidak akan kubolehkan tidur bersamaku," ancam Yuuma.
"Dan sejak kapan kakak mengancamku seperti itu?!"
"Ah! Satu lagi," Yuuma menggantungkan ucapannya membuat Lui menatap horor kakaknya yang beda 6 tahun tersebut.
"Bisakah kau..."
[Skip]
"Kami pulang!" seru Luka sambil menenteng beberapa tas belanja.
"Ah... akhirnya pulang, kenapa lama?" Yuuma menghampiri empat orang tersebut lalu mengambil tas belanja yang di bawa Luka dan menaruhnya di meja makan.
"Maaf, maaf, Kanon dan Anon tadi merengek minta es krim," jelas Luka sambil mengeluarkan belanjaan yang ada di tas tersebut dibantu oleh IA.
"Antriannya panjang, jadi agak lama. Apa kau dan Lui sudah makan? Kalau belum, aku akan buatkan makanan," IA melanjutkan penjelasan Luka, kemudian bergegas untuk memasak tapi dihentikan Yuuma.
"Gak usah, kami sudah makan tadi. Kalian makan sana, sudah ada nasi goreng tinggal dihangatkan saja," perintah Yuuma dengan suara datarnya.
"Yuuma sejak kapan kau—"
"Ah! Kak Yuuma! Ternyata ada di sini, kakak dicari Anon sama Kanon. Mereka ada di halaman belakang," ucapan Lui memotong teguran Luka.
Yuuma mengangguk, lalu meninggalkan Luka dan IA yang mematung bersama Lui. "Sejak kapan dia dekat sama ketiga bocah itu?" gumam Luka yang terdengar oleh IA.
Perempuan yang memiliki iris mata biru langit itu tersenyum lembut, "Mungkin... sejak mereka tidur bersama di kamar Yuuma,"
Luka menatap IA seakan mengatakan 'Kenapa bisa begitu?!'
IA yang mengerti arti tatapan kakak perempuannya itu hanya mengangkat bahunya.
Sedangkan laki-laki berambut merah muda yang sekarang ada di halaman belakang langsung menghela nafas, dan itu sukses membuat ketiga adiknya itu heran.
"Kenapa kak Yuu?
"Kak Yuu gak mau m-main sama k-kita?"
"Kak Yuuma sakit?"
Pertanyaan ketiga adiknya yang entah bagaimana memiliki warna rambut yang sama itu membuatnya gelagapan. "Gak papa, emang kita mau main apa? Khususnya kau Lui," Yuuma menatap tajam Lui.
Yang ditatap hanya nyengir, "Aku mau ikut main, Anon dan Kanon mengajakku," jawab Lui.
Yuuma mendengus, "Jadi? Kita mau main apa?" tanya Yuuma lagi.
"Petak umpet!" seru sepasang anak kembar.
"Siapa yang jaga?" kali ini yang bertanya Lui.
Anak kembar itu berpikir. Tidak lama kemudian tangan telunjuk mereka menunjuk...
"Kak Yuu yang jadi!"
... Yuuma.
Laki-laki yang memiliki iris emerald itu kelihatan keberatan. "Tunggu, tunggu! Bukannya itu ditentukan oleh batu-gunting-kertas ya?"
"Eehh?! Kami tidak mau! Kami hanya ingin kak Yuu yang jaga!" sepasang saudara kembar itu kukuh dengan pilihan mereka, sedangkan Lui hanya tertawa kecil.
"Lui! Berhenti tertawa!" pinta Yuuma. Lui langsung menghentikan— tepatnya menahan tawanya.
Yuuma mensejajarkan tingginya pada Kanon dan Anon, "Kenapa kalian memilihku? Bukannya ada Lui?" tanya Yuuma dengan lembut.
"Kak Lui sudah pernah jaga..."
"T-tapi hasilnya... kak Lui tertidur saat hitungan kesepuluh..."
"Yang lain juga sudah pernah, hanya kak Yuu yang belum,"
Penjelasan kedua adik termuda itu membuat Yuuma bungkam. Ia menatap Lui yang dapat diartikan, 'Kau menghitung angka untuk petak umpet atau menghitung domba buat tidur?!'
Lui hanya memalingkan muka, Yuuma kembali menghela nafas. "Baiklah, baiklah... aku yang jaga. Kalian cepat sembunyi, akan kuhitung sampai 10. Areanya halaman belakang rumah ini saja, aku gak mau capek hanya untuk mencari kalian bertiga di rumah yang besar ini," ucapnya mengalah.
Lui tersenyum lebar, Anon dan Kanon langsung bersorak. Yuuma duduk di teras rumah dan mulai berhitung.
"Satu.."
Ketiga orang itu langsung berpencar.
"Dua.."
Lui bersembunyi di ladang yang kebetulan terdapat tembok untuk menyembunyikan tubuhnya.
"Tiga.."
Kanon masih mencari tempat, ia melihat meja bundar di belakang Yuuma. Cengiran pun menghiasi wajahnya yang mungil.
"Empat.."
Anon dengan gugup mencari tempat persembunyian yang strategis.
"Lima..."
Adik kembar Kanon itu melihat jemuran yang kebetulan banyak selimut yang ditaruh di jemuran.
"Enam..."
Tanpa pikir panjang lagi, Anon bersembunyi di antara jemuran tersebut, beruntung tubuhnya kecil.
"Tujuh..."
"Hihihi... kak Yuu gak bakalan bisa nemuin aku," gumam Kanon sumringah.
"Delapan..."
"Semoga kak Yuuma gak ke sini duluan," gumam Lui.
"Sembilan..."
"Duh... moga-moga kak Yuu ke tempat kak Lui duluan," Anon... apa kau punya dendam pada Lui?
"Sepuluh! Selesai atau nggak aku tangkap kalian! Muahaha!" Yuuma tertawa laknat. Sesuatu yang tidak mungkin terjadi pada Yuuma karena anaknya dikenal pendiam.
Ketiga orang yang sedang bersembunyi di tempatnya masing-masing itu langsung bergidik ngeri.
Tap... tap...
Langkah yang penuh tekanan itu menghampiri suatu tempat, "Dimana kalian~?" suara Yuuma terdengar menyeramkan.
Langkah Yuuma berhenti di ladang, Lui yang bersembunyi di sana langsung menutup mulut dan hidungnya agar nafasnya tidak terdengar oleh Yuuma yang memiliki pendengaran tajam.
"I found you~ little brother," bisik Yuuma tepat di telinga Lui, entah sejak kapan dia tahu Lui ada di sana.
"GYAAA!" teriakan Lui mengundang perhatian Luka dan IA yang sedang bersantai.
Drap drap drap!
"Ada apa?! Siapa yang berteriak tadi?!" tanya Luka setibanya di depan pintu belakang rumah.
Seketika, Luka dan IA sweatdrop, "A-apa yang kalian lakukan?" tanya IA saat melihat Yuuma membungkam mulut Lui, sedangkan Anon dan Kanon menutup kedua telinga mereka.
Kanon, Anon, dan Yuuma menatap tajam pelaku yang mengundang Luka dan IA. "Maafkan aku, aku yang berteriak tadi. Kak Yuuma mengagetkanku," ucap pelaku tersebut, alias Lui.
"Kenapa kau membawa namaku?" tanya Yuuma dengan wajah datarnya.
"Habis... kak Yuuma nggak bilang-bilang kalau menemukanku... pakai cara bisik-bisik lagi. Suara kak Yuuma tadi horor tahu!" jawab Lui sambil mengembungkan pipinya.
Luka dan IA saling tatap, "Pfft— HAHAHAHA!" tawa kedua perempuan tersebut langsung menghentikan perdebatan Lui-Yuuma dan membuat sepasang anak kembar itu menatap mereka dengan pandangan bingung.
"Kenapa kak Luka dan kak IA tertawa?" tanya Kanon.
"Ah! Maaf, maaf. Kukira ada maling atau apa sampai ada yang berteriak seperti itu," jawab Luka.
"Iya... selama ini gak ada yang berteriak sampai membuat kaca jendela bergetar," sambung IA.
"Hah... sudahlah! Ayo masuk! Ini sudah hampir sore, kalian juga harus menyiapkan hal-hal yang harus dibawa ke sekolah besok," kata Luka mengingatkan 4 orang tersebut.
"Eh? Sudah sore? Gak terasa kita main selama itu," kata Lui lalu masuk ke dalam mengikuti yang lain.
Lui melihat Yuuma yang mematung melihat pohon besar yang agak jauh dari rumah. Laki-laki yang menduduki bangku SD itu menghela nafas, ia berjalan menuju kakaknya tersebut lalu menepuk bahu Yuuma pelan.
Laki-laki yang hampir memasuki umur 17 tahun itu tersentak, "Lui..."
"Kenapa diam? Kak Luka suruh kita masuk, atau... kakak melihat sesuatu di pohon itu?" tanya Lui.
"Nggak. Mungkin cuma perasaanku, ayo masuk," jawab Yuuma sambil mendorong tubuh Lui.
"Iya, iya... kak Yuuma gak perlu dorong juga kali!" protes Lui.
Yuuma memutar matanya bosan, ia melirik pohon besar yang sedikit mengundang perhatiannya tadi. Sesorang yang memakai baju serba hitam tersebut masih ada di sana, 'Siapa... dia?'
[To Be Continued]
Budayakan tinggalkan jejak setelah membaca. Maaf kalau ada typo yang mengganggu...
See you next week~!
