HWAAA! Maafka saya yang telat update!
Sebenernya ini fanfic update setiap selasa... tapi karena kemarin saya banyak urusan... mau gak mau harus di tunda...
Pokoknya saya benar-benar minta maaf! Gomenasai! Mianhae! Sorry!
Yuuma: Lu ngomong apaan sih thor? Kagak jelas amat!
Author: *Mengabaikan Yuuma* Dan terima kasih telah menunggu nih fanfic. Arigatou! Gomawo! Thankyou!
IA: *Menatap datar Author* Dia pasti gila. Ya. Dia pasti gila karena tugasnya yang semakin menumpuk beserta fanfic-fanficnya yang lain
Author: *Sekali lagi mengabaikan karakter* Aishiteru! Saranghae! Love You!
All Yuki Character: Karena Author mulai gila... kami akan menggantikannya... Happy Reading and Enjoy~!
Chapter 4
"Yuuma!" panggil laki-laki berambut putih keabu-abuan tapi tidak digubris oleh yang punya nama.
Laki-laki yang biasa dipanggil Piko itu berusaha menyusul temannya yang entah kenapa jalannya terasa cepat.
Puk!
Piko menepuk bahu temannya tersebut, membuat temannya yang dikenal cuek itu tersentak. Secara reflek, laki-laki bernama Yuuma memegang tangan Piko lalu membanting tubuh laki-laki tersebut.
Brak!
"Adududududuh! Woi! Ini gue! Kenapa lu banting tubuh gue seakan gue ini mau rampok lu hah?!" rintih Piko kesakitan.
Yuuma mengerjapkan matanya, "Eh? Piko? Maaf, aku juga sempat mikir yang kau katakan tadi," balas Yuuma datar.
Tanpa membantu temannya yang setia tidur di lantai tersebut, Yuuma melewati tubuh Piko seakan tidak terjadi apa-apa. "Woi! Lu ngabaikan gue nih?! Lu gak nolongin gue nih?!" protes Piko. Suaranya menggema di koridor sekolah karena belum banyak murid yang datang ke sekolah.
Yuuma menghentikan langkahnya, ia menatap Piko lalu mendengus dan kembali berjalan menuju kelasnya. "Beneran nih gak nolongin gue?! Kalau gitu gue gak akan kasih tahu pesan dari Ketua OSIS nih?!" ancam Piko yang masih terlentang di lantai koridor sekolah.
Taptaptap!
Suara langkah kaki secara cepat menuju Piko, "Berisik. Apa yang dikatakan Hiyama?" tanya Yuuma to the point sambil membantu Piko bangun dari posisi 'tidurnya'.
"Ketua OSIS bilang, 'Mungkin kau akan lupa dengan tugasmu yang kuberikan dua hari sebelum liburan kenaikan kelas. Maka aku mengingatkanmu bahwa kau akan menjadi penanggung jawab MOS kelas 1-3 saat semester baru dimulai,' seperti itu," jawab Piko.
"Hah?" Yuuma syok, dia tidak pernah dengar tentang itu.
"Bukan, 'Hah?' saja! Kau akan jadi penanggung jawab MOS di kelas 1-3! Apa kau sudah siapkan jadwalnya untuk 3 hari kedepan?" tanya laki-laki bermata heterochrome tersebut.
"Be... lum...?" sepertinya Yuuma belum sadar dari syoknya, buktinya dia menjawab pertanyaan Piko dengan ragu ditambah nada aneh yang keluar dari mulutnya.
Piko menghela nafas. Ini sudah menjadi kebiasaan temannya itu kalau sudah dalam tahap keterkejutan berlebihan, otaknya akan memproses sangat lamban daripada biasanya. "Bagaimana bisa kau belum menyusun jadwal yang sangat penting itu?! Ya ampun... kenapa mereka memilih Wakil Ketua OSIS yang pemalas ini?! Sudah tahu kalau dia masih amatiran gini. Kenapa juga mereka memilih Wakil Ketua OSIS yang masih kelas 1 SMA dulu?! Belum lagi dengan penyakit lupanya," keluh Piko.
"Tunggu, tunggu, tunggu. Aku tidak pernah dengar kalau aku ditugaskan menjadi penanggung jawab MOS kelas 1-3. Kapan aku diberi tugas itu?" tanya Yuuma sadar dari syoknya.
Piko kembali menghelas nafas, "Ketua OSIS sudah mengira kau akan menanyakan hal itu. Jadi dia suruh aku bilang, 'Dua hari sebelum liburan kenaikan kelas. Apa kau tidak mendengar penjelasanku tadi? Salahkan dirimu yang tidur saat rapat kemarin,' gitu.." jawabnya sambil menirukan suara Ketua OSIS, alias Kiyoteru.
"Dan ini jadwal kegiatan MOS khususuntukmuyang dibuat oleh Sekretaris OSIS 2," lanjutnya sambil memberikan selembar kertas yang berisi jadwal MOS untuk 3 hari ke depan.
Yuuma menerima kertas tersebut dengan bingung, 'Sekretaris 2? IA?' pikirnya.
"Ah! Ngomong-ngomong... kenapa kau datang sepagi ini? Kemana Aria?" tanya Piko mengganti topik.
Yuuma menatap Piko datar, "Ah... kami berangkat bersama tadi... terus... dia duluan karena ingin lihat dia ada di kelas mana. Aku juga mau lihat sih... tapi dianya gak nungguin aku karena pingin dapet tempat duduk paling depan," jawab Yuuma dengan nada malasnya membuat laki-laki berambut putih keabu-abuan itu sweatdrop.
"Oh. Kebetulan aku juga, mau lihat bareng? Bisa saja kita masuk di kelas yang sama seperti saat kita kelas 1," balas Piko.
"Aku tidak mau sekelas denganmu lagi," penuturan Yuuma membuat Piko membatu.
"Kenapa?!" teriak Piko histeris.
"Karena kau berisik,"
"EEEHH!"
Grek!
Pintu kelas 1-3 terbuka secara tiba-tiba, membuat penghuni kelas tersebut sunyi dalam sekejap. Laki-laki berambut merah muda agak gelap masuk ke ruang kelas dengan aura gelap.
Duk!
Seorang perempuan berambut merah muda pucat yang berjalan di belakang laki-laki tersebut menendang salah satu kakinya. "Aduh! Apaan sih?" rintih laki-laki yang biasa dipanggil Yuuma.
"Hilangkan auramu! Kau membuat anak baru ketakutan!" desis perempuan bernama Aria atau bisa dipanggil IA.
Yuuma menghela nafas, "Err... Selamat pagi adik-adik!" sapa Yuuma dengan nada ceria meskipun ekspresi datar setia terpasang di wajahnya. Entah bagaimana dia bisa melakukan hal tersebut yang membuat semua orang di kelas itu sweatdrop bahkan anggota OSIS. IA? Dia sudah terbiasa dengan 'kemampuan khusus' milik Yuuma.
"P-p-pagi..." balas anak kelas 1-3 dengan suara sweatdropnya.
"Ok. Gak usah basa-basi. Mari kita selesaikan kegiatan MOS yang membosankan ini agar kita cepat pulang," kata Yuuma. Anak kelas 1-3 dan anggota OSIS kembali sweatdrop, IA langsung menendang kaki Yuuma. Kali ini yang belum ditendang.
"Aduh! Ada apa lagi sih?!" rintih Yuuma sambil memegang kakinya yang sakit.
"Kau itu kakak kelas sekaligus Wakil Ketua OSIS, apa itu contoh yang baik buat adik kelas hah?!" kata IA sinis.
"Oi! Cepetan dimulai!" salah satu anggota OSIS mengingatkan mereka berdua yang sibuk berdebat.
Secara tidak sadar, Yuuma dan IA berdehem bersamaan. "Err... perkenalkan, namaku Megurine Aria. Panggil kak Aria boleh, kak IA boleh. Dan di sebelahku ini..."
"Megurine Yuuma, terserah mau panggil aku apa, asal itu masih bisa ditoleransi. Ada pertanyaan?" Yuuma membuka sesi pertanyaan setelah mereka berdua memperkenalkan diri.
Salah satu murid berambut biru tua yang dikuncir twintail rendah mengangkat tangannya. IA dan Yuuma menatap anak tersebut, "Ya, kamu? Siapa namamu?" tanya IA lembut.
"Aoki Lapis," jawabnya sambil merona tipis.
"Apa yang ingin kamu tanyakan?" IA kembali bertanya.
"Kak Aria sama kak Yuuma bersaudara? Kok nama marganya sama?" pertanyaan Lapis membuat Yuuma dan IA saling tatap.
"Iya, kami bersaudara. Dilihat sekilas juga sudah kelihatan seperti kakak-adik yang umurnya sama," jawab Yuuma.
"Oh... jadi kalian ini kembar?" Lapis kembali bertanya.
IA tertawa kecil, "Nggak, kakak lebih tua beberapa bulan dari kak Yuuma," jawab IA, sedangkan Lapis hanya ber-oh-ria.
"Sudah tidak ada yang ditanyakan?" Yuuma kembali membuka sesi pertanyaan.
"Tidak ada kak..." jawab anak kelas 1-3 kompak.
"Ok. Mari kita mulai dengan kegiatan MOS. Kita mulai dari perkenalan diri, dari ujung depan kanan ya?" ucap IA membuka kegiatan MOS.
Kelas yang terdiri 30 anak tersebut mulai melakukan perintah IA. Setelah selesai memperkenalkan diri, mereka melakukan kegiatan MOS menurut jadwal.
2 hari telah berlalu semenjak MOS dilaksanakan. Hari ini para OSIS melakukan rapat dadakan untuk pelepasan MOS besok setelah memulangkan para didik baru.
"Jadi? Kegiatan apa yang cocok untuk pelepasan MOS besok?" tanya Kiyoteru selaku Ketua OSIS.
"Melakukan lomba bukan? Kita sudah merencanakan itu sebelum MOS dimulai. Hadiahnya juga sudah ada," jawab Rana selaku Sekretaris OSIS 1.
"Aku tahu... tapi yang main hanya anak kelas 1 saja," balas Kiyoteru sambil mengurut pelipisnya.
"Kalau gitu... buat anggota OSIS ikut berantisipasi," Mayu, selaku Bendahara OSIS 2 memberi usulan.
Semua langsung menatap Mayu, "A-apa?" tanyanya gugup yang langsung dijawab oleh sorakan anggota OSIS kecuali dua orang. Yang satu tidur dan yang satunya lagi sibuk menutup telinga.
"Ide bagus Mayu! Apa ada usulan yang lain?" tanya Kiyoteru mulai bersemangat.
"Tidur," usulan dari seorang laki-laki berambut merah muda agak gelap membuat ruangan sunyi seketika.
"Apa? 'Kan enak, gak perlu mengeluarkan tenaga berlebihan hoaamm..." lanjutnya sambil menguap.
"Itu hanya berlaku untukmu Yuuma," kata IA sweatdrop.
"Jadi? Siapa yang di antara kita ikut berpatisipasi dalam acara pelepasan MOS besok?" tanya Yuki selaku Bendahara OSIS 1.
Perempuan berambut ungu muda yang dikuncir twintail rendah mengangkat tangannya, "Aku. Aku akan ikut lomba menyanyi sama IA," ucapnya membuat IA tersentak.
"Emm... Yukari?" IA menyebut nama perempuan tersebut.
"Ya? Apa ada masalah IA?" balas Yukari.
IA menatapnya seakan ingin berkata, 'Tentu saja ada masalah bodoh!' tapi ia urungkan karena Yukari sangat sensitif.
"Kenapa kau aku? Aku tidak ingat kita pernah berunding tentang itu," kata IA.
Yukari tertawa kecil, "Tentu saja kau tidak ingat, 'kan usulannya baru tadi diomongin... kebetulan aku pintar bernyanyi, jadi aku akan ikut lomba ini. Lagian juga dapet hadiah. Dan kenapa kamu? Karena... aku pernah dengar nyanyianmu, dan itu sangat indah! Jadi aku ingin kita duet, kebetulan juga lagunya harus dinyanyikan oleh dua orang," jelas Yukari panjang lebar.
Yuuma menghela nafas, "Kenapa kau tidak terima saja? Sekali-kali tunjukkan kemampuan yang kamu punya," Yuuma mendukung Yukari.
"Gak mungkin Yuuma! Kau tahu sifatku itu pemalu 'kan?" bisik IA agar tidak terdengar yang lain.
"Sudahlah... anggota OSIS yang pintar bernyanyi hanya kau dan Yuzuki," balas Yuuma.
IA menghela nafas, "Baiklah, baiklah... aku akan ikut," ucapan IA membuat Yukari tersenyum.
"Tapi..." kata 'tapi' yang keluar dari mulut IA membuat suasana di ruang OSIS tegang.
"Aku ingin Gumi ikut berpatisipasi dalam lomba baca puisi," lanjutnya.
"EEEHH!" pekikan dari perempuan berambut hijau itu membuat para anggota OSIS —kecuali Yuuma— menutup telinga.
"Kenapa aku?" rengek perempuan tersebut, Gumi.
"Kau 'kan pintar puisi, lumayan loh... ada hadiahnya," jawab IA enteng.
Gumi hanya pasrah, "Kalau gitu sudah diitentukan, Yukari, IA, dan Gumi yang akan ikut lomba untuk besok. Apa ada pertanyaan?" Kiyoteru membuka sesi pertanyaan.
"Tidak ada Ketua!" jawab anggota OSIS serempak.
"Kalau begitu rapat selesai! Kalian boleh pulang!" kata Kiyoteru menutup rapat dadakan tersebut.
Para anggota OSIS langsung berkemas kemudian pulang. "Ah! Yuuma!" panggil IA sambil menyamakan langkahnya dengan langkah Yuuma yang cepat.
"Apa?" tanya Yuuma sambil memperlambatkan langkahnya.
"Lui menunggu kita di depan gerbang sekolah, dia baru saja SMS aku tadi," jawab IA.
"Oh. Kalau gitu cepat ke sana,"
[Skip]
"Kami pulang..." kata tiga orang —Lui, Yuuma, IA— lalu beranjak melepas sepatu mereka dan menaruhnya di rak sepatu.
"Ah! Selamat datang! Tumben kalian berdua pulang bareng Lui," kata Luka sambil menghampiri mereka bertiga.
"Lui menunggu kami di gerbang sekolah tadi, entah kenapa dia jadi sering ke sekolah kami sekarang," IA menatap tajam Yuuma dan Lui.
Yang ditatap berusaha menghindari aura penasaran dari IA. Merasa akan ada tanya-jawab yang akan berakhir menjadi perdebatan, Luka segera mengalihkan topik, "Yuuma, kau dicari orang. Ngakunya dia kakakmu,"
Yuuma heran, "Kakak? Bukannya kak Luka itu kakakku ya?" tanya Yuuma.
Luka menarik tangan Yuuma bermaksud mengajaknya ke ruang tamu meninggalkan Lui dan IA yang kebingungan.
"Maaf menunggu lama, aku menghampiri adik-adikku yang baru pulang sekolah," Luka tersenyum lembut lalu menatap Yuuma, bermaksud memberi kode bahwa tamu yang sedang duduk tenang di sofa ruang tamu adalah orang yang dimaksud Luka.
Yuuma melihat seorang perempuan yang duduk di sofa tersebut. Rambut cokelat sepunggung yang senada dengan matanya itu terasa familiar.
NGIINGG!
Pusing tiba-tiba menyerang kepalanya, tapi ia tahan sekuat tenaga. "Kak Luka... siapa dia?" tanyanya lirih.
Luka menatap khawatir Yuuma saat mendengar suara adik keduanya, "Dia..."
"Hotsuka Kokone, aku adalah kakakmu... kau tidak ingat aku Yuuma?" perempuan yang mengenalkan diri sebagai Hotsuka Kokone tersebut bertanya.
Yuuma menggeleng sambil menahan sakit yang ada di kepalanya, sedangkan Lui yang mendengar kata Hotsuka langsung mendekati Yuuma.
Kokone terlihat kecewa, matanya mulai berkaca-kaca. "M-maaf... dia sempat kehilangan ingatannya saat umur 10 tahun," Luka berusaha menenangkan hati sang tamu.
"Oh... jadi begitu... adikku ternyata mengalami hilang ingatan, apa karena ledakan mobil yang ada di dekat taman?"
Deg!
Pertanyaan yang keluar dari mulut Kokone membuat jantungnya berdegup kencang, "B-bagaimana kau bisa tahu...?" tanya Yuuma dengan suara tercekat.
"Tentu saja karena aku kakakmu," jawab Kokone simpel sambil tersenyum lembut, tapi tidak bagi Yuuma.
"Sebelum terjadinya kecelakaan itu, aku mengajakmu keluar untuk membeli hadiah ulang tahunmu yang ke sepuluh. Saat itu, aku keluar menuju toko dan kamu katanya ingin menunggu di taman. Lalu terjadilah ledakan itu, aku tidak tahu apa yang salah dengan mobilku sampai bisa meledak seperti itu. Saat aku ke sana... kau sudah tidak ada, hiks..." jelas Kokone lalu menangis.
Luka segera menenangkan Kokone, ia meninggalkan Yuuma yang sedikit oleng. Segera saja ditahan oleh IA, "Kau tidak apa-apa Yuuma?" tanyanya khawatir, Lui yang ada di samping Yuuma juga ikut khawatir.
"Aku tidak apa-apa... jangan khawatir," jawab Yuuma lirih.
"Bagaimana tidak bisa khawatir kalau kondisi kakak cukup mengkhawatirkan begini..." sindir Lui sambil membantu Yuuma, takutnya Yuuma akan jatuh karena IA tidak cukup kuat untuk menahan berat badan Yuuma.
"Bagaimana Yuuma? Kamu sudah ingat?" tanya Kokone sambil berjalan mendekati Yuuma.
Ia mengusap kepala Yuuma, namun langsung ditepis oleh laki-laki berambut merah muda agak gelap tersebut. Tatapan tajam yang ditunjukkan untuk kakaknya —yang dia tidak percaya— membuat Kokone tertegun, "Aku tidak pernah ingat punya kakak yang sukanya menyembunyikan sesuatu dari sifat lembut sepertimu," sinis Yuuma.
"Yuuma! Apa yang kau katakan?!" bentak Luka.
Yuuma menatap tajam Luka, Lui menatap tajam Kokone yang langsung dibalas oleh perempuan berambut cokelat tersebut, IA yang tidak tahu apa-apa mulai memikirkan sesuatu.
"Maaf kak Luka, aku juga setuju dengan ucapan kak Yuuma. Sepertinya perempuan ini menyembunyikan sesuatu dari kita," kata Lui dingin. Luka terkejut dengan penuturan adiknya yang memiliki sifat paling dewasa di antara adiknya yang lain bahkan lebih dewasa darinya itu.
"M-maaf Hotsuka... mereka memang tidak bisa sopan dengan orang asing, tolong jangan dimasukin ke hati," kata Luka sambil tersenyum kaku.
"Tidak apa-apa kok... tapi bagiku... ada satu orang yang bukan orang asing bagiku, yaitu... kau Yuuma..." kata Kokone sambil tersenyum manis.
Seketika, Yuuma langsung ambruk. Untung saja ditahan oleh Lui. Kokone, Luka, dan IA terkejut. Dengan insting seorang kakak —IA masih seorang kakak meskipun berbeda beberapa bulan— mereka menolong Yuuma.
Kokone yang akan ikut membantu IA dan Luka langsung ditepis Lui secara kasar, "Kau! Jangan menyentuh kak Yuuma barang secenti pun! Kau membuat kak Yuuma menderita secara gak langsung! Keluar dari rumah ini!" teriak Lui.
"Lui! Sejak kapan kau keras dengan orang lain hah?! Kau tidak seperti biasanya!" bentak Luka yang masih berusaha menahan Yuuma yang tidak sadarkan diri agar tidak jatuh.
"Sejak orang ini datang ke rumah ini dan membuat kak Yuuma seperti ini!" balas Lui. Luka terdiam, IA tidak ingin ikut-ikutan dalam perang mulut, Kanon dan Anon terbangun karena bentakan kedua kakaknya tersebut.
Lui menatap tajam Kokone, "Kenapa kau masih ada di sini?! Apa kau tidak tahu pintu keluar?! Apa aku perlu menyeretmu keluar dari rumah ini?!" Lui kembali bertanya.
Mata Kokone berkaca-kaca. Tanpa bilang apapun, perempuan itu berlari keluar, "Kak Lui, kak Lui... kenapa kakak teriak-teriak?" tanya Kanon sambil menarik baju laki-laki berambut jingga tersebut dengan pelan.
Lui melirik sepasang anak kembar tersebut, laki-laki bermata ruby itu menahan amarahnya sebisa mungkin. Dia tidak mau kedua adiknya ini melihat sisinya yang buruk, "Tidak apa-apa... kalian kembali ke kamar ya? Ini masih jam 2 sore, nanti kak Luka sama kak IA akan mengajak kalian ke pasar mala nanti," pinta Lui lembut sambil memberi 'sogokan' agar mereka menuruti ucapannya.
IA dan Luka yang mendengar hal itu langsung menatap Lui seakan ingin berkata, 'Kenapa kau menyeret kami?!' tapi mereka urungkan karena Lui sedang mengamuk.
Kanon dan Anon merasa senang. Dengan cepat, sepasang anak kembar tersebut menuju kamar mereka.
Lui menghampiri Yuuma yang masih ada di dekapan Luka, "Minggir," ucapnya dingin yang langsung dituruti Luka. Dia tahu resiko apa yang akan ia terima jika tidak menuruti apa yang dikatakan Lui. Benar deh... adiknya yang satu itu membuat dirinya tidak berkutik saat marah.
Seakan tidak mendapat beban apapun, Lui membombong Yuuma yang nafasnya mulai terputus-putus menuju kamar kakaknya tersebut.
Setelah berhasil menaruh tubuh kakaknya yang terkenal pendiam itu di ranjang, Lui menyuruh Luka untuk memasang masker oksigen pada Yuuma. Kemarahannya masih belum reda karena kejadian tadi.
"Lui.." panggilan lembut dari sang kakak pertama membuat ia sadar dari lamunannya.
"Apa?" sahut Lui masih dengan nada dingin.
"Kenapa kau marah dengan Hotsuka Kokone?" tanya Luka.
Amarah Lui hampir kembali memuncak karena pertanyaan Luka. Untungnya berhasil ia tahan berkat pengendalian emosinya yang baik.
"Lebih baik jangan biarkan orang yang memiliki nama keluarga Hotsuka masuk ke rumah ini," jawaban Lui tidak cocok dengan pertanyaan yang dilontarkan Luka tadi.
"Kenapa?" Luka kembali bertanya.
"Karena itu membuat kak Yuuma sangat menderita," Luka langsung dibingungkan oleh jawaban adiknya yang memiliki stok kesabaran yang besar itu.
Di sebuah rumah megah, terdapat seorang wanita dengan pakaian seperti orang kantoran di balkon kamar. Perempuan itu menghisap rokok lalu menghela nafas, membuat asap rokok keluar dari mulutnya.
"Sialan! Aku pikir itu anak mati bersama ledakan itu!" gerutu wanita tersebut.
"Jadi? Apa yang ingin kau lakukan? Kau tidak ingin anak itu merebut posisimu yang menjadi pewaris keluarga ini 'kan?" tanya seorang pria sambil memeluk pinggang wanita itu erat.
"Hei hentikan~ Nanti ada yang lihat gimana?" tanya wanita itu dengan nada menggoda. Rokoknya ia matikan lalu dia taruh ke asbak yang ada di sampingnya.
"Biarin~ Gak masalah 'kan? Kita ini sepasang suami-istri, masa' gak boleh ngelakuin ini hmm...?" jawab pria itu dengan manja lalu mengecup bibir sang istri sebentar.
"Terus? Bagaimana dengan pertanyaanku tadi?" lanjutnya.
Wanita itu menyeringai, "Walaupun dia kena amnesia sekalipun, dia masih tetap anggota keluarga ini. Akan kubuat dia menghilang dari dunia ini, kau mau membantuku 'kan? Suamiku?" jawabnya.
Sang suami ikut menyeringai, "Tentu saja,"
[To Be Continued]
Mind to Review?
