Happy Reading and Enjoy~!
Chapter 5
"Ayah, ayah!" panggil seorang bocah berumur sekitar 10 tahun dengan antusias.
Pria paruh baya yang sedang duduk menikmati secangkir kopi sambil membaca koran itu menatap anak yang memanggilnya dengan semangat tersebut.
Senyuman lembut dia tunjukkan kepada anaknya, "Ada apa? Sepertinya kamu semangat sekali hari ini," tanyanya.
"Tadi... aku bertemu sama anak kecil! Rambutnya jingga seperti senja dan matanya merah seperti buah ceri!" jawabnya semangat.
Oh... dengan kata lain, anaknya ini punya teman baru?
Tunggu. Teman?
Entah kenapa sang ayah merasa senang, "K-kamu tahu siapa namanya nak?" tanyanya dengan sedikit gugup karena rasa senangnya.
Bocah bermata emeraldlayaknya daun itu menggelengkan kepalanya, "Tidak! Tapi kami bercerita banyak! Walaupun kami tidak tahu nama masing-masing, kami serasa teman akrab! Meskipun dia lebih muda dari aku... Tapi, tapi! Sifatnya lebih dewasa dari aku! Keren 'kan yah?!" jawab sang anak masih dengan semangatnya yang menggebu-gebu.
Sang ayah hanya bisa mengusap kepala anaknya. Dia tidak tahu mau menanggapi apa untuk membalas ucapan anaknya yang kelewat semangat.
"Kamu suka sama anak itu?"
Bocah itu memandang ayahnya dengan berbinar-binar, "Un! Yuuma sangat suka! Dia seperti adik kecil bagi Yuuma!"
Yuuma membuka matanya perlahan, pandangan yang buram berangsur-angsur menjadi jelas. 'Dimana... ini?' batinnya saat ia disuguhi pemandangan asing namun terasa familiar.
Tes!
"Aduh!" rintihnya pelan. Ia melihat lengannya yang diikat itu berdarah.
Tunggu. Ikat?
Laki-laki berambut merah muda tua itu mencoba menggerakkan kedua tangannya, namun gerakannya terasa terbatas. Yuuma baru sadar kalau dia diikat dalam keadaan duduk. Segera saja Yuuma melepaskan tali yang mengikatnya secara paksa, namun itu harapannya saja. Tali yang mengikatnya terlalu kuat, dia bahkan merasakan darah yang mengalir ditangannya itu terhambat.
Kesibukannya itu berhenti saat melihat sosok yang keadaannya sama dengan dirinya. Sosok— tepatnya bocah itu ada di sampingnya, hampir seluruh tubuhnya lebam. "Lui!" seru Yuuma memanggil adiknya yang tidak sadarkan diri.
Namun bocah berambut jingga itu tidak bergeming, Yuuma dengan brutal menarik tangannya sampai tali yang mengikatnya benar-benar putus. Luka yang disebabkan oleh tarikan nekat pada tali itu ia abaikan.
"Lu—"
Bruk!
"Eh?" Yuuma terheran saat tubuhnya terjatuh. Ia melihat kedua kakinya yang penuh sayatan dari benda tajam. Laki-laki yang lagi dalam mode panik itu memegang kedua kakinya.
Hasilnya, dia hampir tidak merasakan kedua kakinya, "Kakiku..."
Mati rasa. Kata yang cocok untuk keadaan kedua kakinya. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa banyak luka sayatan di tubuhnya? Bahkan di pipi kirinya juga terdapat sayatan.
Yuuma menghembuskan nafasnya perlahan. Itu sudah menjadi kebiasaannya untuk menenangkan diri. 'Pikirkan apa yang terjadi sebelum kau dan Lui ada di sini...' batinnya menenangkan diri.
"Aku sama IA pergi ke sekolah bersama. Seharusnya hari ini —kalau benar. Mungkin saja aku tidak sadar selama seharian atau dua hari— libur, tapi karena pelepasan MOS, para OSIS dan murid baru harus masuk. Lui juga ikut dengan kami," Yuuma mulai menganalisa.
"Setelah itu..."
[Flashback]
"Selamat sore adik-adik serta para OSIS! Aku, Hiyama Kiyoteru dan..."laki-laki berambut cokelat menggantungkan ucapannya, kode untuk laki-laki berambut merah muda tua yang ada di sampingnya menyambungkan ucapannya.
"Megurine Yuuma," lanjut laki-laki berambut merah muda tua itu dengan nada yang sangat sangat sangat tidak bersemangat.
"Akan menjadi pembawa acara dalam rangka pelepasan MOS!" mereka berdua dengan kompak mengatakan hal tersebut walaupun nada mereka sangat berbeda jauh. Yang satu semangat dan satunya lagi malas. Benar-benar pasangan MC yang tidak sinkron. Dan itu membuat semua orang yang ada di lapangan sweatdrop seketika.
Hal itu juga membuat para OSIS berpikir hal yang sama, 'Kami menyesal memasangkan kalian yang sifatnya saling bertolak belakang menjadi MC. Kami harap kami tidak mengenal mereka!' sekiranya itu yang dipikirkan para OSIS.
Sang Ketua OSIS alias Kiyoteru berdehem, "Seperti yang sudah direncanakan, untuk acara pelepasan MOS hari ini.. kami akan mengadakan lomba!" ucapnya semangat.
"Ah...dan maaf karena mengganggu hari libur kalian karena acara ini. Yah... ini 'kan masih hari Sabtu... kalian masih punya satu hari lagi untuk beristirahat karena besok hari Minggu," tambah Yuuma, membuat suasana riuh karena ucapan semangat Kiyoteru menjadi lenyap.
"Apa yang kau katakan Yuuma! Kau membuat suasana heboh tadi jadi sunyi seperti kuburan! Lihat!" seru Kiyoteru heboh.
Yuuma menatap Kiyoteru datar, "Aku hanya mengatakan fakta, mungkin saja ada yang sependapat denganku kalau acara ini mengganggu hari istirahat yang sangat ditunggu-tunggu," balas Yuuma sambil melirik kumpulan anak baru.
"Oy! Kalian sudah keluar jalur tuh! Cepat mulaikan acaranya, dikejar waktu nih!" salah satu anggota OSIS yang ada di belakang panggung mengingatkan dua orang yang asyik berdebat.
"Ah... maafkan kami. Tanpa basa-basi lagi..."
'Kalian yang basa-basi! Kami menunggu kalian dari tadi!' batin semua orang yang ada di lapangan.
"... kami persembahkan peserta pertama,"ucap Yuuma datar.
"Mereka adalah penyanyi dengan suara terindah di sekolah ini, mereka tidak pernah melakukan duet sebelumnya. Tapi!"
"Cepetan tunjukin mereka!"
"Kalian terlalu lama nih!"
"Cepat mulaikan acaranya Ketua OSIS bodoh!"
Penjelasan milik Kiyoteru langsung dihentikan oleh sorakan yang menusuk. Kiyoteru langsung pundung, "Aku hanya ingin meramaikan acara ini... hiks... hanya itu saja... hiks," rengeknya yang diabaikan oleh para penonton.
"Mari kita abaikan Hiyama. Peserta pertama, Yuzuki Yukari dan Megurine Aria menyanyikan lagu berjudul Rentica, kalian berdua harap menaiki panggung,"Yuuma langsung menyeret Ketua OSIS setelah menyuruh peserta pertama naik panggung.
Dua orang perempuan dengan warna rambut berbeda menaiki panggung "Ah... tes! tes! Selamat sore adik-adik!" seru perempuan berambut ungu muda dikuncir twintail rendah.
"Sore..." peserta didik baru membalas seruan perempuan berambut ungu— Yukari dengan nada lesu.
"Lho? Apa kita salah masuk panggung ya? Kok gak ada suaranya?" sindir IA.
"SORE KAK!" seru para peserta didik setelah mendengar sindiran IA.
Yukari dan IA saling menatap, mereka berdua pun tersenyum setelah berhasil membuat adik kelas mereka semangat —walaupun perlu paksaan—.
"Gitu dong semangat... hanya segini saja sudah capek, apalagi yang ikutan lomba. Bayangkan, capekan OSIS yang nyusun rencana ginian atau kalian yang hanya menikmati saja?" tanya Yukari.
"Kak OSIS..." jawab mereka lirih.
"Itu kalian tahu, kami yang udah capek dari kemarin aja masih semangat. Masa kalian nggak?" IA kembali menyindir.
"Oi, hentikan ceramah kalian, waktunya keburu habis nih!" Yuuma mengingatkan.
"Ah benar! Seperti yang kalian tahu.." Yukari menggantungkan ucapannya.
"Kami di sini akan menyanyikan sebuah lagu, judulnya..." sambung IA.
"RENTICA!"seruan mereka berdua memulai instrumen lagu.
Yoru ni terasareta tsuki no hohoemi wa
Kanashii hodo kuroku yodomu
Kyoshoku no sukima ni mieta kimi wo
Kakushite itta
Yume ni mau tooi hibi no kakera
Moteasobu you ni kudaku
Toki no nagare ga subete wo nomikonde
Itsuka darou desire future
Moroi gensou wo daki fill my heart
Mimi wo sumaseru to
Kodoku na mi ga seijaku ni somatte
Jukushite wa kuchiru
Nigirishimeta te no hira ni
Kimi ga otoshite itta
Akai kotoba dake itsumademo kusuburu
Aoku omoku toiki ni tokashiteku
Hoshi ni terasareta ashiato sae
Setsunai hodo shiroku yugamu
Tozashita kokoro no kagi wo kimi wa
Kakushi tsudzuketa
Yume ni mita tooi hibi wo ima mo
Kimi wa oboeteimasu ka
Kawaru koto naku sekai wa seisai de
Itsumade demo believe future
Sora ni egakidasu yume wa blaze out
Hitomi wo tojireba
Kogoeru mi wo atatamete kureta
Yasashii hohoemi
Mamoritakute furetakute
Nobashita sono te wa
Kimi wo surinukete kokuu wo tsukamitoru
Aoku awaku hane wa chirabatteku
Itsuka daro desire future
Moroi gensou wo daki fill my heart
Soba ni irarezu ni
Itsumade demo believe future
Sora ni egakidasu yume wa blaze out
Tsuyosa no saki ni wa
Anata ga―
Tokihanatsu kono negai
Hikari no naka e to aoi tori ga tobu
Kaze ni mi wo makase
Saigo no kagi sono tsubasa ni nosete
Kumo wo tsukinukeru
Kako demo mirai demo nai
"Ima" wo ikiru oto mune ni te wo atete
Tada kanjiru dake de
Tsuyoku tsuyoku omoi ga sakihokoru
Utau kono kokoro ni mayoi wa nai kara to
(Yuzuki Yukari & IA - Rentica)
Tepukan tangan para penonton membuat IA dan Yukari tersenyum senang. "Terima kasih!" seru mereka berdua, lalu turun panggung.
IA dan Yukari keheranan saat melihat salah satu MC mereka hilang, "Lho? Kemana Yuuma? Kalian sudah harus naik panggung lagi," tanya Yukari pada Kiyoteru yang entah kenapa berkeringat dingin.
"Kau kenapa?" IA menayakan kondisi Kiyoteru.
Yang ditanya hanya menampilkan senyuman anehnya, "Yuuma pergi ke toilet tadi... dan dia belum datang. Terus..." jawaban yang menggantung dari Kiyoteru mengundang penasaran semua orang yang ada di belakang panggung tersebut.
"AKU PUNYA DEMAM PANGGUNG HUUWEE! AKU HARUS GIMANA?!" teriakan Kiyoteru membuat orang cengo.
"Kukira apa..." gumam IA.
"Tapi gak nyangka lho... Kyoteru punya demam panggung," kata Yukari sambil tertawa kecil.
"Kalau gitu biar Yuki yang jadi MC sementara sampai Yuuma kembali. Dia lagi nganggur tuh!" usul Mayu sambil menunjuk perempuan berambut cokelat dikuncir twintail rendah yang sedang tidur.
"UUWAAHH! Ide bagus! Yuki bangun! Kau akan jadi MC sementara!"
"Hah? Apa? Heh? HEEEH?!"
Yuuma keluar dari toilet dengan wajah lega. "Setidaknya aku berterima kasih kepada Tuhan yang memberikanku kesempatan untuk keluar dari tugasku dengan 'panggilan alam'," gumam Yuuma.
"Kak Yuuma!" panggil seseorang yang sangat dikenal suaranya oleh Yuuma.
"Ah... Lui, kenapa kau di sini?" tanya Yuuma.
"Menemui kak Yuuma! Aku sempat lihat kak Yuuma berjalan ke arah sini dengan terburu-buru," jawab seseorang tersebut— Lui.
"Yah.. karena 'panggilan alam' itu yang membuatku jalan seperti itu," balas Yuuma sambil melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda tadi.
Lui menampilkan wajah heran, "Memang tadi kak Yuuma makan apa?" tanya bocah berambut jingga tersebut.
Yuuma menampilkan senyuman anehnya, "Mungkin... makanan Piko yang ia bawa tadi, atau buatan bekal milik IA," jawabnya.
Lui heran, "Kayaknya buatan bekal kak IA gak mungkin deh, masakan kak IA itu setara sama masakan kak Luka, kalau kita urutkan dari siapa yang paling jago masak di rumah... kak Yuuma, kak Luka, lalu kak IA," balas Lui panjang lebar.
Yuuma memasang wajah bingung, "Kenapa aku? Yang sering masak 'kan kak Luka, aku hanya masak saat kak Luka atau IA tidak ada di rumah," tanyanya.
Lui tersenyum, "Entahlah… hanya saja… masakan kak Yuuma itu berbeda dengan masakan kak Luka dan kak IA. Mungkin karena cara masak kak Luka dan kak IA yang mirip? Sampai membuat kami —Lui, Kanon, dan Anon— bosan dengan rasanya," jawab Lui tidak pasti.
Yuuma jadi heran dari mana topik masak-memasak ini datang. "Ah iya... siapa yang menggantikanku jadi MC?" tanya Yuuma.
"Lui sempat lihat sih tadi... orangnya bilang kalau namanya Yuki," jawab Lui sambil mengingat-ingat berbagai hal sebelum dia mengikuti Yuuma.
Laki-laki bermata emeralditu hanya manggut-manggut. "Dua orang yang di sana. Bisakah kalian diam dan ikut kami?" suara asing menyapa indra pendengaran Lui dan Yuuma.
Reflek, bocah bermata ruby itu memasang posisi kuda-kuda. "Wooaah! Tenang bocah... kami tidak mengajak kalian bertarung," kata pria misterius itu dengan tenang.
"Siapa kalian?" tanya Lui penuh dengan penekanan.
"Kau tidak perlu tahu siapa kami, hanya saja diam dan ikuti kami tanpa pemberontakan," jawaban pria misterius tersebut membuat sepasang kakak-adik itu melangkah mundur dengan perlahan.
"Untuk apa kami mengikuti orang asing? Apa kau— tidak, lebih tepatnya kalian tidak pernah mendengar 'jangan ikuti orang yang tidak kamu kenali'?" balas Yuuma tenang. Entah sejak kapan dia memiliki insting yang tajam. Dia sendiri saja terkejut dengan kemampuannya sendiri.
Pria tersebut bertepuk tangan, "Hebat~! Sepertinya instingmu masih berfungsi walaupun kamu kena penyakit hilang ingatan," kagumnya.
Yuuma terkejut, namun tertutupi oleh sifat dinginnya.
Set!
Sebilah pisau kecil melesat dengan cepat, namun dua orang tersebut menghindar. Walaupun Yuuma harus merelakan pipi kirinya tergores oleh lesatan benda tajam tersebut.
"Apa kakak gak papa?" tanya Lui sedikit khawatir.
"Gak papa. Kamu fokus saja dengan mereka,mungkin saja..." Yuuma menggantungkan ucapannya.
"Hotsuka?" Yuuma menngangguk mendengar kata yang keluar dari mulut sang adik.
Prok! Prok! Prok!
Tepukan tangan dari pria asing itu membuat Yuuma dan Lui menajamkan tatapannya. "Hebat! Meskipun aku tidak mengatakan siapa kami, kalian sudah bisa menebaknya dengan benar," pria tersebut kembali kagum dengan dua pelajar yang menjadi targetnya.
Ctik!
Bunyi jentikan jari dari tangan pria misterius itu seperti sinyal bagi anak buahnya. Segera Yuuma dan Lui meningkatkan kewaspadaan.
Salah satu tangan dari anak buah pria misterius itu memegang bahu Yuuma yang langsung dibanting oleh sang pemilik bahu. Sedangkan Lui sibuk menghajar anak buah yang lainnya.
Bruk!
Yuuma terkejut saat tubuhnya tiba-tiba jatuh, Lui langsung menghentikan kegiatannya, pria misterius dan anak buahnya menyeringai.
"Apa aku belum bilang? Kalau pisau yang dilempar tadi sudah dilumuri racun yang membuat tubuhmu lumpuh sejenak?" seringaian pria itu makin melebar saat tubuh Yuuma mulai oleng yang langsung ditahan oleh Lui.
"Kak Yuuma! Kak Yuuma bertahanlah!" seru Lui.
"Lu... i,"
"Ah! Ngomong-ngomong... aku ini suami Kokone, dia yang memintaku untuk membawamu. Seharusnya. Tapi karena adikmu bersamamu, dia harus kami bawa demi mencegah hal-hal yang tidak kami inginkan," penjelasan pria yang mengaku suami Kokone itu terdengar berdengung ditelinganya.
Sebelum kesadarannya benar-benar menghilang, laki-laki berambut merah muda tua itu melihat adiknya dipukuli oleh anak buah pria misterius tersebut.
Yuuma menggigil saat badannya terasa dingin. 'Ini bukan musim dingin 'kan? Seingatku baru musim semi,' Yuuma mengedarkan pandangannya ke dinding seperti mencari sesuatu.
Pandangannya berhenti pada benda berbentuk persegi panjang warna putih tepat di atasnya dan Lui. 'AC?! -5° C lagi?! Siapa yang berani menyalakan AC serendah itu?!' batinnya heboh.
"Jangan pikirkan benda itu, aku harus menyelamatkan Lui dan pergi dari rumah ini," gumamnya.
Laki-laki yang sudah tahu alasan kenapa dia dan adiknya ada di rumah asing tersebut memaksakan diri untuk berjalan menghampiri bocah berambut jingga walaupun dia tidak bisa merasakan kakinya.
Tap tap tap
Suara langkah kaki menggema di rumah sepi tersebut. Yuuma menghentikan langkahnya, dia melihat siapa yang menuju ke ruangan yang ia dan adiknya tempati.
Tap!
"Oh lihat~! Siapa yang masih hidup di sana? Kukira kau sudah mati karena luka dan pendingin ruangan itu," Yuuma membatu. Dia melihat seorang perempuan memakai baju tebal layaknya musim dingin sedang menyeringai.
"Ko... kone," mulut laki-laki yang masih memakai seragam sekolah itu bergetar saat memanggil nama perempuan tersebut. Bukan. Bukan karena dia takut dengan perempuan yang ada di depannya alias Kokone, melainkan dia sangat kedinginan.
"Hei! Mana sebutan 'kakak' untukku? Kau memanggil Megurine Luka dengan sebutan 'kak Luka' tapi aku tidak? Aku yakin kamu sudah mengingatnya saat kamu pingsan selama..." perempuan berambut cokelat itu menggantungkan ucapannya lalu melihat jam yang melilit di tangannya.
Kokone menjetikkan jarinya senang, "Selama 5 jam, apa karena racun atau sayatan yang ada di tubuhmu membuatmu tidur selama itu? Dan kau tahu? Kukira kamu mati. Yah... tubuhmu sangat sangat sangat dingin, apa karena... hipotermia yang kau miliki?" ucapan Kokone dianggap angin oleh Yuuma, laki-laki berambut merah muda tua itu masih sibuk dengan tali yang mengikat adiknya.
'Jangan sampai Lui terkena hipotermia sepertiku. Cukup aku saja yang kena penyakit sialan ini!' batinnya sambil memakaikan jaket yang dia pakai.
"Bertahanlah Lui, aku akan mengeluarkanmu dari sini," gumamnya kembali sibuk dengan tali yang megikat adiknya.
'Kenapa tali ini sangat kuat? Bahkan lebih kuat dari ikatanku tadi,' Yuuma kembali membatin.
Kokone yang diabaikan merasa kesal, dengan cepat ia menghampiri adiknya —menurut dia— yang masih sibuk melepaskan ikatan tali bocah berambut jingga tersebut.
"Hei," Yuuma tidak menggubrisnya, seolah dia tidak melihat Kokone.
Bruk!
"Ukh!" Yuuma merintih kesakitan saat tubuhnya dibenturkan ke dinding dengan sangat keras.
"Kukira kau mati saat ledakan itu, kenapa kau masih hidup?" Kokone mencekik Yuuma, membuat orang yang lebih muda 7 tahun darinya itu kehabisan nafas.
"Kalau kau saat itu hidup, kenapa kau tidak kembali ke sini dan mengambil alih keluarga ini? Ayah sampai jatuh koma karena kau dikira mati. Aku sih senang saja kalau kau mati, karena aku yang menyebabkan kejadian itu terjadi," Kokone memperkuat cekikannya, sedangkan Yuuma berusaha melepaskan cekikan yang membuat nafasnya hampir berhenti dengan tubuh lemasnya.
"Ukh! Ka... ka... lau... kau... ukh! Uhuk! Uhuk! Ingin... warisan... ke... luar... ga... ini, ambil... saja... aku... uhuk! Uhuk! Tidak... a... da... niat... untuk... merebut... posisimu," Yuuma berbicara dengan susah payah.
"Kau memang tidak ada niat untuk melakukan itu. Tapi, saat ayah sadar dari komanya dan mengetahui kau masih hidup, dia akan mencabut posisiku sebagai ahli waris keluarga ini dan memberikannya kepadamu," kata Kokone dingin.
Sementara dua orang itu sibuk berdebat. Tanpa mereka sadari, mata ruby milik bocah berambut jingga itu terbuka. Sakit yang mejalar diseluruh tubuhnya saat ia sadar membuatnya merintih.
"Ka... lau... git.. tu... anggap... ukh! A... ku... mati... saja!" seruan lemah itu membuatnya memalingkan kepala. Alangkah terkejutnya saat dia melihat kakaknya dicekik oleh wanita yang sangat dibencinya.
Dengan reflek, Lui memutuskan tali yang mengikat tangan dan kakinya secara paksa. Meskipun dia harus mencoba dua kali untuk memutuskan tali kuat tersebut. "Wanita jalang! Lepaskan kakakku!" teriak Lui sambil menendang tubuh wanita tersebut.
Tubuh Kokone tersungkur sejauh 2 meter, "Aduh! Berani sekali kau menendang perempuan padahal kau laki-laki!" seru Kokone.
Lui menatap Kokone tajam, ia pun mendengus saat Kokone mengucapkan hal tersebut. "Maaf saja, mataku tidak melihatmu sebagai perempuan, melainkan monster. Mana ada kakak yang ingin membunuh adiknya sendiri. Seberapa bencinya kak Yuuma padamu, dia tidak pernah melukaimu 'kan?" balas Lui.
Perempuan bermata cokelat itu mendecih, "Itu sudah jadi nalurinya sejak kecil, bahkan saat dia dikurung di ruangan AC hampir 2 jam dengan suhu minim saat SD, dia hanya diam saja seolah tidak terjadi apapun," ucap Kokone.
"Bagaimana kau bisa tahu tentang hal itu?" tanya Lui dengan nada menusuk.
Kokone menyeringai, "Sayang~ bisakah kau menjawab pertanyaan dari bocah itu?" perintahnya pada sang suami yang baru saja bergabung dengan tiga orang tersebut.
Sang suami, langsung ikutan menyeringai, "Bukankah sudah jelas? Karena istriku ini adalah kakak Yuuma. Sepertinya kau juga sudah mengetahui peristiwa itu. Apa Yuuma menceritakannya padamu?"
Lui menatap tajam pria berambut pirang yang panjangnya hampir sebahu dan bermata ruby tersebut. "Bukan urusanmu,"
"Sudahlah Yohi~ percuma kau memanasi bocah itu. Yang ada, kita harus mendinginkan kepalanya," sindir Kokone.
"Gak usah repot-repot, kepalaku sudah panas-dingin dari tadi," balas Lui sambil mengembalikan jaket sang kakak kepada pemiliknya yang kini terbatuk-batuk.
"Kakak gak apa-apa? Badan kakak sangat dingin," tanya Lui khawatir.
Bibir pucat sang kakak membentuk senyuman, "Gak apa-apa uhuk! Uhuk!" jawabnya masih terbatuk-batuk.
"Kak Yuuma ambil nafas panjang dulu, lalu keluarkan secara perlahan," Lui memberi saran yang langsung diterima oleh sang kakak.
"Ki... ta... harus pulang... mereka pasti sedang mencari kita," Yuuma berucap pelan.
Sang adik menganggukkan kepala, ia membantu Yuuma berjalan. "Pulang kemana Yuuma? Rumahmu ada di sini," tanya Kokone yang sepertinya mendengar ucapan kakak-adik beda 6 tahun tersebut.
"Su... dah... uhuk! Uhuk! kubilang... anggap aku mati! Telingamu itu berguna apa gak?!" seru Yuuma lalu kembali terbatuk-batuk.
Lui segera mengusap punggung Yuuma dengan lembut, " Sudahlah kak, jangan diladeni terus mereka. Lebih baik kita segera ke rumah sakit, tubuh kakak semakin dingin," kata Lui.
Mereka berdua berjalan melewati dua orang tersebut dengan tenang seolah tidak terjadi apa-apa. Sedangkan suami Kokone alias Yohio menatap sang istri dengan tatapan datar. "Kalian pikir kalian bisa pergi dari rumah ini semudah itu?!" teriak Kokone sambil melempar pisau yang entah sejak kapan ada di tangannya.
Dengan insting yang ia latih sejak kecil, Lui menangkap pisau tersebut dengan tangannya. "Ukh..." bocah umur 10 tahun itu merintih pelan.
Hawa membunuh langsung bisa dirasakan oleh ketiga orang tersebut. Untuk pertama kalinya, Lui melihat kakaknya marah. "Lui, berikan pisaunya," perintah Yuuma pelan.
"Untuk apa Kak? Jangan berbuat macam-macam, kita harus ke rumah sakit sekarang," Lui menolak perintah Yuuma. Dia merasakan perasaan buruk kalau pisau yang membuat tangannya terluka itu ia berikan kepada Yuuma.
Dia harus menjauhkan pisau itu atau kalau bisa jangan berikan—
"Berikan. Sekarang,"
"I-iya Kak.."
—atau tidak.
Yuuma berjalan ke arah Kokone dan Yohio. "Sudah kubilang, anggap aku mati. SESUSAH APA UNTUK MELAKUKAN ITU HAH?!" ucapnya berteriak.
Laki-laki bermata emerald itu menggenggam pisau yang ia pegang dengan erat. "PERSETAN DENGAN POSISIMU YANG AKAN DICABUT OLEH AYAH KARENA TAHU KALAU AKU BELUM MATI! AKU SUDAH TAHU KALAU KAU PENYEBAB LEDAKAN ITU! AKU RELA TERKENA SERANGAN LEDAKAN UNTUK MEMBUATMU MENJADI PEWARIS KELUARGA INI!" nafas Yuuma ngos-ngosan.
"Anggap aku mati saja ya kak? Jangan muncul dihadapanku lagi atau keluargaku. Jangan beritahu ayah kalau aku masih hidup, perbaiki sikap kakak dan suami kakak yang serakah. Jangan menyesal seperti ibu, dia memang serakah. Namun, ibu menyadari perbuatannya beberapa hari sebelum dia meninggal karena penyakitnya. Jangan berbuat diluar nalar manusia hanya untuk mencapai tujuan Kakak, berusahalah," Yuuma memegang tangan Kokone. Perempuan berambut cokelat itu bisa merasakan tangan sang adik -yang sebenarnya sangat ia sayangi- sangat dingin.
Laki-laki berambut merah muda tua itu memberikan pisau yang dilempar oleh sang kakak tadi, "Jangan lukai adik dan kakakku, kakak melukaiku tidak apa-apa, tapi jangan keluargaku yang sangat kusayangi," lanjutnya. Bisa ia rasakan kalau nafasnya melemah.
Sedangkan dua orang yang dari tadi menyaksikan percakapan kakak-adik itu tercengang. Mereka mengira kalau Yuuma akan menyerang Kokone, ternyata hanya mengembalikan pisau. Sia-sia Yohio mempersiapkan diri untuk melindungi istrinya dan yang Lui khawatirkan juga percuma.
Mereka berdua menghela nafas. Yohio dan Lui saling tatap kemudian membuang muka. "Lui... ayo pulang," ajak Yuuma yang entah sejak kapan ada di depan Lui.
"I-iya kak..." balas bocah bermata ruby tersebut.
'Ternyata benar... kak Yuuma itu 'dia'.'
Kokone diam tak bergerak melihat adiknya pergi dari rumahnya. Tubuhnya langsung lemas tak bertenaga. Sang suami, Yohio menghampiri istri tercintanya. "Kamu tidak apa-apa Kokone?" pertanyaan bodoh, Yohio tahu itu. Karena kini, sang istri menangis dalam diam.
Sebuah taksi melaju dengan cepat, mengabaikan peraturan lalu lintas yang tertera di sana. Sang supir yang memasang wajah pucat itu melihat kaca untuk melihat dua penumpang di kursi belakang. Salah satunya mengguncangkan tubuh laki-laki yang kulitnya seperti mayat hidup.
"Bertahanlah! Kita hampir sampai!" seru bocah berambut jingga.
"Pak bisakah Anda menyetir lebih cepat?!" pintanya panik.
"Aduh dik... ini sudah kecepatan maksimal! Bapak sampai mengabaikan lampu lalu lintas tadi!" balasnya setengah berteriak.
"Nyawa kakak saya dalam bahaya pak!"
"Saya tahu itu! Apa adik tidak lihat wajah saya panik kayak gini?!"
"Tidak pak! Bagaimana saya bisa lihat wajah bapak kalau saya duduk di belakang sementara bapak ada di depan?!"
[Di tempat lain...]
"IA! Apa kau sudah menemukan mereka?" tanya perempuan berambut gulali sambil menggandeng tangan kedua adiknya yang masih umur 6 tahun.
Perempuan yang ditanya hanya menggelengkan kepalanya. "Tidak Kak... ini salahku, seharusnya aku mengawasi mereka berdua. Aku seharusnya... hiks... tidak mementingkan pelepasan MOS... hiks. Padahal tanpa sepengetahuanku mereka dalam bahaya," perempuan itu— IA, terisak.
Luka, orang yang menanyakan keberadaan kedua adiknya yang menghilang kepada IA itu menenangkan adik pertamanya. "Sudahlah... kamu gak salah apa-apa IA... aku yang salah. Seharusnya aku menuruti ucapan Lui kemarin," ucapnya.
"Hah?"
"Kemarin malam, saat Yuuma tidak sadarkan diri... Lui menyuruhku untuk menjauhkan keluarga Hotsuka dari Yuuma, aku gak tahu alasannya apa. Tapi rasanya... itu permintaan dari Yuuma. Yuuma juga pernah bercerita kalau..."
[Flashback]
"Hah?" Luka memasang wajah bingung.
Adik keduanya hanya menghela nafas, "Sudah kubilang... sepertinya... kecelakaan tunggal itu ada hubungannya denganku," ulangnya.
"Hah?"
Adiknya— Yuuma mendengus, "Kakak niat untuk membuatku marah?" sindirnya.
"B-bukan itu... hanya... kecelakaan tunggal itu dari mobil milik anak pertama keluarga Hotsuka. Terus anak kedua mereka menghilang saat ledakan teesebut terjadi dan kau bilang kalau kecelakaan itu ada hubungannya denganmu?! Otomatis kau anak kedua milik keluarga Hotsuka yang hilang itu bukan?" simpul Luka.
Yuuma hanya mengangkat bahunya, "Kalau masalah itu aku gak tahu, kak Luka gak ingat saat aku cerita tentang mimpiku? Di mimpiku muncul adegan mobil meledak dan badai salju. Lalu Lui masuk ke kamarku dan cerita tentang kecelakaan itu," jelas Yuuma.
"Mungkin... kamu hanya korban ledakan itu Yuuma, aku agak gak percaya kalau kamu anak kedua milik keluarga Hotsuka. Karena aku dengar, sifatnya tidak sepertimu yang reseknya minta ampun," Luka kembali menyimpulkan dengan sindiran di akhiran kesimpulannya.
Yuuma mendengus untuk kedua kalinya, "Nyindir nih?"
Luka tertawa kecil lalu mengusap kepala rambut, "Gak nyindir kok... cuma mengatakan fakta," Luka langsung ditatap tajam oleh adiknya.
"Sudahlah! Ayo sarapan, yang lain nunggu,"
Yuki
"Aku menyesal karena tidak percaya sama kesimpulanku yang pertama," Luka memasang senyum sedih.
IA menggelengkan kepalanya pelan mendengar penuturan kakaknya, "Jangan menyalahkan diri sendiri kak... gak baik, seharusnya aku juga jaga-jaga kalau kejadian seperti ini akan terjadi. Aku juga tahu kalau Yuuma itu anak kedua dari keluarga Hostuka," Luka terkejut.
"K-kapan...?" tanyanya.
"Saat Yuuma mengalami sesak nafas. Dia menggumamkan kata Hotsuka," jawab perempuan berambut merah muda pucat tersebut.
Hening melanda, sepasang anak kembar yang digandeng oleh Luka hanya menatap bisu kedua kakaknya.
Gyut!
Lengan baju milik Luka digenggam erat oleh sepasang anak kembar tersebut. "Hm? Ada apa... Kanon, Anon?" tanya Luka.
"Kami lihat kak Yuuma sama kak Lui," jawab Kanon sambil menahan kantuk.
Mereka berdua terkejut, "Dimana?!"
"B-baru saja kak Lui dan kak Yuuma lewat, mereka ada di taksi," Anon menunjuk jalan ke arah belakang mereka berempat.
"Taksinya melaju cepat," ucap Kanon dam Anon kompak.
IA melihat arah yang ditunjuk Anon, "Kak... arah itu 'kan..."
Luka mengangguk seakan mengerti apa yang akan diucapkan IA, "Aku tahu, jalan menuju rumah sakit tempatku bekerja,"
[To Be Continued]
Auhor: HOILA! Ketemu lagi dengan Akuma! Adakah yang kangen dengan fic ini?
Yuki: Percaya diri banget lu tanya gituan... kayak lu gak update berapa tahun aja..
Author: Kau! Sejak kapan lu gue ijinin masuk ke sini hah?! Masuk ke ruangan OC sana!
Yuki: Cih! Udah di temenin bukannya terima kasih malah ngusir *Pergi ninggalin Akuma*
Author: Hah... sepi juga akhirnya... Umm... sebenernya Akuma terima kasih yang ngikutin ini fic... jujur saja... ini adalah fic pertama yang pakai style tulis baru. Akuma sedikit mengubah style tulis Akuma, pada yang ngrasa gak?
Author: ...
Author: Kayaknya nggak deh... 'kan gue kelamaan hiatus... mana gue juga lupa style gue yang dulu lagi *pundung
IA: *Tiba-tiba muncul* Woi Author! Cepetan ditutup! Nambah-nambah word aja!
Author: *Sadar dari pundung* Bener juga! Gue lupa (Logatmu nak...)! Gak terasa fic Yuki ini udah nyampe chapter 5, kemungkinan besar fic ini tamat di chapter 8. Akuma takut kalau diterusi gegara mentok ide bakalan ancur *Pengalaman kelam*. Dan untuk yang menunggu Fic Hunter dan Bullet harus bersabar oke? Mungkin kalian udah liat Fic Bullet dan Hunter di hapus... aku sudah beritau kalian alasannya 'kan? Kalalu gitu... Akuma akhiri—
Luka: Eits! Tunggu dulu! Gue mau tanya kenapa lu ngabaikan kami minggu lalu?
Author: ...
Author: Kalau begitu... Akuma pergi (baca: kabur) dulu! Tinggalkan jejak setelah membaca! Apapun yang kalian katakan adalah penyemangat bagi Akuma! *Lari dengan kecepatan cahaya
Lui: Dia kabur tuh! Niatnya ngehindar... ayo kejar!
Yuuma: *poker face* Ah... seperti yang di katakan Akuma tadi... jika berkenan review ini fic... flame akan diabaikan, kritik dan saran diterima dengan senang hati. Apa yang semua kalian katakan adalah penyemangat bagi Akuma.
Mind to Review?
