Chapter 6
Di tengah musim dingin, seorang bocah berambut merah muda duduk di bangku taman dengan wajah kusut. 'Pada akhirnya aku tidak dapat teman...' batinnya kemudian menghela nafas.
"Kak? Kakak kenapa?" suara khas anak kecil membuat bocah itu mengangkat kepalanya. Dia terkejut saat melihat tubuh yang lebih kecil darinya itu penuh dengan lebam dan plester.
"Seharusnya aku yang menanyakan hal itu kepadamu, kenapa kau dik?"
Anak kecil yang sekiranya umur 4 tahun itu melihat tubuhnya yang penuh luka, "Ah... ini? Aku tidak apa-apa, ini sudah biasa... hehehe..." jawabnya sambil duduk di samping bocah laki-laki tersebut.
"Bukan 'hehehe...'! Lukamu parah kayak gini! Ayo ikut aku ke apotek sekarang!" ajak bocah tersebut sambil menarik anak kecil berambut jingga.
"Eh? Eh! T-t-tung-tunggu kak! Aku beneran tidak apa-apa!"
"Halah! Mulutmu bilang tidak apa-apa, tapi hati dan pikiranmu tidak 'kan?" tuturan bocah bermata emeralditu membuat anak kecil yang sedang di tariknya terdiam.
'Aku... hanya ingin menjadi anak kecil seperti umumnya,' batin anak kecil bermata ruby tersebut.
Anak kecil itu merasa tarikan tangannya berhenti. Ia mendongakkan kepalanya untuk melihat kakak yang ia sapa di taman tadi. "Kenapa kak?" tanyanya membuat bocah yang lebih tua 6 tahun tersebut menundukkan kepalanya untuk melihat anak kecil tersebut.
Mulutnya membentuk senyuman, "Hei adik kecil, salju ini menandakan pertemuan pertama kita!" seru bocah umur 10 tahun itu senang.
"Salju? Tapi ini... tidak... lho? Beneran ada salju!"
"Tentu saja ada salju! Ini 'kan musim dingin! Gini-gini aku pintar dalam menebak,"
"O-oh..." anak kecil itu menampilkan senyuman anehnya.
"Nah... sekarang... ayo kita ke apotek!"
"EEEH! Kakak masih ingat?!"
"Tentu saja! Mana mungkin aku membiarkan orang terluka di hadapanku!"
Iris mata ruby itu terbuka, ia mengerjapkan matanya. Tangannya meraih jam digital yang ada di atas loker kecil samping tempat tidurnya.
02.30 A.m. Itu yang tertera di sana, "Ah... lagi-lagi aku bangun jam segini, padahal masih 30 menit aku tidur," gumamnya sambil menutup matanya yang terasa perih. Kantung mata masih setia menempel di matanya, jika saja ruangan yang ia tempati tidak gelap, mungkin akan terlihat sangat jelas.
Dia tahu ini tidak baik untuk dirinya yang masih umur 10 tahun, tapi insomnia yang ia miliki semakin parah entah kenapa. Mungkinkah penyebabnya adalah kejadian seminggu yang lalu? Entahlah.
Dengan rambut khas orang bangun tidur, dia berjalan keluar dari kamarnya menuju dapur. Laki-laki bernama Lui itu mengambil sekotak susu dari lemari pendingin lalu meminumnya.
"Apa yang sedang kau lakukan pagi-pagi begini?" suara yang tiba-tiba tiba-tiba muncul itu membuatnya—
BRRUUSSH!
—menyemburkan susu yang ia minum tadi. "Uhuk! Uhuk! Kak Luka?!" seru Lui.
Perempuan yang berhasil membuat Lui terkejut itu hanya menatap datar adiknya, "Jangan mengotori dapur dengan semburan susu dari mulutmu, kau membuat para semut datang," Luka menegur Lui yang sibuk membersihkan susu berkat semburannya tadi.
Dengan wajah kesal Lui menatap kakaknya, "Kakak yang membuatku menyemburkan susu yang kuminum tadi! Lagian kenapa kakak bangun jam segini?"
"Hei! Itu yang harus kutanyakan pada anak umur 10 tahun yang ada di depanku ini! Sudah seminggu kau keluar kamar setiap jam setengah tiga dengan rutin," sindir Luka.
"Cih!"
"Hei! Apa aku baru saja mendengar kata 'cih!' dari mulut adik laki-lakiku yang lucu ini?" Luka kembali menyindir.
"Cuma perasaan kakak mungkin? Aku dari tadi membersihkan susu," Lui mengelak dengan keringat dingin yang mengalir di pelipisnya.
"Dasar... aku masih heran kenapa kau tidak mau menceritakan kejadian itu kepada kami, aku bahkan melihatmu meneriaki suster di lobi seminggu yang lalu. Itu kedua kalinya aku melihatmu lepas kendali," Luka menjitak pelan kepala adiknya kemudian membantu membersihkan cairan susu tersebut.
Lui hanya diam mendengar ocehan dari kakaknya. Dia sangat ingin menghindari topik yang menyangkut kejadian yang menimpanya dan...
...kakak laki-lakinya.
Sret! Sret!
Suara goresan alat tulis terdengar di ruangan yang telah kosong beberapa menit lalu. Terdapat perempuan berambut merah muda pucat asyik menulis sesuatu di buku. Ia tidak menghiraukan langit yang telah berubah warna menjadi jingga.
Grep!
"HWAA!"
Bruk!
"Aduh!"
Dalam sekejap, terjadi keributan berkat seorang laki-laki berambut putih yang memiliki mata heterochrome. Jangan salah sangka, dia tidak tua. Rambut putih dan matanya itu gen keturunan dari keluarga ibunya.
"Ya ampun Aria... ini aku, kau memperlakukanku seperti orang yang akan merampokmu," rintih laki-laki tersebut.
Perempuan yang dipanggil Aria oleh laki-laki tersebut sadar apa yang barusan dia lakukan. "Piko?! Maaf! Ini salahmu sih mengagetkanku..." perempuan itu langsung membantu teman sekelasnya yang bernama Utatane Piko bangun dari posisi 'tidurnya'.
"Ya... kau terlihat serius banget kalau nulis, emang lu nulis apaan sih? Ngomong-ngomong, reflekmu itu sama banget dengan 'dia'," Aria atau biasa dipanggil IA hanya tersenyum tipis mendengar ocehan temannya.
"Aku nulis catatan pelajaran sekolah buat 'dia', aku tahu kalau 'dia' itu pintar. Tapi apa salahnya membuat catatan untuknya agar tahu sampai mana materi sekolah," jelas IA.
Piko hanya ber-o-ria, "Kalau begitu... biar aku bantu! Aku 'kan temannya, hitung-hitung biar cepat selesai," usul Piko.
"Eeehh! Gak usah deh! Kau pulang saja, sudah sore," IA menolak dengan halus.
Laki-laki yang memiliki sifat semangat itu menjetikkan jarinya, "Justru itu yang membuatku makin ingin membantumu, kau mau nginap di sekolah hanya untuk menyalin catatan sebanyak ini?" IA menghela nafas mendengar ucapan Piko, sepertinya dia akan kalah kalau terus berdebat dengan teman sekelasnya yang suka nge-game ini.
"Ya udah deh... makasih ya,"
"Oke!"
[Skip]
"Akhirnya selesai... makasih ya!" ucap IA sambil merenggangkan badannya yang terasa kaku.
"Sama-sama! Kau... mau ke tempatnya?" pertanyaan Piko membuat IA diam sejenak.
"Hmm... kayaknya nggak deh... mungkin ada Lui di sana," jawab IA sambil memandang langit yang sudah gelap.
"Oh... kalau gitu... mau kuanterin pulang? Kebetulan aku bawa motor," tawar laki-laki berambut putih keabu-abuan tersebut.
"Nggak usah repot-repot, udah malem nih! Kamu nggak dicari orang tuamu?" tolak IA halus.
Untuk kedua kalinya, Piko menjetikkan jari, "Justru itu yang membuatku ingin mengantarmu, nggak baik cewek pulang malem-malem kayak gini. Ntar lu kenapa-napa gimana? Bisa-bisa aku kena bogem gratis darinya," Piko kembali membuat kata yang sama dengan alasan yang berbeda.
IA menghela nafas, "Baiklah... kali ini saja aku nebeng kamu," Piko menampilkan cengirannya.
"Gitu dong... ayo pulang,"
Jam 02.30 A.m, seorang laki-laki memakai celana jeans panjang, baju lengan pendek warna biru laut, jaket warna hitam yang tudungnya menutupi kepalanya berjalan mengendap-endap menuju dapur. Dengan sangaaaaaaat pelan, dia membuka pintu lemari pendingin dan mengambil sekotak susu lalu meminumnya.
"Kenapa kau mengambil susu dengan berjalan mengendap-endap layaknya pencuri? Dan apa-apaan dengan baju rapi itu?" pertanyaan tiba-tiba itu membuatnya—
BRUUUSSH!"
—menyemburkan susu seperti yang ia lakukan kemarin malam. "Sudah kubilang... jangan mengotori dapur dengan semburan susu yang kamu minum itu, kau membuat semut datang," dan seperti kemarin, kakaknya yang entah bagaimana bisa tahu kalau dia bangun jam segini kembali memergokinya.
"Uhuk! Uhuk! Aku 'kan juga sudah bilang, kak Luka yang membuatku menyemburkan susu," kata laki-laki bernama Lui. Tudung jaketnya masih setia menutupi kepalanya.
"Ya ampun... sudah berapa kali kau bangun jam segini? Aku sudah memberitahumu kalau kau terus begini gak baik untuk kesehatan, apalagi kau masih umur 10 tahun," Luka menasehati Lui.
"Cih! Aku sudah tahu itu!" seru laki-laki berambut jingga tersebut sambil membersihkan susu yang ia semburkan tadi.
"'Cih'? Barusan aku mendengar kata 'cih' dari mulutmu 'kan?"
"Ng-nggak... mungkin kakak salah dengar," elak Lui, ia mencuci kain yang ia pakai untuk membersihkan susu tadi. Kemudian pergi ke pintu depan memakai sandal gunung miliknya.
"Mau kemana kau malam-malam gini?" tanya Luka yang mengikuti Lui dari belakang.
Lui menghela nafas, "Kak... ini sudah pagi," Lui meralat ucapan 'malam' milik Luka.
"Iya aku tahu kalau ini pagi... tapi ini masih jam setengah tiga dan matahari belum terbit. Sudah jelas kalau ini masih malam 'kan?"
"Terserah kak Luka, aku mau ke rumah sakit dulu," pamit Lui.
Luka heran, "Rumah sakit? Jam segini? Mau naik apa kau Lui? Kendaraan umum hampir tidak ada jam segini!" seru Luka.
"Sst! Kalau ngomong woles aja kak... aku bisa naik taksi nanti."
"Sekolahmu gimana?"
Lui mendengus, "Please deh kak... ini hari Sabtu. Sekolah sudah pada libur..."
"Bayaran taksinya gimana?"
"Aku bisa bayar pake uang tabunganku,"
"Sarapannya?"
"Aku akan sarapan di rumah sakit! Beneran deh, kakakku yang satu ini! Gak usah mengkhawatirkan diriku! Lebih baik kakak mengkhawatirkannya yang sedang koma, aku berangkat!"
Luka terdiam mendengar ucapan adik laki-lakinya yang satu itu, sifatnya sedikit berubah semenjak adik keduanya koma di rumah sakit seminggu yang lalu.
Ya. Seminggu yang lalu, entah bagaimana dua adiknya itu mendapat luka yang serius. Lui bahkan menutup mulutnya rapat-rapat tentang kejadian yang menimpa mereka. Setiap harinya menatap adiknya yang satu lagi sedang koma, bahkan Lui sampai menitikkan air matanya. Ini membuat Luka dan IA bingung.
Apa yang terjadi selama mereka berempat mencari kedua adiknya itu? Kenapa luka yang diterima adik keduanya lebih parah ketimbang adik ketiganya? Kenapa tubuh adik ketiganya bisa lebam? Kenapa adik keduanya bisa masuk dalam keadaan koma dan memiliki penyakit hipotermia?
Pertanyaan itu membuatnya sulit tidur, meskipun lebih parah milik adik ketiganya yang benar-benar hampir tidak bisa tidur. Mungkin paling lama adiknya itu tidur 1 jam. Bayangkan, adiknya yang memiliki mata warna seperti permata yang indah itu tidurnya paling lama 1 jam! Dia tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi para guru dan temannya melihat kantung mata yang super tebal itu.
"Hah... seenggaknya dia masih bisa beraktifitas seperti biasa," gumam Luka.
Tapi... apa memang benar seperti itu?
Sret!
Lui membuka pintu ruang nomor 206 dengan pelan. Nafasnya tersengal-sengal karena berlari. Matanya sembab karena menangis entah kenapa. "Kak Yuuma..." Lui mendekati seorang laki-laki yang terbaring dengan nafas teratur.
Berbeda dengan dirinya yang seperti tersiksa, wajah orang yang ia panggil 'kak Yuuma' tersebut terlihat damai. Bocah umur 10 tahun itu tersenyum pahit, "Kak... kakak kapan bangun? Aku ingin menanyakan banyak hal pada kakak, aku ingin cerita banyak hal kepada kakak, tapi aku tidak bisa. Karena kakak... belum bangun, apa kakak tidak bosan tidur selama seminggu lebih. Seharusnya... aku yang ada di posisi kak Yuuma sekarang... hiks... kak... hiks... aku kangen... hiks... sadarlah," ocehan bocah tersebut tidak dihiraukan oleh laki-laki yang sedang terbaring dengan bantuan alat pernapasan yang terpasang di tubuhnya.
"Hei... laki-laki masa nangis?" Lui langsung melihat kakaknya saat mendengar bisikan yang ditujukan padanya.
Dia tertawa hambar, "Gak mungkin 'kan?" gumamnya.
Lui menyeka air matanya, "Kak... kalau tidur jangan lama-lama ya? Meskipun hanya pernah bareng sekali, Lui bisa tidur nyenyak di samping kakak,"
Kring!
Bel pulang di sebuah sekolah dasar berbunyi, tanda bagi para murid untuk pulang ke rumah. "Lui!" teriakan yang disusul oleh pelukan dari belakang dari perempuan berambut biru muda yang senada dengan matanya membuat laki-laki berambut jingga hampir terjungkal.
"Suzune! Kau hampir membuatku jatuh!" seruan laki-laki bermata ruby itu tidak dihiraukan oleh perempuan yang dikenal hiperaktif tersebut.
"Habisnya... kau kupanggil dari tadi tidak menghiraukanku, mikirin apa sih?" perempuan bernama Suzune Ring itu mengembungkan pipinya.
Laki-laki bernama Megurine Lui menghindar dari tatapan teman sebangkunya tersebut, "Yah... cuma ini-itu," Ring memiringkan kepalanya mendengar jawaban Lui.
"'ini-itu'? Kakakmu?"
Bingo! Tebakan yang tepat. Lui hanya menampilkan senyuman anehnya, "Entahlah..."
"Hee...! Jadi karena itu kau mempunyai mata panda?" Ring kembali menebak.
"Mung... kin...?"
"Yang benar saja! Aku ini serius Lui..." wajah Ring mulai memanas karena jawaban Lui yang tidak pasti.
"Ya ya ya... aku juga menjawab serius kok..." Lui menguap lebar. Insomnianya makin parah sebulan ini. Dia bahkan pernah tidak tidur sama sekali.
Jadwalnya mulai padat akhir-akhir ini. Pagi, jogging, sarapan, berangkat sekolah. Sore, mengerjakan pr, membantu kakak perempuannya. Malam, mengurus kedua adiknya kemudian melamun sampai pagi. Ok, yang terakhir memang kurang kerjaan. Dan mungkin akan terjadi seterusnya jika dia tidak memaksakan matanya untuk istirahat walaupun itu hanya semenit.
"Lihat! Kau kembali melamun. Kau terus melamun semenjak kau terkena insiden yang tidak pernah kau ceritakan sebulan yang lalu. Untung aku memperhatikan langkahmu, kalau tidak, mungkin nyawamu sudah terombang-ambing akibat kecelakaan," ocehan dari mulut Ring ini membuat telinga Lui panas.
"Terserah katamu, cewek memang selalu benar. Kami sebagai cowok bisa apa?" Ring merasa tersindir dengan ucapan Lui.
"Hah... hari ini kau mau kemana? Ke rumah sakit?"
"Iya... mungkin di sana tidak ada yang jaga, kak IA masih sekolah sampai jam 5 sore nanti, meskipun kak Luka kerja di sana... dia tidak hanya mengurus kak Yuuma, masih ada pasien lain yang lebih membutuhkan perawatan ketimbang kakak. Aku akan ke sana bersama Anon-Kanon dan memastikan mereka untuk tidak melakukan hal yang aneh-aneh,"
"Itu ucapan terpanjang untuk hari ini,"
"Berisik!"
[Rumah Sakit]
Srek!
"Hah... mereka memang susah banget diajak tidur," keluh Lui setelah mengajak kedua adik kembarnya tidur di rumah.
"Masalah apalagi yang kau dapat hari ini dik?"
"Masalah apalagi yang kau dapat hari ini dik?"
Lui langsung melihat ranjang yang ditempati kakak laki-lakinya, tawa kesal langsung menghiasi wajahnya. Dengan perlahan dia menghampiri laki-laki yang kini duduk dengan wajah datarnya.
"Hah... orang tuaku kembali bertengkar dan kakak laki-lakiku kabur dari rumah setelah mendapat kerjaan yang mapan,"
"Hah... Anon dan Kanon susah diajak tidur dan kakak laki-lakiku membuatku menunggu sampai sekarang," Lui duduk di kursi samping ranjang kakaknya. Ia meremas kuat tangan kakaknya yang terpasang selang infus.
"Dan..."
"Dan..." laki-laki bernama Yuuma itu mengusap kepala adiknya lembut.
"Aku rasa aku akan kabur dari rumah,"
"Aku ingin memceritakan banyak hal pada kakak,"
"Kenapa?"
"Apa?"
"Aku sudah tidak kuat, mereka selalu bertengkar karena masalah sepele dan tidak memperdulikan kedua anaknya,"
"Aku bertemu dengan kakak kandungku sebulan yang lalu, dia meminta maaf kepadaku dan kakak. Beruntung dia kakak kandungku yang aku sayangi, kalau bukan, aku mungkin menganggapnya hantu sekarang,"
"Kau masih umur 4 tahun sudah memikirkan hal itu? Bahkan ada mata panda yang menghiasi matamu,"
"Kau masih umur 10 tahun bisa ngomong seperti itu? Bahkan ada mata panda yang menghiasi matamu,"
"Ah... ini?"
"Ah... ini?" Lui memegang bagian bawah matanya.
"Aku tidak bisa tidur karena mereka terus membuat kebisingan di rumah,"
"Aku tidak bisa tidur dengan nyenyak karena kakak tidak bangun-bangun,"
"Ah... kamu pasti ngantuk, tidur di pangkuan kakak saja!"
"Ah... kamu pasti capek nunggu aku untuk bangun, tidur di pangkuanku gimana?" tawar Yuuma.
"E-eh? Gak usah kak! Nanti ngerepotin,"
"Gak usah kak! Kakak 'kan baru bangun, terus banyak banget selang sama kabel nempel di tubuh kakak,"
"Gak bakalan ngerepotin kok! Sudah tidur saja..."
"Kamu gak bakalan terbelit dengan selang dan kabel Lui... pokoknya ayo tidur di pangkuanku! Masa masih kecil sudah punya kantung mata," Yuuma memaksa Lui untuk tidur di pangkuannya. Walaupun tangannya masih lemas karena koma selama sebulan, dia berhasil menggendong tubuh Lui yang lumayan kecil ke pangkuannya.
"Kak..." panggil Lui.
"Ya?" sahut Yuuma.
"Saat kak Yuuma koma, kak Luka memiliki tunangan. Katanya mau nikah sebentar lagi... tapi nunggu kak Yuuma sadar. Karena kak Yuuma sudah sadar, apa perlu kuberitahu kak Luka?" tanya Lui.
Keringat dingin mengalir di pelipis Yuuma, "Nggak. Nggak perlu, bisa-bisa aku dimarahi kalau tahu aku sudah sadar," jawab Yuuma.
"Ok... hoamm... ngomong-ngomong... tubuh kakak masih terasa dingin... zzz," Lui tertidur dalam pangkuan kakaknya yang melihatnya dengan senyuman lembutnya.
"Mimpi indah... adik kecil,"
Sret!
Untuk yang kedua kalinya, pintu ruang nomor 206 yang ditempati Yuuma terbuka. Yuuma memasang wajah heran saat melihat orang yang menjenguk dirinya, "Yuuma... aku ke sini untuk—"
"Siapa kau?" dan wanita yang menjenguk Yuuma itu hanya bisa terkejut.
[To Be Continued]
Note: Untuk saat ini Akuma tidak lagi berbicara panjang lebar.
Review Please?
