Chapter 7

"Uh..."

"Ah! Ibu! Dia sudah sadar!" seru seorang perempuan kepada ibunya yang sibuk membuat makan malam untuk anak-anak di panti asuhan.

"Benarkah?" tanya ibu.

Perempuan berambut merah muda itu mengangguk. Sedangkan bocah yang ditinggalkan di sebuah kamar hanya melihat ruangan yang ia tempati.

Drap! Drap!

"Nak! Kamu tidak apa-apa?" tanya ibu dengan pelan.

Bocah laki-laki itu hanya diam memandangi wajah wanita paruh baya tersebut.

"S-siapa Anda? D-dimana saya?" tanyanya takut.

Ibu dan perempuan bermata biru laut langsung memasang wajah heran. "Oi! Kamu gak bercanda 'kan? Kamu yang datang ke panti ini dengan tubuh penuh luka dan memberitahu namamu kalau kamu itu Yuuma," jawab perempuan tersebut.

"Yuuma? Siapa?" bocah tersebut kembali bertanya.

Ibu langsung memikirkan sesuatu, sedangkan anak kandungnya itu merasa kesal. "Arrgghh! Tentu saja kamu!" serunya.

"M-maafkan aku! Aku tidak mengingatnya!" bocah itu gemetaran.

"Apa?" dua orang itu langsung terkejut saat mendengar tuturan bocah itu.

"Kau... tak mengingatnya...? Ibu apa perlu kita bawa dia ke rumah sakit?" tanyanya dengan nada menyindir.

"Hush! Kamu gak boleh ngomong gitu! Apalagi di depan seorang dokter, gimana kalau dia beneran gak ingat? Apa dia kena amnesia?" ibu menganalisis.

Wanita paruh baya itu mendekati bocah tersebut lalu menatapnya lembut, "Nak.. kamu... ingat namamu?" tanyanya.

"Yuu... ma...? Kakak rambut merah muda yang bilang," jawab bocah itu ragu.

"Kalau rumahmu? Keluargamu gimana? Apa kau ingat bagaimana kamu bisa terluka?" perempuan berambut merah muda itu langsung nyerobot pembicaraan dua orang tersebut.

"Ukh... terlalu banyak pertanyaan," keluh bocah itu sambil memegang kepalanya yang sakit.

"Luka... lebih baik kamu temani adik-adikmu makan malam, kau membuat dia sakit kepala dengan pertanyaan-pertanyaan yang kau ajukan seperti peluru pistol yang tidak pernah habis," pinta ibunya yang diikuti dengan sindiran.

Anaknya yang bernama Luka itu mengembungkan pipinya, "Hmp! Iya iya... bu Dokter..." balasnya lalu keluar kamar.

Ibu menghela nafas melihat kelakuan anaknya, "Jadi... Yuuma, setidaknya itu namamu. Apa kau ingat kenapa kau ada di sini?" tanya ibu.

Bocah itu hanya menggelengkan kepalanya, "Jadi kau tidak ingat... kalau gitu... apa saja yang kau ingat?" ibu kembali bertanya.

Bocah itu mengadahkan kepalanya, ia berpikir, "Meledak... mobil... salju... tidak ada yang lain," jawabnya lirih.

"Meledak? Mobil? Salju? Kau ada di taman dekat sini kemarin?"

"Saya nggak tahu..."

'Jika begini... dia beneran hilang ingatan 'kan? Besok akan kubawa ke rumah sakit,' batin ibu.

"Kalau begitu... kamu tinggal di sini saja ya? Kebetulan tempat yang kamu datangi ini adalah panti asuhan milik ibu dan anak ibu. Ada banyak anak di sini, kami juga mendapat anak baru. Sepertinya dia kabur dari rumah dan ada anak perempuan yang mempunyai masalah yang tidak mau ia ceritakan," jelas ibu panjang lebar.

"B-baik... terima kasih... err..."

"Ibu, panggil aku ibu seperti yang lain,"

"Baik... terima kasih bu..."


Yuki


Dia tahu kalau berbohong itu salah, tapi apa salahnya kalau dia berbohong untuk kebaikan? Setidaknya dia bisa melindungi orang yang ia sayangi.

Laki-laki berambut merah muda tua bermata emerald itu telah melakukan 4 kebohongan yang tidak akan ia lupakan.

Kebohongan yang pertama, fakta bahwa dia hilang ingatan itu tidak benar. Memang dia hilang ingatan, tapi tidak semua ingatannya menghilang. Dia masih mengingat nama, tanggal lahir, keluarga —meskipun dia agak ragu karena hanya mengingat kata Hotsuka—, dan bocah yang ia temui di taman seminggu sebelum kejadian itu.

Kebohongan yang kedua, ibu dan Luka menganggapnya kalau dia trauma dengan musim dingin, karena tubuhnya tidak kuat dengan dingin dan terus mengurung di kamar. Padahal dia mempunyai penyakit hipotermia akut karena kejadian saat dia SD. Dan dia memalsukan tubuhnya yang dingin dengan mandi air panas agar tubuhnya panas seperti terkena demam. Kebohongan ini hampir terbongkar saat dia jatuh dari pohon yang tingginya hampir 5 meter itu. Juga... penyakit sesak nafas akibat terlalu banyak menghirup asap yang berasal dari ledakan insiden tersebut. Sampai sekarang tidak terbongkar meskipun dia sudah dua kali kambuh.

Kebohongan yang ketiga, dia selalu memasang wajah datar dan tidak peduli dengan sekitarnya. Padahal itu tidak benar, dia sangat memperdulikan orang-orang di sekitarnya dengan cara yang sangat tidak biasa. Ia bahkan harus rela mengatakan tidak suka dengan musim dingin yang sudah masuk di salah satu musim favoritnya.

Dan yang terakhir, kebohongan yang keempat, yaitu...

Sret!

Untuk yang kedua kalinya pintu nomor 206 terbuka. Menampilkan seorang wanita berambut cokelat yang senada dengan matanya.

Yuuma, laki-laki yang terkena koma selama 1 bulan karena kejadian yang menimpa adik dan dirinya itu memasang wajah heran. "Siapa kau?" tanyanya dingin.

Wanita itu terkejut, dia tidak menyangka kalau Yuuma sang adik akan melupakannya... lagi. Ya. Dia adalah Hotsuka Kokone, pelaku sekaligus kakak Yuuma.

"Yuuma... kau melupakanku lagi? Aku kakakmu, Hotsuka Kokone. Kakak kandungmu. Aku ke sini mau minta maaf..." jelas Kokone dengan raut muka yang tidak bisa dibaca.

"Minta maaf? Untuk apa?" sungguh, pertanyaan yang keluar dari mulutnya itu membuat hati Kokone hancur.

Dia merasa bersalah kepadanya, dia sudah membuat adiknya hampir mati karena dibutakan oleh warisan keluarga. Padahal adiknya itu rela terkena ledakan demi kakaknya yang ingin mengambil semua warisan keluarga Hotsuka.

"Aku... aku telah membuatmu seperti ini... memberimu luka sayatan, mengurungmu dalam ruangan yang ber-AC dengan suhu minim, dan membuatmu koma selama sebulan," Kokone terduduk lemas di depan ranjang adiknya.

Air matanya mengalir deras, "Maaf... maaf... maaf... aku sangat ingin minta maaf kepadamu, sebagai seorang kakak, aku menunjukkan sifat yang kekanakan di depan adikku. Maaf... maaf... maaf... aku benar-benar ingin minta maaf kepadamu dan adikmu, kau menyadarkanku dari keserakahan. Suamiku membiarkanku melakukan ini karena dia ingin aku menyadari perbuatanku sendiri dan segera intropeksi diri. Aku benar-benar minta maaf," Yuuma bisa mendengar suara Kokone yang tersendat.

Yuuma tersenyum lembut, ini adalah kebohongannya yang keempat. Bohong akan melupakan keluarganya dan kejadian sebulan yang lalu. "Aku sudah memaafkanmu kok kak..." bisiknya.

Kokone mendongakkan kepalanya, "Apa yang kau katakan?" tanya Kokone.

Yuuma kembali memasang wajah heran, "Aku tidak mengatakan apa-apa… tentang kakak yang meminta maaf kepadaku, lupakan saja. Mana ada kakak yang baik hati ini melakukan hal buruk seperti itu. Jika kakak benar-benar melakukan hal itu... aku senang kalau kakak sudah sadar," jawabnya sambil menampilkan senyum lembutnya.

Sedetik kemudian, ruangan itu di penuhi oleh raungan tangis dari sang kakak.


Yuki


Bruk!

IA, gadis berambut merah muda pucat dan bermata biru langit itu menaruh setumpuk buku di kamar adiknya. "Apa ini?" tanya adiknya yang berbeda beberapa bulan dengan wajah datar.

"Materi beserta tugas sekolah selama sebulan, kau harus mempelajarinya agar saat kau masuk sekolah nanti langsung mengerti pelajaran yang diberikan pada guru. Kau tidak perlu menyalinnya, kami semua menulis di buku kosong khusus untukmu. Karena itu tulisannya 'bervariasi'," jawab IA panjang lebar.

"Oh... tapi kenapa banyak sekali bukunya? 'Kan buku pelajaran sekolah tidak sebanyak ini," adiknya kembali bertanya.

IA menghela nafas, "Ah... sebagian itu catatan OSIS, kau 'kan Wakil Ketua OSIS... setidaknya kau perlu mengetahui jalannya kegiatan OSIS bukan? Ah! Sebentar lagi akan ada pemilihan ketua OSIS dan kau menjadi calon Ketua OSIS berikutnya. Tinggal tunggu pelantikan, anak-anak pada setuju kalau kau jadi Ketua OSIS," IA kembali menjawab pertanyaan adiknya —Yuuma— dengan jawaban panjang lebar.

"Oh..." merasa Yuuma tidak akan bertanya lagi, IA keluar dari kamar adiknya. Sedangkan Yuuma sibuk membaca buku yang di bawa oleh kakaknya tersebut. Sampai ia menyadari apa yang diucapkan oleh gadis tersebut yang kelewat panjang.

"APA?! KETUA OSIS?!"

"YUUMA! JANGAN TERIAK DI DALAM RUMAH!" tegur Luka yang sibuk memasak makanan siang.

"Tapi kak... kak Luka juga ikutan teriak... bahkan lebih keras dari kak Yuuma, bisa-bisa Anon dan Kanon bangun karena teriakan kalian berdua," Lui, bocah laki-laki berambut jingga dan bermata ruby menegur Luka.

"Berisik kau Lui!"

[Skip]

Tok! Tok! Tok!

Pintu kamar milik Yuuma terbuka, menampilkan sang adik laki-laki yang kini memakai baju piyamanya. "Kak Yuuma? Kakak belum tidur?" tanya bocah tersebut.

Yuuma mengalihkan perhatiannya dari buku, "Ah.. Lui... belum. Aku belum tidur, masih banyak yang harus dipelajari," Lui menghela nafas mendengar jawaban sang kakak.

"'Kan bisa dilanjutkan besok... kenapa harus diselesaikan sekarang?" tanya Lui sambil duduk di tempat tidur Yuuma.

"Hmm... inginnya gitu, tapi sudah terlanjur penasaran. Mau gimana lagi?" jawab Yuuma sambil tersenyum miris. Ia mengambil cangkir berisi teh hangat di meja belajarnya lalu meminumnya.

"Ngomong-ngomong kak Yuuma..."

"Hm?"

"Kakak berbohong kepada kak Luka tentang kejadian yang menimpa kita 'kan? Katanya kakak nggak ingat hal itu," Yuuma hampir tersedak karena ucapan Lui.

"A-apa yang kau b-bicarakan? Aku benar-benar tidak mengingatnya," elaknya.

"Ya ya ya... kakak tidak mengingatnya, mari kita anggap begitu. Lagian aku sudah berjanji pada kak Yuuma," Lui yang memiliki sifat dewasa itu mengalah.

"Janji?"

Lui mendengus, "Jangan bilang kak Yuuma melupakan itu juga? Kakak 'kan bilang..."

[Flashback]

"Bisakah kau membantuku menjauh dari keluarga Hotsuka?"

"Hah? Eh? EEHH! HOTSUKA?!" teriak Lui terkejut.

"Ssst! Jangan teriak-teriak! Memang kenapa sih dengan keluarga Hotsuka? Histeris banget..."

"I-i-itu... k-kakak ingat tentang ceritaku tadi 'kan?" tanya Lui.

"Kau bertemu dengan anak kedua dari keluarga Hotsuka seminggu sebelum terjadinya kecelakaan tunggal, kau tidak tahu namanya tapi mengetahui nama keluarganya saat melihat diberita, right?" jawab Yuuma panjang lebar.

"Right! Tiba-tiba kakak mengatakan hal itu membuatku sedikit kaget, aku tidak tahu kalau kakak mengetahui tentang keluarga Hotsuka. Kakak punya hubungan apa sama keluarga Hotsuka?" tanya Lui sambil melanjutkan memakan makanannya.

"Y-yah... semacam ini-itu yang membuat semua orang kaget," jawab Yuuma.

"Ini-itu? Apa maksud kakak?" Lui kembali bertanya.

Hening melanda rumah tersebut, "Kau tahu? Rumah ini dulu adalah panti,"

Lui menghela nafas, jawaban kakaknya melenceng jauh dari pertanyaannya. "Aku tahu itu, aku juga tinggal di sini sejak aku umur 4 tahun,"

"Mereka semua di adopsi oleh keluarga yang baik, hampir tiap bulannya anggota kita berkurang sampai hanya kita yang tersisa. Kemudian ibu meninggal karena usianya yang sudah tua, kak Luka menutup panti ini lalu dirubah menjadi rumah yang kita tempati. Kita tidak mau diadopsi karena berbagai alasan 'kan?" Yuuma mendongakkan kepalanya, ia mengingat masa-masa di mana ibu panti asuhan dan anak-anak panti masih ada di sini.

"A-apa yang kakak bicarakan? Sebenarnya kita ngomongin apa sih?" Lui mulai bingung dengan topik yang cepat berubah akibat Yuuma. Laki-laki bermata hijau itu memang sengaja mengalihkan topik.

"Kau... mau 'kan? Adikku yang satu ini 'kan pintar bela diri..." Yuuma kembali mengatakan permohonannya.

Lui menatap Yuuma intens, "Apa?" tanya Yuuma balas menatap lebih tajam.

"Kak... aku tidak pernah mengatakan pada siapapun kalau aku bisa bela diri, dari mana kakak tahu kalau aku bisa bela diri?" Yuuma langsung menelan ludah.

"Y-yah... aku pernah melihatmu berkelahi dengan preman saat menjemputmu, sepertinya mereka memalakmu," jawab Yuuma dengan senyuman anehnya.

"Terserah kakak deh... rasanya kakak menyembunyikan banyak hal pada kami. Aku akan bantu kakak," Yuuma langsung tersenyum tipis.

"Tapi... kenapa kakak ingin menjauh dari Hotsuka? Kakak punya hubungan apa dengan Hotsuka?" pertanyaan yang ingin dihindari oleh Yuuma kembali muncul dari bibir sang adik.

"Yah... jika kau berjanji tidak akan membongkar rahasia ini—"

"Aku janji!"

'Cepat!'

Yuuma menghela nafas, "Beneran lho? Jangan membongkar apa yang terjadi denganku nanti kepada siapapun. Pokoknya jangan pernah!" Lui mengangguk.

"Jadi... Salah satu keluarga Hotsuka yang membuatku seperti ini, karena itu aku ingin menjauhi mereka. Berkat ceritamu, aku mendapat beberapa ingatanku. Makasih Lui..."

"Lalu... hubunganku dengan Hotsuka itu... adalah hubungan rumit yang membuat semua orang di sini kaget, aku tidak akan memberitahumu. Aku yakin kalian akan tahu sendiri nantinya," Yuuma memakan nasi goreng buatannya.

"Kalau kakak tidak bisa menceritakan hubungan diantara kalian tidak apa-apa kok. Dan kakak mendapat beberapa ingatan bukan? Ingatan apa saja?" pertanyaan Lui membuat Yuuma tersedak.

"Uhuk! Uhuk! Aku sudah yakin kau akan menanyakan hal itu... yang ini juga jangan beritahu siapapun, khususnya kak Luka,"

"Kenapa harus dirahasiakan segala? Hah... baiklah," Lui mengangguk mantap.

"Ingatan saat aku SD. Ternyata saat itu aku sering di bully entah kenapa. Kemudian... mereka mengunciku di ruangan ber-AC sampai pulang sekolah. Aku gak tahu gimana caranya bisa keluar dari sana, sepertinya ada seseorang yang membantuku. Dan hebatnya mereka mengunciku saat musim dingin," jawaban Yuuma membuat Lui menyemburkan susunya.

"Dan aku positif terkena hipotermia saat di periksa," lanjutnya.

"Karena itu kakak menyembunyikan penyakit itu dengan trauma yang diduga ibu dan kak Luka? Jadi... karena itu juga kakak nggak suka musim dingin?" Lui bertanya entah yang keberapa kalinya.

"Kau salah di bagian kalau aku nggak suka sama musim dingin, sebenarnya aku sangat suka dengan musim dingin. Karena musim dingin itu mempertemukanku dengan kalian semua, apalagi dengan anak kecil itu,"

"Eh? Anak kecil?"

"A-ah... p-pokoknya kamu setuju untuk membantuku 'kan? Jangan beritahu siapapun tentang ini lho... dan jangan beritahu apa yang terjadi denganku nanti, khususnya kak Luka,"

"O-oke..."


Yuki


"Karena itu aku nggak bilang apa-apa tentang kejadian itu pada siapapun, aku harus bertahan selama sebulan dari pertanyaan kak Luka yang selalu sama," Lui memeluk guling sangat erat. Ia masih ingat bagaimana susahnya mengunci mulutnya untuk tidak menceritakan kejadian itu. Meskipun dia harus merelakan makanan kesukaannya sebagai sogokan dari Luka.

Yuuma tampak berpikir, laki-laki itu yakin kalau kakaknya yang satu itu tidak akan berhenti bertanya meskipun dirinya sudah sadar. "Hmm... kalau kak Luka bertanya lagi, kau bisa memberitahunya,"

"Beneran kak? Kalau aku memberitahu mereka, khususnya kak Luka.. bisa-bisa si Hotsuka sama suaminya itu di masukkan ke penjara,"

Yuuma hanya tersenyum, lebih tepatnya menyeringai. "Jelaskan saja dengan cepat. Kesempatan hanya 1 kali. Jangan ada jeda di setiap ceritamu. Seperti kau membaca cerita yang tidak ada spasi, koma, titik, dan kata penghubung yang lain,"

"Hah... sama saja kakak tidak mau mereka tahu tentang itu. Mereka tidak akan tahu apa yang kuceritakan," Lui menjatuhkan dirinya ke kasur.

"Gampang kok... tinggal ambil napas yang panjang," Yuuma menutup buku yang ia baca karena matanya terasa berat. Dia pun menghabiskan minumannya yang tersisa.

"Teori memang gampang... tapi prakteknya susah," keluh Lui.

"Ngomong-ngomong kak... bolehkah aku memukulmu?"

"Hah? Kenapa?" Yuuma merasakan aura gelap dari adiknya.

"Soalnya kakak berbohong tentang padaku, aku selalu mencari orang itu. Ternyata dia ada di sampingku selama 6 tahun. Bodohnya aku tidak mempercayai kalau kak Yuuma itu anak kedua dari keluarga Hotsuka yang hilang," Lui kembali bangun dari posisi tidurnya.

Glek!

'Sial! Kenapa hanya dia saja yang tidak bisa kubohongi? Apa dia punya pendeteksi kebohongan di kepalanya?' rutuk Yuuma.

"A-apa yang kau katakan? Mana mungkin aku orang yang kau cari itu," elak Yuuma.

"Kakak tidak bisa membohongiku lagi, bagaimana kakak bisa tahu alasanku untuk tetap tinggal di sini karena masalah keluarga? Aku belum menceritakannya pada siapapun. Bagaimana kakak bisa tahu tentang aku yang punya kakak kandung? Aku juga tidak memberitahunya kepada kakak. Bagimana kakak bisa tahu tentang percakapanku 6 tahun lalu saat aku di taman? Meskipun itu agak berbeda sedikit, jenis percakapannya juga sama. Kak Yuuma... adalah kakak yang di taman itu 'kan?"

Skak!

Yuuma diam, dia tanpa sadar menggali kuburannya sendiri. Meskipun hanya Lui yang tahu tentang ucapannya yang agak ngelantur saat ia baru sadar dari rumah sakit. Yah... cepet atau lambat kebohongan yang ia buat akan terbongkar. Dia sudah memprediksi itu, 6 tahun yang lalu.

"Ah~ aku kalah... hanya kamu saja yang gak bisa aku bohongi. Kau memang hebat dik," kata Yuuma dengan senyum yang terlihat menyebalkan bagi Lui.

Buk!

Lui melempar keras guling yang ia pegang tadi tepat di wajah Yuuma. "Kakak beneran pembohong ya? Sudah berapa kebohongan yang kakak buat? Aku benar-benar susah payah mencari kakak. Instingku berkata kalau kak Yuuma itu kakak yang aku cari. Kenapa kakak nggak bilang?" Lui merasa akan menangis karena terharu melihat orang yang bersedia mendengarkan keluh kesalnya saat ia kecil masih hidup.

"Syukurlah kakak masih hidup, aku benar-benar bersyukur," Yuuma tersenyum di balik guling yang dilempar adiknya tadi.

"Yah... setidaknya mengerjai orang itu gak papa 'kan?" laki-laki berambut merah muda agak tua itu duduk di samping Lui.

"Mana ada orang yang ngerjain orang lain sampe 6 tahun! Pake kena amnesia segala! Kenapa juga ini cerita kemasukan penyakit amnesia? Aku muak dengan tema penyakit ini!" Lui ngelantur gak jelas. Dan hei Lui! Setting ceritanya memang begitu —meskipun mainstream—! Kau sebagai karakter hanya perlu memenuhi peranmu.

Yuuma gelagapan dengan adiknya yang mulai menangis. Memberitahu kalau alasan melakukannya seperti itu hanya untuk mengerjai itu bukan ide bagus. Ini pertama kalinya dia melihat Lui menangis, apalagi ini karenanya. Kalau Luka melihat adik yang paling dewasa dan sabar ini menangis karena dirinya yang terkenal cuek, bisa-bisa dia kena ceramah selama 2 jam.

"A... aah... maaf, maaf... aku beneran minta maaf. Tapi saat kita pertama kali bertemu di rumah ini... aku tidak mengingatmu karena sibuk mencari jati diriku... aku gak akan mengulanginya lagi..." kata Yuuma.

'Itu kalau tidak ada kejadian macam ini lagi' lanjut batin Yuuma.

"Beneran?" Lui memperlihatkan mata pandanya yang mulai berkurang. Itu membuat Yuuma harus menahan untuk tidak mencubit pipi adiknya yang memiliki mata lucu tersebut.

"Iya... aku janji, sampingkan hal itu dulu. Besok aku yakin kak Luka akan meminta kita untuk menjelaskan kejadian itu. Pakai rencana yang aku sarankan padamu tadi,"


Yuki


Luka menatap kedua adiknya yang saling diam, mereka tidak membuka mulutnya selama 1 jam saat keluarnya pertanyaan yang ditanyakannya. "Hah... aku akan tanya sekali lagi, kenapa kalian berdua bisa luka parah khususnya kau! 1 bulan lalu?" Luka menatap nyalang Yuuma yang balik menatapnya datar.

Dua kakak adik yang dipertemukan 6 tahun lalu di taman saat musim dingin itu saling menatap. Seakan saling bertukar pikiran melalui kontak mata.

"Kami akan menjawabnya, tapi hanya 1 kali. Gak ada jawaban ulang, habis itu kakak tidak usah tanya lagi. Gimana?" tawar Yuuma.

"Ditolak! Aku ini khawatir pada kalian, aku yakin jawaban kalian akan ngelantur kemana-mana. Kalau nggak, kalian memberiku teka-teki yang kalian susun semalaman agar aku tidak bisa memecahkannya dan kalian tetap akan merahasiakan kejadian itu rapat-rapat," tolak Luka beserta penjelasan yang super panjang.

Lui tertawa kecil, "Itu terlalu kekanak-kanakan untuk kami lakukan kak... ini beneran lho... kak Yuuma sudah memberikan tawaran terbaiknya," bocah bermata ruby tersebut mendukung tawaran Yuuma.

Luka menghela nafas, jika saja ada IA, Anon, dan Kanon... mungkin saja dia bisa memaksa mereka berdua membuka mulutnya lebar-lebar. Namun karena tiga adiknya itu sedang sekolah, Lui yang izin dari sekolah karena kakaknya yang baru sadar, Yuuma yang masih dalam penyembuhan jadi izin sekolah untuk beberapa hari, dan dirinya yang cuti dari pekerjaannya untuk mengurus adiknya yang cueknya minta diterbangkan ke luar angkasa... dia harus berusaha sendiri hanya untuk mengetahui kejadian yang tidak diketahui oleh pihak manapun kecuali pelaku dan korban.

Dan sang korban yang ada dihadapannya ini mengajukan tawaran menjebak, rasanya ia ingin menarik rambutnya. Ia sudah melakukan itu beberapa kali tadi. "OK! Aku terima tawaranmu! Tapi kalau kalian melakukan apa yang kukatakan tadi..." Luka mengancam kedua adiknya dengan bunyi tangannya yang ia tekuk.

"Jadi..." Yuuma menatap Lui.

"AkuikutkakYuumadankakIAkesekolahnyakarenainginmelihatacarapelepasanMOSsaatkakYuumaketoiletakumengikutinyalalukamidiculikolehsuamiHotsukaKokoneyaituHotsukaYohiokamisempatbertarungtapiakukehilangankesadaransaatakanmenyelamatkankakYuumakemudiansaatakusadarkamiberduasudahadadirumahHotsukaKokonekamiditaruhkesuaturuanganyangber-ACyangsuhunyadiaturminus5akumelihatkakYuumadicekikolehHotsukaKokonedankamisempatadumulutlalukamiberhasilkeluarentahbagaimanadankakYuumaterkenahipotermiasaatsampaidirumahsakit," Lui langsung mengambil nafas sebanyak-banyaknya saat menyelesaikan ceritanya.

"Tamat, begitu detailnya," kata Yuuma sambil tersenyum. Dia melihat dahi kakaknya yang berkedut.

"Kalian berdua... bagaimana aku bisa tahu dengan ucapan seperti itu hah?! Sudah gila ya? Gila 'kan?! Kemana otak kalian?! Apa kalian mencabut otak kalian lalu memasaknya dan menjadi menu makanan hewan kah? Aku tidak mengerti apa yang kalian ucapkan! Ceritakah itu?! Apa itu cerita?! Atau kata-kata absurd yang sengaja kalian keluarkan?! Itu bahkan lebih kekanak-kanakan dari pada yang kalian omongin tadi!" racau Luka membuat kedua adiknya menghela nafas.

"Kami sudah memberitahu semua yang kakak inginkan sejelas-jelasnya. Dan itu hasilnya, kami tidak mau mulut kami kering karena ceritanya panjang. Dan itu kesempatan pertama sekaligus terakhir milik kak Luka," kata Lui dan Yuuma kompak.

Luka menggeram, dia ingin memakan kedua adiknya yang jengkel tersebut. Tapi sayangnya dia bukan kanibal. "Terserah! Tapi dari apa yang kudengar... sepertinya Hotsuka terlibat. Yuuma... jangan-jangan kau beneran anak—"

"AAAHHH!" teriakan tiba-tiba milik Lui memotong ucapan Luka.

"Apa sih?!"

"M-m-masakan kakak..." kata Lui sambil menunjuk panci yang mulai berasap.

Luka langsung meninggalkan kedua adiknya tersebut, "Masakan spesialku!" serunya.

"Makasih Lui... ngomong-ngomong... kakak kandung yang selama ini kau bicarakan itu Yohio ya?" tanya Yuuma.

Lui langsung membatu, ia melirik kakaknya yang beda 6 tahun tersebut, "B-bagaimana kakak bisa tahu? Aku belum memberitahu namanya kepada kakak,"

"Eh?" Yuuma tersenyum aneh sambil memiringkan kepalanya sedikit. "Bagaimana bisa aku tahu ya... soalnya kau dan Yohio mirip, khususnya warna mata. Mirip banget, meskipun masih bagus milik Lui sih..." jawabnya santai.

"Aku tidak akan membantah itu, memang benar aku sama kak Yohi itu mirip. Banyak yang mengatakan itu dulu, meskipun jarak usia kami sangat jauh," Lui tersenyum sedih.

"Sudahlah... lagian ada yang mirip denganmu di sini,"

"Eh? Siapa?"

Yuuma menoleh ke belakang saat ada yang menarik bajunya, "Hup! Kalian sudah pulang ya?" tanya Yuuma lembut sambil menaruh dua anak kecil ke pangkuannya, kemudian laki-laki umur 16 tahun itu menatap Lui.

"Heh? Mereka? Kok bisa?" Yuuma menghela nafas mendengar pertanyaan Lui.

"Rambut... warna rambut kalian sama-sama jingga, meskipun warnanya lebih tua punyamu. Wajahnya juga imut kayak kamu, jadi ingat dulu..." jawabnya tanpa mengetahui wajah Lui yang merona. Dia tidak akan menyangkal ucapan kakaknya. Wajah dan rambut mereka hampir mirip, Lui merasa punya dua adik kembar kandung.

"Ini beneran kak Yuuma 'kan? Sifatnya beda banget," sindir Lui.

Smirk langsung terpapang di wajah Yuuma, "Aku anggap itu pujian, adik..."

"Hei kalian berdua ngomongin apa dari tadi?" tanya Luka penasaran sambil membawa panci panas.

"Nggak. Nggak ngomongin apa-apa," jawab Lui sambil berjalan menuju dapur.

"Kakak perlu bantuan? Apa yang bisa kubantu? Menghilangkan bau gosong atau menbersihkan dapur akibat masakan kakak?" tawar Lui yang terdengar sindiran bagi Luka.

"Ah... makasih adik manis... kau bisa bersihkan dapur sekalian cuci piring. Aku merasa sangat terbantu. Dan Anon, Kanon... seharusnya tunggu kakak menjemput kalian... siapa yang mengantarkan kalian pulang?" tanya Luka setelah membalas sindiran Lui.

"Gakupo! Dia juga menjemput kak IA!" jawab Kanon semangat.

"Eh? Dia datang ke sini? Aduh.. kenapa tidak memberitahuku dulu..." gerutu Luka sanbil terburu-buru menuju kamarnya untuk ganti baju.

"Gakupo? Siapa dia Lui?" tanya Yuuma.

"Entahlah... sepertinya tunangan kak Luka, aku gak tahu dia seperti apa karena belum melihatnya," jawab Lui sedikit ragu.

"Kalian belum pernah bertemu dengannya 'kan? Aku harap kalian akrab dengan Gakupo," kata IA yang tiba-tiba muncul.

Yuuma memiringkan kepalanya, "Kenapa kalian memanggil tunangannya kak Luka tanpa sebutan 'kakak'?" tanyanya heran.

"Aku juga penasaran, bahkan Anon dan Kanon yang biasanya memberi imbuhan 'kakak' di setiap orang yang lebih tua dari mereka memanggil Gakupo dengan 'Gakupo'," Lui ikutan heran.

IA tersenyum aneh, "A... hahaha... kalian akan tahu saat melihatnya. Ah! Dia masuk, kalian temui Gakupo di ruang tamu oke?" jelas IA sekaligus memberi perintah pada kedua adiknya.

Yuuma dan Lui menuruti perintah IA, "Ah... iya kak! Bisakah kakak melanjutkan urusanku di dapur tadi? Tinggal cuci piring kok," Lui meminta tolong.

"Ehh?! Aku yang baru datang langsung di suruh melakukan pekerjaan rumah? Bukannya yang bertanggung jawab itu kamu Lui?"

"Kalau kakak gak mau juga gak papa, aku bisa lanjutkan nanti, aku penasaran dengan tunangan kak Luka,"

"Sepertinya sifat IA agak berubah, kenapa bisa gitu?" tanya Yuuma pada Lui.

"Ah... itu... mungkin itu karena kita, kak Luka bilang... kak IA menyalahkan dirinya sendiri saat kita diculik. Sebagai kakak, kak IA tidak bisa melindungi kita, adiknya," jawab Lui.

Yuuma mendengus, "Kakak apanya, umurku dan umur IA hanya beda beberapa bulan,"

"Tapi kak IA yang lahir duluan dari kakak, otomatis kak IA itu kakak kak Yuuma. Seharusnya kak Yuuma ke kak IA manggil kakak,"

"Umur kami sama Lui... hanya beda beberapa bulan, kalau dia beda tahun baru aku panggil dia kakak,"

"Ah... jadi kalian Lui dan Yuuma ya?" Lui dan Yuuma melihat orang yang ada di depan mereka.

Mereka berdua langsung mematung melihat penampilan yang ada di depan mereka. 'Perempuan... apa laki-laki?' batin mereka sama.

"Namaku Kamui Gakupo, aku tunangan Luka. Seharusnya kami berdua menikah satu bulan yang lalu, tapi Luka ingin minta restu kalian berdua," orang yang di kenal Gakupo tersebut memperkenalkan diri.

"A-ah... jadi kamu yang namanya Gakupo...," Lui tersenyum aneh.

'Dia laki-laki! Tapi kok rambutnya...' Lui dan Yuuma kembali membatin dengan isi yang sama.

"Ah! Gakupo! Kenapa kamu gak bilang dulu kalau mau ke sini? Aku 'kan bisa bersiap-siap, kamu sampai merepotkan diri untuk menjemput adik-adikku," tanya Luka ikut bergabung dengan tiga orang tersebut.

'Gaya bicara kak Luka yang biasanya pakai 'kau' sekarang pakai 'kamu'?! Apa yang disukai kak Luka dengan orang ini?' untuk yang ketiga kalinya Yuuma dan Lui berpikiran sama.

"Seperti yang dikatakan Gakupo, dia tunanganku. Sepertinya awal tahun depan kami berencana menikah, kalian merestui kami 'kan?" ucap Luka berbinar-binar.

Dua orang itu saling menatap, "Err... sebenarnya... itu terserah kakak sih..." Lui menggaruk pipinya.

"Mau kakak nikah tahun depan, mau jomblo seumur hidup itu terserah kakak, yang mengatur kehidupan kakak 'kan kakak sendiri. Kami hanya bisa mendoakan saja..." sambung Yuuma sambil menggaruk belakang kepalanya. Dan jangan lupakan ucapan pedas dari laki-laki berambut merah muda tersebut.

Luka tersenyum, "Benarkah? Gakupo kau dengar itu? Ah~ aku jadi tidak sabar..." serunya senang. Sedangkan tunangannya hanya tersenyum.

IA, Kanon, dan Anon yang ikut bergabung hanya bisa saling menatap dengan Lui dan Yuuma. "Ini... tidak apa-apa 'kan?" tanya IA memastikan.

Kedua orang itu hanya mengangkat bahunya, "Sepertinya..." Kanon menggantungkan ucapannya.

"Kita harus pasrah ya?" sambung Anon.

IA, Yuuma, dan Lui memandang kedua adik kembar mereka, 'Dari mana mereka dapat kalimat itu?!'

[To Be Continued]