Happy reading and enjoy~


Chapter 8

2 anak berumur sekisar 10 tahun sedang asyik mengamati taman. Hening menguasai mereka. Meskipun mereka adalah 'saudara', canggung tetap menemani karena salah satu dari mereka baru saja bergabung.

Dengan gugup, salah satu dari 2 orang tersebut membuka pembicaraan, "Erm... a-aku dengar... kamu hilang ingatan ya?" topik yang buruk untuk mengawali pembicaraan pertama mereka.

Anak yang ditanya hanya tersenyum, "Ya... katanya namaku Yuuma, aku merasa tidak yakin dengan namaku sendiri. Aku bahkan tidak percaya dengan diriku," jawabnya sambil memandang langit.

Terbesit rasa iri dalam hati perempuan tersebut, "Enak ya jadi kamu..."

"Hm? Apa maksudmu?"

"Kamu terkena amnesia jadi kamu tidak mengingat apapun yang menjadi beban dalam hidupmu. Seakan bebanmu yang selama ini kamu emban menghilang begitu saja," jawaban dari perempuan tersebut membuatnya sedikit marah.

"Kamu pikir kehilangan ingatan itu enak?" suara laki-laki itu bergetar.

Perempuan itu menatapnya sambil tersenyum sedih, "Mungkin?" jawabnya tidak pasti.

Laki-laki itu berdiri, kemudian berteriak, "TENTU SAJA TIDAK ENAK BODOH!"

"Eh?"

"Kehilangan ingatan berarti kehilangan seluruh kenangan berhargamu! Mungkin enak kehilangan memori yang tidak ingin kamu ingat, tapi kalau kalau memori yang ingin kamu ingat untuk selamanya bagaimana?! Apa kamu tidak berpikir sejauh itu?!"

Perempuan itu tertawa hambar, "Tapi aku... tidak mempunyai ingatan yang bahagia. Aku bahkan sempat berpikir untuk bunuh diri jika saja ibu dan kak Luka tidak menghentikanku saat di jembatan,"

"Apa maksudmu?"

Perempuan itu menatap laki-laki yang lebih muda beberapa bulan darinya, "Ya, bunuh diri. Orang tuaku tidak menganggapku sebagai anak, orang-orang yang ada di sekolah selalu membullyku. Karena itu aku iri denganmu, mungkin saja kamu tertekan dengan sesuatu sehingga kamu bisa mengalami hilang ingatan. Dan kamu tahu?" laki-laki itu menggelengkan kepalanya.

"Sebenarnya... kamu mirip dengan anak laki-laki yang terkurung di ruangan AC di sekolah SD-ku dulu. Dia sepertinya di bully dengan temannya karena dia anak orang kaya,"

"Kasihan... memangnya dia suka pamer kekayaan?"

"Tidak, sepertinya dia anak yang baik. Mungkin karena kebaikannya, orang-orang di sekitarnya merasa dikasihani,"

"Hah... padahal dia anak yang baik. Hanya karena anaknya orang kaya, dia dikucilkan,"

Perempuan itu tersenyum sambil melihat langit musim dingin, "Sepertinya salju akan turun malam ini. Kamu tahu? Pertemuanku dengan anak itu terjadi saat salju pertama turun di musim dingin, sama seperti pertemuanku denganmu,"

"Ya... salju ini seperti sengaja mempertemukanku dengan kalian. Dan entah kenapa aku merasa deja vu," laki-laki itu merapatkan syalnya yang ia pakai.


Yuki


Luka memandang kelima adiknya, di belakangnya terdapat tunangannya alias Gakupo. "Jadi..." kelima adiknya itu menatap Luka.

"Kenapa panggil calon suamiku tanpa ada sebutan 'kakak'?" pertanyaan tersebut membuat lima adiknya itu saling menatap.

"Yakin nih kami bilang di depan Gakupo?" tanya IA.

"Tentu saja, dan kenapa gaya bicaramu jadi berubah drastis IA?" jawab Luka.

"Nanti Gakupo bakalan sakit hati, lagian IA sekarang berusaha merubah sifatnya yang seperti pengecut. Meskipun sifat khawatirnya masih melekat, bukankah itu bagus?" ucapan Yuuma menohok hati IA.

"Kak... kurangi kata sindirannya..." tegur Lui.

Yuuma menatap Lui, "Sindiran? Sindiran apa?" pertanyaan bodoh tersebut membuat orang yang mendengarnya menepuk jidat.

"Yuuma... kau sengaja membelokkan topik 'kan? Cepat jawab pertanyaanku tadi," Luka mengembalikkan topik yang sempat melenceng. Bisa mereka lihat kalau Yuuma tengah mendecih.

"Dimulai dari Anon," lanjutnya.

"Rambut Gakupo panjang seperti perempuan, kalau dilihat dari belakang, Gakupo sama kak Luka seperti kakak-adik," kata Anon sambil memilin ujung bajunya.

"Gakupo tidak seperti laki-laki karena rambut panjangnya," ucapan Kanon membuat Gakupo pundung.

"Benarkah? Kalian tidak disuruh Yuuma menjawab seperti itu 'kan?" tanya Luka memastikan. Orang yang dimaksud langsung menatap tajam perempuan berambut gulali tersebut.

Sepasang anak kembar tersebut menggeleng, "Saat kak Luka memperkenalkan kami dengan Gakupo untuk pertama kalinya, kami kira Gakupo perempuan," lanjut mereka.

"Eeh?! Rambutku seperti ini karena aku penggemar tokoh samurai," ucap laki-laki berambut ungu tersebut.

"Aku setuju sama Anon dan Kanon, rasanya kalian ini pasangan lesbi," IA tanpa sadar menyindir dua orang yang akan menikah sebentar lagi.

"Pasangan lesbi?! Apa segitunya aku mirip dengan perempuan?" mata Gakupo mulai berkaca-kaca berkat pengakuan dari tiga orang tersebut.

Luka menghela nafas, dia sudah mengira kalau ini akan terjadi. Padahal dia sudah menyuruh tunangannya itu memotong rambutnya. Perempuan bermata biru laut itu menatap kedua adiknya yang belum mengeluarkan alasannya. "Kalau kalian?" tanyanya.

"Hmm... sebenarnya alasanku sama seperti mereka bertiga. Mungkin akan lebih baik jika rambut Gakupo yang seperti perempuan itu dipangkas, rasanya aku punya kakak perempuan yang menyukai sesama jenis," jawab Lui dengan senyum anehnya.

"Ya, pangkas rambutmu. Mungkin kami akan mengakuimu sebagai calon kakak ipar kami. Jika saja rambut panjangmu itu cocok denganmu, aku akan membiarkanmu dengan rambut panjangnya. Tapi sayangnya tidak, aku merasa melihat banci ungu di sini," Gakupo serasa ditusuk oleh katana berkat omongan pedas dari Yuuma.

Luka kembali menghela nafas, "Jadi? Kalian akan mengakui Gakupo sebagai calon kakak ipar kalian jika dia memangkas rambutnya?" tanyanya yang langsung dijawab dengan anggukan oleh kelima orang tersebut.

"Luka~ kau tidak membelaku? Kau tidak tahu berapa lama aku menumbuhkan rambut ini?" rengek orang yang menjadi bahan topik mereka.

"Aku tidak tahu, yang pasti itu membutuhkan waktu yang sangat lama bukan?" Luka mengusap kepala rambut tunangannya layaknya anak kecil.

Gakupo mengangguk, "Ya. Sangaaat lama," ucapnya kemudian memeluk Luka. Mereka berdua mengabaikan lima orang yang menatap mereka datar.

"Ehem! Bisakah kalian tidak menaburkan bunga-bunga romantis di depan kami? Ada anak kecil di sini," laki-laki berambut merah muda itu merusak suasana.

"Jadi? Apa Gakupo akan memangkas rambutnya? Kami menunggu jawaban di sini?" tanyanya mewakili saudaranya.

Luka menatap Gakupo, "Kamu... mau memangkas rambutmu 'kan?"

"Y-y-ya..." jawab Gakupo ragu.

"Pangkas rambut sekarang sana," kata Yuuma memakai nada mengusir.

"Pangkas rambut ya? Kami tidak bisa memanggilmu 'kakak' kalau kamu masih memakai gaya samuraimu itu," Lui memberi senyuman ramah yang mematikan (?).

"Kalau Gakupo terlihat seperti laki-laki, kami akan memanggilmu 'kakak'. Gakupo akan menikahi kakak kami 'kan? Makanya Gakupo harus terlihat seperti laki-laki, jadi... pangkas rambut sekarang ya?" IA memberikan senyuman yang sama seperti Lui dengan tambahan aura gelap.

"Kami akan memanggil Gakupo 'kakak' jika Gakupo pangkas rambut, stylenya seperti laki-laki ya? Kalau bisa, stylenya seperti kak Yuuma atau kak Lui," Kanon dan Anon memberikan senyuman polosnya.

Sepertinya Gakupo harus merelakan rambutnya yang panjang, halus, dan berkilau ini demi mendapatkan pengakuan adik-adik tunangannya.


Yuki


"Kak! Aku berangkat!" pamit Yuuma.

"A-ah! Tunggu dulu Yuuma!" kata Luka buru-buru menghampiri adiknya.

"Kau harus memakai ini dulu! Karena ini sudah memasuki musim dingin, aku takut hipotermia milikmu kambuh," lanjutnya sambil memakaikan Yuuma syal.

"Ah! Pakai ini juga!"

"Kak..."

"Sama ini!"

"Kak Luka..."

"Dan ini!"

"KAKAK!" seruan Yuuma membuat Luka menghentikan aktivitasnya. Bisa dia lihat adiknya yang kini telah memakai sweater tebal dan syal yang hampir menutup kepalanya.

"Jangan terlalu mengkhawatirkanku! Aku hanya butuh satu syal dan satu sweater oke? Jangan berlebihan, hipotermiaku tidak akan kambuh jika aku tidak memakai pakaian tipis," kata Yuuma sambil melepas sweater dan syal.

"Karena itu aku tidak suka jika dia tahu hal macam ini, kakak sangat berlebihan," gerutunya.

"Tapi itu untuk menjaga kehangatan tubuhmu,"

"Kak... aku tidak selemah itu. Aku berangkat, lebih baik kakak mengurus suami kakak yang kini belum bangun. Bukannya sebentar lagi dia akan ada pertemuan di tempat kerjanya?" kata Yuuma.

Luka menepuk jidatnya, "Kau benar, makasih telah mengingatkanku. Dan... aku boleh menayakanmu satu hal?"

"Apa?"

"5 bulan lalu... saat aku meminta penjelasan kalian tentang kejadian 'itu'... bukannya kau tidak ingat tentang itu? Bagaimana kau mengerti ucapan Lui seakan kau sudah tahu kejadian yang menimpa kalian secara rinci?" Yuuma menelan ludahnya mendengar pertanyaan kakaknya.

"Ah... itu... aku... diceritakan sama Lui, karena itu aku tahu kejadiannya" jawab Yuuma bohong.

"Apa?! Lui menceritakan kejadian itu dengan mudahnya kepadamu?! Aku bahkan butuh waktu 1 bulan,"

"Ah... sudahlah kak! Itu sudah hampir setengah tahun yang lalu, aku berangkat ya? Aku harus mengurus dokumen-dokumen OSIS," kata Yuuma kemudian pergi menuju sekolah.

"Hah... anak itu... ah benar! Aku harus membangunkannya!"

[Haruka Highschool. Ruang OSIS]

"Yo! Ketua OSIS!" sapa Piko yang terdengar seperti ejekan bagi Yuuma.

"Apa?" tanyanya dingin.

"Wow... santai bro! Aku hanya memberikan formulir pendaftaran anak kelas 1 yang akan masuk OSIS," jawab Piko.

"Oh... taruh saja di laci, kau tahu 'kan tempatnya?" pinta Yuuma.

"Ya ya ya... aku tahu itu, dan satu lagi,"

"Apa?" Yuuma menghentikan aktivitasnya karena tangannya terasa ngilu akibat terus berkutat dengan dokumennya.

"Aria menitip pesan untukmu, 'jangan lupa minum obatmu,' katanya. Sepertinya dia khawatir kalau demammu— maksudku hipotermiamu kambuh,"

"Aku sudah meminumnya tadi,"

Piko menatap Yuuma dengan tatapan menyindir, "Hee... tumben, biasanya kalau gak di datangi Aria kau tidak mau meminumnya. Kerasukan apa kau?"

"Kalau kau tidak ada urusan lain bisakah kau pergi?"'

"Kau benar-benar dingin Yuuma... sudahlah! Aku akan membantumu mengerjakan dokumen yang di tinggalkan oleh mantan ketua OSIS," Piko menawarkan bantuan tanpa persetujuan dari temannya.

"Gak us—"

"Ini sudah malam, apalagi ini sudah memasuki musim dingin. Kenapa kau betah banget ngurusi dokumen yang bejibun ini sampai kau pulang malam seperti orang kerja yang lagi lembur? Kau tidak takut kena marah sama kakakmu? Aku yakin sebentar lagi kakakmu akan menelponmu dan menyuruhmu untuk cepat pulang. Kalau gak, kamu akan diancam oleh suami kakakmu," penjelasan Piko membuat Yuuma bungkam. Benar apa yang dikatakan Piko, dia sudah pernah kena marah selama... ah... dia tidak menghitungnya.

Tapi...

"Apa peduliku? Biarkan mereka marah, toh nggak mempan ke aku. Lagian bentar lagi ini sudah selesai dan aku tidak mau apa yang tersimpan di otakku menghilang begitu saja. Tapi, karena kau rela menjemputku beserta membawa pesan malam-malam begini... kau boleh membantuku, jangan sampai menghancurkan isinya, lagi," kata Yuuma menatap tajam Piko.

"'lagi'? Hei! Ini pertama kalinya aku membantumu untuk hari ini Yuuma..." protes laki-laki berambut putih tersebut.

Yuuma menghela nafas, tanpa menatap temannya, laki-laki yang kini menjadi ketua OSIS beberapa bulan yang lalu membalas, "Ya. Hari ini. Kemarin? Kau hampir saja merusak dokumen yang kukerjakan semalaman dengan minuman yang kau bawa, mengubah tulisanku, mengacak-acak dokumen yang kuatur, dan menjatuhkan tumpukan map yang ada di lemari saat kau membukanya. Padahal sudah ada kertas yang di tempel dengan isi larangan untuk membukanya kecuali ketua OSIS. Kau anggota OSIS yang paling ceroboh Piko..."

Terdengar seperti pengakuan kesalahan dari laki-laki bermata heterochrome tersebut yang dijelaskan oleh Yuuma.

Dengan cepat, Piko segera sujud, "Maafkan hamba!" serunya.

"Lupakan. Cepat kita selesaikan ini,"

"Siap laksanakan!"

[Skip]

Kretek!

Yuuma merenggangkan tangan dan punggungnya sampai tulangnya berbunyi. "Hei... jam berapa sekarang?" tanyanya kepada temannya yang sedang memasukkan dokumen-dokumen OSIS.

Piko melihat jam yang melingkar pada tangannya, "Jam 9, sepertinya masih ada waktu sebelum kau terkena amukan kedua kakakmu. Tapi... kenapa satpam tidak melarangmu untuk ada di sekolah sampai malam? Batas waktunya hanya sampai jam 7 malam," jawabnya.

"Ah... itu? Awalnya dia tidak mengizinkanku... lalu aku membuat alasan dan dia membiarkanku dengan batas waktu sampai jam 10. Kalau lebih, aku akan di suruh pulang dengan paksa," balas Yuuma.

"Alasan? Alasan apa?" tanya Piko sambil menenteng tasnya lalu keluar dari ruangan OSIS diikuti dengan Yuuma.

Yuuma mengingat-ingat percakapan antara dia dan satpam 5 jam lalu, "Hmm... aku mengatakan 'aku harus menyelesaikan tugasku sebagai Ketua OSIS hari ini karena aku tidak mau dapat kerjaan tambahan berkat anggota OSISku yang suka nambah masalah. Di rumah aku punya tiga adik yang suka menggangguku dan empat kakak yang terus menghancurkan konsentrasiku. Jika pak satpam tidak memberiku izin, aku akan mengatakan kalau bapak selalu membiarkan murid yang terlambat masuk karena mereka memberi bapak sogokan'. Seperti itu?"

Piko sweatdrop, "Itu... sebagian dari alasanmu bukannya ancaman ya?"

Yuuma memiringkan kepalanya, "Hmm?"

"Nggak, nggak jadi, kau naik apa? Bus? Taksi? Atau nebeng denganku?"

"Aku bawa motor, jadi aku gak perlu nebeng denganmu yang nge-gasnya gak niat,"

Piko tertohok saat mendengar jawaban teman sekelasnya, "Jahat! Aku hanya mementingkan keselamatan dalam berkendara," protesnya.

"Yah... mementingkan keselamatan sampai orang jalan kaki bisa membalapmu yang menaiki motor,"

[Rumah Megurine]

Krieet...

Yuuma mebuka pintu dengan perlahan agar penghuni rumah tidak terganggu. "Ehem! Sepertinya kau sudah pulang," meskipun itu tidak ada gunanya.

Yuuma membuat senyum palsunya, "Malam kak Gakupo... belum tidur?" tanyanya basa-basi.

"Cepat ke ruang makan, mereka menunggumu," perintah laki-laki berambut ungu pendek, Gakupo.

"Eh? Kalian menungguku? Bukannya sudah lewat jam makan malam ya?" tanya Yuuma.

Gakupo mengangguk, "Memang, berkat permintaan Kanon dan Anon di dukung oleh IA. Kita sudah lama tidak makan malam bersama,"

Laki-laki bermata emerald itu tersenyum, "Kenapa kau senyum-senyum?" tanya Gakupo.

"Ah... nggak... kalau gitu ayo ke sana! Katanya mereka menunggu, ah... perutku lapar!"

[Skip. Halaman belakang rumah]

"Yuuma... Yuuma!" IA mengguncang keras tubuh adiknya yang tertidur pulas.

Mata Yuuma terbuka, "Hoahm... apa sih? Ganggu tidur aja," gerutunya.

"Kalo mau tidur jangan di sini, di kamarmu sana! Kau tidak tahu? Tidur di musim dingin itu tidak baik. Jika ini musim panas, mungkin aku akan membiarkanmu," IA mulai mengeluarkan nasehat yang sangat tidak disukai Yuuma.

"Iya... maaf, maaf, aku tadi keasyikan lihat awan musim dingin tadi..."

IA menghela nafas, "Kau pernah melakukan ini saat umur 10 tahun sampai dimarahi kak Luka. Tapi kayaknya kamu gak kapok," perempuan tersebut bernostalgia.

"Katanya benci musim dingin tapi suka banget keluar saat ada salju," lanjut perempuan berambut pink pucat tersebut.

'Ya mana mungkin aku bilang aku sangat suka musim dingin di saat ibu dan kak Luka mengatakan kalau aku trauma dengan musim dingin,' seru Yuuma membatin.

"Apa kau berhasil menyembuhkan traumamu?" tanya IA sambil duduk di kursi samping Yuuma.

Yuuma menggaruk pipinya, "Yah... anggap saja begitu," jawabnya sambil berpaling muka.

IA memiringkan kepalanya, "Hei... kenapa memalingkan wajah dariku? Apa ada yang kamu sembunyikan?"

"Nggak... memang apa yang kusembunyikan dari kalian?"

"Banyak,"

"Ukh..." Yuuma bungkam saat mendengar jawaban kakaknya yang lebih tua beberapa bulan darinya.

"Sangat banyak malah, aku tidak tahu apa yang kamu sembunyikan dari kami. Tapi sepertinya Lui tahu banyak tentangmu, bahkan saat dia melihat dirimu untuk pertama kalinya, dia sangat terkejut. Apa kalian punya suatu hubungan?" Yuuma hanya bisa diam mendengar ucapan IA, bahkan dia tidak ada niat untuk menjawab pertanyaannya.

"Hei... kenapa mendadak diam wahai pangeran sinis?" sindir IA.

Hening membalas IA, perempuan bermata biru tersebut kesal. "Ok, terserah kamu saja kalau gitu, kenapa tidak cepat masuk? Hipotermiamu akan kambuh nanti," ucapnya kesal.

"Hei IA..." Yuuma membuka mulutnya.

"Apa?" tanyanya ketus.

"Tentang enaknya hilang ingatan yang kau bicarakan 7 tahun lalu... apa kau masih berpikir sama tentang itu?" tanya Yuuma tiba-tiba.

"Brr... dingin banget hari ini. Ayo masuk! Aku gak ingin beku karena hawa dingin ini," IA mencoba menghindari pertanyaan Yuuma. Namun, berkat tatapan Yuuma yang serius, dia akhirnya menghela nafas.

IA menatap langit musim dingin, "Mungkin... aku akan mencabut ucapanku waktu itu. Meskipun banyak kenangan yang menyakitkan, masih ada kenangan yang berharga. Hanya sedikit sih... sekarang kenangan berhargaku bertambah banyak berkat kalian," jawabnya sambil tersenyum sedih.

"Oh... jadi kau berubah pikiran, syukurlah. Tapi... seingatku kau tidak pernah menceritakan masalah pribadimu pada siapapun. Kenapa kau menceritakannya padaku dulu?"

"Eh? Erm... entahlah, keluar begitu saja tanpa izin otakku," jawaban IA membuat Yuuma menatap kakaknya datar.

"Aku hanya nyaman mengeluarkan uneg-unegku padamu," lanjutnya.

"Gak Lui, gak IA, alasan mereka sama saja. Memangnya aku buku diary apa?" gumam Yuuma kesal.

"Apa yang kau gumamkan dengan bibir cemberutmu itu pangeran sinis?" tanya IA dengan sindiran.

"Tidak ada, dan apa maksudmu memanggilku pangeran sinis IA?"

"Ah itu... aku dengar dari Piko, semua orang di sekolah tahu kalau julukanmu itu pangeran sinis. Piko yang membuat julukanmu itu, setelah kupikir... julukanmu itu cocok," jawab IA sumringah.

'Ingatkan aku untuk menutup mulut kreatifnya itu,'

"Ngomong-ngomong... sebelum kamu pindah ke SD Haruka... IA dari SD mana?" tanya Yuuma.

IA menatap Yuuma, "Dari SD Hoshika, SD favorit di kota ini, SD dimana aku di bully, SD dimana aku di buang oleh keluargaku, SD dimana aku bertemu dengan anak itu, dan SD dimana aku menyelamatkan dia dari ruangan ber-AC. Sepertinya keluargaku senang saat aku berhasil masuk SD favorit yang berasrama. Mereka tidak akan bertemu dengan anak mereka selama 6 tahun. Dan itu menjadi kesempatanku kabur dari rumah dan keluar dari SD neraka itu. Kau masih ingat 'kan? Ceritaku saat aku menemukan anak yang terkurung di ruangan multimedia dengan suhu minim?" jawabnya panjang lebar.

"Hm... aku masih ingat,"

'Ternyata dia beneran anak perempuan waktu itu,'


Yuki


Ctak!

Sebuah kapur melayang dengan cepat dan mendarat tepat di dahi seorang laki-laki yang tengah melamun. "Aduh!" rintihnya.

"Megurine Lui, apa pelajaranku segitu membosankan sampai kau dengan enaknya melamun?" seorang guru muda menatap laki-laki bernama Lui dengan senyuman yang mengerikan.

Lui membalas tatapan sang guru dengan tatapan datar. Menghela nafas pelan, laki-laki bermata ruby itu tersenyum, "Tidak pak... saya dari tadi memperhatikan pelajaran bapak kok, mungkin hanya perasaan bapak saja tadi," elaknya halus.

"Apa saya perlu mengembalikan kapur bapak yang dilempar tadi dan mengerjakan soal bapak di depan? Mungkin bapak akan percaya jika ada bukti," tawarnya masih dengan senyuman.

Guru tersebut terdiam, "B-baiklah... cepat buktikan kepadaku!"

[Skip]

Lui berjalan pulang dengan langkah terburu-buru, entah kenapa moodnya dari tadi tidak bagus. Ia bahkan hampir menyentak teman sebangkunya, Ring. Moodnya terus bertambah buruk sejak ia mengingat wajah orang itu. Jujur saja, dia ingin menghajar wajahnya meskipun orang itu sudah meminta maaf.

"Kak Yuuma, aku ingin sparring dengan kakak," ucapnya segera setelah masuk rumah.

Yuuma yang kini sedang menikmati waktu santainya menatap Lui, "Sparring? Di musim dingin? Kenapa? Apa moodmu sedang buruk hari ini?" tanyanya.

Laki-laki berambut jingga itu mengepalkan tangannya erat, "Ayolah kak... aku gak mau amarahku meluap lagi," bisa Yuuma lihat kini adiknya menahan amarah.

Yuuma berjalan menuju halaman belakang diikuti dengan adiknya, "Kau meminta pada waktu yang tepat dik... IA yang ada urusan dengan ekskulnya, Kanon dan Anon yang ikut ke rumah sakit bersama kak Luka, kak Gakupo yang sibuk dengan pekerjaan, dan aku yang kebetulan sedang bersantai habis mengerjakan tugas sekolahku. Dan berkat waktu luangku itu, kau mengajakku sparring. Kau harus menceritakan semuanya padaku sambil sparring oke?"

"Oke," Lui melepas seragamnya menampilkan kaos yang ia pakai. Badannya sedikit menggigil akibat angin musim dingin.

Laki-laki yang kini menginjak umur 11 tahun itu mengambil kuda-kuda, begitu juga dengan Yuuma. "Tapi... asal kamu tahu saja, aku... amatir dalam sparring," pengakuan laki-laki berambut merah muda tua itu membuat adiknya langsung menghentikan serangan yang akan ia lancarkan.

"Hah? Jangan bohong kak... aku tahu kakak mengikuti berbagai bela diri sejak kecil. Buktinya, kakak bisa mengetahui jumlah orang yang akan menculik kita dulu dan membanting mereka berkat insting kakak," kata Lui sambil melancarkan tendangannya di kepala Yuuma yang berhasil ditahan oleh kakaknya yang beda 6 tahun.

"Berbagai bela diri? Wow~ jadi dulu aku pintar menghajar orang dong~" Yuuma menghindari pukulan Lui yang mengarah pada dadanya dan menyerang kaki adiknya. Serangan itu membuat adiknya itu terjatuh.

"Kalau kakak amatir dalam sparring, kakak nggak mungkin bisa menangkis seranganku tadi. Aku juga tahu kalau kakak itu sudah sabuk hitam di karate, mana mungkin kakak amatir sama yang namanya sparring," Lui bangkit dan kembali mengarahkan tendangan ke paha Yuuma, meskipun hanya terkena sedikit.

"Lui... kamu... stalker kah?" tuduhan Yuuma membuat Lui cenat-cenut di kepala.

"Kakak... aku bukan stalker oke? Kakak yang menceritakanku saat kita bertemu untuk ketiga kali dan medali beserta sertifikat milik kakak yang dipajang di kamar kakak. Mana mungkin aku tidak tahu kalau kakak itu pintar dalam bidang bela diri," Lui terus melancarkan serangan yang ia rasa percuma karena kakaknya terus menangkis serangannya.

"Jadi? Apa yang membuatmu bad mood dik?" Yuuma mulai memulai topik utama mereka.

"Kak Yohio," jawab Lui singkat. Dia meninju lengan kanan Yuuma.

"Istri kak Kokone? Kenapa? Bukannya kita sudah tidak ada masalah dengan mereka?" Yuuma kembali bertanya.

"Ya, kita memang sudah tidak punya masalah dengan mereka. Saat aku akan mengunjungi kakak di rumah sakit, dia menungguku di taman," Lui berhenti menyerang, nafasnya ngos-ngosan.

"Terus? Bukannya kau sudah menceritakan itu saat aku baru sadar?"

"Ya. Memang. Tapi hanya titipan pesan saja, dia menyapaku tanpa ada rasa bersalah,"


Yuki


"Hai Lui," Yohio, laki-laki berambut pirang panjang hampir sebahu dan bermata ruby menyapa bocah dengan tudung jaketnya yang menutupi kepalanya.

Lui menghentikan langkahnya, "Kau..." geramnya.

Yohio berjalan menuju Lui, "Sudah lama kita tidak bertemu ya? Kau kini sudah besar," ucapnya.

Lui mundur dengan perlahan, "Kenapa kau ada di sini? Aku tidak ingin melihatmu, kakak," tanya laki-laki berambut jingga tersebut dingin.

"Wow... santai dik, aku menunggumu di sini untuk meminta maaf apa yang telah kuperbuat pada kalian, dengan menuruti perintah istriku, kalian mungkin bisa menyadarkannya dari keserakahan. Dan sepertinya 'kakakmu' itu mengira kalau aku juga serakah seperti istriku,"

"Artinya kau minta tolong pada kami dengan paksaan?"

Yohio tersenyum lebar, "Yup!"

"Dasar egois,"

"Aku memang egois, tapi keegoisanku ini membantu orang lain," Lui mendengus mendengar ucapan kakak kandungnya.

Dengan senyum meremehkan, Lui berkata, "Membantu? Apanya yang membantu? Berkat keegoisanmu 6 tahun yang lalu, aku harus menanggung beban berat sendirian. Membuatku menderita, dan membuat kami hampir di ujung nyawa,"

Yohio tersenyum sedih mendengar ucapan adiknya yang menusuk hatinya, "Ya, kau benar,"

"Lalu? Kenapa kau masih sanggup menyapaku tanpa ada rasa bersalah?" tanya Lui sinis.

"Hei! Jujur saja, aku tidak berani menyapamu oke?! Bahkan aku harus berlatih di depan cermin dengan foto saat kamu masih kecil. Itu sangat sulit bagiku, aku bahkan tidak berani melihat fotomu karena rasa bersalah ini! Pertemuan ini juga tidak disengaja, aku hanya ingin berjalan-jalan di taman ini dan melihatmu lewat itu saja," mata Yohio mulai berkaca-kaca.

"Bohong," Lui menundukkan tudung jaketnya hanya untuk menutup wajahnya.

"Aku tidak bohong Lui... kalau kamu tidak percaya tidak apa-apa, tapi... bisakah kau sampaikan ucapan terima kasihku pada Yuuma?"

"Kenapa? Apa kau mengenal kak Yuuma?"

Yohio tersenyum, "Tentu saja, aku bahkan mengenalnya lebih lama darimu, mungkin dia tidak ingat tentangku karena ledakan itu. Jujur saja, aku tidak tahu kalau dalang dibalik tragedi itu adalah Kokone, pokoknya sampaikan ya?" laki-laki pirang tersebut beranjak pergi.

"Tunggu!" teriak Lui.

"Apa lagi? Bukannya kau tidak ingin melihatku?"

"Apa kakak... merencanakan ini saat kakak kabur dari rumah?" tanya Lui.

Yohio menatap Lui, senyuman pun muncul di bibirnya, "Entahlah, mungkin iya, mungkin tidak. Yang jelas, tragedi dan penculikan itu sangat tidak kuharapkan. Kau bisa tanyakan Yuuma secara rinci,"

Entah kenapa rasa bersalah menggerogoti hatinya, dia sudah mengetahui jawabannya berkat ucapan dari kakaknya. "Kakak benar-benar egois, karena itu aku langsung diterima panti asuhan tanpa ada pertanyaan,"


Yuki


"Jadi... apa kakak ingat kak Yohio? Selama ini kakak pura-pura kena amnesia 'kan? Apa yang direncanakan kak Yohio? Benarkah kakak kenal dengannya?" Lui langsung bertanya setelah selesai bercerita.

Yuuma berhenti sejenak, ia pun duduk di kursi yang sudah disiapkan di halaman belakang. "Yah... aku sudah bertemu dengannya saat kak Kokone bertunangan dengan Yohio, tanpa aku sadari kami sudah dekat sampai Yohio bercerita tentang adiknya yang lucu, menggemaskan, tapi sifatnya lebih dewasa darinya," jawaban Yuuma membuat Lui merasa tersindir.

"Kak Yohio beneran ngomong kalau aku lucu?"

Yuuma tertawa kecil, "Bohong, itu cuma pendapatku, tapi tentang sifatmu yang lebih dewasa... dia ngomong sendiri," seketika Yuuma mendapat tinju kecil dilengannya.

"Terus?" Lui duduk di samping Yuuma.

"Dia bilang, 'aku ingin mengeluarkan dia dari rumah itu, menjauhkannya sampai kedua orang itu tidak menemukannya,'. Saat itu aku tidak tahu kalau adiknya itu kamu, padahal kita sudah hampir 5 kali bertemu, aku rasa kakakmu saat itu sudah kabur dari rumah," Yuuma melanjutkan ceritanya.

"Lalu? Kenapa kak Yohio tidak membawaku bersamanya? Bukankah lebih baik seperti itu?"

Yuuma mengangkat bahunya, "Entahlah, mungkin saat itu... Yohio punya masalah dengan keuangannya. Meskipun dia tinggal di apartemen, uangnya hanya bisa untuk mencukupi kebutuhannya sendiri. Atau mungkin... dia punya masalah yang tidak bisa melibatkanmu," jelasnya.

"Masalah?"

Yuuma menarik rambutnya keras, adiknya yang satu ini tidak berhenti bertanya, "Aku tidak tahu... dia tidak menceritakannya padaku, tapi wajahnya menunjukkan seperti itu. Bisakah kau berhenti bertanya dik? Rasanya pusing dengan semua pertanyaanmu yang terus-terusan kau lontarkan. Hanya itu yang aku tahu, aku bahkan terus bicara panjang lebar berkat pertanyaanmu," keluhnya.

Lui tersenyum aneh, "Eh? Benarkah?"

"Itu! Kau kembali bertanya!" seru Yuuma.

"Ah! Maaf, maaf. Aku sudah puas kok!"

Yuuma menghela nafas, "Hah... kalau begitu ayo masuk, hawanya jadi lebih dingin," laki-laki bermata emerald itu melihat tangannya yang bergetar.

Lui melihat badan kakaknya yang sepertinya menahan dingin, "Ah... aku hampir lupa, kalau gitu ayo masuk kak. Aku heran kenapa kakak tidak pakai baju hangat tadi..."

"Aku juga heran kenapa kau melepas seragammu tadi,"


Yuki


"Kami pulang— ASTAGA! Kenapa kalian seperti itu?!" tanya Luka setelah di suguhi pemandangan kakak-adik dengan tubuh babak belur.

Dua orang yang sibuk mengobati luka mereka masing-masing itu melihat kakaknya, salah satunya langsung berpaling dan membantu adiknya mengompres lebam yang ada di tubuhnya berkat sparring tadi.

Lui, sang pelaku yang mengajak kakaknya untuk sparring itu tersenyum, "Ah... kami hanya 'melepas stres', dan tanpa kami sadari, kami sudah seperti ini," jelasnya.

"Melepas stres macam apa yang kalian lakukan sampai menghasilkan luka dan lebam?" tanya Gakupo.

IA yang melihat keadaan kedua adiknya itu mendengus, "Halah... paling juga sparring, itu kebiasaan mereka kalau mau melampiaskan beban yang ada di pikiran mereka," ucapnya kemudian berjalan menuju kamarnya untuk ganti baju.

"Beban pikiran? Kalian mikirin apa?" Luka kembali bertanya.

"Ah... kak... kami lapar, kenapa kalian pulang lama sekali? Aku hampir mati kelaparan tadi, benarkan Lui?" Yuuma mencoba mengalihkan topik.

"Eh? Hah? Ah! Benar! Aku tadi ingin makan, tapi kakak belum masak,"

"Mereka mengalihkan topik," bisik Gakupo pada Luka.

"Aku tahu itu,"

"Kak... kami juga lapar," rengek sepasang anak kembar tersebut.

"Tapi kenapa seakan-akan mereka mendapat dukungan untuk mengalihkan topik?"

"Sudahlah Luka... turutin aja mereka,"

"Oke, kalian ingin makan apa? Lagian, Yuuma 'kan bisa masak, kenapa tidak masak,"

Yuuma menghela nafas, "Apa aku disuruh masak peralatan masak karena tidak ada bahan untuk masak?" sindirnya.

"Ah, aku lupa kalau kita kehabisan bahan. Untung saja kami mampir ke supermarket tadi,"

IA yang tiba-tiba muncul bertanya, "Kak... sebentar lagi 'kan tahun baru... apa perlu kita buat pesta seperti tahun lalu?"

"Hm? Aku dan Gakupo tidak masalah... kamu tanyakan ke adik-adikmu dulu," Luka menyalakan kompor.

IA menatap Yuuma yang duduk tenang di ruang makan, "Yuuma—"

"Tidak," seketika IA cemberut.

"Aku belum mengatakan apa-apa!" serunya.

"Aku sudah dengar tadi, kalian semua saja yang merayakan tahun baru aku tidak ikut," jelas Yuuma.

"Kak Luka~ bisakah kakak membujuk adik-keras-kepala yang satu ini? Aku ingin semua orang yang ada di rumah mengikuti pesta tahun baru," rengek IA.

Untuk yang pertama kalinya Yuuma berpikir kalau sifat IA yang dulu lebih baik. "Lagian untuk apa perayaan itu? Tidak akan ada perubahan melakukan pesta seperti itu," laki-laki berambut pink itu jengkel.

Luka berjalan duduk di kursi makan, "'Kan kita menyambut tahun yang baru. Tahun baru pengalaman baru 'kan? Aku dan Gakupo berencana akan melakukan tahun baru di—"

"Hotel," potong Yuuma. Wajah Luka memerah seketika.

"Bukan bodoh!" serunya.

"Kak, wajah kakak merah tuh," kata IA datar.

"Diam!" serunya lagi.

Perempuan berambut gulali itu menghela nafas, "Kita akan pesta di rumah, tahun lalu 'kan kita pergi ke taman bermain dan restoran. Dan mungkin saja itu membuat Yuuma tidak ikut karena jalan yang ramai dan malas gerak," Luka melirik adiknya yang menatap datar.

"Sekalian menikmati salju di depan rumah,"

"Aku ikut," ucap Yuuma cepat.

IA cengo, Luka cuma tersenyum, 'Betapa mudahnya kak Luka membujuk Yuuma hanya dengan kata salju,'

"Ah! Sekalian kita mengajak 'mereka'," IA dan Yuuma juga Lui yang kebetulan ada di sana dibuat bingung dengan ucapan kakaknya.

[To Be Continued]


Kalau gak salah aku dulu nulis chapter 8 akan selesai. Ternyata sampai chapter 9, karena terlalu panjang akhirnya dibagi dua. Update masih tetap satu minggu sekalil. Jadi minggu depan adalah chapter terkahir dari fanfic Yuki #tebar_bunga