COMPLETE!
Akhirnya ini fanfic sudah selesai. Tapi kalo dilihat-lihat fanfic vocaloid tentang Yuuma atau vocaloid lainnya selain Miku, RinLen, Luka, Gakupo, Kaito itu agak sepi ya? Kasihan mereka tidak terlalu dipedulikan.
Nah... ini chapter terakhir. Pingin dipanjangin tapi ide udah mentok.
Selamat menikmati~
Chapter 9
Malam itu, di saat musim dingin tinggal beberapa bulan, terdengar suara bayi di suatu panti asuhan.
Yuuma, bocah yang akan menginjak umur 11 tahun yang masih terjaga itu berjalan menuju pintu panti asuhan depan.
"Astaga!" serunya lirih. Dia takut membangunkan penghuni panti asuhan yang lain.
Di depan pintu tersebut, terdapat sebuah keranjang besar yang berisi dua bayi dengan surat di atasnya.
Tanpa pikir panjang, Yuuma membawa masuk bayi yang terlihat kembar tersebut. Dia membuka surat yang terlipat dengan rapi.
Tolong rawatlah mereka berdua. Kami mohon!
Kami tidak bisa merawatnya karena beberapa alasan
Anak di sisi kiri bernama Kanon dan di sisi kanan bernama Anon.
Mereka berdua adalah anak kembar. Tanggal lahir mereka 3 Maret.
Atas perhatiannya kami sangat berterima kasih.
"Kalau tidak bisa mengurus anak mereka, kenapa buat anak? 'Kan kasihan mereka tidak bisa mengenali wajah orang tua mereka dan kasih sayangnya. Ya... meskipun aku hampir sama dengan kalian, tapi setidaknya nasib kalian lebih bagus daripada aku," Yuuma mengelus kedua bayi tersebut dengan lembut.
"Ah! Aku harus beritahu ibu!"
Laki-laki berambut pink tua itu langsung masuk ke kamar ibu pemilik panti asuhan tanpa permisi. "Ibu! Cepat bangun! Ada anak yang umurnya hampir satu tahun di sini!" serunya sambil mengguncang tubuh ibu keras.
"Hah? Yuuma? Apa yang kamu lakukan di sini?"
"Sudahlah! Ayo cepat ke sini!" Yuuma segera menarik tangan ibu ke ruang tamu.
"Oh astaga... sejak kapan kamu buat anak Yuuma? Kau masih dibawah umur untuk membuat anak!" seru ibu setelah melihat dua bayi yang ada di keranjang.
"Ish! Ibu jangan ngawur! Aku tahu kalau aku masih dibawah umur untuk membuat anak. Ibu baca ini dulu! Aku akan mengambil beberapa selimut untuk mereka berdua,"
"Anu... kalau selimut aku sudah mengambilnya," Lui, bocah umur 4 tahun itu menghampiri dua orang yang sibuk sendiri.
"Lu... i? Kenapa kau belum tidur?" tanya ibu seusai membaca surat. Wanita paruh baya itu mengambil selimut yang dibawa Lui.
"I-i-itu... aku dengar tangisan bayi... jadi tidak bisa tidur. Tadinya aku ingin melihat di depan, tapi sudah keduluan kak Yuuma," jawab Lui lirih.
Yuuma menepuk kepala Lui dengan lembut, "Kerja bagus dik! Aku tidak perlu mengobrak-abrik lemari hanya untuk mencari selimut,"kata laki-laki tersebut.
"Tapi... apa kita punya baju bayi? Ini terlalu mendadak karena selama ini kita hanya menerima anak umur 3-10 tahun," lanjutnya.
"Tentu saja punya, kita bisa pakai baju bekas kak Luka saat masih kecil dulu, untung mereka berdua perempuan. Kalau laki-laki... rasanya kita punya adik laki-laki yang feminim," canda ibu garing.
Ibu segera berdehem karena suasana yang aneh, "Baiklah... karena hanya kalian berdua yang bangun... bisakah kalian membantu ibu?"
"Bantu apa?" tanya Lui.
"Mengurus bayi tentunya, mau apalagi?" jawab Yuuma.
"Sepertinya kau sudah mengerti Yuuma, kalau begitu... Yuuma siapkan air panas untuk memandikan anggota keluarga kita yang baru dan Lui siapkan handuk dan baju untuk mereka berdua," perintah ibu.
"Siap laksanakan!" balas Yuuma dan Lui kompak.
"Tolong jangan keras-keras! Ini sudah masuk jam tengah malam!"
"Tapi bu... suara ibu yang lebih keras dibandingkan kami,"
"Diam dan laksanakan perintah!"
'Gak anak gak ibu sama saja kalau marah, menyeramkan,' batin Yuuma dan Lui sweatdrop.
[Skip]
"Ma... ma! Mama ngun! (Ma... ma! Mama bangun!)" suara anak kecil yang khas membangunkan laki-laki berambut pink tua tersebut.
"Uh... suara siapa sih..." gerutunya.
"Ma!" seruan anak kecil tersebut membuat laki-laki berumur 10 tahun itu menengok ke bawah.
"UWAA!" teriakan tersebut menjadi alarm bagi penghuni panti asuhan. Beberapa langsung bangun dan menghampiri asal suara dan beberapa hanya mengabaikan lalu kembali memasuki alam mimpi.
"Kenapa kamu berteriak?! Apa ada sesuatu?" tanya Luka, anak dari pemilik panti yang diikuti dengan anak-anak lain.
"M-m-mereka... m-memanggilku 'mama'!" jawab sang pelaku, Yuuma.
"Hah?" seketika ruangan menjadi sepi.
"Tunggu! Dari mana Yuuma dapat dua bayi yang kelihatan kembar itu? Yuuma masih dibawah umur untuk membuat anak," tanya perempuan berambut pirang, SeeU.
Yuuma hanya menanggapi dengan tatapan datar, "Mama! Kan! (Mama! Makan!)" seru kedua bayi yang akan menginjak umur satu tahun tersebut.
Yuki
Keadaan rumah keluarga Megurine sangat ramai, meskipun di dalam hanya ada 7 orang (Akuma: Oke, itu tergolong banyak) acara yang mereka adakan dalam rumah itu membuat suasana meriah. Beruntung rumah mereka agak berjauhan dengan tetangga, dengan begitu acara yang mereka adakan tidak terlalu mengganggu.
"Sayang! Apa makanannya sudah siap?" tanya Gakupo pada istrinya.
Luka menaruh sebuah ayam panggang di meja ruang keluarga, "Sudah, apa kalian semua juga sudah siap dekorasinya?" jawabnya.
"Sudah. Dari tadi, kakak aja yang lambat," kata Yuuma datar.
"Pekerjaanku akan cepat selesai kalau kamu juga ikut Yuuma, seharusnya bagian memasak itu aku, IA, dan kau juga 'kan?! Sisanya yang menyuruhmu ikut ke bagian dekorasi?" tanya Luka sengit.
"Aku, 'kan sudah bilang aku gak ikutan pesta tahun baru. Aku cuma ikut bagian menikmati salju. Kakak yang memaksaku," wajah Luka memanas, sempat terpikir untuk melempar adiknya itu dengan panci. Tapi sedetik kemudian dia menghela nafas. Dia tahu betul kalau berdebat dengan adik keduanya tersebut, dia tidak akan menang. Meskipun di paling tua kedua di sini (Akuma: Artinya Gakupo paling tua di rumah itu, sudah pada tau 'kan?).
Kringg!
Bel rumah berbunyi, "Ah! Itu pasti mereka!" seru perempuan berambut gulali tersebut.
Dengan senang Luka membuka pintu rumahnya, "Kalian beneran datang! Makasih ya sudah meluangkan waktu sibuk kalian," ucapnya sumringah.
"Ah... tidak apa-apa... kebetulan hari ini kami banyak waktu luang, karena kami belum punya anak... jadi kami terima undanganmu. Lagian di rumah hanya ada kami, para pelayan sudah pulang karena tahun baru," balas seorang perempuan berambut coklat panjang sepunggung tersebut.
"Masuklah! Kalian datang tepat waktu, kami baru saja selesai mempersiapkan hal-hal dengan acara ini," pinta Luka mempersilahkakan tamunya untuk masuk rumah.
"Entah kenapa kami jadi merepotkan," kata laki-laki berambut pirang.
"Haih... apanya yang merepotkan... aku yang mengundang kalian untuk ikut acara ini. Masuklah! Selagi aku meminta kalian dengan baik,"
Dua pasangan suami-istri tersebut hanya bisa tersenyum hambar, "Itu... bukan ancaman 'kan?" tanya mereka berdua kemudian masuk.
[Ruang Keluarga]
"Kak Yuu! Kak Yuu! Kakak kasih hadiah tahun baru apa ke kami?" tanya Kanon antusias.
"Hm? Apa tahun baru perlu diberi hadiah? Bukannya itu untuk acara natal ya? Kakak gak tahu kalau ada 'tukar hadiah' di acara ini," jawaban Yuuma membuat Kanon dan Anon berwajah murung.
"Ups..."
"Kak, kalau bercanda tolong jangan keterlaluan... mereka masih umur 7 tahun. Biasanya kita melakukan itu... khusus untuk Kanon dan Anon. Mereka berdua menyamakan acara ini dengan acara natal," Lui mengingatkan.
"Ah... aku lupa tentang itu, biasanya aku memberi mereka hadiah untuk menyambut tahun baru,"
"Benarkah? Terus kenapa aku gak dikasih?"
Yuuma menyentil dahi Lui, "Umurmu itu berapa tahun dik? Kau sudah hampir SMP, dan mereka masih SD kelas satu,"
"Yah... aku 'kan cuma bercanda,"
"Aku tahu itu,"
"T-tapi... kak Yuu biasanya memberi kami hadiah tiap tahun meskipun tidak pernah ikut perayaan ini..." mata Anon mulai berkaca-kaca.
Yuuma gelagapan, "Ah... maaf, maaf. Kakak cuma bercanda, kakak sudah menyiapkan kejutan untuk kalian,"
"Kejutan? Kejutan apa?" tanya sepasang anak kembar tersebut.
"Hee... bukan kejutan kalau kalian tahu," Yuuma mengusap kepala kedua adiknya yang paling kecil tersebut dengan lembut.
"Halah... paling juga k— Hmph!" IA yang ingin membeberkan rencana Yuuma langsung dibungkam oleh laki-laki berambut merah muda tersebut dibantu dengan Lui.
"Sudah kubilang 'kan? Bukan kejutan kalau ada yang tahu, dari mana kau tahu rencanaku kakak?" suara Yuuma terdengar mengancam, dan itu membuat perempuan berambut pink pucat diikat ponytail tersebut merinding.
"Masuklah! Anggap rumah sendiri," suara sang kakak sulung tersebut membuat semua orang yang ada di ruang keluarga menghentikan kegiatan mereka sejenak dan melihat tamu yang diundang oleh kakak pertama.
"Makasih..." Yuuma dan Lui terdiam melihat 'tamu' mereka.
"Kak..." Lui melihat kakaknya yang masih terdiam. Beberapa detik kemudian, kakaknya tersebut menghembuskan nafas.
"Hah... musim dingin di saat salju turun itu kadang menyebalkan, kadang menyenangkan," gumam Yuuma.
"Kakak tidak apa-apa?" tanya Lui.
"Hah?" Yuuma menatap Lui.
"Apa maksudmu? Ah... ngomong-ngomong dia perempuan yang menjengukku saat aku baru sadar dari komaku, kalau gak salah kamu baru saja tidur di pangkuanku," lanjutnya.
"Kakak... mulai pura-pura lagi?" Lui menatap Yuuma serius.
Laki-laki bermata emerald tersebut langsung nge-wink, kode untuk membantu menutupi tentang dia yang pura-pura hilang ingatan. "Hah... ok kalau begitu, aku akan memban—" ucapan Lui terhenti saat melihat tamu kedua memasuki ruangan.
Sejenak, Lui terdiam, "Hei... kau tidak apa-apa?" kali ini Yuuma bertanya.
"Kontrol emosimu dik, kau tahu 'kan kak Luka tidak tahu tentang hubungan kita dengan mereka? Meskipun itu hampir terbongkar" lanjutnya.
Lui mengambil nafas lalu mengeluarkannya pelan, "Siapa juga yang mau marah-marah? Aku tidak seperti itu,"
"Ya... di saat kau waras saja kau bisa mengendalikan emosimu, kau 'kan paling dewasa di sini," gumam Yuuma.
"Aku dengar itu,"
"Benarkah? Baguslah kalau begitu," Lui langsung menyikut perut Yuuma, membuat sang pemilik perut tersebut itu merintih dengan senyuman jahilnya.
"Hm?" sang tamu perempuan melihat Yuuma yang sedang bercanda dengan Lui.
"Wah! Kamu sudah keluar dari rumah sakit ya? Selamat ya!" ucapnya sambil menghampiri kedua orang tersebut.
Yuuma tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa diantara mereka, "Ya, sudah lumayan lama aku keluar dari sana... ah! Apa yang di belakang kakak itu suami kakak? Siapa namanya?" perempuan tersebut alias Kokone, menengok ke belakang.
"Dia? Benar, dia suamiku, namanya Hotsuka Yohio. Sebelumnya nama keluarganya itu Hibiki, tapi dia tidak suka dengan nama keluarganya akhirnya ganti dengan nama keluargaku setelah menikah," jawab Kokone.
"Oh..." Yuuma melirik adiknya yang menatap tajam Kokone.
"Kalau kau menatap seperti itu… kau akan merusak suasana tahun baru yang kelihatan menyenangkan ini," bisiknya.
"Oi, tiga orang yang ada di sana! Bisakah kita merayakan tahun yang sebentar lagi akan berganti? Kalian tidak berniat untuk ngrumpi di sana 'kan?" ucapan IA membuat tiga orang yang sibuk dengan dunia mereka sendiri itu tersadar.
"Ah maaf... kami akan ke sana," Lui langsung bergabung dengan yang lain diikuti dengan Yuuma dan Kokone.
"Dengan begini acara tahun baru dimulai!" ucap Gakupo senang.
[Skip]
Yuuma menatap saudara dan para tamu yang sibuk bersenda gurau di halaman belakang. "Hai Yuuma!" sapa Kokone.
"Boleh aku duduk di sampingmu?" lanjutnya.
"Ah... tentu saja kak! Tidak ada yang melarangmu duduk di sini," balas Yuuma.
Perempuan berambut cokelat tersebut tersenyum senang, "Kau tahu? Dulu... sebelum kamu hilang ingatan setelah kejadian itu... kau tidak suka dekat denganku. Jangankan mendekat, melihatku saja sudah benci," kata Kokone tiba-tiba.
Yuuma langsung tersenyum kaku, "A-ah... b-benarkah? Maafkan sifatku yang dulu, tapi... kenapa kakak bertingkah seakan kenal denganku?" pertanyaan dari sang adik membuat Kokone terdiam.
"Hmm... bisa dibilang... penebusan kesalahan yang tidak akan pernah termaafkan?"
"Maksud kakak?"
"Hah... aku tidak percaya akan bilang ini di saat yang bahagia. Aku... adalah kakak kandungmu,"
'Aku mah tahu itu,' batin Yuuma sambil mengusap tengkuknya yang terasa dingin.
"O-oh... itu... sedikit mengejutkan bagiku. Aku hampir tidak percaya kalau kakak adalah kakak kandungku. Tapi... kalau kakak adalah kakak kandungku... kenapa aku bisa ada di sini?" tanya Yuuma yang sudah pasti ia ketahui sendiri.
"Itu... karena keegoisanku, jika aku tidak memikirkan warisan dan diri sendiri... mungkin kamu tidak akan mengalami hal semua ini," Kokone menatap langit malam tanpa bintang.
"Hipotermia, sesak nafas, hilang ingatan, kau tidak akan mengalami hal itu semua jika aku tidak egois dan serakah. Aku hampir membuatmu mati hanya karena tahu kamu akan jadi pewaris keluarga Hotsuka yang selanjutnya, kamu bahkan lebih pintar dari aku. Itu... sedikit membuatku iri,"
'Ternyata kak Kokone sadar dengan perbuatannya,'
"Aku bahkan membuat ayah kita koma karena tahu kau mati dalam insiden itu,"
"Insiden?" Yuuma mulai memancing Kokone untuk mengakui kesalahannya.
"Ya... insiden, aku menaruh bom di mobilku dan meninggalkanmu dengan berpura-pura akan membelikanmu hadiah ulang tahun yang ke-10. Suamiku, Yohio, sudah melarangku untuk melakukan itu. Tapi aku mengabaikannya, aku jahat 'kan? Mana ada seorang kakak yang begitu kejam dengan adiknya? Bahkan kau membantuku dengan berpura-pura mati karena ledakan itu. Aku... hiks... benar-benar kakak yang kejam," Kokone menangis lirih.
"Ayah hampir saja melakukan bunuh diri karena anak tersayangnya mati mendahuluinya, untung saja sempat di cegah sebelum tali merenggut nyawanya," lanjutnya.
'Ayah sayang denganku sampai melakukan bunuh diri?! Aku... jadi merasa kasihan pada kakak...' Yuuma menepuk punggung Kokone pelan.
"Yang kuat ya kak..." ucapnya menyemangati.
"Hei... seharusnya aku yang bilang itu kepadamu, kau sudah mengalami hal yang berat karena aku," Kokone tersenyum sedih.
"Ehem! Lupakan tentang hal itu, sekarang ayah sudah sadar dari komanya, meskipun dia masih tidak bisa menerima kalau kamu mati. Apa kamu... mau mengunjungi ayah? Sebagai Megurine Yuuma," tawar Kokone.
"Dan kembali pada keluarga Hotsuka," lanjutnya.
'Hei hei... aku tidak menginginkan itu oke? Apa kakak lupa apa yang kuminta dulu?' batin Yuuma.
Laki-laki bermata emerald itu tersenyum, "Kalau mengunjungi a... yah sebagai Megurine Yuuma mungkin aku bisa terima. Tapi... kalau kembali pada keluarga Hotsuka agak..." ia menggantungkan ucapannya.
"Ya ya aku tahu, kamu agak gak enak 'kan? Setelah hilang hampir 7 tahun dengan hilang ingatan... kamu agak asing dengan keluargamu yang sebenarnya 'kan?"
Yuuma mengangguk pelan, ia menatap keluarganya yang saat ini masih menikmati acara mereka. Luka dan Gakupo yang saling berpelukan dan hendak berciuman tapi langsung di hentikan oleh IA, Kanon dan Anon yang sibuk main kejar-kejaran, Lui yang sibuk berbicara dengan kakaknya, Yohio. Sepertinya di sana berbagai suasana berkumpul.
Dari yang bahagia sampai yang mencekam. "Bukannya asing... mungkin... karena aku menyayangi mereka lebih daripada keluargaku sendiri. Tapi bukan berarti aku tidak menyukai kalian, hanya saja... aku nyaman dengan mereka,"
Kokone ikut melihat momen indah tersebut, ia tersenyum, "Ya... aku rasa... aku tahu yang kamu maksud. Mereka bersenang-senang tanpa memikirkan berbagai bisnis seperti yang ada di Hotsuka,"
Hening kemudian melanda mereka berdua. "Hei Yuuma... bagaimana kalau kau menceritakan kisahmu saat bertemu mereka semua?" tawar Kokone.
"Aku penasaran,"
"He? Ah... baiklah, jangan terkejut ya kak?"
Yuki
"Jadi... kakak gak mau membawaku bersama kakak karena kakak punya masalah dengan pekerjaan dan keuangan?" simpul Lui setelah mendengar kakaknya, Yohio bercerita.
"Bisa iya bisa tidak, aku harus menyelesaikan beberapa masalah, seperti..." Yohio menggantungkan ucapannya.
"Seperti?"
"Berpikir bagaimana kau bertahan di apartemenku sendiri tanpa ada yang menjagamu, aku takut terjadi apa-apa kepadamu. Jadi... aku membiarkanmu di rumah sialan itu sampai aku benar-benar bisa menyewa apartemen yang keamanannya lebih besar dan selesai mengurus hutang-hutang yang disebabkan oleh dua orang gak guna itu," lanjut Yohio.
Lui diam, "Apa... hanya karena itu? Ayolah... kakak tahu 'kan kalau aku bisa memasak dan menjaga diriku karena aku bisa karate? Nggak mungkin karena itu 'kan? Jujurlah kak... sebelum aku membantingmu," ancam Lui.
Yohio langsung tersenyum kaku, "Hei hei... aku sudah jujur lho... kau tahu kalau dua orang itu punya hutang 'kan? Aku gak mau mereka akan menyanderamu hanya karena hutang, mereka mengenalimu 'kan? Bahkan dua orang brengsek itu membuat kamu menjadi jaminan. Dan juga... kamu waktu itu masih umur 4 tahun bodoh! Tinggimu juga gak setinggi saat ini, mau pakai kursi apa kalau masak atau mengambil camilan di kulkas dan laci? Apartemenku itu kagak ada kursinya, dasar adik mandiri yang nggak tahu batasnya," Yohio menyentil dahi Lui setelah memberi penjelasan yang panjang.
Lui hanya mengelus dahinya yang memerah, dia sudah kebal dengan sentilan di dahi berkat kakaknya a.k.a Yuuma sering melakukan itu padanya. "Hutang? Jadi itu masuk masalah keuangan ya..." gumamnya.
"Ha... aku maafkan deh... karena berkat kelakuan kakak aku terus dipukuli sama dua orang itu, dikurung di kamar, hampir gak diberi makan, dan terus menjadi pelampiasan. Kalau dipikir-pikir... merupakan keajaiban aku bisa bertahan sampai sekarang," Yohio merasa tersakiti berkat fakta yang di ucapkan Lui.
"Lui... bisakah kau tidak mengatakan fakta yang seperti menyindirku?" Lui tertawa kecil melihat reaksi kakak kandungnya.
"Tapi... berkat kakak... aku bisa ketemu sama kak Yuuma di taman itu, dia bahkan mengobati lukaku dan mengajariku beberapa bela diri selain karate. Meskipun sifatnya cuek, dia masih memperdulikan adik dan kakaknya, idaman untuk semua adik," ekspresi Yohio berubah saat mendengar pengakuan Lui.
"Mana Yuuma? Biar kuhajar dia! Berani-beraninya dia mengambil hati adikku yang lucu ini," Yohio mencari Yuuma.
"Hentikan dasar brocon!" kata Lui sambil menjitak kepala kakaknya.
"Bro-brocon?! Jahat kau Lui!" canda Yohio.
"Itu keyataannya dasar orang dewasa yang nggak dewasa!"
"Lui... hentikan umpatanmu, kau masih 11 tahun, gak baik mengumpat,"
"Diam dasar kakak brocon!"
"Ugh... hentikan, itu menyakitiku,"
Yuki
"Ahahaha! Jadi kamu dipanggil 'mama' karena kau yang pertama menemukan si kembar? Meskipun kamu laki-laki?" tanya Kokone yang terdengar seperti menyindir.
Yuuma menyembunyikan wajah merahnya, meskipun itu sia-sia, "H-hentikan kak... mereka begitu karena aku yang pertama menemukan mereka. Rasanya aku seperti bertemu anak kucing yang baru lahir karena sifat mereka yang menganggap aku ibunya hanya karena aku menemukan mereka. Sejak itu... aku jadi harus mengajari kalau ibu pemilik panti asuhan itu adalah ibu, meskipun itu baru mereka lakukan saat mereka umur 3 tahun," Kokone kembali tertawa.
"Karena itu mereka sangat dekat padamu sampai-sampai duduk dengan manis di pangkuanmu?" tanya Kokone lagi.
"Hm?" Yuuma melihat Kanon dan Anon yang duduk di pangkuannya.
"Mungkin? Mereka memang seperti itu, bahkan baru-baru ini... mereka tidur bersamaku seperti dulu," jawab Yuuma tidak pasti.
"Hoo... jadi dulu Yuuma selalu tidur bareng dengan mereka?"
Yuuma mengangguk, "Anak panti asuhan yang lain sampai iri denganku hanya karena aku dekat dengan si kembar, ya... kalau dilihat dari kelakuan gemas mereka... rasanya kayak aku memonopoli si kembar. Anon dan Kanon benar-benar tidak ingin lepas dariku, bahkan saat aku akan berangkat sekolah. Saat itu... Anon dan Kanon adalah adik paling kecil setelah Lui,"
"Wow... meskipun sifatmu kayaknya cuek, kamu agak peduli dengan adik dan kakakmu ya?" Yuuma hanya tersenyum menanggapi ucapan kakaknya.
"Kak Yuu! Salju!" seru Kanon sambil turun dari pangkuan Yuuma.
"Wah... saljunya turun kak Yuu!" Anon ikut-ikutan Kanon.
"Oh? Benarkah? Mungkin saatnya aku mengambil kejutan untuk kalian," kata Yuuma kemudian berjalan memasuki rumah.
"Anu... apa kakak tahu Yuuma?" tanya IA sambil menghampiri Kokone.
Perempuan berambut coklat sepunggung itu berdiri, "Dia... masuk rumah setelah mengatakan 'kejutan'," jawab Kokone.
"Ah... kalau begitu, kakak ayo kumpul sama kami, sebentar lagi tahun akan berganti. Sudah jam 12 kurang 5 menit,"
[Halaman belakang. 23.59 P.m]
"Haish...! Si Yuuma kemana sih?! Lama banget!" kata Luka menggebu-gebu.
"Padahal tinggal satu menit lagi," gerutunya.
"Sudah bukan 'tinggal' kak... sekarang sudah tanggal 1 Januari," ralat Lui.
"Aish... sialan! Katanya dia mau ikut, akan kuseret dia!" Luka berjalan ke rumah dengan cepat tapi—
DUARR!
—dihentikan oleh suara kembang api yang tiba-tiba muncul.
NGIING!
Suara yang memekakkan telinga membuat 8 orang tersebut menutup telinga secara reflek. "A-a... tes tes, sepertinya sudah nyala," suara dari orang yang sangat mereka tunggu tiba-tiba muncul.
"OI YUUMA! KENAPA BARU MUNCUL SEKARANG HAH?! KAMI MENUNGGUMU DI SINI! DIMANA KAU! DASAR ADIK GAK PUNYA PERASAAN!" teriak Luka.
"Hah... kalau begini aku gak bisa mengatakan di mana aku, dan Lui! Tolong ke sini, tempatnya masih tetap yang direncanakan," pinta Yuuma mengabaikan teriakan kakaknya.
"Apa... sifatnya seperti itu?" bisik Kokone kepada IA.
"Hah? Ehm... dia memang seperti itu, dari pertama dia mengunjungi rumah ini," jawab perempuan bermata biru tersebut.
"Siap laksanakan Komandan!" seru Lui sambil tersenyum senang.
"Apa... Lui sifatnya seperti itu?" kali ini yang bertanya Yohio.
IA tertawa hambar, "Ya... terkadang dia seperti itu, sifat aslinya keluar disaat bersama Yuuma saja. Aku gak tahu hubungan macam apa yang mereka miliki sebelum mereka ke sini,"
Sepasang suami-istri tersebut saling menatap, sedetik kemudian senyum menghiasi mereka berdua. "Sepertinya... tidak jelek juga mereka ke sini," bisik Kokone yang di tanggapi dengan senyuman indah milik Yohio.
"Baiklah... karena aku sudah bilang untuk mengikuti acara perayaan tahun baru... aku menyiapkan kembang api untuk kejutan kalian semua," kata Yuuma.
"Jadi... para adik dan kakak... diharapkan untuk menikmati acara pergantian tahun ini dengan menonton kembang api. Dan terima kasih untuk kak IA yang menguping rencana kami dan tidak membocorkannya. Lain kali kami akan berhati-hati dalam melakukan rencana kejutan," Lui yang baru tiba di tempat Yuuma berada secara tidak sengaja menyindir IA.
"Kalian menyindirku ya?!"
"Yuuma, Lui, cepat kemari! Kalian tidak akan di sana sendirian 'kan?" pinta Gakupo.
"Ah... oke oke, kami akan ke sana," Yuuma membalas.
"Balasan macam apa itu?" komen Yohio dan Kokone.
"Setelah ledakan ini," lanjut Yuuma kemudian.
8 orang itu diam, 'Ledakan?'
DUAAR!
"Kami tahu kalau ini telat 10 menit, tapi tetap akan kami katakan. Everybody happy new year!" seru kedua orang tersebut bersamaan dengan ledakan kembang api yang menghiasi gelap langit di dini hari.
Mereka semua yang ada di halaman belakang melupakan kedua orang tersebut dan menikmati pertunjukkan kembang api.
[YUKI. END]
SIDE STORY
Di suatu tempat yang harusnya di ketahui semua orang tapi jarang di tempati dan menjadi ruangan yang terlupakan meskipun sering di lewati orang alias kamar tamu di lantai dua, Yuuma dan Lui menikmati pertunjukkan yang mereka rancang sendiri. "Kak," panggil Lui.
"Hm?"
"Seingatku... aku hanya membelikan beberapa kembang api agar bisa di nyalakan di halaman belakang, tapi kok... kakak bisa meluncurkan kembang api di dekat ladang milik kak Luka, nyalanya otomatis lagi. Kalau ladang kak Luka rusak... kakak bakalan di marahin lho —meskipun tidak mempan sih...—. Bagaimana kakak merancangnya?"
Yuuma hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Lui, "Ngomong-ngomong Lui... apa kamu gak ingin punya keponakan?" dan dia berusaha mengganti topik.
"He? Keponakan?" hebatnya, Lui yang tidak pernah termakan oleh pergantian topik cepat milik Yuuma, terkena arus pergantian topik tersebut.
"Kita 'kan punya dua kakak ipar. Kakak ipar pertama kita yang seperti kamu ketahui adalah kak Gakupo. Dan kakak ipar kedua adalah kak Yohi (panggilan Yuma kepada Yohio, panggilannya sama dengan panggilan sayang Kokone kepada Yohio) di pihakku dan kak Kokone di pihakmu,"
"Oh... aku tidak pernah terpikirkan untuk punya keponakan sih... tapi kelihatannya menyenangkan!"
Yuki
"Ah! Akhirnya datang juga kalian!" seru Luka.
"Lho? Masih nunggu kami kak? Kupikir kalian sangat menikmati kembang api sampai melupakan kami," sindir Yuuma.
"Anak ini!" Luka hendak menjitak Yuuma.
"Eits! Tahan kak!" tapi dicegah oleh IA dengan wajah serius yang membuat Luka terdiam.
Yuuma dan Lui hanya tersenyum meremehkan, "Biar aku yang melakukannya," lanjut perempuan berambut pink pucat tersebut membuat senyum remeh hilang dari bibir mereka.
"Wow~ apa yang membuat kak IA marah sampai ingin menjitak kami? Dan asal kalian tahu, aku gak melanggar janji. Aku ikut acara ini, Lui yang jadi saksinya,"
"Itu benar!" Lui membela Yuuma.
"Ah... sudahlah kalian semua... jangan bertengkar, kalian 'kan saudara... yang akur dong..." lerai Kokone.
'Lihatlah dirimu sendiri sebelum menceramahi orang?!' batin Yuuma, Lui, dan Yohio.
"Kokone benar... bukannya kita kesini untuk melaksanakan acara tahun baru ya?" Gakupo ikut-ikutan.
"Kak Yuu! Kak Yuu! Kembang apinya bagus!" seru Kanon sambil berlari menuju Yuuma.
"Oi oi... jangan lari... nanti ja—"
Bruk!
"—tuh," Yohio segera menolong Kanon.
"Sudah dibilang sama paman kok masih dilakukan sih? Paman bilang jangan lari-lari saat salju masih turun," Anon ikut menasehati.
"P-paman..." Yohio pundung mendengar kata 'paman' dari mulut Anon.
"Kanon gak papa? Ada yang luka?" tanya Yuuma sambil membantu Kanon berdiri.
"Gak ada hehe..." jawab Kanon sumringah.
"Ah! Tadi kami sempat diskusi... kalian berempat 'kan sudah nikah... jadi kami ingin keponakan," ucapan Lui membuat empat orang dengan status nikah itu merona.
'Kok rasanya kayak mertua nanya kapan punya anak...' batin mereka berempat.
"I-itu yang kalian minta?Di awal tahun ini?" tanya Gakupo.
Yuuma dan Lui secara kompak menganggukkan kepala. "Wah... aku juga ingin punya keponakan, Anon dan Kanon setuju gak?" IA mendukung permintaan kedua adiknya tersebut.
Sepasang anak kembar itu mengangguk, "Kami ingin punya adik, pingin tahu rasanya jadi kakak," ujar mereka kompak.
Yuuma melihat keempat kakaknya, "Hm? Kenapa wajah kalian memerah? Apa permintaan kami ini sulit? Kalian 'kan tinggal 'melakukannya' di kamar dan mengandung selam—"
"STOOP! Yuuma… tolong dikondisikan kalau ngomong perihal orang dewasa jangan di depan anak kecil," Yohio memotong ucapan adik iparnya.
"Tapi… kenapa kalian juga meminta itu pada kami? Kami di sini orang luar," tanya Kokone.
"Apa yang kamu bicarakan Kokone? Kalian telah masuk di keluarga kecil ini,"
'KECIL?!' komentar batin adik-adik Luka mendengar ucapan kakaknya.
"Itu benar kak Kokone… kalian sudah masuk keluarga ini, sebagai saudara kami. Dulu 'kan kak Kokone dan kak Yohio selalu mengkhawatirkan Yuuma dan Lui saat mereka masuk rumah sakit. Kalian terus mengunjungi kami hanya untuk menanyakan kedua adik kami yang resek ini sudah keluar rumah sakit atau belum," IA mendukung ucapan Luka.
"Itu benar! Paman dan bibi— kak Kokone dan kak Yohio sampai main bersama kami," ucap Kanon.
"Rasanya menyenangkan, kami seperti bermain bersama kak Yuu dan kak Lui," lanjut Anon.
Kokone dan Yohio terdiam, Gakupo dan Luka tersenyum. Mereka senang mempunyai adik seperti mereka, meskipun sifat mereka berbeda-beda sampai membuat mereka kewalahan. "Kalian… hiks… terima kasih…" Kokone menangis senang.
"Wow… kalian membuatku terharu, tapi kenapa Yuuma diam saja? Kau tidak ingin mengatakan sesuatu pada kami?" tanya Yohio dengan senyuman jahil, dia tahu sifat adik iparnya yang satu ini.
"Hm? Tidak ada yang ingin kukatakan pada kalian, aku sih setuju-setuju aja sama mereka, toh… kalian emang kakakku," jawab Yuuma acuh tak acuh.
"Kami sudah menduga kau akan bilang itu," kata semua orang.
"Baguslah kalau begitu," Yuuma tersenyum.
[Beberapa minggu setelah tahun baru]
"Hah… aku beneran datang ke sini… kupikir aku tidak akan ke sini lagi berkat insiden itu. Aku jadi harus pergi diam-diam biar gak ketahuan Lui," gumam Yuuma di depan sebuah pintu rumah yang besar.
Yuuma menekan bel rumah tersebut, 'Katanya ayah sudah keluar dari rumah sakit, tapi karena depresi dia tidak mau melakukan apapun,' batinnya.
Cklek!
Pintu terbuka, menampilkan seorang laki-laki berambut pirang, "Ah! Kau beneran datang?" Yohio tersenyum.
"Y-ya… kak Kokone yang menyuruhku ke sini, tapi karena jadwalku padat, aku baru bisa datang sekarang. Maaf…"
"Hei… kenapa minta maaf? Pintu ini selalu terbuka untukmu kapanpun kau akan datang ke rumah ini. Masuklah," Yohio mempersilahkan laki-laki berambut pink tua itu masuk.
"Ngomong-ngomong… kau tidak datang bersama Lui?" tanya Yohio.
"Tidak. Aku yakin 100% kalau aku tidak diperbolehkan datang ke rumah ini jika Lui bersamaku. Mungkin karena trauma? Lui pernah cerita kalau aku bisa masuk rumah sakit karena penculikan dan disiksa di sini," jawab Yuuma.
"A-ah… maafkan kami atas insiden itu, aku benar-benar minta maaf. Kejadian itu benar-benar di luar rencanaku, kukira kalian bisa menyadarkan Kokone sebelum dia lepas kendali,"
"Itu 'kan sudah berlalu, kak Yohi gak perlu minta maaf. Ah! Ini kamar ayah 'kan?" tanya Yuuma memastikan.
Laki-laki bermata ruby itu menatap Yuuma, "Kau… mendapatkan ingatanmu Yuuma?"
"Masih belum. Hanya saja rumah ini terasa familiar, itu saja," jawab Yuuma bohong.
"Hah… sudahlah kau masuk saja, sepertinya kami meminta tolong padamu sekali lagi. Bisakah… kamu menyadarkan ayah mertuaku sekaligus… ayahmu?" Yohio meminta tolong.
Yuuma tersenyum, "Tentu saja, kak Kokone sudah menjelaskan kondisi a… yah sebagian besar. Aku sudah memikirkan rencanaku," ucapnya kemudian masuk ke kamar ayahnya.
'Ah… ayah… aku rindu padamu,' batinnya.
Berjalan pelan, Yuuma menghampiri pria paruh baya yang duduk di kursi roda menghadap balkon. "Ayah? Ini Yuuma… apa ayah ingat aku?" tanyanya pelan.
Pria paruh baya tersebut menoleh, sedetik kemudian, matanya berkaca-kaca, "Bahkan… kau masih menghantuiku sampai sekarang, apa arwahmu belum tenang di sana nak?" tatapan kosong menyapa Yuuma.
"Oh ayah… pasti ayah menderita 'kan? Karena aku. Ini benar-benar Yuuma, anakmu yang tidak punya perasaan ini masih hidup," Yuuma memeluk ayahnya lembut.
"Hi… dup? Nak… apa kamu tidak ingat? Kau mati dalam ledakan itu! Jasadmu terbakar tak tersisa bersama api!" seru ayah mengguncang tubuh Yuuma.
"Yah… apa ayah tidak percaya sama Yuuma?Jika aku sudah mati… apa aku bisa berbicara dengan ayah di umurku yang ke-17 tahun ini? Ayah ingat 'kan kalau aku mati di umur 10 tahun… apa aku mendatangi ayah dengan umurku yang sekarang ini? Aku benar-benar Yuuma yah… aku selamat dari ledakan itu," jelas Yuuma sambil menangis.
"Aku akan menceritakan semua yang aku tahu, setelah itu ayah putuskan apa ayah akan percaya atau tidak. Tapi, tolong jangan bicarakan ini pada siapa pun,"
[Di luar kamar sang mertua]
Yohio berjalan mondar-mandir dilihat dengan istrinya yang menggigit kuku jari, "Kira-kira… apa yang akan di katakan pada Yuuma?" tanya Kokone membuat Yohio berhenti melakukan aktifitas gak gunanya.
"Aku… tidak tahu, tapi ayah tidak berteriak sama sekali seperti kau yang mencoba mensadarkan ayah dulu," jawab Yohio.
"Mungkin… di dalam sana… terjadi sesuatu yang baik," lanjut Yohio.
Cklek!
Pintu kamar terbuka, menampilkan sang ayah yang menangis bahagia dan Yuuma yang tersenyumsenang. Terdapat bekas air mata di sana. "Kokone anakku… kemari nak…" Ayah membuka tangannya bermaksud untuk memeluk anak sulungnya.
Perempuan berambut cokelat itu mengerti maksud sang ayah, dia berlari memeluk sang ayah yang sangat ia rindukan, "Maafkan ayah nak… ayah hanya memperhatikan adikmu sampai kau kekurangan perhatian ayah," Ayah mengusap punggung Kokone.
Yuuma dan Yohio tersenyum, "Hei… adik ipar, apa yang kau katakan pada ayah mertua hm?" tanya laki-laki bermata ruby tersebut.
"Kau ingin tahu kakak ipar? Maka tidak akan kuberitahu, ucapanku sama seperti dokumen rahasia milik negara," jawaban Yuuma membuat Yohio mendengus pelan meskipun senyuman masih terpasang di wajahnya.
"Hah… apapun yang kau katakan… sepertinya itu sangat baik,"
Ting! Ting!
Untuk kedua kalinya, bel rumah besar tersebut berbunyi, "Ah! Mereka datang! Bisakah kau membukakan pintunya menyambut tamu kita? Aku akan tetap di sini mengawasi mereka berdua," pinta Yohio.
"Ini rumahmu, kenapa menyuruhku yang juga seorang tamu?" gerutu Yuuma.
"Hei hei… jangan lupakan kalau kau bagian dari kami ya? Meskipun kau keluarga Megurine, rumah ini masih termasuk rumahmu," Yuuma mendecih dan melaksanakan perintah kakak iparnya.
Yuuma hanya bisa mengumpat dalam hati setelah melihat 'tamu' yang dikatakan Yohio, "Kak Yuuma! Kenapa kau ke sini tanpa mengajakku?" tanya Lui segera setelah kakaknya tersebut membukakan pintu.
"S-sebelum itu… kalian semua masuk dulu," Yuuma mempersilahkan masuk enam orang tersebut.
"Woah… jadi ini rumahmu? Aku baru tahu kalau kau masuk anggota keluarga Hotsuka sebelum masuk ke panti hm? Jadi kau benar-benar anak kedua Hotsuka yang hilang itu?" tanya Luka yang kelihatan menyindir.
"Ya ya ya, anggaplah seperti itu. Kalian duduk dulu, aku akan memanggil mereka. Aku berterima kasih pada kak Luka yang telah memberitahu tentang aku yang berkunjung ke sini," kata Yuuma menatap Luka nyalang kemudian meninggalkan mereka memanggil sang tuan rumah.
"H-hei… sejak kapan Yuuma berani menatapmu seperti itu?" tanya Gakupo agak takut pada sifat Yuuma.
Luka tertawa hambar, "Sejak dia masuk ke panti asuhan, kau tahu? Dia akan menatapku seperti itu saat urusannya yang tidak ingin orang lain tahu dan aku membongkarnya,"
"Ah… tentu saja dia berani menatapmu seperti itu,"
"Hei… Anon, Kanon… tolong berhenti berlari, ini rumah orang," tegur IA.
"Wah… jadi ini keluargamu yang sekarang Yuuma? Kau tinggal bersama keluarga yang baik," kata Ayah yang baru saja datang di bantu oleh Yuuma. Otomatis 'sang tamu' langsung berdiri.
"Hm… mereka benar-benar keluarga yang baik," jawab Yuuma lirih.
"Kau malu Yuuma?" tanya Kokone.
"Tolong jangan menggodaku di sini kak,"
"A-ah… Anda…" Luka menggantungkan ucapannya.
"Ah! Seperti yang kalian duga… aku… ayahnya Yuuma, terima kasih telah merawat anakku yang sedikit merepotkan ini," Ayah menundukkan kepalanya yang langsung di balas oleh Luka.
"A-ah… tidak masalah, Yuuma tidak merepotkan sama sekali,"
Setelah itu, kedua keluarga tersebut mulai berbincang-bincang, membicarakan kehidupan Yuuma di keluarga Hotsuka dulu dan kehidupan anak panti. Setelah itu hening melanda, "Hmm… karena kami tahu kalau Yuuma adalah anak keluarga Hotsuka yang hilang… apa Yuuma akan tinggal di sini?" tanya Luka membuka topik yang sedikit membuat orang canggung.
"Ah itu… kuserahkan pada anaknya sendiri, aku tidak mau memutuskan secara sepihak," jawab Ayah.
Semua orang langsung menatap Yuuma yang sibuk bermain dengan ketiga adiknya. Merasa di tatap, Yuuma membalas tatapan tersebut, "Apa? Kenapa kalian semua melihatku seperti itu?" tanya Yuuma.
"Kau mendengarnya 'kan Yuuma? Jadi pilih mana?" tanya Gakupo.
Yuuma menghela nafas, "Aku benar-benar tidak ingin menjawabnya," gerutunya.
"Tolong jangan menjawab dengan gerutuan," Yohio menyindir.
"Secara normal… tentu saja aku pilih keluarga asliku," jawaban Yuuma membuat pihak Megurine sedikit murung.
"Tapi…"
"Tapi?"
"Karena aku sudah tidak dianggap hilang melainkan mati oleh masyarakat, maka aku akan tetap tinggal di keluargaku yang sekarang," kali ini yang murung di pihak Hotsuka.
"Aku memang anak kedua Hotsuka, tapi aku tumbuh di keluarga Megurine. Mereka juga yang merawatku sampai sebesar ini, apalagi aku menjadi seorang kakak di sini. Tapi tenang saja, aku akan ke sini sesering mungkin jika waktuku luang. Dan mungkin saja aku bisa membawa mereka ke sini lagi untuk menginap di hari libur," Yuuma mengakhiri jawaban yang merupakan keputusannya.
"Baiklah kalau itu yang kau inginkan, kami akan menunggumu di sini. Jadi tolong tepati janjimu itu. Dan tentang adikmu itu, rasanya ayah menjadi seorang kakek. Ayah jadi pingin cucu dari para anak mertuaku ini," Ayah melihat kedua pasang suami-istri tersebut.
'Minggu lalu Yuuma dan saudaranya, kali ini ayah sekaligus mertua kami 'kah… gak anak gak ayah sama saja,' tentu saja mereka berempat hanya bisa menggerutu dalam hati.
[Side Story. END]
Dengan ini... YUKI telah dinyatakan TAMAT!
Terima kasih yang telah mendukung cerita ini!
Akhir kata...
Review please!
