Previous..
"Kenapa kau membawaku kesini?"
Saat ini keduanya berada di pondok kecil yang berada tak jauh dari rumah mereka dulu. Luhan duduk menyender di ranjang sementara Sehun duduk di bangku kecil memandang istrinya yang akhirnya bersuara setelah hampir setengah jam hanya diam tak mempedulikannya.
"Entahlah…hanya ingin." Jawabnya memandang Luhan yang kini sedang melihat pohon natal yang Sehun hias secara khusus sebulan yang lalu.
"Kau sudah merencanakannya." Luhan mengoreksi Sehun yang tampak terkekeh.
Merasa Luhan sudah lebih tenang, Sehun pun berani mendekati Luhan dan duduk di tepi ranjang mengusap sayang wajah istrinya.
"Ini adalah tempat pertama kali kita menghabiskan malam natal bersama. Hanya kita dan belum ada Ziyu di tengah-tengah kita. Aku hanya ingin mengulangnya." Katanya kembali mengecup bibir istrinya yang tampak dingin sedikit melumatnya berharap Luhan merasa hangat di pondok tua yang hanya muat untuk dua orang ini.
"Setidaknya untuk malam inii, aku ingin kenangan tentang Ziyu kita simpan dihati kita masing-masing sayang. Aku ingin kau berhenti menyalahkan dirimu. Aku ingin setidaknya kau kembali menyukai natal dan salju, bukan hanya menyukai salju." Ujarnya semakin mengusap wajah Luhan dan menjelaskan maksudnya.
"Aku mempersiapkan semua ini hanya untuk mengingatkanmu. Sebelum ada Ziyu hanya ada kau dan aku. Begitupun saat Ziyu pergi. Hanya ada kau dan aku. Jadi aku tidak ingin kau membenci apa yang kau suka hanya karena Ziyu telah pergi. Ziyu tidak benar-benar pergi kan? Dia ada disini. Apa kau mengerti?"
Sehun membawa tangan Luhan menuju dadanya seolah mengingatkan Luhan bahwa Ziyu masih ada di sekitar mereka. Luhan pun mengangguk lemah membenarkan seluruh ucapan Sehun untuk malam ini, membuat Sehun tersenyum lega dan sangat bahagia.
Sehun kembali mengusap wajah Luhan dan memandang lekat wajah istrinya yang terlihat kelelahan.
"Selamat natal Lu." Sehun mengecup lama kening Luhan dan sangat menyesal karena dirinya tak bisa menjaga satu-satunya hidupnya dengan baik.
"Selamat natal Sehunna." Sehun yang sedang mengecup kening Luhan tersenyum haru mendengar Luhan membalas ucapannya dengan suara seperti saat pertama kali Luhan mengucapkan selamat natal untuknya.
Suara yang begitu menenangkan berhasil menjerat Sehun, membuatnya merindukan secara tak wajar si pemilik suara, membuatnya teringat bahwa dirinya benar-benar bukan dirinya lagi semenjak Luhan memasuki hidupnya.
Triplet794 present new story
.
.
.
Mereka berdua adalah pasangan yang dikatakan unik menurut semua orang yang mengenalnya, dimana yang satu merupakan "penyembuh" dan yang satu merupakan "pembunuh". Bertolak belakang namun menjadi satu karena takdir yang menjerat mereka.
.
.
.
Entangled
Main Cast : Sehun & Lu Han
Genre : Romance, Family, Hurt/Comfort
Rate : M
Length : Chapter
YAOI. Typo (s)
HUNHAN STORY!
.
.
.
.
.
Keesokan paginya di sebuah pondok kecil yang terletak didalam hutan terlihat dua insan yang masih tertidur pulas dimana yang satu memeluk erat dan posesif tubuh mungil didekapannya sementara yang lebih cantik memeluk dan bersandar nyaman di dekapan sang suami yang entah sudah berapa lama keduanya tidak tidur bersama semenjak kejadian yang membuat mereka kehilangan putra mereka terjadi.
Semalam keduanya sempat bersitegang mengenai hal yang sangat tidak disukai Luhan setiap kali melihat suaminya memiliki goresan dan terluka di tubuhnya karena semua itu hanya mengingatkan pada Luhan bahwa kenyataan mereka harus kehilangan putra mereka adalah karena Sehun dan pekerjaannya adalah satu-satunya hal yang juga bisa membuat mereka kehilangan satu sama lain tanpa terduga. Membuat Luhan tak pernah bisa untuk tidak mengkhawatirkan Sehun secara berlebihan. Berusaha meminta pada suaminya untuk berhenti dan saat Sehun menolak, dia tidak mempunyai pilihan lain untuk bersikap tegas pada suaminya dengan memintanya memilih dirinya atau dunia mengerikan yang hingga hari ini ia geluti.
Namun Sehun selalu mempunyai cara untuk menenangkan istrinya, disaat Luhan sedang sangat marah dan tak bisa dibujuk hal yang harus ia lakukan hanyalah diam sampai akhirnya Luhan dengan seluruh kebaikan hatinya tidak akan tega melihat dirinya yang hanya memandang berharap pada istrinya.
Sehun sudah memberitahu istrinya bahwa dia membawa Luhan ke pondok kecil ini bukan tanpa maksud, dia ingin Luhan menyadari bahwa sebelum ada Ziyu di tengah-tengah mereka, keduanya hanya memiliki satu sama lain. Begitupun setelah kepergian Ziyu, tidak ada yang mengubahnya kecuali tawa anak mereka yang sudah tak dapat mereka dengar lagi.
Dan sekali lagi Luhan mempercayai suaminya, dia kembali memeluk Sehun dan mempercayakan semuanya pada Sehun Setidaknya untuk malam inii, aku ingin kenangan tentang Ziyu kita simpan dihati kita masing-masing sayang. Aku ingin kau berhenti menyalahkan dirimu. Luhan mengangguk menyetujui permintaan suaminya malam tadi, membuat keduanya saling membuka diri dan berakhir dengan saling bersahutan memanggil nama masing-masing saat keduanya menyatukan tubuh mereka bersama, berusaha mencairkan rasa rindu dan rasa sesak yang saling menghimpit dan tak kunjung hilang yang selalu mereka rasakan.
Sampai akhirnya pria yang berprofesi sebagai dokter menggeliat dan membuka matanya, dia sedikit merasa asing dengan tangan yang melingkar posesif di pinggangnya dan aroma khas yang selalu membuatnya terjatuh lagi dan lagi pada sosok yang sedang memeluknya erat, dia sedikit mendongak dan tersenyum sangat cantik menebak-nebak kapan terakhir kali ia bangun dengan wajah tampan suaminya yang pertama kali ia lihat.
Luhan tersenyum tersipu dan kembali menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya, membuat pergerakan lain yang berasal dari pria tampan yang tampak terusik karena pria cantinya terlalu banyak menggerakan tubuhnya.
"Wajahmu saat bangun tidur selalu menjadi favoritku. Selamat pagi Lu."
Sehun sedikit menurunkan wajahnya, mencium pucuk kepala Luhan yang kini mendongak ke arahnya. "Selamat pagi Sehunna." Katanya membalas dan sedikit mengecup bibir suaminya yang terlihat lucu jika baru membuka matanya di pagi hari.
"Hah~..kapan terakhir kali aku mendapatkan ciumanku di pagi hari." Katanya terkekeh mengingat terakhir kali Luhan tidur bersamanya adalah enam bulan yang lalu. Karena biasanya jika Sehun datang hanya untuk menjamah istrinya dia akan pulang pada malam itu juga karena Luhan pasti akan berakhir marah dan berteriak padanya.
"Salahkan dirimu yang selalu bermalam di markasmu."
"Aku tidak ingin membahasnya sekarang sayang." Gumam Sehun mengingatkan Luhan untuk tidak memulai topik yang bisa membuat mereka bertengkar hebat.
"Apa kau tidak pergi hari ini?"
Sehun mengecup pucuk kepala Luhan dan semakin mengeratkan pelukannya pada istrinya "Hari ini aku milikmu." Gumamnya memberitahu Luhan yang terlihat sangat bahagia.
"Benarkah?" katanya memastikan kalau Sehun tak hanya menghiburnya.
"Iya benar sayang. Lagipula aku mempunyai kejutan untukmu."
Luhan tampak mengernyit dan menebak-nebak kejutan apa yang dimaksud oleh suaminya.
"Kejutan?"
Tak ada yang bisa Sehun lakukan selain tersenyum menatap istrinya yang sedang menjadi Luhannya bukan Luhan yang dingin dan tak berekspresi yang biasa dipanggil dokter Oh
..
..
..
Blam…!
Terdengar beberapa mobil berhenti di suatu tempat mengikuti mobil yang berada di tengah, dan tak lama Kai yang membawa mobil yang berada di tengah membukakan pintu untuk kedua majikannya yang sepertinya sedang akur dan tak bertengkar di hari natal seperti malam ini.
"Silahkan Tuan."
"Sehun apa aku sudah bisa melepas tutup mataku?"
Terdengar Luhan bertanya hampir di sepanjang jalan karena Sehun bersikeras memintanya untuk menutup mata selagi ia membawa Luhan untuk mendapatkan kejutannya.
"Sebentar lagi sayang." Bisiknya membantu Luhan keluar dari mobil dan kembali memeluk posesif pinggang kecil istrinya.
"Kalian boleh pergi."
Mengikuti perintah Sehun, semua penjaganya kecuali Kai meninggalkan tempat parkir dan berjaga di sekitar tempat yang sudah lama tak dikunjungi oleh kedua majikan mereka.
"Aku harap kau senang Lu." Sehun berbisik di telinga Luhan dan
Sret..!
Dengan cepat dia membuka penutup mata Luhan. Luhan pun beberapa kali mengerjapkan matanya dan tiba melangkah mundur karena merasa belum siap datang ke tempat Sehun membawanya.
"tidak.." gumamnya yang langsung memeluk Sehun erat dan langsung terisak karena merasa kejutan dari Sehun cukup membuka luka lama untuknya.
"Aku tahu kau belum siap Lu. Tapi selamat datang kembali ke rumah. Hadapilah sayang-..Hadapi ketakutanmu walau sudah tak ada Ziyu di tengah-tengah kita." Sehun mengelus sayang punggung Luhan yang semakin bergetar.
Dia tahu dia terlalu memaksakan Luhan untuk segera menghapus kesedihannya dengan membawanya pulang ke rumah mereka. Tempat dimana kenangan indah mereka bersama Ziyu tertinggal. Luhan menolak pulang kerumah seminggu setelah Ziyu dimakamkan. Sehun bahkan harus membawanya ke psikiater untuk memeriksakan kondisi psikologis Luhan yang sangat terpukul dan terus menerus menjerit setiap kali melihat barang-barang yang berhubungan dengan putra mereka.
Semenjak itu, Sehun membawa Luhan pindah ke apartemen miliknya sampai akhirnya Luhan memutuskan untuk tinggal sendiri di apartemen pilihannya dengan alasan tak bisa tinggal dengan Sehun karena Sehun terlalu sibuk dengan pekerjaannya.
"Aku tidak bisa Sehunna." Gumamnya mencengkram punggung Sehun dan semakin menyembunyikan wajahnya di pelukan suaminya.
"Dengarkan aku-.." Sehun menangkup wajah Luhan dan memaksa Luhan menatapnya.
"Bukan hanya kau yang takut, aku juga takut sayang. Tapi kita akan selalu baik jika bersama, kau sendiri yang mengatakannya padaku. Sekarang Lihatlah rumah kita." Sehun membalikan tubuh Luhan dan memeluk erat istrinya dari belakang sambil menunjuk ke rumah yang sangat besar yang didirikan Sehun sesuai dengan keinginan Luhan.
"Itu rumah kita-..Rumah impianmu. Kita sudah meninggalkannya hampir setahun lamanya. Tidakkah kau merindukannya."
Luhan tak menjawab, hanya semakin mencengkram erat tangan Sehun yang melingkar di pinggangnya, dia terlalu takut melihat rumahnya. Karena setiap masuk kedalam rumahnya bayangan Ziyu terhempas ke jalan raya dengan darah di sekujur tubuh kecil putranya selalu membuat Luhan merasa sesak dan tak bisa menahan diri untuk tidak berteriak.
"Kita masuk kedalam ya?" Sehun bertanya meletakkan dagunya di bahu Luhan, mengelus tangan yang terus mencengkramnya erat karena tubuhnya masih menegang dengan hebat.
"Aku menemanimu Lu."
Kata-kata Sehun seperti sihir untuk Luhan, dia menyadari kalau suaminya sedang memohon berharap padanya, membuatnya tak ingin mengecewakan Sehun dan dengan seluruh keberanian yang ia miliki dengan Sehun disampingnya, Luhan mengangguk lemah "Selamat datang dirumah Sehunna." Gumamnya membuat Sehun tersenyum lega dan Kai yang melihatnya ikut tersenyum karena perlahan Luhan mulai bisa mengatasi traumanya dengan Sehun yang selalu sabar menunggunya.
Sehun kemudian mengecup lama kening Luhan dan mulai menggenggam tangan istrinya yang sangat dingin untuk perlahan memasuki rumah mereka, sementara Kai berjalan didepan kedua majikannya dan sekali lagi dirinya akan menjadi saksi bagaimana perjalanan kehidupan cinta Sehun dan Luhan yang begitu rumit bahkan saat keduanya sudah bersama dan menjadi sepasang suami istri.
Cklek..!
"Silahkan Tuan." Kai membukakan pintu utama untuk Sehun yang masih mendekap erat Luhan yang terlihat semakin memucat dan semakin tegang saat mendekati rumah mereka.
Dia kembali mengecup pucuk kepala Luhan dan terus membisikan kalimat yang selalu membuat Luhan merasa jauh lebih baik.
"Selamat datang Tuan besar-…Selamat datang Luhan."
"Bibi Kim."
Luhan berlari memeluk pengurus rumah tangga yang merupakan ibu kandung Kai, yang sudah ia anggap seperti ibunya sendiri. Terakhir kali dia melihat wanita paruh baya ini adalah saat di pemakaman Ziyu, setelahnya dia mendengar dari Kai kalau ibunya juga jatuh sakit membuatnya tak bisa berpamitan saat meninggalkan rumah.
"Anakku sayang, kenapa terlihat sangat kurus." Gumam Bibi Kim memeluk Luhan yang sedang terisak di pelukannya dengan erat.
"Aku sudah menyiapkan makan malam untukmu dan tuan besar. Jadi tunggulah sebentar nak. Aku akan memastikan kau makan dengan banyak kali ini." bibi Kim memberitahu Luhan dan sedikit membungkuk menyapa Sehun, lalu kembali ke dapur agar kedua majikannya bisa cepat untuk menyantap makan malam di malam natal bersama.
Sehun tersenyum lega mengetahui Luhan yang sudah bisa menerima kenyataan di rumah ini dengan lebih baik. Belum terbisasa tapi setidaknya istrinya sudah mau kembali menapakan kakinya dirumah impiannya sendiri.
"Kau mau berkeliling?" Sehun kembali memeluk Luhan dan bertanya pada istrinya yang sedang melihat ke sekeliling rumahnya.
"Hmm…" katanya mencium tangan Sehun yang sedang memeluknya.
"Apa ingin aku temani?"
Luhan menggeleng lemah dan berbalik menatap suaminya "Aku bisa mengatasi rasa takut ku. Kau tunggulah disini, aku akan berkeliling sebentar. Aku sangat merindukan rumahku." Gumamnya tersenyum sangat cantik memberitahu Sehun.
"umh…baiklah. Panggil aku jika kau butuh sesuatu."
"Sehun, ini rumahku. Dan aku lebih banyak tahu tentang semua isi dan segala yang berada dirumah ini kan?"
Sehun sedikit tertawa karenanya "Ya kau benar nyonya Oh." Gumamnya mencium sayang kening Luhan dan membiarkan istrinya berkeliling sementara dia hanya duduk di temani Kai yang sepertinya juga lega melihat Luhan lebih baik.
"Apa menurutmu kami bisa kembali bersama tinggal disini?"
Kai sedikit tersenyum dan menatap majikannya dengan yakin "Anda berdua mempunyai banyak alasan untuk tetap bersama. Dan pada akhirnya rumah ini akan kembali seperti dulu saat Ziyu masih bersama dengan kita semua."
Sehun tersenyum lirih mendengar penuturan pria yang tumbuh besar dengannya ini. "Gomawo Kai." Ujarnya melirik Kai sekilas yang hanya tersenyum mengangguk.
Sementara Luhan terus menerus melihat rumahnya yang ia bangun dari nol bersama Sehun. Sehun menghadiahkan rumah ini sebagai hadiah pernikahan untuknya. Mengingat rumah impian Luhan adalah sesuatu yang cukup unik, membuatnya takjub karena Sehun benar-benar membangunnya seperti impiannya.
Dia perlahan memasuki kamarnya dan Sehun dan bersumpah akan berterimakasih pada bibi Kim yang selalu merawat rumahnya dengan baik tanpa mengubah tata letaknya sedikit pun. Parfum favorit Sehun bahkan masih tertata rapih di meja riasnya yang juga terdapat beberapa barang Luhan. Dia melihat bingkai foto pernikahannya dengan Sehun sekilas. Tersenyum simpul mengingat betapa Sehun berusaha keras mewujudkan pernikahan mereka disaat Luhan tak keberatan untuk tidak mengikat janji karena merasa hidupnya sudah sempurna saat itu. Dia memiliki Sehun dan Ziyu-..Tidak ada yang lebih membahagiakan daripada semua hal itu untuk Luhan.
Luhan mengambil foto pernikahannya dan melihat sekilasnya sampai matanya menangkap sesuatu yang seperti album tersimpan dilaci tempat tidurnya.
Luhan mengernyit dan kemudian mengambil album tersebut dan membukanya perlahan dan sedikit terkejut tak mengingat kalau dirinya mempunyai album yang begitu lengkap mulai dari saat dia mengandung Ziyu hingga akhirnya Ziyu lahir dan saat Sehun menggendong putranya di acara pernikahan mereka.
"Kalian bahkan begitu mirip. Maaf tidak bisa membuatmu bermain bersama appa lebih lama nak."
Luhan mengelus wajah Ziyu dan Sehun yang sedang tertawa di album foto, mersa sekelibat perasaan menyakitkan kembali ia rasakan sampai dia merasa sepasang tangan yang selalu menghangatkannya kembali melingkar di pinggangnya seolah membantunya untuk berdiri dan tak jatuh.
"Kau baik-baik saja?" Sehun bertanya tampak memperhatikan wajah istrinya yang tiba-tiba memucat.
Luhan mengangguk dan menoleh Sehun sekilas "Aku tidak ingat kita memiliki album foto ini."
"Saat itu kau memiliki hobi dadakan mengambil gambar semua gerakanku dan Ziyu-..Jadi tentu saja kita memiliki foto tersebut sayang. Aku yang mencetak semua yang ada di kameramu lalu meletakannya disini. Kau menyukainya?"
Luhan kembali tak berkata dan hanya membalikan badannya memeluk Sehun erat. Sebuah kebiasaan yang selalu ia lakukan saat merasa sangat senang atau sangat sedih. Mencari sandaran agar ada yang bisa menenangkannya.
"Aku pasti sangat merepotkan." Luhan bergumam di pelukan Sehun dan merasa menyesal karena Sehun harus mengurusi semua keegoisannya.
Sehun tersenyum dan menangkup wajah Luhan "Aku tidak merasa keberatan dibuat kerepotan oleh malaikat." Gumamnya tersenyum dan perlahan wajahnya mendekat beberapa senti dari wajah Luhan sedikit memiringkan kepalanya dan mengecup lembut bibir plum milik Luhan membuat Luhan melingkarkan lengannya dileher Sehun dengan erat mendorong kepala Sehun agar memperdalam ciumannya. Sehun sedikit melumat bibir Luhan membuat Luhan sedikit mengerang menjambak rambut Sehun dengan nafas memburu. Lidah Sehun bermain dirongga mulut Luhan bergerak seduktif menyusuri bibir Luhan dengan cermat, memaksa istrinya untuk sekali lagi menyerah kedalam gairah yang coba Sehun berikan untuknya.
"Apa boleh?"
Suara itu menjadi berat dan saat mata innocent itu bertanya pada Luhan, membuat Luhan menyerah karena sekali lagi dirinya akan selalu terjatuh pada pesona Sehun yang semakin membuatnya selalu memujanya.
Luhan mengalungkan lehernya dan sedikit berjinjit kemudian menjilat menggoda bibir suaminya seolah memberikan jawabannya untuk apa yang akan mereka lakukan selanjutnya "Lakukanlah." Gumam Luhan memberikan persetujuannya membuat bibir suaminya tersenyum senang karena tak ada penolakan berarti dari Luhan seperti malam kemarin.
Dengan sedikit kasar Sehun meletakkan tubuh mungil itu kearah kasur. Luhan terlentang pasrah diatas tempat tidur sementara Sehun langsung menindih tubuh itu dan segera meraup bibir merah milik Luhan kedalam mulutnya.
Lidah Sehun menerobos masuk kedalam mulut Luhan untuk menemukan lidah Luhan. saat lidah mereka berdua telah bertemu keduanya mengkaitkan lidah mereka menjadi satu sampai saliva mereka pun saling tertukar. Sehun mengeluarkan lidah Luhan dengan lidahnya lalu mengulum lidah itu yang sudah berada diluar. Luhan mendesah nikmat kala Sehun melakukan itu. Setelah puas dengan mengulum lidah Luhan,Sehun segera menarik bibir bawah Luhan dengan bibir tipisnya dan tanpa membuang waktu langsung mengulumnya membuat bibir bawah itu menjadi sangat bengkak dan berwarna merah terang.
"hmhhhh…haaah" desah keduanya saat mereka mencoba mengambil udara untuk bernafas.
"Kau cantik sayang." Gumamnya mengelus bibir Luhan yang masih mengambil nafas karena ciumannya yang menuntut.
Sehun kemudian menelusuri wajah Luhan dengan lidahnya. Lalu secara perlahan turun sehingga sampai dileher Luhan, mengecup sesekali menghisap leher jenjang istrinya, memberi tanda bahwa tubuh yang berada dibawahnya hanya miliknya seorang.
"engghh….." desah Luhan sambil menggeliatkan tubuhnya. Sementara tangan Sehun yang menganggur mencari sesuatu yang dapat membuat istrinya merasakan nikmat.
"hmh…" Sehun kembali menggenggam junior Luhan dengan tangannya membuat Luhan tersentak. Karena saat ini tangan suaminya sedang bekerja dengan lihainya memberikan kenikmatan untuknya.
"agghh…mmhh…akhhh" erang Luhan. ia merasakan suatu kenikmatan yang tak bisa diungkapkan oleh kata-kata saat alat vitalnya itu di jamah oleh suaminya sementara lehernya terus dikecup tanpa ampun oleh Sehun. Tangan Luhan hanya berada dipinggang Sehun dengan tak jarang mengusap atau mencengkram pinggang kekar itu saat merasakan kenikmatan yang Sehun berikan melalui lidah dan tangan itu.
Sehun terus saja melakukan kegiatannya itu. Masih dengan mengocok junior Luhan secara buas,Sehun kembali mensejajarkan wajahnya pada wajah Luhan. Mata Luhan terpejam dengan sangat erat dan tubuhnya menggeliat tak nyaman karena yang dilakukan Sehun pada juniornya terasa sangat nikmat.
Sehun mencium kedua mata Luhan yang tertutup secara bergantian. Luhan yang menyadari ada sesuatu yang menyentuh kelopak matanya segera membuka mata. Ia memandang sayu kearah Sehun yang juga sedang memandangnya. Ia tersenyum kearah suaminya membuat Sehun kembali menautkan bibirnya pada bibir merah menggoda milik Luhan yang sudah sangat membengkak itu.
"Aku akan mulai." Gumamnya memberitahu Luhan yang tiba-tiba memekik
"arrghhh..!"
Sehun menggerakkan jari tengahnya itu secara pelan karena Luhan masih terus merintih sakit tapi setelah dirasa Luhan sudah mulai nyaman,Sehun menggerakkan jarinya keluar masuk secara cepat. Lalu Sehun mengeluarkan jari tengahnya meski tidak sampai terlepas lalu ia kembali menghentakkannya kedalam bersamaan dengan masuknya jari lain kedalam lubang milik Luhan itu.
Luhan tersentak saat dua jari itu masuk dan terasa mengaduk-aduk lubangnya. Luhan mengerang nikmat saat kedua jari Sehun yang panjang itu menyentuh sesuatu didalam lubangnya.
Tubuh Luhan menegang. Ia memejamkan matanya dengan erat dan mendongakkan kepalanya keatas saat Sehun terus saja menusuk tepat dibagian itu.
"anggg akhh…hmphhh" desah Luhan. tubuhnya ikut terguncang karena tusukan Sehun yang lumayan cepat.
Saat Luhan sudah mulai tak sadar dengan sekelilingnya,Sehun mengeluarkan secara paksa kedua jarinya dari dalam lubang Luhan membuat desahan kecewa terdengar dari bibir istrinya.
"akhhh".
Tanpa mendengar desahan kecewa dari Luhan,Sehun segera membawa juniornya kedepan lubang milik Luhan,sepertinya Sehun sudah tak sabar untuk memasukkan juniornya kedalam lubang hangat istrinya.
Tanpa meminta ijin terlebih dahulu,Sehun langsung saja melesakkan juniornya itu kedalam lubang Luhan dan hal itu kembali membuat Luhan memekik sambil menengadahkan kepalanya.
"aaarkhh…!"
Sehun masih berusaha memasukkan ujung juniornya kedalam lubang Luhan yang masih saja ketat. Selama Sehun berusaha,Luhan tak henti-hentinya membuka mulut dan mengeluarkan desahan yang membuat Sehun semakin bersemangat memasukkan juniornya itu karena suara desahan dan erangan itu seperti sebuah suruhan agar Sehun lebih cepat menyatukan tubuh mereka.
Sehun memundurkan penisnya lalu dengan hentakkan cepat dimasukkannya kedalam lubang Luhan dan kali ini usaha Sehun tidak sia-sia. Akhirnya penis miliknya masuk juga kedalam lubang sempit milik Luhan.
"emmng…"
Sehun mengatur nafasnya sambil mendiamkan juniornya yang sudah masuk. Memberi kesempatan untuk Luhan agar beradaptasi dan merasa nyaman.
"Aku akan mulai sayang…hmphhhh" ujar Sehun sambil mendesah karena merasakan juniornya sedikit terpijat oleh dinding lubang anus Luhan yang berdenyut.
Luhan mengangguk memberikan izin pada suaminya untuk segera bergerak dan membuatnya merasakan kenikmatan.
Sehun memundurkan juniornya dalam posisi maksimal yang hampir keluar dari lubang Luhan. tangan Sehun memegang kedua lutut Luhan yang berada disamping kanan dan kirinya dengan erat lalu dalam hitungan tiga yang dihitung oleh Sehun sendiri,Sehun menghentakkan junior miliknya kedalam lubang Luhan.
"akhhh"
"ahh…." Desah Sehun dan Luhan secara bersamaan. Sehun melakukannya lagi. Ia terus menghentakkan juniornya dengan kuat dan cepat kedalam lubang Luhan berulang kali.
"ahh…ahhh…emmm aahhh" desah Luhan sambil memejamkan kedua matanya dengan erat. Tusukan Sehun terasa sangat nikmat dan cepat membuat Luhan lupa segalanya,rasa dari kulit junior dan dinding anusnya yang bergesek secara cepat menciptakan satu kenikmatan sendiri bagi Luhan dan Sehun.
Ia remas kepalanya dengan kedua tangan karena tak kuat merasakan kenikmatan yang sedang terjadi dibawah sana. Sehun terus memompa juniornya maju mundur didalam lubang Luhan yang terasa nikmat menjepit juniornya. Sehun dan Luhan sangat menyukai sensasi itu yang membuat seluruh organ tubuh mereka menegang.
Luhan mengangkat kedua kakinya dan melingkarkan kakinya dipinggang Sehun dan itu membuat tubuhnya ikut bergoncang dengan sangat hebat seiring dengan desakan Sehun pada lubangnya
"ahh…ahhh…Lu..hmphhh" bukan hanya Luhan yang mendesah nikmat tapi Sehun juga melakukan hal yang sama. Ia semakin terangsang dan bersemangat karena melihat Luhan yang berada didepannya sedang terguncang dengan mata tertutup serta bibir yang terus mendesah dengan seksinya.
"hmphhh…Sehun aghh arrgghh" desah Luhan semakin tak kuat.
Sehun terus menghujam tepat pada prostatnya, membuat Luhan mencengkram erat sprai ranjang yang sudah lama tak ia tempati itu. Sampai akhirnya Sehun menghentakan kuat juniornya dan sedetik kemudian
"Sehunn…ahhmppphhhh.." Luhan sudah mendapati klimaksnya diikuti Sehun yang tak lama mengeluarkan cairannya didalam lubang istrinya.
Keduanya masih memejamkan mata sampai akhirnya kedua pasang mata itu membuka dan saling menatap dengan senyum di wajah masing-masing. Berterimakasih karena masih diberi kesempatan untuk saling melengkapi di malam natal yang indah seperti malam ini.
"Terimakasih sayang." Sehun mengecup kening Luhan cukup lama, kemudian membawa istrinya untuk segera beristirahat dan tertidur di pelukannya.
Luhan hanya mengangguk sebagai respon lalu kemudian dia kembali tertidur dengan nyaman di pelukan Sehun, berharap kehangatan ini akan terus ia rasakan.
..
..
..
Luhan terbangun dari tidurnya saat menyadari kalau kedua lengan Sehun tak lagi melingkar memeluknya, membuatnya merasakan ada sesuatu yang hilang dan berniat memanggil Sehun sampai dirinya menyadari sesuatu.
"Kau mau pergi?"
Suara Luhan terdengar marah saat bertanya pada Sehun yang terlihat sedang bersiap dan membawa senjata yang ia letakkan di belakangnya.
Sehun sendiri sedikit terkejut mendengar Luhan bertanya padanya dan dengan berat hati dia pun duduk di tepi ranjang dan mengusap wajah istrinya yang berkeringat.
"Maaf membangunkanmu, tapi aku harus pergi." gumamnya mengecup kening Luhan cukup lama namun Luhan menggeliat tak nyaman dengan perilaku Sehun.
"Kemana?" katanya bertanya menahan suaranya agar tak berteriak.
"Aku harus mengurus sesuatu sayang."
"Mengurus apa?" Luhan bertanya masih dengan nada menantangnya
"Luhan aku mohon jangan seperti ini." Sehun terdengar lirih memohon pada Luhan yang terus menerus menolaknya.
"KAU YANG JANGAN SEPERTI INI!"
Sehun kembali menghela nafasnya menyadari kalau dirinya telah memancing kemarahan seorang Luhan.
"Tiga anak buahku tewas di transaksi malam ini. Aku tidak bisa tinggal diam sayang. Aku hanya sebentar dan akan kembali lagi." lirihnya menatap Luhan yang dihadiahi tawa menyeringai dari Luhan.
"Ya benar kau tidak bisa tinggal diam."
Luhan menghempas kasar tangan Sehun dan memakai asal pakaiannya yang tergeletak di lantai lalu menghapus cepat air matanya menatap Sehun dengan kekecewaan yang teramat.
"PERGI DAN TUNGGULAH KABAR KALAU GILIRANKU TEWAS DI TANGAN MUSUHMU SEBENTAR LAGI!"
"LUHAN!"
Sehun balik berteriak menghentikan ocehan Luhan yang dalam sekejap langsung mematahkan hatinya.
"AKU MEMBENCIMU SEHUNNA."
Dan setelahnya Luhan berlari meninggalkan kamarnya dan bersumpah tidak akan pernah kembali kerumahnya jika Sehun belum sepenuhnya meninggalkan pekerjaan mengerikannya.
Kai yang memang sedang berjaga dibawah melihat Luhan berlari dengan air mata di wajahnya memperlihatkan kemarahan yang pastilah berasal dari suaminya.
Dan secara otomatis pun, Kai mengambil kunci mobil Sehun, tak membiarkan pria yang diam-diam ia kagumi itu berlari di tengah malam yang dingin seperti malam ini.
"Luhan…"
Luhan hampir saja berteriak mengira Sehun yang mencengkram erat lengannya. Namun saat menyadari kalau Kai yang berada didepannya dia hanya menghapus cepat air matanya karena tak mau terlihat menyedihkan didepan pria yang merupakan suruhan suaminya yang selalu menjaganya dengan baik.
"Apa kau ingin pergi?" Katanya bertanya pada istri bosnya yang terlihat sangat menyedihkan.
"Ya" Jawabnya berusaha untuk tidak terisak.
"Baiklah aku akan mengantarmu. Silahkan masuk kedalam mobil."
Luhan awalnya ingin menolak, namun dia tahu dia hanya akan membuat Kai dalam kesulitan jika dirinya tidak pergi bersama Kai. Terhitung sudah dua orang yang Sehun bunuh hanya karena orang itu tak berhasil menjaganya dengan baik, kebanyakan karena hal kecil seperti Luhan tergores dan Luhan yang melakukan hal-hal ceroboh lainnya namun para penjaganya yang harus merasakan kemarahan suaminya.
"Silahkan masuk Luhan." Kai membukakan pintu belakang mobil, membuat Luhan berjalan pelan memasuki mobil milik suaminya.
Dan tak lama Kai menyalakan mobilnya lalu pergi meninggalkan Sehun yang hanya menatap kepergian istrinya dengan rasa bersalah karena sekali lagi dia kembali membuat Luhan menangis dan kecewa pada dirinya.
..
..
..
"Apa kau sedang bertengkar dengan tuan besar?"
Kai memberanikan diri untuk bertanya pada Luhan yang terlihat sudah jauh lebih baik.
"hmmm.." Luhan kembali menghela nafasnya dan terbayang wajah Sehun, takut jika sesuatu yang buruk terjadi pada suaminya.
"Tuan besar akan baik-baik saja." Kai sedikit menoleh ke belakang memberitahu Luhan yang tampak memucat.
"Dia tidak akan pernah baik-baik saja jika masih melakukan pekerjaan mengerikannya."
"Selama kau terus bersamanya dia akan baik-baik saja."
Luhan tersenyum miris mendengar penuturan Kai, dia merasa kehidupan rumah tangganya dengan Sehun hanya diisi pertengkaran hampir setahun belakangan ini.
"Entahlah Kai…. Aku sendiri tidak yakin bisa bertahan lebih lama dengannya." gumam Luhan yang kembali menitikkan air mata setiap kali membayangkan perpisahannya dengan Sehun.
"Bertahanlah untuknya Luhan...Dia sangat mencintaimu." gumam Kai memberitahu Luhan yang hanya menatap mobil berlalu lalang di luar jendela.
"Aku sedang tidak ingin membicarakannya."
"Baiklah aku mengerti." balas Kai yang kembali fokus menyetir
"Kai… bawa aku ke rumah sakit."
"eh? Bukankah kau tidak memiliki jadwal hari ini."
"hmmm...aku tidak memiliki jadwal operasi hari ini, aku hanya lebih nyaman berada disana. Aku akan tidur di ruanganku."
"Baiklah Luhan."
Tanpa banyak berkata Kai bergegas membawa Luhan ke rumah sakit dan berniat untuk segera memberitahu Sehun bahwa istrinya sudah lebih baik dan sudah beristirahat.
..
..
..
Saat ini Luhan sedang berjalan memasuki rumah sakit dan menuju ke ruangannya yang berada di unit bedah di lantai enam.
Saat sedang menunggu lift, ia tersenyum hangat menyadari dekorasi rumah sakit yang kini disulap menjadi sangat indah karena banyak pohon natal yang menghiasi.
Ting…!
Luhan keluar dari lift dan kembali menyusuri lorong untuk menuju ruangannya. Dia merasa rumah sakit terasa sepi mungkin karena hari ini hari natal. Dan banyak keluarga yang mendapatkan keajaiban kesembuhan dari Tuhan.
"TIDAK…..! TIDAK MUNGKIN...ANAKKU… YA TUHAN...KENAPA TAK KAU AMBIL SAJA NYAWAKU..."
Luhan menghentikan langkahnya saat mendengar teriakan yang berasal dari ruang operasi spesialis anak. Terlihat seorang wanita sedang meraung hebat di pelukan suaminya yang hanya menunjukkan wajah terlukanya.
Disana juga terlihat Baekhyun yang sedang mengumumkan waktu kematian dengan wajah yang kentara sekali terlihat kalau dia juga terpukul tak bisa menyelamatkan pasiennya di meja operasi.
Luhan terus menerus melihat wanita yang meraung tersebut, seakan merasakan dejavu yang sangat menyakitkan untuknya dan Sehun saat itu.
Sore itu, Sehun dan Luhan berusaha sekuat mungkin untuk tenang menunggu di luar sementara anak mereka sedang di tangani di dalam. Namun rasa tenang itu seperti hanya lelucon untuk keduanya mengingat peluang Ziyu untuk bertahan sangat kecil. Sehun yang paling tidak bisa menahan diri. Dia berkali-kali memukulkan tangannya ke dinding membuat luka disana, sementara Luhan hanya duduk diam mengharapkan keajaiban Tuhan didalam sana.
Cklek…!
Pintu ruang operasi itu pun terbuka, Sehun langsung berlari sementara Luhan hanya tetap duduk, bukan karena ia tidak peduli, kakinya sangat lemas dan hatinya sangat merasa sakit menyadari raut wajah Baekhyun setiap kali membawakan kabar untuk keluarga pasien.
"Baekhyun...anakku baik-baik saja kan?"
Sehun mengguncangkan bahu Baekhyun cukup kencang membuat Baekhyun benar-benar tak bisa dibuat bersuara karenanya.
"BAEK...JAWAB AKU!"
Barulah saat Sehun berteriak, Baekhyun berani menatap Sehun dan Luhan bergantian.
"Maafkan aku Sehunna… Tapi Ziyu tidak bertahan.. Putra kalian sudah tiada…. Maaf."
Deg!
Kedua hati Sehun dan Luhan terasa dicabut paksa dari tubuh mereka. Kesakitan luar biasa, sesak yang sangat menghimpit membuat keduanya tak dapat bersuara.
"Zi-Ziyu…"
Sehun terjatuh begitu saja di lantai. Matanya semakin memanas, hatinya penuh kebencian dan kemarahan serta bersumpah akan membalas dengan keji siapapun yang telah membuatnya dan Luhan kehilangan putra mereka
"ZIYU..." Sehun menjerit histeris, tidak mau menerima kenyataan bahwa hari ini adalah hari dimana dirinya kehilangan putranya yang akan membuatnya kembali menjadi Sehun yang keji seperti dulu.
Luhan hancur melihat suaminya yang baru pertama kali ia lihat begitu menderita dan kehilangan. Sehun yang biasa adalah sehun yang kuat dan menolak menunjukkan kelemahannya didepan siapapun kecuali didepan Luhan. Tapi Sehun yang saat ini berada di hadapannya adalah Sehun yang begitu hancur aaat tahu kehilangan belahan jiwa memiliki rasa sakit yang sama. Tapi Sehun terlalu ekspresif menunjukannya berbeda dengan dirinya yang masih berharap ini hanya mimpi.
Dan dengan sisa tenaga yang ia miliki, Luhan berjalan gontai menghampiri suaminya yang masih menjerit dan mengutuk siapapun yang melakukan hal keji ini pada putranya
"Sehunna…"
Luhan berjongkok didepan Sehun, menangkup wajah suaminya yang sangat membuat hatinya sakit. Mengusap air matanya dan mencium lama kening Sehun berharap bisa menenangkan Sehun.
"Kita berdua akan baik-baik saja jika bersama hmm…"
Air mata itu menetes, tidak kuat lagi menahan sesak yang begitu memghimpitnya, memeluk erat Sehun yang terlihat sangat rapuh saat ini.
"Maafkan aku Luhan….Maaf."
Sepenggal kalimat maaf selalu Sehun ucapkan malam itu, merasa dirinyalah penyebab mereka kehilangan satu-satunya darah daging mereka. Luhan tidak sedikitpun menyalahkan Sehun, karena jika mau dikatakan gagal. Dirinya sendiri juga gagal menjaga buah hati mereka.
"Dokter Oh?"
Terdengar dokter muda yang sedang mengambil spesialis bedahnya menyapa Luhan.
Luhan menghapus cepat air matanya yang menetes dan segera berbalik melihat siapa yang memanggilnya.
"Ah… Taeyong... Lee Taeyong. Benar kan?" Luhan menebak seorang pria muda yang dirumorkan memiliki kemampuam bedah yang hebat dan dikatakan akan menjadi pengganti Luhan nantinya.
"Ya dokter Oh-.. Lee Taeyong Imnida." katanya membungkuk menyapa Luhan.
"Aku mengenalmu." Luhan tersenyum memberitahu Taeyong yang tampak tersenyum senang karena dokter kenamaan di Seoul hospital seperti Luhan mengenalnya.
"Kau akan menjadi asistenku untuk operasi minggu depan kan?" Luhan kembali bertanya pada Taeyong.
"Ya dokter Oh… dan itu merupakan suatu kehormatan bagi saya bisa melakukan operasi bersama anda."
"Aku tidak sehebat itu. Aku masih membutuhkan dokter muda berbakat sepertimu." katanya menepuk pelan pundak Taeyong.
Taeyong kembali tersenyum dan tak lama bertanya pada Luhan "Tapi bukankah hari ini anda tidak memiliki jadwal operasi?"
"Hmm… aku hanya ingin mengambil barang- barangku."
"Ah begitukah. Kalau begitu saya permisi dulu dokter Oh. Sampai bertemu besok." Taeyong kembali membungkuk dan berpamitan pada Luhan yang hanya menatap pria yang dirumorkan akan menjadi seperti dirinya kelak.
"Tiga tahun sudah berlalu dan kau tetap si Luhan pengeksekusi di ruang bedah. Aku bangga sekali padamu Lu."
Luhan mengernyit dan berbalik arah ke asal suara. Dia kemudian sedikit membelalak mendapati pria yang sudah ia anggap seperti kakaknya sendiri sedang berdiri dengan tampannya tersenyum padanya.
"Aku tidak percaya ini." gumam Luhan sedikit berlari menghampiri asal suara dan langsung memeluk pria yang mempunyai tinggi cukup jauh darinya dengan erat.
"Kau kembali yeol… Kau sudah kembali."
Luhan semakin memeluk erat Park Chanyeol, dokter yang merupakan seseorang yang tumbuh besar bersamanya semenjak kecil.
"Maaf baru bisa kembali setelah semua yang kau lalui Lu. Aku turut berduka untuk Ziyu."
Luhan menggeleng di pelukan Chanyeol dan terus memeluk seseorang yang selalu menjadi pelindungnya jauh sebelum dirinya bertemu Sehun.
"Yang penting kau sudah kembali." gumamnya menatap Chanyeol dengan perasaan yang terlalu gundah. Sehun memang selalu menjadi tameng dan menjadi seseorang yang selalu bisa menenangkannya disaat dirinya merasakan kesulitan atau melindunginya disaat ada yang menyakitinya.
Namun setahun telah berlalu dan ia merasa dialah yang harus menjaga dan melindungi Sehun yang mempunyai rasa sakit dan ketakutan yang sama dengannya, membuatnya tak memiliki sandaran dan hanya berakhir menyimpan semua untuk dirinya sendiri.
"Kau tidak akan pergi lagi kan?" lirihnya bertanya pada Chanyeol.
"Pendidikanku sudah selesai Lu. Selanjutnya aku akan tetap disini bersamamu." Katanya mengusap lembut wajah Luhan.
Luhan tersenyum bangga pada pria didepannya yang sudah menyelesaikan beasiswa spesialisnya dengan nilai memuaskan. Dan sudah kembali untuk menjadi kepala dokter bedah yang akan memimpin seluruh dokter bedah di rumah sakit ini termasuk dirinya. "Selamat untukmu dokter Park." Gumam Luhan membuat Chanyeol tersenyum bahagia karenanya.
"Aku berharap Kyungsoo disini." Lirihnya membuat Luhan harus kembali menerima kenyataan pahit jika adik terkecil mereka di panti asuhan tempat mereka dibesarkan telah tewas karena panti asuhan yang mereka tempati mengalami kebakaran hebat setahun yang lalu.
"Tahun ini aku kehilangan dua hidupku. Putraku dan adikku. Aku tak mau menambahnya lagi Yeol."
Luhan tersenyum perih seolah ingin memberitahu Chanyeol bahwa dia sudah muak untuk kehilangan lebih banyak lagi.
"Kau tak akan kehilangan siapapun lagi Lu. Aku janji." Chanyeol kembali mencium sayang kening Luhan dan membawa Luhan ke pelukannya.
Mengabaikan seorang pria yang sedang melihat dalam diam betapa pria yang sangat ia cintai selama ini selalu hanya memikirkan dan menjadikan Luhan prioritas utama dalam hidupnya. Setelah puas menikmati serentetan adegan yang membuat hatinya teriris. Pria yang baru saja mengumumkan kematian pasiennya pada keluarga pasien itu, kini berjalan gontai meninggalkan semua hal yang bisa membuatnya lebih sakit lagi.
Byun Baekhyun sudah mencintai Chanyeol untuk waktu yang lama. Dia merupaka kakak kelasnya dan Luhan sewaktu di universitas, namun untuk waktu yang lama itu juga, perasaannya tak pernah terbalas karena Chanyeol sudah mengatakan dengan tegas padanya tiga tahun yang lalu sebelum dia berangkat ke USA untuk beasiswan bahwa hanya dua tujuan hidup untuk Chanyeol yaitu Luhan dan gelar dokternya. Membuatnya sama sekali tak memiliki kesempatan untuk setidaknya bisa mendampinginya.
..
..
..
Seminggu telah berlalu dan seminggu itu pula Luhan dengan segala caranya berusaha menghindari Sehun yang selalu mencoba untuk menemuinya. Dia bukan tidak merindukan suaminya tapi setiap kali dia lengah dan berbaik hati pada suaminya. Dirinya akan berakhir melihat Sehun yang semakin tenggelam ke dunia gelapnya.
Luhan hanya memiliki tiga jadwal operasi hari ini, membuatnya bisa pulang ke apartemen lebih awal dan mengurus dirinya sendiri. Sebenarnya dia mengutuk jadwal operasi yang hanya sedikit untuknya hari ini. karena semakin dia memiliki waktu luang. Semakin besar pula keinginannya untuk berbicara pada suaminya.
Seperti saat ini misalnya, Luhan kembali mengabaikan telepon dari Sehun yang entah sudah ke berapa ratus kalinya dalam seminggu, membuatnya bertanya-tanya apakah Sehun menghubunginya untuk hal penting atau hanya untuk mengumbar kata maaf padanya. Dia pun menghela nafasnya dan hanya fokus mengeringkan rambutnya yang basah karena baru selesai membersihkan diri.
Ting tong…
Ting Tong…
Luhan menoleh ke arah pintu masuk dan bertanya-tanya siapa yang mengunjunginya di tengah malam seperti ini. dia menebak itu pasti Sehun dan berniat mengabaikannya. Namun dia tahu suaminya tidak akan menekan bel karena Sehun memiliki kunci duplikat apartemen Luhan Karena penasaran Luhan akhirnya memutuskan untuk pintu, dia berjalan ke pintu masuk dan
Cklek….!
"Aku butuh bantuanmu dokter Oh."
Luhan hampir memaki pria didepannya ini yang selalu menggunakan cara licik jika mereka sedang bertengkar hebat, dia tidak habis pikir apa yang ada di pikiran suaminya hingga selalu membuat tubuhnya sendiri babak belur.
"Aku tidak buka klinik. Cari klinik lain." desisnya membuat gerakan menutup pintu sampai Sehun menahan pintu apartemen Luhan.
"Obati aku dan aku akan segera pergi. Aku kesakitan Lu."
Suara itu memohon dan terdengar lelah. Dan Luhan tahu benar apa yang membuat suara itu kelelahan bukan karena luka memar yang ada diwajahnya melainkan dia sudah benar-benar lelah tak tahu harus berbuat apa untuk berbicara pada dirinya.
Luhan menghela nafasnya dan mempersilahkan Sehun untuk masuk. "Aku tidak akan berbaik hati padamu." katanya mengingatkan Sehun yang tampak terkekeh mendengarnya.
"Cepat duduk di sofa. Aku akan mengambil kotak obat."
Sehun pun melepas mantelnya dan dan hanya menggunakan kaos hitamnya lalu kemudian berjalan mendekati sofa yang dimaksud oleh Luhan.
"Siapa lagi kali ini?"
Luhan yang membawa kotak obat bertanya dingin pada Sehun.
"Apanya?" tanya Sehun tak mengerti.
"Yang memukulimu." Desisnya merasa Sehun tak pernah puas menggodanya.
"Ah-…itu." Sehun menolak saat Luhan hendak membersihkan lukanya.
"Kau duduk disini seperti biasa." Sehun menepuk pahanya memberi instruksi pada Luhan.
"Sehun aku tidak punya banyak waktu."
"Dan aku tidak cukup kuat menahan perihnya lagi, jadi aku mohon duduk di pangkuanku dan obati lukaku." Katanya memohon pada istrinya yang masih marah padanya.
Luhan awalnya berniat untuk tidak menuruti apapun permintaan Sehun, namun melihat suaminya benar-benar menahan sakit membuatnya tak tega dan dengan cepat berpindah ke pangkuan Sehun.
"Kapan kau akan berhenti melakukan hal gila seperti ini." ujarnya bertanya mendesis pada Sehun.
"Sampai kau memaafkan aku jika kau sedang marah hebat."
Sehun memang selalu melakukan hal nekat untuk menarik perhatian Luhan, salah satunya adalah dengan membuat dirinya terluka sehingga pria cantiknya tidak akan tega mengabaikannya dan akhirnya mau bertemu dengannya. Dan sialnya, kali ini dia memaksa Kai untuk memukulinya dan hasilnya adalah pria hitam kepercayaannya itu memukulnya menggunakan perasaan sehingga tenaga yang dikeluarkan menjadi lebih besar membuat wajah tampannya benar-benar babak belur.
"Itu tidak lucu Sehunna." Katanya semakin berhati-hati membersihkan memar di sudut bibir Sehun yang tampak terus mengeluarkan darah.
Setelahnya Sehun hanya diam, menikmati sentuhan lembut Luhan di wajahnya. Sebenarnya dia diam bukan hanya karena Luhan menyentuhnya, namun jujur saja dia memang sedang kesakitan tak menyangka kalau Kai bisa membuatnya babak belur separah ini.
"Maaf."
Pergerakan Luhan berhenti saat tiba-tiba Sehun mengatakan maaf. Dia tahu tujuan Sehun berbuat nekat seperti ini hanya untuk meminta maaf padanya. Dan dia bersumpah untuk tidak memaafkan Sehun dengan mudah agar suaminya berfikir dua kali jika ingin melakukan pekerjaannya.
"Tidak ada yang perlu dimaafkan."
Sehun memegang tangan Luhan yang berada di wajahnya dan memaksa Luhan menatapnya "Maafkan aku Lu." Lirihnya menatap Luhan yang terus mengabaikan dirinya.
"Selesai."
Selesai memasangkan plester di dahi dan pelipis Sehun, Luhan segera bangun dari pangkuan Sehun dan berjalan menjauh meletakan kotak obatnya, mengabaikan permintaan maaf Sehun yang kini menatapnya memelas.
Sehun yang memang merasa putus asa hanya bisa menghela nafasnya dan berjalan mengambil jaketnya untuk segera pergi. mengingat Luhan tidak akan meresponnya membuatnya berfikir untuk tidak berpamitan dan kembali di lain waktu.
Dan dia kembali menghela nafasnya saat menyadari kalau tubuhnya memang merasa sakit bukan hanya di wajahnya namun di sekujur tubuhnya, dia tidak bisa menghubungi penjaganya karena sudah meminta mereka untuk pulang mengira dirinya akan menginap di apartemen istrinya.
Sehun terus berjalan menuju keluar lobi sampai dia merasa tangannya dicengkram erat oleh seseorang.
"Kau pikir kau mau kemana? Kau masih sakit." Suara itu mendesis penuh kemarahan dan kekhawatiran teramat
Membuat pria yang lebih tampan tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya saat mengetahui istrinya yang mencengkram tangannya, dirinya semakin menghangat saat menyadari Luhan yang sedang menariknya kembali menaiki lift dengan tersengal, menandakan kalau istrinya berlari untuk mengejarnya. Entah kenapa hatinya merasa hangat dan sakit di waktu bersamaan, karena sebanyak apapun dia mengecewakan Luhan. Luhan akan selalu kembali dan memaafkan dirinya.
"Minum ini." Luhan yang berhasil membawa suaminya kembali ke apartemennya memberikan Sehun obat penghilang rasa sakit. Sehun pun dengan cepat meminumnya lalu kembali duduk di sofa.
"Pakai ini. kau tidur di sofa dan jangan coba-coba untuk pergi. Selamat malam."
Setelah memberi peringatan pada Sehun, Luhan memasuki kamarnya dan menutupnya kencang. Meninggalkan Sehun yang tak berhenti tersenyum senang karena mengetahui dirinya sudah dimaafkan walau sikap Luhan masih dingin.
Dia kemudian membaringkan tubuhnya di sofa dan memakai selimutnya, perlahan tertidur karena merasa mengantuk akibat efek obat yang diberikan Luhan padanya "Selamat malam Lu." Gumamnya sebelum akhirnya benar-benar tertidur.
Dan setengah jam kemudian, pintu kamar yang ditutup kasar oleh pemiliknya kembali terbuka. Luhan ingin memastikan kalau suaminya sudah tertidur. Dia pun perlahan mendekati Sehun dan berjongkok didepan Sehun.
Memandangnya lekat-lekat dan merasa sangat jahat pada suaminya hingga membuat suaminya rela menyakiti dirinya sendiri hanya karena ingin bertemu dengannya.
Luhan mengusap keringat di dahi Sehun, dia kemudian mencodongkan tubuhnya mendekat ke Sehun lalu mengecup lama kening suaminya.
"Cepat sembuh sayang." Gumamnya membenarkan selimut Sehun, berada disana agak lama memastikan kalau suaminya benar-benar beristirahat dengan nyenyak.
..
..
..
Keesokan paginya Luhan membuka matanya dan sedikit mengerjap bingung bertanya-tanya kenapa dirinya bisa berbaring di sofa dan mengumpat kecil saat menyadari kalau semalaman dirinya memang hanya memperhatikan Sehun dan tanpa sadar tertidur didekat suaminya. Dia tidak perlu heran mendapati tubuhnya yang terbaring di sofa, karena pastilah suaminya yang memindahkannya.
"Dia mulai sesukanya lagi." gumam Luhan membuang selimutnya ke lantai -cari keberadaan Sehun.
"Sehunna." dia berteriak namun tak ada jawaban, membuatnya kembali menghela nafas menyadari suaminya telah pergi.
Luhan kemudian memutuskan untuk bersiap sampai matanya melihat secari kertas yang sepertinya baru ditulis oleh Sehun.
Luhan pun mengambilnya dan tak bisa menyembunyikan wajah bahagianya karena pesan dari suaminya.
"Dirumah kau adalah Nyonya Oh yang perhatian. Di rumah sakit kau adalah dokter Oh yang disegani. Dan aku sebagai suamimu sangat bangga karena itu. Maafkan aku belum bisa membanggakanmu . Aku mencintaimu Lu, terimakasih telah merawat lukaku."
P.s : yang memukul wajahku kemarin adalah Kai. Jadi kau bisa memukulnya saat bertemu dengannya nanti. Kkk~
"Apanya yang lucu?" gumam Luhan benar-benar dibuat mengernyit lalu tak lama tertawa kecil membaca pengakuan Sehun. Dia kemudian melipat kembali kertasnya dan segera bergegas ke rumah sakit.
..
..
..
"Kai kita mampir ke toko obat sebentar. Aku ingin kau menyerahkan obat untuk suamiku."
Luhan bersumpah melihat wajah Kai seperti menggumam senang sebelum dia mengangguk mengiyakan permintaan Luhan.
"Baik Luhan." katanya menjawab Luhan dengan nada yang benar- benar tak bisa menyembunyikan kebahagiannya.
"Oia… Lain kali jika kau memukul suamiku lagi, jangan pukul pelipisnya terlalu kencang. Dia tidak akan bisa makan dengan benar karenanya."
Kai tampak salah tingkah dan tak enak hati pada Luhan. Dia pun menggaruk tengkuknya sambil sedikit tersenyum "Ya aku mengerti Luhan… maafkan aku"
"Ya… Jangan ulangi lagi." katanya memperingatkan Kai dan merasa seluruh anak buah Sehun sama saja seperti majikannya.
Kai mengangguk mengerti dan tak lama membukakan pintu untuk Luhan karena saat ini mereka telah berada di toko obat sesuai permintaan Luhan.
Dia pun mengekori Luhan, membuat Luhan melihat ke arahnya dan memberi pandangan ini toko obat bukan pasar gelap. Berhenti mengikutiku!.
Membuat Kai terkekeh dan membiarkan Luhan mencari obatnya sementara dia melihat ke sekeliling tanpa melepas pandangannya dari Luhan.
Luhan pun sudah selesai mendapatkan yang ia mau dan saat ini mendengus karena harus mengantri panjang untuk membayar. Dia kemudian tak sengaja tersenyum mendapati nama Sehun terpampang di layar kaca ponselnya.
"hmmmm…"
"Setelah seminggu ini pertama kalinya kau mengangkat teleponku cantik."
"Harusnya aku kembali mengabaikannya."
"Kalau begitu kau akan melihat lebih banyak luka di tubuhku. Atau kemungkinan paling buruknya kau harus melakukan operasi untukku"
"ishhh...jaga bicaramu." Luhan mendesis karena Sehun mulai sembarangan bicara.
"Kalau begitu maafkan aku."
"Lalu aku harus membiarkan memegang senjata setiap hari. Hidupku sangat indah."
Luhan sudah berada didepan kasir dan menyangga ponsel dengan pundaknya, sesekali fokus pada sang kasir untuk mengetahui jumlah belanjaannya.
Sementara Kai yang menyadari Luhan hampir selesai berbelanja segera menghampiri majikannya untuk membawakan belanjaan nya sampai matanya melihat sesuatu yang sangat memualkan yang terjadi didepan matanya sendiri.
Dia melihat seorang pria memakai topi kupluknya yang mengantri di belakang Luhan sudah menempelkan pisaunya tepat ke bagian belakang perut Luhan. Mengira-ngira gerakan selanjutnya adalah saat Luhan berputar pria itu akan menancapkan pisaunya langsung ke perut Luhan.
Suara Kai tercekat, dia tidak bisa mengeluarkan suara apapun. Dia berharap Luhan tidak segera selesai membayar belanjaannya sampai dia berhasil menghampiri pria yang menjadi satu-satunya alasan seorang Oh Sehun hidup.
"Jangan berbalik Lu." gumamnya dan berjalan menghampiri Luhan.
"Aku hampir tak pernah menggunakannya Lu." Sehun menyanggah tuduhan Luhan dengan cepat.
"Ya terserahmu sa-..."
Luhan belum sempat menyelesaikan kalimatnya, karena saat ini dia merasa ada seseorang yang memeluknya erat. Membuat ponselnya jatuh begitu saja ke lantai.
"Luhan?" Sehun mengernyit saat menyadari bunyi debuman seperti ponsel istrinya yang terjatuh.
"eh Kai…. Kenapa memelukku." Luhan bertanya pada Kai yang entah kenapa tiba-tiba memeluknya.
Kai semakin mengeratkan pelukannya dan bergumam. "Syukurlah aku tepat waktu." wajahnya tiba-tiba memucat, suhu tubuhnya mendingin.
Luhan merasa ada yang aneh dengan Kai sampai akhirnya tubuh pria yang lebih besar darinya merosot di pelukannya dan jatuh ke lantai.
Membuat jantung Luhan berdegup kencang menyadari ada sesuatu yang tak beres yang sedang terjadi saat ini.
"K-Kai?"
Luhan yang masih menopang tubuh Kai yang tiba-tiba menjadi dingin merasa ada sesuatu yang lengket dan kental yang ia rasakan di tangannya.
Dan Luhan tidak bodoh untuk menyadari kalau cairan yang lengket dan kental itu adalah darah. Dia sangat mengenali bau anyir yang hampir ia cium setiap hari di ruang operasi. Membuat wajahya memucat saat melihat tangannya berlumuran darah dan Kai yang sudah tergeletak tak sadarkan diri didepannya. Luhan menatap horor tangannya dan tak lama kakinya melemas tak bisa menopang tubuhnya sendiri.
"K-KAAAAAAAAAAI!"
Luhan menjerit membuat Sehun yang masih tersambung di telepon dengan Luhan tiba-tiba hampir terjatuh karena menyadari ada sesuatu yang terjadi pada istrinya.
"LU-..LUHAN ADA APA? JAWAB AKU!"
Tak ada jawaban dari Luhan, yang ada jeritan istrinya yang saat ini terus menjerit memanggil Kai dan sedang meminta tolong. Membuat Sehun hampir mati ketakutan dan mengumpat geram segera mengambil kunci mobilnya dan mencari keberadaan istrinya saat ini.
..
..
..
Sehun sedang berlari seperti orang gila memasuki rumah sakit tempat istrinya bekerja saat ini. Mencari ruang tunggu operasi sampai akhirnya dia menemukan istrinya duduk di sebuah kursi dengan kepala tertunduk, jelas kalau dia sedang menangis.
"Sayang."
Sehun berjongkok didepan Luhan, dan mendapati kemeja istrinya berlumuran darah, dia kemudian memastikan kalau itu bukan darah istrinya dan sedikit lega mengetahui istrinya baik-baik saja.
"Syukurlah kau baik-baik saja." Gumam Sehun mencium kening Luhan
"Apa kau sudah puas sekarang?"
Luhan tiba-tiba berkata menyalahkan pada Sehun dan menatap tajam suaminya dengan tatapan marah.
"eh?"
"APA YANG ADA DIPIKIRANMU HANYA DIRIKU HAH? KAI SEKARAT DIDALAM SANA SEHUNNA. DAN ITU SEMUA KARENA MUSUHMU INGIN MEMBUNUHKU. BERAPA BANYAK LAGI ORANG YANG HARUS TERLUKA KARENA MELINDUNGIKU."
Luhan mendorong tubuh Sehun yang kini terduduk di lantai, berteriak histeris menyalahkan suaminya. Sementara Sehun hanya bisa menatap tak berkedip Luhan dan sama sekali tak menyalahkan kemarahan istrinya karena saat ini sangat terlihat kalau Luhan ketakutan.
"Mau sampai kapan lagi aku melihat orang-orang disekitarku terluka?"
"APA AKU JUGA HARUS MENUNGGUMU TERLUKA? LEBIH BAIK KAU BUNUH AKU SEKARANG!."
"AKU TAKUT SEHUNNA!" Luhan menjerit menyampaikan semua kemarahan dan ketakutannya pada Sehun
Dan itu adalah ketakutan terbesar Luhan, membayangkan suaminya terluka adalah hal yang sangat menyakitkan. Dan tak bisa ia bayangkan bagaimana rasanya, dia lebih memilih dia segera mati daripada harus melihat Sehun terluka atau disakiti.
Luhan hanya ingin suaminya mengerti-…Tapi sebanyak apapun Luhan meminta pada Sehun untuk berhenti maka sebanyak itu pula penolakan yang diberikan Sehun membuat Luhan terkadang sudah mencapai batasnya untuk bersabar.
"Aku akan baik-baik saja Lu."
Sehun segera membawa paksa Luhan ke pelukannya, Luhan langsung meronta dan memukul kencang tubuh suaminya. Semakin Luhan meronta semakin kuat pelukan yang Sehun berikan membiarkan istrinya mencaci dan memakinya untuk mengeluarkan semua emosi dan ketakutannya saat ini.
"Cepat atau lambat kau akan terluka. Dan aku tak bisa melihat itu." Gumam Luhan yang sudah lebih tenang dan saat ini terisak pilu di pelukan suaminya.
"Kau dan aku akan baik-baik saja sayang. Maafkan aku." Gumam Sehun tak tahan dengan seluruh penderitaan Luhan yang terus menerus ia berikan.
"Aku membencimu Sehunna."
"Iya aku tahu sayang. Maafkan aku."
Dan tak ada yang bisa Sehun lakukan selain meminta maaf dan meyakinkan Luhan kalau semuanya akan baik-baik saja. Sehun sudah gagal menjadi seorang ayah dan saat ini dirinya juga gagal menjadi suami yang bisa melindungi satu-satunya alasannya bertahan hidup.
Sejujurnya dia lelah mengikat Luhan lebih lama, dia takut semakin dia menjerat Luhan ke dalam hidupnya semakin sakit yang Luhan rasakan, namun melepaskan Luhan sama saja membunuhnya perlahan, dia memang egois tapi tidakkah ada jalan lain selain saling melepaskan, tidak bisakah mereka bertahan tanpa harus merasakan sakit. Itu adalah sebaris kalimat yang selalu Sehun pertanyakan pada Tuhan.
Dia memang terlahir sebagai iblis tak berperasaan. Lalu untuk apa Tuhan mengirimkan malaikat seperti Luhan untuknya jika hanya untuk hidup berbahagia dan mendapatkan kehidupan yang lebih tenang hanya seperti dalam mimpi untuknya.
Sehun bisa merelakan apapun untuk kebahagiaan Luhan, tapi jika dia menyerah dengan hidupnya sekarang, Luhan yang akan merasakan sakit lebih banyak.
Karena semua itu kembali pada Luhan, Luhan akan selalu menjadi kelemahan Sehun. Sehun sama sekali tak bisa membiarkan apapun menyentuh istrinya bahkan hanya sehelai rambutnya. Dia selalu merasa ingin membunuh dirinya sendiri setiap kali Luhan mengeluarkan darah, entah karena kecerobohannya atau karena sesuatu yang memang membahayakannya.
Didunia ini, hanya Luhan yang dimiliki oleh iblis sepertinya dan keinginan untuk berhenti dan keluar dari dunia gelapnya hanya sebuah omong kosong belaka, karena sekali lagi Sehun selalu berfikir saat dia rapuh Luhan yang akan menanggung akibatnya, dan saat dia jatuh Luhan yang akan paling menderita. Hal itulah yang membuatnya memutuskan untuk bertahan dan mencari siapa musuhnya yang bermain licik dengan mengincar keluarganya. Dia sudah kehilangan putranya dan dia bersumpah tidak akan kehilangan Luhan.
"Maaf sayang, Maafkan aku Lu.."
Sehun terus memeluk tubuh istrinya, tak membiarkan ketakutan itu terus menghantui pria yang memiliki sebagian hidupnya. Pria yang selalu ia jaga dengan teramat dan tak membiarkan apapun menyentuhnya. Dia memeluk Luhan erat sambil menatap nanar pintu ruang operasi itu, berharap operasi sialan itu cepat selesai, agar dirinya bisa langsung menemui Kai dan mengucapkan terimakasih karena sudah begitu melindungi istrinya melebihi dirinya sendiri.
tobecontinued..
.
Happy reading and review :)
.
Next update nya TDF Part II chap 5, paling lama hari Jumat, 01 Jan 2016.
