previous..

Sehun sedang berlari seperti orang gila memasuki rumah sakit tempat istrinya bekerja saat ini. Mencari ruang tunggu operasi sampai akhirnya dia menemukan istrinya duduk di sebuah kursi dengan kepala tertunduk, jelas kalau dia sedang menangis.

"Sayang."

Sehun berjongkok didepan Luhan, dan mendapati kemeja istrinya berlumuran darah, dia kemudian memastikan kalau itu bukan darah istrinya dan sedikit lega mengetahui istrinya baik-baik saja.

"Syukurlah kau baik-baik saja." Gumam Sehun mencium kening Luhan

"Apa kau sudah puas sekarang?"

Luhan tiba-tiba berkata menyalahkan pada Sehun dan menatap tajam suaminya dengan tatapan marah.

"eh?"

"APA YANG ADA DIPIKIRANMU HANYA DIRIKU HAH? KAI SEKARAT DIDALAM SANA SEHUNNA. DAN ITU SEMUA KARENA MUSUHMU INGIN MEMBUNUHKU. BERAPA BANYAK LAGI ORANG YANG HARUS TERLUKA KARENA MELINDUNGIKU."

Luhan mendorong tubuh Sehun yang kini terduduk di lantai, berteriak histeris menyalahkan suaminya. Sementara Sehun hanya bisa menatap tak berkedip Luhan dan sama sekali tak menyalahkan kemarahan istrinya karena saat ini sangat terlihat kalau Luhan ketakutan.

"Mau sampai kapan lagi aku melihat orang-orang disekitarku terluka?"

"APA AKU JUGA HARUS MENUNGGUMU TERLUKA? LEBIH BAIK KAU BUNUH AKU SEKARANG!."

"AKU TAKUT SEHUNNA!" Luhan menjerit menyampaikan semua kemarahan dan ketakutannya pada Sehun

Dan itu adalah ketakutan terbesar Luhan, membayangkan suaminya terluka adalah hal yang sangat menyakitkan. Dan tak bisa ia bayangkan bagaimana rasanya, dia lebih memilih dia segera mati daripada harus melihat Sehun terluka atau disakiti.

Luhan hanya ingin suaminya mengerti-…Tapi sebanyak apapun Luhan meminta pada Sehun untuk berhenti maka sebanyak itu pula penolakan yang diberikan Sehun membuat Luhan terkadang sudah mencapai batasnya untuk bersabar.

"Aku akan baik-baik saja Lu."

Sehun segera membawa paksa Luhan ke pelukannya, Luhan langsung meronta dan memukul kencang tubuh suaminya. Semakin Luhan meronta semakin kuat pelukan yang Sehun berikan membiarkan istrinya mencaci dan memakinya untuk mengeluarkan semua emosi dan ketakutannya saat ini.

"Cepat atau lambat kau akan terluka. Dan aku tak bisa melihat itu." Gumam Luhan yang sudah lebih tenang dan saat ini terisak pilu di pelukan suaminya.

"Kau dan aku akan baik-baik saja sayang. Maafkan aku." Gumam Sehun tak tahan dengan seluruh penderitaan Luhan yang terus menerus ia berikan.

"Aku membencimu Sehunna."

"Iya aku tahu sayang. Maafkan aku."

.

.

.

.

.

.

Entangled

Main Cast : Sehun & Lu Han

Genre : Romance, Family, Hurt/Comfort

Rate : M

Length : Chapter

YAOI. Typo (s)

HUNHAN STORY!

.

.

.

.

.

Malam dingin di Seoul saat ini seolah mewakili perasaan dingin seorang pria yang sedang duduk termenung di sebuah kafe di rumah sakit tempat istrinya bekerja. Pria itu hanya memandang kosong ke arah jendela dan menikmati dinginnya malam saat ini. Sesekali menghela nafas tersenyum miris mendapati kejadian yang tengah terjadi hari ini tepatnya beberapa jam yang lalu.

Sehun harusnya berada di dekat istrinya yang saat ini masih menemani Kai yang sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Dia harusnya tidak berada di kafe dan meninggalkan istrinya sendirian di ruang perawatan Kai. Namun ada sesuatu yang membuatnya tak bisa bertatapan dengan istrinya saat ini. Suatu hal yang membuatnya sangat ragu untuk menemui istrinya saat ini.

Tak lama Sehun menghela pelan nafasnya menyadari kalau sebenarnya Luhan tidak benar-benar sendiri. Alasan dirinya berada dikafe dan tidak menemani istrinya adalah karena Sehun tidak sengaja mendengar percakapan Luhan dengan Baekhyun dan Yixing yang mengatakan kalau dia benar-benar lelah hidup bersama dirinya.

Luhan memang sering mengatakan dia lelah hidup bersama dirinya, tapi Sehun tahu benar jika itu hanya ucapan kesalnya sesaat. Tapi saat Luhan bercerita pada teman-temannya dia lelah hidup bersama dirinya, entah kenapa Sehun merasa benar-benar gagal menjadi suami sekaligus pendamping yang baik untuk Luhan.

Sehun tersenyum lirih saat mengingat beberapa saat yang lalu Luhan memakinya dan mengatakan kalau semua ini kesalahannya. Dia tahu Luhan sudah mencapai batasnya untuk bertahan bersamanya, membuatnya terkadang ingin melepas Luhan dan menjaganya dari jauh tanpa harus menyakitinya.

Sehun masih merenung dan menimbang apa yang harus dirinya lakukan sampai beberapa suara langkah kaki mendekat dan berdiri tepat didepannya. Dia menoleh sekilas lalu kemudian kembali melihat keluar jendela "Aku tidak menerima kata belum menemukan." Katanya memperingatkan kepada Max dan Yoochun yang ia perintahkan untuk mencari siapa yang berani mendekati istrinya hari ini.

"Kami menemukan siapa pelaku yang menusuk Kai dan hampir mencelakai istri anda bos."

Sehun memandang menyeringai kepada kedua anak buahnya lalu tak lama berdiri cepat untuk segera menyelesaikan apa yang membuat Luhan menjerit beberapa saat yang lalu. "Aku tidak sabar menghabisinya." gumam Sehun berjalan mendului Max dan Yoochun sampai kemudian dia menghentikan langkahnya dan menatap kedua anak buahnya. "Max, aku ingin kau mempersiapkan gugatan ceraiku pada Luhan. Aku ingin minggu depan surat itu sudah sampai di meja Luhan."

Sehun kembali berjalan meninggalkan kedua anak buahnya yang masih tak percaya mendengar ucapan Sehun beberapa detik yang lalu. Jika Luhan yang melakukannya mereka sudah sangat terbiasa karena surat cerai itu akan berakhir terbakar atau dirobek oleh Sehun. Tapi jika Sehun yang menggugat Luhan, itu artinya harapan untuk keduanya tetap bersama sangat kecil.

Sementara itu, di lantai enam tempat Kai dirawat, Luhan tidak menemukan tanda-tanda kehadiran suaminya. Dia kemudian mencoba menghubungi Sehun dan sedikit mengernyit karena ponsel Sehun sudah berada di luar jangkauan.

"Hey Baek…apa kau melihat Sehun?"

"Dia pergi bersama dua orang anak buahnya. Aku berpapasan dengannya di kafe dan dia terlihat sangat marah."

Chanyeol yang menjawab pertanyaan Luhan membuat Luhan tersenyum getir sementara Baekhyun yang memang sedang mengunjungi Kai hanya diam melihat kehadiran Chanyeol.

"Dia bahkan tidak menunggu Kai bangun dan mengucapkan terimakasih padanya." Gumam Luhan mengusap kasar wajahnya merasa sangat frustasi pada suaminya.

"Kenapa kau masih bersamanya?"

Luhan menoleh saat Chanyeol bertanya hal yang menurutnya sangat privasi dan terlalu ikut campur.

"Kau punya banyak alasan untuk meninggalkannya Lu. Lalu kenapa kau masih bertahan dengan pria mengerikan yang bisa membuatmu celaka kapan saja? Ceraikan dia dan kau akan merasa lebih baik."

Luhan tertawa mendengar penuturan konyol Chanyeol "Merasa lebih baik? Satu-satunya alasanku bertahan hingga saat ini hanya karena Sehun masih berada di sekitarku. Lalu bagaimana bisa aku merasa lebih baik jika kami terpisah?" katanya bertanya menuntut pada Chanyeol.

"Yeol…ini terakhir kalinya kau bertanya tentang kehidupan rumah tanggaku, aku tidak mau kau mencampuri urusanku dan Sehun." Katanya memberitahu Chanyeol dengan tegas.

"Dan kalau kau bertanya kenapa aku masih bertahan dengan Sehun, jawabannya tentu saja karena aku mencintainya. Aku mencintainya bahkan setelah apa yang terjadi pada kami. Aku akan terus mencintai suamiku dan tidak akan pernah sekalipun terbersit di benakku untuk benar-benar meninggalkannya."

Luhan kemudian berjalan melewati Chanyeol dan meninggalkan Baekhyun berdua dengan Channyeol disana.

"Kau tahu Baek? Sampai sekarang aku tidak pernah tahu kenapa Luhan begitu mencintai Sehun. Dia sangat keras kepala jika itu berhubungan dengan Sehun." Ujarnya tertawa getir dan kemudian meninggalkan Baekhyun seorang diri disana.

"Dan aku tidak tahu kenapa sampai sekarang kau masih mengharapkan Luhan." Baekhyun tertawa pahit membalikan ucapan Chanyeol yang memang dengan terang-terangan terus mengatakan bisa menggantikan posisi Sehun untuk Luhan.

..

..

..

Blam…!

Terlihat sebuah mobil hitam terparkir didepan gedung tua yang tampak usang tak berpenghuni. Menampilkan dua orang keluar dari mobil hitam itu dan tak lama membuka pintu belakang menampilkan seseorang dengan ketampanan yang mengerikan yang saat ini terlihat memakai sarung tangan hitam kebanggaannya.

"Suruh yang lain berjaga sementara aku menghabisinya." Ujarnya melihat ke arah kanan dan kirinya lalu berjalan dengan kemarahan luar biasa yang saat ini menguasainya.

Brak..!

Sehun menendang pintu gudang tersebut mengabaikan seluruh anak buahnya yang sedang membungkuk padanya. Dan dengan aba-aba dari Yoochun yang seluruh anak buahnya mengerti untuk meninggalkan Sehun dengan pria yang kini sudah terkapar di tanah.

Ckrek..!

Max mengokang pistolnya dan kemudian memberikan senjatanya pada Sehun yang sudah menengadahkan tangannya. Setelah mendapatkan pistolnya Sehun berjalan mendekati pria paruh baya yang kini sedang menatap takut padanya.

"Tolong lepaskan saya. Saya hanya menjalankan perintah." Katanya memohon pada Sehun dengan sangat ketakutan

"Ck…." Sehun mendengus dan berjongkok didepan pria tua yang sepertinya memang hanya suruhan musuhnya.

"Siapa yang menyuruhmu paman?" suara itu bertanya setenang mungkin dengan nada mematikan yang bisa membuat siapa saja merasa sedang berhadapan dengan iblis mengerikan.

"JAWAB AKU!"

"Moon Joo Won!" pria itu menjawab cepat bersamaan dengan teriakan kemarahan Sehun.

"Aahh-… Joowonie." Sehun membuka mulutnya sudah menebak siapa yang berada di belakang kejadian yang hampir membuat istrinya terluka. Dia masih memandang pria tua itu tajam dan tak lama kembali menyeringai.

"Aku bisa saja mengampunimu dan membiarkanmu pergi begitu saja. Tapi kau sudah membuat kesalahan fatal karena hampir melukai istriku." Ujarnya berdiri dan mengarahkan pistolnya ke kepala pria tua yang terlihat sangat ketakutan.

"Dan aku tidak mengampuni siapapun yang berniat menyakiti istriku." Geramnya dan tak lama

Dor…!

Tanpa belas kasih sedikitpun, Sehun menembak tepat di kepala pria tua yang seketika tak bernyawa sementara darahnya mengotori wajah Sehun.

Yoochun segera berlari menghampiri Sehun dan menyerahkan sapu tangan pada Sehun yang terlihat sangat menakutkan saat ini.

"Jangan sampai istriku tahu hal ini atau kalian dalam masalah." Gumam Sehun membersihkan wajahnya yang terkena cipratan darah. Sementara Yoochun hanya mengangguk mengerti dengan ucapan Sehun yang terdengar serius dan menakutkan.

"Dan Max….Aku ingin kau menyelesaikan Joowon secepat mungkin. Bajingan kecil itu sudah mulai tahu kelemahanku."

"Kami akan segera menemukan Joowon bos."

"Sebaiknya begitu….Gerakan kalian sangat lambat. Kalian belum menemukan siapa yang mencelakai putraku hampir setahun lamanya dan kini kalian membiarkan orang suruhan Joowon mendekati Luhan dengan mudah. Kalian pasti tahu kalau kesabaranku sangat tipis. Jadi jangan membuatku melampiaskannya pada kalian."

"Kami mengerti."

Yoochun dan Max menjawab peringatan Sehun hampir bersamaan, melihat satu-satunya hal yang bisa membuat bos mereka gusar dan sangat marah adalah jika semua itu berkaitan dengan istri dan keluarganya. Bos mereka mungkin bisa memaklumi banyak hal, tapi jika semua itu sudah berkaitan dengan Luhan dan Luhan maka semua toleransi menjadi mustahil dan tak mungkin terjadi.

..

..

..

Tak terasa seminggu telah berlalu, semua terasa lebih baik untuk seorang dokter yang saat ini tengah melakukan operasi sebagai aktivitas sehari-harinya. Dokter yang mempunyai julukan "The Destroyer" ini terlihat tenang melakukan hal yang sudah menjadi "makanan" sehari-harinya.

"Dokter Oh-…Tekanan darah menurun, detak jantung melemah." Terdengar Lee Taeyong yang berperan sebagai asisten dokter memberitahu Luhan yang masih membedah pasiennya yang divonis mengidap tumor.

Merasa tak mendapat jawaban dari Luhan, dia kemudian kembali mengingatkan Luhan "Dokter Oh."

Luhan hanya melihat sekilas pada Taeyong dan kembali melanjutkan pekerjaannya "Jika aku berhenti sekarang, pasien akan mengalami syok hipovolemik dan kita langsung kehilangan kesadaran total dari pasien ini." katanya memberitahu Taeyong dengan santai tanpa berhenti mencari tumor yang sepertinya sudah membesar yang berada di bagian otak pasiennya.

"Kau tahu dokter Lee." Katanya berkata pada Taeyong yang masih terlihat panik.

"Aku akan melakukan apa saja untuk tidak kehilangan apapun di ruang mengerikan ini. Karena jika aku sampai kehilangan pasienku biasanya aku tidak bisa tidur selama seminggu" katanya tersenyum sambil menunjukkan gumpalan daging yang berhasil ia temukan pada Taeyong.

"Kau bisa menjadi dewa sekaligus pencabut nyawa di ruangan ini. Tergantung bagaimana dirimu sewaktu memasuki ruangan ini. Kau ingin menyembuhkan atau kau ingin membuat seseorang kehilangan nyawanya. Semua itu kembali pada dirimu." Ujarnya yang kemudian meletakkan gumpalan daging itu ke perawat disampingnya.

"Keadaan pasien?" Luhan bertanya pada kepala perawat yang bertugas mengawasi kondisi kesadaran pasien.

"Semua normal dokter Oh."

Luhan tersenyum sekilas dan kembali menatap Taeyong "Kau bisa melanjutkan sisanya?" katanya bertanya pada dokter muda didepannya.

Taeyong yang masih menatap takjub pada Luhan mengangguk dan kemudian mengambil alih posisi Luhan "Terimakasih untuk operasi luar biasa hari ini dokter Oh." Katanya membungkuk sekilas berterimakasih pada Luhan yang hanya mengangguk memberi semangat pada dokter muda dihadapannya.

Dan setelahnya Luhan melepas sarung tangan dan mencuci tangannya lalu pergi meninggalkan ruang operasi. Jujur saja, semua memang sudah lebih baik seminggu ini, Kai juga sudah semakin membaik, ditambah dengan jadwal operasi yang tidak terlalu menuntut karena sebagian besar sudah diambil alih oleh Chanyeol, membuat Luhan mempunyai banyak waktu luang untuk memantau kesembuhan seluruh pasiennya dan tentu saja semua itu menjadikan dirinya bisa beristirahat normal selama delapan jam.

Ya…. Semua sudah lebih baik kecuali kenyataan kalau seminggu ini Sehun sama sekali tak menghubunginya. Hal itu sedikit banyak mengganggu pikirannya dan entah kenapa saat dia mencoba untuk menghubungi Sehun, ponsel Sehun selalu dalam keadaan tidak aktif membuatnya menebak bahwa suaminya pasti sedang mencari siapa orang yang hampir mencelakainya.

Membayangkan hal itu membuat bibir mungil itu tersenyum pahit, karena sudah pasti suaminya akan kembali membuat seseorang kehilangan nyawanya sementara dirinya bekerja mati-matian untuk menyelamatkan nyawa seseorang.

"Dokter Oh.."

Luhan yang baru saja keluar dari ruang operasi menoleh sekilas dan mendapati seorang keamanan rumah sakit menghampirinya.

"hmm..ada apa Paman Lee?" katanya tersenyum mendapati pria paruh baya itu sedikit terburu-buru menghampirinya.

"Ada seseorang yang menunggu anda di ruangan anda."

Kerutan di dahinya tiba-tiba berubah menjadi senyuman cantik saat menebak bahwa Sehun akhirnya datang mengunjungi dirinya "Baiklah…Terimakasih paman."

Dia pun sedikit berlari menuju ruangannya tak sabar melihat wajah suaminya yang sangat ia rindukan. Terakhir kali keduanya bertemu saat Kai berada di ruang operasi, dan pertengkaran hebat tak terelakan lagi. Luhan saat itu sangat ketakutan sehingga ucapan yang keluar dari mulutnya benar-benar tak terkontrol dan dia yakin itu menyakiti suaminya.

Oleh karena itu dia tidak akan membuang kesempatan hari ini, dia ingin meminta maaf karena berkata kasar pada Sehun dan memberitahu suaminya kalau dia sudah baik-baik saja saat ini.

Cklek…!

"Sehunna.."

Luhan sedikit terengah membuka pintu ruangannya dan tak lama kedua alis mengangkat karena bukan Sehun yang berada di ruangannya.

"Max?"

Luhan memanggil pria yang bernama Max Changmin yang ia ketahui adalah tangan kanan Sehun setelah Kai dan Park Yoochun.

"Selamat siang Luhan." katanya menyapa Luhan yang berjalan mendekat ke arahnya dengan wajah pucat.

"Se-..Sehun baik-baik saja kan?"

Menyadari wajah pucat istri dari bosnya, Max langsung mengangguk sebagai jawaban "Tuan Oh baik-baik saja Luhan." katanya memberitahu Luhan yang terdengar menghela nafas lega.

"Lalu ada keperluan apa kau datang kemari?"

Luhan berjalan menuju kursinya dan bertanya pada Max yang terlihat gugup tak berani menatap matanya.

"Kalau kau hanya ingin diam sebaiknya cepat pergi. Aku masih banyak pekerjaan."

Luhan memakai jas putihnya memberitahu Max yang kini menyerahkan dokumen yang ia bawa ke meja Luhan.

"Apa itu?" katanya bertanya masih memakai jas putih dokternya

"Kau hanya perlu tanda tangan dan sisanya kami yang urus."

Luhan semakin mengernyit tak mengerti dengan ucapan anak buah suaminya, dan karena penasaran dia membuka dokumen itu, membacanya seksama dan dalam hitungan detik dia merasa matanya memanas membaca apa yang berada di kertas yang sudah ditandatangani oleh suaminya.

"A-apa ini?" Luhan terduduk lemas di kursinya, membaca seksama isi dari surat dokumen tersebut dan semakin mengerti kalau saat ini dirinya sedang membaca surat gugatan cerai yang diajukan oleh Sehun lengkap dengan tanda tangan suaminya.

"APA INI?!"

Luhan berteriak emosi bertanya pada Max yang merasa bersalah pada Luhan.

"Kau sudah membacanya Luhan, itu adalah surat gugatan cerai dari Tuan Oh. Kalian akan resmi berpisah jika kau menandatanganinya." Max terlihat memucat karena saat ini Luhan terlihat sangat marah dan tak bisa mengontrol dirinya sendiri.

"Aku tidak percaya ini." gumam Luhan menghapus cepat air matanya.

Dia kemudian melepas jas putihnya dan memakai sweater yang ia gunakan pagi ini, lalu terlihat sibuk mencari sesuatu didalam lacinya. Luhan pun merampas dokumen itu dari tangan Max dan berlari keluar ruangannya.

"Aku akan membunuhmu Oh Sehun."

Itu adalah geraman terakhir yang didengar oleh Max sebelum Luhan berlari meninggalkan ruangannya dan terlihat membawa kunci mobil, Max pun terlihat panik dan segera menghubungi Yoochun yang memang berjaga di area parkir.

"Luhan-..Dia berlari keluar dengan kunci mobilnya. Cegah dia sebelum dia pergi. Kita bisa mati karena membiarkan dia menyetir."

Mendengar instruksi Max, Yoochun pun terlihat memucat keluar dari mobilnya dan benar saja saat ini terlihat Luhan yang berlari menuju mobil yang sudah terparkir di rumah sakit hampir setahun lamanya. Luhan memang sudah tidak diperbolehkan menyetir lagi oleh Sehun, karena terakhir Luhan menyetir dia menggunakan mobilnya untuk mencelakai dirinya sendiri membuat Sehun bersumpah akan menghabisi siapapun yang membuat istrinya membawa mobil sendiri.

"Luhan kau mau kemana? Aku akan mengantarmu." Yoochun berdiri tepat didepan Luhan yang terlihat sangat berantakan.

"Minggir." Desisnya memberitahu Yoochun yang memblock jalannya.

"Aku akan mengantarmu Lu-…"

"MINGGIR!"

Luhan berteriak sedikit mendorong Yoochun lalu segera berlari menuju mobilnya dan

Brrmmmm….!

Luhan mengemudikan mobilnya dengan keadaan sangat marah membuat Yoochun dan Max yang mengejarnya terlihat sangat pucat karena tahu setelah ini akan mati di tangan Sehun.

..

..

..

BLAM…!

Luhan menghentikan mobilnya di tempat yang ia ketahui sebagai markas Sehun. Tempat dimana suaminya hampir selalu menghabiskan waktunya untuk mengurusi pekerjaan mengerikannya. Tempat yang menjadi alasan keduanya selalu bertengkar, Luhan tidak pernah benar-benar menyukai jika Sehun selalu berada di tempat yang bisa membuatnya berada dalam bahaya setiap saat. Tapi semua selalu kembali pada Sehun yang akhirnya lebih memilih dunianya yang berbahaya daripada harus bersembunyi ketakutan.

Beberapa penjaga yang mengenali Luhan langsung terlihat panik saat istri dari bos mereka berjalan dengan wajah yang terlihat sangat marah dan memasuki gedung yang terbilang cukup besar itu dengan tatapan mematikannya.

BRAK…..!

"OH SEHUN!"

Luhan berteriak membuka pintu ruangan Sehun dengan kasar membuat si pemilik ruangan menoleh dan sedikit terkejut mendapati istrinya berada di markasnya saat ini.

"Luhan." gumamnya mengernyit melihat wajah Luhan yang sudah sangat memucat dengan air mata diwajahnya.

"KAU!"

Luhan menghampiri Sehun dan mencengkram keras kemeja suaminya dengan kencang.

"DASAR BRENGSEK! TEGA SEKALI KAU PADAKU!"

Luhan melemparkan dokumen yang sedari tadi ia cengkram dengan kuat tepat ke wajah Sehun. Awalnya Sehun tercengang, namun saat Luhan melemparkan dokumen ke wajahnya dia sudah mengetahui apa yang membuat pria cantiknya terlihat begitu murka.

"APA ITU HAH?"

Luhan meraung menuntut jawaban Sehun yang hanya menatap kosong ke wajah Luhan. "AKU TIDAK MAU BERCERAI!" Luhan memekik membuat hati Sehun begitu dihimpit sesak melihat istrinya yang benar-benar terluka dan lagi-… dia menjadi sebab Luhan kembali menangis.

Luhan sangat frustasi karena Sehun sama sekali tak meresponnya. Pria didepannya ini hanya menatapnya kosong tanpa berniat menjelaskan apapun. Membuatnya semakin putus asa dan memutuskan untuk berbuat nekat agar suaminya membuka suara. Luhan melihat ke sekelilingnya dan

Sret…!

Dia dengan cepat mengambil pisau lipat yang berada di tangan anak buah Sehun dan kemudian mengarahkan pisau tersebut ke lehernya, menekannya dengan kencang.

"LUHAN!"

Sehun benar-benar ketakutan melihat istrinya yang entah sedang berbuat apa, dia berusaha mendekati Luhan namun Luhan terus berjalan mundur menjauhi Sehun dengan tangan yang semakin menekan dalam pisau di lehernya.

"AKU TIDAK MAU BERCERAI."

"JANGAN MENDEKAT!"

Luhan berteriak memperingatkan pada anak buah Sehun yang diam-diam mendekatinya, dia juga melihat Max dan Yoochun yang sudah berada di tempat ini dan terlihat memandangnya dengan pandangan memohon.

"Sayang, aku-…KITA TIDAK AKAN BERCERAI!"

"Tenanglah aku mohon, buang pisau sialan itu." Sehun terlihat sangat ketakutan melihat darah segar yang sudah mengalir di leher istrinya.

"KAU BOHONG!"

"Tidak Lu-..Aku bersumpah kita tidak akan pernah berpisah. Kau percaya padaku kan?"

Luhan menatap kedalam mata Sehun yang kini sudah berkaca-kaca, melihat ketakutan didalam sana dan merasa daripada dirinya, Sehunlah yang lebih terluka.

"Aku minta maaf karena mengirimkan surat sialan itu. Itu tidak akan pernah terjadi lagi, aku bersumpah Lu, jadi lepaskan pisau itu hmmm." Katanya semakin membujuk Luhan yang sudah semakin tenang, namun saat mata Luhan melihat dokumen itu masih berada di tanah, dia kemudian kembali mundur menjauhi Sehun.

"BAKAR SURAT ITU!"

Sehun sedikit tersentak melihat Luhan yang kembali emosi dia dengan cepat berjalan menuju Luhan namun Luhan semakin mundur menjauh "BAKAR!"

"AKU AKAN MEMBAKARNYA… TAPI DEMI TUHAN LEPASKAN PISAU ITU! KAU TERLUKA LUHAN!"

"SEKARANG!" Luhan memotong segala ucapan Sehun terlalu marah dan takut bersamaan mengingat Sehun baru saja mengajukan permohonan cerai padanya.

"astaga.." Sehun mengambil cepat kertas itu dan melihat marah ke seluruh anak buahnya "BAKAR KERTAS INI…KENAPA KALIAN HANYA DIAM?!"

Max pun berjalan melewati Luhan dan memberikan pemantik api pada Sehun. Sehun mengambilnya kasar dan dengan gemetar menyalakan pemantik api dan membakar habis kertas sialan yang sudah melukai istrinya.

"Lihat aku sudah membakarnya, kau bisa membuang pisau itu sayang." Sehun menunjukkan kertas yang terbakar itu dan tak lama menginja-injaknya menjadi debu.

Luhan merasa sangat lega karena Sehun sudah membakar kertas gugatan itu, membuatnya secara otomatis membuang pisau itu dan terduduk lemas di lantai.

"hkss…aku tidak mau bercerai." Ujarnya sesunggukan menyembunyikan wajahnya diantara kedua telapak tangannya dan menangis hebat saat ini.

Sehun ikut melemas mengingat kejadian mengerikan beberapa menit lalu, dan dengan gontai dia menghampiri istrinya berjongkok didepan Luhan dan sedikit memaksa menangkup wajah Luhan "Kenapa kau seperti ini Lu." Gumamnya tak mengerti lagi harus berbuat apa pada Luhan.

"Aku tidak mau bercerai." Katanya masih menangis menatap Sehun putus asa.

"Aku pikir kau sangat menginginkan perceraian ini." gumam Sehun yang menyentuh luka di leher istrinya dengan hati yang begitu sakit sementara Luhan terus menggeleng menyanggah ucapan Sehun.

"Aku tidak mau bercerai."

"Lihat… kau terluka lagi dan semua ini karena ulahku."

"AKU TIDAK MAU BERCERAI SEHUNNA!"

Luhan kembali berteriak karena merasa Sehun mengalihkan pembicaraan membuatnya sangat kesal dan takut jika Sehun kembali menggugat cerai padanya.

"ssttt….Iya sayang kita tidak akan bercerai, tidak akan pernah bercerai. Aku janji" Sehun mendekap erat Luhan dan tak membiarkan apapun mengganggu istrinya yang sedang sangat tak stabil seperti saat ini.

"Jika kau tetap ingin bercerai lebih baik kau bunuh saja aku. Aku tidak bisa hidup tanpamu Sehunna-..hksss"

Luhan mencengkram erat bahu suaminya sementara Sehun begitu merasa bersalah karena kembali membuat trauma baru untuk istrinya. "Aku yang tidak bisa hidup tanpamu Lu, maafkan aku." Gumam Sehun semakin mendekap erat Luhan dan mengucapkan kata maaf berkali-kali.

"Kita pulang hmmm." Sehun kembali menangkup wajah Luhan, berusaha membujuk istrinya agar mengijinkannya untuk menemaninya malam ini. Dan wajah Sehun tak bisa menyembunyikan rasa senang dan leganya saat Luhan mengangguk menyetujui untuk pulang bersamanya.

Tak perlu waktu lama untuk Sehun yang langsung menggendong bridal style istrinya, mengabaikan seluruh pandangan anak buahnya yang saat ini melihat sisi lain dari dirinya, sisi yang hanya ia tunjukan jika berada didepan Luhan. Tanpa sengaja membiarkan seluruh orang tahu bahwa satu-satunya kelemahan iblis seperti dirinya hanyalah malaikat yang kini berada didalam gendongannya.

..

..

..

"Kenapa kau seperti ini sayang. Kau melukai dirimu sendiri."

Saat ini Sehun sudah membawa Luhan ke apartemennya dia kemudian dengan cekatan mengganti pakaian Luhan dengan kemeja kebesaran miliknya lalu membawa istrinya ke pangkuannya untuk mengobati leher istrinya yang tergores.

Sementara Sehun sibuk membersihkan dan menceramahi Luhan. Luhan hanya diam memandang wajah suaminya, dan tiba-tiba berdenyut sakit membayangkan bagaimana kalau mereka benar-benar berpisah.

"Aku tidak mau bercerai."

Sehun menghentikan kegiatannya membersihkan luka Luhan dan perlahan menatap kedalam mata istrinya yang masih terlihat sangat ketakutan sehingga rasa trauma membekas pada istrinya yang masih tak meyakini kalau Sehun tidak akan pernah melakukan hal gila seperti hari ini.

Sehun menangkup wajah istrinya dan membalas tatapan terluka dengan tersenyum meyakinkan "Aku minta maaf Lu. Aku mendengar pembicaraanmu dengan Baekhyun dan entah kenapa aku merasa terlalu jahat padamu. Aku tidak tahu kau begitu terluka hidup bersamaku. Maaf aku sangat egois. Maafkan aku."

Luhan membalas tatapan itu mengutuk dirinya yang asal bicara dan tanpa sadar melukai suaminya yang terlihat lebih rapuh darinya.

"Kau selalu bertahan saat aku berkali-kali meminta kita berpisah. Tapi kenapa saat kau mendengar percakapan konyol ku dengan Baekhyun kau langsung melepasku?" katanya bergetar menghapus air mata Sehun yang entah kenapa sejak dari ia memangkunya hingga saat ini dia membersihkan luka di lehernya terus keluar dari mata yang selalu membuatnya merasa menjadi pria paling berbahagia karena bisa mengenal dan hidup bersama suaminya.

"Maafkan aku selalu menyakiti perasanmu dengan sikap dan ucapanku sayang. Aku benar-benar menyesal." gumam Luhan menarik tengkuk Sehun dan kemudian mempersatukan bibir mereka, membagi rasa bersalah masing-masing untuk kemudian tidak mengulanginya lagi dan tidak saling menyakiti satu sama lain lagi.

"Aku mencintaimu." ujar Luhan saat melepas ciumannya pada Sehun. Menatap meyakinkan dengan penuh penyesalan pada sosok yang selalu mempertahankan hubungan mereka melebihi dirinya sendiri.

Sehun sendiri entah mengapa terus membiarkan air mata membasahi wajahnya, perasan takut, kesal dan bahagianya seolah menjadi satu hari ini. Dan satu-satunya hal yang sangat membuat hatinya begitu lega adalah mengetahui bahwa istrinya memang benar masih mencintainya. Cinta yang sama kuat dan sama besar dengan yang dimilikinya, membuatnya tak memiliki alasan lagi untuk menyerah pada pernikahan mereka.

"Aku sangat mencintaimu." Luhan mengulangi kalimat cintanya dan secara bertubi-tubi membuat Sehun merasa sangat gila karena tak bisa mengeluarkan suaranya.

Pria tampan itupun memeluk erat istrinya dan terisak keras di pelukan Luhan, dirinya merasa sangat bodoh karena hampir melepaskan satu-satunya hal yang bisa membuatnya hidup, satu-satunya hal yang bisa membuatnya merasa seperti manusia dan satu-satunya hal yang selalu bisa menenangkan dirinya yang begitu egois.

"A-...aku mencintaimu Lu. Aku juga sangat mencintaimu…" Sehun terus mendekap erat Luhan menumpahkan rasa leganya dengan terisak di pelukan pria cantiknya. Sementara Luhan hanya membiarkan suaminya yang selalu terlihat kuat menjadi lemah untuk malam ini, mengusap lembut punggung yang selalu menjadi sandaran untuknya dan berharap pria tampannya akan menjadi lebih baik setelah ini.

..

..

..

"eunghhh….hmpphhh….Sehunna.."

Sudah hampir tiga jam ini terdengar suara rintihan dan desahan yang bersahutan di kamar yang menjadi saksi pergumulan hebat antara kedua insan yang saling mencintai.

Sehun yang tiga jam lalu masih terlihat menyesal dan terlihat seperti bayi kini berubah menjadi Sehun yang sangat menggairahkan dan bisa memuaskan pasangan yang berada di bawahnya yang terlihat sangat kenikmatan.

"Baby…. Kau sangat-...hmmphhh."

Yang bertugas sebagai pemuas hanya sibuk menggenjot cepat lubang istrinya yang selalu membuatnya ingin merasakan lagi dan lagi.

Pria berjuluk the killer itu pun terlihat sangat bersemangat menikmati percintaan panas mereka kali ini. Gairah yang begitu membakar seolah menjadi bukti kalau keduanya memang sangat menginginkan percintaan yang berlangsung lagi dan lagi seperti malam ini.

Sementara yang bertugas "dipuaskan" pun hanya mampu memejamkan erat matanya sesekali menggigit bibir bawahnya menahan gejolak yang membawanya ke pusara kenikmatan tiada tara. Sesekali si cantik memekik saat pria tampannya menghentak terlalu kencang dan sangat dalam ke bagian tubuhnya dibawah sana. Membuat dirinya merasakan berkali-kali kenikmatan sementara suaminya masih terus menggerakan pinggulnya mencari kenikmatannya sendiri.

"Sehun! ahmmphhh."

Luhan memejamkan erat matanya saat entah yang ke berapa kalinya dirinya mencapai orgasmenya malam ini. Sementara Sehun terus menyunggingkan senyum mautnya merasa puas bisa memuaskan satu-satunya pria yang selalu ia jaga dalam hidupnya.

Dan tanpa aba-aba apapun pada Luhan, Sehun kembali menghentak kasar lubang yang sedang meremat junior suaminya karena sedang merasakan orgasmenya. Membuat Sehun hampir meledak tak tahan merasaka gejolak cinta sepanas ini hingga akhirnya dia menyusul kenikmatan yang sedang dirasakan Luhan.

Sehun memejamkan matanya dan sedikit menggerakan pinggulnya memastikan kalau dia memberikan kehangatan pada istrinya di bawah sana.

Sampai akhirnya mata itu membuka dan kedua pasang mata itu bertemu saling memandang dan merasakan kenikmatan yang luar biasa.

Sehun mengecup dahi Luhan, kemudian ke kedua kelopak mata Luhan, turun ke hidungnya sampai akhirnya kembali melumat bibir yang terlihat membengkak itu. Menggoda istrinya dan kembali menyatukan ke dua dahi mereka.

"Aku masih menginginkanmu." Sehun menatap dalam ke mata istrinya berharap Luhan masih mau melayaninya walau tiga jam yang sangat panas telah dilalui keduanya.

Luhan tersenyum dan mengecup lama kening suaminya "then take me as much as you want babe."

Dan pergumulan panas itu pun kembali berlanjut. Keduanya saling menyalurkan rasa penyesalan dan rasa cinta mereka bersamaan. Berharap dengan menyatukan diri mereka rasa cinta yang tumbuh semakin kuat dan tak terpisahkan.

..

..

..

Keesokan paginya, Sehun membuka matanya dan tersenyum sangat tampan mengingat kalau semalam dia sangat puas menjamah dan menggagahi istrinya yang sama sekali tak menolak. Membuatnya berkali-kali merona mengingat wajah seksi Luhan saat mendapatkan klimaksnya.

Sehun kemudian baru menyadari kalau istrinya sudah tak berbaring disampingnya membuatnya mengernyit sedikit mencari samapi aroma makanan tercium di hidungnya. Dia pun tersenyum dan hanya memakai boxernya menghampiri istrinya yang sudah pasti berada didapur.

"Baby kau sudah bangun."

Luhan sedikit menoleh melihat wajah suaminya yang kini bertumpu di bahunya dengan kedua tangan yang melingkar erat di perutnya.

"hmmmh.." gumamnya membalas Luhan dengan cepat.

Luhan kemudian membalik tubuhnya dan memaksa Sehun menatapnya "Coba aku mau melihat wajahmu." katanya memaksa Sehun untuk melihatnya namun Sehun terus menolak menyadari betapa konyolnya wajahnya saat ini.

"Kau tampan….suamiku yang tampan." gumam Luhan mengusap lembut wajah Sehun dan bersyukur masih bisa menikmati pagi hari bersama.

"Aku tahu." balas Sehun membuat Luhan sedikit terkekeh.

"Kau ini! Cepat bersiap lalu sarapan kita harus pergi ke rumah sakit."

Luhan yang masih sibuk menyiapkan sarapan ke meja makan sedikit kesulitan berjalan karena bagian bawahnya benar-benar masih terasa sakit ditambah dengan Sehun yang kini mengekorinya tak mau melepaskan pelukannya.

"Kenapa kita harus ke rumah sakit?" katanya bertanya pada Luhan sambil sesekali mengecup tengkuk Luhan dan meniup bekas luka yang berada di leher istrinya.

"Kau belum berterimakasih pada Kai. Dia akan pulang besok pagi, jadi aku ingin kau berterimakasih padanya."

"Ah kau benar…. Aku harus berterimakasih padanya, aku juga harus memberikan bonus untuknya."

"Kai tidak membutuhkan bonus dia hanya ingin tahu bahwa kau tidak akan memecatnya. Haah~…. Kai memang yang terbaik." gumam Luhan tersenyum membuat Sehun mengernyit.

"Kau tidak sedang menyukai Jongin kan?" tuduh Sehun yang langsung disambut tawa renyah dari istrinya.

"Kenapa kau bertanya seperti itu?" katanya masih terkekeh melihat suaminya yang sedang cemburu.

"Entahlah hanya bertanya." katanya semakin melingkarkan kedua tangannya di pinggang istrinya.

Luhan kemudian membalikan tubuhnya dan sedikit berjinjit mengecup bibir suaminya "Sampai saat ini hanya Oh Sehun yang bisa membuatku gila. Aku milikmu sayang"

Sehun menyunggingkan senyuman khas miliknya, lalu kemudian menarik pinggang Luhan meniadakan jarak diantara keduanya.

"Kau memang milikku." katanya mengingatkan Luhan dan tak lama kembali mengecup bibir istrinya yang terlihat masih membengkak karena ulahnya semalam.

Luhan sendiri hanya kembali membiarkan suaminya menguasainya dirinya lagi, berniat tak menolak apapun yang bisa membuat suaminya merasa berbahagia.

"Sehun-mmph.."

Luhan memalingkan wajahnya berlawanan saat merasa suaminya sudah kembali merasakan gairahnya, membuatnya harus menghentikan kegiatan menggoda suaminya sebelum dirinya kembali harus berakhir di ranjang.

"Dengar…. Aku janji kita bisa melakukannya kapan saja tapi tidak pagi ini. Aku memiliki jadwal operasi dan kau harus menjenguk Kai." katanya masih berusaha menghindari suaminya yang sedang menjilati tengkuk dan menyesap lehernya kuat.

"Aku mengerti." gumam Sehun dan kembali beralih melumat bibir Luhan yang kali ini benar-benar gemas pada suaminya.

"Kalau kau mengerti…. Berhenti melumatku dan kita bersiap sekarang." katanya menangkup wajah Sehun dan mencium bertubi-tubi bibir seksi suaminya.

"Aku mencintaimu." Sehun menahan lengan Luhan yang sudah beranjak pergi darinya. Membuat Luhan tersenyum dan mengecup kedua tangan suaminya "Aku juga mencintaimu."

Bibir itu kembali menyunggingkan senyum yang membuatnya terlihat sangat tampan bersyukur bahwa dirinya benar-benar masih memiliki istrinya secara utuh walau banyak cobaan yang harus ia hadapi di kehidupan pernikahannya. "Terimakasih karena terus bertahan denganku sayang." Gumaman itupun terdengar sangat tulus, membuatnya memutuskan untuk melakukan yang terbaik agar Luhan tetap berada disampingnya-..Selamanya.

..

..

..

"Kau pergilah ke ruangan Kai. Aku ingin mengganti seragamku, aku akan menyusulmu sebelum melakukan operasi hmm."

Saat ini Luhan sedang menggenggam tangan Sehun memasuki rumah sakit tempatnya bekerja, tak mempedulikan tatapan tercengang dari seluruh pegawai yang mengenalnya dan Sehun. Luhan yang setahun belakangan ini biasanya akan mati-matian menolak kedatangan Sehun namun Luhan yang terlihat pagi ini adalah Luhan yang menggenggam posesif suaminya dan tak mempedulikan siapapun yang berbisik di sepanjang perjalanannya menuju ke ruangannya.

"Aku mungkin akan melakukan operasi selama empat jam dan setelahnya bebas. Jadi kau harus menunggu di ruanganku. Oke?"

Sehun sama sekali tak menjawab semua celotehan Luhan, karena saat ini dia sedang tersenyum menyapa semua orang yang sedang melambai ke arahnya. Menurutnya tak masalah jika dia sekedar membalas orang-orang yang tahu bagaimana perjuangannya setahun ini jika ingin bertemu Luhan dan lagipula dia sangat senang saat menyadari kalau hari ini istrinya sangat posesif padanya. Dan itu adalah hal yang sangat jarang terjadi.

"Astaga Oh Sehun! Berhenti tebar pesona dan jawab semua ucapanku."

Luhan tiba-tiba berhenti didepan Sehun, membuat Sehun yang sedang melambai dan tersenyum kepada perawat-perawat cantik terkekeh karena saat ini Luhan benar-benar menggemaskan untuknya.

"Kau akan menungguku selesai operasi hari ini. oke?!"

Luhan bertolak pinggang memarahi Sehun yang masih terlihat menahan senyum tebar pesonanya. "Oke istriku. Oke!" katanya menyatukan jari telunjuk dan ibu jarinya membentuk huruf O dan mengangguk bersemangat.

"Sekarang berhenti memasang wajah idiot itu dan segera pergi menemui Kai."

Luhan sudah memasuki lift meninggalkan Sehun yang tidak diijinkan menaiki lift karyawan, membuat Sehun sedikit menatap tak percaya pada Luhan sebelum akhirnya Luhan menekan tombol lift agar tak tertutup dan menarik dasi suaminya, menciumnya sekilas namun telak di bibir.

"Aku benar-benar terlambat. Sampai bertemu nanti sayang." Katanya kembali memasuki lift dan tersenyum pada Sehun yang saat ini sedang tertawa senang, saling bertatapan sebelum akhirnya pintu lift tertutup membuat Sehun sedikit mendengus karena harus menunggu istrinya selama kurang lebih empat jam.

Sehun pun mengangkat kedua bahunya sekilas dan memutuskan untuk menemui Kai di ruangannya.

Cklek..!

"Kau terlihat bosan hanya bersandar disana."

Kai yang sedang bersandar di tempat tidurnya tampak terkejut mendapati bosnya sedang berjalan ke arahnya dengan wajah tersenyum.

"Tidak perlu bergerak." Sehun memperingatkan Kai yang sedang mati-matian berusaha membungkukan badannya.

"Apa kau kesini untuk membunuhku?"

Sehun menaikkan kedua alisnya menatap Kai yang terlihat sudah siap jika dirinya melakukan sesuatu mengerikan padanya "Dan kenapa aku harus membunuhmu?" Sehun balik bertanya pada Kai yang tampak kebingungan.

"Karena aku hampir membuat istri anda terluka bos."

"Jika Luhan yang berbaring ditempatmu mungkin cerita akan berbeda. Tapi karena kau yang sedang berbaring disana, itu artinya kau mengerjakan tugasmu dengan baik. Dan aku berterimakasih karena kau melakukan hal terbaik untuk melindungi istriku." Katanya tersenyum pada Kai yang benar-benar kebingungan karena sikap Sehun yang tak seperti biasa.

"Bos apa anda baik-baik saja?" katanya memberanikan diri bertanya pada Sehun yang terlihat berbeda.

"Entahlah. aku hanya merasa senang hari ini."

"Terlihat dari wajahmu bos." Katanya memberitahu Sehun yang hanya terkekeh karena benar-benar tak bisa menyembunyikan kebahagaiaanya.

"Kapan kau boleh keluar dari sini?" Sehun bertanya mengalihkan pembicaraannya.

"Lusa saya sudah boleh meninggalkan rumah sakit bos."

"Baguslah aku membutuhkanmu untuk menjaga Luhan. Segera keluar dari tempat membosankan ini dan kembali menjaga istriku. Oke?!"

Kai benar-benar tak menyangka kalau Sehun masih mempercayakan Luhan padanya, karena Sehun yang biasa akan langsung membunuh seluruh penjaga pribadi Luhan jika sampai Luhan tergores bahkan hanya sebuah goresan kecil. Namun mendengar kenyataan Sehun masih mempercayakan keselamatan pria yang diam-diam ia kagumi itu, membuatnya mengangguk dengan cepat dan tak menolak kesempatan itu.

"Saya akan menjaga Luhan dengan baik bos." Katanya meyakinkan Sehun yang tampak tersenyum.

"Kau memang harus menjaganya. Aku takut lengah dan membuatnya terluka. Kau harus benar-benar menjaganya Kai." Sehun berpesan dengan nada yang sangat memohon pada Kai untuk tidak lengah sedikitpun saat dirinya sedang bersama Luhan.

"Tentu saja bos. Aku akan menjaga istri anda dengan nyawaku sendiri." Gumamnya meyakinkan Sehun yang kini menatapnya penuh arti "Terimakasih Kai."

Kai pun hanya tersenyum mendengar ucapan terimakasih dari seorang yang dikatakan iblis oleh semua yang mengenalnya. Mendengar pria itu memohon membuatnya bertekad untuk menjaga satu-satunya hal yang bisa membuat bosnya bertahan hidup.

..

..

..

Saat ini Sehun sedang berada di ruangan Luhan, seperti janjinya dia akan menunggu Luhan menyelesaikan operasi sementara dirinya duduk menunggu dengan sabar. Sebenarnya Sehun sudah mulai bosan karena sudah empat jam dia menunggu tetapi belum ada tanda-tanda kedatangan Luhan.

Dia juga berkali-kali mengabaikan panggilan dari anak buahnya, bertekad untuk tidak membuat istrinya kecewa walau menebak pasti terjadi sesuatu yang penting jika Max dan Yoochun sudah meneleponnya bergantian.

Sehun merasa jengah karena ponselnya terus berdering, dan memutuskan untu meletakkan ponselnya di laci meja kerja Luhan. dengan cepat dia membuka laci kerja Luhan dan meletakkan ponselnya disana sampai matanya menatap sesuatu yang menarik perhatiannya.

Sehun mengambil sebuah map berwarna biru dan membuka map tersebut, tak lama dia tersenyum karena mendapati seluruh foto dirinya yang sedang berada di Jepang ada di laci kerjanya istrinya, membuat hatinya menghangat menebak Luhan menyewa seseorang untuk memastikan keadaanya sementara saat itu dia dalam keadaan sangat marah padanya.

"Aku tidak menyangka kau masih bertahan dengan Luhan."

Sehun yang masih memperhatikan beberapa foto yang diambil secara diam-diam cukup terdiam menyadari benar suara siapa yang sedang berbicara padanya dengan cukup menyindir. Membuatnya menoleh sekilas dan mendapati Park Chanyeol sedang berbicara dengannya.

"Aku akan bertahan dengannya sampai aku mati." Katanya membalas asal Chanyeol yang terlihat geram melihat Sehun masih bersama dengan Luhan.

"Kau tahu kau hanya terus membuat Luhan menderita. Luhan sama sekali tidak berbahagia denganmu." Katanya mendesis memberitahu Sehun yang masih sibuk melihat foto-foto yang berada di meja Luhan.

"Salah. Dia sangat bahagia denganku." Katanya mengoreksi namun tetap membalas Chanyeol dengan sangat dingin.

"Ck. Kau pikir dia masih mencintaimu setelah semua yang terjadi? Apa kau tidak sadar kalau kau adalah penyebab kematian putramu sendiri!"

Gerakan Sehun melihat foto tiba-tiba terhenti saat untuk pertama kalinya ada seseorang yang mengatakan kalau dirinyalah penyebab kenapa Ziyu meninggalkannya dan Luhan. Karena selama ini Luhan bersikeras mengatakan kalau tidak ada yang salah, dan jika memang bersalah maka mereka berdua salah. Luhan tidak pernah sekalipun menyalahkan Sehun walau kenyataannya memang dirinyalah yang membuat Luhan kehilangan Ziyu. Ucapan Chanyeol seolah menampar telak Sehun tepat di wajahnya, hatinya entah kenapa terasa seperti diremat begitu sakit terbayang wajah putra mungilnya sementara tangannya menjadi beku tak bisa digerakkan.

"KAU PEMBUNUH DAN KAU ADALAH KESALAHAN TERBESAR DALAM HIDUP LUHAN!"

"PARK CHANYEOL!"

Teriakan lain terdengar dari pintu masuk ruangan Luhan, menampilkan sang pemilik ruangan yang begitu marah mendapati suaminya dihina oleh seseorang yang dia anggap sebagai kakaknya sendiri.

Luhan melangkah masuk ke ruangannya dengan pandangan yang terus menatap Sehun yang terlihat begitu terluka, dia kemudian melepas cepat jas putihnya dan sedikit melemparnya ke atas meja lalu menggenggam tangan suaminya yang terasa sangat dingin.

"Ini terakhir kalinya aku melihatmu berbicara kasar pada Sehun. Jika kau melakukannya lagi aku tidak akan memaafkanmu yeol!" Luhan mendesis menatap Chanyeol dan kemudian dengan sengaja menabrak bahu Chanyeol pergi meninggalkan ruangannya, dengan menggengam erat jemari Sehun.

..

..

..

"Ini makanlah."

Luhan sengaja membawa Sehun ke taman didekat rumah sakitnya memberikan gulali pada suaminya yang masih terlihat diam dan masih berusaha menghibur Sehun yang tampak terluka karena ucapan Chanyeol.

Sehun sedikit menoleh dan mengernyit karena Luhan memberikan gulali ukuran jumbo padanya saat ini.

"Pria dewasa tidak makan gulali sayang." katanya terkekeh memberitahu Luhan yang terlihat menggemaskan karena sedang mencuil gulalinya.

"Bilang aaaaa."

Luhan sedikit memaksa Sehun yang hanya tersenyum dan kemudian membuka mulutnya memakan gulali yang diberikan Luhan.

"Apa ini manis?" tanya Luhan saat Sehun mulai mengunyah gulalinya.

"Kau lebih manis baby." balas Sehun membuat Luhan cemberut karena sedang digoda suaminya yang masih terlihat tertawa dengan terpaksa.

Luhan mendesah pelan dan beralih berjongkok didepan Sehun menggenggam erat jemari suaminya.

"Apa kau baik-baik saja?" katanya bertanya pada Sehun yang tampak menghindari kontak mata dengannya.

"Baby…"

Luhan menangkup wajah Sehun dan bertumpu pada kedua lututnya agar wajah mereka bisa saling melihat dengan jelas.

"Apa kau baik-baik saja?" katanya mengulang bertanya pada Sehun yang kini sepenuhnya menatapnya.

Sehun menggeleng lemah dan balik menangkup wajah Luhan mengelus wajah pria cantiknya dengan sayang.

"Kenyataan kalau aku mungkin salah satu kesalahan dalam hidupmu membuatku sedikit merasa bersalah. Ditambah itu adalah kali pertamanya aku mendengar kalau aku penyebab Ziyu meninggalkan kita Lu. Maafkan aku terus membuat luka untukmu sayang."

Air mata itu lolos begitu saja saat menatap dalam ke wajah istrinya yang selalu terlihat seperti malaikat untuknya. Semua kenangan tentang keluarga kecil mereka berputar begitu saja di benak Sehun membuatnya merasa sangat bersalah dan tak bisa menatap Luhan yang selalu menjadi kuat untuknya dan dirinya sendiri.

Luhan secara naluriah pun menghapus air mata suaminya. Dia tahu kalau Sehun saat ini sedang kembali merasa bersalah untuk semua yang terjadi pada keluarga kecil mereka. Dia mengecup sayang kelopak mata Sehun bergantian lalu kembali memaksa Sehun menatapnya dengan benar tanpa rasa bersalah yang sedang ia rasakan.

"Kau dan Ziyu-…Kalian berdua adalah sesuatu yang sampai saat ini menjadi hal terindah yang selalu aku syukuri. Aku sangat bersyukur mempunyai suami yang begitu menyayangi putraku dengan sangat, suami yang selalu mencintaiku seluruh keegoisan dan kekuranganku. Terimakasih untuk semua itu sayangku."

"Dan kau bukan kesalahan dalam hidupku. Kau adalah segalanya untukku. Semua yang kita rasakan saat ini hanya bagian kecil dari apa yang selanjutnya akan kita hadapi sayang. Aku mungkin bisa bertahan saat Ziyu meninggalkan kita karena kau selalu ada untukku. Tapi aku tidak akan pernah bertahan jika sesuatu terjadi padamu atau kau pergi berjalan menjauh dariku. Jadi aku mohon, lupakan semua yang kau dengar dari Chanyeol. Dia tidak tahu bagaimana perjuangan kita untuk mempertahankan pernikahan kita sayang. Dia tidak tahu betapa sulitnya mempertahankan sesuatu yang sedang dibangun sementara cobaan terus menerus datang secara bersamaan. Dia memang tidak perlu mengetahuinya karena itu kehidupan kita."

"Kau akan tetap berjuang bersamaku untuk mempertahankan pernikahan kita kan?"

Luhan semakin memaksa Sehun melihatnya. Membuat Sehun menoleh menatapnya dan merasa sangat damai melihat wajah Luhan yang begitu menenangkan, diapun tersenyum dan mengangguk menyetujui ucapan istrinya "Aku akan tetap bersamamu dan melakukan segala cara untuk mempertahankan pernikahan kita." Katanya tersenyum merasa sangat lega Luhan selalu berada disampingnya, menghiburnya setiap kali dia terjatuh.

"Itu baru suamiku." Luhan menarik hidung Sehun cukup keras membuat Sehun sedikit meringis karenanya.

"Ayo kita makan gulalinya." Sehun tiba-tiba mengambil gulali yang berada disampingnya dan memakannya dengan lahap.

"Pria dewasa tidak makan gulali sayang." Luhan mencibir menyindir Sehun yang kini tertawa lepas.

"Oh kau salah! Pria dewasa selalu memakan yang manis-manis." Katanya mengerling Luhan dan membawa istrinya ke dekapannya dan membiarkan angin sore menerpa wajah mereka, saling menutup mata bersyukur kalau Tuhan memberikan kekuatan cinta yang luar biasa untuk keduanya.

"Terimakasih karena kau selalu menghiburku sayang. Aku benar-benar tak bisa hidup dengan baik tanpamu." Gumam Sehun mencium pucuk kepala Luhan dengan sayang.

"Itu sudah tugasku." Katanya bergumam membalas Sehun.

"Bagaimana menghiburku menjadi tugasmu baby. Tugasmu melayaniku." Bisik Sehun membuat Luhan memukul pelan dadanya.

"Ish apa kau tidak ingat dengan janji pernikahan kita." Katanya mengingatkan Sehun.

"Saya Xi Luhan bersedia menerima dan menikahi Oh Sehun sebagai suami dan pendamping saya yang sah serta bersedia menemani dalam keadaan senang maupun susah, sehat atau sakit, untuk saling mencintai dan saling menghargai hingga maut memisahkan kami berdua"

Luhan mengulangi janji pernikahannya dengan Sehun, membuat Sehun sedikit tertegun dan benar-benar tak menyangka jika Luhan memiliki rasa cinta yang begitu besar untuknya. Bahkan jika ingin dibandingkan rasa cinta Sehun untuk Luhan mungkin mengalahkan rasa cinta Luhan untuknya.

"Aku mencintaimu Lu-…Aku benar-benar mencintaimu." Gumam Sehun yang merasa tak mengerti harus melakukan apalagi untuk membuktikan bahwa Luhan benar-benar memiliki separuh hidupnya dan seluruh nafasnya.

"Aku tahu…Aku bisa merasakannya. Aku juga mencintaimu Sehunna."

Luhan membalasnya, menyembunyikan wajahnya dipelukan Sehun dan bisa merasakan detak jantung suaminya yang terdengar begitu kencang, kemudian tersenyum dan diam-diam dia mengambil sesuatu yang selalu ia bawa di sakunya dan tak pernah dia tinggalkan.

Sebuah liontin kecil dengan wajah Sehun dan Ziyu di masing-masing sisinya. Sedikit mengusap wajah Ziyu sekilas berharap putranya bisa merasakan kebersamaan kedua orang tuanya. Lalu kemudian menghapus cepat air matanya yang jatuh karena tak ingin membuat suaminya kembali merasa bersalah dan mengkhawatirkan dirinya.

Luhan kemudian mendongak memaksa melihat wajah Sehun, lalu dengan cepat dia menarik tengkuk suaminya dan kembali melumat lembut bibir yang selalu bisa memberikan kehangatan untuknya.

"Minggu depan adalah setahun kepergian Ziyu. Aku ingin kita pergi berdoa bersama." Gumamnya memberitahu Sehun.

Sehun melepas jaket yang ia kenakan lalu memakaikannya pada Luhan yang sudah terlihat kedinginan, kemudian dia menangkup wajah Luhan dan mencium lama kening istrinya, tersenyum menatap dalam wajah Luhan dan kembali mendekap erat istrinya.

"Kita akan pergi bersama."

Keduanya tersenyum dan saling mendekap erat. Mengabaikan kedua pasang mata yang sedang memperhatikan mereka. Dimana yang satu menatap tersenyum mendoakan sementara yang satu semakin merasa kalau Luhan hanya akan merasakan kesedihan jika terus bersama Sehun.


tobecontinued...


nextchapter ada beberapa wajah baru yak!...

.

wait for the power of love ver Hunhan selanjutnya di next chapter ")

.

happy reading and review...