previous..
Luhan kemudian mendongak memaksa melihat wajah Sehun, lalu dengan cepat dia menarik tengkuk suaminya dan kembali melumat lembut bibir yang selalu bisa memberikan kehangatan untuknya.
"Minggu depan adalah setahun kepergian Ziyu. Aku ingin kita pergi berdoa bersama." Gumamnya memberitahu Sehun.
Sehun melepas jaket yang ia kenakan lalu memakaikannya pada Luhan yang sudah terlihat kedinginan, kemudian dia menangkup wajah Luhan dan mencium lama kening istrinya, tersenyum menatap dalam wajah Luhan dan kembali mendekap erat istrinya.
"Kita akan pergi bersama."
Keduanya tersenyum dan saling mendekap erat. Mengabaikan kedua pasang mata yang sedang memperhatikan mereka. Dimana yang satu menatap tersenyum mendoakan sementara yang satu semakin merasa kalau Luhan hanya akan merasakan kesedihan jika terus bersama Sehun.
.
.
.
.
.
.
.
.
Entangled
Main Cast : Sehun & Lu Han
Genre : Romance, Family, Hurt/Comfort
Rate : M
Length : Chapter
YAOI. Typo (s)
HUNHAN STORY!
.
.
.
.
.
Drrrt….drrtt…
Terdengar bunyi getaran ponsel yang berada di atas meja. Entah sudah berapa kali ponsel itu bergetar namun si pemilik tak kunjung membuka mata sampai akhirnya sang istri yang mendengar suara getaran itu terusik.
"Baby ponselmu berbunyi." Si pria cantik sedikit menoleh ke belakang untuk memberitahu pria tampannya yang sedang memeluknya erat, namun tak lama dia terkekeh karena suaminya hanya memanyunkan bibirnya tanda ia tak suka diganggu.
Drrrt….drrtt.
"ssshhhh…."
Pria cantik yang berprofesi sebagai dokter itupun sedikit membuka selimutnya dan meringis kecil mengingat saat ini kejantanan suaminya masih berada di lubang kecilnya dibawah sana. Membuatnya tersenyum senang menyadari kalau semalam keduanya kembali melakukan percintaan yang begitu menggairahkan membuat mereka melakukannya sampai beberapa kali dan terakhir mereka melampiaskan hasrat masing-masing Sehun menolak mengeluarkan miliknya dan memaksa Luhan untuk tidur dengan posisi yang ia inginkan.
Luhan sedikit kesulitan mengambil ponsel suaminya karena Sehun terus menariknya mendekat tak menginginkan jarak diantara mereka "Halo…"
"Ah Max… ini Luhan. Suamiku masih tidur. Ada apa?."
"Baby…" Luhan sedikit mendesah karena saat ini Sehun semakin memperdalam kejantanannya di bawah sana.
"Begitukah. Baiklah hubungi dia nanti malam. Hari ini suamiku tidak akan menyalakan ponselnya."
Luhan dengan cepat mematikan ponsel Sehun dan kembali bersandar, berusaha membalikan dirinya yang disambut lenguhan protes dari pria tampan yang berada dibelakangnya.
"Kenapa dilepas?" Sehun bertanya parau dengan satu mata terbuka menatap Luhan yang saat ini memandangnya tertawa.
"Pinggulku keram karena tidak bisa bergerak" ujarnya tertawa dan tak lama mengecup kening suaminya.
"Baby bersiaplah. Kita akan terlambat jika tidak pergi sekarang. Ziyu sudah menunggu kita."
"Aku akan menyiapkan sarapan. Kau cepat mandi dan bersiap hmm." Luhan bangun dari tempat tidurnya yang terlalu nyaman karena bersama suaminya dan kemudian memungut kemeja kebesaran milik Sehun yang tergeletak begitu saja di lantai.
"Aku menunggumu diluar sepuluh menit. Jika sepuluh menit kau belum siap, aku marah."
Luhan sedikit mengancam Sehun membuat Sehun secara refleks membuka matanya dan terlihat sangat menikmati paha putih dan mulus istrinya yang terekspos bebas menggunakan kemeja kebesaran miliknya.
Luhan masih sibuk menyiapkan bekal dan sarapan mereka untuk hari ini sampai dia mendengar suara pintu kamarnya terbuka membuatnya menoleh dan tersenyum merona melihat suaminya yang begitu tampan dengan kemeja putih yang memperlihatkan lekuk sempurna dari tubuhnya.
Sehun pun menyadari kalau saat ini Luhan sedang memperhatikannya, membuat bibir tipis miliknya tersenyum menyeringai dan berniat menggoda Luhan yang masih berbalut kemeja tipis favoritnya.
Luhan yang menyadari perubahan raut wajah Sehun langsung berpaling dan kembali sibuk dengan pekerjaannya menyiapkan sarapan untuk suaminya. Dia mendengus kesal pada diri sendiri karena telah membangunkan singa yang tak pernah puas yang bisa menerkamnya kapan saja.
"Jangan mendekatiku aku sibuk." Luhan memperingatkan Sehun bahkan sebelum Sehun berjalan mendekatinya. Merasa suaminya tak kunjung mendekat membuatnya sedikit penasaran dan luar biasa merasa malu karena ternyata Sehun langsung duduk di meja makan dan berpura-pura membaca koran sibuk menahan tawa "Oh Sehun kau benar-benar membuatku kesal." Luhan tertawa kesal dan berjalan menghampiri suaminya di meja makan.
Merasa Sehun terus menggodanya Luhan sengaja meminum orange juice untuk membalas menggoda suaminya "ssshhh.."
Sehun yang masih membaca koran mau tak mau melihat ke arah Luhan dan seketika membeku melihat pose istrinya yang begitu menggairahkan dengan orange juice yang sengaja ia minum dengan berlebihan membuatnya terlihat sangat seksi karena saat ini leher jenjang istrinya dipenuhi air yang menetes karena Luhan sengaja membuatnya menetes.
"Kenapa melihatku? Bukannya kau sibuk?"
Luhan sedikit berbisik di tengkuk suaminya dan tak lama melenggang kekamarnya untuk bersiap membuat Sehun bersumpah untuk tidak menggoda istrinya lagi.
Dan beberapa menit kemudian Luhan yang baru saja selesai bersiap tidak menemukan keberadaan Sehun di ruang makan. Membuatnya sedikit mengernyit dan berjalan perlahan mendekati ruang kerja Sehun dan tersenyum mendapati suaminya memang berada disana seperti mencari sesuatu.
"Baby…"
Sehun sontak menoleh saat mendengar Luhan memanggilnya membuatnya sedikit gugup dan menyembunyikan sesuatu di belakang tangannya.
"Kau kenapa?" Luhan bertanya sedikit mengernyit sambil berjalan mendekati suaminya yang hanya tersenyum lirih.
"Aku tidak suka jika kau menyembunyikan sesuatu."
Luhan mengambil barang yang disembunyikan Sehun di belakang tangannya dan sedikit tercekat karena sangat mengetahui benda apa yang disembunyikan oleh Sehun.
"Aku berniat membawanya hari ini. Ziyu pasti merindukan bambinya."
Sehun memberitahu istrinya dengan suara putus asa membuat Luhan terdiam cukup lama sampai akhirnya dia tersenyum menatap ke arah Sehun. "Kalau begitu dia akan tahu siapa yang selama ini yang menyembunyikan bambi kesayangannya."
Luhan mengembalikan boneka rusa kesayangan putranya pada Sehun. Sedikit menghela nafas berat dan kemudian menggenggam erat tangan suaminya "Apa kau siap?"
Sehun tidak memberikan respon apapun hanya tersenyum sebisa mungkin saat akhirnya Luhan membawanya pergi menuju kedalam mobil. Keduanya masih belum menerima kepergian Ziyu, membuat tak satupun dari mereka datang berkunjung ke makam putra mereka sendiri. Dan hari ini adalah hari dimana Ziyu menghembuskan nafasnya terakhir. Membuat kedua orang tuanya harus menerima kenyataan pahit dan setidaknya mendoakan bersama setelah setahun lamanya.
..
..
..
Tak ada yang berbicara selama perjalanan menuju ke tempat peristirahatan putra mereka. Keduanya hanya menikmati perjalanan panjang menuju tempat dimana putra mereka berisitirahat dengan tenang. Sehun dan Luhan sengaja membuat Ziyu beristirahat dengan tenang di tempat favoritnya. Putra kecil mereka sungguh menyukai pantai, membuat keduanya sepakat untuk memberikan hadiah terakhir untuk Ziyu agar bisa beristirahat dengan suara ombak yang sesekali terdengar sampai ke tempat peristirahatannya karena jaraknya yang tak begitu jauh. Sehun hanya fokus menyetir sementara Luhan melihat ke luar jendela menikmati pemandangan pantai sambil membayangkan putranya yang akan selalu bersorak jika melihat pasir dan ombak.
Hatinya selalu berdenyut sakit jika terus membayangkan wajah putra kecilnya. Tapi dia kembali harus menahannya karena pria yang berada disampingnya akan merasa sangat kesakitan jika melihatnya bersedih atau terluka. Dan Luhan tidak mau itu terjadi. Sehun adalah segalanya untuknya. Maka dia akan melakukan apapun untuk membuat suaminya berbahagia.
Dan setelah menempuh perjalanan hampir 3 jam lamanya. Sehun menghentikan mobilnya di sebuah pemakaman yang terletak tak jauh dari pantai, membuatnya bisa mendengar suara ombak yang sangat disukai putranya. Dia masih terdiam cukup lama sampai dirinya merasakan tangan hangat istrinya menggenggamnya erat.
"Ayo kita turun."
Sehun menatap dalam ke wajah Luhan, menemukam sebuah ketegaran luar biasa di wajah malaikat istrinya. Sebuah tatapan lembut meyakinkan dari pria yang sangat dicintainya. Pria yang jelas memiliki luka lebih besar darinya namun selalu tersenyum hangat untuk apapun yang sedang ia rasakan. Pria yang selalu menjadi kuat untuknya dan selalu mencintainya dengan sepenuh hati.
Sehun membalas genggaman tangan itu. Sedikit menarik istrinya mendekat kemudian melumat lembut bibir pria cantiknya sebelum akhirnya kembali menatap Luhan dengan ketegaran yang sama seperti yang dimiliki istrinya.
Sehun kemudian mengangguk dan membuka pintu mobilnya sedikit mengitari mobilnya dan membukakan pintu untuk istrinya.
Luhan pun tersenyum menyambut genggaman Sehun. Keduanya kemudian menyusuri taman pemakaman yang dirawat dengan indahnya hingga akhirnya kedua kaki mereka berhenti melangkah saat batu nisan bertuliskan Oh Ziyu terpampang terlalu jelas di kedua mata mereka.
Luhan mendekati makam putranya, berjongkok disana dan mencium sayang nisan yang bertuliskan nama putra kecilnya. Dia tersenyum rindu lalu kemudian meletakkan bunga yang sudah ia siapkan untuk Ziyu.
"Anakku."
Suara itu terdengar parau. Matanya menatap kosong kedalam nisan yang bertuliskan nama anaknya. Berharap Tuhan sedikit baik membuatnya bisa kembali melihat putranya walau semua itu tidak mungkin terjadi.
"Eomma dan appa datang nak. Kami berdua datang untuk melihatmu sayang." ujarnya tersenyum membelai makam putranya.
"Kami berdua janji akan lebih sering datang melihatmu nak. Jadi kau harus berbahagia disana."
Luhan menghapus air matanya dan menghela dalam nafasnya kemudian mencium lama batu nisan putranya "Eomma mencintaimu sayang." Luhan kemudian berdiri dan menatap Sehun yang sedari tadi hanya berdiri di belakangnya terlihat memucat dan tak berkata apa-apa.
Luhan tahu benar apa yang sedang dirasakan suaminya. Dia tersenyum dan berjalan menghampiri Sehun kemudian memeluknya erat menguatkan pria tampannya.
"Giliranmu sayang. Ziyu pasti menunggumu." Luhan membenarkan rambut Sehun memberitahu suaminya dengan lembut.
Terlihat dari wajah Sehun yang semakin memucat, dia membalas tatapan istrinya dan menatap Luhan dengan frustasi "Aku tidak bisa Lu."
Luhan sedikit tersenyum dan menangkup wajah tampan Sehun yang terlihat memucat, menciumnya sekilas dan menatap memohon ke arah Sehun. "Kau bisa-...putraku merindukan ayahnya."
Sehun sedikit menghela nafasnya dan kemudian melepas genggaman Luhan pada tangannya "Aku juga merindukan putraku" lirihnya dan tak lama Sehun nengalahkan rasa takutnya dia berjalan mendekati tempat putranya beristirahat sementara Luhan memutuskan untuk tidak mengganggu momen antara suami dan putranya. Dia hanya berdiri disana menperhatikan suaminya yang selalu bisa membuat malaikat kecil mereka tertawa setiap saat. Bahkan saat Luhan menyerah menenangkan Ziyu yang terus menangis. Saat itu Sehun akan datang dan suara tangisan Ziyu akan berubah menjadi tawa riang yang berlebihan. Luhan merindukan semua tentang suami dan putranya. Terlalu merindukan hingga membuatnya tak bisa mengungkapkan.
"Halo jagoan ayah. Lihat apa yang aku bawa untukmu." Sehun menyapa putranya dan mengeluarkan boneka bambi berukuran besar yang sedari tadi ia sembunyikan di belakang tangannya.
"Ini bambi kita. Ini eomma." Katanya mengecilkan suaranya seakan tidak ingin Luhan tahu bahwa selama ini keduanya selalu mengibaratkan boneka rusa itu seperti Luhan yang sedang cemberut atau marah. Luhan terkekeh mendengarnya, bagaimana mungkin dia tidak tahu rahasia kecil itu kalau setiap melihatnya Ziyu akan selalu memanggilnya big bambi..
Sehun kemudian meletakkan boneka bambi itu dan sedikit mengikatnya dengan batu nisan putranya "Mulai sekarang bambi akan bersamamu agar kau tidak kesepian sayang." Suara Sehun mulai berubah karena saat ini wajah Ziyu yang tertawa dan selalu berlari menyambutnya pulang kerumah terbayang jelas di benaknya.
"Ziyu sayang, apa kau kedinginan disana? Apa kau kesepian?" Sehun mulai mengusap nisan bertuliskan nama putranya dengan pandangan menerawang.
"Ayah kesepian tanpamu nak." Lirihnya tertunduk membiarkan rasa bersalah kembali menguasai dirinya.
"Appa merindukan suaramu saat tertawa, wajah malaikatmu yang seperti ibumu jika sedang tertidur. Wajah kesalmu jika ayah pulang terlambat. Appa merindukan saat kau berlari dari kamar ke depan pintu hanya untuk memeluk ayah. Aku-…." Sehun tidak bisa lagi melanjutkan ucapannya dirinya benar-benar sesak saat ini sementara Luhan hanya bisa melihat punggung suaminya bergetar hebat saat mengucapkan seluruh kalimat rindunya untuk putra kecil mereka.
Luhan mendongak ke atas mencegah airmatanya turun dan tak lama kembali disergap rasa sesak saat melihat Sehun yang masih terus menerus bergetar tak berkata apapun lagi hanya mengelus lembut nisan bertulis nama putra mereka secara berulang.
"Tapi ayah janji akan melakukan siapapun yang membuatmu harus merasakan sakit saat itu nak. Ayah berjanji akan menemukan pembunuh tak berperasaan itu dan akan menyeretnya untuk berlutut meminta maaf padamu. ayah-.."
"Sehun…."
"Ayah akan membuat dia merasakan sakit yang sama dengan yang kau rasakan nak. Ayah akan membuatnya terkubur didalam tanah sehingga dia merasakan kedinginan yang kau rasakan. Ayah akan-…."
"Baby cukup…." Luhan sedikit menarik lengan Sehun dan memeluk suaminya erat. Sehun sudah mulai kehilangan kendalinya dan tak bisa menyembunyikan rasa marahnya.
"Aku akan membuat mereka membayar hal yang telah mereka lakukan pada Ziyu sayang." Sehun terus menggumamkan kemarahannya sementara Luhan hanya mengeratkan pelukannya pada Sehun sesekali mengelus punggung suaminya yang terasa tegang tanda kalau saat ini dirinya sedang merasakan kemarahan dan kesedihan bersamaan,
"Aku akan membalasnya."
"Cukup sayang, kau menyakiti dirimu sendiri jika seperti ini. Aku mohon tenanglah hmmm."
Sehun kemudian membalas pelukan Luhan dan sekali lagi menyerahkan dirinya yang begitu lemah pada istrinya, "Aku merindukan Ziyu-….Aku merindukannya Lu." Sehun terisak hebat di pelukan Luhan sementara Luhan sudah bisa menghela nafasnya lega karena Sehun yang hangat telah kembali ia rasakan saat ini.
"Aku juga merindukan putra kita sayang. Tapi dengarkan aku-.." Luhan menangkup wajah Sehun dan sedikit menghapus air mata kerinduan yang selalu berhasil membuat Sehun terlihat sangat terluka.
"Malaikat kecil kita sudah dijaga Tuhan dengan baik disana, dia sudah berbahagia. Dia memiliki pelindung yang akan selalu menemaninya disana. Kau harus percaya itu. Putra kita tidak kesepian dan kedinginan. Dia sedang memperhatikan kita saat ini. Kita tidak boleh membuatnya bersedih karena kemarahan kita baby." Luhan sedikit berjinjit mengecup kening suaminya cukup lama dan kemudian kembali menatapnya dalam.
"Ziyu memiliki segalanya disana. Tapi aku hanya memilikimu disini. Aku takut kehilanganmu, jadi jangan terlalu keras pada dirimu sendiri sayang. Aku-…"
Luhan merasa tubuhnya ditarik dan saat ini dia sedang merasakan ciuman hangat yang diberikan Sehun padanya. Sehun melumatnya lembut, membagi rasa ketakutan yang sama dengannya, membuatnya tersenyum dan menyadari kalau Sehun masih ada untuknya, mereka akan selalu bersama dan berniat untuk tidak berpisah walau entah apa yang akan terjadi nantinya.
"Aku disini dan akan tetap berada disini untukmu. Aku tidak akan pergi kemanapun begitu juga dirimu. Aku mencintaimu Lu."
Luhan tersenyum senang dan kembali memeluk suaminya "Ziyu, ayahmu pintar membual sekarang. Kalau kau masih disini, eomma yakin dia akan mengabaikan eomma nak."
Sehun terkekeh mendengarnya dan semakin memeluk istrinya erat "Kau tahu bagaimana aku mencintai ibumu kan nak? Jadi mustahil kalau ayah mengabaikan ibumu." Katanya tak mau kalah dan semakin memeluk erat istrinya. Keduanya sama-sama menatap ke makam putra mereka dan merasa sedikit demi sedikit sudah merelakan kepergian Ziyu walau rasa bersalah akan selalu keduanya rasakan setiap saat.
..
..
..
"Baby minum ini terlebih dulu."
Luhan yang sedang melamun melihat pemandangan pantai sedikit tersenyum saat suaminya memeluknya dan memberikannya bubble tea yang entah ia dapatkan darimana. Keduanya memutuskan untuk berada di tempat favorit putra mereka lebih lama sebelum kembali ke kota dan kembali sibuk pada pekerjaan masing-masing. Pekerjaan berbeda yang bisa membuat keduanya bertengkar kapan saja.
"Ada yang menjualnya di sekitar sini?" Luhan sedikit menoleh melihat suaminya dan bertanya.
"Ya….di sebelah sana." Sehun menunjuk kedai kecil yang berada tak jauh dari pantai memberitahu istrinya.
"Bagaimana?" katanya bertanya pada Luhan yang sedang mengunyah bubble kecil yang ada di minumannya.
"Tidak buruk."
"Kau memang selalu menyukai minuman aneh itu bahkan sebelum kita bertemu dan mulai berkencan."
"Oh ayolah. Kau juga menyukainya Sehun." Luhan membalikan tubuhnya dan menatap tak percaya pada Sehun.
"Tidak aku tidak menyukai minuman itu. Aku menyukai istriku."
Luhan memicingkan matanya dan tak lama tersenyum sebal ke arah Sehun "Perayu ulung!" gumamnya yang kemudian kembali memeluk suaminya erat. Sehun hanya tertawa sampai dia melihat gulungan ombak yang cukup indah datang mendekat ke arah mereka.
"Baby lihat ombaknya." Sehun kembali membalikan tubuh istrinya dan tak lama merasakan ombak mengenai kaki mereka. Membuat keduanya tertawa karena menyadari bahwa mereka sudah tidak pernah berlibur bersama hampir setahun lamanya.
"Lu.." Sehun memanggil istrinya meletakkan dagunya di bahu Luhan sambil memeluknya semakin erat.
"hmmm."
"Ambil cutimu dan kita akan berlibur kemanapun yang kau mau. Aku ingin menghabiskan waktu berdua hanya denganmu."
"Benarkah?" Luhan sedikit bertanya agak tak percaya jika Sehun memiliki waktu luang untuknya.
"Tentu saja. Anggap saja itu bulan madu pertama untuk kita, mengingat kita tidak pernah berbulan madu setelah menikah karena Ziyu yang tak mau ditinggal ibunya yang cantik.
Luhan tertawa mengingat benar setelah pernikahan mereka berlangsung, Sehun mengajaknya untuk berbulan madu, tapi Ziyu meraung hebat dan menangis kencang membuat kedua orang tuanya mengalah untuk tidak memberikan adik pada Ziyu lebih awal.
"Aku benar-benar ingin kau kembali mengandung anakku. Kau mau kan?" Sehun mengelus perut datar Luhan dan membayangkan bagaimana saat dirinya pertama kali tahu Luhan mengandung Ziyu dan tak pernah sekalipun melewatkan untuk mengelus dan mencium perut Luhan yang semakin hari semakin membuncit dengan seksinya.
Luhan memegang tangan Sehun yang sedang mengelus perutnya, merasakan kerinduan yang sama saat bagaimana Sehun selalu menjaganya dan memperhatikannya berlebihan ketika dirinya mengandung Ziyu "Tentu saja aku mau. Tapi aku ragu kita bisa mendapatkan kehidupan bahagia kita seutuhnya jika kau masih berada di kehidupanmu yang sekarang sayang. Jadi tidak bisakah kau berhenti dan hidup normal bersamaku? Aku tidak membutuhkan Sehun yang memiliki segalanya. Aku hanya ingin Sehun yang hangat, yang akan menjadi ayah dari anak-anakku. Tidak bisakah?"
Luhan membalikan tubuhnya dan menatap Sehun yang terlihat memucat karena dirinya kembali meminta hal yang mustahil padanya. Luhan menatap suaminya cukup lama sampai akhirnya dia menyadari kalau dia kembali mengusik kehidupan privasi suaminya terlalu jauh. Dia kemudian menangkupkan wajah Sehun, memaksa suaminya untuk melihatnya "Kau tidak perlu menjawabnya sekarang. Aku akan menunggumu sampai kapanpun. Aku tidak mempedulikan apa yang kau kerjakan saat ini, tapi aku mohon kau harus selalu baik-baik saja dan tak pernah terluka sedikit pun sayang. Karena jika kau terluka kau menyakitiku. Aku benar-benar mencintaimu Sehun."
Luhan membawa tubuhnya kembali ke dekapan hangat suaminya, membuat Sehun terdiam karena kembali tak bisa membuat Luhan tersenyum dengan lega. Dirinya selalu membuat Luhan hidup ketakutan dengan hal mengerikan yang bisa terjadi padanya kapanpun. Dia tidak bisa menjanjikan apapun pada Luhan dan Luhan sangat mengetahui hal itu. Namun pria cantik yang kini memeluknya erat selalu bertahan dan terus memaafkan semua hal mengerikan yang telah ia lakukan.
"Beri aku waktu Lu. Aku tidak berjanji, tapi aku akan mengusahakannya."
Luhan tersenyum senang karena dia lebih memilih Sehun yang berusaha daripada Sehun yang berjanji. Dia kemudian mengangguk dan menghirup aroma khas suaminya "Aku akan menunggu waktu itu datang pada kita. Waktu dimana kau menjadi milikku seutuhnya."
..
..
..
Saat ini keduanya sedang berjalan pulang kembali menuju Seoul. Tak ada pembicaraan berarti karena Sehun kembali membuat Luhan kesal dengan mengatakan akan menginap di sebuah villa yang berada tak jauh dari pemakaman Ziyu namun harus berakhir kembali ke Seoul karena Max dan Yoochun terus menghubunginya dan membuat Sehun tak punya pilihan lain selain meminta maaf pada Luhan yang hanya diam tak berbicara apapun hampir tiga jam selama di perjalanan mereka.
Luhan bersiap turun saat mobil Sehun berhenti tepat di depan rumah sakit. Dia tidak mau berbicara apapun dan berniat segera turun dari mobil suaminya tidak ingin bertengkar karena lagi-lagi harus mengalah dengan pekerjaan Sehun.
"Ada apa?" Luhan bertanya saat Sehun menarik tangannya, menatapnya takut dan semakin mengeratkan pegangannya di lengan Luhan.
"Apa kau marah?" katanya bertanya pada Luhan yang hanya menghela kasar nafasnya.
"Baby dengarkan aku. Aku tidak pernah marah padamu, aku hanya takut setiap kau datang ke markasmu akan ada sesuatu yang buruk terjadi padamu. Aku benar-benar tidak bisa tenang karena hal itu."
"Tapi kau bilang akan menungguku."
Luhan terdiam sejenak menyadari kalau dirinya sudah terbawa emosi, dia kemudian memutuskan mengalah dan tersenyum sekilas menangkup wajah suaminya "Aku memang akan menunggumu, kau tidak boleh meragukan itu." Katanya mencium bibir Sehun sekilas dan kemudian kembali menatap pria yang sedang ketakutan didepannya ini.
"Pergilah, aku tidak marah. Sampai nanti sayang."
Luhan kembali melangkah keluar sampai tangan Sehun kembali menariknya, "Apa kau akan bermalam denganku hari ini?"
"Itu harusnya menjadi pertanyaanku Sehun, apa kau akan pulang malam ini?" katanya bertanya agak dingin pada suaminya lalu kemudian kembali melangkah menjauh meninggalkan Sehun yang benar-benar frustasi jika Luhan sudah mulai marah kepadanya.
Sehun kemudian sedikit menggeram saat ponselnya terus berbunyi, dia kemudian menjalankan cepat mobilnya dan menuju ke markasnya, dan bersumpah akan membunuh Max dan Yoochun jika apa yang mereka katakan penting ternyata hanya sebuah masalah sampah yang harus membuatnya dan Luhan kembali bertengkar.
Blam….!
"Selamat datang bos."
Terlihat beberapa anak buah Sehun menyapanya, Sehun hanya menatap marah pada semua anak buahnya yang terlihat bersantai selama dirinya tak ada "Jika aku melihat gerbang terbuka lagi. Aku bersumpah akan membuatmu menjilati darahmu sendiri." Geramnya memberitahu salah satu anak buahnya yang terlihat sedang bermain kartu dengan temannya yang lain.
"Ma-maafkan saya bos."
"Mana Max dan Yoochun?"
"Mereka berada di ruangan anda."
Sehun pun melenggang masuk ke markasnya dengan gusar dan tak lama menemukan Max dan Yoochun yang terlihat serius dengan laptop mereka.
"Ada apa? Kenapa kalian terus menerus mengatakan hal ini penting. Apa yang kalian temukan? Aku bertengkar dengan istriku karena kalian."
Keduanya cukup terkejut dengan raut wajah Sehun yang terlihat sangat marah, dia kemudian duduk di kursinya dan menatap kesal kedua anak buahnya yang hanya diam tak bersuara.
"KATAKAN ADA APA?!"
Max dan Yoochun tersentak bersamaan, keduanya semakin ragu memberitahu Sehun namun tahu benar akan sangat bermasalah jika Sehun tidak diberitahu.
"Kami menemukannya." Yoochun membuka suaranya terlebih dulu, menatap Sehun dengan tak yakin sampai akhirnya dia memutuskan untuk memberitahu bosnya kabar yang mungkin baik atau malah sebaliknya bisa menjadi buruk karenanya.
"Menemukan apa?"
"Ziyu-….Kami menemukan siapa yang membunuh putra anda bos."
Sehun membelalak, jantungnya berdetak cepat sampai akhirnya dia mendapatkan kembali kesadarannya dan menatap kedua anak buahnya tak percaya "Benarkah? Benar kalian menemukan bajingan itu?" Sehun bertanya senang pada Max dan Yoochun merasa sebentar lagi akan bisa membuat istrinya tak perlu mengkhwatirkannya lagi.
"Katakan padaku siapa orangnya?"
Keduanya hanya terdiam saat Sehun bertanya, membuat Sehun menatap kedua anak buahnya tak sabar dan
BRAK!
"KATAKAN PADAKU!"
"Kami belum terlalu yakin tentang ini. Tapi satu yang kami yakini tentang pria ini. Dia menyuruh seseorang untuk melakukan hal keji pada putra anda. Dan pria ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan anda. Dia bukan musuh kita bos."
Sehun berjalan cepat menghampiri Yoochun dan
BUGH!
"Kau terlau bertele-tele. Katakan padaku!" katanya menggeram memukul Yoochun yang kini tersungkur di lantai.
"Pria itu tidak ada hubungannya dengan anda. Tapi kami meyakini pria tersebut memiliki dendam pada Luhan-…istri anda."
Sehun langsung menatap Max penuh ketakutan saat nama istrinya dibawa "Apa maksudmu?"
"Kami menyadari kesalahan kami satu tahun ini bos. Kami hanya mencari pelaku dari pihakmu saja, kami tidak berfikir bahwa mungkin Luhan juga memiliki seseorang yang tidak menyukainya. Sampai aku menemukan ini di ruangan Luhan beberapa saat lalu ketika aku mengantarkan dokumen perceraian anda dan istri anda."
Max mengeluarkan selembar foto memperlihatkannya pada Sehun. Sehun langsung mengambil cepat foto itu dan menyadari kalau itu adalah foto Luhan bersama keluarganya di panti asuhan tempat ia dibesarkan. Dia mungkin mengenali Chanyeol dan pria yang ia ketahui bernama Kyungsoo karena Luhan sering menceritakannya, tapi dia sangat merasa asing pada pria yang berdiri disamping istrinya yang terlihat sedang memandang Luhan di foto yang saat ini ia genggam.
"Mengingat Luhan hanya sering bercerita tentang pria bernama Park Chanyeol dan Do Kyungsoo, kami mencurigai pria yang berada di samping kanan istri anda bos. Dan dugaan kami benar setelah kami mencari tahu, kami sedikit menemukan kejanggalan tentang pria ini."
"Namanya Wu Yifan. Dia sudah berada di Seoul selama dua tahun ini, dia merupakan anggota yakuza di Jepang yang lebih dikenal dengan nama Kris. Kami mencurigainya dan mencaritahu keberadannya di Seoul. Dan ini adalah petunjuk yang kami temukan di markasnya yang lama. Kami meyakini dia orangnya." Kali ini Yoochun yang sedikit babak belur memberikan Sehun selembar foto yang lain, membuatnya sedikit terkejut kali ini karena itu merupakan fotonya bersama Luhan dan Ziyu. Dimana wajah Ziyu dan wajahnya ditandai silang dengan spidol merah.
"Dari awal ini semua bukan kesalahan anda bos. Anda tidak menyebabkan kematian putra anda. Pria ini seperti memiliki masalah yang belum selesai dengan istri anda dan membalasnya melalui putra anda dan mungkin diri anda."
Sehun tertawa tak percaya kepada pria yang jelas-jelas mengincar keluarga kecilnya. Pria yang belum ia ketahui siapa yang kini sedang berkeliaran diluar sana dan bisa membahayakan istrinya. Sehun baru menyadari satu hal tentang foto Luhan bersama ketiga orang keluarganya. Dikamarnya Luhan memang menyimpan foto yang sama persis dengan foto yang ditemukan Max di ruangan kerja istrinya, namun di foto yang berada di kamar Luhan, ada bagian yang sengaja dirobek dan hanya menampilkan Chanyeol dan Kyungsoo. Sehun tidak pernah mempertanyakan hal itu. Hal yang ternyata menjadi cukup besar dan bermasalah karena pria yang bagian dirinya dirobek oleh istrinya ternyata adalah pria yang mungkin menjadi dalang kematian putranya.
"Temukan dia secepatnya." Sehun menggeram memberitahu Max dan Yoochun.
"Kami sedang mencarinya bos. Tapi kami khawatir kalau saat ini dia sedang mengincarmu."
"Jangan pedulikan aku. Aku lebih dari baik untuk hal ini. Aku ingin memastikan kalau pria ini tidak akan menyentuh istriku walau sehelai rambutnya."
"Baik bos."
Sehun kemudian berjalan melewati Max dan Yoochun sebelum akhirnya kembali membalikan tubuhnya menatap dalam ke arah Max dan Yoochun "Aku ingin kalian merahasiakan ini. hanya kita bertiga yang tahu. Kai tidak boleh mengetahuinya karena dia terlalu sering bersama istriku."
Keduanya mengernyit bingung dengan perintah Sehun kali ini "Tapi bukankah bagus jika Luhan mengetahui anda tidak ada hubungannya dengan hal mengerikan yang terjadi pada putra anda."
"Lalu apa yang akan terjadi selanjutnya? Luhan akan menyalahkan dirinya setelah itu. Kau pikir aku sanggup melihatnya menyalahkan dirinya hah?!"
"Aku ingin dia terus berfikir bahwa akulah yang menyebabkan semua hal ini terjadi. Aku tidak ingin dia mengetahui apapun tentang orang yang berada di foto itu. Tugas kalian hanya mencari orang itu secepatnya. Aku tidak sabar membunuhnya dengan kedua tanganku sendiri." Ujarnya mengepalkan erat kedua tangannya begitu marah karena ternyata ada seseorang yang bisa mengancam keselamatan istrinya.
"Dan jika memang dia menyuruh seseorang untuk mencelakai putraku. Aku ingin kalian menemukan siapa orang yang bertanggung jawab atas kematian putraku. Aku ingin menemukan bajingan itu dan menyeretnya ke makam putraku untuk berlutut meminta maaf pada putraku. KALIAN MENGERTI!?"
"Kami mengerti!"
Setelah mendengar jawaban Max dan Yoochun. Sehun kembali berjalan pergi menjauh dari markasnya. Berusaha menenangkan diri untuk berita yang entah harus membuatnya senang atau malah justru sebaliknya membuatnya tak tenang karena takut menemukan fakta bahwa Luhan memiliki rahasia yang ia simpan dan tak pernah ia ceritakan pada siapapun termasuk pada dirinya sendiri.
..
..
..
"Luhan…"
Luhan menoleh saat namanya dipanggil dan mendapati Kai yang sedang berlari menuju ke arahnya "Kau tampak lebih baik Kai." Katanya tersenyum melihat Kai yang sudah jauh lebih baik.
"Ya ini berkat dirimu dan Tuan Oh. Terimakasih." Katanya sedikit membungkuk menyapa Luhan.
"aniya…kami yang berterimakasih padamu. Oia sedang apa kau disini? Aku pikir kau beristrirahat dirumahmu."
Kai menggeleng dan tersenyum menatap Luhan "Tuan Oh menghubungiku, dia bilang kau mungkin sedang berada dalam mood yang buruk. Dia ingin aku mengawasimu." Katanya memberitahu Luhan yang tampak terkekeh.
"Dia selalu seperti itu…" katanya bergumam merona lalu kemudian kembali menatap Kai.
"Oia Kai…Aku dengar ada pertunjukan sulap di dekat taman kota. Apa kau mau menemaniku?"
Kai sedikit menahan dirinya untuk tidak berteriak senang saat Luhan dengan terang-terangan mengajaknya pergi hanya berdua. "Tapi bukankah kau ada jadwal operasi siang ini?"
Luhan menggeleng menjawab Kai "Aku libur hari ini, tadinya aku berencana menghabiskan hari liburku dengan suamiku. Tapi-….yah..kau tahulah siapa suamiku." Luhan tersenyum lirih memberitahu Kai sampai kemudian dia sedikit terkejut saat tiba-tiba Kai menggenggam tangannya erat.
"KAI!" Luhan sedikit memekik merasakan Kai menggengamnya terlalu erat saat ini.
Kai terus membawa Luhan sampai ke parkiran mengabaikan Luhan yang terlihat risih karena ia masih menggenggamnya erat. Kai sudah siap jika tiba-tiba Sehun melihatnya menggenggam istrinya dan membunuhnya saat itu juga, karena yang Kai inginkan hanya wajah Luhan yang tersenyum senang bukan terlihat menderita atau kecewa seperti saat ini.
"eh?"
Kai sedikit bingung saat Luhan menahan tangannya yang sedang membukakan pintu belakang untuknya. "Aku yang menyetir. Cepat duduk disampingku."
Luhan meengambil kunci mobil dan langsung duduk di bangku kemudi, mengabaikan wajah Kai yang terlihat cemas saat ini "Tapi jika Tuan Oh mengetahuinya aku akan berada dalam masalah."
"Sehun tidak akan tahu. Cepat masuk." Luhan sedikit memaksa Kai membuat pria tinggi berkulit tan itu tidak memiliki pilihan lain selain menuruti keinginan Luhan. Apapun asal itu membuat Luhan senang dan tertawa.
"Whoaaaaa Kai…. Mereka menjual barang-barang yang sangat indah. Aku menyukainya." Luhan sangat bersemangat melihat penjual barang-barang unik berjejeran di sepanjang taman kota. Dia sedikit melirik Kai yang hanya diam tak menjawab "Hey indah kan?" Luhan memprotes Kai yang hanya diam melihat ke arahnya.
"Ya kau benar…indah sangat indah." Katanya menjawab Luhan, tapi indah yang dimaksud Kai bukan benda-benda itu melainkan pria cantik yang sedang membawa mobil saat ini. Kai terus mengagumi Luhan secara diam-diam sejak pertama kali dirinya bekerja untuk Sehun, dan rasa kagum itu terus ia rasakan pada Luhan seiring berjalannya waktu yang membuatnya semakin mengenal Luhan.
"Kau tahu? Aku ingin sekali pergi ketempat seperti ini bersama suamiku. Tapi dia pasti melarangku dengan alasan terlalu ramai dan dia takut ada yang tiba-tiba datang menyakitiku, padahal jika aku bersamanya aku yakin semua akan baik-baik saja." Katanya sedikit memberitahu Kai dan tak lama kembali fokus menyetir sambil mengagumi beberapa benda yang terlihat sangat lucu untuknya.
"Aku akan berbelanja hari ini." ujarnya bersemangat membuat Kai sedikit tertawa sampai dia sedikit terkejut karena tiba-tiba ada seorang pria yang berlari kencang tepat ke arah mobil Luhan berada
"LUHAN!"
Ckiiit…..!
"Kau baik-baik saja?" Kai bertanya pada Luhan yang terlihat memucat saat ini.
"Apa aku menabrak seseorang?" katanya bertanya pada Kai dengan takut.
"Aku akan memeriksanya kau tunggulah disini."
Dan tak lama Kai keluar dari mobilnya, memeriksa pria yang sepertinya sedang dikejar oleh seseorang "Hey kenapa kau tiba-tiba berlari seperti itu!" katanya membentak pria yang terlihat baik-baik saja namun hanya terus menunduk tak berani menatap Kai.
"Jawab aku! Kau membahayakan seseorang jika ceroboh seperti itu." Kai terus membentaknya sampai pria tersebut mendongak ke arahnya "Aku mohon tolong aku." Pintanya bergetar menatap Kai dengan frustasi. Kai merasa pandangannya tersihir saat melihat pria itu begitu ketakutan.
Sementara Luhan menatap cemas Kai dari dalam mobil, dia tidak tahu apa dia melukai orang itu atau tidak sampai akhirnya Kai membantu pria itu berdiri membuatnya sedikit bernafas lega, namun saat Kai sedikit menyingkir nafas Luhan terasa berhenti karena sangat mengenali pria yang saat ini sedang Kai bantu berdiri.
Dia membuka cepat mobilnya dan berlari mendekati Kai dan pria yang ia yakini sebagai adik kecilnya. Adiknya dan Chanyeol. Adik yang selama ini ia pikir telah tewas dalam kebakaran mengerikan yang terjadi di panti asuhan mereka.
"Kyungsoo." Gumamnya serasa kehilangan nafasnya
"Kyungsoo!" Luhan sedikit menyingkirkan Kai dan memeluk erat pria yang memang merupakan adiknya. Kyungsoo nya yang ia pikir sudah tiada kini berada di depannya.
"Astaga baby Soo…Syukurlah kau baik-baik saja. Aku-…Aku kira kau sudah-..syukurlah." Luhan terus memeluk Kyungsoo sementara pria yang sedang dipeluk Luhan itu terlihat diam tak berani menjawab.
"Kau baik-baik saja?Kenapa kau terlihat pucat?" Luhan menghapus keringat di dahi Kyungsoo dan memeriksa seluruh tubuh adiknya yang sedari tadi hanya diam tak berbicara sampai akhirnya Luhan kembali menatap Kyungsoo dan menyadari ada yang aneh dari cara adiknya memandangnya "Baby Soo… kau kenapa?"
"Si-siapa kau?"
..
..
..
Malam dingin telah datang menyambut Seoul hari ini, menampilkan seorang pria yang sedang berjalan memasuki apartemennya. Bertanya-tanya apa yang harus ia lakukan setelah mendapatkan petunjuk yang mungkin bisa membawanya menemukan siapa yang melakukan perbuatan keji pada putranya.
Dia membuka pintu apartemennya dan segera membuang jas hitamnya secara asal, melemparkan dasinya ke lantai dan berjalan untuk menenggak segelas air karena menyadari dirinya cukup banyak meminun Soju hari ini membuatnya sedikit pusing dan merasa mual.
Dia kemudian melepas kemejanya dan hanya menggunakan singlet memasuki kamarnya dan berniat untuk beristirahat setelah hari ini harus melewatkan banyak hal. Sehun menyalakan lampu kamarnya dan cukup tertegun menyadari ada sosok mungilnya yang sedang tertidur di ranjang miliknya saat ini.
Dia tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya dan berjalan cepat mendekati pria cantiknya yang tertidur menghadap ke dinding kamarnya. Sehun membuka cepat selimut istrinya lalu kemudian ikut berbaring mendekap erat tubuh kecil istrinya dan menghirup dalam-dalam aroma yang menguar dari punggung istrinya.
Sementara itu Luhan yang merasa tangan hangat melingkar di pinggangnya, mau tak mau membuka mata dan tersenyum senang saat pria tampannya sudah kembali ke rumah tanpa kekurangan satu apapun.
Luhan membalikan tubuhnya dan tak lama kedua mata itu bertatapan cukup lama. Saling memandang seolah membagi beban yang sama-sama mereka rasakan. "Kau sudah pulang."
"Aku pikir kau masih marah padaku." Sehun membuka suaranya membuat Luhan tersenyum kecil mendengarnya.
"Aku sudah bilang aku tidak marah sayang." Luhan mengelus sayang kening Sehun yang berkeringat dan mendekat ke arah suaminya, menyatukan kedua kening mereka
"Apa kau minum? Bau mu menyebalkan."
"Maaf."
"Tidak apa. Aku akan menemanimu minum lain kali." Luhan semakin menyatukan kening mereka dan menatap dalam ke mata suaminya.
"Baby…" Luhan memanggil Sehun yang masih memandangnya tak berkedip.
"hmmm…"
"Aku ingin bicara sesuatu padamu."
"Aku Juga. Tapi bisakah kita berbicara besok pagi? Aku sangat lelah malam ini. Aku juga takut kita bertengkar lagi dan berakhir tidur sendiri di sofa. Aku sangat ingin memelukmu saat ini." katanya memohon menatap Luhan yang kini tersenyum dan menggigit kecil bibir mungil suaminya.
"Kalau begitu aku setuju. Aku juga sedang ingin memeluk suamiku yang tampan."
"Baguslah." Gumam Sehun tersenyum lega dan sedikit turun ke dada Luhan, bersandar nyaman di pelukan istrinya.
"Aku mencintaimu Luhan. selamat malam." Sehun melingkarkan kedua tangannya di pinggang Luhan dan menyamankan posisinya di pelukan Luhan.
"Aku juga mencintaimu Sehun, selamat malam." Luhan mencium kening suaminya cukup lama, dan sedikit menepuk sayang punggung Sehun agar pria tampan yang sedang tidur di pelukannya merasa nyaman.
Entah apa yang Sehun alami saat ini, tapi dia tahu jika Sehun terus memeluknya dan menyembunyikan wajahnya di pelukannya. Itu artinya suaminya sedang mengalami hal buruk. Membuatnya tersenyum lirih mendapati banyak kesamaan yang dimilikinya dengan Sehun karena saat ini Luhan juga sedang mendapatkan kesulitan menerima kenyataan bahwa Kyungsoo masih bertahan hidup namun sama sekali tak mengenalinya.
Kyungsoo sedang berada di rumah sakit saat ini dan setelah menjalani beberapa test dokter mengatakan kalau Kyungsoo mengalami benturan dan trauma hebat yang membuatnya melupakan semua tentang dirinya. Luhan tidak tahu hal mengerikan apa yang terjadi pada adiknya, dia hanya ingin menjaga Kyungsoo seperti dulu, namun dirinya tidak bisa melakukan hal itu tanpa persetujuan suaminya mengingat Sehun sama sekali tak menyukai kedua saudaranya bahkan saat dia mencoba untuk membuat ketiganya untuk lebih dekat.
"Luhan…"
Luhan sedikit tesentak dari lamunannya saat suaminya terlihat mengigau memanggil namanya dengan dahi yang mengerut, dia kemudian mengusap dahi suaminya perlahan, menghilangkan kerutan cemas di wajah tampan yang selalu membuatnya merindukan pria yang sedang tidur di pelukannya saat ini.
"Luhan.."
"sstttt….Aku disini baby…Aku disini." Luhan mengecup sayang dahi Sehun dan semakin memeluknya erat menenangkan pria nya yang selalu terlihat cemas setiap saat karena terus mengkhawatirkan dirinya secara berlebihan.
tobecontinued...
.
update!
.
entah kenapa disini suka bgt sama karakternya sehun. fav triplet bgt. :p
.
happy reading and review...
