previous

Sehun menyalakan lampu kamarnya dan cukup tertegun menyadari ada sosok mungilnya yang sedang tertidur di ranjang miliknya saat ini.

Dia tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya dan berjalan cepat mendekati pria cantiknya yang tertidur menghadap ke dinding kamarnya. Sehun membuka cepat selimut istrinya lalu kemudian ikut berbaring mendekap erat tubuh kecil istrinya dan menghirup dalam-dalam aroma yang menguar dari punggung istrinya.

Sementara itu Luhan yang merasa tangan hangat melingkar di pinggangnya, mau tak mau membuka mata dan tersenyum senang saat pria tampannya sudah kembali ke rumah tanpa kekurangan satu apapun.

Luhan membalikan tubuhnya dan tak lama kedua mata itu bertatapan cukup lama. Saling memandang seolah membagi beban yang sama-sama mereka rasakan. "Kau sudah pulang."

"Aku pikir kau masih marah padaku." Sehun membuka suaranya membuat Luhan tersenyum kecil mendengarnya.

"Aku sudah bilang aku tidak marah sayang." Luhan mengelus sayang kening Sehun yang berkeringat dan mendekat ke arah suaminya, menyatukan kedua kening mereka

"Apa kau minum? Bau mu menyebalkan."

"Maaf."

"Tidak apa. Aku akan menemanimu minum lain kali." Luhan semakin menyatukan kening mereka dan menatap dalam ke mata suaminya.

"Baby…" Luhan memanggil Sehun yang masih memandangnya tak berkedip.

"hmmm…"

"Aku ingin bicara sesuatu padamu."

"Aku Juga. Tapi bisakah kita berbicara besok pagi? Aku sangat lelah malam ini. Aku juga takut kita bertengkar lagi dan berakhir tidur sendiri di sofa. Aku sangat ingin memelukmu saat ini." katanya memohon menatap Luhan yang kini tersenyum dan menggigit kecil bibir mungil suaminya.

"Kalau begitu aku setuju. Aku juga sedang ingin memeluk suamiku yang tampan."

"Baguslah." Gumam Sehun tersenyum lega dan sedikit turun ke dada Luhan, bersandar nyaman di pelukan istrinya.

"Aku mencintaimu Luhan. selamat malam." Sehun melingkarkan kedua tangannya di pinggang Luhan dan menyamankan posisinya di pelukan Luhan.

"Aku juga mencintaimu Sehun, selamat malam."

.

.

.

.

.

.

.

.

Entangled

Main Cast : Sehun & Lu Han

Genre : Romance, Family, Hurt/Comfort

Rate : M

Length : Chapter

YAOI. Typo (s)

HUNHAN STORY!

.

.

.

.

.

Keesokan paginya Sehun terbangun karena mencium aroma masakan yang membuat indera penciumannya memaksa dirinya membuka mata dan segera beranjak keluar dari tidurnya yang sangat nyaman. Dia mencari keberadaan istrinya di kamarnya dan tersenyum baru menyadari kalau aroma tajam yang menguar ke indera penciumannya berasal dari kegiatan sang istri yang tentu saja sudah berkutat dengan peralatan memasaknya di dapur milik Sehun.

Bisa saja pria yang dikenal mengerikan di dunia yang ia jalani itu kembali tertidur dan bersembunyi di nyamannya selimut tebal miliknya. Namun dia juga menyadari kalau hal itu sampai dia lakukan itu artinya dia memancing kemarahan si pria cantik yang sedang menyiapkan sarapan khusus untuknya. Membayangkan Luhan dengan bibir mengerucut membuatnya mau tak mau tertawa pelan dan memutuskan untuk mendapatkan morning kiss yang merupakan hak nya sebagai suami-….lebih tepatnya hak nya sebagai pria yang selalu menggilai istrinya. Sehun kemudian mencari sandalnya dan tertawa kecil saat melihat tulisan yang terletak di atas meja "Bersihkan dirimu baru keluar temui aku dan sarapan bersamaku. Aku serius dan jangan hanya tertawa."

Begitulah kira-kira tulisan yang dibuat Luhan untuk suaminya. Entah apa maksudnya Luhan meminta Sehun membersihkan wajah terlebih dulu yang jelas dia ingin saat sarapan bersama pria dengan satu ekspresi, Suaminya sudah terlihat tampan, dan Sehun-… tentu saja dia tidak memiliki pilihan lain selain menuruti kemauan istrinya yang sudah tertulis di selembar kertas.

"baby…" Sehun melingkarkan tangannya di pinggang istrinya yang sedang memasak dan tak lama mengecupi punggung Luhan yang terekspos bebas karena hanya menggunakan kemeja kebesaran miliknya.

"Selamat pagi sayang." Luhan sedikit menoleh untuk mencari bibir suaminya dan mengecupnya lembut saat Sehun menyambut bibirnya. "Kau terlihat tampan." Ujarnya memuji Sehun yang sudah menggunakan kemeja putih miliknya lengkap dengan jas yang ia letakkan di pinggiran sofa.

"Aku selalu tampan." Katanya mengoreksi Luhan

"Suamiku memang selalu tampan." Luhan mengangkat kedua bahunya dan bergumam "Aku setuju." Gumamnya membalas membuat Sehun semakin menjadi menciumi pundaknya yang tereskpos bebas.

"Kenapa kau memasak banyak makanan? Apa kita akan kedatangan tamu?"

Luhan sedikit menegang saat Sehun bertanya padanya, membuatnya mematikan kompornya dan membalikan tubuhnya menatap Sehun dengan berharap "Itu yang ingin aku bicarakan denganmu."

Kedua alis Sehun mengernyit mengetahui cara berbicara Luhan berubah "Berbicara apa?"

..

..

..

"Oh."

Itu adalah respon yang sama yang Sehun berikan saat Luhan mengatakan tentang Kyungsoo yang masih hidup namun mengalami sedikit gangguan ingatan.

"Sehun aku serius."

"Aku harus menjawab apa? Aku tidak peduli pada seluruh teman-temanmu yang tumbuh besar bersamamu di panti asuhan." Katanya memberitahu Luhan dengan nada yang tak suka karena sudah mengerti arah pembicaraan Luhan selanjutnya.

"Mereka keluargaku." Luhan mendesis mengingatkan Sehun yang terlihat sangat tak menyukai berita tentang Kyungsoo yang masih bertahan hidup.

"Aku keluargamu."

"Sehun cukup!"

Keduanya saling memandang tajam cukup lama sampai akhirnya Luhan tertawa mengusak kasar wajahnya sekilas.

"Terserah kau peduli atau tidak. Tapi yang jelas Kyungsoo akan tinggal bersamaku di apartemenku."

"Kau tidak akan melakukannya." Sehun membalas dengan nada memperingatkan.

"Aku akan melakukannya." Luhan membuang asal apron yang ia gunakan, lalu mengambil cepat jaket tebalnya berniat segera pergi sebelum

Grep!

"Aku belum mengijinkanmu untuk membawa orang asing ke apartemen milikmu Lu." Sehun memaksa Luhan duduk di pangkuannya dan menahan sedikit kencang pinggang Luhan agar tidak meronta bangun dari pangkuannya.

"Dia adikku bukan orang asing. Kenapa kau selalu seperti ini pada keluargaku?" ujar Luhan terisak frustasi pada Sehun yang tak pernah menyukai Chanyeol dan Kyungsoo, begitu juga sebaliknya.

"Tanya pada mereka yang selalu berusaha memisahkan kita. Aku ingat saat pertama kali kau mengandung Ziyu dan mereka menghasutmu untuk menggugurkan putra kita. Mereka itu mengerikan."

"Kau yang mengerikan. Mereka hanya takut anakku akan tumbuh dalam kekerasan jika aku mempertahankannya."

"Aku memang mengerikan tapi aku tidak akan pernah membiarkan darah dagingku tumbuh dalam kekerasan."

Luhan kembali menyadari bahwa dirinya melakukan kesalahan dengan menyinggung bagaimana Sehun dengan hidupnya yang ia jalani. Dulu saat pertama kali Luhan mengetahui dirinya mengandung Ziyu dia menjerit dan menangis ketakutan. Dia tidak tahu harus berbuat apa, dia takut Sehun tidak menyukai bayi mereka atau lebih buruknya Sehun akan menyiksa darah daging mereka mengingat bahwa Sehun terlalu mengerikan untuk menjadi seorang ayah.

Malam itu Luhan mendatangi Chanyeol dan Kyungsoo, menceritakan semua ketakutannya. Dan saat Luhan memberitahukan bahwa dirinya mengandung darah daging seorang Oh Sehun, kedua wajah saudaranya mengeras. Chanyeol melempar semua benda yang berada di sekitarnya dengan murka sementara Kyungsoo hanya memandangnya kecewa.

Entah karena alasan apa yang membuat Kyungsoo dan Chanyeol begitu membenci Sehun. Keduanya sudah tidak menyukai Sehun bahkan sebelum mengetahui pekerjaan apa yang dilakukan Sehun, Luhan tidak pernah mengerti namun Sehun selalu mengatakan alasan kedua saudaranya tidak menyukai dirinya adalah karena seluruh perhatian Luhan hanya diberikan untuk Sehun semenjak pertemuan pertama mereka. Awalnya Luhan menampik pernyataan tersebut, namun pada akhirnya dia harus mengakui bahwa Sehun, Chanyeol dan Kyungsoo-…ketiganya tidak akan pernah bisa saling menerima sekalipun Luhan berada di tengah-tengah mereka.

"Sehun-…..Aku tidak bermaksud untuk-…"

"Apa yang kau inginkan?" Sehun melepas cengkramannya di pinggan Luhan, dan membawa istrinya untuk duduk di sofa sementara dirinya berdiri memakai asal dasinya tak beraturan.

"Aku ingin Kyungsoo tinggal bersamaku."

"Baiklah. Aku mengijinkannya." Katanya bersuara dingin dan berjalan menuju pintu untuk bergegas pergi sebelum Luhan yang kini mencengkram lengannya dan memaksa Sehun untuk menatapnya.

"Jangan marah padaku." Gumamnya memohon dan sedikit berjinjit untuk memakaikan dasi suaminya.

"Jangan marah padaku." Katanya mengulang karena merasa Sehun tak meresponnya dan hanya memandang wajahnya tak berkedip.

"Jangan marah pada-….."

Hmphhhh…

Suara Luhan teredam saat Sehun menarik kencang pinggangnya dan melumat bibirnya sedikit kasar. Membuat Luhan sedikit tersenyum dan berniat meniadakan jarak diantara mereka dengan melingkarkan tangannya di leher Sehuh. Sehun pun semakin menautkan bibirnya dan dibalas Luhan dengan memejamkan matanya. Dia sengaja membiarkan Sehun menuntunnya dan mendominasi pada ciuman mereka.

Keduanya menggerakan bibir masing-masing membuat ciuman keduanya semakin dalam. Sehun secara refleks memegang tengkuk Luhan, menekannya dan membuat satu desahan kembali keluar dari bibir menggemaskan milik istrinya.

Hmphhh..

Sehun tak membuang kesempatan saat Luhan membuka mulutnya, dia dengan cepat melesakkan lidahnya semakin dalam menyesapi seluruh rasa yang selalu membuatnya merasa terus menginginkan istrinya.

Sehun menyeringai dan semakin merapatkan tubuh istrinya saat mengetahui Luhan juga menikmati sentuhannya. Luhan sendiri sedikit menggeliat gelisah saat tangan suaminya sudah berada di balik kemeja kebesaran miliknya, memelintir sesekali menarik dua tonjolan kecil yang berada disana secara bergantian.

"ahh…"

Decapan dan desahan keduanya pun memenuhi ruangan yang beberapa menit lalu menjadi saksi pertengkaran mereka. Luhan semakin mendesah karena tangan Sehun yang semakin bermain di kedua tonjolan didadanya. Dan desahan itu semakin menjadi bersamaan dengan tangan Sehun yang kini bermain di bagian paha dalam milik istrinya yang selalu terasa menggoda di tangannya.

"Sehun.."

Luhan sedikit mendorong Sehun dan menatap suaminya dengan tatapan memohon untuk tidak berakhir di ranjang pagi ini. "Aku ada operasi satu jam lagi. Jadi bisakah kita berhenti sampai sini?"

Sehun mengernyit tak suka saat Luhan memberi jarak pada mereka, dia memandang Luhan yang kini sedang menyatukan kedua tangannya membuat gerakan memohon agar kegiatan panas mereka dihentikan. "Aku mohon. Ya ya ya. Kita akan melakukannya kapan saja sayang. Tapi tidak pagi ini. oke?" katanya masih memohon menggerakan kedua tangannya dan sedikit waspada kalau-kalau suaminya tak bisa menahan diri dan langsung kembali menyerangnya.

"Sepuluh menit."

"Tidak tidak. Kau selalu lebih dari sepuluh menit jika menjamahku. Paling tidak setelah tiga jam kau baru puas."

"Sepuluh menit aku tunggu kau dimobil. Sekarang kau bersiaplah."

"Pokonya ti-..eh…Kau bilang apa?"

"Di mobil. Sepuluh menit lagi."

Sehun kemudian meninggalkan Luhan dibelakang dengan wajah merona karena menyangka suaminya akan memaksanya bukan menyerah secepat ini, membuatnya menggerutu dan sedikit memukul pelan kepalanya "Luhan bodoh. Luhan bodoh." Katanya menggumam dan segera bersiap sebelum Sehun kembali merubah pikirannya.

..

..

..

Di sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Luhan terus memohon pada Sehun agar mengijinkan Kyungsoo tinggal di apartemen miliknya untuk sementara. Dan tentu saja Sehun dengan segala rasa tidak sukanya pada Kyungsoo dan Chanyeol hanya diam tak membalas. Namun saat menyadari Luhan berhenti merengek padanya, dia tidak punya pilihan lain selain membiarkan istrinya melakukan hal yang bisa membuatnya senang.

"Dia boleh tinggal denganmu."

Luhan yang sedari tadi melihat keluar jendela karena mulai kesal pada Sehun tiba-tiba menoleh dan menatap suaminya berbinar "Benarkah?" katanya memastikan kalau suaminya tidak sedang menghiburnya.

"Ya…dengan catatan kamar kalian terpisah. Dan kau akan ke apartemenku malam selanjutnya."

Luhan secara refleks memeluk Sehun dan sedikit berpindah ke pangkuan suaminya "Terimakasih sayang. Kau yang paling pengertian." Katanya mencium bibir Sehun bertubi-tubi.

"Tidak sekamar Lu." Sehun berusaha mengingatkan Luhan yang terus menciumi bibirnya bertubi-tubi.

"Iya aku mendengarkanmu."

"Datang padaku malam berikutnya." Sehun masih berusaha memberitahu Luhan yang semakin menjadi memeluk dan menciumi bibirnya.

"Aku akan datang tentu saja." Katanya bergumam membalas ucapan Sehun.

"ck. Bagaimana bisa aku berbagi istriku dengan orang lain. ini menyedihkan." Gumamnya menggerutu membuat Luhan sedikit menghentikan kecupannya dan memandang cukup lama wajah suaminya "Aku hanya milikmu dan kau tidak berbagi istrimu. Kau hanya sedikit berbaik hari pada adik iparmu." Katanya menggoda Sehun dan kembali menciumi bibir suaminya berkali-kali.

"Kita sudah sampai, jadi cepat turun sebelum aku kehilangan kendali."

Luhan mengabaikannya dan terus menciumi bibir Sehun yang mulai terlihat memerah.

"Luhan…" katanya meringis karena sesuatu dibawah sana mulai merasa tak nyaman karena Luhan terus memancingnya.

"ah…maaf aku terlalu bersemangat. Kalau begitu aku masuk dulu. Sampai besok malam kesayanganku." Katanya mengecup telak bibir Sehun dan berlari keluar dari mobil secepat mungkin sebelum Sehun menahannya lebih lama didalam sana.

Sehun mendengus menyadari Luhan sedang menggodanya, dia kemudian sedikit tertawa dan terkejut saat pintu mobilnya kembali terbuka "Aku lupa mengatakan aku mencintaimu baby. Aku sangat mencintai suamiku dan aigoo-…suamiku sangat tampan jika tertawa. Sampai besok."

Sehun kembali tertawa saat dipergoki Luhan sedang tersenyum sendirian, membuat matanya tak bisa melepas sosok mungil istrinya yang terus berlari kedalam sambil membawa bingkisan di tangannya yang terlihat sangat bersemangat dan sangat bahagia "Aku juga mencintai istriku. Sangat mencintaimu Luhan." gumamnya dan tak lama menjalankan mobilnya untuk segera pergi menyelesaikan urusannya.

Sementara Luhan masih terus berlari menuju satu ruangan tempat Kyungsoo di rawat dengan membawa bingkisan yang tentu saja berisi makanan kesukaan adiknya, dia tersenyum membayangkan wajah Kyungsoo sampai langkahny terhenti karena mendengar suara jeritan yang berasal dari kamar adiknya.

"PERGI! AKU TIDAK MENGENAL SIAPA KALIAN…! AKU MOHON JANGAN SAKITI AKU."

"PERGI!"

Luhan sedikit membelalak kemudian berlari cepat menghampiri ruangan Kyungsoo dan

Brak….!

"Kai ada apa?"

Luhan menghampiri Kai yang terlihat berjaga di depan pintu dan hanya diam melihat Chanyeol yang sedang memaksa Kyungsoo untuk mengingatnya.

"Aku rasa terlalu memaksa Kyungso." Kai membalas dengan tatapan marah ke arah Chanyeol yang masih mendekati Kyungsoo yang terlihat ketakutan.

"KYUNGSOO BAGAIMANA MUNGKIN KAU TIDAK MENGENALKU? AKU YEOLIE…AKU KAKAKMU."

"MENJAUH DARIKU." Kyungsoo terus memekik dan bersembunyi dipojokan menutup matanya erat dan terus berteriak memohon agar Chanyeol segera pergi.

"KYUNGSOO AKU-…"

"Hentikan Yeol…." Luhan sedikit mendesis mencengkram lengan Chanyeol yang terlihat bingung menatap Luhan.

"Luhan ada apa dengan Kyungsoo? Yixing bilang dia mengalami gangguan ingatan dan sedikit gangguan mental? Ada apa dengan Kyungsoo?"

"Aku akan memberitahumu nanti. Sekarang jauhi Kyungsoo."

"Ba-bagaimana bisa aku menjauhi adikku. Aku pikir dia sudah tiada, tapi Tuhan sangat baik membuat kita bertiga kembali berkumpul. Aku tidak mau menjauhi Kyungsoo."

"Dia ketakutan Yeol. Aku mohon bersabarlah sebentar. Biar aku yang merawat Kyungsioo." Katanya memohon pada Chanyeol yang masih terlihat keras kepala.

"Tapi Lu-.."

"Aku mohon. Dia tidak suka dipaksa."

Chanyeol menatap Luhan agak lama sebelum akhirnya dia mengangguk untuk mempercayakan Kyungsoo pada Luhan "Aku ingin bicara dengannya Lu."

"Aku mengerti, aku akan membujuknya perlahan. Sekarang bisa kau tinggalkan kami berdua? Kau membuatnya ketakutan yeol."

Chanyeol menoleh ke arah Kyungsoo yang masih terisak dengan wajah tersembunyi di antara kedua lututnya. Merasa tak tega pun dia mengangguk dan berjalan perlahan meninggalkan ruangan Kyungsoo dengan Kai yang sudah bersiap membukakan pintunya.

Luhan menghela dalam nafasnya merasa tak tega pada Chanyeol yang begitu merindukan Kyungsoo, mau bagaimanapun ketiganya tumbuh bersama dan hidup bersama untuk waktu yang lama dimana saat yang satu merasa sakit makan dua yang lain pun akan ikut merasakan sakit. Hubungan mereka tidak bisa hanya dikatakan sebagai hubungan pertemanan karena nasib yang sama. Mereka ditakdirkan menjadi keluarga dan selamanya akan seperti itu.

Merasa Kyungsoo sudah sedikit tenang, Luhan pun memberanikan diri untuk mendekati Kyungsoo yang mulai menegang saat mendengar suara langkah kaki.

"Kyungie ini Luhan."

Luhan mengusap lembut kepala Kyungsoo, membuat si pemilik kepala menoleh dan merasa sangat teduh dengan tatapan lembut yang diberikan Luhan untuknya saat ini.

"Tidak akan ada lagi yang menyakitimu. Aku menjagamu." Gumamnya memeluk Kyungsoo dan merasa lega karena Kyungsoo tak menolaknya.

"Dia siapa Luhan?"

"Pria yang baru saja datang mengganggumu?"

Kyungsoo mengangguk sebagai jawaban membuat Luhan sedikit tersenyum "Namanya Park Chanyeol. Kakak kita, dia sangat menayayangi kita Kyung." Katanya mengusak wajah Kyungsoo yang terlihat sembab dan bengkak.

"Kalian berdua sangat dekat." Katanya menmabahkan membuat Kyungsoo menatapnya bingung.

"Benarkah?"

"hmm…tentu saja benar Kyungie."

"Tapi aku takut padanya."

"Tidak perlu terburu-buru. Kau akan terbiasa dengannya."

"Kai apa adikku sudah makan?"

Kai yang sedang memperhatikan keduanya pun berjalan mendekati Luhan membawa sepiring makanan yang diabaikan Kyungsoo pagi ini. "Belum Luhan."

"Sekarang kau harus makan dan kembali beristirahat. Malam nanti aku akan membawamu pulang."

"Pulang?"

"Ya pulang…Kau akan tidur di ranjang super besar kesukaanmu."

"Kai bantu aku." Luhan meminta bantuan Kai untuk mengangkat Kyungsoo ke ranjangnya membuat Kai memindahkan Kyungsoo dengan cepat dari lantai ke ranjang perawatan miliknya.

"Sekarang tidurlah. Aku akan datang lagi, aku ada jadwal operasi." Gumamnya mencium kening Kyungsoo dan tak lama pergi meninggalkan Kyungsoo diikuti Kai di belakangnya.

"Luhan…"

"hmmm.." gumam Luhan menjawab panggilan Kai namun tak menghentikan langkahnya menuju ruang operasi.

"Apa Tuan Oh mengijinkan Kyungsoo tinggal bersamamu."

"Tentu saja."

"Benarkah? Whoaa..aku rasa dia benar-benar mengabulkan seluruh keinginanmu saat ini."

"Lalu apa kalian akan tinggal bersama dengan Kyungsoo."

Luhan menggeleng cepat memberitahu Kai "Aku akan bergantian menjaga Sehun dan Kyungsoo. Mereka tidak pernah bisa akur kau tahu kan?" katanya terkekeh mengingatkan Kai bagaimana hubungan Kyungsoo dan Sehun.

"Lalu saat kau menginap di rumah Tuan Oh. Siapa yang menjaga Kyungsoo."

Luhan secara tiba-tiba menghentikan langkahnya membuat Kai sedikit terkejut karena saat ini istri dari bosnya sedang menatapnya menganalisa dan tak lama tersenyum "Kau yang akan menjaga Kyungsoo." Katanya mengerling Kai yang terlihat salah tingkah karena permintaan Luhan yang mempercayakan Kyungsoo padanya.

..

..

..

"Selamat pagi Tuan."

Terlihat beberapa penjaga menyambut kedatangan Sehun yang terlihat dingin dan menakutkan seperti biasa dengan diikuti tiga orang penjaganya yang berjalan tepat di samping kiri kanan serta tiga orang dibelakangnya. Dia terus berjalan masuk ke gedung yang merupakan tempat dirinya bekerja dengan seluruh saham dan penjualan haram sementara seluruh anak buahnya terus menyapanya seiring pijakan kaki Sehun yang memasuki ruangannya.

Cklek…

Sehun langsung memasuki ruangannya saat salah satu bodyguard nya membukakan pintu, dia mengedarkan pandangannya dan menemukan Max serta Yoochun yang sedang sibuk dengan pekerjaan mereka berdiri dan menyambut kedatangan Sehun "Selamat pagi Tuan."

Sehun mengabaikan sapaan Max dan Yoochun dengan terus berjalan ke mejanya "Bagaimana perkembangannya?"

"kami memiliki beberapa berita buruk." Max membuka suara membuat Sehun mengernyit "Katakan."

"Moon Joo Woon berhasil menguasai daerah barat gangnam dengan memberikan heroin secara gratis untuk beberapa bandar besar. Kita mengalami kerugian dengan beberapa penghianat yang biasa memasok barang di markas kita bos."

"Ck. Bajingan itu belum belajar dari kesalahannya." Gumam Sehun tertawa menyeringai.

"Abaikan tentang Joo Woon sekarang, dia mengambil milikku, aku akan merebutnya tiga kali lebih banyak dari yang ia miliki. Sekarang aku ingin kalian fokus pada pria bernama Yi Fan. Apa kalian menemukan sesuatu tentang pria sialan itu?"

Kedua kaki tangan Sehun hanya diam tak berani menjawab pertanyaan Sehun tentang Yifan "JAWAB AKU"

"Kami belum menemukan informasi apapun tentang Yifan bos. Kami membutuhkan keterangan dimana terakhir dirinya terlihat. Apakah anda sudah bertanya pada Luhan tentang Yifan?"

Kali ini Sehun yang terdiam dengan pertanyaan Yoochun, karena sampai hari ini Sehun belum berani menanyakan tentang masa lalu Luhan. Dia takut itu akan mengusik istrinya dan membuat pria cantiknya merasa ketakutan menyadari seseorang yang tumbuh bersamanya berbalik menjadi seseorang yang ingin sekali menghabisinya.

"Belum-…aku belum bertanya pada Luhan."

"Kami membutuhkan keterangan sebanyak mungkin tentang Yifan. Jika kau tidak bisa bertanya pada Luhan, bukankah masih ada dokter Park yang juga mengenal siapa Yifan?"

Benar-….Chanyeol

Sehun membatin membenarkan ucapan Max yang memintanya untuk bertanya pada Chanyeol. "Kau benar."

"Kami membutuhkan informasi tentang Yifan secepatnya mengingat pria itu lebih mengancam keselamatan anda daripada Luhan bos."

Brak…!

Sehun menggebrak mejanya dan memandang seluruh anak buahnya yang saat ini berada di ruangannya "Jangan pedulikan tentang keselamatanku. Aku ingin kalian semua memasang tubuh kalian untuk menjaga istriku. Pria itu hidupku dan jika terjadi sesuatu padanya bahkan hanya sesuatu yang kecil. Aku pastikan kalian yang akan merasakan sakitnya. KALIAN MENGERTI?"

"Ya….Kami mengerti."

Seluruh penjaganya termasuk Yoochun dan Max menjawab gertakan kemarahan Sehun bersamaan, sementara sang pemilik ruangan berjalan keluar untuk mencari udara segar karena merasa dadanya terhimpit sesak setiap kali membayangkan sesuatu yang buruk bisa terjadi pada Luhan.

..

..

..

Tak terasa malam dingin sudah menyambut kota Seoul dengan cepatnya, membuat semua orang bergegas menuju ke rumah masing-masing untuk berkumpul bersama keluarga, atau sekedar beristirahat memulihkan tenaga untuk memulai kembali aktifitasnya.

Semua kegiatan itu juga dilakukan oleh seorang dokter yang kini menggenggam erat pria yang tampak selalu ketakutan yang berada disampingnya sementara pria dengan kuliat tan sedang menyetir mengantarkan dua pria cantik pulang bersama menuju apartemen milik Luhan.

"Luhan.."

"hmm ada apa Kai?" Luhan yang sedang memandang keluar jendela dengan Kyungsoo yang tidur bersandar di pundaknya menjawab pertanyaan Kai

"Apa kau ingin mampir ke apartemen tuan Oh?"

Luhan sedikit tersenyum dan membayangkan apa yang sedang dilakukan suaminya saat ini, merasakan rindu yang terus berlebihan yang ia rasakan pada suaminya "Tidak perlu Kai. Besok aku akan bersamanya, aku hanya perlu menahan rasa rinduku sampai besok." Katanya melihat Kai sekilas dari kaca spion.

"Baiklah kalau begitu." Balas Kai dan tak lama menghentikan mobilnya tepat di depan apartemen Luhan.

"Apa aku perlu menggendong adikmu?"

"Tidak perlu. Aku akan membangunkannya." Gumam Luhan berbisik dan mulai mengusap lembut wajah Kyungsoo.

"Kita sampai." Katanya mengelus sayang wajah Kyungsoo, membuat Kyungsoo yang sedikit kelelahan segera membuka matanya.

"Kau bisa kembali tidur didalam sana. Sekarang kita masuk. Oke?"

Kyungsoo mengangguk dan tak lama keluar dari mobil Luhan saat Kai membukakan pintu untuk keduanya.

"Kai masuklah terlebih dulu. Aku akan membuatkanmu secangkir kopi." Luhan memberi tawaran pada Kai saat ketiganya sampai didepan pintu apartemen Luhan.

"Tidak perlu Luhan. Pekerjaanku hanya sebatas pintu apartemen. Sehun akan membunuhku jika tahu aku masuk kedalam apartemenmu." Katanya terkekeh mengingatkan Luhan betapa posesifnya Sehun pada istrinya.

"Sehun tidak akan tahu."

Kai tertawa dan kembali menggeleng cepat "Tidak perlu Luhan. Sungguh. Lagipula kalian berdua terlihat kelelahan. Beristirahatlah."

"hmm Baiklah aku tidak akan memaksa lagi. Kau juga beristirahatlah, terimakasih untuk hari ini."

Kai mengangguk dan membuat gerakan menutup pintu apartemen Luhan "Sampai besok Luhan. Sampai besok Kyungsoo." Katanya menyapa Kyungsoo yang terlihat tersenyum memandang kepergian Kai.

Luhan mengernyit dan menyadari perubahan raut wajah Kyungsoo "Jangan katakan kalau kau menyukai Kai." Katanya menggoda Kyungsoo yang terlihat salah tingkah.

"Aku-….Te-tentu saja tidak Luhan. Aku tidak menyukainya."

"Aku hanya bercanda tidak perlu merona seperti itu." Gumam Luhan merangkul lengan Kyungsoo

"Ayo kita pergi tidur. Kau akan menyukai kamarmu." Katanya mendorong Kyungsoo menuju kamarnya dan

"Taraaaaa" Luhan memekik saat menunjukkan kamar Kyungsoo namun sedikit mengernyit saat wajah Kyungsoo terlihat diam tak berekspresi.

"Apa kau tidak menyukainya? Apa ada sesuatu yang mengganggumu?" katanya bertanya pada Kyungsoo yang terlihat diam tak bicara.

"Bagaimana mungkin aku tidak menyukainya? Kemarin aku masih tidur di pinggir jalan dan disiram air pagi harinya oleh pemilik toko. Sekarang aku bisa tidur di tempat tidur nyaman seperti ini. Aku menyukainya Luhan. Aku hanya tidak tahu bagaimana caranya berterimakasih padamu. Aku-…"

Grep….!

"Kau tidak perlu berterimakasih. Kau tanggung jawabku Kyungsoo. Sungguh" katanya memberitahu Kyungsoo dan merasa menyesal untuk hidup yang adiknya jalani selama ini.

"Terimakasih telah menemukanku."

"Aku yang minta maaf tidak mencarimu. Aku minta maaf." Gumam Luhan memeluk Kyungsoo semakin erat.

Dan setelahnya keduanya mencoba kembali dekat walau Kyungsoo tidak bisa mengingat apapun setelah Luhan menunjukkan banyak hal. Luhan hanya perlu sabar dan menjaga adiknya dengan baik. Dia tidak mau Kyungsoo mengalami hal buruk lagi yang membuatnya kembali harus mengalami trauma seperti saat ini.

..

..

..

Drrt…drrtt…

Drrt..drrt…

Luhan yang sedang menutup pintu kamar Kyungsoo tersenyum saat melihat nama suaminya terlihat di layar ponselnya. Dan tak perlu membutuhkan waktu lama untuknya menggeser tombol answer di ponselnya dan mengangkat panggilan suaminya.

"Hey…"

"Aku sudah seharian tidak melihat wajahmu dan hanya hey yang aku dapat?"

Luhan tertawa saat mendengar suara protes suaminya dan terus berjalan menuju kamarnya, menarik selimut dan sedikit berbaring menyandar ke kepala ranjang miliknya. "Baiklah aku ulangi. Hey sayang aku merindukanmu."

"Terlambat. Aku sudah kesal."

"Jangan marah padaku."

"Aku tidak marah. Kau sedang apa?"

"umm…Sedang berbaring dan sedang berbicara denganmu."

"Benarkah?"

"Iya benar. Kau tidak percaya?"

"Buktikan."

Luhan melihat ke ponselnya dan merubahnya ke video call agar Sehun percaya apa yang sedang ia lakukan.

"Lihat aku tidak berbohong kan?" katanya menunjukkan wajahnya dan seluruh isi kamarnya kepada Sehun yang sedang tersenyum saat ini

"Kau terlihat cantik malam ini."

"Berhenti membual. Kau berada di luar? Sehun mana jaketmu? Diluar sangat dingin " Katanya bertanya pada Sehun yang terlihat menyender di dinding dengan topi yang menutupi wajahnya.

"hmm..Aku akan pulang sebentar lagi. Aku hanya ingin memastikan istriku sudah berbaring dan bersiap tidur sebelum aku menggila karena memikirkanmu."

"Cepat pulang sayang. Kau terlihat kedinginan."

"Aku akan melakukannya sekarang. Kau beristirahatlah, aku tidak sabar menunggu besok malam."

Luhan tersenyum sangat cantik menatap wajah suaminya "Aku juga tidak sabar tidur bersamamu. Kau juga beristirahatlah dengan nyaman."

"Aku akan melakukannya sambil membanyangkan wajahmu."

"Aku bilang berhenti membual Sehunna. Cepat tutup ponselmu dan segera pulang. Hari semakin dingin."

"Araseo..araseo…aku akan berada disini selama lima belas menit lalu kemudian pulang dan beristirahat. Aku tutup teleponnya. Selamat malam sayang."

Luhan kembali tersenyum dan mengecup ponselnya mewakili kecupan selamat tidurnya untuk Sehun "Selamat malam Sehunna. Aku mencintaimu." Katanya membuat tanda cinta di atas kedua kepalanya membuat Sehun mengernyit

"Aku tidak harus membuat tanda cinta itu kan?"

"Kau harus sayang. Itu perjanjian kita."

"Oh tidak, aku sedang berada di luar."

"Oh sayangnya aku tidak peduli. Cepat buat tanda cinta untukku."

Sehun sedikit melirik kesamping kiri dan kanannya sekilas lalu menatap Luhan dari ponselnya "Aku juga mencintaimu Luhan." ujarnya mengangkat satu tangannya sebagai perwakilan membuat tanda cinta untuk Luhan.

"Lucunya suamiku. Sampai besok sayang."

"Berhenti tertawa dan sampai besok juga sayang." Sehun sedikit melambai pada Luhan dan kemudian

Klik…

Sambungan keduanya terputus dan terlihat jelas wajah kecewa dari keduanya di tempat mereka masing-masing.

Luhan sendiri memutuskan untuk segera tidur agar hari berganti dengan cepat, sehingga dirinya bisa segera menemui Sehun dan melepas rindu pada suaminya esok hari. Dia mematikan lampunya dan tak lama menarik selimutnya sambil memejamkan matanya perlahan sampai dirinya menyadari satu hal.

"Tunggu…. Aku tahu tempat itu."

Luhan bergumam membuang selimutnya asal dan berlari seperti orang gila saat menyadari satu hal. Suaminya tidak berada di suatu tempat, melainkan berada di belakang apartemennya. Tempat Sehun menunggu saat Luhan tak mau bertemu dengannya. Sejak awal mereka melakukan video call, Luhan merasa mengenali tempat dimana Sehun bersandar. Hanya saja Sehun sedikit bergeser dari tempatnya biasa menunggu Luhan membuat Luhan tidak menyadarinya.

"Jangan pergi. kau tidak boleh pergi sebelum aku melihatmu." Gumam Luhan menekan tombol lift berkali-kali dan merasa kesal saat lift nya tak kunjung terbuka. Dia pun memutuskan untuk berlari, berharap lima belas menit di arloji Sehun bergerak agak lambat.

Luhan menuruni tangga menuju lobi utama dan langsung bergegas keluar dengan jaket tebal di tangannya. Dirinya sudah berada di tempat dimana Sehun menghubunginya beberap menit yang lalu, dia melihat ke kanan dan ke kiri dan tak lama tersenyum bersyukur saat menyadari dengan jelas sosok punggung suaminya sedang berjalan menuju mobil. Sosok yang selalu melindunginya dari awal pertemuan mereka hingga saat mereka mengalami banyak cobaan di pernikahan mereka.

Punggung yang selalu terlihat tegap saat berjalan namun selalu bergetar saat mengingat putra mereka. Luhan selalu menyadari kalau daripada Sehun, dirinya lebih tidak bisa kehilangan sosok yang masih berjalan menuju mobilnya itu.

Dengan langkah cepat, Luhan berjalan menghampiri suaminya, menarik kencang lengan Sehun dan

Grep….!

"Bagaimana bisa kau hanya berdiri di luar tanpa menemuiku?"

"Luhan?"

"Ssttt…Aku tahu kau kedinginan. Aku membawakan jaket untukmu. Tapi biarkan aku mengangatkanmu sebentar saat ini." katanya semakin memeluk Sehun berniat bisa membuat suaminya sedikit merasa lebih hangat.

Sehun tersenyum sangat tampan saat ini, jujur saja dia tidak mengharapkan bertemu Luhan malam ini. dia hanya perlu bersabar sampai matahari kembali terbit dan berniat menghabiskan sepanjang hari dengan istrinya. Namun dia merasa Tuhan sangat baik memberikan seseoranh yang luar biasa peduli dan mencintainya seperti Luhan. Sungguh dia tidak pernah merasakan perasaan hangat seperti yang Luhan berikan untuknya saat ini. Membuatnya semakin tak bisa untuk kehilangan sosok mungilnya yang sedang memeluknya erat saat ini.

Sehun pun secara otomatis memeluk tubuh istrinya, berniat membagi kehangatan yang sama dengan yang Luhan berikan untuknya. Dia memeluk erat Luhan dan menciumi pucuk kepala Luhan secara berulang "haah-…..Aku merasa hangat saat ini." gumamnya memeluk Luhan semakin erat dan sesekali menciumi tengkuk istrinya.

"Aku hampir menangis kalau tidak bisa menemukanmu." Luhan melepas pelukannya dan memakaikan jaket yang ia bawa untuk Sehun.

"Kenapa menangis? Kita tidak sedang bertengkar."

"Tentu saja aku akan menangis. Aku menyadari kau berada di belakang apartemenku dan hanya membiarkan kau kedinginan sepanjang malam. Aku tidak mau kau sakit." katanya sedikit memukul Sehun dan kembali memeluk suaminya.

"Aku tidak bisa membayangkan sedingin apa hidupku jika tidak bertemu denganmu."

"Aku juga Sehunna. Aku juga tidak bisa membayangkannya." Gumam Luhan menatap dalam wajah suaminya. Sehun sendiri hanya tersenyum dan mengecup dalam bibir Luhan yang terlihat kedinginan.

"Baiklah aku akan benar-benar pulang setelah ini. Masuklah."

Luhan menggigit bibirnya cukup lama dan kembali menatap Sehun.

"Tidak-…Kau tidak boleh pulang, cuaca memburuk dan aku tidak akan membiarkanmu menyetir dalam keadaan seperti ini."

Sehun mengernyit sedikit menahan tawa mengetahui maksud istrinya "Jadi aku harus tidur dimana?" katanya bertanya dengan nada menggoda

"oh ayolah. Kau memiliki istri yang tinggal di apartemen mewah ini. tentu saja kau akan tidur bersama istrimu. Memangnya kau mau tidur dengan siapa? Idolamu? Mimpi saja sana!" gerutu Luhan membuat gerakan ingin memukul kening Sehun namun Sehun menghindar sambil tertawa kencang.

"haah~…..Sayangnya Idolaku tidak ada yang se sexy istriku." Gumamnya memberitahu Luhan yang terlihat tak suka.

"Tentu saja tidak akan ada yang bisa mengalahkan pesonaku. Kau hanya tergila-gila padaku" Katanya menggenggam erat tangan Sehun dan membawa suaminya untuk beristirahat di apartemennya malam ini.

"Dan sayangnya kau benar. Oh Sehun hanya tergila-gila pada Oh Luhan." ujar Sehun yang juga semakin menautkan jemarinya di jemari Luhan.

Keduanya sama-sama memiliki senyum di wajah masing-masing. Diam-diam berdoa pada Tuhan agar malam yang awalnya mereka doakan agar cepat berganti menjadi Tuhan, jangan jadikan waktu berlalu dengan cepat. Aku ingin bersamanya lebih lama malam ini.


tobecontinued...


jatah update done!

.

semuanya diudate berurutan ya...biar feel triplet ga timbul tenggelam kaya kapal oleng hksss :)

.

nah kalo berurutan berarti Next Update : I choose You...

.

happy reading n review :)

.

p.s : khusus Entangled, gw rada ga tega ngasih konflik. itu hidup pernikahan mereka udh asdfghjkl. auk ah :D