previous.

"Berhenti tertawa dan sampai besok juga sayang." Sehun sedikit melambai pada Luhan dan kemudian

Klik…

Sambungan keduanya terputus dan terlihat jelas wajah kecewa dari keduanya di tempat mereka masing-masing.

Luhan sendiri memutuskan untuk segera tidur agar hari berganti dengan cepat, sehingga dirinya bisa segera menemui Sehun dan melepas rindu pada suaminya esok hari. Dia mematikan lampunya dan tak lama menarik selimutnya sambil memejamkan matanya perlahan sampai dirinya menyadari satu hal.

"Tunggu…. Aku tahu tempat itu."

Luhan bergumam membuang selimutnya asal dan berlari seperti orang gila saat menyadari satu hal. Suaminya tidak berada di suatu tempat, melainkan berada di belakang apartemennya. Tempat Sehun menunggu saat Luhan tak mau bertemu dengannya. Sejak awal mereka melakukan video call, Luhan merasa mengenali tempat dimana Sehun bersandar. Hanya saja Sehun sedikit bergeser dari tempatnya biasa menunggu Luhan membuat Luhan tidak menyadarinya.

"Jangan pergi. kau tidak boleh pergi sebelum aku melihatmu." Gumam Luhan menekan tombol lift berkali-kali dan merasa kesal saat lift nya tak kunjung terbuka. Dia pun memutuskan untuk berlari, berharap lima belas menit di arloji Sehun bergerak agak lambat.

Luhan menuruni tangga menuju lobi utama dan langsung bergegas keluar dengan jaket tebal di tangannya. Dirinya sudah berada di tempat dimana Sehun menghubunginya beberap menit yang lalu, dia melihat ke kanan dan ke kiri dan tak lama tersenyum bersyukur saat menyadari dengan jelas sosok punggung suaminya sedang berjalan menuju mobil. Sosok yang selalu melindunginya dari awal pertemuan mereka hingga saat mereka mengalami banyak cobaan di pernikahan mereka.

Punggung yang selalu terlihat tegap saat berjalan namun selalu bergetar saat mengingat putra mereka. Luhan selalu menyadari kalau daripada Sehun, dirinya lebih tidak bisa kehilangan sosok yang masih berjalan menuju mobilnya itu.

Dengan langkah cepat, Luhan berjalan menghampiri suaminya, menarik kencang lengan Sehun dan

Grep….!

"Bagaimana bisa kau hanya berdiri di luar tanpa menemuiku?"

"Luhan?"

"Ssttt…Aku tahu kau kedinginan. Aku membawakan jaket untukmu. Tapi biarkan aku mengangatkanmu sebentar saat ini." katanya semakin memeluk Sehun berniat bisa membuat suaminya sedikit merasa lebih hangat.

Sehun tersenyum sangat tampan saat ini, jujur saja dia tidak mengharapkan bertemu Luhan malam ini. dia hanya perlu bersabar sampai matahari kembali terbit dan berniat menghabiskan sepanjang hari dengan istrinya. Namun dia merasa Tuhan sangat baik memberikan seseoranh yang luar biasa peduli dan mencintainya seperti Luhan. Sungguh dia tidak pernah merasakan perasaan hangat seperti yang Luhan berikan untuknya saat ini. Membuatnya semakin tak bisa untuk kehilangan sosok mungilnya yang sedang memeluknya erat saat ini.

Sehun pun secara otomatis memeluk tubuh istrinya, berniat membagi kehangatan yang sama dengan yang Luhan berikan untuknya. Dia memeluk erat Luhan dan menciumi pucuk kepala Luhan secara berulang "haah-…..Aku merasa hangat saat ini." gumamnya memeluk Luhan semakin erat dan sesekali menciumi tengkuk istrinya.

"Aku hampir menangis kalau tidak bisa menemukanmu." Luhan melepas pelukannya dan memakaikan jaket yang ia bawa untuk Sehun.

"Kenapa menangis? Kita tidak sedang bertengkar."

"Tentu saja aku akan menangis. Aku menyadari kau berada di belakang apartemenku dan hanya membiarkan kau kedinginan sepanjang malam. Aku tidak mau kau sakit." katanya sedikit memukul Sehun dan kembali memeluk suaminya.

"Aku tidak bisa membayangkan sedingin apa hidupku jika tidak bertemu denganmu."

"Aku juga Sehunna. Aku juga tidak bisa membayangkannya." Gumam Luhan menatap dalam wajah suaminya. Sehun sendiri hanya tersenyum dan mengecup dalam bibir Luhan yang terlihat kedinginan.

"Baiklah aku akan benar-benar pulang setelah ini. Masuklah."

Luhan menggigit bibirnya cukup lama dan kembali menatap Sehun.

"Tidak-…Kau tidak boleh pulang, cuaca memburuk dan aku tidak akan membiarkanmu menyetir dalam keadaan seperti ini."

Sehun mengernyit sedikit menahan tawa mengetahui maksud istrinya "Jadi aku harus tidur dimana?" katanya bertanya dengan nada menggoda

"oh ayolah. Kau memiliki istri yang tinggal di apartemen mewah ini. tentu saja kau akan tidur bersama istrimu. Memangnya kau mau tidur dengan siapa? Idolamu? Mimpi saja sana!" gerutu Luhan membuat gerakan ingin memukul kening Sehun namun Sehun menghindar sambil tertawa kencang.

"haah~…..Sayangnya Idolaku tidak ada yang se sexy istriku." Gumamnya memberitahu Luhan yang terlihat tak suka.

"Tentu saja tidak akan ada yang bisa mengalahkan pesonaku. Kau hanya tergila-gila padaku" Katanya menggenggam erat tangan Sehun dan membawa suaminya untuk beristirahat di apartemennya malam ini.

"Dan sayangnya kau benar. Oh Sehun hanya tergila-gila pada Oh Luhan." ujar Sehun yang juga semakin menautkan jemarinya di jemari Luhan.

Keduanya sama-sama memiliki senyum di wajah masing-masing. Diam-diam berdoa pada Tuhan agar malam yang awalnya mereka doakan agar cepat berganti menjadi Tuhan, jangan jadikan waktu berlalu dengan cepat. Aku ingin bersamanya lebih lama malam ini.

.

.

.

.

.

.

.

.

Entangled

Main Cast : Sehun & Lu Han

Genre : Romance, Family, Hurt/Comfort

Rate : M

Length : Chapter

YAOI. Typo (s)

HUNHAN STORY!

.

.

.

.

.

"Nghhh Sehunn…ahhhh..hmphhh."

Saat ini di sebuah apartemen mewah terdengar suara desahan yang begitu kencang yang berasal dari dua insan yang sedang memadu cinta mereka di malam dingin ini. Si pria tampan dengan tubuh tegap itu terus menghentak ke bagian terdalam pria yang berada di bawahnya sementara si pria cantik hanya bertugas mendesah dan menerima seluruh perlakuan lembut suaminya yang sedang mencoba menyatukan tubuh mereka secara berulang.

"Sehun aku-….hmphh."

Pria cantik bernama Luhan itu sudah mendapatkan kenikmatannya, membiarkan suaminya terus menghentaknya sampai akhirnya

"Luhaannn!"

Keduanya memejamkan mata saat Sehun kembali mengeluarkan cairan hangatnya kedalam tubuh Luhan. Berharap usahanya kali ini membuahkan hasil sehingga Luhan bisa kembali mengandung darah dagingnya.

"Sehun cukup aku lelah, sudah satu jam kita seperti ini."

Sehun yang masih terengah hanya menatap lucu wajah Luhan yang mengerucut "Apa menurutmu kau akan hamil sebentar lagi?"

"Ayolah sayang. Tidak semudah itu, aku ini pria, aku tidak bisa mengandung semudah wanita. Kau harus bersabar." Gumam Luhan yang mulai kesal karena sedari awal percintaan mereka, Sehun terus mengatakan "Kenapa wanita mudah sekali hamil. Tapi pria sangat sulit."

Hal itu sedikit banyak membuat Luhan kesal dan Sehun yang memang suka menggodanya hanya terus tertawa gemas menatap istrinya "Kalau begitu kenapa kita tidak bercinta sesering mungkin? Aku melakukannya saat kau mengandung Ziyu."

Luhan memukul pelan dada Sehun dan menarik kencang kedua pipi suaminya "Lakukan sebanyak yang kau mau. Tapi setidaknya kita lakukan dikamar. Kyungsoo bisa melihat kita jika disini."

"Aku lebih suka di sofa."

"Kau sengaja melakukannya."

"Ya aku sengaja. Aku mau si pria bermata besar itu tahu. Kalau Luhan hanya milikku."

Luhan terkekeh dan sedikit membelalak saat Sehun membawanya duduk di sofa tanpa melepaskan kejantanannya dibawah sana "Aku tidak suka kalau kau tertawa saat aku ingin menunjukkan Luhan hanya milik Oh Sehun." katanya menggerutu memakaikan asal kemeja Luhan yang tergeletak di pinggiran Sofa agar istrinya tidak kedinginan.

"Kyungsoo tidak mengingat apapun. Jadi percuma." Katanya memberitahu Sehun yang terlihat mendengus kesal.

"Aku tetap akan menunjukan padanya kalau kau milikku." Gumam Sehun yang kembali mengecupi leher tanpa cela milik istrinya. Sementara Luhan hanya mendongak memberikan akses sebanyak mungkin untuk Sehun agar bisa menjamahnya sesuka pria yang masih terus menyatukan bagian privasi mereka dibawah sana.

"Lu-Luhan?"

Luhan mungkin akan kembali tergoda dengan permainan Sehun kalau saja suara Kyungsoo tidak mengedar di ruang santai tempatnya bercinta dengan Sehun malam ini.

Luhan yang sedang memejamkan matanya secara refleks membuka dan sedikit terkejut mendapati Kyungsoo berdiri tak jauh dari tempatnya dan Sehun berada. Sehun menyeringai saat melihat Kyungsoo yang kini menatapnya mencumbu Luhan. Dia bahkan semakin menggila mengecupi bagian yang bisa membuat istrinya semakin tak bisa menahan diri.

"S-Sehun…."

Luhan berusaha mengelak dari ciuman Sehun. namun dia semakin tak berdaya saat Sehun terus menyerang bagian sensitif dari tubuhnya.

"Kyungie-…bisakah kau menungguku di ruang makan? Aku akan kesana."

Kyungsoo yang memang merasa mengganggu kegiatan Luhan hanya tersenyum sekilas dan mengangguk sambil berjalan menuju ruang makan meninggalkan kedua pasangan yang kini sedang memadu cinta mereka.

"Sayang jangan digerakkan lagi." Luhan merintih saat Sehun dengan tiba-tiba kembali menggerakan pinggulnya membuat Luhan kewalahan karena saat ini posisinya kembali berada dibawah suaminya.

"Kenapa? Kau tidak mau melayani suamimu?" Sehun bertanya kembali membuang kemeja Luhan membuat tubuh Luhan kembali polos dalam sekejap.

"Bu-bukan seperti itu Seh-….ahh."

"Sekali lagi dan kau boleh berbicara dengannya."

"Aku tidak ma-…aaahh.."

Sehun sedikit menyeringai dan mencari bibir istrinya sementara bagian privasi miliknya telah kembali menghujam bagian bawah istrinya dengan tempo yang cepat membuat si pria yang berada di bawah hanya bisa pasrah dan kembali melayani suaminya yang selalu tak bisa ditolak untuk alasan apapun.

"Aku boleh melakukannya lagi kan?"

Luhan mengumpat kesal melihat ekspresi wajah Sehun seperti anak kecil yang sedang merajuk meminta mainannya. Dia ingin sekali mengatakan kau tidak boleh melakukannya lagi tapi pria yang sedang membuat kedua tubuh mereka bersatu dibawah sana tentu saja tidak akan mempedulikan serangkaian kalimat protes yang Luhan keluarkan, membuatnya mendengus kesal dan mengalungkan kedua tangannya di leher Sehun, meniadakan jarak diantara mereka "Berhenti membuat wajah menyebalkan seperti itu dan lakukan dengan cepat."

Sehun pun sedikit tertawa dan tanpa berlama lama melumat sedikit kasar bibir Luhan dan semakin menghentak kedalam tubuh istrinya, dia sengaja melakukannya sedikit kasar malam ini agar menambah sensasi panas dari percintaan tak terduga mereka malam ini.

..

..

..

"Jangan terlalu lama bicara dengannya. Cepat kembali kekamar, aku menunggu."

"Kenapa kau sangat manja tuan Oh. Aku hanya bicara di meja makan bukan di Jepang." Katanya terkekeh mencari kemeja yang bersih dan sedikit menggerutu karena bagian bawahnya masih terasa sangat sakit.

"Setengah jam belum kembali aku akan menyeretmu kekamar." Gumam Sehun memperhatikan Luhan yang berjalan keluar kamar dan tak lama memejamkan matannya untuk beristirahat sejenak.

"Luhan...kau dengar apa kataku kan?" katanya kembali bertanya dengan mata terpejam membuat Luhan yang akan menutup pintu kamarnya terkekeh.

"Aku dengar sayang."

Sehun sedikit tertawa menyadari suara Luhan yang mulai kesal karena terus menerus dibuat kesal malam ini.

Sementara Luhan menghela dalam nafasnya dan merapikan kemejanya sebelum berjalan menghampiri Kyungsoo yang sepertinya belum kembali kekamarnya.

"Kyungie.."

Luhan menarik kursi meja makan disamping Kyungsoo membuat Kyungsoo sedikit menoleh dan menatap Luhan tanpa ekspresi. "Maaf membuatmu menunggu lama."

"Siapa pria itu?"

Luhan dengan cepat menoleh kekamarnya berharap Sehun benar-benar sudah tertidur didalam sana dan tidak mencuri dengar percakapannya dengan Kyungsoo karena pasti akan berakhir dengan pertengkaran tidak penting.

"Namanya Sehun-...Oh Sehun. Dia suamiku baby soo."

Kyungsoo menautkan kedua alisnya dan menatap Luhan dengan bingung "Kau sudah menikah? Dengan pria sepertinya?"

Kali ini Luhan yang mengernyit sedikit tidak suka dengan ucapan Kyungsoo mengenai suaminya "Pria sepertinya?"

"Ya.. dia terlihat sangat egois dan menakutkan, dia pasti suka berteriak padamu. Apa kau tidak menikahi orang yang salah?"

"Kau tidak tahu apapun tentang suamiku."

Luhan tertawa dan sedikit memijat kepalanya berharap terlalu banyak pada Kyungsoo yang sedang mengalami amnesia untuk sedikit menyukai Sehun namun semua itu hanya harapan untuk Luhan menyadari nada tak suka yang dilontarkan Kyungsoo untuk Sehun "Aku sudah lima tahun menikah dengannya. Dan selama lima tahun pula rasa cintaku padanya tidak pernah hilang justru sebaliknya aku semakin mencintai suamiku dengan hidupku. Jadi jika kau bertanya apa aku menikahi orang yang salah jawabannya tentu tidak, aku menikahi orang yang tepat."

Kyungsoo menatap ke dalam mata Luhan dan menemukan keyakinan luar biasa dari jawaban Luhan atas keraguannya pada Sehun, "Kau terlihat sangat mencintainya."

"Aku mencintainya bahkan melebihi aku mencintai diriku sendiri." Katanya sedikit tersenyum memberitahu Kyungsoo yang menggenggam tangannya saat ini.

"Kalau tidak ada yang ingin kau tanyakan lagi sebaiknya kau kembali tidur. Besok kita harus kembali ke rumah sakit, kau harus mengikuti serangkaian terapi." Gumamnya tersenyum memberitahu Kyungsoo yang terlihat menatap kosong.

"Bagaimana kalau ternyata aku tidak ingin mengingat masa laluku?"

"eh?"

"Aku tidak tahu apa yang terjadi pada diriku Lu. Hanya saja aku merasa lebih baik jika terus seperti ini. Aku takut menerima kenyataan jika masa laluku begitu mengerikan."

Luhan mengambil kedua tangan Kyungsoo dan menggenggamnya erat lalu memaksa Kyungsoo menatapnya "Masa lalumu tidak mengerikan dan lagipula kau akan tinggal bersamaku mulai saat ini. Jadi jangan khawatir, kau harus sembuh Kyungsoo. Kau mau kan?"

Rasanya Kyungsoo ingin menggelengkan kepalanya menolak semua permintaan Luhan, namun saat menatap mata Luhan yang begitu berharap membuatnya tak ingin mengecewakan pria yang sepertinya benar-benar peduli padanya saat ini. "Aku mau." Katanya memberitahu Luhan yang terlihat bersemangat.

"Kalau begitu kau harus segera tidur, kau akan mengalami hari yang melelahkan besok pagi."

"hmm... Kau juga Lu. Selamat malam."

"Selamat malam Kyungie."

Luhan pun segera bergegas menuju kamarnya sebelum pria yang berada didalam sana berteriak memanggil dirinya yang begitu lama berbicara dengan Kyungsoo.

Cklek...!

Luhan membuka pintu kamarnya perlahan dan tanpa suara berjalan mendekati tempat tidurnya, dia tersenyum menyadari kalau saat ini Sehun sudah benar-benar tertidur pulas terdengar dari suara nafasnya yang begitu beraturan menandakan prianya sudah benar-benar berisirahat malam ini. Dia memandang lama wajah Sehun yang begitu tenang dalam tidurnya. Mengagumi betapa tampannya pria yang sudah menemani hidupnya hampir delapan tahun lamanya ini. Sehunnya yang selalu tertawa bodoh jika sedang menggodanya, Sehunnya yang akan merajuk jika perhatiannya terbagi, Sehunnya yang akan menangis jika dirinya sakit. Sehunnya yang sempurna dan hanya miliknya seorang.

Luhan kemudian perlahan menyibak selimut yang digunakan Sehun dan ikut berbaring disamping suaminya. Sehun yang menyadari pergerakan disampingnya pun langsung memeluk tubuh yang selalu terasa nyaman untuknya tersebut. Dia berbaring didada Luhan dan kembali menarik selimut menutupi tubuh keduanya membuat Luhan tertawa gemas dengan tingkah Sehun yang selalu seperti anak kecil untuknya"Kenapa bayi besarku sungguh menggemaskan hmm." Gumam Luhan mengelus sayang tengkuk Sehun dan membiarkan suaminya tertidur dengan nyaman di pelukannya.

"Luhan..."

"sstt...Aku sudah memelukmu sayang. Tidurlah dengan nyaman dan mimpi indah Sehunnie." Katanya menciumi kening Sehun dan tak lama ikut tertidur dengan bayi besar di pelukannya.

..

..

..

"LUHAN!"

Kyungsoo yang sedang tertidur tiba-tiba membuka matanya cepat saat suara yang memanggil Luhan begitu familiar untuknya. Entah kenapa jantungnya berdebar hebat dengan perasaan sangat takut karena menyadari suara itu adalah suara yang sama yang selalu menghantuinya setiap malam di mimpinya. Dia tidak tahu suara itu milik siapa tapi yang jelas mendengar suara itu membuatnya bergetar ketakutan.

Cklek…!

"Ah kau sudah bangun baby soo?"

Kyungsoo sedikit tersentak saat Luhan tiba-tiba membuka pintu kamarnya dan berjalan mendekatinya diikuti pria berkulit tan yang entah kenapa selalu membuatnya berdebar saat mereka tak sengaja bertatapan mata.

"hmmm.. Kau mau kemana Lu?"

"Sehun bersikeras mengantarku ke rumah sakit. Jadi aku pergi lebih dulu ya. Kai akan mengantarmu dan kita akan segera bertemu dirumah sakit. Tidak apa kan?"

"Apa aku tidak merepotkan Kai?"

Terdengar suara tawa Kai dan Luhan hampir bersamaan membuat Kyungsoo sedikit merona karena menyadari dirinya salah berbicara. "Kai itu seperti malaikat penjagaku. Dia akan mengantarku kemanapun dan menjagaku dengan baik. Kau tidak perlu meragukannya, dia penjaga nomor satu untukmu saat ini." gumam Luhan mengusap lembut rambut Kyungsoo dan memberitahu adiknya tersebut.

"Kau mau kan?"

Kyungsoo mengangguk sebagai jawaban membuat Luhan tersenyum dan tak lama menghampiri Kai.

"Jangan terlambat membawa Kyungsoo ke rumah sakit. Dia harus melakukan terapi dengan Junmyeon pukul-... "

"Pukul sepuluh Luhan. Iya aku ingat. Sekarang cepat pergi sebelum suamimu kembali berteriak." gumam Kai memotong ucapan Luhan membuat Luhan mendelik sebal padanya.

"Awas kalau terlambat." katanya memarahi Kai yang kini membawa Luhan segera keluar dari kamar Kyungsoo.

"Aku akan mentraktirmu makan jika sampai terlambat."

"Kau yang mengatakannya Kai. Aku mengingatnya."

"iya...iya. Sampai nanti Lu."

Luhan pun melepas tangan Kai di bahunya dan tak tertawa tak percaya menatap Kai "Aku diusir dari apartemenku sendiri?"

"Untuk pagi ini? Ya….Kau diusir Luhan. Jadi sampai nanti." Kai buru-buru menutup pintu apartemen Luhan dan tertawa gemas mengingat wajah Luhan yang begitu lucu saat sedang kesal.

"Kau menyukai Luhan ya?"

"eh?"

Kai menoleh dan mendapati Kyungsoo sedang mènuang air didapur sambil bertanya sekilas padanya.

"Kau bertanya padaku?"

"Apa ada orang lain disini? Tidak kan?"

Kai terkekeh menyadari Luhan dan adiknya benar-benar mirip masalah sifat dan cara keduanya menyindir seseorang.

"Jadi apa kau menyukai Luhan?" Kyungsoo berjalan mendekati Kai yang sudah duduk di meja makan sambil menyerahkan segelas air untuk pria bertubuh tinggi tegap didepannya.

"Jika kau bertanya apa aku menyukai Luhan atau tidak? Tentu saja aku menyukainya. Semua yang mengenalnya menyukai pria baik hati itu. Kau juga menyukainya aku rasa."

"Tapi jika kau bertanya apa aku mempunyai perasaan lebih untuknya atau tidak, aku rasa jawabannya iya. Aku mengagumi Luhan. Sangat mengaguminya." gumam Kai memberitahu Kyungsoo yang kini menatapnya tak berkedip.

"Aku juga mengagumi Sehun." katanya menambahkan.

"Jika kau tahu kisah cinta seperti apa yang mereka jalani. Kau juga pasti mengagumi mereka. Keduanya memiliki hidup yang sangat bertolak belakang, tapi entah kekuatan cinta seperti apa yang mereka miliki membuat mereka saling menerima tanpa syarat dan saling mencintai tanpa batas. Aku iri dengan cara mereka saling menjaga dan mencintai."

Kyungsoo menyadari segala yang diucapkan Kai terdengar begitu tulus. Tanpa sadar dirinya tersenyum menyadari pria didepannya ini terlihat bersedia melakukan apapun untuk kebahagiaan Sehun dan Luhan. "Aku pikir cinta sejati itu tidak pernah ada. Aku melihat banyak orang mencintai seperlunya lalu kemudian melupakan cinta mereka. Mendengar ceritamu tentang Sehun dan Luhan membuatku sedikit ragu namun sedikit beeharap bisa menemukan seseorang yang juga mencintaiku dengan tulus.'

Kai tanpa sadar tersenyum dan menggengam kedua tangan Kyungsoo cukup erat dan memberitahu Kyungsoo satu hal

"Tidak ada yang mencintai Luhan sebesar cinta Sehun. Begitupun sebaliknya tidak ada yang mencintai Sehun sebesar cinta Luhan untuknya. Percayalah."

"Dan untuk orang yang akan mencintaimu dengan tulus. Percayalah dia akan segera datang." katanya menambahkan dan menyadari kesalahannya dengan menggenggam tangan Kyungsoo.

"Sebaiknya kau bersiap. Luhan selalu tidak suka jika dibuat menunggu." gumam Kai yang tampak salah tingkah dan berjalan menjauhi Kyungsoo yang juga merona malu saat ini.

Sementara itu

Luhan masih berlari ke basement apartemennya karena menebak pasti Sehun sudah kesal menunggunya terlalu lama dan sedikit bersyukur karena suaminya masih menunggu di mobil dan tak membuat ulah dengan melampiaskan rasa kesalnya pada siapa saja yang lewat didepannya karena dibuat menunggu terlalu lama.

"Kenapa lama sekali?"

"Berhenti menggerutu dan cepat jalankan mobilnya." gumam Luhan yang masih terengah.

"Tidak sebelum kau menciumku."

"Aku sudah melakukannya tadi.'

"Si hitam itu mengganggu. Aku belum puas."

"Jalankan mobilnya." Luhan mendesis beradu mata dengan Sehun yang juga tak mau kalah.

"Tidak mau." balas Sehun yang juga mendesis.

"Jalankan."

"Tidak mau."

"Aku bilang jalankan."

"Aku bilang ti-..."

Mmmpphhhh….

Luhan menarik dasi yang Sehun gunakan dan tak lama menyatukan kedua bibir mereka. Dirinya dengan sengaja membuka bibirnya agar Sehun dengan mudah mengakses lebih dalam ke rongga mulutnya. Dia tahu pria tampannya tidak akan pernah puas jika hanya menempelkan bibir keduanya. Sehun akan menyesap, menghisap dan sesekali menggigit gemas bibir Luhan seperti saat ini misalnya, dirinya sengaja menyesap kuat bibir bawah Luhan lalu kemudian dengan sengaja menggigitnya kencang membuat Luhan tersentak dan mendorong Sehun sekuat yang ia bisa.

"Kenapa suka sekali menggigit bibirku?" teriaknya memekik membuat Sehun tertawa kencang.

"Salahkan bibir ini yang selalu membuatku ingin melahapnya habis."

"Menyebalkan sekali."

"Jangan menggerutu. Kau terlihat lebih menggoda saat kesal. Aku bisa membuat mobil ini menjadi saksi percintaan panas kita entah yang ke berapa kalinya kalau kau mau." ujar Sehun memakaikan sabuk pengaman untuk istrinya.

"Aku serius Lu." katanya menambahkan saat melihat Luhan yang masih kesal.

"Luhan."

"hehe. Apa ini sudah cukup?" Luhan menarik kedua pipinya menunjukkan sederetan giginya yang putih dengan nada suara tertawa yang dibuat-buat. Dan Sehun-... demi apapun yang bisa membuatnya tertawa hanya pria yang selalu berbuat konyol didepannya saat ini.

"aaa yeppo…!"

Setelah puas menggoda Luhan, Sehun kemudian menyalakan mobilnya dan bergegas mengantar istrinya ke rumah sakit mengabaikan wajah cemberut Luhan yang masih menggerutu di sampingnya.

..

..

..

"Sehun kenapa tiba-tiba kau memaksa ikut ke rumah sakit?"

Luhan bertanya pada Sehun saat keduanya sampai di parkiran rumah sakit dan sedang berjalan masuk menuju ruangan Luhan dan seperti biasa kedatangan Sehun seperti hiburan tersendiri untuk seluruh karyawan ataupun pasien wanita yang kini menatap ketampanan Sehun dengan berlebihan.

"Hanya ingin menemanimu." Jawabnya asal dan kembali tersenyum pada wanita-wanita cantik yang menyapa ke arahnya.

"ya ya ya...aku percaya." Gumam Luhan yang mulai kesal karena Sehun semakin meladeni wanita-wanita cantik yang menyapanya.

"Dokter Oh..."

Luhan pun secara refleks menoleh saat namanya dipanggil dan mendapati dokter mudanya sedang berlari ke arahnya "Ada apa dr. Lee?"

"Maaf mengganggu anda. Tapi professor Han ingin bertemu anda untuk membahas operasi pengangkatan tumor putrinya pagi ini."

"Apa professor Han sudah tiba?"

"Sudah dokter Oh."

Luhan kemudian menatap suaminya yang sudah terlihat bosan mengetahui apa yang akan Luhan katakan selanjutnya "Aku harus menunggumu di ruanganmu kan?" katanya menebak mengangkat kedua alisnya.

"Jangan marah ini masih pagi." Gumam Luhan berbisik membuat Sehun mau tak mau tertawa.

"Yasudah kau memang harus bekerja. Kalau aku tidak ada di ruanganmu itu artinya aku juga sudah pergi ke kantorku."

Kali ini Luhan yang mengangkat kedua alisnya "Aku pikir kau akan disini sampai aku selesai bekerja."

"Aku ingin...tapi ada yang harus aku lakukan. Kita bertemu di apartemen ya?"

Luhan menghela berat nafasnya dan berjinjit mencium Sehun sekilas "Ya...aku menunggumu."

"Ayo kita pergi."

Luhan mengerling Taeyong dan tak lama meninggalkan Sehun yang memperhatikan punggung Luhan yang terus menjauh. Kedatangannya ke rumah sakit tempat Luhan bekerja bukan tanpa alasan tentu saja, dia ingin segera menemukan siapa pria bernama Wu Yifan secepatnya. Dan harapannya untuk mendapatkan informasi tentang Yifan berada pada seseorang yang sangat membencinya sampai saat ini.

Tok...Tok...

"Masuk."

Setelah mendapatkan ijin memasuki ruangan, Sehun pun melangkah mendekati pria yang sedang fokus dengan komputer di mejanya. Tak ada yang bersuara sampai pria yang merupakan dokter bedah spesialis di rumah sakit tersebut menoleh dan sedikit terkejut mendapati pria yang sangat ia benci berdiri didepannya.

"Sedang apa kau disini?" Pria bernama Park Chanyeol itu pun mendesis tak suka melihat kehadiran Sehun di ruangannya membuat pria yang tak kalah menakutkan didepannya itu tersenyum menahan kesal lalu menarik kursi didepannya.

"Percayalah aku juga tidak ingin berada disini." Balas Sehun menyatukan kedua tangannya dan membalas tatapan benci Chanyeol padanya.

"Kalau begitu segera keluar dari ruanganku."

"Aku akan melakukannya setelah selesai bertanya padamu."

"Aku tidak akan menjawab apapun yang kau tanyakan. Jadi cepat pergi dari ruangan-.."

"Aku ingin tahu tentang pria bernama Wu Yifan."

Sehun memotong ucapan Chanyeol membuat Chanyeol sedikit membelalak saat nama Yifan yang sudah tak pernah ia dengar kini dilontarkan oleh orang yang paling ia benci saat ini.

"Brengsek. Kenapa kau bertanya tentang bajingan itu?"

Sehun merasa semuanya menjadi jelas saat ini, mengetahui fakta wajah Chanyeol memucat dan terlihat sangat marah saat nama Yifan disebut itu artinya dia mengetahui banyak hal tentang Yifan.

"Ceritakan padaku siapa dia."

"Darimana kau tahu tentang Yifan?"

"Bukan urusanmu. Tapi percayalah ini demi kebaikan Luhan."

Chanyeol berjalan ke pintu ruangannya dan menguncinya lalu kembali berjalan mendekati Sehun dengan gusar "Jangan pernah menyebut nama Kris didepan Luhan." Chanyeol menarik kerah Sehun dan memberitahu Sehun dengan nada penuh kemarahan didalamnya.

"Alasan aku datang kepadamu karena aku tidak ingin bertanya pada istriku. Jadi cepat katakan siapa pria bajingan ini."

"Tidak ada alasan untukku memberitahu siapa Yifan padamu." gumam Chanyeol melepas kasar cengkramannya pada Sehun dan kembali duduk di kursinya.

"Jangan membuat kesabaranku habis."

"Kenapa? Kau ingin membunuhku? Dasar pembunuh!"

"Brengsek. Aku tidak main-main." Kali ini Sehun yang kehilangan kesabarannya, dia mencekik Chanyeol namun Chanyeol hanya menyeringai membalas Sehun membuat Sehun melepas kasar cekikannya pada leher Chanyeol.

"KATAKAN PADAKU!"

"Kenapa kau tertarik pada Kris? Apa dia mengganggu usaha gelapmu? Apa dia membuatmu harus kehilangan bermilyar won? Atau mungkin dia mengambil seluruh pelacur dari bis-..."

"BAJINGAN ITU MEMBUNUHKU PUTRAKU."

Chanyeol yang sedang menghina Sehun sedikit terdiam menyadari perubahan suara pria didepannya. Sehun yang sedari tadi berteriak marah kini menjadi bergetar hebat saat mengatakan alasan dia ingin mengetahui tentan Yifan.

"Apa maksudmu?"

"Pikirmu darimana aku bisa mengetahui tentang Yifan? Aku mencari siapa yang membunuh putraku hampir setahun lamanya, dan saat aku menemukannya anak buahku mengatakan bajingan ini mengincar Luhan. Kau tahu betapa marahnya aku saat ini? Aku bahkan selalu bermimimpi buruk takut jika dia benar-benar menyakiti Luhan."

"Katakan padaku siapa Yifan? Aku mohon Chanyeol-ssi."

Chanyeol memijat kepalanya yang tidak sakit dan merasa ucapan Sehun terdengar menakutkan untuknya saat ini "Dia masih ingin membalas kematian kekasihnya pada Luhan."

"Apa maksudmu?"

Chanyeol membuka lacinya dan mengeluarkan sesuatu dari map cokelat yang sepertinya tidak pernah dibuka untuk waktu yang lama, lalu kemudian mengeluarkan selembar foto dan menunjukkannya pada Sehun.

"Dia yang bernama wu Yifan, kami biasa memanggilnya Kris. Dan ini kekasihnya Huang Zi Tao."

Chanyeol menunjukkan selembar foto sama persis dengan yang ditemukan Max. Bedanya, foto yang dimiliki Chanyeol menunjukkan lima orang remaja yang sedang tertawa sedangkan yang ditemukan Max hanya berisi empat remaja yang sedang berangkulan.

"Saat itu kami menginjak usia delapan belas tahun. Itu artinya kami berhak menentukan hidup kami sendiri, aku dan Luhan memutuskan untuk mengambil beasiswa kami dan melanjutkannya ke perguruan tinggi. Kyungsoo masih belum bisa berpisah dengan kepala panti asuhan kami dan memutuskan untuk tinggal dan menjadi pengajar untuk adik-adik kami yang lain. Sementara Kris dan Tao? Mereka berdua hidup menyimpang dan menjadikan uang segalanya."

"Lalu apa yang terjadi?"

Chanyeol diam sesaat menatap Sehun sampai matanya kembali menatap Sehun dengan penuh luka "Yang terjadi adalah saat malam mengerikan itu datang."

"Malam itu aku dan Luhan memutuskan pulang ke panti asuhan untuk menjenguk Kyungsoo, kami sedang mendapatkan libur dan berniat untuk membawa Kyungsoo berlibur. Tapi yang kami lihat adalah keributan yang sedang terjadi di tempat kami dibesarkan. Saat itu Luhan panik saat salah satu pengasuh kami memberitahu bahwa Kris dan Tao membawa paksa Kyungsoo yang terlihat sedang kecanduan. Tak ada yang berani mencegah Kris dan Tao karena keduanya datang bersama dengan segerombolan pria berbaju hitam lengkap dengan senjata mereka."

"Aku dan Luhan berlari ke lantai enam yang merupakan kamar Kyungsoo. Kami berdua cukup terkejut saat Kris dan Tao memaksa Kyungsoo untuk menelan pil yang kami tebak adalah obat-obatan terlarang dalam jumlah banyak. Luhan berteriak histeris saat itu dan seketika malam itu menjadi mencekam karena Luhan mulai menghajar semua yang menghalanginya untuk menyelamatkan Kyungsoo yang sudah tidak sadarkan diri."

"Aku mengalihkan seluruh pria berbaju hitam itu sementara Luhan berusaha membawa Kyungsoo ke rumah sakit. Tapi tentu saja tidak semudah itu..."

Chanyeol menghela nafasnya dan menopang dagunya pada kedua tangannya "Tao mencegah Luhan membawa Kyungsoo. Mereka berdua menjual Kyungsoo untuk dijadikan pemuas nafsu bejat dari pimpinan mereka. Dan Luhan tentu saja tidak membiarkan hal itu terjadi. Dia-..."

"TEGANYA KAU MENJUAL KYUNGSOO TAO! DIA ADIK KITA."

"Ck. Adik kau bilang? Dia itu lebih pantas dijadikan hewan peliharaan oleh bosku. Dia akan bahagia jika ikut denganku Lu. Jadi lepaskan dia dan kita tidak perlu bertengkar."

"AKU TIDAK AKAN MEMBIARKAN KYUNGSOO IKUT DENGANMU!"

"Lalu apa yang harus aku lakukan? Apa perlu aku membunuhmu?"

"LAKUKAN APAPUN YANG KAU MAU TAPI JANGAN PERNAH MENYENTUH KYUNGSOO!"

"Saat itu hujan turun dengan lebatnya. Luhan dan Tao benar-benar saling memukul malam itu. Kejadiannya di atap paling atas panti asuhan kami. Semuanya terjadi begitu cepat. Terlalu banyak darah disana. Sampai akhirnya Luhan berada di posisi yang terpojok di antara balkon yang rapuh. Tao sudah akan menusuk Luhan, namun saat Luhan menghindar-...saat itulah hal mengerikan itu terjadi."

"Apa yang terjadi?"

"Tao terjatuh dari atas balkon dan meninggal seketika saat itu."

"Dia pantas mati." Geram Sehun yang hanya mendengar cerita Chanyeol sudah begitu marah karena pria bernama Huang Zi Tao ini hampir membunuh istrinya.

"dia pantas mati." Chanyeol mengulang kalimat Sehun dan tak lama tertawa lirih menatap kosong kedepan.

"Itu adalah kalimat yang sama yang dilontarkan Kris pada Luhan malam itu. Dia sempat diamankan polisi dan bersumpah akan menyakiti Luhan dengan cara apapun. Dia akan membuat Luhan membayar apa yang dia rasakan. Dan jika benar dia yang membunuh putramu. Maka Kris benar-benar membalas dendamnya pada Luhan."

"Apa kau tahu dimana terakhir kali dia terlihat?"

"Aku tidak tahu. Tapi setahuku dia memiliki markas di sekitar barat Hongdae. Dia selalu kembali kesana jika sedang berada di Seoul."

Chanyeol mengernyit saat tiba-tiba Sehun berdiri dan mengancingkan jas yang ia kenakan "Aku tidak percaya mengatakan ini padamu. Tapi terimakasih." Gumamnya dan tak lama berjalan keluar dari ruangan Chanyeol.

"Sehun."

Sehun menghentikan langkahnya saat pertama kali mendengar Chanyeol memanggilnya tanpa rasa benci. "Ada apa?"

"Apa Luhan mengetahui hal ini?"

Sehun menggeleng lemah dan kembali menatap Chanyeol "Belum."

"Kalau begitu biarkan tetap seperti ini dan jangan biarkan Luhan bertemu dengan Kris."

"Aku suaminya dan aku yang lebih tahu apa yang harus aku lakukan untuk melindunginya. Selama aku masih bernafas aku tidak akan membiarkan siapapun menyentuh Luhan." Gumamnya menggeram dan kali ini benar-benar meninggalkan ruangan Chanyeol.

Sehun sedikit tersenyum saat melihat seseorang yang tampaknya salah tingkah mendengar pintu ruangan Chanyeol terbuka "Apa kau masih mencintainya diam-diam dr. Byun?"

Pria yang sedang mondar mandir di sekitar ruangan Chanyeol itu pun terdiam dan memicingkan matanya saat menyadari Sehunlah yang keluar dari ruangan Chanyeol.

"Sialan. Aku pikir kau Chanyeol."

"Aku Sehun."

"Diam! Aku juga tahu."

"Sedang apa kau didalam sana?"

"Apa aku perlu menjawabmu saat ini?"

"Kau tidak membunuhnya kan?" Baekhyun bertanya menyelidik pada Sehun dengan curiga

"Aku masih ingin hidup bersama Luhan. Jadi tidak mungkin aku membunuhnya, lagipula pria itu sepertinya masih berharap pada Luhan. Kenapa kau tidak segera masuk dan mengatakan kalau kau mencintainya untuk waktu yang la-..."

"Astaga Oh Sehun mulutmu." Baekhyun mendekap mulut Sehun dan membawa Sehun pergi menjauh dari ruangan Chanyeol.

"Apa-apaan kau?!" Sehun terlihat geram saat Baekhyun membekap mulutnya secara paksa.

"Kau yang berulah sialan. Bagaimana kalau dia mendengarnya?"

"Kau harus berterimakasih padaku kalau begitu."

"Tidak-...dia pasti menjauhiku kalau tahu aku menyukainya. Aku tidak bisa jika dia membenciku." Gumam Baekhyun yang terlihat panik dengan mata berkaca-kaca.

"Coba katakan padanya dan lihat bagaimana reaksinya."

"Kau gila...aku tidak akan melakukannya."

Sehun mengangkat kedua bahunya dan memegang pundak Baekhyun sedikit kencang "Kalau kau terus seperti ini kau akan benar-benar kehilangannya Baek. Setidaknya biarkan dia tahu apa yang kau rasakan, selebihnya biar waktu yang menentukan bagaimana hubungan kalian selanjutnya."

"haah~Itu saran dariku. Tapi terserah padamu. jika kau nyaman seperti ini lakukan saja sampai dia menemukan pujaan hatinya yang lain. Tapi jika aku berada di posisimu, aku akan mengejarnya sampai aku berhenti bernafas. Aku tidak akan sepengecut dirimu. Sampai nanti."

Baekhyun mengepalkan erat tangannya mendengar seluruh ucapan Sehun yang begitu menyebalkan. Dia telah mencintai Chanyeol selama lima tahun dan selama lima tahun itu pula perasaannya tak pernah berbalas. Jangankan berbalas, Baekhyun sendiri tidak tahu apakah Chanyeol menyadari keberadaan dirinya atau tidak di sekitarnya.

"Kau brengsek Oh Sehun. Tapi kau benar-...aku harus berjuang untuk kisah cintaku." Gumamnnya menggeram dan tak lama tersenyum mengakui ucapan Sehun seluruhnya menjadi motivasi tersendiri untuknya.

..

..

..

"Apa yang terakhir kali kau ingat?"

Saat ini Luhan sedang menemani Kyungsoo untuk menjalani terapinya bersama Junmyeon. Dan untuk beberapa alasan Luhan sangat kesal pada Junmyeon yang terlihat sangat tak sabar saat bertanya pada Kyungsoo.

"Apa dia tidak bisa lebih lembut bertanya pada Kyungsoo."

Luhan menggeram saat melihat wajah Kyungsoo yang terlihat memucat dipaksa mengingat sesuatu yang sama sekali tak bisa ia ingat.

"Itu untuk kebaikannya Luhan. Kau harus tenang."

"Bagaimana bisa aku tenang? Kyungsoo terlihat mende-..."

Drrtt...drtt...

Luhan mengambil ponsel yang berada di jas putihnya dan tersenyum mendapati nama Sehun menghubunginya.

"ya sayang. Ada apa?"

"Lu...maaf harus memberitahumu hal mendadak seperti ini. Tapi malam nanti aku akan berangkat ke Jepang."

"Apa kau bilang? Ke Jepang? Lagi? Tapi kenapa mendadak sekali?"

"ya sayang. Ini tidak mendadak, ini sudah dijadwalkan sebulan yang lalu tapi aku lupa memberitahumu."

"Tapi ini terlalu mendadak Sehunna."

"hanya tiga hari dan setelah itu aku kembali."

"..."

"Luhan...hey sayang. Aku mohon jangan marah."

"..."

"Luhan-...aku.."

Pip!

Luhan memutuskan hubungan telepon Sehun dan dengan segera mematikan ponselnya. Dia merasa sangat kesal berfikir malam ini bisa menghabiskan waktu bersama Sehun tapi ternyata suaminya lebih memilih mengurusi pekerjaan gelapnya lagi.

"Kau terlihat kesal." Kai menoleh sekilas ke arah Luhan dan menyadari satu-satunya hal yang bisa membuat mood Luhan berubah dengan cepat hanyalah seorang Oh Sehun.

"Apa bos akan pergi berbisnis?"

"Tidak tahu. Tidak peduli."

"Aku tebak ke Jepang? Tenang saja kali ini tidak berbahaya. Dia hanya perlu menandatangani dokumen dan segera pulang."

"Kai berhenti berbicara."

"Jangan khawatir Lu. Dia akan baik-baik saja."

"Dia harus baik-baik saja." Gumam Luhan mengepalkan erat tangannya dan tak berkedip menatap Kyungsoo yang masih diam tak menjawab pertanyaan Junmyeon sekali lagi.

"Bagaimana? Apa ada kemajuan pada Kyungsoo?"

Luhan segera menghampiri Junmyeon ke ruangannya meninggalkan Kyungsoo bersama Kai di ruang terapi yang digunakan Junmyeon beberapa saat yang lalu.

"Jangan terlalu berharap Lu. Ini hari pertamanya dan dia terlihat begitu kelelahan."

"Tapi dia akan baik-baik saja kan?"

Junmyeon menutup catatan kesehatan Kyungsoo dan menatap Luhan yang terlihat sangat berharap "Aku rasa ada sesuatu yang tidak ingin ia ingat. Dia berusaha menekan sekuat mungkin ingatan itu dan menolak untuk membuat dirinya tenang. Dia terlihat begitu ketakutan saat aku memaksanya mengingat wajah terakhir yang ia lihat."

"Terkadang memang ada kenangan yang sebaiknya kita lupakan. Kenangan yang menakutkan yang membuat hidup kita menderita." Gumam Junmyeon menggenggam tangan Luhan dan sedikit mengusapnya lembut menenangkan pria yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri.

"Tapi kau tenang saja. Kau dan aku-..kita akan membantu Kyungsoo secara perlahan. Kita tidak akan memaksanya, jika sudah waktunya dia akan membuka diri dan secara perlahan pula kenangan di memorinya akan sedikit demi sedikit kembali ia ingat. Aku janji."

Luhan sedikit tersenyum dan membalas genggaman Junmyeon padanya "Terimakasih hyung."

"Itu tugasku, tidak perlu berterimakasih."

Luhan pun menaikkan kedua alisnya dan tak lama tersenyum jahil menatap Junmyeon "Nanti malam ayo kita makan bersama. Aku yang bayar."

"Berdua saja?"

Luhan menggeleng cepat dan berbisik mendekat ke wajah Junmyeon "Aku akan mengajak Baekhyun, Chanyeol, dan-..." Luhan memicingkan matanya sedikit menyeringai pada Junmyeon

"Dan Yixing."

"Oke. Ayo kita berangkat."

Luhan tertawa saat Junmyeon selalu bersemangat jika mendengar nama Yixing disebut. Dan bukan hal baru di rumah sakit tempatnya bekerja kalau setahun belakangan ini Junmyeon sedang mengejar cinta Yixing yang tak pernah berbalas.

..

..

..

"Kau yakin memesan soju sebanyak ini Lu?"

Chanyeol bertanya saat Luhan memesan hampir selusin botol soju untuk mereka berenam dan sepertinya pria yang selalu terlihat cantik di matanya ini akan menambah jumlah pesanan mengingat dia masih memesan pada salah satu pegawai di kedai tempat mereka makan saat ini.

"Tentu saja. Anggap saja ini pesta penyambutanmu untukmu yeol. Kita belum berpesta kan?"

"Pasti kau sedang bertengkar dengan Sehun, kau selalu seperti ini jika sedang bertengkar dengan suamimu." Yixing menyindir Luhan membuat pria disampingnya ini mendelik kesal padanya.

"Aku tidak bertengkar dengan Sehun."

"Terserahmu saja. Bahkan pemilik kedai ini juga tahu kalau kau sedang bertengkar dengan Sehun."

"Kalian berisik. Cepat makan dan kita bersenang-senang." Katanya menuang soju ke setiap gelas dan tak lama mengajak bersulang pada teman-temannya.

Uhuk..!

"Hey pelan-pelan."

Chanyeol langsung berputar mengitari meja untuk menepuk pundak Luhan yang sedang tersedak minumannya sendiri.

"Aku baik-baik saja. Cepat kembali ke tempatmu."

Chanyeol menggeleng dan menarik kursi disamping Luhan "Aku duduk disini saja. Aku harus mengawasimu." Gumamnya memberitahu Luhan dan ikut minum disamping Luhan mengabaikan tatapan terluka pria didepannya yang kini tersenyum lirih dan mulai meneguk habis soju nya dalam jumlah banyak.

"Kalian lihat kan? Pada akhirnya aku yang masih bertahan tidak mabuk sementara Yixing dan Baekhyun sudah terkapar dimeja." Luhan terkekeh melihat Baekhyun dan Yixing yang bahkan berlomba menghabiskan minuman mereka.

"Aku akan mengantar Yixing. Kau bayar dan segera pulang Lu. Sampai besok."

"Ya sampai besok hyung." Luhan tersenyum penuh arti pada Junmyeon yang tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk berdua dengan Yixing.

"Kau tidak mabuk karena besok pagi memiliki jadwal operasi kan?"

"Darimana kau tahu jadwalku?"

"Aku yang membuatnya. Tentu saja aku tahu anak nakal." Gumam Chanyeol tertawa kecil mengusak rambut Luhan.

"Ah aku lupa kalau kau sudah menjadi ketua tim bedah. Maafkan aku sunbaenim."

"Jangan menggodaku Lu." Chanyeol memperingatkan Luhan yang saat ini kembali menggodanya masalah status di rumah sakit mereka saat ini.

"Aku benar-benar bangga padamu. Kau harus tahu itu."

"Aku tahu Luhan. Aku juga bangga padamu." ujarnya membawa Luhan ke pelukannya dan mencium sekilas kening Luhan.

"yeol..."

"hmmm.."

"Kau mau membantuku kan?"

"Apapun Luhan."

"Kalau begitu kau harus mengantar Baekhyun kembali ke apartemennya. Dia terlihat benar-benar mabuk."

"Setelah mengantarmu aku akan membawanya pulang."

Luhan menggeleng dan kemudian melepas pelukan Chanyeol padanya "Kai akan menjemputku. Kau pulang saja dan segera beristirahat."

"Tapi aku bisa mengantarmu."

"Tidak perlu yeol. Aku bersama Kai."

Chanyeol menatap Luhan agak lama sebelum akhirnya kembali menghela berat nafasnya "Apa kau yakin?"

"Tentu saja."

Selesai membayar semua makanan mereka, Luhan mengikuti Chanyeol yang kini mendekap Baekhyun yang sudah tak sadarkan diri. Keduanya berjalan beriringan sampai akhirnya Chanyeol membawa Baekhyun masuk kedalam mobilnya lalu kembali menghampiri Luhan yang masih berdiri didepan mobilnya "Aku bisa mengantarmu Lu."

Luhan kembali menggeleng dan tersenyum menatap Chanyeol "Tidak perlu. Sebentar lagi Kai datang. Sampai bertemu besok yeol. Tolong jaga Baekhyun untukku." Gumamnya mendorong Chanyeol masuk kedalam mobil dan tak lama menutup pintu mobil Chanyeol.

"Sampai besok Lu. Aku pergi" Chanyeol membuka kaca mobilnya dan melambai ke arah Luhan yang sudah terlihat kelelahan.

"Hati-hati." Gumamnya berpesan dan tak lama tersenyum melambai pada mobil Chanyeol yang sudah berjalan meninggalkannya.

Wajah Luhan masih terbayang di benak Chanyeol di sepanjang perjalanannya mengantar Baekhyun ke apartemennya. Sesekali dia tersenyum mengingat dengan jelas wajah Luhan yang terlihat sangat lucu saat sedang marah lalu saat pria yang tumbuh besar bersamanya itu sedang tertawa senang membuat Chanyeol menyadari kalau dirinya semakin memiliki perasaan yang lebih dari sekedar kakak dan adik pada Luhan.

Namun senyumnya memudar mengingat hati Luhan sudah sepenuhnya dimiliki oleh pria yang pagi tadi datang menemuinya. Chanyeol sedikit menggeram mencengkram kemudi mobilnya menyadari kalau kesempatannya untuk memiliki Luhan hanya seperti mimpi untuknya.

"kapan kau melihatku? Aku menunggumu sangat lama."

"eh?"

Geraman Chanyeol sedikit terganggu saat Baekhyun yang kini menggeliat tak nyaman di kursinya tengah mengigau. "aku benar-benar mencintaimu. Tapi untukmu hanya dia satu-satunya orang yang kau cintai."

Bibir Chanyeol secara refleks tersenyum lirih menebak Baekhyun memiliki kisah cinta yang sama dengannya. Cinta yang begitu besar namun tak berbalas, Chanyeol tersenyum dan memakaikan jaketnya untuk Baekhyun yang terlihat kedinginan saat ini. Dia kembali menjalankan mobilnya saat lampu berubah menjadi hijau dan terus menikmati igauan Baekhyun yang terasa sama persis dengan ceritanya sebelum

"Kapan kau melihatku? Aku sudah mencintaimu begitu lama. Aku sangat mencintaimu Park Chanyeol."

Ckit...!

Chanyeol mendadak menghentikan mobilnya dan melihat wajah Baekhyun yang kini penuh dengan keringat , membuatnya sedikit terengah dan tertawa tak percaya "tidak mungkin."

..

..

..

"ah segarnya..."

Luhan sedang mencuci mukanya di toilet yang berada di kedai tempatnya makan malam ini. Dia belum beranjak dari sana karena berbohong pada teman-temannya dengan mengatakan Kai akan menjemputnya, karena yang sebenarnya terjadi adalah dia sedikit kesal karena belum mendapatkan taksi sejak sejam yang lalu dan merasa lelah lalu memutuskan untuk mencuci wajahnya agar merasa lebih segar.

"Luhan aku mohon jangan marah padaku. Aku akan pergi pukul sebelas malam ini. Kita bertemu lusa. Aku mencintaimu."

Luhan tertawa lirih membaca pesan suaminya dan secara refleks melihat ke arlojinya yang saat ini menunjukkan pukul sepuluh malam "Satu jam lagi." Gumam Luhan yang sejujurnya saat ini dia ingin sekali berlari ke markas suaminya dan mencegah kepergian Sehun malam ini.

"Dia akan baik-baik saja." Gumam Luhan meyakinkan dirinya sendiri dan tak lama kembali mencuci kasar wajahnya di wastafel dan berniat segera kembali ke apartemennya lalu membalas pesan Sehun secepatnya.

Luhan sudah akan berjalan keluar toilet sebelum tubuhnya kembali terdorong masuk dan sedikit terkejut karena ada dua pria yang mencengkram lengannya.

"HEY!"

Luhan berteriak meronta, namun semakin dia meronta cengkraman di tangannya semakin menguat. "SIAPA KALIAN!"

Luhan merasa sangat marah saat tak ada yang menjawab pertanyaannya dan kemudian membelalak melihat sosok yang tak asing untuknya sedang mengunci pintu toilet lalu bersandar menyeringai menatap Luhan.

"K-kris?"

"Merindukanku Lu-han?" pria itu mendesis membuat secara otomatis tubuh Luhan menegang mendengar suara mengerikan yang pernah ia dengar beberapa tahun yang lalu.

"APA YANG KAU LAKUKAN?"

Luhan mencoba berteriak menghilangkan rasa takutnya membuat pria yang menatap Luhan dengan kebencian itu semakin menyeringai mendekati Luhan.

"sstt...tenang Luhan sayang. Aku tidak akan menyakitimu-...setidaknya tidak malam ini." Gumam Kris mengambil alih Luhan, berdiri di belakang Luhan dengan tangan melingkar sedikit mencekik Luhan meminta Luhan untuk menatap dirinya di cermin.

"Kau kenal siapa pria yang berada di cermin itu?" gumam Kris bertanya pada Luhan dengan mata yang menyalang penuh kemarahan.

"Dia adalah pria yang membunuh kekasihku. Dan kau tahu apa yang akan aku lakukan?" katanya kembali bertanya pada Luhan saling menatap penuh benci melalui cermin.

"Aku akan membunuhnya-...ah-...maksudku aku akan membunuh suaminya terlebih dulu."

Luhan menegang saat Kris mulai mengancamnya menggunakan Sehun sebagai targetnya "Kau tidak akan bisa menyentuhnya bajingan."

"aigoo Luhannie menantangku? Apa perlu aku mengatakan ini agar jelas untukmu? Pukul sebelas malam ini, pria bernama Oh Sehun akan pergi ke bandara untuk melakukan perjalanan ke Jepang. Apa aku perlu menyakitinya agar kau merasakan sakit yang sama yang aku rasakan hmm."

Luhan menggeleng cepat dengan mata yang sudah berkaca-kaca dan tubuh bergetar hebat saat Kris mulai membicarakan Sehun secara detail. "Tidak-...Jangan lakukan apapun padanya. Kau tidak boleh menya-..."

"ssstt...aku tidak akan setega itu padamu Luhannie. Tidak saat ini tenang saja. Aku akan melakukannya nanti." Gumamnya menjilat wajah Luhan dan semakin mengeratkan cekikannya di leher Luhan yang terlihat sudah kesulitan bernafas.

"Aku hanya ingin menyapamu malam ini. Tapi jangan terlalu banyak berharap aku akan berbaik hati di pertemuan kita selanjutnya. Selamat malam Lu-han."

Kris menggeram dan tak lama mendorong tubuh Luhan ke lantai, meninggalkan Luhan yang saat ini bergetar ketakutan dengan sangat hebat. Tangannya mencari ponsel yang berada di tasnya, membuang apapun isi tasnya dan dengan segera meraih ponselnya, dia menghubungi Sehun namun Sehun tak mengangkatnya membuat seluruh pikiran buruk kembali menghantui pikiran pria yang sedang ketakutan hebat saat ini,

"Sehunna aku mohon angkat ponselmu. Sehunna aku mohon-..."

Luhan mengambil cepat semua barang-barangnya dan tak lama berlari menuju ke tempat Sehun berada, dia tidak bisa mengontrol dirinya saat ini. Bayangan wajah Kris saat menyebut nama Sehun begitu terdengar mengerikan membuat Luhan merasa sesak sampai saat ini.

..

..

..

"SEHUN!"

Luhan berteriak saat dirinya sampai di markas yang merupakan tempat Sehun melakukan seluruh pekerjaannya. Dia terus berlari walau kakinya sudah merasa tak sanggup untuk digerakkan lagi karena terlalu lelah ditambah dengan nafasnya yang sudah sangat tak beraturan. Luhan panik melihat seluruh anak buah tengah bersiap dan beberapa diantaranya kini menghampiri Luhan.

"Selamat malam Lu-...'

"DIMANA SEHUN?"

Sehun yang tengah bercakap dengan rekan bisnisnya melalui telepon sedikit membelalak sangat mengenali suara yang sedang berteriak di luar ruang kerjanya, dia segera mengakhiri percakapan penting dengan rekan bisnisnya dan langsung berlari ke luar ruangan diikuti Max dan Yoochun yang sepertinya juga mengenali suara Luhan.

"Luhan?"

Luhan yang sedang mencengkram kemeja anak buah Sehun begitu lega mendengar suara suaminya yang kini memanggil namanya. Dia kemudian menghapus cepat air matanya lalu berjalan gontai mendekati suaminya yang berdiri memucat melihat keadannya saat ini.

"Kau-...siapa yang membuatmu seperti ini Lu?" Sehun membeku di tempatnya melihat keadaan Luhan yang begitu kacau terlihat dari wajahnya yang begitu ketakutan.

"syukurlah kau belum pergi...syukurlah."

Luhan terus berjalan menghampiri Sehun begitu bersyukur melihat suaminya tanpa satu kekurangan apapun, dia terus berjalan namun

Brak...!

"Luhan."

Sehun menangkap tubuh Luhan yang kini terjatuh di pelukannya dengan nafas tersengal dan wajah yang begitu pucat ketakutan "Jangan pergi...Jangan pergi Sehunna, aku takut."

"Luhan kau kenapa? Siapa yang membuatmu seperti ini hmmm."

Sehun tanpa sadar meneteskan air matanya begitu marah dan ketakutan secara bersamaan melihat keadaan Luhan seperti saat ini. Luhan sendiri merasa pandangannya kabur karena sangat kelelahan. Dia kemudian mencari kerah kemeja Sehun lalu mencengkramnya kuat meminta Sehun melihat ke arahnya "Jangan pergi. Aku ta-..."

"LUHAN!"

..

..

..

"Luhan... kau sudah sadar?"

Luhan yang baru saja membuka matanya sedikit mengerjap berulang kali untuk mendapatkan kesadarannya dan melihat Kyungsoo yang saat ini bertanya padanya.

Awalnya Luhan ingin membalas pertanyaan Kyungsoo, tapi kemudian dia menyadari tidak ada Sehun di sekitarnya "Sehun.."

"Dimana Sehun?" katanya bertanya panik pada Kyungsoo yang terlihat terkejut.

"Sehun ada di-..."

"DIMANA SEHUN?"

Cklek...!

Tak lama Luhan berteriak, suara pintu terbuka menampilkan Sehun diikuti beberapa anak buahnya dan Kai yang sudah terlihat babak belur. Dan tak perlu bertanya siapa penyebab memar di wajah Kai karena pastilah Sehun jawabannya.

"hey hey Lu...aku disini. Aku disini sayang."

Sehun langsung berlari mendekati Luhan dan memeluk erat tubuh istrinya yang masih saja terasa dingin karena ketakutan.

Luhan pun tak berteriak lagi dan hanya memeluk tubuh Sehun erat menyembunyikan wajahnya di dekapan Sehun dan merasa sedikit tenang karena Sehun benar-benar ada didekatnya saat ini.

"Jangan pergi."

"Aku tidak pergi Lu. Aku disini." Gumam Sehun menciumi pucuk kepala Luhan dan mengelus sayang punggung istrinya yang masih terasa bergetar.

"Tinggalkan kami berdua."

Sesuai instruksi dari Sehun, semua yang berada di ruangan itu pun satu persatu berjalan keluar dari kamar Luhan meninggalkan Sehun yang hanya ingin berdua dengan istrinya saat ini.

"Apa sudah merasa lebih baik?"

Luhan yang saat ini berpindah ke pangkuan Sehun mengangguk lemah di pelukan suaminya dan semakin menyamankan dirinya di perpotongan leher Sehun.

"Kalau begitu apa boleh aku membaringkanmu di tempat tidur."

Luhan menggeleng dengan cepat membuat Sehun sedikit terkekeh "Aku tidak akan pergi kemana-mana."

Luhan kembali menggeleng sebagai jawaban membuat Sehun tak punya pilihan lain selain memangku istrinya sepanjang malam ini.

"Aku haus." Gumam Luhan memberitahu Sehun yang merasa mempunyai kesempatan untuk membaringkan Luhan di tempat tidur.

"Aku akan mengambilkan minuman untukmu."

"arghh.." Luhan memberontak saat Sehun ingin membaringkannya membuat pria berwajah dingin itu mulai kewalahan menghadapi tingkah istrinya.

"Kau bilang ingin minum."

"Kau bisa mengangkatku di pelukanmu. Aku tidak mau berbaring."

Sehun sedikit tertawa kemudian menangkup wajah Luhan yang masih tak berekspresi bahkan setelah tiga jam berlalu "Terakhir kau bersikap seperti ini saat kau sedang mengandung Ziyu. Jadi katakan padaku-..apa ada adik bayi didalam sini."

"akhh.."

Sehun sedikit meringis saat Luhan mencubit kencang perutnya hingga meninggalkan warna merah disana "Aku haus, tidak ada hubungannya dengan adik bayi."

"haah-...araseo..araseo. Ayo kita ambil minum bayi besar." Gumam Sehun menggendong tubuh Luhan yang langsung otomatis melingkarkan kakinya ke pinggang Sehun dengan erat.

"Aku rasa kakiku sudah mati rasa. Apa aku harus melakukan ini sepanjang malam?" Sehun berbisik di perpotongan leher Luhan yang langsung mengangguk sebagai jawaban.

"Baiklah. Apapun untukmu dokter Oh." Ujar Sehun yang sedikit membenarkan gendongan Luhan saat ini.

"Tunggu disini sebentar. Aku akan mengambilkan air untukmu." Sehun meletakkan Luhan di meja dapur lalu bergegas membuka kulkas istrinya dan mengambil sebotol air mineral.

"Ini minumlah." Sehun membukakan tutup botol air mineral tersebut kemudian Luhan meneguknya terburu-buru membuat Sehun terkekeh dan mengelus punggung Luhan takut jika istrinya tiba-tiba tersedak air "Pelan-pelan saja Lu"

Luhan yang sedang meneguk airnya pun sedikit melihat Sehun dan langsung melingkarkan kakinya ke pinggang Sehun agar Sehun mendekat padanya.

"Aku tidak akan pergi kemana-mana." Gumamnya terkekeh namun diabaikan Luhan yang semakin mengunci pergerakannya dengan kaki yang melingkar di pinggangnya saat ini.

"Sudah selesai?" Sehun bertanya saat Luhan memberikan botol minuman padanya.

"hmm.."

"Mau kembali kekamar?"

Luhan mengangguk lagi sebagai jawaban.

"Sebelum kau beristirahat aku akan menanyakan hal ini sekali lagi padamu." gumam Sehun menangkup wajah Luhan berharap Luhan mau bercerita tentang apa yang terjadi padanya kali ini.

"Siapa yang membuatmu begitu ketakutan?"

Sehun sedikit frustasi saat Luhan kembali menggelengkan kepalanya sebagai jawaban "Tidak ada."

"Apa kau sedang berbohong padaku saat ini?"

Luhan menggigit kencang bibirnya dan tertunduk tak mau menjawab pertanyaan Sehun.

Sehun pun kembali menghela nafasnya dan mencium bibir Luhan agar tak lagi menggigit kencang bibirnya saat ini "Aku akan mencaritahu sendiri siapa bajingan yang membuatmu begitu ketakutan. Sekarang kita beristirahat. Kau mau kan?"

Luhan sedikit lama menatap Sehun lalu kemudian kembali mengangguk sebagai jawaban.

"Aku ingin mendengar suaramu. Kau mau kan?"

"Luhan.."

"iya aku mau."

Sehun tersenyum lebar dan kembali mencium telak bibir Luhan saat ini "Aku mencintaimu. Jangan membuatku ketakutan lagi dengan sikapmu beberapa jam yang lalu. Aku hampir mati kehabisan nafas karena mengkhawatirkanmu. Kau mengerti kan?"

"Maafkan aku."

"Aku tidak menyalahkanmu. Aku mengkhawatirkanmu. Akhhh bayiku berat sekali."

Sehun sedikit berteriak saat kembali mengangkat tubuh Luhan, membuat Luhan sedikit tersenyum dan kembali menyembunyikan wajahnya di perpotongan leher Sehun.

"Aku juga mencintaimu Sehunna."

Sehun tersenyum dan menciumi tengkuk Luhan sebagai jawabannya "Aku tahu." Sehun bergumam dan tanpa sadar mengepalkan erat tangannya bersumpah akan membalas seribu kali lebih kejam dari seseorang yang berani membuat Luhan begitu ketakutan. Karena daripada Luhan, Sehunlah yang masih sangat ketakutan sampai saat ini dirinya begitu marah dan ketakutan mengingat betapa pucatnya wajah Luhan saat datang ke tempatnya beberapa jam yang lalu.


tobecontinued...


.

update!

.

next update : I choose you