Previous :

Kaisoo Previous :

"Jadi apa kau menyukai Luhan?" Kyungsoo berjalan mendekati Kai yang sudah duduk di meja makan sambil menyerahkan segelas air untuk pria bertubuh tinggi tegap didepannya.

"Jika kau bertanya apa aku menyukai Luhan atau tidak? Tentu saja aku menyukainya. Semua yang mengenalnya menyukai pria baik hati itu. Kau juga menyukainya aku rasa."

"Tapi jika kau bertanya apa aku mempunyai perasaan lebih untuknya atau tidak, aku rasa jawabannya iya. Aku mengagumi Luhan. Sangat mengaguminya." gumam Kai memberitahu Kyungsoo yang kini menatapnya tak berkedip.

"Aku juga mengagumi Sehun." katanya menambahkan.

"Jika kau tahu kisah cinta seperti apa yang mereka jalani. Kau juga pasti mengagumi mereka. Keduanya memiliki hidup yang sangat bertolak belakang, tapi entah kekuatan cinta seperti apa yang mereka miliki membuat mereka saling menerima tanpa syarat dan saling mencintai tanpa batas. Aku iri dengan cara mereka saling menjaga dan mencintai."

Kyungsoo menyadari segala yang diucapkan Kai terdengar begitu tulus. Tanpa sadar dirinya tersenyum menyadari pria didepannya ini terlihat bersedia melakukan apapun untuk kebahagiaan Sehun dan Luhan. "Aku pikir cinta sejati itu tidak pernah ada. Aku melihat banyak orang mencintai seperlunya lalu kemudian melupakan cinta mereka. Mendengar ceritamu tentang Sehun dan Luhan membuatku sedikit ragu namun sedikit beeharap bisa menemukan seseorang yang juga mencintaiku dengan tulus.'

Kai tanpa sadar tersenyum dan menggengam kedua tangan Kyungsoo cukup erat dan memberitahu Kyungsoo satu hal

"Tidak ada yang mencintai Luhan sebesar cinta Sehun. Begitupun sebaliknya tidak ada yang mencintai Sehun sebesar cinta Luhan untuknya. Percayalah."

"Dan untuk orang yang akan mencintaimu dengan tulus. Percayalah dia akan segera datang." katanya menambahkan dan menyadari kesalahannya dengan menggenggam tangan Kyungsoo.

"Sebaiknya kau bersiap. Luhan selalu tidak suka jika dibuat menunggu." gumam Kai yang tampak salah tingkah dan berjalan menjauhi Kyungsoo yang juga merona malu saat ini.

.

Chanbaek Previous

"kapan kau melihatku? Aku menunggumu sangat lama."

"eh?"

Geraman Chanyeol sedikit terganggu saat Baekhyun yang kini menggeliat tak nyaman di kursinya tengah mengigau. "aku benar-benar mencintaimu. Tapi untukmu hanya dia satu-satunya orang yang kau cintai."

Bibir Chanyeol secara refleks tersenyum lirih menebak Baekhyun memiliki kisah cinta yang sama dengannya. Cinta yang begitu besar namun tak berbalas, Chanyeol tersenyum dan memakaikan jaketnya untuk Baekhyun yang terlihat kedinginan saat ini. Dia kembali menjalankan mobilnya saat lampu berubah menjadi hijau dan terus menikmati igauan Baekhyun yang terasa sama persis dengan ceritanya sebelum

"Kapan kau melihatku? Aku sudah mencintaimu begitu lama. Aku sangat mencintaimu Park Chanyeol."

Ckit...!

Chanyeol mendadak menghentikan mobilnya dan melihat wajah Baekhyun yang kini penuh dengan keringat , membuatnya sedikit terengah dan tertawa tak percaya "tidak mungkin."

.

Hunhan Previous

"Sebelum kau beristirahat aku akan menanyakan hal ini sekali lagi padamu." gumam Sehun menangkup wajah Luhan berharap Luhan mau bercerita tentang apa yang terjadi padanya kali ini.

"Siapa yang membuatmu begitu ketakutan?"

Sehun sedikit frustasi saat Luhan kembali menggelengkan kepalanya sebagai jawaban "Tidak ada."

"Apa kau sedang berbohong padaku saat ini?"

Luhan menggigit kencang bibirnya dan tertunduk tak mau menjawab pertanyaan Sehun.

Sehun pun kembali menghela nafasnya dan mencium bibir Luhan agar tak lagi menggigit kencang bibirnya saat ini "Aku akan mencaritahu sendiri siapa bajingan yang membuatmu begitu ketakutan. Sekarang kita beristirahat. Kau mau kan?"

Maafkan aku."

"Aku tidak menyalahkanmu. Aku mengkhawatirkanmu.Akhhh bayiku berat sekali."

Sehun sedikit berteriak saat kembali mengangkat tubuh Luhan, membuat Luhan sedikit tersenyum dan kembali menyembunyikan wajahnya di perpotongan leher Sehun.

"Aku juga mencintaimu Sehunna."

Sehun tersenyum dan menciumi tengkuk Luhan sebagai jawabannya "Aku tahu." Sehun bergumam dan tanpa sadar mengepalkan erat tangannya bersumpah akan membalas seribu kali lebih kejam dari seseorang yang berani membuat Luhan begitu ketakutan. Karena daripada Luhan, Sehunlah yang masih sangat ketakutan sampai saat ini dirinya begitu marah dan ketakutan mengingat betapa pucatnya wajah Luhan saat datang ke tempatnya beberapa jam yang lalu.

.

.

.

.

.

.

.

.

Entangled

Main Cast : Sehun & Lu Han

Genre : Romance, Family, Hurt/Comfort

Rate : M

Length : Chapter

YAOI. Typo (s)

HUNHAN STORY!

.

.

.

.

.

"Apa saja jadwal Luhan hari ini?"

Saat ini Sehun berada di meja makan sedang menyiapkan sarapan untuk Luhan yang masih tertidur pulas di kamarnya. Dia memutuskan untuk memanggil Kai lebih awal dan berbicara pada Kai yang masih memiliki memar karena pukulan telak yang diberikan Sehun semalam saat Luhan tiba-tiba datang ke tempatnya dan tak sadarkan diri setelahnya.

"Luhan tidak memiliki jadwal operasi hari ini. Dia akan ke rumah sakit hanya untuk memeriksa pasien yang belum lama ia tangani. Lalu kemudian dia akan mengikuti rapat bersama dokter bedah lainnya mengenai masalah operasi yang akan dilakukan oleh putri Professor pemilik rumah sakit tersebut. Luhan akan menjadi asisten bedah menemani dr. Park minggu depan." Gumam Kai menjabarkan seluruh kegiatan Luhan hari ini pada Sehun.

"Lalu kau akan berada dimana?" katanya kembali bertanya pada Kai yang tahu sedang disindir oleh bos nya karena terlalu sering membiarkan Luhan pergi seorang diri.

"Aku akan berada di dekat Luhan sepanjang hari dan tak akan membiarkan dia pergi sendirian lagi."

"Apa aku bisa mempercayaimu kali ini?"

"Tentu kau bisa mempercayaiku."

"Aku tidak ingin menambah memar di wajahmu. Jadi lakukan tugasmu dan berhenti membuatku mengkhwatirkan istriku." Ujar Sehun menggeram membuat Kai hanya diam mengetahui kesalahannya membiarkan Luhan sendiri malam tadi.

"Dimana pria bermata besar itu?"

Kai sedikit mengernyit dan tak lama menyadari siapa yang ditanyakan Sehun saat ini "Kyungsoo berada di apartemen Luhan saat ini bos. Aku membawanya kesana malam tadi."

"Berhenti mengikuti pria bermata besar itu. Aku membayarmu untuk menjaga Luhan bukan pria bermata menyebalkan itu."

"Tapi Luhan akan menangis jika aku membiarkan adiknya merasa sendirian atau merasa ketakutan."

"Yang aku pedulikan hanya Luhan, jadi berhenti menjawab perintahku. Oke?"

"Sehun…"

Kedua pria yang sedang berada di meja makan menoleh dan mendapati Luhan yang masih jalan terhuyung mencari keberadaan suaminya dengan mata setengah terpejam dan sesekali membuka untuk melihat dimana Sehun berada.

"Kai alihkan pandanganmu dan jangan melihat istriku." Gumam Sehun menggeram karena saat ini paha mulus istrinya yang hanya mengenakan kemeja kebesaran miliknya bisa menjadi santapan untuk mata Kai yang kini terlihat mengagumi kecantikan Luhan bahkan disaat dirinya baru bangun dari tidur.

Kai yang awalnya menatap tak berkedip sosok seperti malaikat yang baru bangun dari tidur cantiknya segera mengalihkan pandangannya saat mendengar perintah Sehun yang terdengar menakutkan saat ini. Sementara Sehun berjalan cepat mendekati istrinya dan melepas jas kerja yang sudah ia gunakan kemudian melilitkanya di sekitar pinggang istrinya.

"Aku disini sayang." Katanya mendekap Luhan yang masih memanggilnya dengan mata terpejam.

Luhan pun tersenyum saat kedua tangan kekar milik suaminya melingkar sempurna di pinggangnya. Dia kemudian bersandar nyaman di dada bidang Sehun sebelum menyadari kalau aroma Sehun sudah berbeda dan dia tidak menyukai aroma mint yag menguar dari tubuh suaminya karena itu menandakan Sehun akan segera pergi dan melakukan kegiatannya.

"Ini bahkan masih pagi dan kau sudah bersiap pergi?" katanya menggerutu dan mencoba melepas dasi yang Sehun gunakan sebelum tangan Sehun menghentikan seluruh kegiatan Luhan yang sedang berusaha mencegah kepergian Sehun sepagi ini.

"Aku hanya pergi sebentar. Dan setelahnya aku akan menjemputmu di rumah sakit. Bagaimana?"

"Kau selalu membohongiku. Aku tidak suka." Katanya mulai merengek membuat Sehun mencium bibir mungil istrinya bermaksud untuk menenangkan Luhan saat ini.

"Aku tidak bohong, kita akan makan malam bersama dan membeli beberapa snack di swalayan. Kau sangat menyukai itu kan?"

Luhan memicingkan matanya dan tak lama menghela nafasnya kembali memeluk tubuh tegap suami yang selalu menjadi tempat favoritnya untuk bersandar "Pastikan kau bersama anak buahmu. Jangan pergi sendirian dan hubungi aku setiap satu jam. Kau mengerti kan?"

Bibir Sehun memang tersenyum, tapi Kai dengan jelas melihat tangan suami Luhan itu mengepal erat setelah mendengar pesan istrinya yang jelas ketakutan karena seseorang mengancam Luhan menggunakan nama Sehun, dan hal itu sungguh membuat Sehun geram saat ini.

"Aku mengerti Lu." Gumamnya menjawab Luhan sebelum matanya kembali menatap Kai seolah mengingatkannya untuk tidak meninggalkan Luhan lagi kali ini.

"Kalau begitu pergilah. Maaf sudah membuatmu khawatir semalam." katanya menyesal dan tersenyum menatap suaminya yang entah kenapa selalu terlihat tampan setiap harinya;

"Tidak perlu meminta maaf sayangku." Gumam Sehun mengecup lembut bibir Luhan sebelum merangkul pinggang Luhan menuju meja makan.

"Aku menunggumu menjemputku di rumah sakit. Kalau kau membohongiku lagi aku tidak akan mau bertemu denganmu selama sebulan." Katanya mengancam Sehun yang kini tertawa mengecup pucuk kepala Luhan cukup lama.

"Kau tidak akan bisa menahan rindu selama itu." Katanya bertaruh membuat Luhan mendelik padanya.

"Kau juga tidak akan bisa."

"Aku memang tidak bisa. Kalau kau terus menghindariku, aku akan muncul dimanapun kau berada dan membuatmu menyadari keberadaanku. Aku selalu seperti itu." Katanya memberitahu Luhan dan mengoleskan selai strawberry di roti Luhan dan tak lama menyuapi istrinya yang terlihat seperti bayi untuknya saat ini.

"Kai.."

Sehun tiba-tiba memanggil Kai yang sedang mengunyah rotinya, membuat pria yang dibayar untuk menjaga Luhan tersebut sedikit menoleh dan menelan cepat roti yang berada di mulutnya karena saat ini tatapan bos nya kembali menakutkan melihatnya.

"Ya bos. Ada apa?"

"Seingatku Ziyu sudah tidak ada."

"Sayang kenapa membawa nama Ziyu?" tanya Luhan tak mengerti ucapan suaminya.

"Itu karena pria tidak tahu diri disampingmu terus memakan rotinya tanpa merasa bersalah dan telah mengganggu sarapan romantis majikannya."

"ah…" Kai yang mulai mengerti maksud Sehun sedikit menggaruk tengkuknya sebelum berdiri cepat dari kursinya dan menatap sepasang suami istri didepannya.

"Aku menunggumu dibawah Luhan. Sampai nanti." Gumam Kai membungkuk berpamitan pada Luhan dan Sehun dan tak lama pergi keluar dari apartemen Sehun.

"Kau selalu seperti itu pada Kai. Dia sudah dengan baik menjagaku asal kau tahu."

"Kenapa? Kau membelanya lagi?" Sehun bertanya tak suka saat Luhan-..entah yang sudah ke berapa kalinya selalu membela Kai didepannya membuat Sehun sedikit kesal karena dengan jelas mendengar Luhan memuji pria lain didepannya.

"Aku tidak mengatakan apapun yang membelanya. Aku hanya memberitahumu." Ujarnya berkilah dan membuat Sehun diam dengan menarik dasi suaminya lalu mencium gemas bibir Sehun yang sedang mencibir kesal.

"Sebaiknya kau cepat pergi sebelum aku memintamu menggendongku sepanjang hari lagi." gumam Luhan melepas ciumannya dan mengusap lembut wajah tampan didepannya.

Sehun pun tersenyum dan menyatukan kedua dahi mereka kali ini "Kau tahu kan aku mencintaimu?" katanya bertanya menatap kedalam mata Luhan kali ini.

"Aku tahu." Gumam Luhan membalas dan tak lama kembali mengecup sekilas bibir Sehun yang sedang tersenyum.

"Sampai bertemu nanti malam dan pastikan kau datang menjemputku kali ini."

Luhan mengecup pipi Sehun sekilas kemudian melepas jas yang dililitkan di pinggangnya dan kembali memakaikannya pada Sehun "Aku akan datang menjemputmu." Gumam Sehun memperhatikan Luhan yang sedang mengancingkan jas kerjanya.

"Aku juga harus bersiap. Sampai nanti sayang." Luhan sedikit berjinjit mengecup bibir Sehun sekilas dan tak lama berlari kekamarnya untuk membersihkan diri meninggalkan Sehun yang selalu mencemaskan pria cantiknya.

Drrt…drrt..

Dan lamunan Sehun sedikit terganggu saat ponselnya bergetar dan nama Max terdapat disana. Dia mengambil cepat ponselnya dan berjalan mendekati pintu agar Luhan tak mendengat apa yang akan Max sampaikan padanya.

"Bagaimana?"

"Kami mendapatkan rekaman cctv nya di tempat Luhan berada malam tadi."

"Bagus. Aku sedang dalam perjalanan kesana." Balas Sehun menutup panggilan Max dan menyeringai puas tak sabar mengetahui siapa bajingan yang telah berani membuat istrinya ketakutan dan bergegas menuju markasnya pagi ini.

..

..

..

Blam…..!

Sehun keluar dari mobilnya dengan tergesa, dan seperti biasa jika ini menyangkut Luhan dia tidak akan mempedulikan apapun selain informasi mengenai siapa yang Luhan temui malam tadi.

"Tunjukkan padaku." Ujar Sehun saat memasuki ruangannya membuat seluruh anak buahnya sedikit membungkuk untuk menyapanya namun ia abaikan karena saat ini hanya rekaman yang menunjukkan siapa yang Luhan temui semalam yang membuatnya tertarik.

"Kau tidak akan mempercayai apa yang kami lihat dalam rekamannya bos." Yoochun mempersilahkan Sehun duduk dan mulai memutar rekaman yang mereka dapatkan di kedai tempat Luhan dan teman-temannya makan malam bersama.

Sehun pun hanya diam tak bersuara sambil memperhatikan rekaman yang kini berputar didepannya "Pukul delapan malam Luhan dan teman-temannya datang ke kedai. Mereka selesai makan sekitar pukul sepuluh malam dan meninggalkan kedai setelah selesai." Max menunjukkan pergerakan yang Luhan lakukan pada Sehun yang masih diam tak merespon.

"Dan sekitar pukul sepuluh lewat dua puluh menit Luhan kembali masuk kedalam kedai tersebut untuk pergi kekamar mandi. Dan lihat ini." Max menghentikan putaran videonya dan tak lama mengulang ke rekaman pertama.

"Perhatikan sekumpulan orang ini bos. Kami menduga mereka adalah orang yang sama dengan orang-orang yang menggertak Luhan malam tadi." Katanya kembali menunjukkan orang yang sama yang terus menerus membuntuti Luhan.

"Awalnya kami tidak yakin. Tapi setelah orang ini muncul. Kami yakin mereka memang mencoba menggertak Luhan dari awal."

"Pria itu kan..."

"Iya benar bos. Dia Yifan. Dia sudah menemui Luhan lebih cepat dari perkiraan kita."

Sehun merasa dirinya begitu sulit bernafas saat ini. Membayangkan pria yang dengan tegga membunuh putranya kini dengan bebasnya menemui dan menggertak istrinya, membuatnya merasa sangat marah dan ingin segera menghabisi pria sialan yang entah mengapa mengganggu hidupnya terlalu jauh. Sehun memijat kencang kepalanya terlalu mengingat wajah ketakutan istrinya malam tadi. Entah apa yang dikatakan Yifan pada Luhan malam itu, tapi yang jelas itu bukan sesuatu yang akan mudah dilupakan.

"Waktu kalian satu minggu dari hari ini. Aku ingin kalian membuatku bertemu langsung dengan bajingan ini. KALIAN MENGERTI?!"

Baik Max dan Yoochun mengangguk mengerti dan tak lama pergi meninggalkan Sehun sendiri di ruangannya, Sementara Sehun mengambil cepat ponselnya. Satu-satunya yang bisa mengobati ketakutannya hanya suara Luhan yang terdengar bahagia dan baik-baik saja.

Sementara itu...

"Luhan..Kau bilang kau ada jadwal operasi? Kenapa kita disini?" Kai yang sedang membukakan pintu mobil untuk Luhan sedikit mengernyit saat Luhan tiba-tiba meminta untuk mampir ke swalayan dengan alasan ingin membeli sesuatu yang sangat penting.

"Aku akan memasak nanti malam. Jadi aku mau membeli sayuran segar untuk suamiku." Gumamnya berjalan mendului Kai, membuat Kai bersumpah untuk tidak mengedipkan mata barang sedetik pun saat istri dari Bos nya ini berkeliaran di tempat ramai seperti ini.

"Kai ambilkan troley untukku."

Kai pun mengangguk sementara Luhan bersemangat mencari dimana barang yang ia butuhkan sesekali bersiul karena tak sabar untuk makan malam romantis dengan suaminya.

Drrt..drtt..

Luhan mengambil ponselnya dan tersenyum senang mendapati nama Sehun berada di layar ponselnya

"Sehunnie!"

"hey kenapa bersemangat sekali? Kau ada dimana sayang?"

"Aku-..umhh.Aku sudah berada di rumah sakit." Katanya memutuskan untuk memberi kejutan pada Sehun dengan tidak mengatakan dimana dirinya berada saat ini sampai

"Luhan, apa kecap ini yang kau cari?"

Luhan sedikit membelalak saat Kai bertanya dengan kencang membuat suara kekehan terdengar dari sambungan teleponnya.

"Kecap? Jadi sekarang rumah sakitmu sudah menjadi swalayan?" katanya menggoda Luhan yang terdengar kesal saat ini.

"Aku ingin membuat kejutan untukmu."

"Aku sudah terkejut sayang,, terimakasih."

"Tidak seru!"

"Ulangi. Aku akan berpura-pura tidak tahu kali ini."

"Sudahlah. Sudah terlambat. Aku tidak marah sayang. Oia, ada apa kau menghubungiku?"

"Memangnya tidak boleh?"

"aigoo...Kenapa suamiku sangat manja hari ini."

"Aku tidak manja. Aku hanya ingin mendengar suaramu."

Langkah Luhan yang sedang mengambil beberapa makanan pun seketika terhenti, dia kemudian tersenyum mempelajari suara suaminya yang jelas sedang menghkhawatirkannya. Membuatnya tersenyum dan berusaha untuk tidak selalu membuat pria tampannya merasa cemas "Aku baik-baik saja sayang."

Sehun tak menjawab cukup lama sampai akhirnya terdengar suaranya menghela nafas berat "Aku tahu."

"Aku sudah merindukanmu."

"Aku Juga, cepat selesaikan pekerjaanmu dan pulang lebih awal ke apartemenku. Aku tidak menerima alasan mengingat ini adalah hari penting."

Luhan sedikit tertawa sebelum akhirnya berusaha untuk tidak terdengar bersemangat "Hari penting apa?"

"Kau lupa?"

Bibirnya mati-matian untuk tidak tertawa mendengar suara suaminya yang begitu kesal karena sepanjang hari ini dirinya belum mengucapkan selamat ulang tahun pada pria tampannya.

"Hari apa?" katanya kembali berpura-pura tak mengerti membuat suara di seberang sana tertawa tak percaya

"Kau bena-benar menyebalkan Luhan."

"Sehun aku-.."

"Sudahlah aku kesal. Sampai nanti malam dan sebaiknya kau hanya bercanda melupakan hari ini." Ujarnya dengan suara ketus dan tak lama

Pip...!

Sehun mematikan sambungan teleponnya membuat Luhan benar-benar tak tahan membayangkan bagaimana menggemaskannya wajah suaminya saat ini.

"Luhan, apa ini belum cukup?"

Luhan yang sedang tersenyum sendiri kembali memasang wajah datarnya saat asisten yang diperkerjakan Sehun untuk menjaganya kembali menginterupsi kesenangannya.

"Aku akan mencari buah. Kau cari beberapa minuman dingin. Apa saja dan jangan lupa harus membeli soju."

Kai kembali menghela nafasnya dan tak lama tersenyum tampan mengangguk mengiyakan seluruh permintaan istri dari bosnya "Siap Ibu Ratu." Katanya yang selalu kewalahan jika sedang menemani Luhan berbelanja. Pria yang mempunyai tinggi hampir sama dengan suami Luhan itu pun lebih memilih menunggu Luhan menyelesaikan berjam-jam waktunya di ruang operasi daripada harus menemani ibu ratu pergi berbelanja seperti saat ini misalnya.

"ck. Sekali lagi kau bilang aku ibu ratu. Aku akan mengadukannya pada Sehun agar gajimu dipotong."

"Kau tidak akan tega padaku Luhan."

"Jangan menantangku Kim Jongin."

"araseo araseo. Ibu ratu menang."

"ish. Kenapa dia menyebalkan sekali sih." Gumam Luhan menggerutu dan hendak memberitahu Sehun sebelum akhirnya tertawa karena selalu terpancing oleh lelucon Kai dan memutuskan untuk kembali mendorong troley nya dan mencari buah strawberry kesukaan suaminya.

Luhan masih memilah mana buah yang cukup segar untuk bisa disimpan sampai beberapa hari dan mana buah yang bisa ia siapkan untuk suaminya malam nanti, matanya dengan jeli menebak jika dia memilih buah ini maka kesegarannya tidak akan bertahan sampai tiga hari, dan saat buah yang ia cari ia temukan. Matanya seketika berbinar dan mengambil potongan buah semangka dalam jumlah banyak.

"Sehun pasti suka." Gumam Luhan meletakkan buahnya kedalam troley dan memutuskan untuk membayar di kasir sebelum langkahnya terhenti karena melihat seorang pria kecil berusia sekitar sepuluh tahun sedang memasukkan roti kedalam saku celananya dan mengendap untuk mengambil makanan lain.

Luhan sendiri hanya terus memperhatikan apa yang dilakukan anak kecil itu sampai tak sengaja kedua mata mereka bertemu membuat si bocah sepuluh tahun itu memucat sementara Luhan langsung memalingkan wajahnya berpura-pura tak melihat.

Luhan dengan santainya kembali mendorong troley nya dan sengaja memegang dompetnya agar mudah diambil oleh anak sepuluh tahun didepannya. Seolah memberi isyarat pada anak sepuluh tahun itu untuk mengambil dompetnya dan membayar makanan yang ia curi dengan uang yang berada di dompet Luhan.

Saat ini kedua mata Luhan dan anak sepuluh tahun itu bertatapan, membuat Luhan semakin sengaja memegang malas dompetnya yang memang hanya berisi uang agar mudah diambil oleh bocah yang kini menatap lapar pada dompet Luhan.

Luhan sedikit tersenyum menyadari rencananya hampir berhasil dan mencoba berbicara pada bocah didepannya setelah ini. Dia masih tersenyum penuh arti ke anak kecil yang kini menatap lapar pada dompetnya, membuatnya berpikir akan mudah untuk membujuknya sebelum dirinya membelalak karena melihat anak kecil itu berlari ke arahnya dengan memegang pisau kecil dan

"akhh..."

Seketika tangan Luhan mengeluarkan darah yang cukup banyak dari lengan kanannya saat ini, karena si anak sepuluh tahun yang baru saja ia temui itu menggores dalam lengannya menggunakan pisau kecil dan mengambil dompet Luhan lalu berlari pergi meninggalkan swalayan.

Dan tak lama seorang wanita yang sedang mengambil barang kebutuhannya sedikit membeku melihat keadaan Luhan sebelum akhirnya

"SESEORANG TERLUKA DISINI. CEPAT TOLONG PRIA INI."

Seketika Kai menoleh saat mendengar suara teriakan, membuatnya memiliki perasaan buruk dan berdoa kalau orang yang terluka disana bukanlah Luhan. Dia meninggalkan seluruh belanjaan yang sedang ia bawa dan segera berlari ke asal suara teriakan dengan cepat. Nafasnya sedikit tersengal. Dan wajahnya begitu memucat melihat keramaian orang yang saat ini sedang membantu Luhan untuk berdiri.

Luhan yang masih meringis kesakitan mulai memucat karena goresan di tangannya hampir mengenai pembuluh darahnya membuatnya sedikit terduduk dan berusaha menghentikan pendarahan di tangannya. Sementara banyak orang yang berkerumunan untuk melihatnya sekarang membuat Luhan merasa sedikit risih saat ini.

"Luhan-..hey Luhan." Kai berlari menerobos kerumunan dan berjongkok melihat Luhan yang sedang mencari sesuatu untuk menghentikan darah yang terus keluar di tangannya.

"Siapa-..Siapa yang melakukannya Luhan."

"Anak kecil disebrang jalan sana yang melakukannya. Dia mencuri dompet temanmu dan menggores tangannya."

Wajah Kai begitu menggeram saat seorang wanita memberitahu dirinya dan menunjuk keberadaan anak kecil yang masih mencoba menyebrang jalan, dia baru saja akan memberi pelajaran pada bocah tengik itu sampai tangan Luhan mencengkramnya dan membuatnya kembali terduduk seketika.

"Bawa aku ke rumah sakit, aku harus menghentikan darah ini Kai."

"Tapi Lu-..."

"AKU BISA MATI JIKA TERUS SEPERTI INI."

"baiklah..baiklah kita ke rumah sakit. Tapi sebelumnya darahmu harus dihentikan sementara." Gumam Kai yang melepas jas hitamnya dan sedikit merobek paksa kemeja putihnya lalu melilitkannya pada lengan Luhan.

"Aku yang mati setelah ini." gumam Kai menggendong bridal Luhan dan segera membawa Luhan ke rumah sakit. Dirinya sama sekali tak berani membayangkan bagaimana reaksi Sehun saat tahu istrinya kembali terluka dan itu kembali terjadi saat dirinya berada tak jauh dari Luhan.

..

..

..

"Apa kau bilang? Kau sengaja membiarkannya? Kau gila Lu."

Saat ini Luhan sedang membersihkan lukanya sendiri menggunakan alkohol di ruangannya sementara Kai hanya duduk di atas meja kerja Luhan memperhatikan bagaimana telatennya Luhan membersihkan lukanya sendiri. Luhan memang sesekali meringis kesakitan, namun dokter yang merupakan ahli bedah di rumah sakit besar ini begitu tahu bagaimana membuat dirinya tak merasa kesakitan walau darah tak hentinya mengalir.

"hmm...aku pikir dia akan mengambilnya tanpa harus menggores lenganku. Dia begitu ketakutan saat menggores tanganku. Aku melihat wajahnya yang memucat." Gumam Luhan sedikit menggigit bibirnya saat kembali menyiramkan alkohol di tangannya yang masih mengeluarkan darah segar dari lengannya.

"Aku akan tetap mencari bocah tengik itu dan memberi pelajaran padanya."

"Sudahlah Kai. Aku baik-baik saja, aku tidak mau dia dipukuli karena terus mencuri. Aku salah membiarkannya mencuri dariku."

"Kau tidak tega melihat bocah itu dipukuli tapi tega melihatku dipukuli?"

Luhan yang kini sedang meniup lengannya sedikit menoleh dan mengernyit tak mengerti dengan ucapan Kai "Apa maksudmu?"

"Apa maksudku? Ah-..Lupakanlah." ujarnya menggeram membuat Luhan tertawa saat ini sampai wajah Kai kembali serius ingin mengatakan sesuatu "Luhan.."

"hmm."

"Apa aku boleh meminta sesuatu darimu?"

"Meminta apa? Memangnya kau mau kemana?"

"Katakan pada ibuku kalau aku menyayanginya. Maaf karena tidak bisa memberikannya cucu dan harus meninggalkannya di usiaku yang muda seperti ini."

Luhan yang masih mengurus lukanya hanya bisa tertawa konyol mendengar permintaan Kai "Memangnya kau mau mati? Kenapa aku harus memberitahu ibumu pesan menggelikan itu."

"Kalau begitu apa kau mau membantuku?"

"Membantu apa?"

"Nanti jika Sehun memukuliku dan aku sudah terlihat akan mati. Aku mohon lakukan segala cara agar suamimu berhenti memukuliku."

"Sehun tidak akan memukulimu. Dia tidak akan tahu."

"Dia tahu Lu."

Luhan sedikit mengernyit dan meletakkan perbannya menatap Kai dengan sedikit gugup "Bagaimana bisa dia tahu?" gumam Luhan bertanya bingung sampai kedua matanya membelalak menyadari satu hal "Kai... Jangan bilang kau memberitahu suami-.."

BRAK...!

Pintu ruangan kerja Luhan dibuka dengan kasar. Membuat kedua pria yang berada di ruangan itu seketika meremang merasakan aura yang begitu menyeramkan tiba-tiba menguar di ruang kerja Luhan. Keduanya merasakan perasaan takut yang sama sebelum akhirnya menoleh secara perlahan dan mendapati seorang pria yang akan selalu marah secara berlebihan jika pria cantiknya memiliki luka di tubuhnya.

Pria tampan yang memiliki aura mengerikan itu masih terlihat terengah. Mata tajamnya mencari keberadaan istrinya dan satu-satunya yang menarik pemandangannya dan membuat dadanya sesak seketika adalah saat melihat kemeja istrinya yang penuh dengan darah di lengan yang belum selesai diobati itu.

"Kau baik-baik saja?" suara itu terdengar begitu berat dengan kemarahan yang tersirat membuat suasana di ruangan Luhan seketika menegang.

Luhan mengangguk dengan cepat dan tak lama berdiri di depan Kai menghalangi pandangan Sehun yang kini menatap murka pada penjaganya "Aku baik sayang." Katanya berusaha tertawa untuk mencairkan suasana namun sepenuhnya gagal karena saat ini suaminya benar-benar terlihat menakutkan.

"Sayang."

Luhan berusaha bersuara namun saat ini pandangan Sehun hanya menatap marah pada Jongin. Membuat pria yang berdiri di belakang Luhan itu berdiri berpegangan di meja kerja Luhan dengan wajah yang begitu memucat.

"Kau mati hari ini Kim Jongin!" katanya berkilat penuh amarah dengan tangan yang mengepal erat dan hanya menatap nyalang ke arah Jongin mengabaikan istrinya yang berusaha menjelaskan apapun padanya.

"Sehun-..sayangku. Aku baik-baik saja. Dengarkan aku dulu. Ini bukan kesalahan Jong-..'

BUGH...!

Luhan mendengus kesal karena saat ini suaminya berjalan melewatinya dan terlihat mengepalkan tangannya ke arah Jongin membuat Luhan sedikit berjengit mendengar suara debuman di belakangnya karena saat ini suaminya sedang kembali memukuli Kai yang tentu saja tak akan membalas apa yang dilakukan Sehun.

"KAU MEMBIARKAN ISTRIKU TERLUKA KARENA BOCAH BERUSIA SEPULUH TAHUN. APA KAU SUDAH BOSAN HIDUP HAH!"

Luhan masih tak berani melihat apa yang terjadi di belakangnya saat ini, yang jelas suara pukulan dan debuman di lantai sangat terdengar, membuatnya berani bertaruh kalau saat ini meja kerjanya sudah hancur berantakan dengan wajah Kai yang mungkin sudah setengah memar.

"Bos. Ampuni aku. Aku janji ini tidak akan terulang." Gumam Kai yang seluruh wajahnya kembali memar dan merangkak mundur saat Sehun semakin mendekatinya masih terlihat sangat marah.

"Aku tidak akan mengampunimu lagi, kau benar-benar akan mati Kim Jongin!"

Luhan sedang berpikir bagaimana cara menghentikan kemarahan suaminya, dia sudah melihat wajah Kai yang babak belur dan sedikit takut melihat bagaimana Sehun memukuli penjaganya

BUGH!

"Bos ampuni aku."

"berpikir Luhan...berpikir..ah-..itu saja!"

"arghhhh,, SAKIT...SAYANG TANGANKU SAKIT...ARGHHHH..!"

Sehun yang sedang memukuli Kai tanpa ampun secara refleks menoleh dan begitu takut mendapati istrinya yang kini terkulai lemas di lantai sambil menjerit kesakitan. Dia menghempaskan Kai dengan kasar dan tak lama berlari menghampiri Luhan yang masih memulai aktingnya untuk mengalihkan perhatian suaminya.

"SAKIT SEHUNNA. AKU RASA TANGANKU MAU PUTUS." Katanya menjerit dan seketika duduk di pangkuan Sehun saat suaminya berada didekatnya.

"Mana yang sakit? Aku harus melakukan apa?" katanya bertanya pada Luhan yang kini bermain kontak mata mengisyaratkan Kai untuk segera pergi dari ruangannya. Kai pun tersenyum senang sambil mengangkat ibu jarinya lalu kemudian perlahan merangkak pergi dengan Luhan yang masih mengalihkan perhatian suaminya.

"Lu.."

"AH SAKIT SEHUN...TANGANKU SAKIT."

"Tangan kirimu yang terluka tapi kenapa kau memegangi tangan kanan-.." ujar Sehun yang dengan cepat menoleh ke belakang dan begitu marah melihat anak buahnya kini merangkak keluar dari ruangan dengan bantuan Luhan yang sedang berpura-pura kesakitan.

"KIM JONGIN!"

Sehun baru saja ingin memindahkan Luhan dari pangkuannya sebelum Luhan menarik tengkuknya dan mencium paksa bibir suaminya. Awalnya Sehun hanya diam dan berniat tak membalas apapun yang dilakukan Luhan karena merasa sangat marah pada istrinya yang terus membantu Jongin jika penjaganya sering diberi pelajaran. Tapi saat Luhan mengeluh karena Sehun tak kunjung membalas ciumannya. Membuat sang suami diam-diam tersenyum gemas dan dalam sekejap mengambil alih ciuman yang kini berubah menjadi lumatan panas yang menggairahkan keduanya.

Sementara itu..

"whoaa..Oh Sehun benar-benar mengerikan, aku bisa mati kapan saja jika terus berada disana."

Kai yang sudah berhasil melarikan diri dari ruangan Luhan sedikit menggerutu sambil memegangi wajahnya yang memar. Membuat beberapa petugas medis ingin menghampirinya namun mereka urungkan niatnya karena setiap kali didekati, Kai akan memasang wajah seramnya membuat seluruh petugas enggan menghampirinya sampai

"Astaga Kim Jongin. Ada apa dengan wajahmu?"

Jongin sedikit meringis saat mendengar suara sembilan oktaf milik dokter Byun yang kini bertanya didepannya. Membuatnya berniat untuk memaki dokter cerewet itu sebelum melihat siapa yang berdiri disamping Baekhyun saat ini.

"Kyungsoo.."

Hatinya begitu menghangat saat nama Kyungsoo tiba-tiba terucap di bibirnya, membuat rasa kesal bahkan rasa sakitnya menghilang seketika. Dan untuk seorang Byun Baekhyun yang merupakan pakar cinta dari semua kisah cinta, mustahil untuknya tidak mengetahui apa yang sedang dirasakan oleh adik dan bodyguard dari sahabatnya yang sepertinya sudah terjerat panah cupid asmara mereka.

Dokter cantik itu diam-diam tersenyum jahil sebelum akhirnya "ekhem!" dia berdeham membuat Kai dan Kyungsoo yang saling menatap menjadi salah tingkah.

"Aku masih berada disini asal kalian tahu." Gumam Baekhyun tertawa penuh arti mendekati Kai yang mengernyit bingung karena tak mengerti maksud sahabat dari Luhan didepannya saat ini.

"Ikut ke ruanganku. Aku memiliki kotak obat disana. Kau akan diobati secara spesial." Gumamnya merangkul lengan Kai sebelum kembali menatap Kyungsoo yang saat ini berwajah datar "Kyungsoo ikut denganku."

Mendengar permintaan Baekhyun, pria bermata besar yang memang sedang menjalani terapinya itu pun mengangguk lemah dan mengikuti kemana Baekhyun membawa Jongin saat ini.

"Duduklah." Baekhyun mempersilahkan Kai duduk sementara dirinya mencari kotak obat di lemari penyimpanan dan kembali tersenyum jahil saat mendapatkan apa yang dia cari "Kyungsoo."

"Ya?"

"ummh. Kemari. Bantu aku membersihkan luka Jongin."

Jongin yang mendengarnya pun mau tak mau terkekeh menyadari apa yang diinginkan Baekhyun saat ini. Membuatnya sedikit mencibir sebelum akhirnya kembali fokus pada rencana dokter spesialis anak didepannya ini.

"Tapi kau dokternya." Kilah Kyungsoo tak mau kalah membuat Baekhyun kembali sedikit berpikir sebelum melihat pintu ruangannya terbuka dan menampilkan perawat Kim yang mengantar surat untuknya.

"Dokter Byun, ini undangan seminar untuk hari Jumat. Apa kau ingin membacanya?"

"Letakkan saja di mejaku." Katanya memberi perintah dan tak lama menyadari ada dua kertas yang masih dipegang oleh perawat Kim.

"Bibi Kim kau akan mengantar surat undangan kemana lagi?" katanya bertanya pada wanita yang memiliki usia yang sama dengan ibunya yang merupakan pemilik saham terbesar di Seoul hospital, membuat perawat paruh baya itu tersenyum menjawab putra kandung yang mungkin akan mewarisi seluruh rumah sakit ini nantinya "Aku akan mengantar ini ke ruangan dokter Park dan dokter Oh." Katanya menjawab membuat wajah Baekhyun seketika berbinar.

Baekhyun pun berjalan mendekati perawat Kim dan mengambil paksa kedua undangan yang berada di tangan perawat Kim. Dan saat nama dokter Park berada di tangannya, dia langsung mengembalikan undangan untuk Luhan ke perawat Kim agar segera mengantarnya ke ruangan Luhan "Aku akan memberikan undangannya ke dokter Park. Bibi berikan untuk dokter Oh. Oke?" gumamnya bersenandung berlari meninggalkan ruangannya dengan semangat membuat baik Perawat Kim maupun Kai hanya tertawa kecil mengetahui betapa dokter yang selalu tertawa itu terlihat sangat bahagia jika ada sesuatu yang berhubungan dengan dokter berbakat yang dimiliki Seoul Hospital ini hampir tujuh tahun lamanya.

Karena bukan berita baru jika Baekhyun yang merupakan seorang putra pewaris Seoul Hospital beserta seluruh tenaga kerja dan fasilitas rumah sakit mewah yang akan menjadi miliknya kelak sangat tergila-gila pada dokter spesialis bedah Park Chanyeol bahkan saat keduanya masih menjadi resident hingga sekarang keduanya sudah sama-sama menjadi dokter spesialis .

"Saya permisi dulu." perawat Kim pun berpamitan meninggalkan Kai dan Kyungsoo berdua di ruangan Baekhyun saat ini membuat kedua pria yang diam-diam saling memperhatikan itu tersenyum canggung sebelum akhirnya Kyungsoo membuka suaranya.

"Kenapa wajahmu memar lagi? apa kau dipukuli lagi?" katanya mengambil kotak obat yang Baekhyun sediakan dan berjalan mendekati Jongin saat ini.

"umhh..Aku melakukan kesalahan lagi."

"Kesalahan apa?" katanya kembali bertanya menarik kursi didepan Kai saat ini.

"Luhan terluka karena diriku. Aku pantas memar seperti ini-...Luhan baik-baik saja jangan khawatir." Gumam Kai menambahkan melihat perubahan wajah Kyungsoo yang terlihat memucat.

"Lalu apa Sehun yang memukulimu lagi?"

Kai yang tanpa sadar terpana melihat wajah cantik Kyungsoo sedekat ini sama sekali tak fokus dengan pertanyaan Kyungsoo, dia hanya memandang tak berkedip pria bermata indah didepannya membuat Kyungsoo sedikit salah tingkah saat ini.

"akh.." Kai meringis saat Kyungsoo menekan kasar memarnya, membuatnya sedikit protes sementara Kyungsoo memandang menakutkan ke arah Kai dan kembali fokus mengobati luka di wajahnya. "Jawab aku dan berhenti memandangi wajahku." Katanya sedikit salah tingkah membuat Kai berniat semakin menggodanya saat ini.

"Kau cantik."

"Apa?"

"ah-...Maksudku-..Ya.. Sehun yang memukuli wajahku. Aku pantas mendapatkannya."

"Dia benar-benar mengerikan."

"Dia hanya terlalu mencintai Luhan." gumam Kai mengoreksi membuat Kyungsoo mendengus tak habis pikir. "Kenapa kau selalu membelanya?"

"Aku sudah bilang padamu kan? Aku penggemar Sehun dan Luhan. aku benar-benar menyukai cara mereka saling mencintai dengan begitu kuat dan sama besar. Aku benar-benar ingin mencintai seseorang sama persis dengan yang Sehun lakukan." Katanya kembali menatap wajah Kyungsoo yang kini juga menatap Kai seakan terhipnotis oleh ucapan Kai yang begitu menyukai alasan Kai selalu membela Sehun.

"yeah..Sehun sangat beruntung bisa mendapatkan Luhan."

"Kau harus segera sembuh dan mengingat semuanya. Mungkin kau memiliki kenangan yang bagus tentang Sehun." gumam Kai bersemangat memegang kedua tangan Kyungsoo membuat Kyungsoo tersenyum menatapnya lirih saat ini.

"Kenapa?" ujar Kai menyadari perubahan raut wajah Kyungsoo yang terlihat bingung dan ketakutan.

"Aku takut Kai-…Seperti yang aku bilang padamu sebelumnya. Aku memiliki perasaan yang buruk mengenai ingatanku yang lama. Aku merasa jika aku terus berusaha mengingatnya aku akan kehilangan segalanya. Aku benar-benar takut. Aku-…."

"Tidak perlu takut. Aku dan Luhan bersamamu" Gumam Kai tersenyum mengusap cepat air mata di pipi Kyungsoo. Dirinya terus mengusap lembut pipi Kyungsoo hingga tanpa sadar mendekatkan wajahnya ke wajah Kyungsoo dan tak lama mencium lembut bibir yang terlalu menggoda untuk diabaikan.

Awalnya Kyungsoo sangat terkejut, dia berusaha mendorong tubuh Kai namun saat Kai mengusap lembut tengkuknya membuat Kyungsoo merasa sangat nyaman dan begitu mendamba membuatnya perlahan memejamkan matanya untuk menikmati ciuman lembut dari pria yang diam-diam ia perhatikan hampir tiga bulan ini.

.

Sementara itu….

Tok..tok..

Sementara itu dilain tempat, tepatnya didepan ruangan kerja Chanyeol. Terlihat Baekhyun bersemangat mengetuk pintu yang selalu ia kunjungi setiap dirinya tak ada praktek dengan harapan bisa sekedar melihat wajah Chanyeol walau dari jarak yang cukup jauh.

"Masuk."

Mendengar suara persetujuan Chanyeol, membuat Baekhyun tersenyum dan membuka cepat pintu ruangan Chanyeol dengan begitu bersemangat.

"Dokter Park." Katanya menyapa Chanyeol dengan bersemangat dan sedikit menghela nafasnya saat Chanyeol hanya meliriknya sekilas dan kembali fokus pada laptopnya.

"Ada apa?"

"ah-..Aku ingin mengantarkan undangan seminar untukmu. Kita semua diundang dan diharapkan hadir lusa nanti." Gumam Baekhyun berusaha terus bersemangat menghampiri Chanyeol yang masih tak menganggap keberadaannya.

"Kau bisa letakkan di mejaku. Terimakasih dokter Byun."

Baekhyun benar-benar hanya bisa tersenyum pahit saat ini, hatinya begitu mengernyit sakit karena dokter bedah yanng merupakan cinta pertamanya selalu saja menolak kehadirannya. Chanyeol bukan hanya menolak namun juga tak pernah menganggap keberadaan Baekhyun di sekitarnya. Membuat dokter spesialis anak yang merupakan putra tunggal dari pemilik Seoul Hospital itu kerap kali harus menahan rasa sakit hatinya karena perlakuan dingin dari pria yang sudah memikat hatinya sejak pertemuan mereka di universitas saat itu.

"Dokter Park."

Baekhyun berusaha membuka percakapan dengan Chanyeol mengabaikan rasa sakit hatinya yang begitu terasa dan terlalu membuatnya sesak saat ini.

"Ada apa?"

"Apa kita bisa makan siang bersama?" katanya bertanya sedikit menggigit bibirnya untuk bersiap menerima jawaban apa yang akan diberikan Chanyeol untuknya.

Chanyeol yang sedang membaca artikel di laptopnya pun sedikit menoleh dan mempelajari wajah Baekhyun yang terlihat memucat saat ini membuatnya sedikit menghela nafasnya dan meletakkan kedua tangannya di atas meja. "Maaf aku sibuk."

Baekhyun diam-diam menundukkan kepalanya dan menghela kasar nafasnya yang terasa sulit dihembuskan karena kembali menerima penolakan dari pria yang ia cintai entah sudah ke berapa kalinya dengan hari ini. Baekhyun menggigit kencang bibirnya dan tak lama tersenyum dipaksakan menatap Chanyeol "Baiklah kalau begitu aku permisi." Gumamnya berjalan perlahan meninggalkan ruangan Chanyeol sebelum

"Baekhyun."

Jantung Baekhyun seketika berdebar kencang saat mendengar namanya di panggil tak formal oleh pria yang selalu mengabaikannya. Membuatnya membalikan tubuhnya kembali berharap dan sedikit ragu untuk menatap Chanyeol yang kini menatap tak berkedip ke arahnya.

"Ya..ada apa?"

Chanyeol menghela sedikit nafasnya dan kembali menatap tak berkedip pria yang memiliki kecantikan yang sama dengan Luhan dan pria yang entah sudah keberapa kalinya kembali ia sakiti dengan seluruh jawaban dan sikap yang ia tujukan pada putra pemilik rumah sakit tempatnya bekerja.

"Jangan mencintaiku."

"eh?"

Chanyeol berjalan mendekati Baekhyun dan merasa sangat jahat membuat wajah putih tanpa cela itu menjadi berwarna merah menandakan kalau dirinya sedang merasa sangat sakit saat ini "Jangan pernah mencintaiku." Katanya mengulang membuat seketika mata Baekhyun berkaca-kaca karena sedang merasa begitu hancur saat ini.

"Darimana kau ta-..?"

"Kau mengatakannya semalam saat kau mabuk. Di mobilku. Aku tidak tahu kau masih memiliki perasaan itu untukku." katanya memberitahu Baekhyun yang kini berdegup kencang merasa sangat bodoh kembali melakukan kesalahan yang sama.

"Aku sudah berkali-kali mengatakan padamu untuk tidak mencintaiku."

"kena-…Kenapa aku tidak boleh mencintaimu?" gumamnya bertanya seperti tak memiliki harga diri pada pria terlampau tampan didepannya.

"Karena percuma."

"Chanyeol aku benar-benar tidak menge-…"

"Hanya Luhan satu-satunya pria yang aku cintai. Aku akan terus mencintainya sepanjang hidupku. Aku tidak peduli jika dia sudah dimiliki oleh pria lain. Aku akan terus mencintainya dengan caraku."

Baekhyun memejamkan erat matanya, menikmati bagaimana seluruh perkataan Chanyeol begitu menusuk tajam hatinya. Hatinya kembali remuk redam. Nafasnya kembali tersengal. Dan sedikit berharap kalau Luhan tak pernah datang lebih dulu ke hidup Chanyeol. Ini bukan pertama kalinya Chanyeol menolak tegas dirinya menggunakan nama Luhan. ini sudah berkali-kali, namun rasa sakitnya selalu bertambah dan semakin menyakitkan setiap kali alasan itu diucapkan. Membuatnya sedikit merasa frustasi dan mengepalkan erat tangannya sebelum memutuskan untuk kembali menatap tegar pria yang sudah memiliki separuh jiwanya saat ini

"Jika kau tidak pernah menyerah untuk Luhan. Aku juga tidak akan pernah menyerah padamu. " gumamnya menggeram begitu lirih dan berlari meninggalkan ruangan Chanyeol dengan keadaan hancur berkeping-..entah sudah ke berapa kalinya.

Chanyeol hanya menatap lirih punggung kecil yang berlari menjauh darinya. Merasa sedikit bersalah namun tak memiliki pilihan lain untuk mengatakan kebenarannya pada Baekhyun. Karena memang benar dia masih sangat mencintai Luhan hingga hari ini. "Maafkan aku Baekhyun."

..

..

..

"ungghhhh…Seh…nghh.."

Saat ini dikamar sebuah apartemen mewah di kalangan elit Seoul, terlihat sepasang suami istri yang sedang melakukan percintaan panas entah sudah berapa jam yang keduanya habiskan dikamar mewah milik pria tampan yang kini terlihat memegangi pinggan pria cantiknya yang sedang berada duduk di pangkuannya dan menggerakan maju mundur pinggang kecilnya untuk mendapatkan kenikmatan dari kejantanan sang suami yang terus berhasil menumbuk pusat kenikmatannya dibawah sana.

"So tight Babe…kau-..nghphh.."

Si pria tampan itu pun tak mau kalah dengan pria cantiknya yang terus mendesah dengan erotisnya membuat gairahnya semakin membuncah dan menaik turunkan pinggang pria cantiknya dengan cepat dan begitu kasar agar kejantanannya secara sempurna menghajar prostat istrinya didalam sana.

Keduanya masih dalam posisi yang sama, Luhan yang duduk dalam pangkuan Sehun dan sedang meliuk-liukkan tubunhnya agar dia dan Sehun kembali mencapai puncak kenikmatan entah yang sudah ke berapa kali selama hampir empat jam tak berhenti bercinta. Berbagai gaya telah mereka lakukan dengan berbagai tempat yang hampir tak berbentuk lagi karena harus menjadi korban keganasan sang pemilik apartemen yang sedang "memangsa" pria cantiknya yang tanpa henti dengan alasan kesal karena si pria cantik terluka dan karena hari ini hari ulang tahunnya.

"Nghhh.." Luhan kembali mendesah, tangannya memeluk erat leher Sehun dan membiarkan sang suami yang kini bekerja dengan menaik turunkan pinggangnya.

Luhan semakin melingkarkan kakinya di pinggang suaminya, membuat Sehun semakin menggila karena si pria cantik sengaja mengetatkan lubangnya di setiap hentakan yang diberikan Sehun untuknya. Membuat si pria yang ditakuti di dunia hitamnya ini harus mencari pelampiasan dengan memaksa istrinya untuk mencium dirinya dan tanpa perlu waktu lama kali ini mereka berdua tengah berciuman bibir dan saling menuntut seolah meminta untuk tidak mengakhiri kegiatan panas yang saat ini mereka lakukan. Luhan sedikit tersenyum membalas lumatan kasar dan bernafsu pria tampannya dengan tangan yang mengalungi leher suaminya, sementara Sehun terus memegang pinggang istrinya agar terus bergerak dibawah sana.

"eunghh..Move Lu"

Sehun berkata dan membuat Luhan tersenyum dan seketika melepas ciuman panas mereka, dan mulai kembali menaik turunkan badannya menyesuaikan dengan temponya dengan dibantu tangan dingin Sehun, sampai

"There! Aahh~ Sehunna-there!"

Luhan mendongakan kepalanya merasa sangat nikmat ketika kejantanan suaminya akhirnya kembali menyentuh prostat yang ada di dalam Luhan, Membuat gairah keduanya semakin menjadi sementara Luhan tersenyum sambil terus memejamkan matanya dan menaik turunkan tubuhnya dengan tempo yang semakin cepat membuat Sehun ikut meringis karena hole Luhan mulai meremas dan memijat kencang kejantanannya membuatnya ikut menggila dan menggerakan tubuhnya ke arah berlawanan dengan Luhan sehingga kejantanan Sehun dan prostat Luhan bertemu hanya kenikmatan yang mereka rasakan.

"Nghh…

Sehun tersenyum menatap pria cantik yang tengah bersetubuh dengannya dan merasa sangat bergairah karena setiap dia menghentak maka penis luhan terus bergesekkan dengan dada bidang Sehun membuat Sehun semakin bergairah dan menumbuk cepat hole istrinya yang kini benar-benar meremat kejantanannya secara sempurna

.

"nghh…aku akan keluarrhhh…Seh-…ahhh…ohh…unngghhh…." Luhan menyembunyikan wajahnya di leher sehun, tak tahan dengan rasa nikmat yang terus diberikan suaminya hampir empat jam lamanya mereka memadu kasih hari ini sementara Sehun terus meghentak mengeluar masukkan kejantannya dengan tempo yang semakin cepat dan menciumi pundak seksi istrinya yang sayang jika tak dijamah.

"Bersama sayang…" gumam Sehun yang juga memejamkan matanya dia juga akan mendapatkan klimaksnya merasa kejantanannya sudah membesar dalam hole luhan, dan terus menggerakan kejantanannya di hole Luhan tanpa henti sementara dengan nakal luhan mengeratkan hole itu hingga.

"Sehun-…../ Lu..ngmphhh."

Keduanya berpelukan erat saat Sehun mengeluarkan spermanya di hole Luhan sementara Luhan mengeluarkan cairannya membasahi perut Sehun. Sedikit tersengal dan tak lama saling menyatukan dahi dan tersenyum mengagumi kecantikan dan ketampanan masing-masing dari pasangan mereka.

"Aku mencintaimu sayang. Selamat ulang tahun." Gumam Luhan mengecup hidung Sehun membuat Sehun tersenyum sekilas membalas kecupan istrinya.

"Terimakasih…Tapi aku masih mau lagi."

"ish. Aku benar-benar sudah mati rasa. Kita lanjutkan besok. Lagipula kau harus meniup lilin di kue mu sayang."

"Tidak perlu tiup lilin. Aku ingin mengeluarkan cairan cintaku di lubang istriku saja sepanjang malam ini."

"Dasar Mesum!" gumam Luhan tertawa dan sedikit menunduk menggigit bibir suaminya sementara dirinya diam-diam berusaha mengeluarkan kejantanan Sehun dari lubangnya dan sedikit meringis saat Sehun bersikeras menyatukan kejantanannya didalam sana lebih lama.

"Sehuuuun.."

"Jangan merengek. Aku masih kesal karena kau terluka di hari ulang tahunku."

"Tapi kau harus segera tiup lilin. Sebentar pukul dua belas malam dan tanggal 12 berakhir." Gumam Luhan menggerutu sedikit memukul dada Sehun yang hanya terasa gelitikan untuk Sehun.

"Tidak peduli."

"Oh Se-Hun." Luhan mendesis menggunakan seluruh kemampuan mengerikannya untuk membuat Sehun mengalah dan takut padanya.

"Kenapa berwajah seram seperti itu." Gumam Sehun mencium gemas istrinya dan kembali mendapati wajah Luhan yang terlihat menyeramkan membuat Sehun sadar kalau mood Luhan sedang berada di garis danger jika diganggu.

"Oke. Oke. Aku kalah. Jangan cemberut seperti itu cantik." Katanya terkekeh dan mulai mengeluarkan kejantanannya di hole Luhan membuat wajah Luhan seketika tersenyum saat ini.

"yey. Aku selalu menang." Gumamnya berteriak dan sedikit meringis karena tak hanya merasa sakit di lengannya tapi juga di bagian bawahnya saat ini.

"Tunggu aku. Selesai aku mandi kita akan tiup lilin. JANGAN COBA-COBA MASUK KEKAMAR MANDI." Katanya berteriak didalam kamar mandi membuat Sehun tertawa gemas saat ini.

"yahh..Kau akan selalu menang sayang. Selalu." Gumam Sehun yang memutuskan untuk tidak mengganggu istrinya dan menunggu Luhan didapur untuk segera meniup kue ulang tahun yang mereka beli di perjalanan pulang hari ini.

Cklek…!

Luhan baru saja selesai membersihkan tubuhnya seusai percintaan panas mereka beberapa saat lalu. Dirinya yang kini hanya memakai kemeja kebesaran sang suami tampak mengernyit mencari keberadaan pria tampannya yang jelas tak berada di kamarnya saat ini.

"Sayang.." ujarnya memanggil Sehun namun kembali tak mendapatkan jawaban membuat kaki mulusnya berjalan keluar kamar untuk mencari kemana suaminya berada. Dirinya perlahan berjalan menuju dapur dan kembali mendengus karena hanya mendapati kue Sehun dengan lilin yang sudah siap dinyalakan untuk ditiup bersama.

Luhan membalikan badannya melihat ke seluruh ruangan dan sedikit menebak kalau saat ini suaminya sedang berada di ruang kerjanya terlihat dari pintu ruang kerja Sehun sedikit terbuka, membutanya tersenyum dan berjalan cepat menghampiri ruang kerja milik suaminya.

"Sehun.."

Luhan tersenyum senang berhasil menemukan suaminya yang kini memakai kaos hitam ketat yang memperlihatkan betapa kekar lengan ototnya dan betapa seksi dadanya yang terpampang dari kaos hitam polosnya ditambah dengan boxer selutut yang ia gunakan seusai percintaan panas mereka.

"Kau sedang apa disini?"

Luhan seketika memeluk erat suaminya dari belakang dan bersandar nyaman di punggung kekar Sehun yang menguarkan bau bercampur antara aroma khasnya dan aroma mereka seusai bercinta.

Sehun hanya tersenyum dan mendekap tangan istrinya yang melingkar sempurna di pinggangnya "Aku sedang melihat ini."

Luhan pun sedikit mengintip dari belakang punggung suaminya dan begitu terdiam karena saat ini sang suami sedang menatap hadiah terakhir yang diberikan malaikat kecil mereka tahun lalu "Kau tampan disana." Gumam Luhan sedikit tercekat memuji bagaimana putra kecil mereka menggambarkan sang ayah dengan dagu runcing dan tatapan tajam sedang mencium ibunya yang terlihat tertawa sementara malaikat kecil mereka hanya bertepuk senang di gambar yang dibuat Ziyu tahun lalu.

"Aku tahu." Gumam Sehun tak berniat membalas apapun, hanya menikmati rasa rindunya yang semakin menggilan sebagai seorang ayah yang telah kehilangan putra kecilnya terlelau cepat.

"Tahun lalu dia berlari menyambutku dan mengantarkan gambar ini padaku. Suaranya masih terngiang di telingaku Lu." Gumamnya sedikit meremat gambar terakhir yang diberikan Ziyu dan tertunduk terisak memeluk tangan Luhan yang melingkar di pinggangnya membuat Luhan berusaha mengerti dan tak mengganggu kerinduan seorang ayah pada putranya saat ini.

"Aku merindukan putra kita. AKU MERINDUKAN ZIYUU."

Sehun terduduk di lantai membuat Luhan secara otomatis terduduk dan merasa begitu perih melihat prianya begitu menderita. "Sayang.." gumam Luhan tercekat dan berpindah ke pangkuan suaminya memaksa Sehun untuk menatapnya.

"Jangan seperti ini. Kau membuatku sakit." gumam Luhan menghapus cepat air mata suaminya dan menciumi seluruh wajah Sehun dengan begitu sayang dan lembut.

Hkssss….

Nafas Sehun masih tersengal menatap Luhan. Terkadang dia merasa tak sanggup melihat wajah Luhan. bukan karena dia tidak mau, hanya saja setiap menatap Luhan dia terkadang melihat Ziyu dimata Luhan dan itu akan membuatnya terus menerus kembali merindukan putra mereka yang sudah setahun pergi meninggalkan mereka.

"Aku tidak bisa melihatmu seperti ini Sehunna. Jangan menangis lagi. Aku mohon." Gumam Luhan menyatukan kedua dahi mereka dan terisak hebat menatap Sehun yang masih terlihat begitu marah dan kesepian karena merindukan putranya.

Luhan memejamkan matanya erat, menikmati bagaimana nafas Sehun tersengal mengenai wajahnya. Merasa begitu bersalah karena tak pernah bisa menjadi kuat untuk suaminya di saat seperti ini. Karena jika Sehun sedang merindukan putra mereka maka tak perlu ditanya siapa yang akan menderita karena rasa rindu Luhan untuk putra mereka jauh lebih besar dan terlalu menyakitkan untuk dibicarakan.

"Kau terlihat gemuk di gambar ini."

Luhan dengan cepat membuka matanya dan begitu lega karena Sehun saat ini sudah kembali menjadi Sehunnya yang biasa, walau terlihat sangat dipaksakan namun Luhan bersyukur Sehun tak lagi menangis saat ini.

"Aku sempurna disana."

Sehun sedikit terkekeh dan kembali menatap Luhan "Kau selalu sempurna untukku. Maaf membuatmu kesakitan." Gumamnya tersenyum lirih dan mencium dalam bibir yang belum lama terisak karena menghkawatrikan dirinya.

"Kau tidak boleh menangis. Ini hari ulang tahunmu. Kau harusnya bahagia karena aku yakin putra kita juga sedang merayakan ulang tahunmu disana."

Sehun kembali tertawa pahit dan berdiri menggendong Luhan di pelukannya "Kau benar…Harusnya aku bahagia karena hari ini ulang tahunku dan ada malaikat cantik yang menemaniku." Gumamnya mengecupi bibir Luhan berkali-kali sambil berjalan menuju ke meja makan dimana kue mereka berada sementara Luhan bersandar nyaman di pundak Sehun dengan kaki yang melingkar sempurna di pinggang suaminya.

"Nah nyalakan apinya. Aku ingin meniup kue cantik ini." gumam Sehun mendudukan Luhan di kursi meja makan dan tak lama menarik kursi disamping Luhan.

"Ucapkan keinginannmu." Sehun mengangguk dan tak lama memejamkan matanya berdoa entah pada siapa agar pria cantiknya selalu berbahagia dan selalu tersenyum tak peduli apa yang akan terjadi pada mereka di esok hari.

"Sudah." Katanya memberitahu Luhan yang menatap tak berkedip suaminya saat ini

"Selamat ulang tahun Sehunna." Katanya menatap berbinar wajah Sehun membuat Sehun mengangguk dan bersiap meniup lilinnya sampai

Ting tong…

Ting Tong..

Keduanya seketika menoleh dan bertanya-tanya siapa yang berani mengganggu momen romantis mereka di tengah malam seperti ini. "Mungkin salah alamat. Abaikan saja sayang." Gumam Luhan memberitahu Sehun yang mengangguk menyetujui dan kembali bersiap meniup lilinnya sampai suara bel kembali terdengar.

Ting tong…

Ting Tong..

"ish. Siapa sih malam-malam begini." Gumam Luhan menggerutu dan berdiri berjalan menuju pintu membuat Sehun sedikit was-was melihatnya.

"Sayang pakaianmu terlalu seksi. Cepat pakai man-…"

"Aku tahu Tuan Oh. pakai mantel tebal ini baru aku boleh membuka pintu kan?"

Sehun tertawa kencang dan mengangguk sebagai jawaban "Tepat sekali nyonya Oh. sekarang kau boleh membuka pintunya." Katanya menahan tawa dan memastikan Luhan memakai mantel tebalnya yang menutupi dada serta paha mulus milik istrinya yang sepenuhnya adalah miliknya.

Ting tong…

Ting Tong..

"Siapa disana?" Gumam Luhan bertanya dan

Cklek…

Kedua matanya seketika membelalak namun tak lama bibirnya terkekeh mendapati empat anak buah kepercayaan suaminya tengah berdiri disana dengan membawa banyak kue dan makanan.

"Selamat malam ibu ratu." Gumam Max, Yoochun Shindong dan Jongin menyapa Luhan yang masih melipat kedua tangannya di atas dada saat ini

"Ibu ratu kepalamu!" geram Luhan memaki Max yang terlihat kesusahan karena membawa kue besar saat ini.

"SAYANG SIAPA YANG DATANG?"

Luhan menoleh sekilas mendengar teriakan suaminya dan semakin menjaga pintu masuk agar keempat anak buah suaminya tidak mengganggu acara romantis miliknya malam ini.

"HANYA PAMAN TUA MENYEBAL-.."

"HYUNGNIM SELAMAT ULAN TA-hmphhh.."

"Apa-apaan kalian berteriak seperti itu?" Luhan menggerutu dan sedikit mendorong Max menjauh dari pintu masuk.

"Kenapa kami tidak boleh merayakan ulang tahun Hyungnim."

Luhan mengambil kasar kue ulang tahun yang dibawa Max dan meletakannya perlahan di meja terdekat sebelum kembali menemui keempat anak buah kepercayaan Sehun.

"Dengar ya-..Setiap kali kalian datang kesini, itu artinya kalian membawa berita menyebalkan untuk suamiku. Jadi aku dengan tegas menentang kedatangan kalian kesini. Cepat pergi sana!"

"Ayolah ibu ratu. Biarkan kami ma-.."

"SUDAH KUBILANG JANGAN PANGGIL AKU IBU RATU"

Ssstt…..

Keempatnya membuat gerakan menutup mulut membuat Luhan menggigit kencang bibirnya dan segera menoleh berharap Sehun tak datang menghampirinya "Kalian ini!" ujarnya menggeram sementara keempat lainnya hanya tertawa tertahan.

"Luhan biarkan kami merayakan ulang tahu Hyungnim. Kami memilik banyak hadiah dan makanan, sayang jika dibuang."

Yoochun menyatukan kedua tangannya memohon pada Luhan yang kini menatap lapar pada kue dan Soju yang dibawa anak buahnya suaminya. Membuatnya sedikit berpikir dan tak lama menggeleng cepat tak mau termakan rayuan ulung para bujangan didepannya.

"Tidak. Cepat pergi!"

"Kami membawa iced americano Lu-.."

"MANA?"

Seketika mata Luhan berbinar dan benar-benar menatap lapar pada kopi kesukaannya yang sangat pas diminum setelah bercinta dengan suaminya. Membuat pertahanannya kembali runtuh dan mendengus sebal mengambil kasar kopinya yang berada di tangan Shindong.

"Cepat berbaris. Aku harus memastikan kalian tidak membawa dokumen, barang-barang haram, atau obat-obatan terlarang. Aku juga tidak mau ada senjata di apartemen suamiku." Katanya bergegas mencari kardus kosong dan meletakannya didepan kakinya.

"Baik ibu ratu-…maksud kami. Baik dokter Oh." gumam Max memukul kencang mulutnya dan seketika berbaris diikuti ketiga teman lainnya di belakang.

Dan layaknya petugas anti senjata tajam, Luhan dengan teliti memeriksa seluruh tubuh anak buah suaminya dan dapat dengan mudah menebak dimana mereka menyembunyikan senjata mereka. bukan karena Luhan sering melakukannya dia hanya terbiasa melihat Sehun melakukannya membuatnya secara tak langsung familiar dengan senjata tajam dan teman-temannya.

"ck. Bagaimana bisa kalian menghadiri pesta ulang tahun bos kalian dengan begitu banyak senjata." Gumam Luhan menggerutu karena baru memeriksa Max, tapi dia sudah menemukan tiga pistol di jas milik anak buah suaminya.

"Hanya itu kok. Tidak ada lagi." Gumam Max tertawa takut menatap wajah Luhan yang mengerikan saat ini.

"Kaos kakimu. Cepat buka."

"tidak ada apa-apa Lu."

"Cepat buka."

Max terkekeh dan segera membuka kaos kakinya dan benar saja terdapat dua pisau di masing-masing sepatunya saat ini.

Luhan tersenyum menang dan tak lama mengangguk menyetujui "Max clean. Kau boleh masuk."

"Terimakasih ibu ratu."

"astaga mulutmu." Geramnya menggerutu dan kini berhadapan dengan Yoochun yang tertawa takut menatap Luhan "Apa perlu aku menggeledahmu?"

"Tidak perlu Luhan."

"Kalau begitu cepat keluarkan senjatamu."

Yoochun mengangguk dan segera mengeluarkan seluruh senjatanya membuat Luhan tersenyum puas "Itu apa?" katanya bertanya menatap sebuah kendi yang terus Yoochun pegang sedari tadi.

"Hadiah untuk hyungnim."

"Hadiah apa?"

"Rahasia Luhan."

Luhan memicingkan matanya dan kembali menatap kesal pada Yoochun "Park Yoochun. Katakan padaku atau malam ini wajahmu babak belur." Gumamnya sedikit mengancam asal Yoochun membuat pria didepannya ini seketika memucat

"Tapi kau jangan marah. Ini hadiah spesial untuk hyungnim dari kampung halamanku."

"Ibu ratu tidak pernah marah." Katanya terkekeh mengakui kalau dirinya memang ibu ratu.

"umhh…Ini obat kuat agar hyungnim bisa terus menggenjotmu tanpa kelelahan."

"PARK YOOCHUN." Gumam Luhan berteriak namun percuma karena saat ini Yoochun sudah menyeruak masuk mengabaikan wajah Luhan yang kini membelalak mendengar hadiah mengerikan apa yang diberikan Yoochun untuk suaminya.

"Selamat malam Luhan. lama tidak bertemu." Kali ini pria sedikit gemuk yang menyapanya membuat wajah memerah Luhan kembali dipasang seserius mungkin karena masih berdebar mendengar hadiah yang dibawakan Yoochun untuknya.

"Kau darimana saja? Kenapa baru terlihat?"

"Aku ada pekerjaan." Gumam Shindong meletakkan seluruh senjatanya didalam kardus membuat Luhan kembali tersenyum senang dan menyadari kalau ada goresan mendalam di leher Shindong yang jelas sekali terlihat diabaikan.

"Aku akan memeriksa luka di lehermu setelah selesai makan malam. Kau boleh masuk."

Shindong secara refleks menutup lehernya yang terluka dan sedikit merasa tak enak pada Luhan yang jelas-jelas membenci luka mereka yang berasal dari pekerjaan mengerikan yang mereka lakukan.

"Tidak perlu Luhan. aku baik."

"Aku dokternya. Aku yang memutuskan kau baik atau tidak." Katanya memberitahu Shindong dengan nada kesal saat ini

"Aku mengerti. Terimakasih Luhan." gumam Shindong sedikit membungkuk dan tak lama masuk ke apartemen Sehun meninggalkan Luhan dan Jongin berdua saat ini.

Luhan kemudian menatap ke pengawal pribadinya dan

"omo! Aku lupa Sehun hampir membunuhmu pagi ini. kenapa kau datang kesini." Gumam Luhan mencegah Kai masuk membuat Kai sedikit kewalahan karena Luhan terus mendorongnya menjauh saat ini.

"Hyungnim tidak akan membunuhku. Dia menyayangiku."

"hey hey. Hyungnim mu hanya menyayangi istrinya." Gumamnya mengorekso membuat Kai tertawa saat ini.

"Jangan tertawa. Aku serius kau harus segera pergi darisini."

"Tidak mau! Aku membawa sup rumput laut yang ibuku buatkan khusus untuk ulang tahun suamimu."

"Tidak Kai ini berbahaya. Sehun akan memecatmu dan paling buruk dia akan kembali memukulimu. Aku tidak-.."

"EKHEM!"

Keduanya memucat mengenali dengan benar suara dehaman yang berasal tak jauh dari mereka. membuat Luhan menoleh sementara Kai menatap takut karena bos nya saat ini sedang bersandar di tembok dengan mata tajam yang tak berkedip.

"Sayang-..Kai akan segera pulang."

"Luhan lindungi aku." Pinta Kai bersembunyi di belakang Luhan dan tak berani menatap bosnya saat ini

"Tenang saja selama ada aku Sehun tidak bisa menyentuhmu." Gumam Luhan berdiri didepan Kai untuk melindungi pengawal pribadinya membuat Sehun menaikkan kedua alisnya dan berjalan gusar menghampiri istrinya yang kini terus memegangi lengan Kai dengan kencang.

"Sayang kau tidak boleh marah. Kai tidak-.."

Grep..!

Luhan merasa tubuhnya ditarik dengan kuat dan tanpa kedipan mata saat ini dia sudah berada di pelukan suaminya dan dipeluk terlampau erat saat ini "Bagaimana bisa kau memegang tangan pria lain di depan mataku."

Saat ini keadaan berbalik karena ternyata Luhan adalah tersangka malam ini. membuat dirinya sedikit menggigit kencang bibirnya dan melingkarkan kedua tangannya di pinggang kokoh suaminya "Aku tidak memeluk Kai. Kai yang terus memelukku." Katanya mengadu membuat Kai membelalak saat ini

"Aku tidak bos-…Aku benar-benar tidak menyentuh Luhan." katanya berkilah dan memandang frustasi pada Luhan yang tertawa didekapan Sehun saat ini.

"Kau membawa apa?" Sehun mengabaikan seluruh ucapan tak penting Kai dan istrinya dan hanya menatap penasaran pada tupperware yang dibawa Kai saat ini.

"ah-…Ini sup rumput laut. Ibuku yang membuat karena berpikir kalian pulang malam ini, tapi ternyata tidak. Jadi ibu memintaku untuk memberikan ini padamu bos." Gumam Kai berbinar membuat Sehun merasa sangat tergoda melihat sup kesukannya dengan lapar.

"Bibi Kim yang membuat?"

"Ya bos. Ibuku yang buat."

Sehun mengangguk mengerti dan tak lama berjalan mendekap erat istrinya masuk kedalam meninggalkan Kai yang masih berada didepan pintu saat ini. "Tutup pintunya. Aku ingin segera makan sup buatan bibi Kim."

"Baik Hyungnim. Selamat ulang tahun." Gumam Kai bersorak senang dan tak lama menutup pintu membuat Luhan ikut tersenyum dan mendekap erat suaminya karena terus menerus membuatnya mencintainya tanpa henti.

Dan tak lama semuanya berkumpul di ruang makan apartemen Sehun. Ada dua kue dengan lilin yang menyala. Satu bertuliskan happy birthday to the best man I ever had. Dan satu bertuliskan selamat ulang tahun hyungnim. Membuat si pria yang sedang berulang tahun tersenyum begitu bahagia dan bersyukur masih dikelilingi banyak orang yang begitu mencintai.

"Sayang tiup lilinnya." Gumam Luhan memberitahu membuat Sehun mengangguk dan tak lama

Fuhh~

Sehun meniup seluruh lilin yang menyala dalam satu kali nafas membuat suara tepukan terdengar dan

"SELAMAT ULANG TAHUN HYUNGNIM!"

"SELAMAT ULANG TAHUN SUAMIKU."

Terdengar suara yang bersahutan tak mau kalah antara Luhan dan keempat anak buahnya membuat Sehun terkekeh namun tak lama menatap menakutkan pada keempat pria yang mulai membuat kesal istrinya saat ini "ah iya-… SELAMAT ULANG TAHUN SUAMI IBU RATU."

"Astaga!" Luhan memijat keningnya dan dengan kesal meninggalkan meja makan membuat wajah pucat seketika terlihat di keempat anak buah Sehun saat ini.

"Sayang kau mau kemana?"

"Aku mau minum obat anti gemuk milikku lalu berniat memakan seluruh kue yang ada di meja. JANGAN TERTAWA!" katanya memperingatkan seluruh pria yang berada di meja yang jelas-jelas mati-matian menahan tawa saat ini.

"Kai..Obat Luhan ada di laci. Antarkan padanya."

Kai mengangguk saat Sehun memberitahunya membuat suasana berubah menjadi serius saat Luhan dan Kai tidak berada di ruang makan saat ini. Max pun tak membuang kesempatan dan diam-diam menarik kursi mendekati Sehun dan menyerahkan sebuah dokumen pada Sehun.

"Apa ini?" katanya bertanya tak mengerti pada Max yang terlihat tersenyum menyeringai menatap Sehun.

"Kita berhasil menjebaknya bos. Kau akan segera bertemu dengannya."

"dengannya?"

"Lusa nanti, kalian akan bertemu sebagai pedagang dan pembeli senjata gelap yang merupakan bisnis utamanya."

"Siapa yang kau bicarakan?"

"Wu Yifan-…Kau akan segera bertemu dengannya."

Jantung Sehun seketika berdebar kencang dan tanpa sadar meremat kasar dokumen yang diberikan Max, merasa seluruh penantiannya tak sia-sia. Dia akhirnya bertemu dengan bajingan yang dengan tega menjadi otak untuk membunuh putranya dan menggertak istrinya menggunakan namanya. Membuat wajah dingin itu diam-diam tersenyum simpul dan menatap ketiga anak buahnya dengan puas "Kerja bagus. Aku benar-benar tak sabar ingin menghabisinya dengan kedua tanganku sendiri." gumamnya menggeram mengeluarkan seluruh rasa marahnya membuat semua anak buahnya hanya diam karena mengerti betapa Sehun sangat tersiksa dengan keberadaan pria yang merupakan teman kecil istrinya dan memiliki cerita dengan Luhan di masa lampau.

.

.


tobecontinued…


.

Mau tau ga ? seribet ribetnya cerita, dan seriweh riwehnya kisah di ff triplet. Sebenernya ada di entangled ini.

Kenapa?

Karena sebenernya dari awal gw publish entangled. Ini fix bakalan riweh.

Tapi gara-gara ada Restart sama TDF. Gue berusha kalem dulu. Dan pas 22 nya end ya gw baru berani ngasih tau kalo Entangled itu manis-manis pait nyakitin ceritanya :"…

Dan ini fic pertama triplet official tiga love story yang make Kaisoo sama Chanbaeknya didalemnya. Ya walaupun KAISOO sama CB ga sebanyak porsi cerita HH. Tapi gue berusaha adil buat mereka punya kisah sendiri *tsah :p

.

Gue bisa jamin ini riweh….ribet…banjir… mungkin kesel..panjang…Jadi yang buat males dibuat dongkol. Cuma disaranin baca dari chap 1-6. Selebihnya stop. Karena konflik mulai bertebaran secara perlahan namun pasti di chap depan.

.

Gatau si ini bakalan sedongkolin apa. Tapi HH gabakal sampai cerai apalagi nikah sama orang lagi *kapok gue kapok :". Cuma ya itu. Krisis percaya. Krisis cinta. Krisis kebersamaan dan sebagainya. Nih gw aja dongkol nih bayanginnya -_-

.

wisslah…happy reading n review..

.

Next update : I choose you