previous
Kai mengangguk saat Sehun memberitahunya membuat suasana berubah menjadi serius saat Luhan dan Kai tidak berada di ruang makan saat ini. Max pun tak membuang kesempatan dan diam-diam menarik kursi mendekati Sehun dan menyerahkan sebuah dokumen pada Sehun.
"Apa ini?" katanya bertanya tak mengerti pada Max yang terlihat tersenyum menyeringai menatap Sehun.
"Kita berhasil menjebaknya bos. Kau akan segera bertemu dengannya."
"dengannya?"
"Lusa nanti, kalian akan bertemu sebagai pedagang dan pembeli senjata gelap yang merupakan bisnis utamanya."
"Siapa yang kau bicarakan?"
"Wu Yifan-…Kau akan segera bertemu dengannya."
Jantung Sehun seketika berdebar kencang dan tanpa sadar meremat kasar dokumen yang diberikan Max, merasa seluruh penantiannya tak sia-sia. Dia akhirnya bertemu dengan bajingan yang dengan tega menjadi otak untuk membunuh putranya dan menggertak istrinya menggunakan namanya. Membuat wajah dingin itu diam-diam tersenyum simpul dan menatap ketiga anak buahnya dengan puas "Kerja bagus. Aku benar-benar tak sabar ingin menghabisinya dengan kedua tanganku sendiri." gumamnya menggeram mengeluarkan seluruh rasa marahnya membuat semua anak buahnya hanya diam karena mengerti betapa Sehun sangat tersiksa dengan keberadaan pria yang merupakan teman kecil istrinya dan memiliki cerita dengan Luhan di masa lampau.
.
.
.
.
.
.
.
.
Entangled
Main Cast : Sehun & Lu Han
Genre : Romance, Family, Hurt/Comfort
Rate : M
Length : Chapter
YAOI. Typo (s)
HUNHAN STORY!
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Hyung… aku tidak melihat Baekhyun. Dia dimana?"
Saat ini seluruh dokter utama yang bekerja di Seoul Hospital tengah mengikuti seminar yang diadakan oleh lembaga kesehatan bekerjasama dengan ahli kesehatan dengan beberapa professor kesehatan dari Jepang dan China yang sengaja diundang untuk menghadari seminar kesehatan sebagai bentuk kerja sama tiga negara tersebut yang kali ini diadakan di Seoul.
"Entahlah. Aku tidak melihatnya sudah beberapa hari ini." gumam Suho memberitahu Luhan yang kini duduk di tengah-tengah antara Suho dan Chanyeol.
"Tapi kau kan sepupunya." gumamnya berbisik menyindir Suho yang mendelik sebal menatap Luhan.
"Kau sahabatnya." timpal Suho tak mau kalah membuat Luhan sedikit mendengus kesal
"ish. Kenapa jadi aku?"
"Bagaimana kalau kita tanyakan saja pada pria disampingmu. Aku rasa dia penyebabnya." ujar Suho kembali berbisik membuat Luhan sekilas menatap Chanyeol dan menyetujui kalau ketidakhadiran Baekhyun yang dibiayai sendiri oleh ayahnya pasti karena bertengkar dengan Chanyeol.
"Sebentar aku tanya padanya." Suho mengangguk dan berniat sedikit mencuri dengar apa jawaban Chanyeol mengenai sepupunya.
"yeoliee.." katanya berbisik sedikit merangkul lengan Chanyeol yang sedang fokus memperhatikan seminar yang sedang berlangsung saat ini.
"Ada apa?"
"Baekhyun kemana? Aku tidak melihatnya hari ini."
Chanyeol sedikit mendengus kesal saat nama pria yang baru saja ia sakiti kemarin kembali ia dengar, membuatnya sedikit merasa bersalah namun berniat untuk tidak mempedulikan semua tentang dokter spesialis anak yang terkenal ramah dan suka tertawa di rumah sakit ini lagi.
"Tidak tahu. Dan aku rasa itu bukan urusanku Lu." katanya menjawab asal Luhan membuat Luhan mendengus kesal mendengarnya.
"Terus saja bersikap dingin pada Baekhyun. Kau akan menyesal yeol." gumamnya menggerutu namun kembali diabaikan Chanyeol yang berusaha menulikan pendengarannya saat ini.
"Berhenti berbicara dan perhatikan ke depan." Gumam Chanyeol tak kalah mendesis membuat Luhan semakin tak habis pikir dengan pria dingin disampingnya.
"Kau terlihat menyebalkan jika seperti ini." katanya berbisik membuat Chanyeol mendelik tajam ke arahnya.
"araseo..araseo. aku tidak akan mengganggumu." Katanya mencibir dan kembali berbisik pada Suho yang sedang sibuk merayu Yixing saat ini.
"hyung.." Katanya menyenggol lengan Suho membuat si perayu ulung terpaksa menghentikan rayuannya pada Yixing yang terlihat bosan mendengarnya.
"Ada apa lagi?"
"Chanyeol tidak tahu dimana Baekhyun." Katanya memberitahu Suho yang terlihat menatap sebal ke arah Chanyeol.
"Yasudah biarkan saja. Jangan ganggu aku. Kalau kau terus mengganggu aksiku. Selamanya aku akan menjadi bujang tampan."
"ck. Aku harap Yixing sadar kalau rayuanmu adalah rayuan paling tidak bermutu yang pernah ia dengar."
"tsk. Anak ini benar-benar! Sudah jangan ganggu aku."
"ya ya ya...Semoga cepat menikah bujang tampan." Gumam Luhan menggerutu dan sedikit bersandar di bahu Chanyeol untuk mendengarkan kata sambutan dan serangkaian acara yang akan dibawakan hari ini.
Dan setelahnya seluruh dokter utama dan dokter spesialis terpaksa mengikuti seminar yang berlangsung hampir empat jam lamanya. Dan untuk Luhan, seminar kali ini begitu membosankan karena tak ada Baekhyun yang biasa berceloteh konyol dan membuatnya tertawa sepanjang rapat atau seminar berlangsung.
Membuatnya diam-diam mengambil ponselnya dan berniat mengganggu suaminya saat ini. Luhan membuka line chat miliknya dan mencari nama suaminya lalu mengirimkan stiker yang menandakan dia sedang bosan saat ini.
drrrt...drrr..
Luhan sedikit berbinar saat ponselnya bergetar menebak kalau suaminya membalas pesannya dengan cepat dan benar saja nama Oh Sehun langsung terlihat di pop up line chatnya.
Kenapa mengirim gambar seperti itu sayang? Kau bosan?
Luhan segera membacanya dan tak lama menulis pesan balasan menjawab pertanyaan Sehun.
Hmmh...aku sangat bosan sayang. Kau sedang apa dan dimana?
Dia mengirim pesannya cepat dan kembali tersenyum tak mengira Sehunnya akan membalas secepat ini.
Aku sedang membalas pesan ibu ratu saat ini. Kkkk
Luhan terkekeh membaca balasan Sehun dan tak lama mengerucut karena kembali dipanggil ibu ratu oleh suami dan seluruh anak buahnya.
Tidak lucu Sehun.
Luhan baru saja akan meletakkan ponselnya sebelum ponselnya kembali menyala dan pop up balasan dari Sehun kembali terlihat.
Aku juga merindukanmu.
"ck. Percaya diri sekali pria tampan ini." gumamnya yang tiba-tiba merona membaca ucapan rindu dari suaminya dan berniat membalas rasa rindu untuk suaminya sebelum Chanyeol mengambil paksa ponsel Luhan membuat Luhan sedikit memekik.
"Yeolie! Kembalikan ponselku!"
"Jangan ribut dan perhatikan professor berbicara. Aku akan mengembalikannya setelah selesai seminar dan setelah aku mengganti perbanmu di ruanganku." katanya memberitahu Luhan yang masih mencoba mengambil ponselnya namun gagal karena Chanyeol menghindar darinya.
"Kau benar-benar menyebalkan Park Chanyeol." gumam Luhan kembali menggerutu dan kembali diabaikan Chanyeol yang sangat tidak suka Luhan tersenyum merona hanya karena membaca pesan yang ia tebak dari pria yang sepenuhnya telah merebut Luhan darinya.
Dan empat jam menyiksa itu berhasil Luhan lalui hari ini. Karena setelah professor Byun yang merupakan pemilik Seoul Hospital sekaligus professor spesialis penyakit dalam dan ayah kandung dari Baekhyun memberikan statement penutupnya, kembali terdengar suara tepukan tangan yang menandakan acara seminar kali ini benar-benar telah selesai membuat seluruh peserta seminar satu persatu meninggalkan ruangan untuk kembali melakukan aktifitas selanjutnya.
Semua kembali ke ruangannya masing-masing, begitupula dengan Luhan yang kini sibuk mencari Chanyeol yang masih memegang ponselnya.
Brak…!
"Yeol...kembalikan ponselku."
"Kau sudah datang? Cepat duduk aku akan mengganti perbanmu baru memberikan ponselmu."
"Aku bisa menggantinya sendiri. Cepat kembalikan ponselku."
Jawaban Luhan sontak membuat Chanyeol sedikit kesal. Membuat pria yang merupakan ketua tim bedah di Seoul Hospital itu begitu menggeram dan memaksa masuk Luhan kedalam ruangannya.
"Kenapa kau sangat suka menarik tanganku hah?!"
"Karena kau sangat sulit diatur. Diam sebentar atau aku akan membuatmu menjerit kesakitan." katanya mengancam Luhan dan mulai membuka snelli yang Luhan kenakan.
"Yeol kau menekannya terlalu kuat." gumam Luhan sedikit meringis karena Chanyeol benar-benar tak berperasaan mengganti perban di lengannya saat ini.
"Jadi apa benar luka ini karena seorang bocah sepuluh tahun? Bukan karena seseorang dari masa lalu?"
Luhan sendiri bertanya-tanya dengan pertanyaan Chanyeol yang membuatnya sedikit berdebar "Masa lalu bagaimana?"
Pergerakan tangan Chanyeol yang sedang melilitkan perban di tangan Luhan pun sedikit terhenti merasa terlalu jauh bertanya tentang hal yang belum Luhan ketahui hingga saat ini.
"Entahlah, aku hanya asal bicara. Nah selesai." gumamnya memberitahu Luhan yang masih terlihat bertanya-tanya saat ini.
"Yeol kau membuatku takut." katanya memberitahu Chanyeol yang kini tersenyum dan menarik kursi untuk duduk berhadapan dengan adik kecilnya.
"Aku menjagamu Lu." katanya memberitahu Luhan dan mengusap sayang surai cantik pria di depannya.
drrrt….drrtr…
Perhatian keduanya teralihkan karena saat ini entah untuk yang ke berapa kalinya ponsel Luhan bergetar dengan nama Oh Sehun yang terus muncul di layar depan ponsel Luhan.
"Aku benar-benar tidak mengerti kenapa kau begitu tahan hidup bersama seseorang yang terlalu posesif seperti pria ini." gumam Chanyeol menggerutu dan menyerahkan kasar ponsel Luhan pada pemiliknya.
"Aku mencintainya dan dia mencintaiku. Itu bukan jawaban. Tapi semua itu menjelaskan." katanya memberitahu Chanyeol yang sekali lagi merasa begitu sakit menyadari bahwa cinta Luhan untuk Sehun begitu dalam dan tak ada yang bisa mengubah hal itu. Tidak siapapun termasuk dirinya.
"Aku pergi dulu. Terimakasih sudah mengganti perbanku." gumam Luhan dan tak lama berjalan meninggalkan ruangan Chanyeol untuk segera menjawab panggilan suaminya yang jelas sedang mengkhawatirkannya saat ini.
Chanyeol sendiri hanya bisa meremat kasar dadanya yang begitu sakit. Dia tahu dia telah kehilangan Luhan, tapi dia sama sekali tidak tahu kalau harapan untuk hidup bersama Luhan hampir mustahil terjadi untuknya. Membuat bibir tipis itu tersenyum memperhatikan sosok cantiknya yang kian menjauh dari hidupnya "Apa aku harus merelakan rasa cintaku padamu Lu? Aku benar-benar mencintaimu." Chanyeol menghela dalam nafasnya dan hanya bisa tertunduk merasakan rasa sakit yang tak bisa ia sembuhkan walau sudah memakan waktu hampir lima tahun lamanya
..
..
...
drrrt...drrrt…
Dokter muda yang sedang berjalan menuju ke ruangannya itu hanya tersenyum karena ponselnya kembali bergetar dan lagi-lagi nama suaminya yang muncul di layar ponselnya. Bukan dia sengaja ingin membuat suaminya khawatir. Dia hanya ingin menjawab panggilan dari Sehun saat dirinya sudah berada di ruangannya.
"Sabar sebentar sayang. Aku akan mengangkatnya." gumam Luhan menjepit ponselnya dengan bibirnya sementara kedua tangannya sibuk memakai kembali snelli yang sempat dilepas karena Chanyeol baru saja mengganti perbannya.
"Dokter Oh."
"hmm.." Luhan menoleh dan bergumam mendapati kepala perawat Kim memanggilnya dan sedang berjalan ke arahnya saat ini.
"Kau terlihat kerepotan. Aku bisa memegang ponselmu sementara kau memakai jas putihmu."
Luhan menggeleng dan mengambil cepat ponselnya lalu memasukkan ponselnya kedalam saku jas putihnya.
"Tidak perlu perawat Kim. selesai. Ada apa memanggilku?"
Perawat senior yang berusia sekitar empat puluh tahun itu pun hanya tersenyum sekilas mengagumi betapa menawannya dokter spesialis yang menjadi idola di rumah sakit tempatnya bekerja. "Ada yang mencarimu dokter Oh." katanya memberitahu Luhan yang terlihat menaikkan kedua alisnya.
"Siapa? Apa suamiku?" katanya bertanya namun merasa semakin bingung saat perawat Kim menggelengkan kepalanya.
"Lalu siapa?"
"Seorang anak kecil berusia sepuluh tahun. Dia menunggumu di kantin rumah sakit."
Luhan yang masih bertanya-tanya pun sedikit berpikir sebelum kedua matanya melebar menebak siapa yang datang
"jangan-jangan dia…"
..
..
tap...tap...tap..
Luhan berlari kencang untuk menemui siapa anak berusia sepuluh tahun yang mencarinya. Membuatnya sedikit bertanya-tanya dan menebak kalau anak yang datang menemuinya adalah anak yang sama yang belum lama ini menyebabkan luka goresan di lengannya. Membuatnya sedikit banyak berharap dan
Tring...!
Luhan membuka pintu kantin di rumah sakitnya dengan cepat, matanya mencari ke seluruh kursi dan meja makan seketika tersenyum karena tebakannya sama sekali tidak meleset. Karena anak kecil yang sedang menunggunya adalah benar anak yang belum lama ini bertemu dengannya di swalayan dan mengambil dompetnya dengan menggores lengannya lebih dulu.
Membuat Luhan hanya tersenyum sekilas melihat anak sepuluh tahun itu sedang duduk sambil menyesap milk shakenya dan masih mengenakan pakaian yang sama dengan dua hari yang lalu.
"Kau harusnya bertingkah normal sesuai anak seusiamu." Katanya bergumam dan perlahan mendekati keberadaan si anak kecil yang terlihat membawa sesuatu di tangannya.
"ekhem..!"
Luhan berdeham kencang dan menarik cepat kursi didepan si pencuri kecil membuat anak sepuluh tahun itu tersedak minumannya dan seketika memucat melihat wajah Luhan saat ini.
"ck.. ..Aku tak bisa mempercayai ini. Si pencuri kecil datang dan bisa meminum enak milk shake nya sementara aku harus kesakitan dengan luka goresan di tanganku." Katanya berdecak menggulung jas putihnya dan menunjukkan perban yang berada di lengan kirinya membuat si bocah sepuluh tahun itu seketika menunduk dan menggigit kencang bibirnya.
Luhan sendiri menyadari benar kalau pria kecil didepannya ini benar-benar ketakutan membuatnya tersenyum kecil dan berniat kembali bertanya pada anak kecil didepannya "Ada yang ingin kau katakan?" katanya melipat kedua tangannya di atas dada dan bertanya pada anak sepuluh tahun yang masih diam tak bicara.
Pencuri kecil itu pun memejamkan erat matanya sebelum akhirnya kembali menghela nafas dan memberanikan diri menatap Luhan "Aku minta maaf karena telah mencuri dan menggores lenganmu. Aku terpaksa melakukannya karena membutuhkan uang. Aku mohon jangan laporkan aku pada polisi. Aku datang kesini untuk mengembalikan dompetmu."
Luhan benar-benar tertawa kecil mendengar si anak sepuluh tahun didepannya berbicara dengan satu hembusan nafas, menolak menatapnya sambil meletakkan dompet yang ia curi dari Luhan di atas meja.
Luhan sendiri memeriksa dompet yang dikembalikan dan sedikit mengernyit karena jumlah uang di dompetnya tidak berkurang sama sekali "Apa ini? kenapa uangku masih banyak?" katanya bertanya pada si pencuri kecil yang tampak bingung dengan pertanyaan Luhan.
"A-aku hanya mengambil sepuluh ribu won dari dompetmu. Sisanya aku kembalikan."
"Dan kenapa kau hanya mengambil sepuluh ribu won?" gumam Luhan terdengar sangat kesal karena uangnya sama sekali tak berkurang.
"Aku-...Aku hanya membutuhkan sepuluh ribu won untuk membeli obat. Adikku sedang demam tinggi dan aku harus membelikannya obat." Katanya sedikit takut namun sangat bingung karena Luhan tampak sangat marah uangnya berkurang sedikit.
Luhan kemudian memijat kencang kepalanya dan tak lama meletakkan kembali dompetnya ke atas meja "Katakan padaku siapa namamu?"
"Apa kau akan melaporkanku ke polisi?"
"Tidak perlu repot ke polisi. Suamiku juga bisa memberimu pelajaran. Dia mafia mengerikan asal kau tahu." Gumam Luhan kembali menakuti di pencuri kecil membuatnya kembali tertawa saat ini "Aku bercanda. Cepat katakan padaku siapa namamu."
"Aku tidak akan melaporkanmu pada polisi." Katanya meyakinkan membuat anak sepuluh tahun itu memberanikan diri menatap Luhan.
"Seunghwan-..Namaku Baek Seunghwan."
Luhan kembali tersenyum dan mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan pria kecil didepannya "Aku Luhan. Senang berkenalan denganmu."
Pria kecil bernama Seunghwan itu pun kembali bingung dan menatap Luhan tak mengeri sampai Luhan memaksanya untuk menjabat tangannya "Kau tidak marah padaku. Aku bisa menjelaskannya padamu." katanya menyambut tangan Luhan dan bersalaman tangan dengan dokter cantik yang sedari tadi berbicara padanya tak pernah berhenti tersenyum memandangnya.
"Aku tidak marah. Aku hanya-..."
Drrt...drrt..
Luhan kembali merasakan ponselnya bergetar dan sedikit membelalak menyadari kalau dia mengabaikan suaminya terlalu lama, Luhan mengambil cepat ponsel yang berada di sakunya dan sedikit terdiam memandang nama Oh Sehun di layar ponselnya. Membuatnya sedikit menghela dalam nafasnya dan tersenyum menatap Seunghwan
"Kau tak perlu menjelaskan padaku. Kau harus menjelaskan pada seseorang." Katanya memberitahu Seunghwan yang semakin tak mengerti kenapa pria yang dia ketahui adalah dokter itu terlalu baik saat berbicara dengan pencuri kecil sepertinya.
..
..
..
Tring...!
Tak lama kemudian pintu kantin rumah sakit kembali dibuka dengan kasar menampilkan seorang pria dengan ketampanan tak tertandingi sedang berdiri di depan pintu kantin mencari keberadaan pria cantiknya yang begitu membuatnya gusar seharian ini. Matanya masih mencari sampai seseorang yang jelas adalah istrinya tengah tersenyum melambai memanggil namanya.
"Sayang disini."
Pria bernama Oh Sehun itu pun membuka kacamata hitamnya dan menatap terlampau tajam ke sosok cantik yang masih berani tertawa setelah membuatnya hampir gila karena teleponnya tak diangkat hampir lima jam lamanya.
"Bos kau harus tenang. Luhan lebih menakutkan jika sedang marah."
Sehun mendelik tajam ke asal suara yang kini mengikutinya membuat si penjaga sang istri yang sedari pagi berada di markas untuk mengikuti rapat dengan bos nya hanya menelan air liurnya takut karena Sehun benar-benar menakutkan dalam kondisi apapun jika menyangkut tentang Luhannya.
"Oh Luhan kau-.."
"Suamiku sangat tampan .hmmm. Tubuh suamiku juga sangat harum."
Luhan yang tahu akan dimarahi habis-habisan mengambil langkah terlebih dulu dengan memeluk erat suaminya dan sengaja mengeluarkan seluruh kalimat pujiannya agar Sehun merasa senang dan melupakan kemarahannya.
"Lu. Tidak akan mempan." Gumam Kai berbisik membuat Luhan tertawa pasrah karena sang suami masih tak merespon pujiannya.
"Sehunna aku tadi rapat dan tak bisa mengangkat panggilan darimu. Jangan menatapku seperti itu." Katanya menjelaskan dan sedikit berjinjit mengecup bibir sensual pria tampan yang sudah menjadi suaminya hampir lima tahun lamanya.
"Berhenti menggodaku."
Luhan terkekeh mendengar balasan Sehun, membuat dirinya melipat kedua tangan di atas dadanya dan memandang sama tajam dengan yang Sehun lakukan saat ini.
"Aku tidak menggodamu. Aku sedang menjelaskan." Katanya berkilah membuat radar Sehun bekerja dengan cepat menyadari kalau jika dia seperti ini terus maka akan berakhir bertengkar tidak penting dengan istrinya.
"Kau sedang mengancamku ya?" gumam Sehun yang akhirnya tertawa kecil membuat Luhan bersorak senang dalam hati.
"Ini dinamakan pertahanan diri Tuan Oh." Katanya masih bersikap dingin membuat Sehun kembali tertawa gemas melihatnya.
"Kemari." Gumam Sehun meminta Luhan untuk memeluknya dan tak lama
"Aku menang kan?" Gumam Luhan bertanya sedikit melompat dan berakhir berada di pelukan hangat Sehun yang langsung mendekap erat tubuh mungil pria cantiknya saat ini.
"yaaa..Luhan menang lagi." gumam Sehun mengulang dan sedikit terkejut saat
"y-YAK!"
Saat Kai tiba-tiba berteriak membuat Sehun melepas pelukannya pada Luhan dan menatap marah pada anak buahnya "Kim Jongin kau-..!"
"Bos-..Astaga Bos. Anak ini-..Dia pencuri kecil itu. Dia yang membuat Luhan terluka. Aku yakin sekali dia bocah tengik ini!"
Sehun yang awalnya marah menatap Kai, kini berbalik menatap punggung bocah kecil yang sedari awal sudah duduk bersama dengan istrinya. Membuat dirinya begitu menggeram marah dan seketika melewati Luhan yang terdengar menghela dalam nafasnya .
"Sayang dengarkan aku sebentar." Luhan berusaha berbicara dengan suaminya namun percuma karena saat ini seluruh tatapan menakutkan Sehun hanya untuk bocah sepuluh tahun yang hanya menundukkan kepalanya tak berani menatap sekumpulan orang dewasa didepannya.
"JADI KAU BOCAH SIALAN ITU HAH ?!" Sehun mencengkram erat kaos usang yang digunakan si pencuri kecil, membuat bocah bernama Seunghwan itu terlihat kesulitan bernafas karena cengkraman Sehun sedikit banyak membuatnya tercekik dan tak bisa bernafas dengan baik.
"Jongin..."
Merasa dipanggil namanya pun, membuat Kai segera menghampiri Sehun dan menatap puas karena tak perlu susah payah mendapatkan si pencuri yang telah membuatnya babak belur karena kemarahan Sehun dua hari yang lalu "Ya bos. Ada apa?"
"Bawa bocah sialan ini ke markas. Aku akan memberinya pelajaran disana." Katanya menghempas kasar Seunghwan membuat Luhan sedikit membelalak dan Kai menyeringai menang "Baik bos. Kemari kau sialan." Katanya menggeram dan membawa kasar Seunghwan membuat Luhan benar-benar marah saat ini.
"wow..wow..Tahan dulu Tuan Oh." Gumam Luhan menghempas kasar tangan Kai yang mencengkram erat Seunghwan dan membawa bocah sepuluh tahun itu ke pelukannya mengabaikan tatapan bingung dan marah yang diberikan suaminya dan penjaganya.
"Dia bukan bocah sialan. Namanya Seunghwan-..Dia bersamaku, jadi kalian tidak bisa membawanya kemanapun tanpa persetujuan dariku. Oke?" Katanya memberikan statement berperang melawan suaminya yang kini menatap marah dan terlihat tertawa menyeramkan didepannya.
"Luhan apa yang kau lakukan?" Kai sedikit terkejut saat Luhan menghempas kasar tangannya dan membawa Seunghwan ke pelukannya saat ini mengabaikan Sehun yang kini menatapnya tak berkedip.
"Sayang biarkan Kai membawanya pergi."
Nada suara Sehun sudah berubah menjadi berat dan Luhan tahu benar kalau saat ini prianya sedang benar-benar marah dan tak bisa mengontrol dirinya untuk bersabar lebih lama lagi.
"Dia tetap disini. Bersamaku." Gumamnya kembali membuat Sehun tertawa marah dan mengepalkan erat tangannya tak habis pikir dengan tingkah istrinya.
"Luhan..."
"Sehun cukup! Aku memintamu datang kesini bukan untuk membawa dan menyakiti Seunghwan. Aku ingin kau mendengar penjelasan kenapa dia mencuri dariku. Jadi berhenti membuatnya keta-.."
"TAPI DIA PENCURI SIALAN YANG TAK BISA DIBIARKAN BERKELIARAN!"
Luhan sedikit tersentak saat Sehun berteriak dihadapannya. Membuat nafasnya begitu tersengal karena kembali harus menghadapi keegoisan Sehun yang begitu tak terkalahkan. Keduanya saling menatap dengan emosi masing-masing saat ini. Sampai raut wajah terkejut Luhan berubah menjadi seringaian frustasi dengan bibir tersenyum getir menatap suaminya
"Lalu aku harus bagaimana? Suamiku juga seorang mafia yang tak bisa dibiarkan berkeliaran. Dia bahkan lebih mengerikan dari pencuri kecil yang hanya mengambil sepuluh ribu won dariku. Jadi katakan padaku-..katakan padaku AKU HARUS BAGAIMANA OH SEHUN?!"
Tanpa sadar kaki Sehun melangkah mundur saat entah sudah keberapa kalinya Luhan menyerangnya dengan pekerjaan yang ia lakukan. Dia akui dia memang mengerikan. Dia pembunuh bertangan dingin, dia tidak segan-segan menghabisi siapapun tanpa rasa belas kasih yang sama sekali tak pernah ia miliki sedari kecil hidupnya. Dia juga tak pernah mempedulikan bagaimana dulu orang-orang di sekitarnya menatap dirinya seperti seonggok sampah. Sampai perlahan dirinya menunjukkan siapa dia sebenarnya, dan berakhir menjadi seseorang yang begitu kejam untuk mempertahankan hidupnya sendiri.
"Sayang aku tidak bermaksud berbicara seperti itu."
Luhan sendiri menyadari kalau dirinya sudah keterlaluan karena kembali menyerang Sehun dengan semua kegiatan mengerikan yang suaminya lakukan. Membuatnya perlahan melepas pelukan Seunghwan dan berjalan mendekati Sehun untuk meminta maaf padanya.
"Jangan mendekat."
Langkah Luhan seketika terhenti saat suara berat Sehun menginterupsi menandakan kalau saat ini dia sama sekali tak ingin berinteraksi dengan dirinya. Membuat pria yang berprofesi sebagai dokter itu begitu menyesal karena terus tak bisa menahan diri untuk tidak berkata kasar pada sosok kejam yang begitu rapuh didepannya.
"Sehun aku-.."
"Aku mengerikan aku tahu. Kau tak perlu terus mengulangya Lu. Dan jika memang kau ingin bersama dengan pencuri sialan itu. Lakukanlah-...Lakukan apapun yang kau mau Lu." Katanya tertawa pahit dan merasa begitu kecewa dan marah disaat bersamaan.
"Jongin kita pergi."
Kai yang tahu keadaan akan semakin memburuk jika keduanya masih berada di ruangan yang sama itu pun hanya mengangguk dan berjalan mengikuti kemana bos nya pergi dan mengabaikan wajah memucat Luhan yang tengah menyesali ucapan yang ia lontarkan pada suaminya beberapa saat yang lalu.
"Kenapa selalu berakhir seperti ini…"
Luhan seketika tertunduk dengan tangan yang mengepal erat sampai akhirnya dia merasa ada seseorang yang menarik jas putihnya membuatnya sedikit menoleh dan mendapati Seunghwan yang memandangnya dengan takut saat ini "Maafkan aku." Gumamnya membuat Luhan tersenyum lirih menatapnya.
"Tidak perlu meminta maaf, ini bukan salahmu." Katanya meyakinkan Seunghwan yang masih tak berbicara saat ini.
"Kau bilang adikmu sedang sakit?" katanya kembali bertanya dan berjongkok didepan Seunghwan yang hanya mengangguk kecil "Kalau begitu kita ke rumahmu. Aku akan memeriksa adikmu dan memberikannya obat." Katanya memberitahu Seunghwan yang menatapnya berbinar saat ini.
"Benarkah?"
"Ya tentu saja. Kau sudah mengembalikan dompetku, jadi aku juga akan membantumu." Katanya menggandeng tangan Seunghwan dan mulai berjalan meninggalkan kantin rumah sakit membuat Seunghwan benar-benar tersenyum saat ini "Terimakasih dokter Oh."
"Darimana kau tahu aku seorang dokter?"
Seunghwan sedikit menggigit kecil bibirnya sebelum mendongak menatap Luhan "Aku melihatnya dari tanda pengenal yang berada di dompetmu."
"ah-begitu...Lalu kenapa kau memutuskan untuk mengembalikan dompetku?"
"Adikku menangis hebat dan sangat marah saat tahu aku mencuri. Dia bilang tidak akan meminum obatnya sebelum aku mengembalikannya padamu."
"Kau tidak memiliki orang tua ya?"
"eh? Darimana kau tahu?"
"Hanya menebak." Gumam Luhan tersenyum kecil merasa kehidupan yang Seunghwan, Sehun dan dirinya alami semasa kecil tidak berbeda jauh. Yang membedakan Luhan dan Seunghwan masih memiliki orang yang menyayangi mereka. sementara Sehun-...Suaminya tidak seberuntung dirinya atau Seunghwan. Karena sejak kecil Sehunnya hidup seorang diri di lingkungan yang mengajarkan kekerasan untuk bertahan hidup tanpa ada yang benar-benar peduli padanya, membuat Sehun tumbuh menjadi seseorang yang begitu dingin dan menakutkan hingga saat ini.
..
..
..
Drrt..drrtt…
Seorang pria tampan yang masih tak berbicara setelah pertengkaran dengan istrinya tampak tak bergeming dan mengabaikan bunyi getaran ponsel yang hampir lima belas menit ia abaikan karena saat ini seluruh pikirannya hanya tertuju untuk pria cantiknya yang mungkin marah setelah pertengkaran mereka belum lama tadi.
Drtt..drtt..
"Bos.."
Kai yang menyadari bosnya sedang melamun berusaha memberitahu Sehun bahwa ponselnya terus bergetar menebak bahwa Max yang sedang menghubungi Sehun terus menerus.
"Bos!" katanya kembali memanggil Sehun cukup kencang membuat Sehun sedikit menoleh ke arahnya sekilas.
"Ada apa?"
"Ponselmu terus bergetar. Sepertinya penting." Gumam Kai melihat dari kaca mobil membuat Sehun mengalihkan perhatiannya dan segera mengambil ponsel yang berada di sakunya.
"Ada apa Max?"
Kai yang menebak dengan benar pun sedikit tersenyum sambil memperhatikan Sehun dari spion mobil sampai kedua alisnya terangkat saat melihat wajah Sehun berubah begitu menjadi dingin dengan seringaian di wajahnya.
"Kerja bagus. Aku akan segera kesana."
Kai pun segera mengalihkan pandangannya dan fokus menyetir sampai Sehun kembali memberi perintah padanya "Kai nyalakan GPS dan ikuti kemana Max pergi."
"Ya bos."
Dan tanpa banyak bertanya Kai menyalakan GPS nya lalu segera mengikuti Max yang sepertinya sedang menuju ke selatan Yongsan saat ini.
Ckit….!
Dan setelah memakan waktu hampir satu jam, Kai memberhentikan mobilnya tepat di tempat dimana Max dan teman-temannya berada. Sedikit mengernyit karena untuk kali pertamanya selama bekerja dengan Sehun seluruh anak buah yang bekerja untuk Sehun tampak hadir didepan gedung tua yang sepertinya dijadikan tempat untuk melakukan transaksi berbahaya.
"Selamat datang bos."
Max dan Yoochun membukakan pintu untuk Sehun yang terlihat puas melihat beberapa penjaga gedung tua itu tampak tak bernyawa dengan setengah bagian dari senjata yang berhasil menjadi miliknya tanpa perlu mengeluarkan biaya sepeser pun.
"Dimana bajingan itu?"
Dan dari semua berita bagus yang diberikan Max unuknya, hanya satu yang benar-benar membuat Sehun begitu murka dan tak sabar untuk segera menghabisi pria yang menyebabkan kehidupan pribadinya begitu terusik karena telah berani menyentuh kehidupan keluarga kecilnya yang membuat Sehun harus kehilangan putra kecilnya terlalu cepat.
"Dia masih berada di gedung tua itu bos. Dia masih belum menyadari kekacauan diluar sini." Gumam Max memberitahu Sehun yang semakin menyeringai mengerikan.
"Bagus. Pastikan dia dan anak buahnya tidak lagi bernyawa hari ini." gumam Sehun berjalan memasuki gedung tua diikuti hampir sebagian besar anak buahnya yang sengaja ia datangkan untuk hari ini.
"Max sebenarnya ada siapa didalam?" Kai yang tida mengerti pun sedikit bertanya namun melihat wajah Max saat ini dia yakin dia tidak akan mendapatkan jawaban.
"Tunggu disini dan pastikan tak ada yang masuk kedalam gedung itu Kai. Bos benar-benar membutuhkan kita saat ini."
"Apa yang kau bicarakan?" gumam Kai yang hanya menatap gusar kepergian Max dan Yoochun ke dalam gedung sementara dirinya harus berjaga di luar bersama sebagian besar penjaga yang masih sibuk memindahkan senjata ke mobil khusus milik Sehun.
Sementara itu….
Tap…tap…tap
Terdengar langkah kaki seseorang yang sedang berlari begitu panik menuju satu ruangan untuk memberitahu keadaan yang terjadi tepat di lantai dasar dan di luar gedung yang merupakan markas utama mereka jika sedang melakukan transaksi, membuat si pria China yang bernama Fei Long itu terlihat memucat dan ingin segera memberitahu pimpinan dari transkasi senjata gelap dan obat-obatan terlarang yang sampai saat ini berada di ruangannya.
Brak….!
Pria bernama Fei Long yang berusia sekitar dua puluh lima tahun itu tampak membuka pintu dengan tergesa membuat pria yang ada didalamnya sedikit menoleh dan mengerutkan dahinya sedikit bertanya-tanya "Ada apa?"
"Kris kita dijebak."
Mendengar partnernya berbicara dengan tersengal pun membuat pria yang terkenal kejam dan mengerikan di dunianya itu sedikit membelalak berusaha mencerna apa yang sedang dikatakan partnernya saat ini. "Katakan dengan jelas."
"Semua anak buah kita dibunuh dan seluruh senjata yang harus kita jual di curi. Aku tidak tahu siapa yang melakukan ini tapi yang jelas orang ini memiliki pengaruh dan terlihat begitu murka pada kita." Katanya memberitahu Kris dan memasukkan beberapa senjata yang masih tersisa ke dalam tas bersiap untuk pergi.
"CEPAT BERKEMAS MEREKA SEDANG BERJALAN MENUJU KESINI."
"brengsek. Siapa yang berani menghancurkan bisnis kita!"
"Kita cari tahu nanti. Sekarang kita pergi. lewat sini."
Kris dan Feilong baru saja akan melewati pintu rahasia mereka sebelum
BUGH…!
Tubuh mereka kembali terhempas kasar ke dalam ruangan membuat keduanya sedikit terkejut dan memucat saat ini.
"SIAPA KALIAN?!"
Kris berteriak namun hanya pukulan bertubi yang ia terima dari beberapa pria yang sangat terlatih dan kejam tanpa mendapat jawaban apapun sampai sebuah suara yang begitu dingin dan mengerikan terdengar begitu menakutkan membuat dirinya berusaha menoleh ke asal suara.
"Wu-Yi-Fan."
Yifan yang sudah babak belur hanya bisa melihat samar sosok yang kini duduk di kursinya dengan seringaian yang ada di wajahnya "Akhirnya kita bertemu." Gumam Sehun dengan nada yang terdengar begitu tenang namun begitu membunuh untuk di dengar saat ini.
"o-Oh Sehun?!"
Yifan pun sama sekali tak menyangka jika pria yang menjebaknya adalah pria yang sama yang ingin sekali ia bunuh didepan teman kecilnya. Pria yang selalu ia jadikan ancaman untuk Luhan agar teman kecilnya merasa ketakutan kini berbalik menyerangnya begitu cepat dan tanpa cela sedikitpun.
"Ck. Menjijikan sekali mendengar namaku disebut olehmu." Katanya menggeram mengusap telinganya dengan cepat lalu tak lama kembali menatap murka pada sosok yang seperti anjing peliharaan untuknya saat ini "Hajar dia." Katanya memberi perintah dan tak lama seluruh penjaganya kembali memukuli Kris dengan keji membuat Sehun begitu menikmati pembalasan yang sedang ia lakukan untuk pembunuh putranya.
"LEBIH KENCANG!" Sehun tiba-tiba berteriak membuat seluruh anak buahnya memukuli tanpa ampun sampai matanya bertatapan dengan mata Kris yang sudah tersungkur di lantai. Dan alih-alih meminta ampun, pria brengsesk itu malah tersenyum menyeringai menatapnya.
"Sebaiknya kau membunuhku hari ini Oh Sehun. Jika tidak, aku akan-.."
BUGH..!
Ucapan Kris terpotong saat beberapa balok kembali menghantam tubuhnya berulang, membuat tak hanya darah namun beberapa tulangnya terasa remuk redam. Sehun masih memperhatikan pemandangan didepannya sampai
"JIKA KAU TIDAK MEMBUNUHKU HARI INI AKU BERSUMPAH AKAN MEMBUNUH LUHAN SEPERTI AKU MEMBUNUH PUTRAMU!"
Suasana seketika menegang mendengar pernyataan yang dilontarkan Kris saat ini. membuat tak hanya Sehun namun juga beberapa anak buah Sehun yang mengenal Luhan dan Ziyu begitu menggeram karena bajingan sialan seperti Kris begitu berani mengancam bos mereka yang terlihat memucat saat ini.
Yoochun menyadari perubahan wajah Sehun saat ini, sedari awal bertemu dengan Kris, bos nya terlihat percaya diri dan tak terkalahkan tapi saat nama Luhan disebut semua yang merupakan kelemahan Sehun seakan membuatnya tenggelam dan terlihat ketakutan karena Kris baru saja mengatakan akan membunuh pria yang mungkin menjadi satu-satunya alasan mengapa Sehun bisa bertahan hidup sampai saat ini.
Yoochun dengan jelas melihat tangan Sehun mengepal erat dengan nafas yang memburu sampai
"HENTIKAN!"
Sampai Sehun memberikan perintah kepada anak buahnya untuk berhenti memukuli Kris dan partnernya yang sudah tersungkur tak berdaya saat ini.
"Kenapa? Takut kehilangan Luhan huh?"
Kris merasa menang karena menebak terlalu tepat apa yang menjadi ketakutan pria angkuh didepannya. Membuat seakan rasa takutnya hilang entah kemana karena mulai menguasai keadaan saat ini.
Sehun pun semakin erat mengepalkan erat tangannya dan perlahan berjalan mendekati Kris, sampai akhirnya dia berada didepan bajingan yang berani mengancamnya dan menjambak erat rambut pria yang akan ia habisi dengan kedua tangannya sendiri sesaat lagi
"Jadi benar kau adalah orang yang membunuh putraku?" katanya mendesis semakin menarik rambut Kris membuat pria berwajah oriental tersebut semakin meringis karena kesakitan.
"JAWAB AKU!" katanya berteriak dan
BUGH!
Sehun menendang kencang tubuh Kris membuat pria didepannya semakin banyak mengeluarkan darah.
"brengsek! JAWAB AKU."
Aura mengerikan Sehun semakin terasa, membuat semua yang berada di ruangan itu hanya bisa diam tak berani melakukan apapun kecuali Sehun memberi perintah mereka.
"uhuk..! Aku yang merencanakannya tapi bukan aku yang membunuh putramu. Seseorang melakukannya dan kau akan terkejut jika tahu siapa yang membuat tubuh kecil putramu terhempas mengerikan saat itu." Gumam Kris terbatuk mengeluarkan darah namun tak bisa menyembunyikan rasa senangnya melihat wajah Sehun yang begitu memucat.
"Aku menyaksikannya Sehun. Aku melihat dengan jelas saat wajah malaikat kecilmu meregang nyawa saat itu. Saat jeritan dan tangisan Luhan begitu terdengar merdu di telingaku. AKU MENANG DAN LUHAN KEHILANGAN SEGALANYA!"
"BAJINGAN SIALAN!"
Habis sudah kesabaran Sehun, mendengar semua penuturan dari pria yang menyimpan dendam begitu kuat pada istrinya membuat Sehun begitu marah. Dia kembali menghajar Kris sampai akhirnya
Ckrek…!
Sehun mengokang pistolnya dan mengarahkannya tepat di dahi Kris. Dia benar-benar akan menarik pelatuknya sebelum Kris kembali menyeringai menatap dalam ke matanya.
"Jika aku jadi kau- uhuk..- Aku akan bertanya pada Luhan dia ada dimana saat ini. apa dia baik-baik saja dan tak ada yang mengikutinya. Karena jika kau menjadi aku. Harusnya kau tahu, kau akan selalu mempunyai rencana B"
Dahi Sehun seketika mengernyit, membuatnya semakin menekan dalam pistol yang berada di dahi Kris saat ini "Apa maksudmu hah?!"
"Serangan pertama." Katanya kembali berbisik membuat Sehun semakin mengernyit.
"Kau benar-benar membuang waktuku bajingan."
Sehun semakin menggeram dan tak berpikir panjang sebelum Kris kembali bersuara "Bunuh aku dan Luhan akan mati hari ini." katanya kembali mencoba mengalihkan fokus Sehun yang saat ini memucat dan ketakutan.
"Hari pertama aku bertemu Luhan, aku memasang penyadap di ponselnya. Dan kau tahu, saat kau datang kemari aku meminta pembunuh terbaikku untuk menyalakan GPS nya dan saat ini mereka sedang mengikuti kemana pun Luhan pergi dan memastikan tidak akan pergi sebelum Luhan menghembuskan nafas terakhirnya."
Sehun merasa dirinya diserang saat ini, entah sudah berapa kali dia harus mati-matian ketakutan saat mendengar Kris menyebut nama Luhan saat ini. Dia tahu Kris sedang mengalihkan perhatiannya membuatnya sangat marah dan berniat menarik pelatuknya sampai…
..
..
..
"Baek Seunghwan, bagaimana bisa rumah kardus ini kau bilang rumah? Pantas saja adikmu tidak pernah sembuh. Kau harus mencari tempat yang lebih layak."
Saat ini Luhan sedang berada di gubuk tua yang tak layak huni tempat dimana Seunghwan dan adik kecilnya menetap. Dan karena sang adik sedang demam tinggi maka sang kakak pun berniat membuat adiknya hangat dengan menyusun kardus menjadi rumah agar hawa dingin tak adiknya rasakan.
"Iya nanti saat aku mendapat pekerjaan aku akan kembali menyewa flat kecil. Belum lama kami diusir karena menunggak tiga bulan."
Luhan sedikit terkekeh mendengar pernyaaan memilukan bocah sepuluh tahun didepannya saat ini "Mereka tega sekali." Gumam Luhan sedikit tertawa dan mulai membuang kardus-kardus yang berbentuk rumah yang dibuat Seunghwan saat ini.
"Siapa nama adikmu?"
"Yerin. Namanya Baek Yerin."
"oppa.."
"Yerinaaa…Kau akan sembuh. Lihat oppa membawa dokter untukmu." Katanya bersemangat memberitahu adiknya yang semakin memucat.
"Oppa. Apa kau sedang berbohong lagi?" katanya bertanya pada Seunghwan membuat Luhan sedikit tertawa.
"Tentu saja tidak. Iya kan dokter Oh?" katanya meminta bantuan pada Luhan yang hanya tersenyum saat ini.
"Yerin anyeong. Aku Luhan dan benar aku adalah dokter. Jadi oppa mu tidak berbohong." Gumam Luhan sedikit mengusap dahi Yerin dan sedikit mengernyit menyadari suhu tubuh Yerin yang begitu panas.
"syukurlah. Apa Yerin akan sembuh?" katanya bertanya pada Luhan yang memeriksa denyut dan suhu tubuh Yerin saat ini.
"Tentu saja cantik. Berapa usia Yerin saat ini?" katanya bertanya pada Yerin yang menjawab dengan senyum
"Enam tahun dokter Oh. Lusa Yerin berulang tahun."
"whoaa benarkah? Kalau begitu ulang tahun kita tidak berbeda jauh." Gumam Luhan yang terpaksa menghela nafasnya menduga kalau adik Seunghwan saat ini sedang terjangkit malaria.
"oppa dingin." Katanya memberitahu Seunghwan yang terlihat panik saat ini.
"Dokter, kau mau membawa Yerin kemana?"
"Yerin bilang dia kedinginan. Dia harus dibawa ke tempat hangat kan?" gumam Luhan menggendong Yerin dan menggenggam tangan Seunghwan saat ini.
"Apa adikku harus dirawat?"
"sst…Kau membuatnya takut." Gumamnya memberitahu Seunghwan agar tidak menakuti adiknya.
"Kau tenang saja. Kita akan menyembuhkan adikmu dan jangan memikirkan biayanya. Oke?" katanya menebak apa yang membuat Seunghwan ketakutan membuat wajah si kakak seketika tersenyum karenanya.
"Duduklah dibelakang. Kau jaga adikmu." Luhan membuka pintu belakang mobilnya meminta Seunghwan masuk terlebih dulu sebelum akhirnya dia membaringkan Yerin di pangkuan kakaknya.
Luhan sedikit tersenyum melihat Yerin berbaring nyaman didalam mobilnya, membuatnya sedikit lega dan berniat segera pergi dari gubuk sepi yang berada di tempat kumuh itu sebelum tangannya yang sedang membuka knop pintu mobilnya ditahan oleh seseorang.
"Hey dokter. Tidak perlu terburu-buru." Katanya berbisik membuat Luhan tahu kalau yang berada dibelakangnya bukan seseorang yang akan berbaik hati membiarkannya pergi.
"tenang Luhan…tenang."
"Sebaiknya kau ikut denganku sebelum aku menyakitimu dokter." Katanya kembali mengancam Luhan membuat tubuh Luhan bergetar ketakutan dengan Seunghwan yang menatapnya takut saat ini.
"Apa maumu?" katanya bertanya masih tidak membalikan tubuhnya.
"Perintahnya adalah membunuhmu." Tubuh Luhan seketika menegang saat kalimat membunuh kembali diucapkan dengan mudah oleh seseorang yang berada di belakangnya saat ini. membuatnya memejamkan mata berusaha menenangkan diri sebelum kembali menghela nafasnya dan
BUGH!
Luhan membuka kencang pintu mobilnya membuat wajah si pria yang sedari tadi mengancamnya sedikit tersungkur karena gerakan tiba-tiba darinya. Dan Luhan sama sekali tak menyia-nyiakan kesempatan itu, dia segera memasuki mobilnya dan
Brmmmm….!
Luhan menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi mengabaikan suara tangisan Seunghwan yang semakin membuatnya ketakutan "Dokter mereka siapa?"
"Entahlah aku tidak ta-.."
BUGH..!
Mobil Luhan sedikit bergeser saat mobilnya ditabrak dari sebelah kanan, membuat kecepatan mobilnya tak beraturan sedikit tak menentu.
"Sehunn.."
Luhan ingin menjerit saat ini, tapi dia tahu dia tidak membuat keadaan semakin baik jika ketakutan. Dia kemudian mengeluarkan ponselnya dan speed dial nomor suaminya berharap Sehun segera mengangkatnya dan segera datang menolongnya.
"Angkat Sehun…aku mohon"
BUGH!
"Sial!"
Luhan sedikit mengumpat karena Sehun tak kunjung mengangkat ponselnya sementara dua mobil yang berada di samping kiri kanannya terus menyenggolnya bergantian. Luhan sudah putus asa saat ini. dia begitu ketakutan dan tak tahu harus melakukan apa, sampai dia mengingat Sehun meletakkan sebuah alat kecil di laci dashboard mobilnya.
Luhan mengambilnya terburu-buru dan sedikit tersenyum saat alat kecil berwarna merah itu benar masih berada di mobilnya walau dirinya sudah berkali-kali menolaknya.
"Seunghwan..pasangkan alat ini ke ponselku, cepat!" gumam Luhan memberitahu Seunghwan sementara dirinya fokus menyetir menghindari kejaran dua mobil yang terus menerus menyenggolnya.
"Tidak lagi." Gumam Luhan menyadari mobilnya akan kembali dihantam dari samping secara bersamaan membuatnya
Ckit…!
Luhan mengerem dadakan mobilnya, membuat kedua mobil yang berada disampingnya berada di depan sementara dirinya langsung membelokan mobilnya memasuki gang kecil dan kembali menjalankan mobilnya dengan cepat.
"Dokter sudah terpasang."
Luhan mengambil cepat ponselnya untuk mencari aplikasi yang menghubungkannya ke ponsel Sehun dan
Pip…
Seketika tulisan alert tertera di ponselnya. Luhan tidak mengerti bagaimana cara kerjanya, yang jelas dia sudah menekannya dan setelahnya dia hanya berharap kalau alat kecil itu benar-benar berfungsi. Luhan merasa frustasi karena tak ada yang berubah, membuatnya melempar kesal ponselnya ke samping kursi kemudi dan kembali fokus menjalankan mobilnya
"Sehun tolong aku. Aku takut." Saat ini yang ada di benak Luhan hanya suaminya. Membayangkan bagaimana keduanya bertengkar sore ini membuatnya ketakutan dan merasa begitu ingin menangis memikirkan bila hari ini adalah hari terakhirnya melihat Sehun.
Sementara itu…
.
Pip..pip..
"Apa ini?" gumam Kai dan Shindong bersamaan karena kedua ponsel mereka terus bergetar membuat keduanya mengambil ponsel mereka dan seketika membelalak melihat kalimat alert yang masing-masing tertulis di ponsel mereka.
"Hyung apa ini?" Kai bertanya sedikit ketakutan menyadari kalau ini adalah alat yang diberikan Sehun untuk Luhan saat dirinya sedang dalam kesulitan.
"Kai sepertinya Luhan-.."
"oh shit!"
Kai segera mematikan tanda alert nya dan segera menghubungi kenalan yang ia tahu adalah teman dekat Luhan di rumah sakit untuk bertanya dimana Luhan. sedikit menggeram saat mengetahui Luhan tidak berada di rumah sakit.
"Hyung dia tidak dirumah sakit. cepat beritahu Bos, aku akan segera mencarinya." Gumam Kai begitu ketakutan dan
Brrmmm….
Tanpa berpikir panjang, Kai menjalankan mobilnya untuk segera mencari Luhan sementara Shindong mengangguk dan berlari menuju ke dalam gedung untuk segera memberitahu Sehun.
"BOS….!"
Sampai pintu ruangan Kris kembali terbuka dan menampilkan Shindong yang sedari tadi bersama Kai berjaga di luar.
"Ada apa?"
"LUHAN -…Dia menyalakan ini."
Sehun membelalak saat Shindong menunjukkan alat kecil yang Sehun berikan untuk Luhan saat musim panas. Itu adalah alat yang dipasangkan Sehun di ponsel istrinya yang bisa digunakan Luhan untuk memberitahukan kalau dirinya berada dalam bahaya.
Luhan sama sekali tidak menyukai alat itu membuatnya bersumpah untuk tidak menggunakan alat kecil yang secara otomatis terhubung di ponselnya dan di ponsel Kai, Max, Yoochun dan Shindong kecuali dia benar-benar dalam situasi sulit.
"Kai sudah pergi mencari Luhan. Dia tidak berada di rumah sakit saat ini" gumam Shindong memberitahu Sehun sampai suara Max dan Yoochun berteriak memanggilnya
"BOS..!"
Kali ini Yoochun dan Max yang menunjukkan ponsel mereka dengan tanda alert berwarna merahyang benar menandakan bahwa Luhan menekan alat yang dia berikan untuknya dan saat ini istrinya sedang dalam keadaan mengerikan.
"Aku sudah memperingatkanmu Tuan Oh. Bunuh aku dan Luhan mati hari ini." katanya menyeringai membuat Sehun begitu ketakutan saat ini dan
"BRENGSEK…!"
DOR…DOR…!
Sehun menembaki berulang kaki Kris membuat bajingan didepannya itu berteriak kesakitan sementara Sehun sangat ketakutan dengan pikiran kacau memikirkan istrinya yang entah berada dimana saat ini.
"CEPAT TEMUKAN LUHAN!"
tobecontinued…
.
No words. Just seeyou in next chap and next update :)
.
happy reading and review
