"BOS….!"

Sampai pintu ruangan Kris kembali terbuka dan menampilkan Shindong yang sedari tadi bersama Kai berjaga di luar.

"Ada apa?"

"LUHAN -…Dia menyalakan ini."

Sehun membelalak saat Shindong menunjukkan alat kecil yang Sehun berikan untuk Luhan saat musim panas. Itu adalah alat yang dipasangkan Sehun di ponsel istrinya yang bisa digunakan Luhan untuk memberitahukan kalau dirinya berada dalam bahaya.

Luhan sama sekali tidak menyukai alat itu membuatnya bersumpah untuk tidak menggunakan alat kecil yang secara otomatis terhubung di ponselnya dan di ponsel Kai, Max, Yoochun dan Shindong kecuali dia benar-benar dalam situasi sulit.

"Kai sudah pergi mencari Luhan. Dia tidak berada di rumah sakit saat ini" gumam Shindong memberitahu Sehun sampai suara Max dan Yoochun berteriak memanggilnya

"BOS..!"

Kali ini Yoochun dan Max yang menunjukkan ponsel mereka dengan tanda alert berwarna merahyang benar menandakan bahwa Luhan menekan alat yang dia berikan untuknya dan saat ini istrinya sedang dalam keadaan mengerikan.

"Aku sudah memperingatkanmu Tuan Oh. Bunuh aku dan Luhan mati hari ini." katanya menyeringai membuat Sehun begitu ketakutan saat ini dan

"BRENGSEK…!"

DOR…DOR…!

Sehun menembaki berulang kaki Kris membuat bajingan didepannya itu berteriak kesakitan sementara Sehun sangat ketakutan dengan pikiran kacau memikirkan istrinya yang entah berada dimana saat ini.

"CEPAT TEMUKAN LUHAN!"

.

.

.

.

.

.

.

.

Entangled

Main Cast : Sehun & Lu Han

Genre : Romance, Family, Hurt/Comfort

Rate : M

Length : Chapter

YAOI. Typo (s)

HUNHAN STORY!

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Suasana di gedung tua yang awalnya dijadikan tempat penjualan ilegal oleh Kris dan Feilong –partner kerjanya- terlihat begitu mengerikan saat ini. Bukan hanya karena banyak mayat terbaring di hampir seluruh ruangan di gedung tua ini, tapi juga karena dendam yang begitu terasa mengerikan antara Kris dan Sehun membuat suasana begitu menakutkan bahkan terkesan sesak karena setiap nafas yang dihembuskan, bisa merupakan nafas terakhir untuk semua orang yang berada di gedung tua saat ini.

Dan seolah tak akan pernah berhenti, keduanya terus saling melancarkan serangan. Dimana yang satu terus menggunakan segala kekuatan dan kekusaannya sementara yang satu terus menjadikan target tak bersalah untuk dijadikan korban. Untuk saat ini, entah siapa yang memenangkan keadaan tapi yang jelas keduanya bisa dikatakan didalam posisi yang sama. Mereka sama-sama menang walau dalam keadaan sama-sama terluka –entah fisik maupun batin keduanya- yang jelas keadaan sudah sangat kacau dan tak terkendali saat ini.

"CEPAT TEMUKAN LUHAN!"

Dan setelah memberi perintah, Sehun beserta seluruh anak buahnya bergegas meninggalkan Kris dan Feilong yang kini terkapar tak berdaya di gedung tua yang merupakan markas utamanya. Membuat si pria yang kini sedang mengerang kesakitan bersumpah akan membalas Sehun lebih keji dari yang dia lakukan dan bersumpah akan membuat Luhan membayar semua yang telah dilakukan si keparat itu kepadanya.

Uhuk…!

Tubuh Kris semakin menggigil kedinginan dengan pandangan yang mulai meremang karena darah di kakinya terus keluar membuat rona pucat di wajahnya begitu terlihat, membuatnya tertawa menyeringai dan bersumpah jika dia bisa selamat kali ini, dia hanya akan mengabdikan hidupnya untuk membalas Sehun dan Luhan.

"Bukankah aku sudah bilang? Bunuh aku hari ini atau aku yang akan datang membunuhmu di kemudian hari?" Gumam Kris sedikit tersengal dengan kemarahan yang begitu membuncah bahkan di saat kritisnya. Pria berdarah China itu pun seketika mengepalkan tangannya erat merasa tak boleh mati sebelum melihat salah satu dari Sehun atau Luhan berada di posisinya saat ini.

"aku tidak akan mati. Aku akan membalasmu Oh Se-Hun" Gumamnya penuh kebencian sebelum akhirnya melemas tak sadarkan diri.

Blam….!

"Perintahku adalah temukan Luhan dalam keadaan tak tergores sedikitpun. KALIAN MENGERTI!?"

Seluruh anak buahnya pun mengangguk dan tak lama memasuki mobil masing-masing untuk segera mencari Luhan –semua tak terkecuali Sehun- . Saat ini Sehun sudah menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi, memasang cepat handsfree di telinganya dan menekan cepat nomor Luhan

"sial!"

Sehun sedikit melempar ponselnya dan begitu menggeram karena nomor Luhan dialihkan saat ini. Dia kemudian mengambil kembali ponselnya dan segera menghubungi keempat tangan kanan nya dengan cepat.

Pip..!

Sehun menekan ponselnya dan secara otomatis terhubung dengan keempat anak buahnya

"Ya bos." Max yang juga terdengar sedang menjalankan cepat mobilnya menjawab koneksi terhubung yang Sehun lakukan.

"Berikan gambaran GPS Luhan padaku."

Max menekan tombol di ponselnya dan seketika gambaran tempat dimana Luhan sedang berada terlihat di layar ponsel Sehun saat ini.

"Apa yang dia lakukan di Hangang?" katanya bertanya begitu marah mengetahui istrinya tak berada di rumah sakit.

"aku-Aku tidak tahu bos." Gumam Max membalas dan semakin khawatir bosnya tak bisa menahan emosi karena terdengar begitu marah.

"HUBUNGKAN PADA KAI. CEPAT!"

"B-baik bos!" Max kembali menekan tombol di ponselnya dan

Pip.

"KAI..!"

Tanpa berlama-lama Sehun langsung berteriak memanggil Kai membuat Kai yang sedang fokus mengikuti kemana Luhan pergi dengan cepat memasang handsfree di kedua telinganya dengan satu tangan tetap menyetir dengan kecepatan tinggi.

"Bos aku hampir mendapatkan Luhan. Aku sudah berada dekat dengannya."

"KENAPA AKU TIDAK BISA MENGHUBUNGINYA."

"Bos tenang. Setiap kali dia menyalakan alat yang kau berikan, dia memang tidak akan bisa dihubungi. Jika dia mengangkat panggilan ponselnya kita secara otomatis kehilangan dimana posisi Luhan berada. Kita sudan membuat pengaturan pengalihan di ponselnya bos."

"LALU BAGAIMANA BISA KAU MENJAMIN ISTRIKU AKAN BAIK-BAIK SAJA HAH!?"

"Perkiraanku Luhan membawa mobilnya saat ini, dia masih terus bergerak dan berpindah dengan cepat, itu artinya Luhan masih baik-baik saja bos. Aku berada di posisi terdekat dengannya. Saat aku melihatnya nanti, aku akan mematikan pengalihan pengaturan di ponsel Luhan, dan saat kau tidak bisa melihat dimana Luhan berada itu artinya Luhan sudah bersama denganku." gumam Kai yang sedikit mengernyit karena tiba-tiba mobil Luhan berhenti di satu titik dan tak bergerak sama sekali.

"Kai…"

"Ya bos…" katanya masih terus fokus melihat keberadaan Luhan, sedikit berdebar karena Luhan benar-benar tak menggerakan mobilnya lagi saat ini.

"Temukan istriku-….. Aku mohon."

Perhatian Kai pada ponselnya sedikit teralihkan saat untuk pertama kalinya mendengar suara Sehun bergetar begitu ketakutan dan sangat memohon. Membuat Kai mengeratkan cengkramannya di kemudi mobil dan bersumpah akan melakukan apapun untuk mengembalikan Luhan pada Sehun.

"Aku akan melakukan apapun untuk menemukan Luhan bos. Percayakan padaku." Katanya memberitahu Sehun dan

Pip..!

Kai memutuskan panggilan Sehun dan menatap kedepan dengan amarah yang begitu terkendali, membuat dirinya bersumpah akan membunuh siapapun yang berani menyentuh Luhan atau membuatnya terluka.

"Kau harus bertahan Lu-..Sedikit lagi." Gumam Kai sedikit memohon agar Luhan tak menyerah dan

Brmmmm….!

Dan setelahnya Kai menambah kecepatan mobilnya untuk segera mendekati ke tempat Luhan berada.

.

Sementara itu…

"DOKTER AWAS!"

Mendengar suara teriakan Seunghwan, Luhan yang sedang memperhatikan ponselnya dan masih berharap Sehun atau siapapun segera menghubunginya pun sedikit menoleh sekilas ke kursi belakang sebelum

Ckit…..!

Dia menginjak kuat rem mobilnya melihat mobil hitam yang terus mengejarnya sudah berada didepannya saat ini, tangannya bergetar hebat sementara dirinya harus terus berpikir harus melakukan apalagi setelah ini. Dia kehabisan tempat untuk berlari merasa begitu frustasi karena tak ada satupun yang menghubunginya.

"CEPAT KELUAR!"

Tubuh Luhan sedikit tersentak saat pria berbadan besar itu berteriak memberi peringatan untuknya, Membuat tangannya yang berada di kemudi mobil semakin bergetar dan begitu lemas tak bisa menginjak gas mobilnya menyadari senjata kini ditodongkan ke arahnya.

"Dokter apa kita akan mati?"

Luhan baru menyadari kalau dirinya tak sendiri saat ini, ada dua anak kecil tak bersalah yang terpaksa terlibat dengan masalahnya. Membuat Luhan sedikit menoleh ke belakang dan berusaha tersenyum untuk menenangkan Seunghwan yang terlihat ketakutan "Aku janji kau akan baik-baik saja. Dan aku janji aku juga akan baik-baik saja. Aku tidak boleh mati saat ini-…setidaknya tidak saat aku sedang bertengkar dengan suamiku-." Ujarnya berkata lirih dan berusaha untuk tenang sebelum

Drrt…drrt..

Luhan hampir menjerit saat menoleh ke ponselnya dan melihat nama Jongin terpampang di layar ponselnya. Membuatnya dengan segera mengambil ponselnya dan segera menggeser slide ponselnya dengan tangan yang bergetar hebat.

"KAI!"

"Luhan kau baik-baik saja?"

Luhan memejamkan matanya begitu bersyukur mendengar suara Kai saat ini, membuatnya seketika terisak sangat ketakutan melihat mobil yang kini berada didepannya terus berteriak dengan senjata yang terus mereka arahkan ke mobilnya.

"Kai-..Kai syukurlah ini benar-benar kau! Kai tolong aku. Ada beberapa orang yang mengejarku. Aku-…."

"Lu…hey Lu…Kau harus tenang. Aku sudah berada di dekatmu. Aku akan segera menjemputmu."

"Benarkah? Kau dimana Kai? Aku benar-benar takut Kaaai." Luhan melihat ke sekelilingnya dan kembali terisak menyadari kalau tak ada siapapun yang berada di dekatnya saat ini.

"Kau akan segera melihatku Lu. Tapi sebelum itu aku ingin kau melakukan satu hal." Katanya membuat Luhan yang sudah bergetar semakin bingung dan tak bisa berpikir dengan benar/

"Apa maksudmu? Kai kau dimana? CEPAT DATANG!"

"Luhan tenanglah. Aku benar-benar sudah berada di dekatmu. Tapi sebelum itu aku ingin kau melakukan sesuatu."

"Baiklah katakan apa yang harus aku lakukan?! AKU BENAR-BENAR TAKUT MELIHAT MEREKA! tolong aku Kai…" Luhan menyembunyikan wajahnya di kemudi mobil berniat menenangkan diri sebelum kembali mendengar suara Kai yang memintanya untuk melakukan sesuatu.

"Dimana posisi mereka?"

"Tepat didepanku?"

"Berapa jumlah mereka?"

"Entahlah. awalnya ada dua mobil yang mengejarku. Tapi yang ada di depanku saat ini hanya sa-..sial! Mobil yang lain sudah berada didepanku juga Kai." Luhan memekik semakin takut membuat Kai benar-benar menggila menjalankan mobilnya saat ini.

"Luhan aku mendapatkan posisimu. Tetap tenang dan lakukan apa yang aku katakan. Kau percaya padaku kan?"

"Ya tentu…tentu aku percaya. Apa yang harus aku lakukan, cepat katakan padaku aku hampir gila Kai…" Luhan kembali terisak bergetar saat mobil yang satu terlihat mendekati mobilnya sementara partnernya tak bergeming bersiap menembak kapanpun jika Luhan kembali melarikan diri.

"Jalankan mobilmu tepat ke arah mereka."

"MWO?" Mata Luhan seketika membalalak sementara wajahnya terlihat sangat memucat saat mendengar apa yang diperintahkan Kai untuknya "APA KAU SUDAH GILA?! Aku sudah terdesak Kai. Jika aku bergerak mereka akan menembakku."

"Jika kau diam di tempatmu sekarang mereka juga akan menembakmu Lu. Hanya percaya padaku dan semua akan baik. Oke?"

"Tapi ini gila." Gumamnya berkata lirih masih dengan wajah yang tersembunyi di balik kemudi mobil. Merasa begitu ketakutan dan terus mengumpat memaki Kai yang memintanya untuk melakukan hal gila dengan taruhan tiga nyawa saat ini.

"Aku tahu ini gila Lu. Tapi kita tidak punya banyak waktu. Kau harus bergerak sekarang. Lakukan ini demi suamimu-….demi Sehun."

Mendengar nama Sehun di sebut sontak membuat si pria cantik yang berprofesi sebagai dokter itu pun mendongakan wajahnya. Mengingat bagaimana suaminya memandang kecewa padanya hari ini membuat dada Luhan seketika sesak dan begitu menyesal. Dia ingin sekali melihat wajah Sehun dan mengatakan kalau dirinya sangat mencintai prianya.

Hal itu pulan yang membuat Luhan mencengkram marah pada kemudi mobilnya sebelum mengubah panggilan Kai menjadi mode loudspeaker.

"Kai…" katanya memanggil nama penjaga yang merupakan teman dekatnya dengan nada begitu ketakutan namun kali ini memiliki sedikit keberanian dan berniat untuk tidak membuat situasi saat ini menjadi lebih mengerikan.

"Ya Lu.."

Luhan mulai kembali menyalakan mobilnya, membuat mobil didepannya semakin membidik dirinya saat ini "Aku siap." Gumamnya memberitahu Kai yang terdengar menghela lega nafasnya di sebrang sana.

"Dalam aba-abaku. Saat hitungan ketiga kau harus menjalankan cepat mobilmu tepat ke arah mereka" katanya memberitahu Luhan membuat Luhan semakin bersiap.

Satu…

"Seunghwan.." Luhan sedikit menoleh ke belakang untuk melihat bocah sepuluh tahun yang terlihat ketakutan dengan adiknya di pangkuannya saat ini.

"Ya dokter.."

Dua…

"Peluk adikmu dengan kuat. Ini akan sedikit mengerikan." Katanya memberitahu Seunghwan dan

Tiga

"SEKARANG LU!"

Luhan yang sudah mendengar aba-aba dari Kai pun tanpa ragu menginjak gas nya dan

Brmmmm….!

Dengan kecepatan yang tak bisa dikatakan lambat, Luhan menjalankan mobilnya tepat ke arah mobil hitam yang mengincarnya membuat

Dor….!

Satu mobil yang berada di belakang mobil lainnya menembaki Luhan, dan dengan gerakan seadanya Luhan berusaha terus menghindar merasa frustasi karena suara Kai tiba-tiba menghilang.

"Kai kau dimana?"

"…."

"Kai kami akan saling menabrak." Katanya memberitahu Kai dan sedikit menggeram karena Kai sama sekali tak menjawab.

"bagaimana ini…" Luhan panik, tapi dia tahu dia tidak boleh kehilangan konsentrasinya karena saat ini ada suara tembakan yang bisa kapan saja mengenainya jika dia tidak menghindar.

"SIAL!"

Luhan sedikit membelalak menyadari mobil yang satu juga menuju ke arahnya dengan kecepatan tinggi bersiap menabrakan diri pada mobilnya membuat Luhan menatap tajam ke arah mobil didepannya dengan tangan yang mencengkram erat kemudi mobilnya.

"Baiklah…aku sudah siap."

Merasa tak memiliki pilihan lain, Luhan semakin menginjak kencang gas mobilnya membuat kecepatannya semakin menggila untuk bersiap menabrakan diri dengan mobil didepannya.

"Selamat tinggal…Aku tidak mau mengucapkannya tapi selamat tinggal Sehunna. Aku mencintaimu"

Dan setelah mengucapkan kalimat perpisahan untuk suaminya, Luhan memejamkan erat bersiap merasakan sakit ditubuhnya sebelum

BRAK…!

Sebelum matanya kembali membuka dan begitu terkejut melihat mobil yang datang dari sisi kanan nya seketika menabrak kencang mobil hitam yang akan menabraknya.

Ckit….!

Luhan meginjak rem kaki mobilnya dengan kekuatan penuh sementara tangannya bergetar hebat melihat apa yang baru saja terjadi didepannya. Dirinya seketika tidak bisa bernafas saat dengan jelas melihat mobil yang baru saja menyelamatkannya kini mengeluarkan api karena tabrakan hebat yang baru saja terjadi, membuat seketika matanya memanas dan

"KIM JONGIN!"

Luhan berteriak histeris mengetahui mobil yang baru saja menolongnya dikemudikan oleh orang yang selalu menemaninya hampir setiap hari, selalu terluka karenanya dan saat ini orang itu mungkin sudah tidak bernyawa karena tabrakan mengerikan yang baru saja terjadi membuat tubuh Luhan seketika melemas dan membiarkan suara tembakan terdengar mengelilinginya.

Luhan mengabaikan suara tembakan yang semakin mendekat ke arahnya sampai tiba-tiba ia mendengar suara tembakan balasan tak jauh darinya. Membuat sang dokter melihat ke asal suara tembakan yang membalas dan begitu lega mendapati Kai yang kini berjalan terpincang masih berusaha untuk menolongnya walau sekujur tubuhnya dipenuhi darah saat ini.

Kai memberikan instruksi pada Luhan untuk menjalankan mundur mobilnya, dan tanpa perlu menunggu waktu lama Luhan langsung mengerti dan menjalankan mundur mobilnya sementara Kai masih sibuk mengalihkan perhatian penembak yang mengincar Luhan.

Kai langsung membuka pintu kemudi Luhan saat Luhan sudah berada di dekatnya, sedikit tersenyum lega menyadari Luhan baik-baik saja tanpa kekurangan satu apapun.

"Geser.." katanya memberi perintah pada Luhan yang langsung berpindah ke bangku samping kemudi membiarkan Kai mengambil alih kemudi mobilnya.

Brrmmm…..!

Dan tanpa berlama-lama Kai langsung menjalankan mobil Luhan dengan mobil hitam yang terus mengikutinya di belakang

"KAI KAU TERLUKA PARAH!"

Dan tak ada yang menarik perhatian sang dokter selain darah yang mengucur di sekitar lengan dan kepala penjaganya saat ini. membuat suasana seketika kembali menegang karena Luhan merasa sangat ketakutan saat ini.

"Daripada berteriak apa kau bisa membantuku?" katanya berkata menahan sakit membuat Luhan seketika diam dengan tubuh bergetar.

"a-Apa? Aku harus melakukan apa?" katanya bertanya membuat Kai tersenyum sekilas menatap istri dari bosnya.

"Ambil ini dan arahkan ke ban mereka. Aku-….Kesadaranku hampir hilang. Aku sudah tidak bisa melihat dengan jelas. Jadi bisakah kau menembak tepat ke ban mobil mereka."

Sesaat Luhan terdiam mendengar permintaan Kai sebelum mengembalikan senjata yang diberikan Kai padanya. "Aku tidak bisa Kai."

"Kau bisa Lu."

"Kau gila. Aku menembak di arena tembak, bukan untuk menembak orang lain!"

Uhuk…!

Kai seketika batuk karena merasa nafasnya sangat sesak, membuat wajah Luhan kembali memucat mengetahui Kai sedang dalam masa kritisnya. "Kau membuat usahaku sia-sia Lu. Tidak masalah jika hanya aku yang mati. Tapi aku jelas tidak bisa membiarkanmu mati. Aku berjanji pada Sehun untuk mengembalikanmu secara utuh padanya." Katanya berkata semakin tersengal dengan mata yang tak fokus membawa mobilnya. Dan saat nama suaminya disebut ada sesuatu dalam diri Luhan yang memberontak dan menolak untuk kehilangan suaminya secepat ini. Dirinya tertunduk cukup lama sebelum mengusap kasar wajahnya dan

"KAAAAAAI….!"

Luhan pun menangis kencang melihat kondisi Kai yang sangat kritis membuatnya tak punya pilihan lain selain mengambil cepat kembali pistol yang digunakan Kai dan mengokangnya tanpa kesulitan.

"Fokus Lu. Kau pasti bisa."

Luhan hanya diam tak merespon sementara dirinya membuka kaca mobil dan mengarahkan bidikannya tepat pada mobil yang mengikutinya di belakang.

Luhan merasa sedikit kesulitan karena mobil hitam itu terus menembakinya, namun saat matanya kembali melirik kondisi Kai yang terbilang kritis dan tak sengaja melihat tubuh kecil Seunghwan yang terus bergetar membuatnya tak mempunyai pilihan selain menggunakan seluruh sisa isi pistol yang ia miliki saat ini.

Wajah Sehun tiba-tiba terlihat jelas di bayangannya, membuat Luhan semakin yakin dan

DOR…! DOR..!

-Rasanya berbeda saat kau menembakan senjata di arena tembak dengan senjata yang digunakan untuk melukai orang lain. Merasa batinmu memberontak karena kau seorang dokter tapi kau harus menyakiti orang lain yang jelas melanggar sumpahmu. Tapi lagi-…Kau tidak memiliki pilihan lain. pilihan untuk bertahan hidup-

Air mata seketika membasahi pipi Luhan saat ini membuat dirinya tidak bisa tersenyum karena jelas hanya ketakutan yang dia rasakan. Dia mengabaikan perintah Kai untuk menembak ban mobilnya dan lebih memilih menyingkirkan si penembak yang sedari tadi mengganggu fokusnya.

Sedikit merasa marah pada dirinya sendiri dan keberuntungan yang ia miliki karena dengan mudah mengenai dada si penembak yang seketika terjatuh berguling ke tanah. Tangannya terus bergetar namun tetap berusaha fokus sampai

DOR….!

Kali ini Luhan berhasil menembak berulan ban depan si mobil hitam, membuat mobil yang mengejarnya seketika kehilangan keseimbangan dan tak bisa mengikuti lagi kemana dia dan Kai pergi

"Selesai." Katanya memberitahu Kai yang hanya bisa tersenyum pahit melihat keadaan Luhan saat ini. Luhan memang tidak terluka secara fisik tapi secara batin Luhan hancur hari ini. untuk Kali pertama dalam hidupnya mungkin dia telah melukai orang lain membuat dirinya begitu merasa bersalah dengan seluruh kejadian mengerikan hari ini.

Sementara Luhan terisak, Kai hanya bisa diam menikmati rasa sakit yang semakin menggerogoti kesadarannya membuat tiba-tiba dirinya berjalan ke kanan jalan dan

Ckit…!

Kai membanting stir mobilnya ke tepi jalan dan tak lama meletakkan kepalanya di kemudi mobil,

"KAI?!"

"Maaf Lu. Maafkan aku-..Aku tidak kuat lagi."

"Jongin! Hey Jongin! Kau harus tetap sadar. Ini perintah." Gumam Luhan menangkup wajah Kai yang terlihat sangat memucat dengan suhu tubuh yang kini sepenuhnya terasa dingin di genggaman Luhan.

"Maaf membuatmu harus mengalami hari yang mengerikan."

"Aku akan marah jika kau tak sadarkan diri. Kai hey Kim Jongin.." Luhan menepuk-nepuk wajah Jongin berharap Jongin akan tetap sadar menuju perjalanan mereka ke rumah sakit.

"KIM JONGIN!"

Luhan kembali berteriak menyadari tubuh Kai sepenuhnya telah terkulai lemas tak sadarkan diri di pelukannya.

.

Sementara itu…

Drrt…drtt…

Benda kecil yang mempunyai ukuran segenggaman tangannya itu akhirnya bergetar membuat seseorang yang sedang luar biasa merasa gusar dengan cepat menggeser slide ponselnya dan begitu murka pada seluruh anak buahnya yang sampai saat ini belum bisa menemukan keadaan istrinya.

"MAX JANGAN MEMBUAT KESABARANKU HABIS. BAGAIMANA DENGAN ISTRIKU?!"

Sehun semakin menggeram tatkala Max hanya diam tak menjawab membuat pikiran buruk mengenai keadaan Luhan semakin menyerangnya "MAX!"

"Kai sudah menemukan Luhan bos-…Saat ini Luhan sedang bersama Kai menuju rumah sakit."

Ckit…!

Kakinya secara refleks menginjak rem sementara tangannya secara otomatis membanting stir ke kanan jalan dan sedikit terengah mendengar pernyataan Max yang membuat jantungnya berdebar kencang "Apa terjadi sesuatu pada Luhan?"

"Sepertinya Jongin mengalami kecelakaan hebat. Dia tidak sadarkan diri saat ini dan-.."

"AKU BERTANYA APA TERJADI SESUATU PADA LUHAN?"

Sungguh tidak ada yang dipikirkan Sehun selain keadaan Luhan, berbagai pikiran menakutkan tentang kondisi buruk yang mungkin dialami pria mungilnya membuatnya tak segan akan membunuh siapapun yang berani membuat prianya kesakitan.

"Luhan baik-baik saja dan tak ada goresan sedikitpun di tubuhnya."

"Syukurlah…"

Sehun seketika menyandarkan kepalanya di kemudi mobil, bernafas terengah dan memejamkan matanya erat begitu bersyukur mendengar keadaan istrinya baik-baik saja. Awalnya hanya hembusan nafas yang terasa berkejaran dengan detak jantungnya. Sampai akhirnya deru nafas yang memburu itu berubah menjadi isakan pilu tak tahan dan tak tahu harus melakukan apalagi jika prianya sampai terluka.

"Bos kami sedang dalam perjalanan ke rumah sakit. sebaiknya kau juga segera menuju kesana. Sepertinya Luhan menunggumu."

"Tidak lagi….Aku tidak bisa lagi seperti ini."

Sehun mengabaikan ucapan Max, berperang dengan pikiran dan batinnya sendiri bahwa semua perasaan takut akan kehilangan seseorang harus disudahi.

Dia tidak pernah seperti ini sebelumnya, dia adalah pria kuat yang tak berperasaan dan tak pernah merasa ketakutan seperti ini. -Sampai akhirnya dia bertemu dengan Luhan, berteman dengan Luhan, menjadi kekasih Luhan yang berujung dengan pernikahan saat keduanya telah memiliki malaikat kecil di tengah mereka. semua kebahagiaan itu terasa sempurna sampai akhirnya seseorang dari masa lalu datang dan merenggut kebahagiannya. Masa lalu itu merenggut putra kecilnya dan masa lalu itu kini mengincar satu-satunya alasan dirinya masih bernapas tanpa harus merasa kesakitan. Dan sialnya-…Semua masa lalu itu berasal dari prianya yang begitu baik dan hampir tak pernah menyakiti siapapun.-

"Aku tidak bisa lagi-.."

Bayangan wajah mungil putranya dan wajah malaikat istrinya seketika memaksa masuk dan menyentuh sisi tergelap dari seorang Oh Sehun, membuat dirinya seketika meremang begitu ketakutan memikirkan bagaimana akhirnya kalau dia harus kehilangan kebahagiannya. Dia sudah kehilangan separuh jiwanya –putranya- dan dia tidak bisa kehilangan separuh jiwanya yang lain –istrinya- membuatnya bertekad untuk tidak membuat dirinya lemah sementara dirinya harus menjaga satu-satunya alasan dirinya masih bertahan hidup hingga saat ini.

"Luhan….Maafkan aku sayang."

Dan kata maaf itu seolah mewakili perasaan bersalah Sehun akan keputusan yang sebentar lagi ia buat. Sehun menyadari benar untuk menjadi "Sehun yang dulu", dirinya tidak boleh terikat perasaan oleh siapapun. Siapapun terutama Luhan. Karena di luar sana Kris dan seluruh orang yang membencinya masih berkeliaran mengejarnya. Dan mereka sangat mengetahui bahwa satu-satunya kelemahan seorang Oh Sehun adalah Luhan. hal itu pula yang menjadi alasan mengapa Sehun lebih banyak menggunakan perasaannya daripada kekuatan berpikirnya.

Dia tidak akan mengulangi kesalahannya lagi. Dan untuk itu, Sehun sudah membuat keputusan bahwa untuk menjadi Sehun yang kuat dia tidak boleh berhubungan lagi dengan Luhan. setidaknya sampai semua masa lalu istrinya berhenti mengusiknya. Dan sampai hal itu terjadi Sehun memutuskan untuk berhubungan dengan Luhan sementara waktu, keselamatan Luhan adalah prioritasnya dan Sehun bersumpah dia bernafas hanya untuk memastikan isrinya hidup dengan layak dan bahagia.

"Bos?"

Sehun sedikit tertegun kembali mendengar suara Max, sedikit tersenyum sebelum akhirnya

Pip!

"Maafkan aku sayang. Aku mencintaimu."

Seketika mata Sehun memanas. Begitu merasa sesak dengan seluruh kehidupan mengerikan yang seolah menjadi bagian dari hidupnya. Mengikatnya terlalu kuat seolah memastikan kalau dirinya tak akan pernah terlepas dari benang tipis yang mengikatnya dan hidup yang sudah menjadi takdir untuknya.

Dan seolah tak mau berlama, pria yang pernah menjadi seorang ayah untuk putra kecilnya itu menghapus cepat air mata yang seolah menunjukkan kelemahan terbesarnya, membuat keputusan yang ia yakin akan menyakiti tidak hanya Luhan, tetapi dirinya dengan begitu banyak. Pria tampan itu menghela dalam nafasnya yang begitu sesak, sampai akhirnya mata elang itu kembali menatap tajam tak berperasaan, bersiap pada kemudi mobilnya dan

Brrrrmmmmm….!

Hari itu Sehun membuat keputusan bahwa dirinya akan meninggalkan Luhan sementara waktu. Dia sangat mengetahui jika menjauhi Luhan bukanlah pilihan terbaik. Keduanya akan menjadi lemah jika tidak bersama. Akan menjadi rentan dilukai jika tidak saling menguatkan. Sehun mengetahui semua hal itu.

Tapi kejadian hari ini seolah menjadi alasan untuknya agar tidak merasa sakit dan ketakutan lagi. Menjadikan kebahagiaan Luhan sebagai alasan. Tapi nyatanya dialah yang bersemnbunyi dari semua kejadian mengerikan ini. Menjaga jarak dengan Luhan agar dia tidak merasa kesulitan bernafas seperti hari ini. Yang Sehun tahu dia akan baik-baik saja tanpa Luhan. Tapi dia tidak akan pernah tahu rasa sakit yang akan ia alami tanpa Luhan disampingnya akan beribu kali lebih menusuk daripada saat mereka bersama.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

I just wanna be with you, that's all!

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Cklek...!

"Kau melamun lagi?"

Seseorang yang disapa dan sedang melihat ke ponselnya pun sedikit tertegun melihat adik yang tumbuh besar bersamanya memasuki ruangannya dengan sedikit makanan yang ia bawa untuk dirinya.

"Hey.." katanya menyapa adiknya dan segera menyembunyikan ponselnya ke laci kecil di mejanya.

"Masih mencoba menghubunginya?"

Pria bermata besar dengan wajah dingin itu pun bertanya pada dokter cantik yang terlihat memucat dan tak memiliki gairah menjalani harinya.

"Ya begitulah...Ini sudah seminggu dan aku belum bisa menghubunginya. Aku merindukan suamiku."

Ya benar...Ini sudah seminggu sejak kejadian mengerikan itu berlalu, tapi dalam seminggu ini pula. Luhan sama sekali tidak bisa menghubungi Sehun. Dia tahu Sehun sedang menghindarinya, tidak ingin berbicara dan bertemu dengannya. Dan untuk tiga hari pertama –sungguh- Luhan bisa memakluminya.

Tapi ini sudah memasuki hari ketujuh dimana dirinya dan Sehun sama sekali tak bertemu. Jangankan bertemu, untuk menghubungi suaminya sendiri pun Luhan tak bisa. Membuatnya menyadari kalau prianya tengah merencanakan sesuatu -dan apapun yang Sehun rencanakan itu pasti bukanlah suatu hal yang bagus-. Karena setiap kali Sehun memutuskan semuanya sendiri, hanya akan berakhir dengan perpisahan atau pertengkaran untuknya dan pria tampannya.

Dan karena hal itu pula nafsu makan dan jam tidur Luhan menjadi tak teratur dan berantakan, Wajahnya memang pucat, tapi bukan karena dia sakit. Wajahnya memucat karena pria yang dikenal dengan nama marga suaminya itu terlalu merindukan suaminya saat ini.

"Kau baik-baik saja?"

Luhan kembali tersenyum dan sedikit menghela dalam nafasnya, menggenggam jemari Kyungsoo yang terlihat sangat dingin "Aku tidak seburuk Kai. Apa dia sudah makan hari ini?"

"Dengan tangan yang diperban dan menggunakan gips dia masih kesulitan makan sendiri, jadi sebelum kesini aku membantunya."

Luhan tersenyum menyadari wajah Kyungsoo yang terlihat berbinar setiap kali nama Kai disebutkan, membuatnya semakin meyakini kalau adiknya memang menyukai penjaga pribadinya "Terimakasih sudah membantunya. Bagaimana dengan keadaan Seunghwan dan Yerin?"

"Mereka baik. Kondisi keduanya sudah membaik. Hanya saja Seunghwan sedikit ketakutan jika mendengar suara yang terlalu kencang dan membuatnya berdebar."

Luhan sedikit tersenyum lirih menyadari baik Seunghwan dan Kyungsoo-...Keduanya kini memiliki trauma karena dirinya. "Maaf membuat kalian ketakutan."

"Ketakutan?" Kyungsoo sedikit bertanya tak mengerti dengan ucapan Luhan yang meminta maaf padanya. Keduanya bertatapan lama sampai akhirnya Luhan tersenyum menggenggam erat kedua tangan adik kecilnya.

..

Sementara itu...

Cklek...!

Di ruangan berbeda, suara pintu kembali terbuka, menampilkan seorang pria yang menguarkan aura dingin dan menakutkan tengah memasuki sebuah ruang perawatan tempat dimana salah satu "tangan kanan" nya dirawat diikuti oleh ketiga "kaki tangan" nya yang lain

Kakinya perlahan masih memasuki ruangan tempat dimana –Jongin- nama anak buahnya terbaring. Sedikit mengernyit karena ruangannya terlihat begitu sepi tak ada tanda kehidupan sampai.

"HYUNGNIM KAU DISINI?!"

Suara yang cukup familiar untuknya terdengar dan sedikit tertegun menyadari Kai yang kini memakai tongkat bantu jalan dengan tangan di perban tengah tersenyum seperti seorang anak kecil yang bertemu dengan ayahnya.

"Apa yang kau lakukan disana? Cepat berbaring!"

Jongin pun menggeleng cepat dan sedikit tertatih dengan tongkatnya menghampiri Sehun "Bos. Luhan ada di rungannya. Cepat temui dia, dia pasti sangat senang melihatmu disini."

Raut wajah Sehun seketika kembali menjadi dingin saat nama pria cantik yang sudah berhari-hari tak ia dengar kembali disebutkan. Membuatnya tersenyum lirih sebelum mengisyaratkan Max dan Yoochun untuk membantu Kai berbaring ke tempat tidurnya.

"Aku disini bukan untuk bertemu Luhan. Aku hanya ingin memastikan kau baik."

Kai yang merasa risih karena Max dan Yoochun sedang merangkulnya saat ini pun sedikit menatap tak mengerti pada Sehun yang terlihat tak mempedulikan Luhan "Tapi Luhan menunggumu. Dia bahkan menetap di apartemenmu bos, tapi kau tak kunjung datang menemuinya."

"Aku sudah pindah dan akan segera pergi minggu ini."

Kai yang tak mengerti ada apa dengan sikap Sehun pun sedikit menatap penuh arti kedua temannya. Dan baik Max maupun Yoochun hanya mengisyaratkan kalau Sehun sudah seperti ini hampir satu minggu lamanya.

"Bos temui Luhan sebentar. Dia tidak makan dan tidur dengan baik karena terlalu merindukanmu bo-.."

"CUKUP!"

Entah apa yang membuat emosi Sehun begitu meluap saat ini. pertama mungkin karena kenyataan dia berada di satu tempat dengan Luhan tapi tak bisa bertemu atau mungkin karena dia tahu Luhannya tidak makan dan tidur dengan baik selama mereka berjauhan.

Sikap Sehun pun sedikit banyak membuat Jongin menggeram dan begitu marah melihatnya. Membuatnya sedikit tertawa menyeringai mengasihani keadaan dirinya saat ini. Dia sudah terluka seperti ini karena menolong Luhan, tapi lihat apa yang dilakuan Sehun –membuang istrinya seperti sampah dan berpura-pura tak mengenalinya.-

"Kenapa berteriak bos? Kenapa kau menghindari Luhan? Kau takut kehilangan dia tapi sama sekali tak menjaganya. Bagaimana Kalau semua musuhmu berlari mengejarnya dan aku sudah mati sebelum bisa menyelamatkannya. Bagaimana kalau kau benar-benar kehilangan Luhan? APA KAU SUDAH SANGGUP KEHILANGAN LUHAN?!"

Max dan Yoochun menahan bahu Kai agar tetap duduk di tempat tidurnya sementara mata Sehun menyalang penuh amarah menatap penjaganya. Keduanya bertatapan cukup lama sampai akhirnya Sehun tertawa renyah menatap menakutkan pada Jongin saat ini "Kedatanganku kemari bukan untuk bertengkar denganmu. Jadi jangan memancing emosiku." Katanya berusaha setenang mungkin memberitahu Kai yang masih terlihat memburu menatap Sehun saat ini.

"Dan karena kau sudah bisa memaki diriku. Aku rasa kau sudah oke. Aku pergi sekarang." Katanya mengerling Max dan Yoochun untuk segera pergi dan berjalan terlebih dulu meninggalkan ruangan Kai yang entah mengapa membuat dirinya kesulitan bernafas dengan perumpamaan menakutkan yang diberikan Kai untuknya.

"Lepaskan aku!"

Kai sendiri meronta meminta Yoochun dan Max melepas cengkraman tangan mereka di bahunya. Menatap tak percaya pada kedua temannya yang juga terlihat memucat saat ini "Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa dia bersikap seperti itu?"

Max mengangkat bahunya dan menarik kursi di depan Jongin untuk berbicara dengan temannya "Entahlah. Aku rasa dia sedang menghindari Luhan."

"Tapi kenapa?"

"Percayalah kami juga tidak tahu. Dia sudah seperti ini sejak kejadian Kris membuat Luhan hampir terbunuh, dan sialnya bajingan itu sepertinya melarikan diri membuat Sehun menggunakan seluruh waktunya untuk mencari Kris. Ditambah Youngmin-...Aku rasa dia mulai mendesak Sehun untuk melakukan pekerjaan lain lagi. Banyak yang sedang Sehun alami, jadi sebaiknya kita tidak terlalu membuatnya merasa tersudut."

"A-apa Kau bilang? Direktur Park kembali menghubungi Bos?"

"hmm.. Dan aku berani bertaruh Sehun sangat tertekan saat ini." gumam Yoochun yang mendudukan dirinya di samping Kai dan memberi secarik kertas pada Jongin.

"Apa ini?"

"Alamat hotel tempat Sehun menetap. Beritahu pada Luhan dan biarkan mereka bicara. Kami pergi dulu." katanya kembali menepuk bahu Kai perlahan sebelum berjalan pergi meninggalkan ruangan Kai untuk menyusul kemana Sehun pergi.

"Cepat pulih Kai. Kami akan datang lain waktu." Timpal Max membuat Kai sedikit tersenyum senang bisa membuat Luhan kembali bertemu dengan Sehun sebentar lagi.

"Terimakasih." Katanya berteriak membuat Max dan Yoochun kembali menoleh

"Kami juga menyayangi Luhan sepertimu."

Dan keduanya kali ini benar-benar pergi meninggalkan Kai yang melihat secari kertas itu berbinar seolah bertaruh kalau kertas itu bisa membuat keadaan menjadi lebih baik.

Sementara Sehun masih terus berjalan menjauh meninggalkan ruangan Kai, menguatkan hatinya agar tidak berlari ke ruangan Luhan untuk sekedar berbicara atau memeluk istrinya. Dia merindukan Luhan- hell- Sangat merindukan istrinya. Tapi mengingat semua keadaan yang terjadi padanya begitu menakutkan membuatnya menguatkan hati untuk tidak menemui Luhan dan mengabaikan seluruh karyawan yang mengenalnya tengah memanggilnya untuk menyapa dirinya.

Sehun masih mengabaikan semua panggilan itu sampai seseorang mencengkram kuat lengannya membuatnya sedikit menoleh dengan geram

"Ternyata benar kau!"

Sebelum Sehun sempat menggeram, suara itu terlebih dulu menginterupsinya membuat Sehun sedikit berdebar mendapati sahabat istrinya tengah mencengkram kuat lengannya saat ini.

"Berani sekali kau baru menampakkan wajah setelah semua yang terjadi! Apa kau tidak tahu Luhan sangat ketakutan saat itu HAH?!"

Pria cantik yang merupakan putra pemilik dari rumah sakit terbesar di Seoul sekaligus dokter spesialis anak yang mengumumkan kematian putra Sehun dan Luhan satu tahun lalu ini pun menggeram kesal dan menatap marah pada suami sahabatnya yang hanya balik menatapnya dengan diam dan tak bersuara.

"Cepat ikut aku. Luhan harus bertemu denganmu."

Baekhyun sedikit menarik kasar lengan Sehun agar ikut dengannya menemui Luhan, dan Sehun-...dia hampir saja membuat kesalahan dengan membiarkan Baekhyun membawanya pergi sampai akhirnya dia tersadar dan menghempas kasar cengkraman Baekhyun di tangannya.

"Aku tidak berniat bertemu dengan Luhan." katanya menggeram dan berlalu begitu saja meninggalkan Baekhyun yang sepenuhnya terkejut saat ini.

Dia bertanya-tanya dimana Sehun yang begitu menggilai sahabatnya, yang selalu melakukan hal bodoh untuk menarik perhatian Luhan. Seluruh petugas medis di rumah sakit ini mengenal Sehun bukan karena Sehun suami salah satu dokter bedah di Seoul Hospital. Mereka mengenal Sehun karena kegigihannya mengejar cinta Luhan sampai pada akhirnya Luhan mengatakan bersedia menikah dengannya beberapa tahun yang lalu.

"Oh Sehun.."

Baekhyun mencoba memanggil Sehun yang sama sekali tak menjawabnya membuat kedua tangan Baekhyun mengepal erat "Oh Sehun cepat kembali." Gumamnya sedikit berteriak berharap Sehun meresponnya dan segera menemui Luhan yang hampir menjadi mayat berjalan seminggu belakangan ini.

"brengsek!" Baekhyun sedikit menggeram merasa percuma memanggil Sehun yang tak meresponnya. Menyadari satu-satunya yang bisa menghentikan Sehun adalah istrinya sendiri. Dan tanpa membuang waktu, Baekhyun berlari dengan cepat menuju ruangan Luhan untuk memberitahu keberadaan suaminya saat ini.

..

..

"Ketakutan?"

"hmm...Saat melihat darah di kemejaku kau terlihat memucat. Maaf saat itu aku panik dan hanya ingin menolong Kai di ruang operasi. Tapi mereka selalu melarangku membuat emosiku seketika meluap."

"Ah darah ya..." katanya bergumam dan tak lama menatap kosong ke depan mengabaikan wajah Luhan yang terlihat bertanya.

"Aku tidak takut dengan darah sebaliknya aku rasa aku sangat terbiasa dengan darah."

Pernyataan Kyungsoo saat ini sontak membuat Luhan sedikit bertanya-tanya tak mengerti mengapa Kyungsoo bisa merubah ekspresi wajahnya begitu cepat dan terlihat mengerikan untuknya saat ini "Kyungie apa kau ingat sesuatu?"

Kyungsoo menggeleng cepat sebelum kembali menatap ke arah Luhan "Sayangnya belum."

"Lalu apa yang kau bicarakan?"

Kyungsoo mengangkat kedua bahunya sebelum kembali menatap kosong ke depan "Entahlah. Aku memiliki perasaan buruk tentang masa laluku." Katanya bergumam lirih memberitahu Luhan sebelum kedua tangannya menggenggam erat tangan Luhan

"Aku hanya berharap masa laluku tidak ada hubungannya denganmu." Kyungsoo bergetar semakin lirih merasa ada sesuatu yang dia tahan jauh di ingatannya yang paling dalam. Membuat Luhan semakin mengkhawatirkan Kyungsoo saat mengingat ucapan Junmyeon yang mengatakan Kyungsoo hampir tak pernah bereaksi saat melihat cairan berwarna merah entah itu darahnya sendiri atau kantung tranfusi darah yang sengaja ditujukan Suho untuknya.

"Kyungie kau ba-..."

BRAK...!

Baik Luhan maupun Kyungsoo seketika menoleh saat pintu ruangan Luhan dibuka secara kasar dan menampilkan Baekhyun yang terengah menatap frustasi ke arah Luhan.

"Baek kau kena-.."

"SEHUN!"

Merasa nama suaminya disebut membuat warna muka Luhan seketika berubah. Sedikit berdebar kalau sampai terjadi sesuatu pada suaminya "Se-Sehun?"

"SEHUN ADA DISINI LU!"

Saat ini Luhan sedang berlari menuju lift seperti orang besok adalah akhir dari dunia. Dia menekan tombol secara berulang berharap pintu otomatis itu segera terbuka sampai

Ting...!

Pintu lift terbuka dan Luhan segera masuk kedalamnya dengan menekan tombol ground terlebih dulu. Tangannya mengepal erat dan matanya terasa memanas mengingat apa yang dikatakan Baekhyun padanya.

Dia menjenguk Kai, tapi entah mengapa dia sama sekali tak berjalan ke arah ruanganmu. Aku sudah mencoba menahannya tapi dia hanya menatap tajam ke arahku dan berjalan pergi menuju lobi utama.

"Kenapa kau tidak menemuiku sayang." Gumamnya yang semakin merasa sesak dan berdebar di saat bersamaan. Membuat cakupan oksigennya berlomba meminta agar Luhan sedikit tenang agar dirinya bisa kembali bernafas dengan benar sampai akhirnya

Ting...!

Luhan seketika berlari menuju lobi saat pintu lift terbuka, menabrak apapun yang menghalanginya dan mengabaikan seluruh panggilan yang menyapa sampai akhirnya dia melihat sosok yang begitu ia kenali walau dari jarak sejauh ini.

Sosok yang memiliki tubuh ideal dengan tinggi di atas rata-rata yang tengah berjalan menuju pintu keluar dengan karisma yang begitu menguar di setiap langkahnya. Membuat Luhan sedikit menghentikan langkahnya menikmati rindu yang begitu terbayarkan walau dari jarak sejauh masih tersenyum dengan kaki yang terus melangkah mendekati suaminya sampai matanya sedikit membelalak melihat Max membukakan pintu mobil untuk Sehun.

"SEHUUN!"

Luhan berani bersumpah Sehun mendengarnya, tapi yang tidak dia mengerti kenapa suaminya hanya terdiam sejenak dan tetap masuk kedalam mobilnya. Menyadari sikap Sehun seperti itu membuat Luhan semakin yakin kalau prianya sedang menyembunyikan sesuatu darinya.

Sesuatu yang jelas tidak akan pernah Luhan ketahui itu apa. Sesuatu yang akan selalu Sehun sembunyikan dengan rapat dan tak akan pernah terjangkau olehnya.

"SEHUN!"

Saat ini Luhan sedang berlari mengejar mobil Sehun yang telah berjalan menjauhinya, terus berlari dengan cepat secepat mobil itu pergi menjauh darinya. Luhan sudah menangis saat ini, bukan hanya karena dia marah ditinggalkan begitu saja oleh suaminya, tapi dia sudah sangat kelelahan saat ini. Mengutuk langkahnya yang semakin melambat sampai akhirnya

Brak...!

Kakinya tak mampu lagi berlari membuat seketika tubuhnya terjatuh dan

"SEHUN!"

"Bos...Luhan memanggilmu. Apa tidak sebaiknya kita-.."

"Jangan berhenti. Dia akan baik-baik saja."

"Tapi bos-..."

"JANGAN MEMBANTAHKU"

Dan bersamaan dengan teriakannya kembali terdengar suara teriakan Luhan yang begitu memilukan, membuat Sehun sedikit mengutuk Max yang sengaja memperlambat laju mobil mereka agar apa yang dikatakan Luhan jelas terdengar olehnya.

"SEHUN JANGAN PERGI-...JANGAN TINGGALKAN AKU!"

Kali ini mata itu memejam erat dengan kedua tangan yang mengepal erat. Dia mendengar semua jeritan memilukan yang berasal dari satu-satunya hidupnya. Air mata itu seketika lolos membasahi wajahnya dengan cepat, membuatnya menyadari jika suatu saat nanti Luhan membencinya maka tidak ada yang bisa dia lakukan selain menyesali apa yang dia lakukan hari ini kepada pria mungilnya yang selalu menderita sejak awal mereka bertemu hingga sekarang saat mereka memutuskan untuk membangun keluarga kecil mereka dengan bahagia.

..

..

..

..

..

"Selamat ulang tahun sayang..."

20 April. 21.00 KST

Di hotel yang begitu mewah dan megah saat ini terlihat seorang pria tampan sedang mengagumi kecantikan istrinya di sebuah album yang selalu ia bawa kemanapun dirinya pergi. Album yang berisi gambar pria cantiknya dari awal mereka bertemu hingga mereka menikah saat ini selalu berhasil mengobati rasa rindunya yang begitu menggebu pada si pria cantik yang selalu terlihat menawan dalam kondisi apapun.

Bibir tipis itu seketika tersenyum begitu bangga memiliki pria sesempurna istrinya namun harus kembali terdiam menikmati kerinduannya pada Luhan sampai perhatiannya teralihkan mendengar suara yang begitu familiar di telinganya.

KALIAN TIDAK MENGENALKU? AKU ISTRI OH SEHUN! LEPASKAN AKU KALAU KALIAN MAU HIDUP LEBIH LAMA!"

"Luhan?"

Sehun pun segera meletakkan album yang sedari tadi menemaninya dan berjalan cepat menuju pintu untuk memastikan suara teriakan yang terdengar bukanlah suara istrinya.

"SEHUNNA TOLONG AKU! MEREKA MENYAKITIKU. CEPAT BUKA PINTU!"

Langkah Sehun semakin cepat menuju pintu masuk kamar hotelnya dengan tangan yang mengepal erat mendengar Luhan berteriak disakiti oleh penjaga baru yang memang belum mengenal siapa Luhan begitupula sebaliknya.

"SAYANG AKU TAHU KAU DI DALAM, CEPAT BUKA PINTU MEREKA MENYAKITI-.."

Cklek...!

Seketika pintu terbuka dan seluruh adegan dimana lengan istrinya di cengkram kuat oleh penjaganya yang berbadan besar membuat amarah Sehun sampai pada puncaknya. Dia memperhatikan ketiga pria didepannya tak berkedip. Menatap nyalang pada kedua anak buah yang baru bekerja untuknya selama satu minggu dan

Bugh...!

Tanpa berkata Sehun menghajar kedua anak buahnya yang berani berbuat kurang ajar pada istrinya. Dia tidak memberi ampun pada kedua anak buahnya yang sudah terlihat tak berdaya, mengabaikan Luhan yang hanya berdiri memejamkan matanya erat tak berani melihat apa yang dilakukan suaminya saat ini.

"Sehun.."

Sampai akhirnya Luhan tak sengaja memanggil nama Sehun, membuat Sehun yang mendengarnya seketika menghentikan kegiatannya yang –hampir membunuh- kedua anak buahnya, lalu kemudian menatap marah pada sosok mungil yang terlihat bergetar ketakutan saat ini

"Cepat masuk!"

Sehun dengan kasar menarik lengan Luhan, membuat Luhan sedikit terkejut karena suaminya menarik tangannya begitu kuat saat ini.

"Pikirmu ini jam berapa? APA YANG KAU LAKUKAN DI TENGAH MALAM SEPERTI INI?"

Sehun menghempas kasar tubuh Luhan yang masih bergetar ke sofa terdekat miliknya, memijat kasar keningnya sampai akhirnya matanya bertemu dengan mata rusa istrinya yang begitu ia rindukan.

"Kau baik-baik saja kan? Tidak ada yang terluka? Luhan aku mohon berhenti menyiksaku." Gumamnya berjongkok dan memeriksa seluruh tubuh istrinya, memastikan tidak ada yang tergores dan membuat istrinya kesakitan.

"Bukan mereka yang menyakitiku. Tapi kau."

Luhan membalasnya-...Semua perasaan yang ia tahan hampir tiga minggu lamanya akhirnya terucap. Mengungkapkan betapa dia kecewa pada Sehun yang terus membuatnya terus menerus merasa sakit tanpa alasan dan penjelasan. "Aku sangat marah padamu. Kau menolak seluruh panggilan dariku, menolak bertemu denganku. Aku menunggu sepanjang hari di apartemen berharap pintu akan terbuka dan kau datang memelukku, tapi kau tidak pernah datang dan kini kau sama sekali tidak mengucapkan selamat ulang tahun padaku. Apa kau lupa kalau hari ini aku berulang tahun hah?!"

Luhan sedikit menaikkan suaranya membuat Sehun sedikit terdiam sebelum akhirnya menatap ragu pada Luhan "Jika kau marah kenapa kau datang?" katanya bertanya tanpa dosa membuat sesuatu dalam dirinya merasa terhimpit karena kembali berkatak kasar pada pria cantiknya yang sedang berulang tahun.

"Bersiaplah aku akan mengantarmu pulang."

Sehun seketika berdiri membelakangi Luhan dan diam-diam mengutuk dirinya yang begitu jahat memperlakukan Luhan bahkan di hari ulang tahunnya. Dirinya bahkan sudah bersiap dengan jawaban kemarahan apa yang akan diberikan Luhan sampai matanya membulat sedikit terkejut merasakan tangan mungil istrinya melingkar sempurna memeluknya dari belakang.

"Ini hari ulang tahunku. Jadi berhentilah bersikap dingin padaku." Katanya memohon membuat Sehun semakin merasa bersalah dengan permintaan istrinya.

"Sehun aku merindukanmu. Aku ingin kau memelukku." Katanya semakin terisak bersembunyi di punggung lebar suaminya, merasa lelah dengan pertengkaran tanpa alasan yang sedang di alami keduanya hampir satu bulan ini. Dia merindukan suaminya, dan sungguh-...Satu-satunya hal yang diinginkan Luhan saat ini adalah tubuh kekar suaminya memeluk dengan erat dan tak akan melepaskannya sedikitpun.

"Aku merindukanmu." Katanya mengulang merasa frustasi karena Sehun tak kunjung membalasnya. Matanya sudah memanas bersiap menitikkan air mata kerinduan dan kekecewaannya sampai dirinya sedikit terkejut saat tubuh kekar milik suaminya berbalik dan memeluknya erat.

Luhan sedikit tersenyum saat dekapan Sehun semakin erat memeluknya. Membiarkan perasaan merindu ini terobati sejenak sampai akhirnya Luhan mendongak dan menatap wajah tampan suaminya.

Tak membuang waktu, Luhan sedikit berjinjit dan sedikit ragu untuk mendekatkan dirinya ke tubuh Sehun. Mencoba mengecup bibir tipis milik suaminya yang kini berada di hadapannya. Ia pun memejamkan erat matanya seolah ini adalah ciuman pertamanya saat bibirnya bersentuhan dengan bibir hangat milik suaminya.

Mulanya Luhan hanya mengecupnya namun Ia memberanikan dirinya untuk menggerakkan bibirnya yang belum juga mendapat respon dari suaminya "Sehun aku mohon." Katanya berujar putus asa di sela ciumannya karena Sehun tak kunjung membalas lumatan lembutnya. "Se-sehun..Sayang aku mohon" Luhan merintih frustasi dan berniat menyudahi ciumannya sampai akhirnya Sehun memegang tengkuknya dan memperdalam ciuman mereka. Luhan tentu saja membalas lumatan-lumatan suaminya yang begitu ia rindukan sampai akhirnya tangan Sehun berbuat lebih jauh membuat Luhan semakin memekik bahagia merasakan sentuhan hangat dari tangan suaminya.

Tanpa kesulitan berarti, Sehun menggendong tubuh mungil istrinya menuju tempat tidur ukuran King miliknya dengan bibir yang masih bertautan erat dan saling menghisap. Dan setelah memastikan sang istri berbaring nyaman, Sehun sedikit lama menatap istrinya sebelum kembali melumat bibir yang tak ia jamah hampir satu bulan lamanya.

Kini dua tubuh itu tengah bergerilya di atas ranjang berukuran king size. Bibir mereka saling bertaut dengan suara desahan di sela-sela ciumannya. Luhan seketika mengalungkan tangannya di leher jenjang Sehun. Sementara Sehun masih belum mau beralih dan terus menciumi bibir ranum Luhan yang kemerahan dengan tangan yang kini melucuti kemeja putih milik Luhan dan membuangnya asal sehingga terpampanglah tubuh mulus tanpa cela milik satu-satunya pria cantik yang begitu ia sayangi.

Sehun sedikit tersenyum mengagumi betapa cantiknya sosok pria yang berada dibawahnya. Membuat Luhan hanya bisa berdebar tanpa henti saat sang suami terus menatap tubuh polosnya.

"nghh.."

Luhan sedikit menggeliat resah saat Sehun mencium bebas bahunya yang terekspos bebas, sesekali berpindah ke lehernya membuat Luhan semakin mendamba sentuhan selanjutnya.

Sehun sendiri sedikit tersenyum saat menyadari respon Luhan yang begitu mendamba, membuatnya ingin berlama-lama menggoda tubuh sensitif istrinya dan dengan cepat meraup nipple pink milik istrinya dengan rakus sementara tangan yang satu digunakan untuk memelintir, mencubit dan sedikit menarik gemas tonjolan kecil yang begitu membuatnya bergairah, Luhan sendiri meresponnya dengan menjambak kasar rambut suaminya, seolah meminta lebih membuat Sehun mengabulkannya dengan cepat.

"Sehun-m-moree...nghhh..!"

Semakin perlahan, Sehun menurunkan ciumannya. Lidahnya berputar di pusar Luhan membuat Luhan kembali menggelinjang tak mengerti harus melampiaskannya pada apa karena setiap kali menyentuhnya Sehun selalu berhasil membuatnya menggila.

Sehun sedikit menyeringai sebelum kembali melumat bibir menggoda Luhan. Membuat Luhan semakin tak sabar dan tidak tinggal diam. Merasa terhalangi dengan pakaian Sehun yang masih lengkap, Luhan pun meraba punggung Sehun dengan memasukan tangannya kedalam kaos yang dipakai suaminya, kemudian mengangkatnya keatas hingga terlepas dileher sehingga memperlihatkan tubuh menggoda suaminya yang selalu menjadi tempatnya bersandar hampir lima tahun lamanya.

Merasa puas dengan membuat toples sang suami, tangannya kini kembali kepinggang Sehun menarik-narik celana yang dipakai Sehun. Sehun sedikit tersenyum mengerti apa yang diinginkan istrinya, membuatnya kemudian berdiri dan melepas semua yang masih melekat ditubuhnya sehingga kini tubuhnya sama polos dengan pria cantik yang berada dibawahnya dan memperlihatkan kejantanannya yang sudah menegang.

Sehun kembali fokus pada bibir menggoda milik Luhan, melumatnya dengan lembut dan penuh cinta yang tentu disambut Luhan dengan hangat dan sama bernafsunya.

Merasa tubuh istrinya sudah mulai siap menerima sentuhan yang lebih, tangan Sehun pun perlahan menyetuh junior istrinya yang sudah menegang, mengocoknya perlahan dengan tempo yang membuat Luhan seketika tidak fokus dengan ciuman mereka.

"Nghh...!" Luhan sedikit memekik saat merasakan salah satu jari Sehun tiba-tiba masuk kedalam holenya. Membuat Sehun semakin tak membuang kesempatan dengan memasukkan satu jarinya lagi dan mulai mengeluar masukkan kedua jarinya dengan tempo yang beraturan membuat Luhan semakin mengerang dan kenikmatan di waktu bersamaan.

Sehun sudah sepenuhnya menguasai malam panas mereka saat ini. Dengan tangan kanan berada didalam hole Luhan, tangan kirinya pun tidak tinggal diam, diremasnya nipple kiri Luhan lalu dihisapnya yang sebelah kanan. Dan si pria cantik hanya berharap suaminya akan segera bermain ke inti karena dirinya sama sekali tak bisa menahan foreplay yang dilakukan suaminya saat ini.

Sehun berniat semakin memanjakan istrinya, perlahan ciumannya semakin turun hingga berhenti pada sebuah junior yang tidak lebih besar dari ukurannya dan terlihat sudah menegang sempurna, membuatnya perlahan tersenyum menyadari kalau pria cantiknya sudah sepenuhnya terangsang dengan seluruh kegiatan percintaan panas mereka malam ini.

"Sayanghh...aku mohon."

Sehun seketika mendongak menatap wajah frustasi istrinya yang sangat ingin disentuh membuatnya sedikit menyeringai sebelum memasukan junior Luhan kedalam mulutnya. Awalnya dia hanya diam sengaja membuat pria cantiknya semakin resah, dan saat merasakan kedua paha Luhan mengapit kepalanya membuat Sehun mulai menghisap kuat, sesekali mengocok, menjilat, bahkan menggigit pelan junior Luhan dengan kedua tangan yang masing-masing memiliki pekerjaan lainnya –memilin pelan nipple menggoda istrinya dengan tangan kanan yang masih keluar masuk menerobos hole sempit yang akan menjadi sumber kenikmatan untuknya."

"Sehun-hmphh..Fasterhh babe." Luhan kembali meracau dengan kedua paha yang semakin mengapit kepala suaminya yang sedang memberikan kenikmatan untuknya.

Karena dibawah sana, Sehun sedang memberikan kenikmatan untuk Luhan dengan mengulum juniornya, mengeluar masukkan jarinya ke dalam holenya, serta memilin bergantian kedua nipple nya dengan tempo dan kecepatan yang beraturan membuat sesekali tubuh Luhan mengangkat tak tahan dengan triple kenikmatan yang sedang diberikan Sehun untuknya.

"Nghhmpphh..." Luhan semakin merasakan nikmat pada juniornya yang tengah dimanjakan oleh suaminya, seolah meminta lebih agar dirinya bisa segera merasakan klimaksnya.

Sehun yang mengerti keinginan istrinya segera mengabulkan permintaan Luhan dengan mempercepat gerakan mulutnya. Sesekali menghisap kuat lalu menjilat dan kemudian memaju mundurkan kepalanya menggunakan tempo yang sama cepat dan sama kuat dengan kedua jarinya yang masih in-out mencari sesuatu di hole sempit milik istrinya.

Luhan hanya bisa memejamkan matanya erat, sesekali melirik Sehun yang sedang sibuk memanjakannya dibawah sana, merasa punggung suaminya begitu seksi dengan peluh yang membanjiri dan bergera maju mundur saat memberikan kenikmatan untuknya.

Luhan semakin mendesah nikmat. Dan Tidak butuh waktu lama, juniornya mulai berkedut menandakan kalau dirinya akan segera mendapatkan klimaksnya. Sehun tahu kalau Luhan akan segera mendapatkan klimaksnya. Membuatnya menghisap kuat junior istrinya dan tak lama

"nghhh...Sehunnnhmhpphh.." Luhan melenguh nikmat saat cairan spermanya keluar di dalam mulut Sehun yang kemudian ditelah habis oleh suaminya dengan kedua mata mereka yang bertemu.

Merasa pria cantiknya telah selesai mendapatkan klimaks dan merasakan kenikmatannya, membuat Sehun kembali merangkak menuju bibir Luhan lalu menciunya dengan lembut.

Dan diam-diam tanpa melepaskan ciumannya dimasukan juniornya yang sudah menegang itu ke dalam hole Luhan, membuat Luhan

"aaakkh…. Se-..Akhhhmphh" seketika mencengkram erat punggung suaminya yang memasukkan kejantanannya tanpa memberikan aba-aba untuknya.

Luhan masih mengerang kesakitan saat Sehun memasukkan kejantanannya tiba-tiba membuatnya merasa begitu penuh dibagian bawahnya.

Rasanya benar-benar sakit tapi juga nikmat. Dan untuk menghilangkan rasa sakitnya tangan Luhan kemudian menekan kepala Sehun agar lebih dalam menciumnya untuk menghilangkan rasa sakit yang tengah dirasakannya.

Mereka terus memainkan lidah masing-masing dan saling bertukar saliva, dengan Sehun yang terus menggerakan juniornya pada hole sempit Luhan, menghentakan keluar-masuk dengan cepat menimbulkan rasa nikmat yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata oleh keduanya.

Tangan Sehun pun tidak tinggal diam. Sambil terus mengeluar-masukan kejantanannnya pada hole Luhan, tangan kanannya mengocok kejantanan Luhan dengan cepat. Membuat Luhan hanya bisa melampiaskan rasa nikmatnya dengan menjambak dan menggigit punggung suaminya dengan kencang, meninggalkan beberapa tanda pada leher suaminya sampai merasa juniornya kembali berdenyut saat Sehun menumbuk tepat kedalam prostatnya,

"nggghhhh…. There baby there!, eeengh faas…hteeer… aaaaangg" Luhan kembali mengerang dan mendesah hebat, kembali menggigit kencang leher suaminya merasa kenikmatan ini bisa membunuhnya kapan saja.

"sehun...aku akan-..sam-...nghhhh."

Tak perlu Luhan menyelesaikan ucapannya, Sehun sudah sangat mengerti kalau pria cantiknya ini sudah akan mencapai kenikmatannya membuat Sehun semakin menghentak kuat juniornya pada hole Luhan dan mempercepat gerakan tangannya pada junior Luhan yang sudah sangat tegang dan sedikit berkedut siap kembali mengeluarkan cairannya.

Sementara Luhan sengaja mengetatkan lubangnya, membuat sensasi yang semakin menggila yang keduanya rasakan saat ini. Sehun menatap istrinya sedikit tersenyum memberi pria cantiknya.

"ber-..bersama...nghhh.." Katanya bergumam memberitahu Luhan dan tak lama

"ngggghhhhhh..." Keduanya melenguh bersamaan saat cairan sperma mereka keluar dari kejantanan mereka masing-masing. Jika Luhan mengeluarkan cairannya di perut suaminya, maka Sehun sepenuhnya membiarkan benihnya keluar tanpa tersisa di hole istrinya. Membuatnya sedikit tersenyum dan segera menyatukan kening keduanya "Selamat ulang tahun sayang." Katanya bergumam lirih merasa menjadi pria paling jahat yang pernah dikirimkan untuk pria cantiknya.

Luhan yang masih menikmati masa klimaksnya pun merasa begitu menghangat mendengar penuturan sang suami yang terdengar begitu tulus dan sangat mencintainya. Membuat mata rusa itu memberanikan diri menatap mata musang yang selalu memperhatikan dirinya. Sediki tersenyum sebelum menghapus peluh yang terlihat di wajah prianya "Terimakasih sayang. Aku mencintaimu." Katanya kembali melingkarkan tangannya di leher suaminya dan seketika menyatukan kedua bibir mereka dan kembali saling melumat lembut.

Keduanya tersenyum di sela ciuman mereka yang kembali menjadi panas, dan tanpa sadar sesuatu dibawah sana kembali menegang dan bersiap untuk memasuki ronde selanjutnya percintaan mereka.

"Kau menginginkannya lagi?" Luhan sedikit melepas lumatannya di bibir Sehun, bertanya pada sang suami yang malam tak banyak bicara seperti sebelumnya saat mereka bercinta. Luhan berusaha memakluminya, karena mau bagaimanapun dia masih merasa suaminya menjaga jarak padanya, walau sikapnya lembut dan begitu terlihat tulus menatapnya. Tak menjadikan Luhan berhenti mencemaskan apa yang akan terjadi selanjutnya setelah ini.

"hmmm.."

Dan seluruh pikiran buruk Luhan seketika menghilang saat Sehun bergumam memberi pernyataan, membuatnya berniat untuk tidak berpikiran buruk dan memutuskan untuk kembali melakukan percintaan panas dengan suaminya.

"Lakukan sebanyak yang kau mau sayang. Aku akan melayanimu."

Sehun pun hanya kembali menatap cukup lama wajah cantik yang berada dibawah kungkungannya. Sedikit tersenyum sebelum akhirnya mengecup wajah cantik istrinya dan bergerak perlahan berusaha membuat istrinya kembali mengerang nikmat untuk malam ini.

Luhan sendiri merasa malam ini Sehun tak seperti biasa. Suaminya lebih banyak diam dan terlalu fokus membuatnya merasakan kenikmatan. Membuatnya terlalu bahagia dan terlalu takut di waktu bersamaan. Bahagia karena setelah tiga minggu dia akhirnya bisa bertemu bahkan bercinta dengan suaminya. Namun merasa begitu takut menebak jika malam ini Sehun hanya mengalah untuknya dan akan kembali meninggalkannya esok hari.

..

..

..

Keesokan paginya...

.

"eunghh.."

Terdengar lenguhan yang berasal dari seorang pria cantik yang kini sedang membuka matanya perlahan. Sedikit mengerjapkan matanya sampai merasa sedikit bingung karena saat ini dirinya sudah memakai piyama tidur lengkap yang pasti di pakaikan oleh suaminya.

Membuat bibirnya sedikit tersenyum sebelum akhirnya menyibak selimutnya untuk mencari keberadaan suaminya yang ia tebak sedang berada di ruang santai dan tengah menyesap kopi hitamnya bersama dengan surat kabar sebagai pelengkapnya.

"nghh..."

Dan saat kedua kakinya mencoba melangkah hanya terasa rasa nyeri di seluruh pinggang dan bagian bawahnya. Membuatnya lagi-lagi tersenyum mengingat bagaimana dirinya dan Sehun saling berlomba mencapai kenikmatan dan begitu bahagia karena bisa merasakannya bersama. Dirinya pun mempercepat langkahnya mengabaikan rasa sakit di bagian bawahnya untuk berniat melihat wajah tampan suaminya yang selalu terlihat seksi di pagi hari.

Cklek...!

Luhan membuka pintu kamar hotelnya, sedikit mengusap matanya sampai

"omo! Apa yang kalian lakukan disini?"

Sampai dia sedikit terkejut melihat Max dan Yoochun berada di hotel tempat suaminya menetap.

"Luhan kami-.."

"Sebentar...Aku ingin mencari Sehun." katanya memberi isyarat agar Max dan Yoochun menunggu sebelum kembali mengitari hotel yang terasa seperti apartemen dengan fasilitas yang begitu lengkap dan mewah milik suaminya.

"Sehun..."

Luhan berjalan ke ruang santai dan sedikit mengernyit tak mendapati Sehunnya disana. Dia pun kemudian beralih menuju meja makan, melewati kedua "tangan kanan" suaminya yang hanya tertunduk tak berani menatap wajahnya.

"Sehun.." Dahi Luhan seketika mengernyit saat tak juga menemukan suaminya, membuatnya bertolak pinggang dan memandang kesal pada kedua anak buah Sehun yang hanya diam tak melakukan apapun.

"Cepat bantu aku menemukan Sehun." katanya sedikit memarahi Max dan Yoochun lalu kembali teringat dirinya belum memeriksa kamar mandi yang berada di luar kamar.

"Ah-..mungkin suamiku di kamar mandi." Katanya bergumam menuju kamar mandi, melewati Max dan Yoochun yang masing-masing kini mencengkram lengannya.

"Ada apa?"

"Bos sudah pergi."

"Pergi? Darimana kalian tahu? Ah-...Kalian dari markas dan berniat mengambil barang suamiku yang tertinggal ya?" katanya kembali bertanya namun merasa bingung saat kedua anak buah suaminya menggeleng dan terlihat sendu melihat wajahnya.

"Lalu kemana suamiku pergi? Kalian pasti tahu. Cepat beritahu aku, aku ingin bertemu dengan-.."

"Sehun sudah berada di Jepang saat ini."

Luhan seketika terdiam merasa dihantam batu kecil saat mendengar dimana keberadaan Sehun saat ini. membuatnya berusaha menenangkan diri sebelum kembali menatap Yoochun yang terdengar serius memberitahunya.

"Yoochun jangan bercanda. Ini masih pagi."

"Aku tidak Luhan-...Aku tidak bercanda." Katanya kembali membalas tatapan Luhan dan melihat istri dari bosnya dengan menyesal saat ini.

Luhan merasa suhu tubuhnya sudah kembali tak normal dengan detak jantung yang berdegup kencang, merasa sulit bernafas tak menyangka Sehun akan berbuat hal sejauh ini untuk menyakitinya.

Sungguh-..Luhan tidak ingin bepikiran buruk tentang suaminya, tapi semua ini terjadi terlalu cepat dan seluruh firasatanya malam tadi adalah sepenuhnya benar jika Sehun membals cintanya hanya untuk mengalah padanya. Luhan berusaha mengontrol emosinya dan bertanya untuk memastikan sesuatu pada kedua pria yang masih mencengkram lengannya saat ini.

"Berapa lama dia pergi? Satu minggu? Dua minggu? Atau sebulan?" katanya berusaha teerdengar merelakan kepergian suaminya saat ini.

"Hey jawab aku-...Aku bertanya."

"Kami tidak bisa memastikan kapan suamimu akan kembali."

Jantung Luhan kembali berdebar mendengar jawaban yang dilontarkan Max saat ini, membuatnya menggeram marah dan menatap benci pada Max yang tak berani menatapnya
"Apa maksudmu?"

"Hyungnim memutuskan untuk menetap sementara di Jepang, ada urusan yang harus dia selesaikan dan tak akan kembali sebelum urusannya selesai. Dengan kata lain, kami juga tidak tahu kapan Hyungnim akan kembali."

"Berapa lama?" gumam Luhan yang mulai tak bisa menyembunyikan emosinya.

"Kami tidak tahu Luhan. Maaf."

"BERAPA LAMA?!"

Kali ini dia berteriak membuat baik Max maupun Yoochun sedikit terkesiap dan tak tega melihat betapa hancurnya Luhan bahkan di waktu yang masih panjang untuk dilewati hari ini.

"Setahun." Gumam Yoochun memberitahu Luhan

"Mungkin bisa lebih." Timpal Max membuat Luhan benar-benar akan terjatuh kalau saja Max dan Yoochun tak menahan berat tubuhnya.

"tidak mungkin."

Mata Luhan mulai memanas mengutuk kejujuran yang dilontarkan oleh Yoochun dan Max sedari tadi. Dia baru saja merasa lebih malam tadi, tapi kemudian pagi ini dibuat merasakan sakit yang lebih. Dia benar-benar marah dan benar-benar membenci apa yang dilakukan Sehun padanya. Merasa sangat kesakitan walau tak ada goresan sekecil apapun di tubuhnya.

"Lepas!"

Luhan menghempas kasar kedua tangan Max dan Yoochun lalu kemudian berjalan gontai menuju tempat duduk terdekat yang berada di ruang makan.

"Oh Sehun tega sekali kau meninggalkanku seperti ini."

Luhan tertawa lirih dan berjalan gontai menuju kursi di meja makan yang terasa sangat jauh dari jangkaunnya. Sejauh pria yang berstatus sebagai suaminya yang kini sangat jauh untuk ia jangkau.

"Kau brengsek Oh Sehun."

Luhan semakin berjalan tertatih dengan air mata yang terus berjatuhan membasahi pipinya dengan hati yang begitu sakit bahkan untuk menghirup oksigen pun terasa begitu menyakitkan saat ini.

"Kau brengsek Oh Sehun!" Luhan semakin menggeram benci mengumpat pada suaminya dengan tangan yang mengepal erat sampai

"KAU BRENGSEK OH SEHUN!"

Luhan seketika terjatuh duduk di lantai, mencengkram kuat dadanya dan begitu marah melihat Max dan Yoochun berlari menghampirinya.

"JANGAN MENDEKAT! KALIAN SEMUA BRENGSEK! AKU MEMBENCI KALIAN."

Katanya kembali berteriak membuat seketika langkah Max dan Yoochun membeku. Keduanya begitu tak tega melihat keadaan Luhan saat ini, begitu marah pada diri mereka sendiri yang hanya bisa membiarkan Luhan terluka tanpa bisa melakukan apapun untuk menghiburnya.

"Kenapa kau tega sekali padaku? Aku tidak bisa melakukan apapun tanpamu. Kembalilah sayang-...Kembali padaku aku mohon." Katanya menjerit tertahan dan begitu kacau tak bisa membayangkan bagaimana dia melanjutkan hidupnya tanpa Sehun setelah ini.

Luhan berusaha menenangkan dirinya namun kembali terisak begitu sesak menyadari tak bisa melihat Sehun malam ini, tak bisa melihat Sehun esok hari, tak bisa melihat suaminya untuk waktu yang lama. Membuat tangannya mencengkram kuat dadanya dan

"AKU MEMBENCIMU OH SEHUN!"

Katanya berteriak begitu memilukan tak hanya Max dan Yoochun yang bisa merasakan betapa hancurnya Luhan saat ini. Seorang pria tampan yang sedari tadi berdiri di luar pintu kamarnya pun terlihat sama hancurnya dengan pria cantiknya yang menjerti memilukan saat ini.

"Maafkan aku Luhan. maafkan aku sayang."

Ya-...Sehun tidak pernah pergi ke Jepang. Sehun sudah berdiri disana sejak awal, mendengar seluruh teriakan dan tangisan istrinya yang begitu memilukan dan merasa begitu jahat karena terus menyakiti pria cantiknya.

Sehun terpaksa melakukan kebohongan ini, karena jika dia tidak melakukannya. Luhan akan terus pergi mencarinya. Akan terus menemukannya dan akan terus terluka karenanya. Katakanlah Sehun egois. Dia bisa melihat Luhan kapanpun dia mau tapi Luhan-... pria cantiknya mungkin akan hidup berantakan setelah hari ini.

"KEMBALI PADAKU SEHUNNA!"

Sehun kembali memejamkan matanya saat teriakan Luhan kembali terdengar. Membuatnya seketika jatuh terduduk bersandar di pintu masuk hotelnya, terisak begitu pilu untuk menahan diri agar tak berlari memeluk istrinya yang begitu kesakitan saat ini.

Tangannya mengusap lembut pintu kamar hotelnya, membayangkan kalau saat ini dirinya tengah mengusap punggung istrinya yang bergetar. Merasa begitu sesak dengan keputusan yang dia buat karena masa lalu mengerikan baik dari Luhan maupun dirinya terus berdatangan. Membuat Sehun tak memiliki pilihan lain selain menjaga istrinya dengan caranya sendiri.

"Aku akan kembali-... Aku janji akan kembali padamu."

Sehun memejamkan erat matanya, mengatur nafasnya yang begitu memburu sebelum akhirnya berdiri meninggalkan ruangan dengan istrinya yang masih terisak pilu, dia memutuskan untuk segera pergi –bukan untuk menetap di Jepang seperti kebohongan yang telah ia buat-. Melainkan pergi untuk menyelesaikan semua hal yang membuatnya dan Luhan begitu sulit untuk bersama tanpa harus merasa ketakutan karena bisa kehilangan satu sama lain di waktu yang tak terduga.

"Kau akan baik-baik saja Lu. Aku menjagamu."


.

tobecontinued


Jangan abaikan spoier yg gw bilang entangled bakalan riweh, gondok, marah dan bikin mules. :v. Tapi gue pribadi sukak sm krkter sehunnya disini. Aura kesuamiannya bkin pengem cepat kawin -nikah maksudnya-.

.

Terus gue suka snyum sama review analisa dr kalian. Hampir ada yg mendekati benar. Dasaran tukang pemecah kode syih ya jadinya nebak jalan cerita jg lancar jaya. :p.

Nanti klo display review dari ffn udh ga down -untuk yg ksekian klinya-. Gw mau balesin tebakan yg mendekati benar. Mau rumpi breng wkwk. Reviewnya emg ga keliatan gegara ffn eror egen tapi di email masuk dan sudah kubaca analisanya yg gue sndiri ga mikir smpe ksitu kkk. Jadi ga ada review yg diapus awkay. Ga bisa ngapus review jg. Jadi jangan mayah2 egen bsk puaca dosa kkk.. Nnti reviewnya pasti ada kok klo udh ga eror. Ffn belakangan down terus.😑.

.

Satu lagi...Yang kemarin nebak Feilong dari anime Manga Viewfinder kamu bener banget!. Gue pecinta Manga banget. Kalo udah ngomongin Manga Mesyum apalagi YAOI. Gue langsung konek kkkkk... suka aja gitu baca yang pake gambar ;p. –abaikan lagi ;v

.

Well, selamat membaca dan happy review...nway happy 520 juga! :luvvvvmuch