Previous.
Kyungsoo pun berjalan mendekati lembar kertas tersebut sedikit menunduk untuk mengambilnya dan tersenyum melihat foto keluarga kecil Luhan lengkap dengan malaikat kecilnya dan Sehun.
Kyungsoo masih memperhatikan bergantian wajah Luhan sedikit tersenyum mengagumi wajah Luhan lalu beralih ke wajah Sehun yang sedang menggendong malaikat kecilnya.
"Kau sepertinya ayah yang baik." Kyungsoo bergumam dan tak lama berjalan menuju lemari es untuk mengambil segelas air sebelum
"Aku mengenalnya."
Sebelum langkah Kyungsoo terhenti dengan mata membelalak dan kaki yang begitu melemas. Dia masih mengagumi foto kecil keluarga Luhan, sampai akhirnya matanya tertuju pada pria kecil bertopi merah yang memandangnya di foto.
Membuatnya berusaha mengingat karena begitu familiar dengan topi yang dikenakan putra Luhan dengan senyum khas yang terlihat sama persis seperti Luhan. Membuat beberapa suara tiba-tiba masuk kedalam memorinya dan
"Arghhh!"
Kyungsoo tiba-tiba terjatuh merasa kepalanya berdenyut hebat saat ini . Ada beberapa hal yang sepertinya memaksa masuk ke dalam kepalanya membuatnya begitu kesakitan. Dia mengingat ucapan Suho yang mengatakan jika kau tidak siap dengan ingatan itu kau boleh menolaknya.
Namun semakin Kyungsoo menolaknya kepalanya akan terasa sakit dan tiba-tiba ada banyak suara yang begitu membuatnya ketakutan.
Appa Eomma esklim! mau esklim!
"Arghhh...!"
Suara pertama begitu mengganggunya dan tak saat dia menolak suara kedua, maka semua makin terdengar semakin jelas untuknya.
Sebentar sayang. Eomma dan Appa sedang menjawab panggilan
"argggghhhh!" Kyungsoo kembali menjerit kesakitan dan seketika membelalakan matanya saat ingatan terakhir yang begitu kuat seketika mengenai memorinya yang paling tidak ingin ia sentuh. Ia menutup kedua telinganya agar suara tidak semakin berdatangan namun gagal karena
ZIYU AWAS!
BRAK...!
ZIYU!
"Ziyu?"
Kyungsoo sudah terkapar di lantai. Dia tidak tahan lagi mendengarnya. Dia mendengar suara Sehun dan Luhan bersahutan memanggil nama Ziyu dengan begitu pilu dan ketakutan
Dia tidak tahu itu apa. Siapa dirinya? Siapa Luhan? siapa Sehun? dan siapa Ziyu-..nama yang tak pernah ia dengar namun terasa begitu familiar untuknya-
"Siapa kau?" katanya bergumam memandang wajah Ziyu di foto sampai akhirnya tak sadarkan diri dengan menggenggam erat selembar foto yang ia temukan di tangannya.
Dan hal terakhir yang Kyungsoo inginkan ialah dia tidak pernah terbangun lagi setelah ini. karena dia yakin jika dia terus mengingat siapa dirinya maka semua tidak akan berakhir baik untuknya dan semua orang yang berhubungan dengannya.
.
.
.
.
.
.
.
.
Entangled
Main Cast : Sehun & Lu Han
Genre : Romance, Family, Hurt/Comfort
Rate : M
Length : Chapter
YAOI. Typo (s)
HUNHAN STORY!
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Kyungsoo...Kyungsoo"
"Kyungsoo!"
Merasa tubuhnya terhentak kasar dan seseorang memanggil namanya cukup kencang membuat pria yang masih menjalani terapi untuk mendapatkan kembali ingatannya perlahan membuka mata. Sedikit mengerjapkan berulang sampai akhirnya matanya dan mata Jongin -pria yang membangunkannya- bertemu.
"Kai?"
"Kau baik-baik saja?" katanya bertanya begitu mengkhawatirkan keadaan Kyungsoo yang terbaring tak sadarkan diri di lantai.
Kyungsoo sendiri hanya diam tak menjawab karena rasa sakit di kepalanya masih sangat terasa. Membuat jantungnya kembali berdebar melihat selembar foto yang masih berada di genggaman tangannya.
"Kyungsoo?!"
Merasa namanya kembali di panggil membuat Kyungsoo sedikit tersentak dan hampir memekik terkejut karena saat ini Kai sedang menggendong nya bridal dan tampak terlihat mencemaskan dirinya.
"Aku ambilkan air."
Dan setelah merebahkan Kyungsoo di sofa, Kai berlari ke dapur mengambilkan segelas air untuk Kyungsoo.
"Ini minumlah."
Kyungsoo sendiri hanya menatap Kai agak ragu sebelum mengangguk mengambil segelas air yang dibawakan untuknya. Menenggaknya habis lalu setelah itu kembali terdiam karena ada sesuatu yang mengganjal hati dan pikirannya.
"Kenapa kau terlihat pucat Kyung? Apa perlu aku hubungi Luhan untuk memeriksamu?"
Kyungsoo menggeleng sekilas dan tak lama menatap lirih pria didepannya "Luhan pergi."
"Luhan kemana?" gumam Kai mengulang cepat bertanya pada Kyungsoo.
"Luhan pulang hanya untuk mengambil pakaiannya. Dia terburu-buru dan tidak berbicara banyak padaku."
"Kau tahu kemana dia pergi?"
"Tidak."
Mendengar penuturan Kyungsoo membuat Kai segera mengeluarkan ponselnya dan memcari kontak Baekhyun untuk bertanya apa Luhan bersamanya atau tidak.
"Sebaiknya kau tidur, aku sudah bertanya pada dokter Byun dan akan ke rumah sakit setelah ini."
"Kai.."
Menghiraukan segala ucapan Kai dan memutuskan untuk bertanya pada Kai adalah satu-satunya hal yang sangat diinginkan Kyungsoo saat ini.
"Apa ini adalah foto terakhir Luhan dan Sehun bersama putranya?"
Kai sedikit menaikkan kedua alisnya saat Kyungsoo menunjukkan foto yang hampir tak pernah Luhan tinggalkan dan selalu dibawa Luhan kemanapun dia pergi.
"Darimana kau mendapatkannya?"
"Luhan pergi terburu-buru dan menjatuhkannya."
"ah begitu…" gumam Kai yang sama sekali tak mau melihat foto yang ditunjukkan Kyungsoo padanya. Karena setiap Kai melihatnya hatinya begitu diremat mengingat apa yang terjadi pada hari itu -hari dimana Sehun dan Luhan kehilangan putra kecil mereka-
"Ya. Itu hari terakhir mereka bersama sebagai keluarga utuh."
Kyungsoo bisa melihat kedua tangan Kai mengepal erat, nafasnya tersengal dan wajah nya memerah menandakan dirinya begitu marah membuat Kyungsoo hanya bisa terdiam tak merespon apapun yang menjadi kemarahan Kai saat ini.
"Dan aku bersumpah-..."
"Aku akan menghabisi bajingan keji yang telah membunuh malaikat kecil kami. Aku masih mencarinya dan akan terus mencarinya sampai aku berhenti bernafas." katanya menggeram menatap kosong kedepan, membuat sesuatu dalam tubuh Kyungsoo merespon begitu meremang dan ketakutan saat ini.
Tanpa sadar Kai menaikkan nada suaranya, masih mengutuk siapapun pembunuh tak berperasaan yang berani menyentuh putra Sehun dan Luhan. membuat wajah Kyungsoo seketika memucat dan kembali tertunduk. Kai yang menyadari telah membuat Kyungsoo ketakutan pun sedikit tersenyum dan duduk mendekat ke tempat Kyungsoo berada "Aku tidak bermaksud berteriak. Maafkan aku Kyungsoo." katanya menggenggam jemari Kyungsoo yang entah mengapa terasa dingin.
Kyungsoo pun menarik cepat tangannya dari genggaman Kai, menatap penjaga Luhan dengan sedikit takut sebelum akhirnya tersenyum dipaksakan. "Aku baik." katanya memberitahu dan tak lama memalingkan wajahnya menolak pandangan dari Kai.
"Aku akan memanggil dokter Kim. Aku rasa kau butuh bertemu dengannya. Wajahmu pucat Kyung."
Kyungsoo segera menahan tangan Kai dan kembali menatap Kai dengan memohon "Aku baik Kai. Sungguh."
Kai sebenarnya ingin sekali bertanya mengapa Kyungsoo terlihat begitu takut akan satu hal. Dan dia juga menyadari kalau wajah pucat Kyungsoo bukan karena dirinya kesakitan melainkan karena Kyungsoo terlalu mencemaskan sesuatu.
"Kyungsoo apa benar kau baik-..."
Drrtr...drrrr..
Belum selesai Jongin bertanya, ponselnya berbunyi dan menampilkan nama dokter Byun di layarnya. Membuatnya segera mengangkat sementara Kyungsoo masih diam tak bicara.
"Baiklah aku akan segera kesana."
Dan beberapa menit setelah Kai dan Baekhyun berbicara. Keduanya pun menyudahi obrolan singkat mereka. "Aku harus segera pergi. Baekhyun bilang dia tidak melihat Luhan seharian ini." katanya memberitahu Kyungsoo dan tak lama memakai kembali jaketnya untuk bersiap pergi.
"Aku pergi dulu. Sampai nanti Kyung." Kai sedikit mengusap lembut pipi Kyungsoo sebelum akhirnya beranjak pergi meninggalkan apartemen Luhan.
"Jaga foto itu. Luhan pasti akan mencarinya."
Seketika pandangan Kyungsoo kembali tertuju pada foto keluarga kecil Sehun dan Luhan -tepatnya- matanya tertuju pada pria kecil bertopi merah yang tertawa berada di tengah-tengah orang tuanya.
Membiarkan rasa sakit di kepalanya kembali menyerangnya. Dan kali ini Kyungsoo tidak membuat pertahanan diri. Dia membiarkan semua kenangan yang ingin ia lupakan perlahan menempati tempatnya masing-masing. Mengingatkan betapa tak termaafkan dirinya atas perbuatannya di masa lalu.
Matanya kembali memanas dan cairan bening itu kembali membasahi foto terakhir kebahagiaan keluarga Luhan. Kebahagiaan yang seharusnya masih bisa dirasakan Sehun dan Luhan bersama putra mereka. Kebahagiaan tak ternilai yang kini hanya menjadi kenangan. Kebahagiaan yang dia renggut begitu saja dari Sehun dan Luhan dengan cara yang keji.
Ya...Kyungsoo sudah mengingatnya. Kyungsoo mengingat semuanya-.. Siapa dirinya dan hidup seperti apa yang dia jalani. Dia bahkan mengingat dengan jelas saat hari itu terjadi.
Hari dimana dia melihat Luhan bersama putranya untuk terakhir kalinya. Dia mengingatnya-...Mengingat dengan jelas bagaimana dia menghempaskan tubuh malaikat kecil Sehun dan Luhan.
Sedikit tertunduk dan terisak pilu mengakui kalau dialah yang bertanggung jawab atas kematian malaikat kecil Sehun dan Luhan.
Karena saat tubuh kecil Ziyu terhempas kencang membentur trotoar jalan. -Dialah pelakunya-. Orang yang dengan keji menabrak balita lima tahun yang masih sangat ingin berkumpul bersama kedua orang tuanya. Orang yang dengan keji menghapus senyum di wajah Ziyu menjadi raut kesakitan yang teramat.
Kyungsoo sedikit meremas kasar foto yang berada di tangannya. Dadanya begitu sesak dan hatinya begitu merasa bersalah mengingat jika dirinyalah yang bertanggung jawab atas kematian Ziyu. Bertanggung jawab atas kehilangan yang dirasakan Sehun dan Luhan. Dan bertanggung jawab atas seluruh air mata yang dikeluarkan Luhan karena menangisi dan begitu merindukan putranya.
"Kalian tidak perlu mencari terlalu jauh. Aku disini-...pembunuh putra kalian menetap di apartemenmu. Temukan aku dan habisi aku. Aku minta maaf Luhan."
"AKU BERSALAH HYUNG! MAAFKAN AKU!"
Batin Kyungsoo terkoyak, merasakan darah pembunuh yang mengalir di dalam tubuhnya membuatnya seketika sangat membenci dirinya.
Dia berteriak-...Bukan karena takut Luhan akan menemukannya dan membunuhnya. Dia bahkan sangat mengharapkan mati di tangan Luhan. Dia hanya takut jika Luhan membencinya dan membiarkan dirinya hidup dengan perasaan bersalah di setiap helaan nafas yang dia hembuskan.
..
..
..
..
"Hey sayang. Eomma datang lagi."
Pagi ini cuaca masih terasa sangat menggigit kulit. Suhu yang sedang mencapai titik terendahnya sungguh membuat siapa saja akan menggigil dan tak berniat beranjak dari balik selimut mereka. Semua-….kecuali seorang pria berwajah cantik namun terlihat sangat pucat yang memutuskan untuk mendatangi tempat putra kecilnya beristirahat sudah tiga hari terhitung hari ini saat pertama kali dirinya sampai di Gangneung –tempat Luhan dan Sehun memutuskan untuk membuat tempat peristirahatan paling nyaman untuk malaikat kecil mereka-
Luhan sendiri hanya memandang tak berkedip makam putranya yang terlihat begitu indah. Bertanya-tanya sedang apa malaikatnya disana, apa Ziyu merasa kesepian atau apakah putranya tumbuh dengan baik. Membuat tangannya yang sedang menggenggam bunga untuk diletakkan di pemakaman Ziyu mengerat. Kerena setiap kali Luhan memikirkan semua hal itu membuat hatinya terasa begitu penuh, terasa menghempit dan sangat sesak bahkan hanya untuk mengeluarkan sepatah kata pun dia tak bisa.
"Nak.." ujarnya berkata lirih dan mulai berjongkok untuk meletakkan sebuket bunga cantik yang semakin memperindah tempat peristirahatan putranya "Sudah tiga hari berturut-turut eomma datang mengunjungimu. Tapi kenapa eomma semakin merindukanmu nak." Luhan bertanya entah pada siapa, membiarkan air matanya terjatuh sementara semilir angin terasa menerpa wajahnya.
"Eomma benar-benar merindukanmu nak." Katanya mengulang dan sedikit tertunduk merasa begitu kecewa pada apa yang terjadi di hidupnya.
"Jika Ziyu disini mungkin ayah tidak akan pernah membawa wanita lain bersamanya. Jika Ziyu disini ayah tidak akan pernah meminta berpisah dari eomma. Jika Ziyu disini eomma tidak akan pernah merasa begitu kesepian seperti saat ini. Seandainya kau masih disini nak." Katanya tersenyum lirih dan mencium batu nisan bertuliskan Oh Ziyu cukup lama dengan air mata yang terus keluar membasahi pipinya.
"Eomma merindukan ayahmu." Katanya tersenyum lirih membuat gerakan menghapus air mata di wajahnya. "Jadi kau tidak boleh berpikir ayah jahat. Ayah mencintai kita, dia hanya sedang bingung dan bertindak menyebalkan."
Suasana kembali hening saat Luhan hanya menatap kosong makam putranya. Membuat gerakan mengelus lembut nisan Ziyu dengan pikiran yang entah berada dimana. Merasa begitu kesepian dengan hidup yang ia jalani hampir tiga hari ini. –tanpa Sehun dan tanpa kabar dari Sehun-
Ya-…Luhan memang sengaja mematikan ponselnya. Dia benar-benar butuh waktu sendiri tanpa gangguan dari siapapun. Karena dia bisa menebak yang akan menghubunginya dan terus bertanya tentang keberadaan dirinya hanya Baekhyun dan tiga anak buah Sehun. Menghapus Sehun dari list karena memang suaminya tidak akan pernah mencarinya jika dia sedang sangat ingin berpisah darinya.
"Bahagia terus disana jagoan. Eomma akan berada disini tiga bulan. Dan selama tiga bulan-…eomma milikmu." Katanya mencium sayang nisan putranya sebelum berdiri berniat pergi dan berpamitan pada putranya.
"Eomma dan Appa menyayangi Ziyu. Terimakasih untuk waktu singkat yang kita habiskan bersama nak. Eomma-…"
Luhan kembali merasa dadanya diremat begitu kencang saat lagi-lagi menyadari kalau waktu yang dihabiskan dirinya dan Sehun dengan Ziyu begitu singkat. Membuatnya begitu takut menebak kalau hal itu akan terjadi pada dirinya dan Sehun suatu saat nanti.
"Eomma akan datang berkunjung besok pagi. Sampai nanti jagoan." Katanya menghapus cepat air mata rindunya dan bergegas pergi meninggalkan pemakaman putra kecilnya dengan hati yang begitu hampa.
..
..
..
..
"Apa kau sudah menemukan keberadaan Luhan?"
"Belum."
"Ponselnya?"
"Masih tidak aktif."
Saat ini di sebuah kafe kecil terlihat empat orang sedang berkumpul dan terlihat mengkhawatirkan keberadaan seorang pria yang merupakan istri dari bos mereka. Merasa begitu kesal karena sang suami yang merupakan bos mereka sama sekali tak memberi perintah untuk mencari keberadaan istrinya.
"Kita harus mencarinya kemana?" gumam Max memijat kepalanya dan merasa begitu bersalah karena telah memberikan ide agar Sehun berbuat sesuatu yang membuat Luhan membencinya dan bukan merasa bersalah karena sikapnya.
"Aku yakin Luhan berada di Gangneung. Dia tidak memiliki tempat untuk pergi selain tempat mendiang putranya berisitirahat." Gumam Kai memberitahu ketiga temannya yang terlihat membelalak senang saat ini.
"Kau benar! Gangneung." Yoochun berdiri dari tempatnya membuat ketiga yang lain menatap bingung padanya "Kau mau kemana?"
"Kita harus memberitahu bos dan meminta libur agar bisa membawa Luhan pulang kan?"
Merasa itu ide bagus membuat ketiga temannya ikut berbinar dan berdiri dari tempat mereka masing-masing "Kau benar lagi. Ayo kita pergi."
Shindong berjalan mendului ketiga temannya berharap segera bisa membawa Luhan, agar mood bos mereka menjadi baik dan tak terlalu sering menyakiti anak buahnya yang hanya melakukan kesalahan kecil beberapa hari ini.
.
Beberapa saat kemudian..
"Tidak. Kalian banyak pekerjaan. Kalian tidak akan pergi Gangneung."
Keempat anak buah yang merupakan kaki tangan Sehun begitu terkejut mendapati reaksi dari Sehun yang sama sekali tak sesuai dengan ekpektasi mereka.
Ya-…Karena yang ada di bayangan mereka, Sehun akan begitu bahagia mendengar kabar tentang istrinya. Meminta mereka untuk segera menjemput Luhan dan membawanya kembali ke pelukannya. Bukan seperti ini-….bersikap tak acuh dengan nada dingin yang menunjukkan Sehun sama sekali tak peduli tentang keberadaan Luhan yang tanpa kabar sudah hampir seminggu lamanya.
"Tapi bos. Kemungkinan besar Luhan berada disana. Kami akan membawanya pulang untukmu."
"Dia memutuskan pergi. jadi biarkan saja."
"BOS!"
Sehun yang sedang sibuk dengan dokumennya pun seketika menoleh dan menggeram menatap Max yang berteriak dengan menggebrak kencang meja kerjanya "Kenapa kau berteriak?" katanya bertanya dengan nada kemarahan yang tak bisa disembunyikan.
"Kenapa kau seperti ini? Beri Kami perintah untuk membawa Luhan pulang dan kami akan segera pergi mencarinya."
Sehun menatap marah pada anak buahnya, sebelum akhirnya tersenyum sengit dengan tangan yang mengepal kuat "Satu-satunya perintah untuk kalian hanya kembali bekerja. Dan lupakan untuk mencari keberadaan seseorang yang sudah memutuskan pergi."
Mendengar penuturan Sehun pun membuat Max memijat kepalanya dan menatap balik tatapan sang ketua dengan tatapan yang sama marah namun terlihat kekecewaan di dalamnya "Aku akan tetap pergi ke Gangneung dan membawa Luhan kembali. Entah dengan perintahmu atau tidak."
"Kau akan kehilangan pekerjaanmu kalau begitu." Timpal Sehun mengancam dengan mudahnya membuat Yoochun yang bereaksi kali ini.
"Kami lebih memilih kehilangan pekerjaan daripada membiarkan sesuatu yang buruk terjadi pada orang sebaik Luhan. Jadi kau berhak memecat kami, dengan begitu kami juga berhak mencari dan memastikan kalau Luhan baik-baik saja. Permisi."
"PARK YOOCHUN KEMBALI!"
Yoochun meninggalkan ruangan Sehun dan mengabaikan panggilan dari bosnya yang terdengar begitu marah. Sengaja mendorong kasar kursi sehingga menghasilkan suara debuman yang kuat di dalam ruangan Sehun.
"Kau juga bisa memecatku bos. Terimakasih." Timpal Shindong yang juga meninggalkan ruangan menyisakan Kai, Sehun dan Max saat ini.
"Apa kau benar-benar tidak akan mencarinya?" Max masih bertanya berharap bosnya merubah keputusan keras kepalanya dan berbalik menyerah untuk memberi perintah mencari keberadaan istrinya.
"Tidak."
Sontak jawaban Sehun membuat tak hanya Max menggeram marah. Kai juga merasakannya, hanya saja Kai masih bisa mendengar dengan jelas jika nada Sehun bergetar, menandakan bahwa Sehun hanya sedang kembali berpura-pura untuk tidak menunjukkan rasa khawatirnya walau hanya sedikit untuk Luhan.
"Kalau begitu saya permisi. Terimakasih untuk segala yang telah kau ajarkan dan berikan pada kami bos. Sampai jumpa."
Dan dengan kepergian Max dari ruangannya. Maka Sehun secara resmi kehilangan ketiga "kaki tangan" nya sedikit mengepal marah. sebelum matanya mencari keberadaan Kai dan menatapnya "Kenapa kau masih disini? Cepat pergi dan ikut bersama teman-temanmu!"
"Aku tetap disini bos."
Mendengar penuturan Kai yang mengatakan akan tinggal sedikit banyak membuat Sehun bertanya-tanya. Karena selama ini Kai sangat pro pada Luhan, apapun yang terjadi pada Luhan, apapun yang menyakiti Luhan dan kemanapun Luhan pergi. Kai akan selalu berada disana bersama Luhan. membantahnya dan tak pernah mendengarkan perintahnya.
Namun saat dia mengatakan akan tetap disini bersama dirinya, tentu membuat Sehun menatap bertanya padanya "Kenapa?"
Terdengar Kai menghela nafasnya dan berdiri dari tempat duduknya untuk menatap Sehun yang masih melihat ke arahnya "Entahlah. Aku tetap kecewa padamu bos. Hanya saja aku rasa tiga orang yang mencari Luhan lebih dari cukup. Tugasku hanya mengawasimu dan memastikan kau baik-baik saja. Karena jika sampai terjadi sesuatu pada dirimu maka hidup Luhan berakhir."
"Aku permisi." Gumamnya sedikit membungkuk dan tak lama meninggalkan Sehun yang hanya menatap kosong ke depan dengan tangan mengepal erat. Membiarkan kejahatan dan emosinya menguasai. Sampai nanti pada akhirnya dia harus menyesal karena tak ada disamping Luhan saat pria cantiknya membutuhkan.
"Aku tahu kau akan baik-baik saja sayang."
Katanya menatap foto Luhan yang berada di ruang kerjanya. Sedikit mengusapnya lembut dan penuh rindu "Kau akan lebih aman berada disana daripada bersamaku disini. Aku tetap mengawasimu sayang." Ujarnya berkata lirih dan tak lama membalikan foto Luhan.
Sedikit terdiam dan tak mau perasaan rindu menguasainya. Karena jika sampai rasa rindu Sehun pada istrinya berada pada puncaknya. Maka sudah dipastikan semua pertahanan yang ia bangun akan seketika runtuh dan berakhir berlari ke tempat istrinya berada. Membuat keadaan kembali berbahaya untuk istrinya dan-…Sehun tidak menginginkan hal itu.
..
..
..
..
"Ziyu eomma?"
Merasa namanya dipanggil membuat seorang pria yang sedang bebas tugas dari pekerjaannya sebagai dokter menoleh dan sedikit mengernyit mendapati seorang gadis kecil yang memegang boneka besar di tangannya tengah mendongak dan memandangnya dengan tatapan bingung yang sama dengan Luhan.
Luhan sendiri masih bertanya-tanya siapa gadis yang terlihat begitu kurus dengan wajah memucat yang sedang memanggilnya. Berniat berjongkok dan bertanya sebelum sang ibu datang dan memanggil putri kecil
"Kim Taerin."
Taerin?
Merasa begitu familiar dengan nama Taerin membuat Luhan semakin bertanya dan begitu terkejut mendapati sang ibu yang kini memandangnya sama terkejut namun tidak bisa menyembunyikan senyum yang sama-sama menandakan kalau keduanya memang saling mengenal.
"Oh yujin."
"Dokter Oh."
Keduanya pun saling memeluk sekilas dengan senyum di wajah mereka, mengingat bahwa satu-satunya yang menjadi alasan mereka saling mengenal adalah karena Kim Taerin –putri Oh Yujin- berteman dekat dengan Ziyu –Putra Luhan-
.
"Aku hampir tak mengenal Taerin. Dia sudah sangat besar."
"Dan pucat." Timpal sang ibu dengan nada begitu lirih dan mengkhwatirkan sesuatu.
Saat ini kedua pria dan wanita yang memang saling mengenal karena putra dan putri mereka berteman, memutuskan untuk mengunjungi kafe kecil yang berada di pusat kota untuk sekedar berbincang dan bertanya kabar. Membiarkan sang putri kecil bermain sementara kedua orang dewasa memperhatikannya dari jauh.
"Ya Kau benar. Taerin terlihat sangat pucat dan kehilangan banyak berat badan. Aku hampir tidak mengenalinya jika bukan karena kau yujina. Putrimu sedang sakit?"
Yujin hanya tersenyum sekilas sambil menundukkan kepalanya dan Luhan-…Dia jelas sekali melihat jika ada sesuatu yang salah pada Yujin yang ia kenal sebagai wanita yang bersemangat dan suka tertawa. Hampir tak pernah menunjukkan rasa sedihnya bahkan saat sang putri menjerit kencang dan marah ketika tubuh Ziyu dimasukkan kedalam tanah tepat satu tahun yang lalu.
"Luhan. Aku mohon tolong selamatkan putriku." Katanya menggenggam tangan Luhan terlampau erat membuat Luhan sedikit bertanya.
"Ada apa?"
.
Awalnya putriku hanya demam. Dokter mendiagnosa memang hanya demam. Tapi setelah aku membawa Taerin ke rumah sakit. Semuanya berubah. Putriku mengalami gejala yang aneh setelah tiga bulan pengobatan di rumah sakit tempat aku membawanya. Demamnya memang hilang, tapi setelah itu tubuhnya menjadi lemas dan Taerin akan pingsan jika dia kelelahan. Putriku memuntahkan darah hampir tiga bulan ini Luhan. Rambutnya mengalami kerontokan yang parah. Dia sakit dan dokter yang merawatnya sama sekali tak mau memberitahu apa yang terjadi pada putriku.
Dan kenapa kau tidak diberitahu?
Mereka bilang Taerin mendapatkan pengobatan gratis yang diberikan yayasan dari penyumbang terbesar di rumah sakit. Dan karena itu, mereka memintaku untuk tidak banyak bertanya dan hanya memberikan obat yang mereka berikan untuk Taerin. Aku ingin sekali membawa Taerin berobat ke tempat lain, tapi aku tidak memiliki uang sepeser pun semenjak kematian suamiku. Taerin akan menjalani operasi minggu depan. Aku takut Luhan-…Aku tahu sesuatu terjadi pada putriku.
Dilihat dari gejalanya. Kondisi putrimu memang harus ditindaklanjuti dengan operasi. Jadi biarkan Taerin menjalani operasinya.
Tidak-….Aku tidak mau Taerin dioperasi oleh mereka.
Mereka?
Ya-…Dokter yang bekerja disana terlihat begitu mengerikan dan sama sekali tak memberitahu kondisi putra dan putri kami.
Kami?
Luhan-..Bukan hanya Taerin yang mengalami kondisi seperti ini. awalnya mereka demam lalu akan berakhir harus di operas. Dan kau tahu apa yang terjadi?
Apa? Aku sama sekali tidak mengerti.
Terhitung sudah lima belas anak dalam enam bulan terakhir anak kecil berusia sama dengan Taerin meninggal karena gejala yang sama dengan yang putriku alami.
"Lima belas anak?"
Luhan sedang dalam perjalanannya ke rumah sakit tempat Taerin di periksa, merasa ada yang tidak benar dengan prosedur pengobatan untuk Taerin terlebih saat tahu tempat dimana Taerin menjalani pengobatan.
Dimana Taerin menjalani pengobatannya?
Sejong Hospital.
Sejong hospital? Dia merupakan anak rumah sakit dari Seoul Hospital.
Aku tahu Luhan. maka dari itu aku mempercayakan putriku di rawat disana, mengingat kau bekerja sebagai dokter bedah di Seoul Hospital. Aku tidak pernah meragukannya sampai kondisi putriku menjadi seperti ini. Dan keyakinanku bertambah saat mereka mengatakan siapa penyumbang terbesar untuk Sejong hospital
Siapa?
Sehun.
Dan Sehun yang kau maksud adalah?
Oh Sehun-…Suamimu Luhan.
"Sehun?"
Ckit…!
Luhan menghentikan mobilnya dan memasuki rumah sakit yang entah mengapa terasa seperti pemakaman dengan orang-orang yang berjalan di dalamnya.
Mengabaikan perasaannya yang begitu mengganjal. Luhan terus menjalani tempat pendaftaran dan segera menyapa petugas yang kini melihat ke arahnya.
"Selamat siang Tuan. Ada yang bisa dibantu?"
"Dokter Oh Luhan-…Seoul Hospital."
Luhan menunjukkan ID Card nya membuat si pegawai wanita seketika membungkukan badannya menyapa dokter yang bekerja di rumah sakit utama dan merupakan induk dari Sejong Hospital.
"Selamat pagi dokter Oh. ada yang bisa saya bantu."
"Aku ingin bertemu dengan ketua dokter bedah di Sejong Hospital."
"Apa anda sudah membuat janji."
"Janji? Sejak kapan sesama dokter bedah dari rumah sakit yang sama harus membuat janji untuk bertemu?"
Si pegawai wanita tampak salah tingkah dengan pertanyaan Luhan, membuat Luhan semakin mengernyit menyadari ada yang tidak beres dengan sistem yang diberlakukan di Sejong Hospital.
"Jadi siapa ketua dokter bedah di Sejong Hospital?" gumam Luhan kembali bertanya dan sedikit tidak sabar kali ini. "Jadi katakan padaku siapa dokter bedah yang bertanggung jawab di Se-…"
"Aku orangnya. Ada apa mencariku?"
Luhan seketika menoleh mendengar suara yang berasal di belakangnya dan lagi-…Dia kembali terkejut mendapati seorang wanita muda yang berasal dari universitas yang sama tengah berdiri menyeringai menatap ke arahnya.
"Jung Soojung?"
"Ya. Lu-Han" katanya mendesis dan menyapa Luhan yang masih menatapnya tak berkedip.
Keduanya menatap cukup lama sampai akhirnya Luhan menyadari kalau tidak seharusnya Soojung berada dan bekerja di Seoul hospital maupun Sejong Hospital. Bukan karena wanita muda didepannya tidak berbakat. Justru sebaliknya-…Luhan mengenal Soojung sebagai penemu bahan-bahan yang berpotensi menjadi obat baru. Membuat wanita muda didepannya begitu terobsesi dan melakukan segala cara agar dunia medis mengakuinya.
Di semester akhir Soojung dinyatakan tidak lulus dan dikeluarkan secara tidak hormat karena menggunakan bahan berbahaya yang tidak memiliki izin untuk diberikan pada pasien pengidap kanker di rumah sakit tempatnya menjadi resident dan sejak saat itu, Soojung tidak diterima dimanapun mengingat obsesi dan kemampuan yang dia miliki digunakan untuk hal yang membahayakan hidup seseorang.
"Aku tidak pernah mendengar namamu berada dalam list dokter bedah di Seoul maupun Sejong Hospital. Apa yang kau lakukan Soojung-ssi?"
"Seharusnya dokter Jung." Katanya mengoreksi dan berjalan mendekati Luhan yang masih menatapnya bingung.
"Aku tidak dipekerjakan oleh Management mu. Aku bekerja sebagai dokter yang bekerja dibawah Management yang sanggup membayar mahal untukku."
"Apa maksudmu?"
"Aku tidak memiliki kewenangan untuk memberitahumu dokter Oh." Katanya melenggang pergi menjauhi Luhan membuat Luhan semakin tak mengerti bagaimana sistem yang diberlakukan di Sejong Hospital.
"Kim Taerin." Katanya sedikit berteriak membuat Soojung menghentikan langkahnya.
"Aku ingin melihat catatan kesehatan Kim Taerin. Berikan padaku dan aku tidak akan mempermasalahkan bagaimana bisa kau bekerja di rumah sakit sekelas Sejong Hospital."
Soojung pun sedikit mengepalkan tangannya sebelum akhirnya tertawa dengan kedua tangan terlipat di atas dadanya "Apa kau sedang mengancamku?"
"Ya!"
..
..
..
Tok..tok…
Saat ini Luhan sudah berada kembali di rumah Taerin, membawa catatan kesehatan Taerin setelah sebelumnya bersitegang dengan Soojung-…Dokter yang Luhan ketahui sama sekali tak memiliki izin untuk melakukan praktiknya sebagai dokter.
"Luhan bagaimana? Apa kau mendapatakan catatan kesehatan putriku?"
Luhan sedikit menatap diam teman lamanya, sampai akhirnya menunjukkan selembar kertas pada Yujin "Aku mendapatkannya. Hanya saja semua normal." katanya menyeruak masuk dan menjelaskan pada Yujin mengenai keadaan putrinya.
"Nomal ? Putriku sekarat Luhan. Aku bahkan tidak tahu apa yang terjadi padanya."
"Apa dokter Jung Soojung yang menangani Taerin?"
"Ya...dia yang menangani putriku dan semua anak yang aku katakan memiliki gejala yang sama dengan Taerin meninggal di tangannya."
Luhan kembali membaca catatan kesehatan Taerin dan mengumpat kesal merasa ada yang disembunyikan darinya "Dimana putrimu?"
"Dia baru saja istirahat. Aku memberikannya vitamin yang diberikan oleh rumah sakit. Dia selalu merasa lebih baik setelah meminum vitamin yang di berikan untuk-..."
"EOMMA APPO!"
Baik Yujin maupun Luhan-...Keduanya sontak menoleh dan begitu berjengit mendengar teriakan kesakitan yang Taerin keluarkan. Membuat kedua orang dewasa tersebut segera menghampiri Taerin dan
"Astaga Taerinna!.."
Yujin begitu terkejut melihat putrinya kembali mengeluarkan darah dan menggeliat di atas kasurnya. Membuatnya berlari dan memeluk Taerin yang masih meronta kesakitan di pelukannya.
"Eomma sakit….sakit!"
"Iya nak. Taerin akan baik-baik saja Eomma janji-..."
"SAKIT EOMMA!"
"LUHAN AKU MOHON LAKUKAN SESUATU!"
Insting Luhan sebagai dokter pun bekerja, dia mencari ke sekeliling kamar Taerin yang dipenuhi dengan berbagai macam obat dan injeksi. Matanya mencari dan begitu lega menemukan injeksi penghilang sakit yang terdapat di kamar Taerin.
"Pegang Taerin." gumam Luhan menyobek suntikan yang dia temukan dengan giginya lalu memasukkan injeksi kedalam suntikan dan tak lama berlari mendekati ibu dan anak yang masih saling memeluk di tempat tidur Taerin.
"Taerin sayang. Maafkan Luhan, ini akan sedikit sakit." gumamnya dan tak lama
"Eomma!"
Teriakan Taerin pun melemah dan seketika terkulai lemas di pelukan ibunya.
"Dia tertidur. Kita bisa membaringkannya." gumam Luhan mengambil alih tubuh mungil Taerin dan membaringkannya ke tempat tidur.
"Apa ini?"
Mata Luhan tak sengaja melihat obat-obatan yang tak seharusnya berada di kamar Taerin membuatnya begitu terkejut dan seketika bertanya pada Yujin.
"Oh Yujin!"
Yujin sedikit tersentak menyadari nada Luhan yang begitu menuntutnya. Membuatnya berdebar menebak kalau obat yang selama ini dia berikan untuk putrinya adalah obat yang berbahaya.
"Itu vitamin yang selama ini aku berikan untuk Taerin. Dokter Jung yang memberikannya untuk Taerin."
Luhan semakin menggenggam erat botol kecil tersebut dan
"Sial!"
Dia mengumpat marah lalu kembali meninggalkan rumah Yujin untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi.
.
"JUNG SOOJUNG!"
Malam sudah berganti dan seharian ini Luhan sama sekali tidak beristirahat. Setelah pertemuannya dengan Taerin pagi ini, Luhan dikejutkan dengan beberapa fakta tentang pengobatan pada anak seusia Taerin yang orang tuanya tak memiliki biaya untuk mengobati putra dan putri mereka.
"JUNG SOOJUNG!"
Luhan kembali berteriak mengabaikan seluruh petugas keamanan yang berusaha menghentikannya. Berniat menemukan Soojung dan bertanya mengapa ia memberikan bahan berbahaya –sama sekali bukan vitamin- untuk Taerin di usianya yang masih kanak-kanak.
"Lepaskan aku sialan!"
Luhan menghempas tangan petugas keamanan yang mencengkram lengannya dan harus kembali bersusah payah berjalan ke ruangan Soojung dengan para petugas keamanan yang entah mengapa semakin banyak seiring dengan kedatangannya untuk kedua kalinya ke Sejong hospital hari ini.
"Jangan membuat keributan. Anda harus segera pergi darisini."
"Aku dokter disini! Jadi jangan mencoba mengaturku."
"JUNG SOO-..astaga! Aku bilang LEPASKAN AKU." Gumam Luhan menggeram dan tak lama
BUGH…!
Luhan benar-benar membuat keributan kali ini, dia memukul salah satu penjaga membuat tiga penjaga lain yang melihatnya terpancing emosi dan akan melakukan segala cara untuk membawa Luhan menjauh dari keributan yang dia buat.
"Sialan!"
Salah satu penjaga yang terpancing emosinya menggeram marah melihat Luhan yang dengan santai kembali melenggang masuk ke dalam rumah sakit. membuatnya seketika berlari dengan tangan yang mengepal erat begitu marah melihat sosok yang diperintahkan tidak boleh memasuki Sejong hospital kembali meracau di rumah sakit.
"BRENGSEK! CEPAT BERHENTI!" gumamnya berteriak sebelum mengepalkan erat tangannya dan
BUGH…!
Luhan memang mendengar suara pukulan, tapi tubuhnya sama sekali tidak merasa sakit. Sebaliknya-…dia merasa sangat baik sampai dia mendengar sebuah suara yang teramat familiar untuknya.
"MUNDUR!"
Luhan sedikit menoleh dan begitu tercengang melihat tiga anak buah suaminya yang sangat loyal pada suaminya kini membuat formasi berjejer ke samping agar tak ada yang bisa mendekati dirinya walau hanya satu langkah.
"Kalian?"
"Hay Luhan. kami juga merindukanmu." Timpal Yoochun mengerling Luhan dan tak lama kembali fokus pada penjaga kesehatan yang terlalu tangguh untuk dikatakan penjaga keamanan sekelas rumah sakit.
"SIAPA KALIAN?"
"Kami yang harusnya bertanya, bos kami adalah dokter di rumah sakit ini. Kenapa kalian mencekal kedatangannya?"
"Kami diperintahkan untuk tidak membiarkan pria dibelakang kalian memasuki rumah sakit!"
Luhan yang mendengarnya pun sedikit terpancing emosinya, berniat bertanya mendekati kerumunan penjaga sebelum Max dan Shindong menahannya untuk tidak berbuat keributan lebih banyak "SIAPA YANG MEMBERI PERINTAH PADA KALIAN!"
"Wow…wow. Ada keributan apa ini?"
Seketika suara teriakan Luhan teredam, karena penjaga yang sedari tadi melarangnya masuk terlihat membungkuk dan menyambut kedatangan seseorang yang berdiri tepat di belakang Luhan dan ketiga anak buah suaminya.
Merasa mengenali suara pria yang baru saja menginterupsi kekacauan yang terjadi, membuat Luhan, Max, Yoochun dan Shindong menoleh. Keempatnya cukup terkejut mendapati pria paruh baya yang merupakan "iblis' dari dunia yang Sehun jalani berdiri didepan mereka.
"KAU!"
"Halo Luhan. Lama tidak bertemu."
Adalah Park Youngmin-… Pria yang menemukan Sehun dan membesarkan Sehun dengan caranya yang keji dan tak berperasaan, membuat Sehun memiliki karakter menakutkan dan tak segan membunuh siapapun yang menghalangi jalannya untuk mendapatkan kekuasaan dan uang.
Luhan tidak pernah menyukai pria tua didepannya. Membuatnya selalu begitu marah dan untuk pertama kalinya ingin membunuh seseorang agar berhenti mengusik kehidupan suaminya dan tak lagi mempengaruhi apa yang sudah menjadi keputusan Sehun selama ini.
"Selamat malam direktur Park."
Luhan sedikit membelalak melihat ketiga anak buah Sehun kini memberi hormat pada pria bajingan yang sepertinya merupakan dalang dari semua kekacauan ini. membuatnya nafasnya begitu memburu dan menatap marah pada Youngmin yang kini menyeringai puas melihat ketiga kaki kanan Sehun membungkuk hormat padanya.
"Harusnya aku tidak terkejut mendapati dirimu disini."
"Seharusnya begitu." Timpal Youngmin membuat Luhan semakin mengepalkan erat tangannya.
"Apa kau penyebabnya?"
"Aku melakukan apa?"
"APA KAU ADALAH PENYEBAB KEMATIAN YANG TERJADI PADA BALITA SELAMA ENAM BULAN TERAKHIR INI?!"
"Tidak perlu berteriak Luhan. Ini bisnis."
"DEMI TUHAN APA YANG KAU LAKUKAN PARK YOUNGMIN!"
Luhan benar-benar akan berlari ke arah pria tua didepannya dan akan menghajar telak wajahnya kalau Max dan Yoochun tak menahan kedua lengannya terlampau erat membuatnya menggeram dan menatap marah pada kedua anak buah Sehun yang entah mengapa bisa berada disini malam ini.
"LEPAS!"
"Luhan aku mohon." Gumam Shindong berujar lirih menatap Luhan yang benar-benar terbakar malam ini.
"Kami mencoba menolong mereka. tapi kebanyakan tidak bertahan. Jadi jangan salahkan kami. Beruntung aku memiliki Soojung dan timnya yang selalu mencari cara baru untuk membuat seluruh pasiennya bertahan lama. Walau kebanyakan dari mereka akan meninggal karena efek sampingnya. Aku mengalami banyak kerugian, tapi terimakasih untuk suamimu yang membiayai semua bisnis menyenangkan ini. Jadi aku sarankan padamu untuk tidak terlalu ikut campur atau kau akan menerima akibatnya."
Park Youngmin merubah nadanya dari mengejek Luhan menjadi terdengar berat dan begitu serius, seolah memperingatkan Luhan untuk tidak mencampuri bisnisnya lalu pergi melenggang begitu saja dengan Soojung yang mengikutinya di samping.
Luhan masih meronta di pegangan Max dan Yoochun sedikit mengumpat dan bersumpah tidak akan membiarkan pria tua itu berbuat lebih jauh lagi dengan bisnisnya di rumah sakit ini
"Ah…Aku lupa mengingatkan padamu kalau saat ini statusmu dinonaktifkan di Seoul Hospital. Jadi kau tidak memiliki kewenangan untuk mencari tahu apa yang dikerjakan oleh Soojung-..Entah pasien yang ia tangani atau terapi yang diberikan. Ini peringatan lagi untukmu dokter Oh." katanya kembali membalikan tubuhnya untuk menatap Luhan dan memperingatkan Luhan agar tidak berbuat hal yang bisa merugikan bisnisnya.
"DENGARKAN AKU PARK YOUNGMIN! APAPUN YANG SEDANG KALIAN LAKUKAN. AKU BERSUMPAH TIDAK AKAN PERNAH TINGGAL DIAM! CAMKAN ITU!"
Youngmin mendengar ancaman Luhan, membuatnya menatap Soojung dan sedikit menggeram karena Soojung sama sekali tidak memberikan hasil pada percobaan yang sedang mereka lakukan "Kau harus cepat. Jika Luhan ikut campur dan beritanya tersebar. Kau hancur."
Soojung pun hanya menelan ancaman untuknya bagai pil pahit. Sedikit mengepalkan tangannya lalu membungkuk mengantar kepergian pria yang memberinya pekerjaan ini "Saya mengerti direktur." Katanya membalas dan tak lama kembali berjalan ke ruangannya untuk melanjutkan pekerjaannya yang tertunda karena kehadiran Luhan yang tak terduga hari ini.
..
..
..
Tap..tap..tap..
"BOS!"
Mendengar panggilan untuknya membuat pria tampan yang sedang berada di arena tembak sedikit terganggu dan membuka pelindung telinga serta kacamata khususnya untuk menoleh ke asal suara.
"Ada masalah apa? Kenapa berteriak?"
Sehun -Pria tampan yang memiliki segudang kesempurnaan di fisiknya- menatap Jongin –pria berkulit tan yang sudah bekerja untuknya cukup lama-
"Luhan!"
"Aku sudah bilang aku tidak ingin mendengar apapun tentang Luhan saat ini." katanya menatap marah pada Jongin yang kembali mengganggu fokusnya dengan menyebut nama Luhan disaat dirinya sedang menghabiskan me time miliknya di arena tembak.
"Memikirkan pria cantikku hanya membuatku lemah." gumamnya menambahkan dan bersiap kembali memakai pelindung telinganya sampai.
"LUHAN DAN DIREKTUR PARK BERTEMU!"
Sehun merasa tangannya yang sedang memegang senjata melemas, berharap telinganya salah mendengar -atau- berharap Jongin hanya menyampaikan omong kosong mengenai Luhan dan pria tua yang membesarkannya.
"Direktur Park yang kau maksud adalah Park Young Min?"
Kai mengangguk sebagai jawaban membuat Sehun terlihat bertanya dan mengerutkan dahinya.
"Apa yang dia lakukan di Gangneung?"
"eh?"
Kai tak sengaja menyuarakan kebingungannya saat Sehun menebak dengan benar keberadaan Luhan dan Park Youngmin saat ini. Membuatnya sedikit menghela senang nafasnya menyadari bos nya tak pernah benar-benar mengabaikan keberadaan istrinya. Terbukti dari caranya menebak dengan tepat keberadaan Luhan saat ini.
"Entahlah bos. Apapun yang terjadi disana. Itu bukan sesuatu yang baik untuk Luhan. Max mengatakan akan terjadi hal buruk jika Luhan terus menerus ikut campur dengan hal yang berkaitan dengan direktur disana."
"Kenapa kau selalu terlibat."
Sehun menggeram, membuang semua peralatan menembaknya dan segera menatap Jongin dengan wajah khas seorang Oh Sehun jika sedang mengkhawatirkan istrinya.
"Siapkan mobil!" katanya memberitahu Kai yang segera bergegas saat mendengar perintah dari Sehun.
..
..
..
"Luhan. Bisakah kau tidak mencampuri bisnis Direktur Park? Ini demi kebaikanmu?"
"Kebaikanku? Kalian semua benar-benar monster mengerikan!" katanya berteriak histeris tak mau sama sekali disentuh oleh Max dan yang lain karena begitu marah pada semua yang berkaitan dengan Park Youngmin.
"Kami benar-benar tidak tahu apa yang mereka kerjakan Luhan. Kami dan Sehun sama sekali tidak mengetahui apa-…"
"DIAM!"
Luhan kembali berteriak dan tak lama berjalan cepat dengan membawa jarum suntik beserta wadahnya berniat untuk mengambil darah Taerin dan mengetahui apa yang sebenarnya Soojung lakukan pada tubuh mungil teman mendiang putranya.
Tok…Tok..
Luhan mengetuk pintu rumah Taerin agak kasar, membuat Max dan kedua temannya hanya bisa memperhatikan Luhan yang terlihat begitu murka dan sangat marah.
Cklek..!
"Luhan? kau datang lagai? Ada apa? Siapa mereka?" gumam Yujin bertanya membuat Luhan sedikit menoleh marah pada ketiga anak buahnya lalu kemudian berusaha tersenyum menjelaskan pada Yujin.
"Abaikan mereka. Dimana putrimu?"
"Taerin baru saja selesai makan. Ada apa? Putriku baik-baik saja kan?" katanya bertanya begitu khawatir karena Luhan terlihat sangat marah seperti sesuatu sedang terjadi.
"Aku janji Taerin akan baik-baik saja. Tapi untuk saat ini aku perlu mengambil darah putrimu. Bisakah?"
Yujin menatap ragu pada Luhan, kemudian menoleh ke tempat putrinya yang sedang bermain dengan anjing kecilnya lalu tak lama kembali menatap Luhan yang terlihat memohon "Untuk apa?"
"Aku hanya ingin memastikan keadaan Taerin dengan tim medisku. Bolehkah?"
"Ya-ya…Tentu saja jika itu bisa menolong putriku. Tapi dia sangat benci melihat jarum suntik Luhan."
Luhan kemudian sedikit mengintip ke tempat Taerin berada. Merasa begitu tak tega harus melihat gadis seusia putranya yang sedang senang bermain harus terlihat begitu memucat walau senyum terus terlihat di wajah cantiknya "Biar aku mencoba." Katanya meyakinkan Yujin yang terlihat mengerti dan mengangguk mengijinkan "Lakukanlah. Aku mempercayaimu dokter Oh."
Luhan pun sedikit tersenyum getir saat Yujin memanggilnya dengan nama profesinya. Membuatnya merasa begitu merasa bersalah pada seluruh orang tua yang kehilangan putra dan putri mereka karena perbuatan suaminya.
Karena sekali lagi-…Disaat Luhan berusaha sekuat tenaga untuk menyembuhkan dan menyelamatkan seseorang. Maka Sehun datang dengan tujuan yang sangat berbanding terbalik dengannya. Membuatnya harus menahan rasa gundah untuk tidak memaki Sehun karena secara tidak langsung suaminya terlibat untuk seluruh kejadian yang terjadi di tempat peristirahatan putra mereka. Dan mengetahui hal itu membuat sesuatu dalam diri Luhan harus kembali menelan kekecewaan karena pekerjaan yang dilakukan suaminya.
"Hey cantik."
Merasa kehadiran seseorang di tempatnya bermain membuat gadis kecil berusia enam tahun yang sedang bermain dengan anjing kecilnya sedikit menoleh dan tersenyum berbinar melihat pria cantik yang merupakan ibu teman dekatnya datang untuk bermain.
"Ziyu eomma!"
"Ya cantik. Ini Ziyu eomma." gumam Luhan sedikit menatap Taerin dan berjongkok didepan gadis kecil yang lehernya dililitkan syal dengan topi kecil yang menyembunyikan rambutnya yang mulai menipis.
"Kau sedang bermain nak?" katanya merapikan anak rambut Taerin yang terlihat membuat Taerin semakin mengagumi wajah cantik Luhan dengan jarak sedekat ini dengannya.
"hmm..Dengan bubu."
"Bubu?"
"Anjing kecilku. Seperti Vivi."
"ah… Kau benar seperti Vivi."
Luhan tak bisa menyembunyikan suara tercekatnya menyadari kalau sedari kecil Ziyu dan Taerin memang sudah memiliki anjing kesayangan mereka yang diberikan oleh ayah mereka masing-masing.
Tapi Vivi -anjing kesayangan Ziyu- tidak seberuntung bubu yang masih dirawat baik oleh majikannya. Karena setelah kepergian Ziyu, Luhan sama sekali tak mau melihat apalagi mengurus anjing kecil yang memiliki usia sama dengan putranya.
"Zi eomma…"
Luhan sedikit mengerjap mencegah air matanya terjatuh lalu kemudian menatap Taerin yang kini mengusap sayang wajah Luhan "Zi eomma merindukan Ziyu ya?" katanya bertanya terlalu polos membuat pertahanan Luhan berada pada batasnya.
"hmm.." katanya tercekat dan membiarkan air matanya menetes cepat membasahi pipinya.
"Jangan menangis." gumam Taerin menghapus air mata Luhan melihatnya dengan sayang "Eomma bilang Ziyu sudah senang berada di samping Tuhan. Ziyu juga sudah memiliki banyak teman disana. Dan suatu saat nanti Taerin akan menyusul Ziyu untuk bermain bersama dengan Ziyu."
Luhan memejamkan matanya menikmati usapan tangan mungil di wajahnya. Merasa begitu tersiksa dengan seluruh ucapan Taerin yang begitu memukul telak batinnya.
"Kenapa kau pintar sekali nak." gumam Luhan mengecup sayang kening Taerin dan tak lama menggenggam jemari Taerin yang terasa begitu kecil di genggamannya.
"Kim Taerin."
"Ya."
"Suatu saat nanti mungkin kau memang akan bermain bersama Ziyu. Tapi untuk saat ini kau masih harus menjaga ibumu. Jadi apa kau mau membantu dokter?" katanya tersenyum membuat Taerin mengangguk bersemangat.
"Tentu saja dokter Oh. Taerin juga ingin menjadi dokter." katanya bersemangat membuat Luhan berjanji untuk tidak membiarkan sesuatu yang buruk terjadi pada Taerin.
"Kalau begitu dokter mohon agar Taerin menahan sakitnya. Sebentar saja."
"eomma…"
Taerin seketika meringis ketakutan memanggil ibunya saat melihat Luhan mengeluarkan jarum suntik yang sangat ia benci.
"Sebentar saja nak."
"eomma!"
Taerin mulai menjerit membuat Yujin segera berlari menghampiri putrinya dan membantu Luhan untuk mengambil darah putrinya.
"Eomma disini nak. Dokter hanya mengambil sedikit. Rasanya seperti bubu menggigitmu sayang."
"sirheo!."
Taerin semakin memberontak membuat kedua orang dewasa didepannya tak memiliki pilihan lain dan
Sleb..!
"EOMMA!"
Luhan menggenggam kencang lengan Taerin membuat gadis kecil itu menjerit memilukan saat Luhan mengambil darahnya.
"Maaf Taerin sayang. Dokter janji kau tidak akan merasakan sakit lagi." .
Dan setelah berhasil memasukkan darah Taerin ke dalam tabung, Luhan mencium sekilas kening Taerin lalu kembali berlari ke luar rumah Taerin dan Yujin.
"Luhan kau mau kemana?"
Luhan hanya menatap tajam ke seluruh anak buah suaminya. Berusaha mengabaikan pertanyaan Max dan kedua temannya yang lain, dengan langsung masuk kedalam mobilnya dan
Brrmm..!
Dia begitu saja meninggalkan satu kelompok yang membuatnya sangat marah hari ini.
"Cepar kita ikuti Luhan."
Yoochun dan Shindong pun segera memasuki mobil dan tak lama
Brrmmm..!
Ketiga mobil itu mengejar mobil Luhan yang melaju dengan kecepatan tinggi.
..
..
..
"Serahkan hasil darahnya ke Seoul Hospital."
Saat ini Luhan sedang berada di laboratorium di rumah sakit yang berada tak jauh dari tempat tinggal Taerin. Dia menyerahkan sample darah Taerin dan meminta pihak rumah sakit untuk mengirimnya ke Seoul Hospital agar Minseok atau Chanyeol bisa membacakan hasil darah Taerin dengan pasti.
"Berapa lama aku bisa mendapatkan hasilnya?"
"Paling cepat besok pagi dan paling lambat Lusa. Tergantung bagaimana respon dari dokter yang menerima hasil lab yang kami kirimkan lewat fax."
"Aku akan menghubungi temanku. Aku mohon jangan sampai tertukar."
"Tenang saja. Semua hasilnya akan sesuai dengan sample."
"Terimakasih." Gumam Luhan dan tak lama merogoh sakunya untuk mengambil ponsel yang sudah tiga hari ini ia matikan.
Luhan menyalakan ponselnya dengan cepat dan sedikit tersenyum mengetahui nama Baekhyun adalah yang paling banyak menghubunginya. Merasa begitu putus asa pada suaminya karena sama sekali tidak menghubunginya dan sedikit bertanya kenapa Kyungsoo juga tak menghubunginya.
Dan merasa tak memiliki waktu untuk memikirkan adik dan suaminya, membuat Luhan mengabaikannya dan segera menekan nomor sahabatnya.
Luhan masih menunggu nada sambung dari Baekhyun sampai
"LUHAN!"
Luhan menjauhkan telinganya dari ponselnya merasa suara Baekhyun begitu marah karena dirinya menghilang begitu saja.
"Baek…Aku merindukanmu."
"MERINDUKANKU DAN KAU MENGHILANG BEGITU SAJA. KAU PEMBOHONG MENYEBALKAN OH LUHAN!"
"Baek…"
Luhan sedikit merasa bersalah karena sama sekali tak memberitahukan kabarnya pada sahabat terbaiknya, membuat suara di sebrang sana terdengar menghela dalam nafasnya tanda bahwa ia sangat kecewa pada Luhan.
"Kau baik-baik saja kan?"
"Fisik sehat. Batinku yang hancur." Katanya berkata jujur berniat tak mau membohongi sahabatnya lagi.
"Luhan jangan membuatku takut. Kau ada dimana?"
"Aku berada di Gangneung hampir seminggu ini."
"Gangnenun? Ziyu?"
"Ya. Aku merindukan putraku."
"Sendiri?"
"Awalnya sendiri. Lalu tiba-tiba semuanya datang dan membuat kepalaku sakit."
"Apa Sehun mengganggumu?"
"Bukan Sehun. Dia bahkan sama sekali tak datang mencariku."
"Brengsek!"
"Ya. Dia brengsek." Gumam Luhan membenarkan membuat suasana menjadi hening sesaat.
"Baek."
"Ada apa Lu?"
"Apa aku boleh meminta tolong padamu."
"Apapun. Katakan."
"Katakan pada ayahmu untum mengaktifkan statusku sebagai dokter bedah di Seoul Hospital. Ini penting."
"Eh? Kenapa tiba-tiba?"
"Banyak hal terjadi disini Baek. Aku tidak memiliki banyak waktu."
"Sayangnya aku punya banyak waktu. Katakan intinya dan aku mendengarkan."
"Kau tahu Sejong Hospital?"
"Tentu saja. Apa kau berada disana saat ini?"
"Ya aku disini."
"Lalu ?"
"Apa kau tahu kalau selama enam bulan terakhir ini sudah lima belas anak dari keluarga tak mampu meninggal dunia?"
"MWO? BAGAIMANA MUNGKIN? AKU TIDAK MENERIMA LAPORAN SEPERTI ITU LU."
"Aku juga terkejut dan sedang berusaha mencari tahu penyebabnya. Tapi aku butuh bantuanmu. Statusku harus segera aktif sebagai dokter di Seoul Hospital."
"Ya itu perkara mudah. Tapi apa kau baik sendirian disana? Apa aku perlu datang dan membantu?"
"Tidak sekarang Baek. Aku masih bisa menanganinya."
"Baiklah. Kalau begitu aku akan segera mengaktifkan statusmu baby Lu."
Luhan pun sedikit tersenyum dan perlahan berjalan keluar menuju lobi utama tempat mobilnya berada "Gomawo Baby hyun." Katanya membalas membuat suara Baekhyun terdengar tertawa senang karenanya.
"Apapun untukmu."
"Apa aku boleh meminta satu hal lagi?"
"Katakan. Aku mempunyai banyak waktu untuk semua permintaanmu."
"Akan ada fax yang dikirim ke Seoul Hospital malam ini dari Hanyang Medical Laboratorium. Apa kau bisa menyerahkannya pada Chanyeol dan meminta Chanyeol membacakan hasilnya untukku?"
"Laboratorium? Hasil darah? Luhan kau baik-…"
"Bukan milikku Baek. Aku sungguh baik."
"Jika kau berbohong aku sungguh tidak akan memaafkanmu."
"Aku tidak berbohong. Sungguh."
"Baiklah. Aku akan meminta dokter jaga untuk menyerahkan fax yang masuk padaku."
"Kau yang terbaik Byun Baekhyun." Gumam Luhan membuka melewati koridor utama dan masih sibuk melepas rindu dengan sahabatnya.
"Bagaimana kabarmu."
"Gila memikirkanmu."
"Aku pulang nanti kita berdua akan berlibur bersama dengan Kyungsoo juga. oke?"
"Bicara tentang Kyungsoo aku sudah tidak melihatnya belakangan ini. aku pikir dia bersamamu."
Luhan pun sedikit mengernyit dan mau tak mau kembali sedikit bertanya-tanya karena memang Kyungsoo sama sekali tak menghubunginya tiga hari ini "Tidak terapi dengan Junmyeon juga?"
"Nope. Mungkin dia sedang bersama Kai atau berlibur. Entahlah."
Mencoba tidak menambah pikirannya membuat Luhan mengangguk setuju dan tertawa menyetujui ucapan sahabatnya "Kencan mungkin."
"Ya benar. Dan setelahnya-…aku kembali ditinggal sendiri."
Luhan kembali tertawa mendengar gerutuan sahabatnya, sedikit mencari kunci mobilnya sebelum langkahnya terhenti melihat sosok yang sama sekali tak ia duga kini berdiri di depannya. Menatapnya tak berkedip dengan tatapan yang selalu membuatnya jatuh semakin dalam untuk mencintai pria yang beberapa hari ini mengabaikannya.
"Lu?-…Luhan?"
"Aku akan menghubungimu lagi Baek. Sampai nanti." Katanya mengakhiri percakapannya dengan Baekhyun dan tak lama membalas pandangan pria yang begitu ia rindukan dan ia benci dalam waktu bersamaan.
"Aku ingin kita bicara."
Merasa nada pria tampan yang merupakan suaminya itu masih terdengar dingin membuat Luhan sedikit tertawa sengit sebelum memutuskan kontak mata dengan pria yang membuat hatinya hancur berkeping karena sikap dingin yang diberikan suaminya.
"Sayangnya aku tidak ingin." Gumam Luhan membalas suaminya dengan nada yang sama dingin. Berusaha tenang melewati suaminya sampai dia merasa lengannya di cengkram oleh pria disampingnya.
"Lepas."
Suara Luhan begitu tenang namun tersirat kemarahan dan kekecewaan yang begitu mendalam yang ditujukan untuk suaminya.
"Tidak sampai kita berbicara."
Luhan menghempas kasar tangan Sehun yang mencengkramnya lalu menatap berkilat pria yang terlalu ia cintai dengan hidupnya ini "BICARA APA ? MASIH INGIN MEMBASAH PERPISAHAN KITA? PERGI SAJA KAU SIALAN!"
Sehun sendiri hanya diam di tempatnya, menikmati hasil pekerjaannya yang sangat bagus dan bernilai di atas rata-rata karena telah berhasil membuat pria cantiknya begitu menderita dan begitu membencinya. Menikmati semua makian dan pukulan yang ia terima dari istrinya, sampai rasa khawatir mengganggunya karena pukulan Luhan semakin melemah.
"Aku lelah dan tidak sedang ingin bertengkar." Lirihnya berusaha kembali berjalan meninggalkan Sehun sampai Luhan merasa tubuhnya ditarik dan dalam sekejap sudah berada di pelukan hangat yang hanya bisa diberikan Sehun untuknya.
"Maaf."
Hanya satu kata itu yang berhasil meluncur dari mulut Sehun, membuat Luhan seketika memejamkan matanya mengutuk rasa sakit yang masih tak mau hilang dari hatinya. Mengingat bagaimana Sehun membuangnya beberapa hari ini, membawa wanita ke depannya dan mengatakan hal keji padanya membuat hati Luhan seolah tak ingin memaafkan secara mudah namun begitu rindu jika harus berjauhan.
"Kau brengsek kau tahu?"
"Aku tahu sayang. Maaf. Aku kembali melakukan semuanya tanpa memikirkan perasaanmu." Gumam Sehun semakin mengeratkan pelukannya. Membiarkan tubuh mungil istrinya bergetar karena Sehun tahu semua yang dihadapi Luhan beberapa hari ini begitu berat dan tak bisa diungkapkan sama sekali.
"Kenapa lama sekali? Kenapa kau membuatku menunggu terlalu lama. Kenapa?!" katanya menggigit pundak Sehun sengaja membuat prianya kesakitan agar tahu betapa putus asanya Luhan tanpa Sehun bersamanya.
"Maaf Lu-…Maafkan aku."
Dan lagi-..Hanya untaian kata maaf yang bisa Sehun ucapkan. Merasa begitu bersalah membuat Luhan harus terlibat masalah yang bahkan lebih membahayakan dirinya daripada saat keduanya bertengkar.
"Maaf sayang." Sehun pun menangkup wajah Luhan, menghapus lembut air matanya dan tak lama mengecup lama bibir yang terus terisak dan terasa begitu dingin. Melumatnya lembut berniat berbagi kehangatan sampai akhirnya Sehun melepaskan pagutan mereka "Kita pulang hmm.."
Luhan menggeleng sebagai jawaban, berusaha memberitahu suaminya karena terlalu banyak hal terjadi di kota tempat putra mereka beristirahat "Aku tidak bisa. Sayang aku bertemu dengan Taerin. Dia-…"
"Aku mohon kita harus segera pulang dan tidak mencampuri urusan Direktur Park."
Raut wajah Luhan seketika kembali mengeras, membuatnya sedikit tersadar jika kedatangan Sehun malam ini hanya untuk memintanya menjauh dari bajingan yang membesarkan Sehun sebagai pembunuh
"Kau sudah tahu dia disini?" katanya menatap sedikit marah pada Sehun yang terlihat ketakutan bertemu dengan Youngmin.
"Ya."
"Dan kedatangamu kesini hanya karena kau tahu aku dan bajingan tua itu bertemu?"
"Luhan aku-.."
"JAWAB AKU!" katanya melepas kasar pelukan suaminya dan kembali memandang berkilat pria di depannya.
"Ya."
"Bajingan! KAU PIKIR AKU AKAN MEMBIARKAN YOUNGMIN MELAKUKAN BISNIS MENGERIKANNYA DI RUMAH SAKIT?"
Sehun sudah menebak Luhan akan sangat marah padanya. Tapi dia sama sekali tidak menyangka jika selain marah pria cantiknya terlihat begitu murka dan sangat ingin membalas entah apa yang dilakukan Youngmin saat ini.
"APA KAU TERLIBAT?"
"Luhan-…Aku sama sekali tidak mengerti apa yang kau ucapkan."
"Bajingan itu melakukan bisnis dengan anak kecil seusia putra kita sebagai bahan percobaan mereka. Mereka pembunuh dan aku tidak akan membiarkan pembunuh menyentuh anak-anak seusia putra kita lagi. Aku akan melakukan segala cara untuk-.."
"LUHAN!"
Kali ini Sehun yang berteriak, begitu ketakutan mendengar obsesi Luhan pada Mafia sekelas Youngmin yang tak akan segan membunuh siapapun yang menghalanginya. Membuat Sehun begitu ketakutan karena bisa kapan saja kehilangan Luhan jika dirinya lengah dan membiarkan Youngmi menyentuh prianya.
"huh? Kenapa berteriak?" gumam Luhan merasa begitu marah pada Sehun saat ini.
"Kau tahu? Aku sangat marah saat dia bilang kau yang membiayai semua percobaan mereka. Aku berusaha tidak percaya. Tapi apa yang aku lihat sekarang? Kau seperti terlibat dengan mereka."
"YA AKU TERLIBAT! KAU PUAS? SEKARANG AYO KITA PULANG." Katanya kembali berteriak dan mencengkram erat tangan Luhan sebelum
PLAK…..!
Luhan menampar marah wajah Sehun-..membuat warna merah begitu terlihat di kulit pipi Sehun yang berwarna putih pucat.
Mata Luhan memanas, tangannya mengepal erat dengan nafas tersengal yang begitu terdengar. Sedikit tertawa sengit dan kembali menatap suaminya berkilat.
"KAU TERLIHAT SEPERTI MONSTER OH SEHUN!"
Dan setelah melontarkan kalimat final yang menandakan kemarahan puncak pada suaminya. Luhan menyenggol kasar bahu Sehun dan
Brmmm…!
Seketika menjalankan mobilnya meninggalkan pria tampan yang kali ini merasa hatinya begitu diremat kencang saat kata-kata cacian yang begitu menggambarkan siapa dirinya terlontar tanpa keraguan dari bibir mungil pria cantiknya.
"aku harus bagaimana."
Sehun mendongakan wajahnya dan mengambil nafas sebanyaknya karena hatinya begitu sesak saat ini. Merasa begitu bingung dan putus asa saat dihadapkan pada pilihan antara istrinya dan pria yang membesarkannya.
Brak…
Lututnya pun tak bisa lagi menopang berat tubuhnya, membuatnya terjatuh dan tertunduk masih tak tahu harus melakukan apa agar Luhan mendengarkannya. Dan merasa semua itu tidak mungkin membuat Sehun harus kembali menyerah pada keadaan.
"aku harus bagaimana-" Katanya bergumam lirih dengan rasa sesak yang menghimpitnya. Mengepalkan erat tangannya dan
"AKU HARUS BAGAIMANA!"
.
tobecontinued..
.
Yehet! Apdetan pertama di puasa pertama kkkk.. dasaran gatel kalo ga apdet jadinya begini :"
.
Oia mau cerita cantik dulu. Jadinya gini…
Harusnya jumat kemarin gue apdet ICY. Tapi yang terjadi adalah FD gue ke format dan tinggal Shortcut semua. Dan sialnya lagi draftnya ga gue simpen di email. Jadilah dongki dongkol luar biasa. Udah tinggal nyelesaian satu paragraf lagi dan semua ke format. Jadi…..
Untuk ICY dengan resmi gue umumkan gue PENDING apdetannya karena gue baver bin kezel!.
.
Bakal gue apdet kayanya abis lebaran. Kenapa? Karena itu isinya NC an semua. Kalo bersedia ga ada NC nya bisa gue pertimbangkan buat nulis ulang tanpa NC. Tapi yauda deh ya puasa ini MFC & Entagled dulu gpp ya? Ntar abis lebaran ICY nya apdet deketan. Deal? –selesai-
.
Back ke entangled…. Itu jadi Fix ya abang DIO yang jadi tersangka. Kenapanya nanti bakal diceritain lebih lanjut. Dan HH nya mdh2an damai di next chap. Tergantung sikon kkkk.
.
Okey….Happy reading, Happy Review and Happy Fasting!
